cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Bioedukatika
ISSN : 23386630     EISSN : 25415646     DOI : 10.26555
Core Subject : Education,
"JURNAL BIOEDUKATIKA" focuses on the publication of the results of scientific research related to the field of Biology Education. The article published on the internal and external academic community UAD especially in Biology Education. "JURNAL BIOEDUKATIKA" publishes scholarly articles in biology education scope covering: biology curriculum, teaching biology, instructional media, and evaluation. Published article published is the article the results of research, studies or critical and comprehensive scientific study on important issues and current job descriptions included in the journal.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2018)" : 7 Documents clear
Implementasi model guided inquiry melalui lesson study untuk meningkatkan penguasaan keterampilan proses sains (KPS) di SMP Muhammadiyah 3 Purwokerto Listika Yusi Risnani; Vian Harsution; Apri Restiana Deri
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.285 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v6i2.9607

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengetahui efektivitas model guided inquiry untuk meningkatkan penguasaan KPS melalui lesson study. Penelitian dilaksanakan sebanyak 6 siklus (plan, do dan see) pada peserta didik kelas VIIIA SMP Muhammadiyah 3 Purwokerto semester gasal tahun ajaran 2016/2017. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, tes. Wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data tentang kondisi awal peserta didik. Observasi digunakan untuk menggali persentase peserta didik yang melakukan KPS, menghimpun data aspek KPS yang muncul pada setiap siklus dan keterlaksanaan  sintaks model guided inquiry. Instrumen tes tertulis digunakan untuk mengukur penguasaan KPS peserta didik. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitaif. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kualitas pembelajaran dari siklus 1 hingga siklus 6 dan terjadi peningkatan keterlibatan peserta didik pada aktivitas KPS secara berturut-turut adalah 43% (kurang), 56% (cukup), 61% (cukup), 52 % (cukup), 65% (cukup), dan 69% (cukup). Penguasaan KPS peserta didik menunjukkan tingkat penguasaan basic skills dalam kategori baik, process skills dan investigative skills dalam kategori kurang hingga baik. Hasil tes KPS menunjukan hasil yang baik dengan rata-rata nilai sebesar 74,5 dengan standar deviasi 7,9. Simpulan penelitian, implementasi model pembelajaran guided inquiry melalui lesson study efektif meningkatkan penguasaan KPS peserta didik kelas VIIIA SMP Muhammadiyah 3 Purwokerto.Implementation of guided inquiry model through lesson study to enhance mastery of science process skills (SPS) at SMP Muhammadiyah 3 Purwokerto. The purpose of this research is to know the effectiveness of guided inquiry model to increase SPS through lesson study. The research was conducted 6 cycles (plan, do and see) in class VIIIA students of SMP Muhammadiyah 3 Purwokerto in the academic year of 2016/2017. Technique of collecting data using interview, observation, test. Interviews were conducted to collect data about the initial condition of the learner. Observations were used to probe the percentage of students who did the SPS, collecting the SPS aspect data that appeared on each cycle and the implementation of the guided inquiry syntax. Written test instruments are used to measure students' SPS mastery. Data were analyzed using qualitative and quantitative descriptive analysis. The results of the study showed improvement of learning quality from cycle 1 to cycle 6 and increased participation of students in SPS activity were 43% (less), 56% (enough), 61% (enough), 52% (enough) 65% (enough), and 69% (enough). Mastery of SPS by student shows mastery level to basic skills (good), process skills and investigative skills (less until enough). Mastery of SPS levels with an average score of 74.5 with a standard deviation of 7.9. The conclusion of the research is that the implementation of guided inquiry learning model through lesson study is effective to improves the mastery of Science Process Skills for Students in SMP Muhammadiyah 3 Purwokerto.
Analisis komponen penyusun desain kegiatan laboratorium bioteknologi Iseu Laelasari; Bambang Supriatno
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.961 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v6i2.10592

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan tiga komponen utama dalam desain kegiatan laboratorium bioteknologi yakni tujuan, proses dan pertanyaan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan rekonstruksi terhadap desain kegiatan laboratorium tersebut. Pengambilan sampel dilakukan secara purposif dengan mengambil 10 sampel desain kegiatan laboratorium yang terdapat di sepuluh SMA Negeri di kota Bandung. Peneliti mengembangkan instrument berupa tabel deskriptif yang digunakan untuk menganalisis keterkaitan antara komponen tujuan, proses dan pertanyaan. Hasil menunjukkan bahwa praktikum secara keseluruhan mengarah pada kategori meningkatkan pemahaman terhadap materi pelajaran dan mengembangkan keterampilan dasar. Hanya 20% tujuan praktikum mengacu pada indikator hasil penjabaran Kompetensi Dasar, tergambar dalam langkah kerja dan dapat dicapai setelah melakukan kegiatan laboratorium, 20% proses sesuai dengan tujuan, berstruktur logis, sistematis, serta tepat dalam menghasilkan data, dan temuan mengungkap hanya 39,28% pertanyaan yang bersesuaian dengan tujuan dan proses. Sisanya bermasalah terutama dalam hal tidak tergambarnya tujuan dalam langkah kerja, tidak dapat dicapainya tujuan, proses tidak mengacu pada tujuan, tidak logis, dan juga tidak sistematis, tidak menghasilkan data yang diharapkan, serta tidak mengacunya pertanyaan pada tujuan ataupun proses. Hasil tersebut merupakan temuan yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk melakukan rekonstruski terhadap desain kegiatan laboratorium bioteknologi.Analysis of the components of the design of biotechnology laboratory activities. The aims of this study was to describe the components of objectives, processes, and questions in Biotechnology lab activities design that can used as a basis for reconstruction it. Sample was taken purposively by taking 10 samples of lab activities design in 10 SMA Negeri in Bandung. Researchers developed descriptive table as instrument that used to analyze the interrelations between objective, process and questions. The results show that overall lab objectives leads to category of developing basic skills and improving understanding of subject matter. There are only 20% of objectives which refer to Basic Competence outcome indicator, illustrated in activity step, and can be achieved after lab activities, 20% of process refers to objectives, systematic and logical structure, and can produce correct data, and only 39,28% of questions refer to objectives and processes. The rest is problematic especially in event that objectives are not illustrated in activity steps, objectives can not be achieved, process is not referring to objectives, not systematic and illogical, and does not produce expected data, question does not refer to objectives or process. These results are findings can be used as a basic for reconstruction lab activities design of biotechnology.
Analisis kualitas butir soal instrumen assessment diagnostic untuk mendeteksi miskonsepsi siswa SMA pada materi virus Prima Mitha Puspitasari Setyaningrum; Murni Ramli; Yudi Rinanto
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.685 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v6i2.10925

Abstract

Evaluasi merupakan kegiatan, untuk melihat sejauh mana keberhasilan pembelajaran telah dilaksanakan. Kegiatan evaluasi memerlukan alat sebagai pengumpul data yang disebut instrumen. Sebuah instrumen dikatakan baik apabila memenuhi beberapa kriteria. Salah satunyadengan melakukan analisis butir soal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda soal pada  insrumen diagnostic materi virus. Responden penelitian berjumlah 346 siswa kelas X, XI, dan XII SMA Negeri dan Swasta di Kota Magelang. Instrumen yang diberikan berupa Assessment Diagnostic pada materi virus, yang terdiri dari soal Kolom Bukti Fakta (KBF), essay, dan Structure Communication Grid (SCG). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif untuk mengetahui kualitas instrumen. Hasil penelitian menunjukkan persentase validitas soal KBF dan SCG 63,2% , soal essay 100%, semua soal reliabel, tingkat kesukaran soal mudah KBF dan SCG 38,6%, soal sedang 37,1%, dan 24,3% soal sukar. Sedangkan kesukaran soal essay 20% pada kategori mudah dan 80% pada kategori sedang. Daya pembeda soal  KBF dan SCG sebesar 62,2% kategori jelek, 31,5% kategori cukup, 6,3% kategori baik. Daya pembeda soal essay 60% soal pada kategori cukup dan 40% soal kategori baik. Berdasarkan hasil analisis, dilakukan perbaikan butir soal. Instrumen pada materi virus yang sedang dikembangkan, merupakan yang pertama di Indonesia.Quality analysis of item in the Assessment Diagnostic instrumen to detect misconceptions in high school students on virus material. Evaluation is an activity to see the extent to which the success of  learning has been carried out. Evaluation activities require tools as data collectors called instrumens. An instrumenis good, if it meets several criteria. One of them is by analyzing questions item. This study was aimed to determine the validity, reliability, level of difficulty, and differentiation of problems in the diagnostic instrumens of virus material. Respondents in this study are 346 students of class X, XI, XII of public and private High Schools in Magelang City. The instrumen provided is in the form of a Diagnostic Assessmenton virus material, which consists of the Facts Proof Column (KBF), essay and Structure Communication Grid (SCG). This research is a quantitative studywhich determine the quality of the instrumen. The results showed the percentageof the validity of KBF and SCG questions was 63,2%, essay questionswere 100%, all questions are reliable, the level of difficulty of easy questions of KBF and SCG is 38,6%, moderate questions are 37,1%, and 24,3% are difficult questions. While the difficulty of the essay is 20% in the easy category and 80% in the medium category.The differentiation of the KBF and SCG questions is 62,2% in the bad category, 31,5% in the sufficient category, 6,3% in the good category. The differentiation of essay questions 60% in adequate category and 40% in good categories. Based on the analysis, further improvements were made to the items. Instrumens in the virus material which are being developed are the first in Indonesia.
Kontribusi asesmen formatif dalam tahapan understanding by design terhadap pemahaman mahasiswa calon guru biologi Ria Yulia Gloria; Sudarmin Sudarmin
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.401 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v6i2.9507

Abstract

Paradigma pembelajaran saat ini telah berubah dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa. Hal ini sejalan dengan tuntutan keterampilan abad-21, oleh karena itu diperlukan pembelajaran yang melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti pemahaman. Saat ini masih terdapat pembelajaran yang tidak mendorong kearah terbentuknya pemahaman mahasiswa, selain itu proses penilaian yang dilakukan masih berorientasi pada nilai akhir yang tidak autentik. Oleh karena itu dibutuhkan asesmen formatif, yaitu penilaian yang memiliki tiga komponen yang diperlukan yaitu umpan balik (feedback), penilaian sejawat (peer-assessment), dan penilaian diri sendiri (self-assessment) yang bertujuan membentuk pemahaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi dan kontribusi asesmen formatif melalui UbD (Understanding by Design) dengan pemahaman mahasiswa. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa calon guru Biologi. Penelitian menggunakan rancangan korelasi kuantitatif, untuk mendeskripsikan dan mengukur serta mengetahui derajat keterkaitan antara dua variabel. Uji statistik yang dilakukan adalah uji korelasi dan regresi. Penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa terdapat korelasi antara semua komponen asesmen formatif melalui UbD dengan pemahaman mahasiswa. Hasil uji regresi dihasilkan R2 = 0,547. menunjukkan bahwa tingkat pengaruh komponen asesmen formatif yaitu feedback, peer-assessment, dan self-assessment terhadap pemahaman UbD mahasiswa sebesar 54,7%.The contribution of formative assessment with the stages of understanding by design (UbD) to the understanding of prospective biology teachers. Todays learning process puts the students as the subject, or in other words, it is student centered in which teachers are only as facilitators. This is in line with the demanded skills of the 21st-century, in which learning is required to train students to have high-level thinking skills such as understanding. However there are still many learning activities that do not lead to the formation of students understanding. Besides that the assessment process is still oriented at the final score/grade that is not authentic. A formative assessment, an assessment that has three required components: feedback, peer assessment, and self assessment, is therefore required. This assessment is expected to form an understanding. This study aims to determine the correlation and contribution of formative assessment through UbD to the understanding of the students. Participants in this study were students of prospective Biology teachers. The study used quantitative correlation design to describe and measure, and know the degree of linkage between the two variables. The statistical test performed was correlation and regression test. The study concludes that there is a correlation between all components of the formative assessment through UbD with students understanding. Regression test result yielded R2 = 0.547 which means that the level of influence of the components of the formative assessment i.e. feedback, peer assessment, and self assessment on the students' understanding is 54.7%.
Analisis kemampuan berpikir ilmiah siswa kelas XI IPA kawasan pegunungan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Aisyah Ferra Anggraini; Maridi Maridi; Suciati Suciati
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.909 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v6i2.10944

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berpikir ilmiah siswa SMA Negeri kelas XI IPA di kawasan pegunungan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tes kemampuan berpikir ilmiah yang terdiri dari 25 item soal yang mengandung aspek berpikir ilmiah yaitu: (1) inquiry; (2) analisis; (3) inferensi; dan (4) argumentasi dan pengambilan data lainnya dengan wawancara. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Pakem dan SMA Negeri 1 Girimulyo kelas XI IPA kawasan pegunungan Daerah Istimewa Yogyakarta. Keseluruhan jumlah populasi yaitu 280 siswa dengan jumlah sampel 78 siswa. Pemilihan sampel menggunakan metode cluster random sampling. Data yang diperoleh selanjutnya diuji menggunakan statistik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan perolehan pada masing-masing aspek yaitu: (1) inquiry: 43% ; (2) analisis: 44% ; (3) inferensi: 42% ; dan (5) argumentasi: 55%. Hasil persentase menunjukkan bahwa kemampuan berpikir ilmiah masih kurang optimal karena rata-rata perolehan masih di bawah 50%. Hal ini disebabkan sebagian besar kemampuan berpikir ilmiah siswa di kawasan pegunungan DIY masih kurang dioptimalkan. Daerah pegunungan merupakan faktor yang berpengaruh langsung terhadap kemampuan berpikir ilmiah siswa.Scientific thingking skill analyze of students' XI IPA at mountainous region of Daerah Istimewa Yogyakarta. This study aims to analyze the scientific thinking of students of the eleventh grade of science class high school in the mountainous areas of Special Region of Yogyakarta (DIY). This type of research is qualitative descriptive. Data collection was carried out using a scientific thinking ability test consisting of 25 items containing scientific thinking aspects: (1) inquiry; (2) analysis; (3) inference; and (4) argumentation and other data collection by interview. The research was conducted at SMA Negeri 1 Pakem and SMA Negeri 1 Giriulyo in 11th grade of science class in the mountainous areas of Special Region of Yogyakarta. The total population is 280 students with a total sample of 78 students. Sample selection using cluster random sampling method. The data obtained are then tested using descriptive qualitative statistics. The results of the study show that the acquisition of each aspect: (1) inquiry: 43%; (2) analysis: 44%; (3) inference: 42%; and (5) argumentation: 55%. The percentage results indicate that the scientific thinking ability is still less than optimal because the average acquisition is still below 50%. This is because most of the scientific thinking abilities of students in the DIY  mountainous areas are still not optimized. Mountainous areas are factors that directly influence the ability of students to think scientifically.
Penerapan analogi pada perkuliahan genetika untuk menumbuhkan keterampilan penalaran ilmiah (scientific reasoning) Yuyun Maryuningsih; Topik Hidayat; Riandi Riandi; Nuryani Y Rustaman
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.437 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v6i2.9429

Abstract

Keterampilan penalaran ilmiah yang merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang perlu dilatihkan pada mahasiswa calon guru untuk materi-materi genetika yang bersifat abstrak seperti topik materi genetik dan pindah silang. Penelitian ini merupakan studi pendahuluan dalam perancangan program perkuliahan genetika, untuk mengetahui penggunaan strategi dan metode yang tepat dalam beberapa materi genetika. Implementasi pembelajaran genetika dengan analogi diujikan secara terbatas pada tiga puluh tujuh mahasiswa Pendidikan Biologi yang mengambil mata kuliah genetika. Analogi dilakukan pada topik materi genetik dan pindah silang. Penerapan analogi pada model DNA dengan menggunakan bahan-bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan model DNA dan analogi pada pindah silang dengan menggunakan lilin malam/plasticine. Profil keterampilan penalaran ilmiah siswa diukur secara skoring pada model DNA untuk topik materi genetik dan pindah silang. Data dianalisis secara kualitatif untuk melihat profil siswa dalam penalaran ilmiah. Hasil dari penelitian ini bahwa penggunaan analogi dalam pembelajaran genetika dapat diterapkan pada topik materi genetik dan pindah silang.Analogies application of genetic course to arise scientific reasoning skills. Scientific reasoning skills were high-level thinking skills that need to be trained in prospective teacher students for abstract genetic material such as the topic of genetic material and crossovers. This research was a preliminary study in the design of the genetic lecture program, to find out the use of appropriate strategies and methods in some genetic material. The implementation of genetic learning by analogy was limitedly tested on thirty-seven Biology Education students who took genetics courses. The analogy was done on the topic of genetic material and crossovers. The application of analogies to DNA models using materials that can be used in making DNA models and analogies to crossovers using night candles/plasticine. Profiles of students' scientific reasoning skills are measured scoring on DNA models for the topic of genetic material and crossovers. Data were analyzed qualitatively to see students' profiles in scientific reasoning. The results of this study that the use of analogies in genetic learning could be applied to the topic of genetic material and crossovers.
Pengembangan video mengenai mangrove sebagai media pembelajaran di Sekolah Menengah Atas (SMA) dan masyarakat di pesisir Jambi Endah Puspita; Bambang Hariyadi; Muswita Muswita
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.61 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v6i2.8844

Abstract

Penelitian ini bertujuan menghasilkan media pembelajaran berupa video mengenai mangrove yang dapat digunakan oleh siswa SMA serta masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan pesisir. Pengembangan media dilakukan menggunakan model ADDIE. Data yang dikumpulkan meliputi data kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan instrumen berupa lembar validasi untuk ahli materi dan ahli media, serta angket yang diberikan kepada siswa dan masyarakat. Ujicoba produk dilakukan pada 12 siswa di SMAN 6 Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi serta 9 kelompok masyarakat di Desa Sungai Itik, Kecamatan Sadu, Tanjung Jabung Timur. Hasil validasi produk oleh ahli materi diperoleh penilaian sebesar 85% (kategori sangat layak) dan hasil validasi produk oleh ahli media diperoleh nilai sebesar 80% (kategori layak). Ujicoba pada siswa SMA menunjukkan adanya tanggapan yang sangat baik (85,4%) terhadap video yang dihasilkan. Demikian pula halnya dengan ujicoba pada kelompok masyarakat yang memberikan nilai 84,8% (kategori sangat baik). Berdasarkan hasil tersebut, video mengenai mangrove layak dan baik digunakan dalam membelajarkan mengenai mangrove, baik dari segi kualitas materi maupun media. Video pembelajaran mengenai mangrove dapat dimanfaatkan sebagai alternatif media pembelajaran untuk menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.The development of mangrove video instructional media for high school students and societies in the coastal areas of Jambi. This study aims to produce video learning media about mangrove. The media development used the ADDIE model. Data in this research include qualitative and quantitative data, collected by means of research instruments in the form of validation sheets for material and media expert. In addition questionnaires were filled in by students  of SMAN 6 East Tanjung Jabung as well as 9 community groups in the Sungai Itik Village, East Tanjung Jabung to assess the feasibility of the media. Video validation by material expert obtained value of 85% (very good category) , where as validation by media expert indicate value of 80% (good category). Students' responses to the videos are categorized as excellent (85,4%). Product trial with the community of Sungai Itik obtained public response of 84,8% (very good category). Based on the results obtained from the expert team, as well as responses from students and the community, the mangrove learning video is considered feasible in terms of both material and the media quality. The video can be used as a learning medium for mangrove learning either for students or for community.

Page 1 of 1 | Total Record : 7