cover
Contact Name
Ahmad Nimatullah Al-Baarri, PhD
Contact Email
redaksi@ift.or.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi@ift.or.id
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Articles 216 Documents
Hubungan Sanitasi dengan Status Bakteriologi Koliform dan Keberadaan Salmonella Sp pada Jajanan di Sekolah Dasar Wilayah Kecamatan Tembalang, Semarang Ririh Citra Kumalasari; Martini Martini; Susiana Purwantisari
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.143 KB) | DOI: 10.17728/jatp.209

Abstract

Foodborne disease adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh adanya mikroorganisme hidup yang masuk bersama makanan. Produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan cemaran bakteri patogen dapat mengakibatkan terjadinya foodborne disease. Anak sekolah merupakan usia yang rentan terhadap infeksi bakteri sehingga membutuhkan makanan yang cukup secara kuantitas dan kualitas agar memiliki keadaan atau status gizi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sanitasi dengan kontaminasi bakteri pada makanan jajanan  di Kantin Sekolah Dasar yang berada Kecamatan Tembalang. Jenis penelitian analitik observasional dan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sejumlah 48 jajanan yang dijual di sekolah dasar. Pemeriksaan kontaminasi bakteri didasarkan angka koliform dan Salmonella sp. Data dianalisis dengan Chi-squre test. Hasil penelitian menunjukkan jajanan yang dijajakan di kantin Sekolah Dasar yang tidak memenuhi syarat kesehatan sebesar 85% karena mengandung koliform, dan sebanyak 40% telah terkontaminasi Salmonella. Faktor sanitasi dan hygiene penjual berhubungan dengan kontaminasi bakteri pada makanan jajanan.  Pendidikan kesehatan tentang pengelolaan makanan yang aman bagi anak sekolah perlu diberikan pada penjual makanan di sekolah dasar.
Minyak Jagung Alternatif Pengganti Minyak yang Sehat Dhenny Dwiputra; Ayu Ning Jagat; Fauzia Kusuma Wulandari; Aditya Setya Prakarsa; Diyah Ayu Puspaningrum; Fathiyatul Islamiyah
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.138 KB)

Abstract

Minyak jagung merupakan minyak yang kaya akan asam lemak tidak jenuh, yaitu asam linoleat dan linolenat. Kedua asam lemak tersebut dapat menurunkan kolesterol darah dan menurunkan resiko serangan jantung koroner. Minyak jagung juga kaya akan tokoferol (Vitamin E) yang berfungsi untuk fungsi stabilitas terhadap ketengikan. Didalam minyak jagung terdapat vitamin-vitamin yang terlarut yang dapat digunakan juga sebagai bahan non-pangan yaitu obat- obatan. Minyak jagung dapat digunakan sebagai alternatif untuk pencegahan penyakit jantung koroner. Tetapi pemanfaatan jagung di Indonesia untuk di produksi menjadi minyak jagung masih rendah.
Produksi Antioksidan dari Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) Menggunakan Pengering Berkelembaban Rendah Febiani Dwi Utari; Sumirat Sumirat; Muhammad Djaeni
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.597 KB) | DOI: 10.17728/jatp.241

Abstract

Kayu secang (Caesalpinia sappan L) mengandung komponen aktif Brazilein yang termasuk dalam senyawa flavonoid. Senyawa flavonoid memiliki kemampuan sebagai antioksidan, yakni meredam atau menghambat pembentukan radikal bebas hidroksil, anion superoksida, radikal peroksil, radikal alkoksil, singlet oksigen, dan hidrogen peroksida. Komponen aktif Brazielin dari kayu secang dapat diambil dengan menggunakan teknik ekstraksi. Senyawa brazilein dalam bentuk larutan mudah teroksidasi dan terdegradasi. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh variasi carrier agent terhadap kecepatan pengeringan ekstrak kayu secang. Larutan ekstrak kayu secang dicampur dengan 5% carrier agent (maltodekstrin atau gum arab). Campuran ini dikeringkan dengan variasi suhu antara 50 - 90°C. Sebagai hasil, kadar air pada ekstrak kayu secang diamati secara gravimetric setiap 15 menit selama  90 menit. Pembandingan dilakukan dengan melakukan proses pengeringan tanpa carrier agent. Pengeringan menggunakan carrier agent menyebabkan waktu pengeringan 7 kali lebih cepat daripada tanpa menggunakan carrier agent. Berdasarkan analisa 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH), serbuk hasil pengeringan memiliki nilai IC50 antara 16-18 ppm dan termasuk dalam antioksidan sangat kuat. Sappan wood (Caesalpinia sappan L.) contains the Brazilein active component belonging to the flavonoid compound. Flavonoid compounds have the ability as an antioxidant, which reduces or inhibits the formation of free radicals hydroxyl, superoxide anion, peroxyl radicals, alcoxyl radicals, singlet oxygen and hydrogen peroxide. Brazilein’s active compound from sappan wood can be taken by using the extraction technique. The brazilein compounds in solution form are easily oxidized and degraded. This study aims to study the effect of variation of carrier agent on drying speed of sappan wood extract. Solution of sappan wood extract was mixed with 5% carrier agent (maltodextrin or gum arab). This mixture was dried with temperature variation between 50 to 90°C. As a result, the water content of the secang wood extract was gravimetrically observed every 15 minutes for 90 minutes. Benchmarking was done by drying process without carrier agent. Drying using a carrier agent causes the drying time to be 7 times faster than without the carrier agent. Based on the 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) analysis, the drying powder has an IC50 value between 16 and 18 ppm and its subjected as a very strong antioxidants level.
PENTINGNYA ILMU PERTANIAN DAN PANGAN DIGELUTI GENERASI MUDA Syamsul Rahman
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.095 KB)

Abstract

Sektor pertanian dalam arti seluas-luasnya merupakan sektor andalan (basic sector) bagi suatu bangsa. Sebab kebutuhan akan bahan pangan, serat, obat-obatan, dan energi, serta sebagian dari bahan baku industri dipasok oleh kegiatan sektor pertanian dan pangan. Disamping itu, sektor ini merupakan sektor yang dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dengan berbagai tingkat kemahiran (skill levels)
TOTAL BAKTERI ASAM LAKTAT, KADAR LAKTOSA, pH, KEASAMAN, KESUKAAN DRINK YOGURT DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK BUAH KELENGKENG Kardina Enny Dian Kumalasari; Anang Mohamad Legowo; Ahmad Ni'matullah Al-Baarri
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 2, No 4 (2013): November 2013
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.008 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis total BAL, kadar laktosa, pH, keasaman dan kesukaan drink yogurt dengan penambahan ekstrak buah kelengkeng. Penelitian ini menggunakan kombinasi 4 bakteri asam laktat (Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus, Lactobacillus acidophillus and Bifidobacterium longum ATCC 15707). Susu skim diinokulasi dengan 3% (v/v) L. bulgaricus, S. thermophillus, L. acidophillus dan 1% (v/v) of B. longum ATCC 15707. Perlakuan yang diterapkan adalah menambahkan 0%, 1%, 3% and 5% (v/v) ekstrak buah kelengkeng (T0, T1, T2 and T3 secara berurutan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total BAL meningkat dari 3,0 × 107 s.d 4,8 × 108 CFU/ml, kadar laktosa menurun dari 1,852% s.d 0,729%, pH dan keasaman yang tidak berbeda nyata serta meningkatnya kesukaan drink yogurt dengan penambahan ekstrak buah kelengkeng. Penambahan ekstrak buah kelengkeng dapat membuat suatu produk drink yogurt yang memiliki total BAL tinggi dan tidak mengubah pH dan keasaman drink yogurt, serta dapat meningkatkan kesukaan konsumen terhadap produk drink yogurt tersebut.
Eksplorasi Olahan Makanan Berbasis Biji Gandum Domestik (Triticum aestivum L.Varietas Dewata) melalui Uji Organoleptik Nugraheni Widyawati; Sony Heru Priyanto; Djoko Murdono; Theresa Dwi Kurnia
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.078 KB)

Abstract

Eksplorasi jenis-jenis makanan berbasis biji gandum domestik telah dilakukan pada penelitian ini guna mengetahui berbagai jenis makanan berbasis biji gandum domestik yang enak dan layak dijual didasarkan pada hasil uji organoleptik. Penelitian ini menggunakan produk gandum tropis dari sekitar lokasi penelitian dengan varietas Dewata. Eksplorasi dilakukan dengan cara: 1) penelusuran pustaka; 2) modifikasi resep; 3) percobaan pengolahan, dan 4) pengujian secara organoleptik. Jumlah olahan hasil eksplorasi untuk diuji secara organoleptik adalah 22 jenis dengan melibatkan sebanyak 30 panelis. Hasil eksplorasi menunjukkan makanan yang enak dan layak dijual berdasarkan uji organoleptik adalah sebanyak 21 jenis, yaitu: a. Olahan berbahan dasar biji gandum utuh adalah: nasi goreng biji gandum, ampyang biji gandum, wajik biji gandum, krasikan biji gandum, dan madu mongso biji gandum. b. Olahan berbahan dasar biji gandum giling kasar adalah: bubur manis/gurih biji gandum, dan jenang biji gandum. c. Olahan berbahan dasar biji gandum giling halus adalah: kue talam, kue clorot, pastel, stick, satru, nastar, kacang salju, bolu kukus, mie ayam, krupuk. d. Olahan makanan berbahan dasar katul biji gandum adalah: adalah dodol dan cokies katul gandum.
Hardness dan Optical Properties dari Itik Asap dengan Variasi Penggunaan Suhu Oven Ahmad Ni'matullah Al-Baarri; Bhakti Etza Setiani; Risa Fazriyati Siregar; Wulan Sumekar
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 4 (2016): November 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.574 KB) | DOI: 10.17728/jatp.219

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hardness dan optical properties pada karkas itik yang diasap dengan menggunakan oven pengasap. Oven pengasap adalah dibuat secara mandiri dan diatur suhunya agar mencapai suhu 120 dan 160 ˚C. Bahan dasar oven ini adalah tempurung kelapa sebanyak 1,5 kg. Sebanyak empat buah karkas itik dibagi menjadi empat bagian dan dilakukan marinasi sebelum dilakukan pengovenan. Lama pengovenan adalah 20 menit untuk masing-masing suhu. Hardness diamati dengan menggunakan texture analyzer dan optical properties berupa nilai L*a*b* diamati dengan menggunakan digital color meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hardness itik yang dioven dengan menggunakan suhu 160˚C lebih tinggi dibandingkan dengan yang dioven pada suhu 120˚C. Suhu 160˚C memberikan perbedaan nilai delta E sebesar 11,225. Kesimpulan dari penelitian ini adalah suhu 160˚C dapat memberikan hardness lebih keras dibandingkan dengan suhu 120˚C dan memberikan efek lebih gelap. Hardness dan optical properties ini perlu disesuaikan dengan daya terima konsumen, sehingga perlu dipelajari lagi lebih lanjut mengenai daya terima konsumen.The aim of this research was to analyze the hardness and optical properties of smoked duck carcass using the smoked oven. Smoked oven was handmade separately and set the temperature at 120°C and 160°C. The basic material for smoked oven was coconut shell (1.5 kg). Four duck carcass was divided into four parts and marination was done prior to 20 minutes of smoking in the oven. Hardness was measured using texture analyzer and optical properties i.e. L * a * b * was measured using digital color meter. The results showed hardness smoked duck carcass at 160°C higher than that of 120°C. The oven process at 160°C exhibited delta E value of 11.225. As conclusion, smoking process at 160°C generated higher hardness and a darker effect than 120°C. Hardness and optical properties need to be adjusted to consumer acceptance to fulfil consumer need.
Total Bakteri Asam Laktat, pH, Keasaman, Citarasa dan Kesukaan Yogurt Drink dengan Penambahan Ekstrak Buah Belimbing Ahmad Ni'matullah Al-Baarri
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.044 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis total bakteri asam laktat (BAL), pH, keasaman, citarasa, dan kesukaan pada yogurt drink dengan penambahan ekstrak buah belimbing. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah susu skim, kultur starter Bakteri Asam Laktat (BAL) (Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophilus, Lactobacillus acidophilus, dan Bifidobacterium longum ATCC 15707), dan ekstrak buah belimbing. Perlakuan yang diberikan yaitu T0= tanpa penambahan ekstrak buah belimbing (kontrol); T1= penambahan ekstrak buah belimbing 1% (v/v); T2= penambahan ekstrak buah belimbing 2% (v/v); dan T3= penambahan ekstrak buah belimbing 3% (v/v). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar penambahan ekstrak buah belimbing pada yogurt drink dapat menurunkan total BAL dan pH, serta meningkatkan keasaman. Yogurt drink dengan penambahan ekstrak buah belimbing cenderung agak disukai dengan citarasa cenderung asam. Penambahan ekstrak buah belimbing pada yogurt drink yang optimal dilihat dari total BAL, pH, keasaman, citarasa dan kesukaan terdapat pada perlakuan penambahan ekstrak buah belimbing 2%.
Pemanfaatan Nanokalsium Tulang Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Beras Analog dari Berbagai Macam Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) Novia Anggraeni; Yudhomenggolo Sastro Darmanto; Putut Har Riyadi
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 4 (2016): November 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.886 KB) | DOI: 10.17728/jatp.187

Abstract

Perkembangan konsumsi masyarakat terhadap pangan semakin meningkat. Pengkayaan produk pangan menjadi poros utama yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah penyediaan pangan yang memiliki kandungan gizi tinggi, menyehatkan, dan diterima konsumen. Ubi jalar merupakan salah satu sumber karbohidrat yang rendah kalori. Tulang ikan yang melimpah juga memiliki kandungan protein dan kalsium yang tinggi yang diperlukan oleh tubuh. Saat ini persediaan beras nasional semakin menurun. Beras analog merupakan beras tiruan yang dapat mengatasi permasalahan kebutuhan beras nasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi nanokalsium tulang ikan terhadap kandungan kalsium dan fosfor beras analog ubi jalar. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tulang ikan Nila (Oreochromis niloticus), ubi jalar (Ipomoea batatas L.) putih, kuning, dan ungu, dengan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan yang dilakukan dengan 3 kali pengulangan. Parameter pengujian yaitu uji SEM, PSA, proksimat, kalsium, fosfor, hedonik, dan indeks glikemik Data dianalisis menggunakan ANOVA, dilanjutkan dengan uji BNJ untuk menementukan beda nyata.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan ubi jalar berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap; kadar kalsium, fosfor, dan sensori. Beras analog ubi ungu dengan penambahan nanokalsium 5% memiliki hasil terbaik dari semua parameter, dengan IG (Indeks Glikemik) 19,19 (kategori rendah) dan BG (Beban Glikemik) 7,21 (kategori rendah).AbstractThe development of domestic consumption on food is developing. The food enrichment becomes principal axis to be done to overcome the problem of food supply which has high nutritional ingredients, healthy, and broadly accepted by consumers. Sweet potato is one source of carbohydrates which has low calories. Fish bones contain high protein and calcium for the human consumption. Currently, the national rice supply decreases. Artificial rice is artificial rice that can overcome the problems of the national rice supply. The aim of this study were to determine the effect of fish bone nano calcium concentration into the calcium and phosphorus content of sweet potato analog rice. The material used in this study were tilapia (Oreochromis niloticus) bone, sweet potato (Ipomoea batatas L.) white, yellow, and purple, with completely randomized design with triplication. All samples were analysed for SEM, PSA, proximate calcium, phosphorus, sensory test, and index glycemic. Data were analyzed using ANOVA, followed by HSD test for determining a real difference. The results showed that the various sweet potato significantly affects (P <0.05) into: calcium content, phosphorus content, and sensory test. The purple sweet potato analog rice with the addition of 5% nanocalsium was the best results of all the parameters, with Glycemic Index of 19.19 (low category) and Glycemic Load of 7.21 (low category).
INTENSITAS WARNA DAN AROMA PADA SUSU SKIM KAMBING AKIBAT PROSES GLIKASI DENGAN PENAMBAHAN GULA D-FRUKTOSA, L-FRUKTOSA, DAN D-TAGATOSA RH Anggraeni; AM Legowo; Ahmad Ni&#039;matullah Al-Baarri
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.176 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis intensitas warna dan aroma pada proses glikasi susu skim kambing dengan gula D-Fruktosa, L-Fruktosa, dan D-Tagatosa. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan (D-Fruktosa, L-Fruktosa, dan D-Tagatosa) dan 7 kali ulangan. Variabel yang diamati yaitu intensitas warna dan aroma pada susu skim kambing. Data dianalisis menggunakan sidik ragam, jika terdapat pengaruh yang signifikan diteruskan dengan Uji Wilayah Duncan untuk variabel intensitas warna. Sedangkan untuk variabel aroma, jika data terdistribusi normal diteruskan dengan uji lanjut, dan bila tidak normal menggunakan Uji Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses glikasi dengan penambahan gula D-Fruktosa, L-Fruktosa, dan D-Tagatosa memberikan pengaruh yang nyata (P≤0,05) terhadap intensitas warna, tetapi tidak berpengaruh nyata pada aroma susu skim kambing. Penambahan gula D-Fruktosa dan L-Fruktosa menunjukkan  intensitas warna yang tinggi dibandingkan dengan penambahan gula D-Tagatosa. Aroma goaty pada susu skim kambing menghilang akibat proses glikasi dnegan penambahan gula D-Fruktosa, L-Fruktosa, dan D-Tagatosa.

Page 11 of 22 | Total Record : 216