cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Manuskripta
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
MANUSKRIPTA is a scholarly journal published by the Indonesian Association for Nusantara manuscripts or Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) in collaboration with National Library of Indonesia. It focuses to publish research-based articles on the study of Indonesian and Southeast Asian (Nusantara) manuscripts. MANUSKRIPTA aims to preserve and explore the diversity of Nusantara manuscripts, and communicate their localities to the global academic discourse. The journal spirit is to provide students, researchers, scholars, librarians, collectors, and everyone who is interested in Nusantara manuscripts, information of current research on Nusantara manuscripts. We welcome contributions both in Bahasa and English relating to manuscript preservation or philological, codicological, and paleographical studies. All papers will be peer-reviewed to meet a highest standard of scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 157 Documents
Menelusuri Budaya Literasi Masyarakat Melayu melalui Kajian Manuskrip Ilmu Bedil Nor binti Che Mat Farhana; Filzah binti Ibrahim Filzah; Rusmadi bin Baharudin Rusmadi
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1169.969 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.135

Abstract

Kitab Bedil (MS31 and MS01) discusses aspects of the use of firearms and making bullets exhibiting vocabulary lists related to science and technology. This shows that literacy culture has become a tradition in Malay society since long ago. This study is to uncover the culture of public literacy in manuscripts rather than aspects of Malay vocabulary in the 16th century. The study data has been taken from the manuscript owned by the Language and Literature Council as the main source, namely Book of Bedil Sciences (MS31 and MS101). The text from which the transliterated manuscript was then carried out an analysis of the content, a number of new vocabularies were made using the Wordsmith system. As a result, investigators have found several lexical and weapons manuals that may be related to the culture of local Malay literacy and wisdom. The studies being carried out are very significant and can contribute greatly to the enrichment of classical Malay vocabulary and Malay historical knowledge. --- Kitab Bedil (MS31 dan MS01) membicarakan aspek penggunaan senjata api dan pembuatan peluru mempamerkan senarai kosa kata berkaitan sains dan teknologi. Ini menunjukkan bahawa budaya literasi telah menjadi tradisi dalam masyarakat Melayu sejak dahulu lagi. Kajian ini adalah untuk mengungkap budaya literasi masyarakat dalam manuskrip daripada aspek kosa kata persenjataan Melayu pada abad ke-16. Data kajian telah diambil daripada manuskrip milik Dewan Bahasa dan Pustaka sebagai sumber utama, iaitu kitab Ilmu Bedil (MS31 dan MS101). Teks asal manuskrip yang ditransliterasikan kemudiannya dilaksanakan analisis kandungan, sejumlah kosa kata baharu disenaraikan dengan menggunakan sistem Wordsmith. Hasilnya, penyelidik telah menemukan beberapa leksikal dan manual persenjataan yang boleh dikaitkan dengan budaya literasi dan kearifan Melayu tempatan. Kajian yang sedang dilaksanakan sangat signifikan dan dapat memberikan sumbangan yang sangat besar dalam pemerkayaan kosa kata Melayu klasik dan ilmu persejarahan Melayu.
Lontar Yusup Banyuwangi: Warna Lokal dan Variasi Teks dalam Manuskrip Pegon di Ujung Timur Jawa Wiwin Indiarti; Nur Hasibin
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1053.098 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.127

Abstract

This article explains Lontar Yusup Banyuwangi (LYB), copied in a Pegon script and still actively read in Banyuwangi, contains the life-story of the Prophet Yoseph from the age of twelve, when he dreamed of the sun, moon and eleven stars bowing to him, until he ascended the throne in Egypt, after his prophecy about King Pharaoh’s dream. The oldest manuscript of LYB, which is found in Kemiren - Banyuwangi and becomes Adi Purwadi’s collection, dates to 1829 in Javanese calendar, presumably derived from an Islamic source, and absorbs various local elements in its textual content. LYB, read with tunes that are intrinsically connected with stanzaic metrical patterns, consists of twelve pupuh (cantos) and four pupuh forms (Kasmaran, Durma, Pangkur, and Sinom) with a total of nearly 600 stanzas. This paper unveils local elements and text variations in LYB which include types of vocabulary usage, forms of tembang variations, and the modification of Perso-Arabic text that makes it different from commons. This shows the high power of local creativity in the writing and copying of manuscripts in the past. ------- Artikel ini menjelaskan Lontar Yusup Banyuwangi (LYB) yang disalin dalam aksara pegon dan masih aktif didendangkan di Banyuwangi menghantarkan kisah Nabi Yusuf dari usia dua belas tahun, saat ia memimpikan matahari, bulan dan sebelas bintang yang bersujud kepadanya, sampai ia naik takhta di Mesir, seusai nubuatnya tentang mimpi Raja Firaun. Naskah tertua LYB berangka tahun Jawa 1829, (koleksi Adi Purwadi dari desa Kemiren, Banyuwangi) diduga berasal dari sumber Islam, dan menyerap berbagai unsur lokal dalam kandungan tekstualnya. LYB berwujud tembang, didendangkan dengan melodi yang secara intrinsik terkait dengan bentuk-bentuk pupuh (serangkaian bait dalam satu episode cerita) - terdiri dari dua belas pupuh, berisi empat bentuk pupuh (Kasmaran, Durma, Pangkur, dan Sinom) dengan total hampir 600 bait. Tulisan ini memaparkan warna lokal dan variasi teks dalam LYB yang meliputi ragam kosakata, bentuk variasi tembang, dan modifikasi teks pegon yang berbeda bentuk penulisannya dengan teks pegon pada umumnya. Hal ini menunjukkan elan kreatifitas lokal yang tinggi dalam penulisan dan penyalinan naskah di masa lalu.
Konservasi Manuskrip dalam Menjaga Warisan Nusantara di Perpustakaan Pura Pakualaman Yogyakarta Muhkamad Fatori
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1850.612 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.131

Abstract

Widyapustaka Pura Pakualaman Library of Yogyakarta has many ancient manuscripts that have been hundreds years old, therefore many of the manuscript's conditions have been damaged because of the age. In order to preserve of manuscript, Widyapustaka Pura Pakualaman Library of Yogyakarta conducts conservation to protect the archipelago heritage. Therefore researcher is interested to analyze the process of conservation of manuscripts that carried out by Widyapustaka Pura Pakualaman Library of Yogyakarta. The purpose of this research is to analyze how the process of conservation of manuscripts and to determine the factors causing damage the manuscripts located in Widyapustaka Pura Pakualaman Library of Yogyakarta. The research method used is qualitative method through interview, observation, and documentation techniques. The conservation and rescue process of manuscripts in Widyapustaka Pura Pakualaman Library of Yogyakarta are through fumigation, language translation, comparisons, temperature and humidity regulation, and digitization. The factors that can damage the manuscripts are caused by biological factors, physical factors, chemical factors, human factors, and natural disaster factors. --- Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman Yogyakarta memiliki banyak manuskrip yang telah berumur ratusan tahun, sehingga sebagian besar telah rusak karena faktor zaman. Demi melestarikan naskah-naskah manuskrip tersebut, Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman Yogyakarta melakukan konservasi dalam menjaga warisan nusantara tersebut. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana proses konservasi manuskrip yang dilakukan oleh Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman Yogyakarta. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses konservasi untuk menjaga manuskrip, serta untuk mengetahui faktor penyebab kerusakan manuskrip yang berada di Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan metode kualitatif melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Proses konservasi dan penyelamatan manuskrip yaitu melalui fumigasi, alih bahasa, komperisasi, pengaturan suhu dan kelembapan udara, dan digitalisasi. Faktor penyebab kerusakan manuskrip disebabkan oleh faktor biologi, faktor fisika, faktor Kimia, faktor manusia, dan faktor bencana alam.
Upaya Rekonstruksi Naskah Kuno Lombok Koleksi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat Suryo Ediyono; Triyanti Nurul Hidayati; Muhammad Ridwan
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.035 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.136

Abstract

This paper discusses efforts to save ancient manuscripts in Lombok, Nusa Tenggara Barat. The object of this research is the manuscripts of Lombok from the collection of the West Nusa Tenggara State Museum which was found, inventoried, and described in Central Lombok Regency, NTB. This research uses a descriptive-qualitative approach. The large number of manuscripts found in Lombok indicates that the written tradition has developed well since the Sasak people were familiar with writing. Some of the writings (scripts) used in the manuscripts in Lombok are the Jejawen, Arabic, Balinese and Buginese characters. Regarding the documentation of local Lombok scripts, the implementation of digitizing scripts in the field experienced a lot of delays due to several factors, the most inhibiting of them was the digitalization process which was quite complicated, besides the constraints on the internet and media networks after the earthquake in Lombok. --- Tulisan ini mendiskusikan tentang upaya-upaya penyelamatan naskah kuno di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Adapun objek penelitian ini adalah naskah klasik Lombok koleksi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat yang berhasil ditemukan, diinventarisir, dan dideskripsikan di wilayah Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif, Banyaknya naskah yang ditemukan di Lombok dalam jumlah besar mengindikasikan bahwa tradisi tulis telah berkembang dengan baik sejak masyarakat Sasak mengenal tulisan. Beberapa tulisan (aksara) yang digunakan dalam naskah-naskah di Lombok adalah aksara Jejawen, Arab, Bali, dan Bugis. Terkait pendokumentasian naskah-naskah lokal Lombok, pelaksanaan digitalisasi naskah di lapangan cukup banyak mengalami keterlambatan yang dikarenakan beberapa faktor, yang paling menghambat diantaranya adalah proses digitalisasi yang cukup rumit, disamping kendala pada jaringan internet dan media pasca kejadian gempa bumi di tanah Lombok.
Kakawin Udayana: Kajian Hermeneutika atas Teks Kakawin Minor dalam Tradisi Bali Anung Tedjowirawan
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.336 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.128

Abstract

Kakawin Udayana (Udayanacarita) is a kakawin minor in Balinese tradition. Kakawin Udayana tells the life story of King Udayana (Sri Manmatamurti, Sri Kamamurti), the son of Sang Sri Satasenya, the descendant of Pandu. Prabangkara's painting led Udayana fell in love and sought to fondle Dewi Anggarawati (Dewi Anggara, Sri Sudewi), the consort of Maharaja Candrasena from Yarwanti Kingdom. As a result, Maharaja Candrasena ordered Perwira Pemberani (The Brave Officers) to trick and arrest King Udayana. Finally, King Udayana sentenced to death. The primary source of this research is Kakawin Udayana. Sĕrat Darmasarana, Sĕrat Yudayana and Adiparwa, the first part of Mahabharata, are also used as comparison and complementary materials. This research applies the theory of hermeneutics and comparative literary theory. The method used in this research is by way of proving the researcher’s various presumptions about the character of Udayana in Kakawin Udayana. Evidently, the choosing of Udayana’s character is to represent Udayana, the king of Bali who has overthrown Erlangga (Airlangga). Thus, there is a point of association connecting Kakawin Udayana (Balinese tradition) with Sĕrat Darmasarana, Sĕrat Yudayana (Javanese tradition), and Adiparwa (Indian tradition). --- Abstrak: Kakawin Udayana (Udayanacarita) adalah kakawin minor dalam tradisi Bali. Kakawin Udayana mengisahkan kisah kehidupan Raja Udayana (Sri Manmatamurti, Sri Kamamurti), putra Sang Sri Satasenya, keturunan Pandu. Melalui lukisan Prabangkara menyebabkan Udayana jatuh cinta dan berusaha mencumbui Dewi Anggarawati (Dewi Anggara, Sri Sudewi), permaisuri Maharaja Candrasena dari Kerajaan Yarwanti. Akibatnya Maharaja Candrasena memerintahkan Perwira Pemberani untuk memperdaya serta menangkap Raja Udayana. Raja Udayana akhirnya dijatuhi hukuman mati. Bahan utama penelitian ini adalah Kakawin Udayana, dan sebagai bahan pelengkap pembanding adalah Sĕrat Darmasarana, Sĕrat Yudayana maupun Adiparwa bagian pertama Mahabharata. Dalam penelitian teori yang digunakan adalah teori hermeneutika dan teori sastra bandingan. Adapun metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan jalan membuktikan dugaan peneliti atas berbagai asumsi yang muncul dalam pikiran peneliti tentang tokoh Udayana dalam Kakawin Udayana. Pemilihan tokoh Udayana ini rupanya dalam rangka merepresentasikan Udayana, Raja Bali yang menurunkan Erlangga (Airlangga). Dengan demikian ada titik kaitan antara Kakawin Udayana (tradisi Bali) dengan Sĕrat Darmasarana, Sĕrat Yudayana (tradisi Jawa) maupun Adiparwa (tradisi India).
Letusan Gunung dan Persepsi Sang Pujangga: Kesaksian Teks Bima, Jawa, dan Melayu Abad ke-19 Sudibyo Sudibyo
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.099 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.133

Abstract

Abstract: This paper aims to reveal the poet's perceptions about the destructive nature of mountains in 19th century texts, especially in the Syair Kerajaan Bima (SKB), Babad Betawi (BB), Babad Diponegoro (BD), dan Syair Lampung Karam (SLK). The terrible natural disasters that emanate from volcanic eruptions lead them to the conclusion that natural disasters that occur are caused by the wrath of God due to human actions against Him. Like sultans or arbitrary rulers, coronation of boy kings, taboos and trespassing Islamic law. all of that is the interpretation of the poets of the causes of the eruption of mountains that occurred during the 19th century, such as the eruption of Mount Tambora (1815), Mount Merapi (1822), and Mount Krakatau (1883). This study shows that of the four texts there is no perception of adequate disaster mitigation awareness in poets in Bima, Java and Malay in the 19th century. --- Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap persepsi pujangga tentang sifat destruktif gunung terutama dalam teks-teks abad ke-19, utamanya dalam Syair Kerajaan Bima (SKB), Babad Betawi (BB), Babad Diponegoro (BD), dan Syair Lampung Karam (SLK). Bencana alam dahsyat yang berasal dari erupsi gunung berapi menuntun mereka pada suatu kesimpulan bahwa bencana alam yang terjadi disebabkan oleh kemurkaan Tuhan akibat perbuatan-perbuatan manusia yang melawan-Nya. Seperti sultan atau penguasa yang sewenang-wenang, penobatan raja bocah, tabu dan hukum Islam yang dilanggar. semua itu merupakan penafsiran para pujangga atas penyebab meletusnya gunung yang terjadi sepanjang abad ke-19, seperti letusan Gunung Tambora (1815), Gunung Merapi (1822), dan Gunung Krakatau (1883). Penelitian ini menunjukkan bahwa dari keempat teks tersebut belum ada persepsi akan kesadaran mitigasi bencana yang memadai dalam pujangga di Bima, Jawa dan Melayu pada abad ke-19.
Naskah-Naskah Kuno di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan: Sebuah Tinjauan Awal Titik Pudjiastuti
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.881 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.137

Abstract

This article outlines an initial description of ancient manuscripts found in Central and South Kalimantan. The texts originating from these two regions consist of a variety of texts. The manuscripts stored in Mangkubumi Palace, In Pagar, Gajah Baliku Traditional House, Banjar Bumbungan Tinggi Traditional House, South Kalimantan Language Hall, Pesantren Hidayatul Insan fi Ta'limddin, and some of the manuscripts stored in Astana Al Nursari are Islamic influences, but the manuscript the books stored at the Lambung Mangkurat Museum are literary in nature, and most of the manuscripts of the Astana Al Nursari collection and the Balanga Museum are of letter type. To obtain accurate data, all manuscripts obtained were reviewed using a codicological approach. The purpose of the Central and South Kalimantan old manuscript research is not merely to preserve it but more importantly to save it from extinction so that it can be benefited by the people of today for the development and advancement of science, such as philology, linguistics, history, and culture . --- Artikel ini menguraikan gambaran awal naskah-naskah kuno yang ditemukan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Naskah-naskah yang berasal dari dua wilayah ini terdiri dari beraneka ragam teks. Naskah-naskah yang tersimpan di Istana Mangkubumi, Dalam Pagar, Rumah Adat Gajah Baliku, Rumah Adat Banjar Bumbungan Tinggi, Balai Bahasa Kalimantan Selatan, Pesantren Hidayatul Insan fi Ta’limddin, dan sebagian naskah yang tersimpan di Astana Al Nursari bernuansa Islam, tetapi naskah-naskah yang tersimpan di Museum Lambung Mangkurat bersifat sastra, dan sebagian besar naskah koleksi Astana Al Nursari serta Museum Balanga bergenre surat. Untuk memperoleh data yang akurat, semua naskah yang diperoleh dikaji dengan pendekatan kodikologi. Tujuan dari penelitian naskah lama Kalimantan Tengah dan Selatan bukan hanya semata-mata untuk melestarikannya melainkan yang lebih penting lagi untuk menyelamatkannya dari kepunahan agar dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat masa kini untuk pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, seperti filologi, ilmu bahasa, sejarah, dan kebudayaan.
Naskah Gelumpai di Uluan Palembang: Antara Ajaran Islam dan Ajaran Hindu-Buddha Endang Rochmiatun
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.494 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.129

Abstract

This article discusses the manuscripts of gelumpai (bamboo blades) which have ulu or kaganga characters which are the cultural treasures of riverbank communities in South Sumatra. One of the gelumpai manuscripts in this study is a manuscript consisting of 14 bamboo blades. This manuscript was made around the 16th-17th century AD, which was produced by the ulama of the Palembang Darussalam Sultanate using upstream and Javanese characters. The contents of this text tell about profiles, character and social values, and invitations to refer to Islam as Shari'a in life. Another "gelumpai" text is a manuscript consisting of eight bamboo blades. This manuscript comes from the sub-ethnic Malays who occupy the Musi Rawas region today. Fill in the text of the text containing the teachings in Hinduism and Buddhism, with many mentioning the word Maharesi and pastors who recite mantras. --- Tulisan ini membincangkan tentang naskah gelumpai (bilah bambu) yang beraksara ulu atau kaganga yang menjadi kekayaan budaya masyarakat tepian sungai di Sumatera Selatan. Salah satu naskah gelumpai dalam kajian ini adalah naskah yang terdiri dari 14 bilah-bilah bambu. Naskah ini dibuat sekitar abad ke-16-17 Masehi, yang diproduksi oleh kalangan ulama Kesultanan Palembang Darussalam dengan menggunakan aksara hulu dan bahasa Jawa. Isi dari naskah ini menceritakan tentang profil, karakter dan nilai-nilai sosial, serta ajakan agar merujuk Islam sebagai syariat dalam kehidupan. Naskah “gelumpai” lainnya yakni naskah yang terdiri dari 8 bilah bambu. Naskah ini berasal dari sub Etnis Melayu yang menempati kawasan Musi Rawas saat ini. Isi teks naskah berisikan tentang ajaran-ajaran dalam Agama Hindu dan Budha, dengan banyak menyebutkan kata Maharesi dan pendeta yang membaca mantra-mantra.
Berdamai dengan Perempuan: Komparasi Teks antara Naskah Al-Muāshirah dan Kitab Cermin Terus Yulfira Riza; Titin Nurhayati Ma'mun
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.458 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.134

Abstract

Abstract: This paper aims to examine women and their pace in Minangkabau in the two great Minangkabau scholars’s opinion, Shekh Abdul Laṭīf Shakūr in the al Mu’ashārah and Haji Abdul Karīm Amrullāh in the Cermin Terus. Disclosure of thoughts on the two works uses hermineutic methods. Based on textual analysis of the both text, it was found that they differed in terms of technical matters such as the way to women’s dress and could have a career. Haji Abdul Karīm Amrullāh refused women to be westernized dressed and forbade women to work outside his home while Shekh Abdul Laṭīf Shakūr was more flexible in terms of Islamic dress. However, substantively such as female courtesy, women's rights and obligations in the family, both agreed to be in accordance with the Qur'an and sunnah. In essence, they want to change the mindset of Minangkabau women who are bound by adat and the matrilineal system. Keywords: Women, Thought, Minangkabau, Haji Abdul Karīm Amrullāh, Shekh Abdul Laṭīf Shakūr Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji perempuan dan kiprahnya di Minangkabau yang matrilineal menurut pendapat dua ulama besar Minangkabau yaitu Shekh Abdul Laṭīf Shakūr dalam manuskrip al Mu’ashārah dan Haji Abdul Karīm Amrullāh dalam Kitab Cermin Terus. Pengungkapan pemikiran terhadap kedua karya tersebut menggunakan metode hermineutik. Berdasarkan analisis tekstual dari konsep pemikiran kedua ulama tersebut, diperoleh makna bahwa kedua ulama itu berbeda pendapat dalam hal yang bersifat teknis seperti cara berpakaian wanita dan boleh/tidaknya ia berkarir. Haji Abdul Karīm Amrullāh menolak perempuan untuk berpakaian ketat dan kebarat-baratan serta melarang perempuan bekerja di luar rumahnya sedangkan Shekh Abdul Laṭīf Shakūr lebih fleksibel dalam hal berpakaian Islami asal tidak melupakan kodratnya sebagai seorang wanita. Akan tetapi, secara subtantif seperti adab perempuan, hak dan kewajiban perempuan di dalam keluarga, keduanya sepakat harus sesuai dengan Alquran dan sunnah. Intinya, keduanya ingin mengubah pola pikir perempuan Minangkabau yang terikat oleh adat dan sistem matrilineal.
Menelisik Sosok dan Ajaran Sunan Kalijaga Melalui Manuskrip Agus Iswanto
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.839 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.138

Abstract

Book Review: Marsono. 2019. Akulturasi Islam dalam Budaya Jawa: Analisis Semiotik Teks Lokajaya dalam LOr. 11.629. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Page 11 of 16 | Total Record : 157