cover
Contact Name
Andi Suwirta
Contact Email
aspensi@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
sosiohumanika@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
SOSIOHUMANIKA
Published by Minda Masagi Press
ISSN : 19790112     EISSN : -     DOI : -
This journal, with ISSN 1979-0112, was firstly published on May 20, 2008, in the context to commemorate the National Awakening Day in Indonesia. The SOSIOHUMANIKA journal has been organized and published by Minda Masagi Press, a publishing house owned by ASPENSI (the Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia. The SOSIOHUMANIKA journal is published every May and November. The SOSIOHUMANIKA journal is devoted, but not limited to, Social Sciences education, Humanities education, and any new development and advancement in the field of Humanities and Social Sciences education. The scope of our journal includes: (1) Language and literature education; (2) Social sciences education; (3) Sports and health education; (4) Economy and business education; (5) Science, Technology and Society in education; (6) Political and Social Engineering in education; and (7) Visual arts, dance, music, and design education.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol 7, No 2 (2014)" : 13 Documents clear
Konflik antar Elite Politik Lokal di Sulawesi Selatan: Sebuah Perspektif Sejarah Nas, Jayadi
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.714 KB)

Abstract

RESUME: Konflik elite merupakan kajian yang menarik di kalangan para ilmuwan dan praktisi sosial, sejak dahulu hingga sekarang. Konflik antar elite politik lokal juga senantiasa muncul dalam lanskap perpolitikan di Indonesia. Konflik antar elite politik lokal menjadi fenomena baru di era Reformasi (1988 – sekarang), yang jarang ditemukan pada masa-masa sebelumnya, baik pada masa Orde Lama (1959-1966) maupun pada masa Orde Baru (1966-1998). Penulisan ini bertujuan untuk menemukan adanya kontinuitas dan pergeseran pola konflik melalui penelusuran sejarah. Berdasarkan penelusuran sejarah, pengkajian dan analisis terhadap konflik antar elite politik lokal, baik pada zaman sebelum penjajahan, zaman penjajahan, maupun zaman kemerdekaan Indonesia (1945-1950), hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kontinuitas dan pergeseran pola konflik elite dari setiap zaman di Sulawesi Selatan. Kontinuitas pola konflik dapat dilihat dari pertentangan antar suku/wilayah dalam perebutan kekuasaan, yang terjadi sejak zaman penjajahan sampai saat ini. Pergeseran pola konflik dapat dilihat dari perubahan konflik elite yang sebelumnya bersifat vertikal (kelompok bangsawan dengan masyarakat biasa) menjadi konflik horizontal, yakni konflik antar kelompok kepentingan yang tidak lagi didasarkan pada strata sosial, seperti yang terjadi masa-masa sebelumnya.KATA KUNCI: Konflik antar elite, politik lokal, Sulawesi Selatan, sejarah konflik, kontinuitas, konflik vertikal, dan konflik horizontal. ABSTRACT: “Conflicts among the Local Political Elites in South Sulawesi: A Historical Perspective”. Conflict of elite is an interesting study for the social sciences experts and practitioners since the last time until the latest period. Conflict among the local political elites often appeared also in the political landscape of Indonesia. Conflicts among the local political elites have become a new phenomenon in the era of Reform (1998 to date) that is rarely found in the past, whether in the time of Old Order (1959-1966) or in the time of New Order (1966-1998). This research aims to discover the existence of continuity and shift pattern by tracing the history of the conflict. Based on the search, assessment, and analysis of the conflict between the local political elite, both in the period before the colonial, the era of colonial, and in the time of Indonesian independence (1945-1950), the results showed that there is continuity and shifting patterns of elite conflict from every age in South Sulawesi. Continuity patterns of conflict can be seen from the conflicts between tribes/regions in the seizure of power that occurred since colonial periods until today. Shifting patterns of conflict can be seen from the changes of elite conflicts that previously vertical (group of nobles with the common people) into the horizontal conflicts, the conflicts between interest groups that are not anymore based on social strata, as it did occur in the previously last times ago. KEY WORD: Conflicts among the elites, local politics, South Sulawesi, conflict history, continuity, vertical conflict, and horizontal conflict.About the Author: Dr. Jayadi Nas adalah Staf Pengajar pada FISIP UNHAS (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin) Makassar, Jalan Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar 90245, Sulawesi Selatan, Indonesia. Untuk kepentingan akademik, penulis dapat dihubungi dengan alamat e-mail: jayadi.nas01@gmail.comHow to cite this article? Nas, Jayadi. (2014). “Konflik antar Elite Politik Lokal di Sulawesi Selatan: Sebuah Perspektif Sejarah” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7(2) November, pp.197-212. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of the article: Accepted (November 10, 2014); Revised (November 15, 2014); and Published (November 20, 2014).
Stakeholder Analysis of Mangrove Management in Tangerang Coastal District, Banten, Indonesia Muzani, Muzani
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.94 KB)

Abstract

ABSTRACT: Mangrove ecosystems have the important ecological, economic, and social functions that need consideration in coastal development. Mangrove forests provide essential functions and services to coastal populations, such as protection of the coastal zone and a variety of timber and non-timber forest products. However, mangroves in Tangerang coastal district, Banten, Indonesia are being degraded by human activities brought about by a range of stakeholders. The complexity of stakeholders creates problems through various government departments having overlapping jurisdictions. This study aimed to develop strategies to increase the role of stakeholders in the management of mangrove ecosystems in Tangerang Regency. Stakeholders were identified from interviews obtained through a snowball sampling method. In the coastal district of Tangerang, there are 12 different types of stakeholders involved in mangrove management from government to local people. Each of these stakeholders has an interest and influence in mangrove management. Lack of coordination among stakeholders often results in the variety of management activities. The study recommends the strategies to increase the role of stakeholders through improved coordination, information, and collaboration among stakeholders.KEY WORD: Stakeholder, management, mangrove, Tangerang coastal district, government, local people, coordination, information, and collaboration. RESUME: “Analisis Pemangku Kepentingan tentang Pengelolaan Hutan Bakau di Daerah Pesisir Tangerang, Banten, Indonesia”. Ekosistem hutan bakau memiliki fungsi penting secara ekologis, ekonomis, dan sosial yang perlu dipertimbangkan dalam pembangunan daerah pesisir. Hutan bakau berfungsi dan melayani secara esensial bagi masyarakat pesisir, seperti perlindungan wilayah pantai serta variasi produk hutan timber dan bukan timber. Bagaimanapun, hutan bakau di daerah pesisir Tangerang mengalami kerusakan oleh aktivitas manusia. Banyaknya jumlah pemangku kepentingan yang berkepentingan dengan hutan bakau sering menciptakan masalah melalui lembaga-lembaga pemerintah dan mengakibatkan tumpang-tindih kewenangan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan strategi untuk meningkatkan peran para pemangku kepentingan dalam pengelolaan ekosistem hutan bakau di Kabupaten Tangerang. Para pemangku kepentingan diidentifikasi dari wawancara yang diperoleh melalui sebuah metode sampel efek bola salju. Di daerah pesisir Tangerang, terdapat 12 pihak pemangku kepentingan berbeda-beda, yang terlibat dalam pengelolaan hutan bakau mulai dari pemerintah hingga masyarakat setempat. Masing-masing pihak memiliki kepentingan dan pengaruh dalam pengelolaan hutan bakau. Kurangnya koordinasi antar pemangku kepentingan sering menyebabkan keragaman dalam kegiatan pengelolaan. Penelitian ini merekomendasikan strategi untuk meningkatkan peran para pemangku kepentingan melalui peningkatan koordinasi, informasi, dan kolaborasi diantara mereka.KATA KUNCI: Pemangku kepentingan, pengelolaan, hutan bakau, daerah pesisir Tangerang, pemerintah, masyarakat setempat, koordinasi, informasi, dan kolaborasi.About the Author: Muzani, M.Si. is a Doctoral Candidate at the IPB (Institut Pertanian Bogor or Bogor Agricultural University), Jalan Lingkar Akademik, Kampus IPB Darmaga, Bogor, West Java, Indonesia. For academic interests, he can be contacted via e-mail at: muzaniunj@yahoo.co.idHow to cite this article? Muzani. (2014). “Stakeholder Analysis of Mangrove Management in Tangerang Coastal District, Banten, Indonesia” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7(2) November, pp.257-268. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112.Chronicle of the article: Accepted (November 30, 2013); Revised (June 20, 2014); and Published (November 20, 2014).
Tibetan Opera: A History Gnanasekaran, R
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: The history of Tibet can be traced back to thousand years ago, but the written history dates back to 7th century during the reign of Songtsen Gampo. The first human who appeared in the highest plateau was surrounded by mountains and forest. They were known as Tibetan. Meanwhile, Tibetan Opera reflects the past and keep the history, cultural, and religion of Tibet alive. The word “Lhamo” in Tibetan denotes Goddess. Tibetan Opera was known as “Lhamo”. Because it was believed that when Opera was first performed, there were seven ravishing girls who sang with high-pitched voice in an open air and Thang-stong rGyalpo played the accompanying cymbals and drum. The audience thought that the goddesses hailed from heaven to make a performance. Contemplated by the exquisite voice and beauty, the audience applied the name “Lhamo” to this form of performance. Thang-stong rGyalpo was the pioneer of “Lhamo”. Introducing this kind of performances was mainly for collecting funds that was necessary for the completion of building the Iron Bridge. Further, he collected seven beautiful sisters who were excellent in singing and dancing. Thang-stong rGyalpo trained the seven sisters exactly the same way as the performances of Goddess Khadoma (Dakini) whom he had seen in his vision. Thang-stong rGyalpo and the seven beautiful girls travelled and performed in various Provinces of Central Tibet appealing for funds. Since then, “Lhamo” became a theatrical performance of Tibet.KEY WORD: Tibetan opera, “Lhamo”, Goddess, performance, Thang-stong rGyalpo, Central Tibet, Dalai Lama, and Buddha. RESUME: “Opera Tibet: Sebuah Sejarah”. Sejarah Tibet dapat ditelusuri kembali ke ribuan tahun yang lalu, tapi sejarah yang tertulis kembali ke abad ke-7 pada masa pemerintahan Songtsen Gampo. Manusia pertama yang muncul di dataran tertinggi dikelilingi oleh pegunungan dan hutan. Mereka dikenal sebagai orang Tibet. Sementara itu, Opera Tibet mencerminkan masa lalu dan menjaga sejarah, budaya, dan agama orang Tibet secara hidup. Kata "Lhamo" dalam bahasa Tibet menunjukkan Dewi. Opera Tibet dikenal sebagai "Lhamo". Karena diyakini bahwa ketika Opera itu pertama kali dipertunjukkan, ada tujuh gadis menggairahkan yang menyanyi dengan suara bernada tinggi di udara terbuka dan Thang-stong rGyalpo menyertainya dengan memainkan simbal dan gendang. Para penonton menyangka bahwa Dewi itu berasal dari surga untuk membuat pertunjukan. Dikontemplasikan dengan suara merdu dan keindahan, penonton mengenakan nama "Lhamo" untuk bentuk pertunjukan itu. Thang-stong rGyalpo adalah pelopor dari "Lhamo". Memperkenalkan jenis pertunjukan itu terutama untuk mengumpulkan dana yang diperlukan bagi penyelesaian bangunan Jembatan Besi. Lebih lanjut, ia mengumpulkan tujuh saudari-saudari cantik yang sangat baik dalam menyanyi dan menari. Thang-stong rGyalpo melatih tujuh saudari-saudarinya itu dengan cara yang persis sama seperti pertunjukan Dewi Khadoma (Dakini) yang telah dilihat dalam penerawangannya. Thang-stong rGyalpo dan tujuh gadis cantik itu berkeliling dan tampil dalam pertunjukan di berbagai Provinsi Tibet Tengah untuk mengumpulkan dana. Sejak itu, "Lhamo" menjadi pertunjukan teater dari Tibet.KATA KUNCI: Opera Tibet, "Lhamo", Dewi, pertunjukan, Thang-stong rGyalpo, Tibet Tengah, Dalai Lama, dan agama Buddha.About the Author: R. Gnanasekaran is a Ph.D. Scholar at the Department of Linguistics, Puducherry Institute of Linguistics and Culture, Lawspet, Puducherry 605008, India. His e-mail address is: gnanasekaranpdy@gmail.comHow to cite this article? Gnanasekaran, R. (2014). “Tibetan Opera: A History” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7(2) November, pp.153-158. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of the article: Accepted (May 30, 2014); Revised (August 17, 2014); and Published (November 20, 2014).
Tsunami dan Impaknya ke atas Negara Persisiran Lautan Pasifik Mat Tahir, Ismail; Ahmad, Shaharuddin
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Tsunami adalah bencana yang mengancam pantai di seluruh dunia, yang berlaku dalam semua lautan di dunia, termasuk Mediterranean, Atlantik, India, Pasifik, dan juga di tasik-tasik besar. Oleh itu, kajian ini bertujuan untuk mengenalpasti impak tsunami ke atas negara-negara di persisiran Lautan Pasifik. Data kajian diperolehi daripada NOAA (“National Oceanic and Atmospheric Administration” atau Pengurusan Atmosfir dan Lautan Kebangsaan) dalam “National Geophysical Data Center” atau Pusat Data Geofisik Kebangsaan. Kajian ini adalah berbentuk deskriptif dan dianalisis menggunakan SPSS (“Statistical Package for the Social Sciences” atau Paket Statistik bagi Sains Sosial). Fokus analisis adalah pada data tsunami yang berlaku di 18 negeri di pesisiran Lautan Pasifik, yang mengalami kejadian gempa bumi dasar laut berukuran > 6.1 pada skala Richter. Hasil kajian mendapati bahawa skala magnitud yang paling tinggi pernah dicapai melebihi 9.0 pada skala Richter adalah pada tahun 2004 di kawasan Indonesia, yang mengakibatkan kadar kematian paling tinggi, iaitu 227,898 orang; diikuti negara Cina pada tahun 2008 seramai 87,652 kematian; dan pada tahun 2011 di Jepun seramai 18,537 kematian. Manakala Filipina mencatatkan jumlah bilangan kecederaan dan kematian yang paling rendah, iaitu hanya melibatkan seorang sahaja. Terdapat hubung-kait yang jelas antara skala magnitud dengan bilangan kecederaan dan kematian (t > 1.96, p < 0.05). Kejadian tsunami jelas boleh memberi kesan terhadap sistem demografik penduduk. KATA KUNCI: Lautan Pasifik, bencana, tsunami, gempa bumi, negara-negara di persisiran, kecederaan, kematian, dan sistem demografik penduduk. ABSTRACT: “The Impacts of Tsunami on the Coastal Countries of the Pacific Ocean”. Tsunami is a disaster that threatens beaches around the world that occurs in all oceans of the world, including the Mediterranean, the Atlantic, Indian, Pacific, and also in the great lakes. Therefore, this study aimed to identify the impact of tsunami on the rate of deaths occurring in several countries of the Pacific area. Data were derived from the NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) in National Geophysical Data Center. This study is a descriptive study and analyzed using SPSS statistics version 22. The analysis focused on tsunami data that occurred in 18 countries around the Pacific region, which suffered major quake of more than 6.1 richter scale. The result showed that the scale of the highest magnitude ever recorded more than 9.0 richter scale was in 2004 in Indonesia, which carries the highest mortality rate of 227,898 people; followed by China in 2008 with total of deaths, 87,652; and Japan in 2011, around 18,537 deaths were recorded. While Philippines recorded a total number of injuries and deaths as low as only one victim involved in tsunami. There has been a relationship between magnitude scale and the number of death and injury (t > 1.96, p < 0.05). The tsunami tragedy clearly could affect population’s demographic system. KEY WORD: Pacific ocean, hazards, tsunami, earthquake, coastal countries, injury, death, and population’s demographic system.  About the Authors: Ismail Mat Tahir ialah Pelajar Sarjana Dasar dan Pengurusan Bencana di Pusat Kajian Bencana Asia Tenggara UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia); dan Prof. Dato’ Dr. Shaharuddin Ahmad ialah Pensyarah di Pusat Pengajian Sosial, Pembangunan, dan Persekitaran, Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan UKM di Bangi, Selangor Darul Ehsan, Malaysia. Alamat emel: ismail.emts@gmail.comHow to cite this article? Mat Tahir, Ismail & Shaharuddin Ahmad. (2014). “Tsunami dan Impaknya ke atas Negara Persisiran Lautan Pasifik” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7(2) November, pp.213-222. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of the article: Accepted (October 29, 2014); Revised (November 10, 2014); and Published (November 20, 2014).
Menjadikan Lembaga Pendidikan sebagai Wadah Pembinaan Bahasa Daerah: Kajian terhadap Pembinaan Bahasa Sunda di Lembaga Pendidikan Kota Bandung Nurjanah, Nunuy
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Penelitian ini mendeskripsikan kebijakan lembaga pendidikan terhadap pelajaran bahasa Sunda di Kota Bandung; penggunaan bahasa Sunda oleh guru/dosen di lembaga pendidikan Kota Bandung; penggunaan bahasa Sunda oleh siswa/mahasiswa di lembaga pendidikan Kota Bandung; serta penyelenggaraan pelajaran bahasa Sunda di lembaga pendidikan Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Subjek penelitiannya adalah Kepala Sekolah/Rektor/Dekan, Guru/Dosen, Siswa/Mahasiswa, dan lapisan masyarakat (orang tua siswa/mahasiswa). Hasil pembahasan menunjukkan: (1) Pelaksanaan pelajaran bahasa Sunda di Kota Bandung secara umum telah terlaksana; (2) Penguasaan dan penggunaan bahasa Sunda oleh guru/dosen di lembaga pendidikan Kota Bandung adalah 90%, baik; (3) Penguasaan dan penggunaan bahasa Sunda oleh siswa/mahasiswa di lembaga pendidikan Kota Bandung hanya 45% yang menguasai dengan baik; serta (4) Partisipasi masyarakat dalam pembelajaran bahasa, sastera, dan budaya Sunda memberikan sumbangan dana bagi pengadaan sarana pengajaran bahasa daerah.KATA KUNCI: Kebijakan pendidikan, penggunaan bahasa, pelajaran bahasa Sunda, masyarakat Sunda, dan lembaga pendidikan. ABSTRACT: “Making the Educational Institution as Medium for Developing the Local Language: A Study on Developing the Sundanese Language at the Educational Institution in Bandung City”. This study describes about the policy of educational institution towards the lessons of Sundanese language in Bandung; the use of Sundanese language by teachers/lecturers at the educational institutions in Bandung; the use of Sundanese language by pupil/student at the educational institutions in Bandung; and implementation of Sundanese language lessons at the educational institutions in Bandung. This study uses descriptive method. Research subjects are the Principal/Rector/Dean, Teacher/Lecturer, Student, and the community (parents’ students). The results of the study show: (1) the implementation of Sundanese language lessons in Bandung has generally been accomplished; (2) the Sundanese language acquisition and used by teachers/lecturers at the educational institutions Bandung are 90%, good; and (3) the acquisition and use of Sundanese languages by students at the educational institutions in Bandung are only 45%, not so good; and (4) the community participation in language learning, literature, and culture of Sundanese is to contribute funds for the provision of language teaching facilities.KEY WORD: Education policy, use of language, Sundanese language lesson, Sundanese community, and educational institution.About the Author: Dr. Nunuy Nurjanah adalah Dosen Senior di Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), Jalan Dr. Setiabudhi No.229 Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Alamat emel: nunuynurjanah81@yahoo.co.idHow to cite this article? Nurjanah, Nunuy. (2014). “Menjadikan Lembaga Pendidikan sebagai Wadah Pembinaan Bahasa Daerah: Kajian terhadap Pembinaan Bahasa Sunda di Lembaga Pendidikan Kota Bandung” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7(2) November, pp.269-278. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of the article: Accepted (May 6, 2014); Revised (August 31, 2014); and Published (November 20, 2014).
Diplomasi dan Ekspedisi Militer Belanda terhadap Tiga Kerajaan Lokal di Sulawesi Selatan, 1824-1860 Latif, Abd
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Pada pertengahan tahun 1824, Belanda tidak puas melihat Bone menjadi satu-satunya pemegang hegemoni politik di Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, pada Juli 1824, Gubernur Jenderal Belanda, yang berkedudukan di Batavia (sekarang Jakarta), datang ke Makassar untuk bermusyawarah dengan raja-raja di Sulawesi Selatan untuk menetapkan struktur politik baru yang sebelumnya telah dirancang secara sepihak oleh Belanda. Dalam rancangan itu, Belanda diletakkan di atas puncak struktur politik, sedangkan Bone dan kerajaan-kerajaan lokal lainnya berada di bawahnya. Kajian ini menggunakan analisis isi terhadap manuskrip lokal yang disebut “lontaraq” dan analisis terhadap beberapa sumber kedua. Kajian ini menemukan bahwa Sidenreng yang terletak di tengah Sulawesi Selatan, Gowa, dan kerajaan-kerajaan yang terletak di selatan Makassar menyetujui rancangan struktur politik, yang diputuskan dalam Kontrak Bungaya yang Diperbaharui pada 27 Agustus 1824. Kontrak Bungaya yang Diperbaharui ini memberi kesempatan kepada Sidenreng, Gowa, dan kerajaan-kerajaan kecil di selatan Makassar untuk menarik diri (merdeka) dari pengaruh politik Bone. Sebaliknya, Raja Bone, Raja Tanete, dan Raja Suppa tidak menyetujui Kontrak Bungaya yang Diperbaharui, karena kontrak itu berakibat pada berkurangnya pengaruh politik Bone terhadap semua kerajaan lokal di Sulawesi Selatan. Kata Kunci: Diplomasi, Kontrak Bungaya yang Diperbaharui, struktur politik, diplomasi, ekspedisi militer Belanda, kerajaan lokal, dan Sulawesi Selatan. ABSTRACT: “The Dutch Diplomacy and Military Expedition against the Three Local Kingdoms in South Sulawesi, 1824-1860”. In mid-1824, the Dutch was unhappy to see Bone became the sole political hegemony in South Sulawesi. Therefore, in July 1824, the Governor-General of the Netherlands, located in Batavia (now Jakarta), came to Makassar for consultation with the kings of the South Sulawesi to establish the new political structures that have previously been designed unilaterally by the Dutch. In the draft, the Dutch was placed as top of the political structure, while Bone and other local kingdoms beneath it. This study uses a content analysis of local manuscripts called "lontaraq" and analysis of some secondary sources. This study found that Sidenreng located in the center of South Sulawesi, Gowa, and kingdoms located in the southern Makassar approve the draft of political structure that be decided under the Bungaya Contract which was renewed on August 27, 1824. This revised Bungaya Contract gave an opportunity to Sidenreng, Gowa, and small kingdoms in the south of Makassar to withdraw (free) from the political influence of Bone. Instead, King of Bone, King of Tanete, and King of Suppa did not approve the renewed Bungaya Contract, because the contract resulted in minimising the political influence of Bone to all the local kingdoms in South Sulawesi.KEY WORD: Diplomacy, renewed Bungaya Contract, political structure, diplomacy, Netherlands military expedition, local kingdom, and South Sulawesi.About the Author: Dr. Abd Latif adalah Dosen di Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya UNHAS (Universitas Hasanuddin) Makassar, Jalan Perintis Kemerdekaan Km.10 Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Untuk kepentingan akademik, penulis bisa dihubungi dengan alamat e-mail: latifunhas@hotmail.com How to cite this article? Latif, Abd. (2014). “Diplomasi dan Ekspedisi Militer Belanda terhadap Tiga Kerajaan Lokal di Sulawesi Selatan, 1824-1860” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7(2) November, pp.159-174. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of the article: Accepted (May 27, 2014); Revised (August 27, 2014); and Published (November 20, 2014).
Language Psychology Approach on Language and Literature’s Learning Process: A Model to Educate the Nation Sastra, Gusdi
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: For getting the young generation that like in reading and usual in writing, absolutely, not as easy as fold back the palm. There are many things should be involved, not only human resources but also various supporting factors, so it can grow up the interest in reading and writing on young generation. The factor of time also has role, because growing up the interest in reading is a process, and each process needs time and patient. This paper discusses on model of Indonesian language and literature’s learning process based on language psychology (psycholinguistics) to educate the nation, through three steps of mental process, they are: comprehension, production, and bio-neurology. This model is hoped to be applied to teachers and Elementary School students’ grade 4th to grade 12th of Senior High School. The arrangement of this model involves the roles of teachers, government, and parents for establishing the education paradigm that can educate the nation. Based on the psychology and language neurology’s study, therefore, has been arranged a plain model of Indonesian language and literature’s learning process, that is MENUNDAS (“Membaca” or Reading + “Menulis” or Writing à “Cerdas” or Intelligent). MENUNDAS is acquired through the famous Indonesian literature’s book that be internalized through activating of sensory and motoric area, so that the intellectual development of nation mentality is existed.KEY WORD: Psycholinguistics, Indonesian language and literature, mental process, reading, writing, intelligent, and intellectual development of nation. RESUME: “Pendekatan Psikologi Bahasa pada Proses Pembelajaran Bahasa dan Sastera: Sebuah Model untuk Mendidik Bangsa”. Untuk mendapatkan generasi muda yang suka membaca dan biasa menulis, sesungguhnya, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak hal yang harus dilibatkan, tidak hanya sumber daya manusia tetapi juga berbagai faktor pendukung, sehingga dapat tumbuh dan berkembang mengenai minat baca dan menulis di kalangan generasi muda. Faktor waktu juga memiliki peran, karena perkembangan minat membaca adalah suatu proses, dan setiap proses membutuhkan waktu dan kesabaran. Makalah ini membahas model proses pembelajaran bahasa dan sastera Indonesia berdasarkan pada psikologi bahasa (psikolinguistik) untuk mencerdaskan bangsa, melalui tiga tahap proses mental, yaitu: pemahaman, produksi, dan bio-neurologi. Model ini diharapkan dapat diterapkan pada guru dan siswa kelas 4 SD (Sekolah Dasar) sampai dengan kelas 12 SMA (Sekolah Menengah Atas). Penyusunan model ini melibatkan peran guru, pemerintah, dan orang tua untuk membangun paradigma pendidikan yang dapat mencerdaskan bangsa. Berdasarkan kajian psikologi dan neurologi bahasa, kemudian, telah disusun model sederhana dalam proses pembelajaran bahasa dan sastera Indonesia, yaitu MENUNDAS (Membaca + Menulis à Cerdas). MENUNDAS diperoleh melalui buku sastera terkenal Indonesia yang diinternalisasikan melalui pengaktifan ranah sensorik dan motorik, sehingga perkembangan intelektual tentang mentalitas bangsa terwujud.KATA KUNCI: Psikolinguistik, bahasa dan sastera Indonesia, proses mental, membaca, menulis, cerdas, dan pengembangan intelektual bangsa.About the Author: Gusdi Sastra, Ph.D. is a Lecturer at the Faculty of Humanities UNAND (Andalas University), Limau Manis Campus, Padang, West Sumatera, Indonesia. For academic interests, the author is able to be contacted via e-mail at: sastra_budaya1990@yahoo.comHow to cite this article? Sastra, Gusdi. (2014). “Language Psychology Approach on Language and Literature’s Learning Process: A Model to Educate the Nation” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7(2) November, pp.223-230. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of the article: Accepted (October 9, 2013); Revised (October 28, 2014); and Published (November 20, 2014).
Pengembangan Model Simulasi Sosial pada Pembelajaran PKn Konteks IPS: Upaya Meningkatkan Sikap Demokratis Peserta Didik Andriani, Ana
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal, menjadi lembaga yang diharapkan mampu mengembangkan dan mempertahankan nilai-nilai demokrasi di kalangan peserta didik. Sekolah harus mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan sikap demokratis peserta didik, sesuai dengan harapan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan demokrasi selayaknya disosialisasikan kepada seluruh masyarakat, tidak terkecuali kepada peserta didik yang akan mewarisi bangsa dan negara ini di masa yang akan datang. Demokrasi dapat diupayakan melalui pendidikan, baik pendidikan formal dan informal, maupun pendidikan non-formal. Penelitian ini membahas tentang pengembangan model simulasi sosial dalam rangka meningkatkan sikap demokratis siswa terhadap pembelajaran kewarganegaraan. Model yang dikembangkan memiliki nilai-nilai pendidikan, khususnya pendidikan demokrasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan, karena dianggap paling sesuai untuk mencapai tujuan. Peserta didik dan guru di lima SMA (Sekolah Menengah Atas) menjadi subjek dalam penelitian ini, dengan menggunakan pendekatan eksperimen. Berdasarkan hasil penelitian ini, model simulasi sosial pada pembelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) konteks IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) terbukti dapat meningkatkan sikap demokratik peserta didik. KATA KUNCI: Model simulasi sosial, pengajaran dan pembelajaran, PKn konteks IPS, siswa sekolah menengah, dan sikap demokratis. ABSTRACT: “Developing the Social Simulation Model in Learning Civics of Social Studies Context: An Increasing Effort of Democratic Attitudes to Students”. School, as a formal educational institution, is becoming an institution that is expected to develop and sustain democratic values among the learners. School should be able to contribute the improvement of democratic attitudes of learners, according to the expectations of family, community, nation, and state. Democratic education should be disseminated to the entire community, not exception to the learners who will inherit this nation in the future. Democracy can be achieved through education, both formal and informal education, as well as non-formal education. The research discussed about the development of social simulation model in order to improve the students’ democratic attitude to the learning of civics. The model is being developed having the educational values, particularly democratic education. The study used research and development method, since it is suitable with the research objectives. Participants in this research are teachers and students of the five of Senior High Schools by using experiment approach. Based on the results of this research, the model of the teaching and learning Civics of Social Studies educational context was proved it can improve the learners’ democratic attitude.KEY WORD: Social model simulation, teaching and learning, civics of social studies educational context, students of secondary school, and democratic attitude.About the Author: Ana Andriani, M.Pd. adalah Dosen di STT (Sekolah Tinggi Teknik) Kyai Haji E.Z. Muttaqien, Jalan Letnan Jenderal Basuki Rahmat No.37 Sindang Kasih, Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia. Alamat emel: ana.andriani@gmail.comHow to cite this article? Andriani, Ana. (2014). “Pengembangan Model Simulasi Sosial pada Pembelajaran PKn Konteks IPS: Upaya Meningkatkan Sikap Demokratis Peserta Didik” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7(2) November, pp.279-292. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112.Chronicle of the article: Accepted (July 14, 2014); Revised (September 14, 2014); and Published (November 20, 2014).
Analisis Teoritik tentang Etnopedagogi Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Wahana Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di Perguruan Tinggi Zuriah, Nurul
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan konsep dan teori tentang etnopedagogi PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) sebagai wahana pendidikan budaya dan karakter bangsa di Perguruan Tinggi. Sampel penelitiannya adalah tiga universitas besar sebagai sampel bertujuan, yaitu: UB (Universitas Brawijaya), UM (Universitas Negeri Malang), dan UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) di Jawa Timur, Indonesia. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi langsung, DKT (Diskusi Kelompok Terbatas), wawancara mendalam, serta partisipasi terlibat langsung. Hasil dan analisis data menunjukkan bahwa: (1) Pengetahuan, sikap, dan perilaku guru, siswa, dan ketua program studi dalam mengajar PKn di institusi mereka sekarang cenderung menunjukkan beragam fenomena; (2) Ada beberapa alasan penting, kebutuhan yang mendasari upaya inovasi dan analisis teoritis belajar tentang etnopedagogi PKn sebagai wahana pendidikan budaya dan karakter bangsa di perguruan tinggi; dan (3) Formulasi rancangan analisis teoritis tentang etnopedagogi PKn sebagai wahana pendidikan budaya dan karakter bangsa yang diinginkan oleh para pemangku kepentingan sesuai dengan semangat demokratisasi, melalui: Orientasi Model (alasan dan pengembangan model) serta Model Komponen (belajar sintaks).KATA KUNCI: Etnopedagogi, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan budaya, karakter bangsa, guru, mahasiswa, ketua program studi, dan lembaga perguruan tinggi. ABSTRACT: “Theoretical Analysis on the Ethnopedagogy of Citizenship Education as a Vehicle of Cultural Education and Nation Character in Higher Education Institution”. The purpose of the research is to formulate the concepts and theories on ethnopedagogy of citizenship education as a vehicle of cultural education and nation character in the college. The research sample is purposively sampling at three major universities, namely: UB (Brawijaya University), UM (State University of Malang), and UMM (Muhammadiyah University of Malang) in East Java, Indonesia. Data collection was done by using direct observation, FGD (Focus Group Discussions), in-depth interviews, as well as participation involved. The results and analysis of the data showed that: (1) Knowledge, attitudes, and behavior of teachers, students, and heads of the study program in teaching the civic education in their institutions tend to show the phenomenon vary; (2) There are several important reasons, the underlying need for innovation efforts and theoretical analysis of learning on ethnopedagogy of civic education as a vehicle for cultural education and nation character in the universities; and (3) Formulation draft of theoretical analysis on ethnopedagogy of civic education as a vehicle of cultural education and nation character is desired by the stakeholders in accordance with the spirit of democratization, through: Model Orientation (the rationale and development of a model) and Component Model (syntax learning).KEY WORD: Ethnopedagogy, civic education, cultural education, nation character, teacher, student, chair of the study program, and higher education institution.About the Author: Dr. Nurul Zuriah adalah Dosen di Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan atau Civic Hukum, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNMUH (Universitas Muhammadiyah) Malang di Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia. Untuk kepetingan akademik, penulis bisa dihubungi dengan alamat e-mail: zuriahnurulzuriah@yahoo.co.idHow to cite this article? Zuriah, Nurul. (2014). “Analisis Teoritik tentang Etnopedagogi Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Wahana Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di Perguruan Tinggi” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7(2) November, pp.175-188. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of the article: Accepted (December 10, 2013); Revised (July 3, 2014); and Published (November 20, 2014).
Pengembangan Konsep Pendidikan Multibudaya Melalui Gemar Belajar, Kreatif, Mandiri, dan Berbudi Pekerti Luhur untuk Membentuk Jiwa Wirausaha di Indonesia Suryaman, Suryaman
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Pendidikan multibudaya diharapkan mampu membangun karakter siswa agar menjadi insan yang lebih menghargai perbedaan, menyadari kehidupan yang beragam, dan bersikap lebih humanis dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tulisan ini mencoba mengedepankan sebuah konsep pembelajaran yang menyenangkan untuk siswa SD (Sekolah Dasar), dengan pendekatan gemar belajar, kreatif, mandiri, dan berbudi luhur untuk membentuk jiwa wirausaha sejak dini di Indonesia. Konsep belajar yang menyenangkan ini, bila berhasil diterapkan di SD, akan membangun karakter bangsa yang kuat, gigih, pantang menyerah, bertanggungjawab, dan inovatif dengan dasar jujur, adil, dan etis, serta mampu bekerjasama yang dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk mengembalikan kejayaan wirausaha di Indonesia, pelaksanaan metode belajar yang menyenangkan dan dikombinasikan dengan budaya wirausaha ini perlu terus dipupuk dan digalakkan sejak usia dini. Dalam implementasinya, bagaimanapun, tidak boleh melupakan latarbelakang sekolah, harus mendapatkan persetujuan orang tua dan yayasan atau pemilik sekolah, pemangku kepentingan, masyarakat, lokasi sekolah, dan tentu saja kemauan dari siswa itu sendiri agar mau dibentuk untuk menjadi sosok pribadi dengan jiwa wirausaha dan menghargai perbedaan budaya.KATA KUNCI: Pendidikan multibudaya, gemar belajar, kreatif, mandiri, berbudi luhur, siswa sekolah dasar, menghargai perbedaan, dan jiwa wirausaha. RESUME: “Multicultural Education Concept Development Through the Joy of Learning, Creative, Independent, and Noble Character to Establish the Entrepreneurial Spirit in Indonesia”. Multicultural education is expected to build the character of students in order to become more appreciative in human diversity, recognizing the diverse life, and to be more humane in their daily lives. This paper attempts to put forward a concept of learning that is fun for Elementary School students, with approaches are eager to learn, creative, independent, and virtuous to establish an entrepreneurial spirit in early school age in Indonesia. The concept of fun learning, if this is successfully applied in the Elementary School, will build a strong national character, persistent, unyielding, responsible, and innovative on the basis of honesty, fairness, and ethical, as well as able to collaborate based on the faith and devotion to God Almighty. To restore the glory of entrepreneurs in Indonesia, implementation of fun learning method combined with this entrepreneurial culture needs to be cultivated and encouraged from an early school age. In the implementation, however, should not forget the background of the school, must obtain the consent from parental and foundation or school owners, stakeholders, community, school location, and of course the willingness of the students themselves who want to set up to be a private person with an entrepreneurial spirit and appreciate the cultural differences.KEY WORD: Multicultural education, eager to learn, creative, independent, virtuous, elementary school students, respect for diversity, and entrepreneurial spirit.About the Author: Dr. Suryaman adalah Dosen Pascasarjana UNIPA (Universitas PGRI Adibuana) Surabaya, Jalan Ngagel Dadi III-B No.37, Surabaya 60245, Jawa Timur, Indonesia. Untuk kepentingan akademik, penulis bisa dihubungi dengan alamat emel: maman_suryaman58@yahoo.co.idHow to cite this article? Suryaman. (2014). “Pengembangan Konsep Pendidikan Multibudaya Melalui Gemar Belajar, Kreatif, Mandiri, dan Berbudi Pekerti Luhur untuk Membentuk Jiwa Wirausaha di Indonesia” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7(2) November, pp.231-240. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of the article: Accepted (October 9, 2014); Revised (October 28, 2014); and Published (November 20, 2014).

Page 1 of 2 | Total Record : 13