cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Naditira Widya
ISSN : 14100932     EISSN : 25484125     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
PENTINGNYA MONUMEN DWIKORA DAN KESEJARAHANNYA (THE SIGNIFICANCE OF DWIKORA MONUMENT AND ITS HISTORY Nugroho Nur Susanto, S.S.
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.03 KB) | DOI: 10.24832/nw.v13i2.398

Abstract

Pada saat ini jiwa patriotisme dan sifat kepahlawanan cenderung memudar, sedangkan figur dan sosok teladan mulai langka. Dengan demikian perlu kehadiran sosok pengganti yang dapat memberi nuansa peristiwa perjuangan dan kepahlawanan. Sosok berupa aspek bendawi itu dapat berupa tugu peringatan atau monumen. Monumen ini walaupun dibuat lebih kemudian diharapkan dapat mewakili semangat dan keteladanan. Melalui metode induktif dengan mengkompilasikan sumber sejarah dan bukti-bukti arkeologi yang lain, diungkapkan peristiwa dan makna masa lalu tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk menggali nilai penting aspek ideologis dari tinggalan arkeologi berupa monumen Dwikora. Penelitian ini dapat membantu kita untuk mengungkapkan, menjelaskan, dan mendesain ulang peristiwa masa lalu. Di daerah perbatasan selain masalah ekonomi, ada persoalan yang tak kalah mendesak, yaitu nasionalisme. Monumen Dwikora di Nunukan, Kalimantan Utara, hampir musnah karena terdesak oleh perbedaan kepentingan, demikian pula kisah sejarahnya. Deskripsi kasus di Nunukan ini dihadirkan dalam upaya penanganan dan menakar nilai penting suatu cagar budaya.Today the soul of patriotism and the nature of heroism tends to fade, while figures and role models are becoming scarce. Thus, it is necessary to have a substitute figure that can give the nuances of the struggle and heroism. The figure in the form of material aspects can be a monument or monument. The monument although made later is expected to represent enthusiasm and example. Through the inductive method by compiling historical sources and other archeological evidence, the events and meanings of the past are revealed. This research was conducted to explore the importance of the ideological aspects of the archeological remains of the Dwikora monument. This research can help us to express, explain, and redesign past events. In border areas besides economic problems, there is a problem that is no less urgent, namely nationalism. The Dwikora monument in Nunukan, North Kalimantan, was almost destroyed because it was pressured by differences in interests, as did its historical story. A description of the case in Nunukan needs to be presented in an effort to handle and measure the importance of a cultural property. 
PREFACE NADITIRA WIDYA VOLUME 13 NOMOR 2 OKTOBER 2019 Naditira Widya
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.227 KB)

Abstract

APPENDIX NADITIRA WIDYA VOLUME 13 NOMOR 2 OKTOBER 2019 Naditira Widya
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3998.709 KB)

Abstract

SAMPUL DEPAN NADITIRA WIDYA VOLUME 13 NOMOR 2 OKTOBER 2019 Naditira Widya
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.637 KB)

Abstract

SAMPUL BELAKANG NADITIRA WIDYA VOLUME 13 NOMOR 2 OKTOBER 2019 Naditira Widya
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.148 KB)

Abstract

PENGARUH MORFOLOGI DAN LITOLOGI KAWASAN KARST KABUPATEN REMBANG TERHADAP POTENSI HUNIAN GUA PRASEJARAH [THE INFLUENCE OF MORPHOLOGY AND LITHOLOGY OF REMBANG KARST ON THE POTENTIAL OF PREHISTORIC CAVE DWELLINGS ] Hari Wibowo; J.S.E. Yuwono; Indah Asikin Nurani
Naditira Widya Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v14i1.404

Abstract

Kawasan karst di Kabupaten Rembang adalah bagian dari Karst Perbukitan Rembang yang membentang dari Jawa Tengah hingga ke Pulau Madura. Di bagian Jawa lainnya terdapat pula barisan karst Gunung Sewu sebagai salah satu kawasan karst Pegunungan Selatan Jawa. Tidak seperti situs-situs arkeologi di Gunung Sewu yang telah diteliti secara intensif, kawasan karst Rembang di gugusan utara belum banyak diteliti. Hal inilah yang menggaris bawahi pentingnya penelitian arkeologi di kawasan karst di perbukitan Rembang, yaitu untuk menjajaki potensi gua-guanya sebagai hunian prasejarah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan penalaran induktif, dengan memakai variabel potensi gua, dan dilakukan dengan teknik survei gemorfologis dan arkeologis. Hasil survei kemudian dibagi menjadi tiga variabel pengharkatan, yaitu kandungan arkeologis gua, aksesibilitas, dan morfologi gua. Dalam penelitian lapangan terdapat 41 titik gua yang menjadi objek pengamatan, dan beberapa di antara gua-gua tersebut memenuhi tingkat probabilitas untuk dihuni. Namun demikian, tentu saja untuk membuktikan gua-gua ini benar-benar dihuni atau tidak pada masa prasejarah diperlukan penelitian lebih lanjut. Lebih lanjut, jika dibandingkan dengan segmen-segmen di sebelah barat dan timurnya, potensi arkeologi kawasan karst Rembang, dalam pengertian situs-situs guanya, termasuk rendah. The karst region in Kabupaten Rembang is part of the Rembang Karst Zone that stretches from Central Java to Madura Island. Another mountain range of karst, the Gunung Sewu, lies on the southern region of Java. Unlike the archeological sites of Gunung Sewu that have been intensively investigated, the Rembang karst region in the northern ranges has not been much studied. This underlines the importance of archeological research in the karst region of Rembang, which is to explore the potentiality of its caves as prehistoric dwellings. This research employs descriptive method with inductive reasoning, using potential variables of a cave, and carried out with geomorphological and archaeological survey techniques. Survey results are further divided into three criteria, i.e. archaeological findings in caves, accessibility, and cave morphology. The field observation was focussed on 41 caves, and several of them indicated the probability of inhabitation. Nevertheless, further researches are required to prove whether these caves were inhabited or not during the prehistoric period. Furthermore, in terms of cave sites when compared to the west and east segments, the archaeological potency of Rembang karst regions is low.
PESAN GENDER PADA RELIEF-RELIEF CANDI SUKUH: FEMINISME MELALUI PENDEKATAN TUBUH DAN SEKS [GENDER MESSAGES IN THE RELIEFS OF CANDI SUKUH: FEMINISM BY APPROACHES OF BODY AND SEX] Karisma Putri Miranti; Agus Setiawan
Naditira Widya Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v14i1.409

Abstract

Penelitian ini difokuskan untuk menguraikan pesan-pesan yang terkandung dalam relief-relief Candi Sukuh yang dianggap tabu. Studi ini dilakukan karena Candi Sukuh dapat menjadi bukti bahwa jauh sebelum adanya gerakan feminisme, masyarakat berlatar agama Hindu-Buddha pada masa lampau telah mengakui perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut merupakan suatu konstruksi sosial yang dimengerti dalam hubungan kompromi laki-laki dan perempuan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif-interpretatif, dan data dianalisis dengan pendekatan multidesain. Teori Ikonografi digunakan untuk menganalisis pesan dari relief-relief Candi Sukuh, sedangkan teori feminisme diterapkan dengan pendekatan tubuh, seks, dan gender. Hasil penelitian menunjukkan adanya pesan feminisme pada relief kidung Sudhāmālā, relief linggā dan yoni, dan relief kālāmĕrgā. Kesimpulannya pesan gender yang disajikan di relief-relief Candi Sukuh berupa penolakan perempuan terhadap pengobjekan tubuhnya oleh laki-laki, yang dianggap memiliki otoritas terhadap tubuh perempuan. This research is focused to describe the messages contained in the reliefs of Candi Sukuh, which are considered taboo. This study was conducted because Candi Sukuh may well be an evidence that long before the existence of the feminism movement, the Hindu-Buddhist communities in the past have recognized differences between men and women. Such difference is a social construct which was understood in terms of compromising relations between men and women. The method used in this research was descriptive-interpretive, and data were analyzed using a multi-design approach. Theories of iconography were used to analyze messages of the reliefs of Candi Sukuh, whereas the theory of feminism was applied using approaches of body, sex and gender. Research results showed messages of feminism are contained in the Sudhāmālā hymn, reliefs of linggā and yoni, and the kālāmĕrgā relief. Conclusively, gender messages presented by the reliefs of Candi Sukuh informs the rejection of objectification of women’s body by men, who are considered to have authority over women's bodies.
PELESTARIAN TINGGALAN ARKEOLOGI DI TANJUNGREDEB: KONTESTASI ANTARA PRAKTIK DAN REGULASI [THE PRESERVATION OF ARCHAEOLOGICAL HERITAGE IN TANJUNGREDEB: A CONTESTATION BETWEEN PRACTICE AND REGULATION] Wasita; Hartatik; Nugorho Nur Susanto; Ida Bagus Putu Prajna Yogi; Restu Budi Sulistiyo; Fitri Wulandari; Diyah W. Restiyati
Naditira Widya Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v14i1.414

Abstract

Partisipasi dalam kegiatan pelestarian tinggalan arkeologi bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk masyarakat. Namun yang lebih penting dari semua itu adalah partisipasi yang tepat dan tidak akan menimbulkan masalah baru. Penelitian di Tanjungredeb ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana kegiatan pelestarian, pandangan setiap pemangku kepentingan tinggalan arkeologi, dan dampaknya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisisnya dilakukan dengancara menyusun dan mengklasifikasikan data untuk menemukan pola atau tema, agar dapat dipahami maknanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada upaya pelestarian tinggalan arkeologi di lokasi penelitian yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Namun demikian, sebagian praktik pelestarian itu tidak sesuai dengan regulasi yang telah ditetapkan, yaitu Undang-Undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pihak yang berkepentingan dengan tinggalan arkeologi harus segera turun tangan untuk menginformasikan cara pelestarian yang benar. Selain itu, dianggap perlu mengubah cara pandang pelestarian yang belum tepat agar dapat mencegah timbulnya masalah baru di masa depan. Participating in an archaeological heritage preservation can be done by anyone, including the community. However, the most important aspect is appropriate participation that will not cause new problems. The study in Tanjungredeb aimed to find out how the preservation operates, to understand the perspective of each archeological stakeholder, and the impact. This research used a descriptive-analytic method with a qualitative approach. Data collection was done by observations, interviews, and document studies. The analysis was conducted by compiling and classifying data to find patterns or themes; thus, their meaning can be understood. Results of the study indicate that there were efforts to preserve archeological remains in the study areas by governments and the communities. However, some preservation practises do not comply with the Constitution of the Republic of Indonesia number 11 of 2010 concerning Cultural Heritage. Therefore, it can be concluded that the parties concerned with archeological remains must immediately mediate to inform the correct method of preservation. Also, it is necessary to change imprecise perspectives of preservation to prevent new problematic matters in the future.
STASIUN-STASIUN SCS DI KOTA CIREBON: LOKASI DAN FUNGSINYA [SCS STATIONS IN CIREBON: THEIR LOCATIONS AND FUNCTIONS] Iwan Hermawan
Naditira Widya Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v14i1.416

Abstract

Cirebon merupakan batas barat dari konsesi yang diperoleh Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) dalam membangun dan mengoperasikan kereta api kelas tiga atau trem, sedangkan batas timurnya adalah kota Semarang. Permasalahan yang diangkat pada tulisan ini adalah bagaimana keterkaitan antara penempatan Stasiun SCS di kota Cirebon dengan fungsinya sebagai stasiun akhir. Penelitian ini bertujuan memahami keterkaitan antara lokasi dan fungsi Stasiun SCS sebagai stasiun akhir. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis, dengan pendekatan keruangan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan arsip, serta pengamatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penempatan Stasiun Kereta Api SCS di Kota Cirebon terintegrasi dengan keberadaan pelabuhan. Kondisi ini menunjukkan lebih jauh bahwa penempatan Stasiun SCS di Kota Cirebon dipengaruhi oleh aspek ekonomi yang menjadi tujuan pembangunan jalur-jalur kereta api oleh SCS. Cirebon is the western boundary of the concession obtained by the Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) in constructing and operating a third-class train or tram, whereas the eastern border is Semarang. The issue of this research concerned with the connection between the placement and function of SCS Stations in Cirebon as final stations. The research aimed to comprehend the connection between the location and function of SCS Stations as final stations. The research method used was descriptive analysis with a spatial approach. Data collection was carried out by literature and archive study, and field observations. Research results indicate that the placement of the SCS Train Stations in Cirebon was integrated with the existence of a harbor. Such condition suggest further that the placement of SCS stations in Cirebon was influenced by economic aspects which were the objectives of the development of railroad lines by SCS.
THE SITE OF SANGIRAN AS A MEANS OF HISTORY-LEARNING: AN EFFORT TO INCREASE STUDENTS’ HISTORICAL AWARENESS [SITUS SANGIRAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH: UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH SISWA] Warto; Tundjung Wahadi Sutirto; Rara Sugiarti
Naditira Widya Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v14i1.417

Abstract

History subject in secondary schools faces a number of challenges which may affect the efficiency of student learning outcomes. Several factors which influence such condition are the idea that history is less important than other subjects, lack of employing attractive educational methods and instruments, as well as limited facilities and learning resources in schools. An important aspect that needs to be reconsidered is the use of history-learning instrument beyond a classroom. This research explores the use of the archaeological site of Sangiran as a pre-literacy learning tool for junior high school students. This is a quantitative study which was carried out by a survey that involves the 10th grade high school students as research subjects. Sixty four students were divided into two groups, i.e. an experimental class consisting students who have visited the Sangiran site, and a control class of those who have not. The analysis indicates (sig 2 tailed) was 0.00 in the paired sample t test. Sig 0.00 is smaller than sig 0.05 (sig 2 tailed <sig 5-007). Thus, showing that the control class students did not share direct experience with historical material and passive learning activities. Consequently, they have not explored further the use of the Sangiran site as a means of learning. Students of the experimental class show better learning outcomes. The study concludes that learning history by visiting the Sangiran site can significantly increase awareness of the importance of history and encourage students' concern of the historical heritages. Mata pelajaran sejarah di sekolah menengah memiliki sejumlah tantangan yang dapat mempengaruhi efisiensi hasil belajar siswa. Beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi ini, yaitu gagasan bahwa pendidikan sejarah kurang penting daripada mata pelajaran lain, kurangnya penerapan metode dan media pendidikan yang menarik, serta terbatasnya fasilitas dan sumber daya pembelajaran di sekolah. Aspek penting yang perlu dipertimbangkan kembali adalah penggunaan media pembelajaran sejarah di luar kelas. Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan situs arkeologi Sangiran sebagai alat pembelajaran pra keaksaraan untuk siswa sekolah menengah pertama. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan teknik survei yang melibatkan subjek penelitian siswa SMA kelas 10. Enam puluh empat siswa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas eksperimental yang terdiri dari siswa yang telah mengunjungi situs Sangiran, dan kelas kontrol dari mereka yang belum. Hasil analisis menunjukkan (sig 2 tailed) adalah 0,00 dalam t test sampel berpasangan. Sig 0,00 lebih kecil dari sig 0,05 (sig 2 tailed <sig 5-007). Dengan demikian diketahui bahwa siswa kelas kontrol tidak berbagi pengalaman langsung dengan materi sejarah dan kegiatan belajar pasif. Hal ini mengakibatkan mereka belum mengeksplorasi lebih lanjut penggunaan situs arkeologi Sangiran sebagai alat pembelajaran. Para siswa kelas eksperimental hasil belajarnya lebih baik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa belajar sejarah dengan mengunjungi situs kuno Sangiran dapat secara signifikan meningkatkan kesadaran akan pentingnya sejarah dan mendorong perhatian siswa terhadap warisan sejarah.

Filter by Year

2006 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 17 No 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 Tahun 2023 Vol 16 No 2 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 2 Tahun 2022 Vol 16 No 1 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 1 Tahun 2022 Vol 15 No 2 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 2 OKTOBER 2021 Vol 15 No 1 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 1 APRIL 2021 Vol 14 No 2 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 2 OKTOBER 2020 Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020 Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13, No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13 No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 12 No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 12 No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 11, No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11 No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 11, No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 10 No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 9 No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9, No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9, No 1 (2015): April 2015 Vol 9 No 1 (2015): April 2015 Vol 8, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 1 (2014): April 2014 Vol 8, No 1 (2014): April 2014 Vol 7 No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7, No 1 (2013): April 2013 Vol 7 No 1 (2013): April 2013 Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6 No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6, No 1 (2012): April 2012 Vol 6 No 1 (2012): April 2012 Vol 5, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5, No 1 (2011): April 2011 Vol 5 No 1 (2011): April 2011 Vol 4, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4 No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4 No 1 (2010): April 2010 Vol 4, No 1 (2010): April 2010 Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3 No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 3, No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 2, No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2 No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 1, No 2 (2007): Naditira Widya Volume 1 Nomor 2 Tahun 2007 Vol 1 No 2 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.2 Vol 1 No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 Vol 1, No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 More Issue