cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
kartowijaya@universitaskebangsaan.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
arcade@universitaskebangsaan.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
Published by Universitas Kebangsaan
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Architecture Journal A R C A D E is Open Journal System published by Prodi Architecture Kebangsaan University, Bandung. Architectural Journal A R C A D E is, is a peer-reviewed scientific journal, publishing scholarly writings about Architecture and its related discussion periodically. The aims of this journal is to disseminate research findings, ideas, and review in architectural studies SCIENTIFIC AREAS: Building (architecture) and Urban/Regional Study: theory, history, technology, landscape and site planning, behavioral, social and cultural, structure and construction, traditional architecture, criticism, digital architecture, urban design /planning, housing and settlements, and other related discussion Architecture Education and Practice: curriculum/studio development, work opportunities and challenges, globalization, locality, professionalism, code of ethics, project managerial etc. Architectural Journal A R C A D E is published 3 times a year in March, July and November every last date of the month.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
KARAKTERISTIK PERMUKIMAN DAERAH KOTO DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI, PROVINSI RIAU Sepli Yandri; Suzanna Ratih Sari; Agung Budi Sardjono
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1298.053 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i2.208

Abstract

Abstract: An area usually has an important area as the center of government activities. as found in every area in Kuantan Singingi Regency. Every region in Kuantan Singingi district has an area that functions as a customary area. the customary area is named as koto. Traditional Koto settlements are one of the traditional settlements in Kuantan Singingi that try to maintain culture amid the development of modernization. In the Koto area, there are buildings that function as customary buildings, namely in the form of the Koto mosque, balai, and Koto house building. These three buildings are a sign that this area is the center of traditional activities in a region. The purpose of this study was to find buildings that functioned as traditional activities and concluded the characteristics of settlements which became the identity of traditional settlements in Kuantan Singingi. The method of descriptive analysis is used as a method of delivering descriptions relating to the traditional settlement of the Koto area by analyzing traditional settlements in the Koto Benai and Koto Sentajo.Keyword: Traditional Settlement, Vernacular Architecture, Kuantan Singingi Traditional House, Koto House.Abstract: Suatu daerah memiliki sebuah kawasan yang penting sebagai pusat kegiatan pemerintahan. Begitu pula yang terdapat pada setiap kenegrian di Kabupaten Kuantan Singingi. Setiap kenegrian di Kuantan Singingi memiliki daerah yang berfungsi sebagai kawasan adat. Kawasan adat tersebut diberi nama dengan sebutan koto. Permukiman tradisional koto menjadi salah satu permukiman tradisional di Kuantan Singingi yang berusaha mempertahankan budaya ditengah perkembangan modernisasi. Pada daerah koto terdapat bangunan yang berfungsi sebagai bangunan adat yaitu berupa bangunan mesjid, bangunan balai adat, dan bangunan rumah adat. Ketiga bangunan ini menjadi pertanda bahwa daerah ini adalah sebagai pusat kegiatan adat istiadat dalam suatu nagori (negri).  Tujuan penelitian ini untuk menemukan bangunan yang berfungsi sebagai aktivitas adat dan menyimpulkan karakteristik permukiman yang menjadi identitas permukiman tradisional di Kuantan Singingi. Metode deskripsi analisis, di pakai sebagai cara penyampaian deskripsi mendalam terkait permukiman adat daerah koto dengan menganalisa permukiman tradisional pada daerah Koto Benai dan Koto Sentajo.Kata Kunci : Permukiman Tradisional, Arsitektur Vernakular, Rumah Adat Kuantan Singingi, Rumah koto.
ADAPTASI PERUMAHAN PASCA BENCANA LONGSOR (Studi Kasus: Perumahan UNDIP Dewi Sartika, Semarang) Huwaida, Nurma Mediasri; Harsritanto, Bangun I.R.
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.242 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i3.252

Abstract

Abstract: This paper is motivated by the urgency of adaptations against natural disaster are part of human effort to keep their existence. The rapid development of urban areas in line with population growth has led to the need for space in urban areas. Housing and settlement is one of the basic human needs that must be met. Housing requires suitable land, but the land that suitable for housing in Semarang is limited. This causes the area that is not suitable for housing (landslide prone areas) built as housing. UNDIP Dewisartika housing was not an area prone to landslides, but poor environmental conditions caused the housing to be hit by a landslide. The phenomena, raises the response of the community to adapt to adjust to survive in their environment. This study aims to determine the form of adaptation that is done by the community. This research uses descriptive qualitative method, with purposive sampling technique (taking the appropriate sampling). The analysis was carried out in the form of identifying disaster areas in housing, as well as forms of spatial patterns arising from community adaptations. The results showed that UNDIP housing was a potential disaster area, efforts made by the community in the form of drainage on the slopes and the construction of talud next to the slopes, and there were similarities pattern of space formed by the community.Keyword: Adaptation, Spatial Mapping, Landslide DisastersAbstrak: Paper ini dilatarbelakangi oleh urgensi adaptasi masyarakat terhadap bencana longsor sebagai salah satu upaya keberlangsungan hidup. Permasalahan pesatnya perkembangan Kawasan perkotaan mengakibatkan meningkatnya kebutuhan ruang perkotaan, terutama sector perumahan dan permukiman. Perumahan dan permukiman adalah salah satu dari kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi. Pengadaan perumahan membutuhkan lahan yang sesuai, namun lahan yang sesuai untuk perumahan di kota Semarang sangat terbatas. Hal ini menyebabkan kawasan yang tidak sesuai untuk perumahan (kawasan rawan bencana tanah longsor) terbangun sebagai perumahan. Perumahan UNDIP Dewisartika tadinya bukan merupakan daerah rawan bencana longsor, akan tetapi kondisi lingkungan yang buruk menyebabkan perumahan ini terkena bencana longsor. Terjadinya fenomena tersebut, memunculkan respon masyarakat untuk beradaptasi menyesuaikan diri untuk bertahan hidup di lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk adaptasi yang di lakukan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan teknik purposive sampling (mengambil penarikan sampel yang sesuai). Analisis yang dilakukan berupa identifikasi area bencana pada perumahan, serta bentuk pola ruang yang timbul akibat adaptasi masyarakat.  Hasil penelitian menunjukan bahwa perumahan UNDIP merupakan daerah yang berpotensi terjadi bencana, upaya yang dilakukan masyarakat berupa pemberian jalur air pada lereng dan pembangunan talud di sebelah lereng, serta terdapat kemiripan pada pola ruang yang terbentuk dari adaptasi yang dilakukan masyarakat.Kata Kunci: Adaptasi, Pola Ruang, Bencana Longsor
IDENTIFIKASI ASPEK KENYAMANAN WARGA TERHADAP KEBERADAAN RUANG TERBUKA PUBLIK DI KAMPUNG GAMPINGAN KOTA YOGYAKARTA Maria Vika Wirastri; Sidhi Pramudito
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.226 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i3.282

Abstract

Abstract: Public open spaces are spaces that can be accessed for free and can accommodate a variety of peoples and activities. Therefore, both if in each residential area or at a certain radius there is at least one public open space, no exception in urban villages with a characteristic population density that has become the root of settlement culture in Indonesia. This research then took a case study in one of the villages in the city of Yogyakarta, namely Kampung Gampingan, which despite entering into a slum arrangement according to Mayor Decree Number 216 Year 2016, but still has one existing public open space that still exists utilized by residents around every day, both by children until adults. Related to these findings, this study was conducted as a basic study whose results can be used as a foundation for the arrangement of slums in the future. In its design, public open space must also pay attention to the times and various aspects and needs for the convenience of its users. Although comfort is very difficult to define, at least comfort can be assessed through people's preferences through the responsiveness of each individual. For this reason, through a qualitative-exploratory method using a questionnaire filled out by users of public open spaces in Kampung Gampingan, this study aims to find citizens' preferences for aspects of the comfort of public open spaces based on comfort theory; what matters that must be prioritized or must be avoided in the design for the creation of the convenience of citizens. From this study it was found that in order to achieve the comfort of a public open space, aspects of governance needed include cleanliness, safety, circulation, shape / dimension, noise, lighting, smell, natural/ climate power, and supporting facilities such as the free internet access, parks, CCTV, drink water, trash cans, streetlights, children's games, and furniture. Keyword: Comfort, Public Open Space, Residents, Kampung Gampingan, Yogyakarta City Abstrak: Ruang terbuka publik adalah ruang yang dapat diakses secara gratis dan mampu menampung berbagai pelaku maupun aktivitas. Oleh karenanya, baik apabila dalam setiap wilayah permukiman warga atau pada radius tertentu terdapat minimal satu buah ruang terbuka publik, tidak terkecuali di kampung kota dengan ciri khas kepadatan penduduknya yang sudah menjadi akar budaya permukiman di Indonesia. Penelitian ini kemudian mengambil studi kasus di salah satu kampung di Kota Yogyakarta yakni Kampung Gampingan, yang meskipun masuk ke dalam penataan kawasan kumuh menurut Surat Keputusan Walikota Nomor 216 Tahun 2016, namun masih memiliki satu buah ruang terbuka publik eksisting yang masih eksis dimanfaatkan warga sekitar setiap harinya, baik oleh anak-anak hingga orang dewasa.Terkait temuan tersebut, maka dilakukan penelitian ini sebagai kajian dasar yang hasilnya dapat digunakan untuk landasan penataan kampung kumuh di masa depan.Dalam perancangannya, ruang terbuka publik juga harus memperhatikan perkembangan zaman serta berbagai aspek maupun kebutuhan demi kenyamanan penggunanya. Meskipun kenyamanan sangat sulit didefinisikan, setidaknya kenyamanan dapat dinilai melalui preferensi warga lewat penilaian responsif setiap individunya. Untuk itu, melalui metode kualitatif-eksploratif dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh pengguna ruang terbuka publik di Kampung Gampingan, penelitian ini bertujuan untuk menemukan preferensi warga terhadap aspek kenyamanan ruang terbuka publik yang didasarkan pada teori kenyamanan; hal-hal apa saja yang harus diutamakan maupun harus dihindarkan dalam desain perancangan demi terciptanya kenyamanan warga. Dari penelitian ini ditemukan bahwa ternyata untuk mencapai kenyamanan suatu ruang terbuka publik, diperlukan aspek-aspek penataan yang meliputi kebersihan, keamanan, sirkulasi, bentuk/dimensi, kebisingan, penerangan, aroma, daya alam/iklim, dan fasilitas penunjang seperti adanya internet gratis, taman, CCTV, air siap minum, tempat sampah, lampu jalan, permainan anak, serta furnitur.Kata Kunci: Kenyamanan, Ruang Terbuka Publik, Warga, Kampung Gampingan, Kota Yogyakarta
KAJIAN FASILITAS UMUM DESA MOROSARI DEMAK Resza Riskiyanto; Arnis Rochma Harani; Rasyita Atmoko; Muhammad Ismail Hasan
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v3i2.189

Abstract

Abstract: Life's demands continue together with deteriorating natural conditions cause the community adjust its "space" which is exacerbated by the low economic conditions that occur in Morosari Demak Village.  Several public facilities in Morosari such as schools and health centers were available even though the conditions were not feasible. The study of this facility considered important regarding Morosari known as a marine tourism village, but in reality the village's maritime potential has not been well managed.This village has a funeral of an Islamic religious leader who is located in the middle of the waters that used to be land.  This is what drives the need for public facilities which can accommodate the needs of the community and visitors who make pilgrimages in Morosari Village as an aspect to support the needs and survival of the Morosari Village community where pilgrimage tourism can be one of the village's income sources.The method used is qualitative which uses field conditions (natural) as data then explores through various observations such as data collection, photographing, interviewing and observing.  The purpose of this study is to find out the most important facility needs to begin the design of the development of the Morosari village area.From this research, it was concluded that the first public facility needs developed by the Morosari Village community were focused on the problems of road infrastructure.  Then being followed by the needs of other public facilities such as schools, health facilities that are supported by a good drainage system and distribution of clean water, Morosari Village will become a good marine tourism village.Keyword: Morosari, Public Facilities, Infrastructure Design Abstrak: Tuntutan hidup yang terus berlangsung beriringan dengan memburuknya kondisi alam yang membuat masyarakat menyesuaikan “ruang”nya yang diperburuk dengan keadaan perekonomian yang rendah terjadi pada Desa Morosari Demak. Pada Desa Morosari beberapa fasilitas umum seperti sekolah dan puskesmas sudah tersedia walaupun kondisinya yang kurang layak. Kajian mengenai fasilitas ini sangat penting berkaitan dengan sebutan Desa Morosari sebagai desa wisata bahari, namun kenyataannya potensi bahari desa ini belum di kelola dengan baik.Desa ini memiliki pemakaman seorang tokoh agama Islam yang letaknya di tengah perairan yang dulunya merupakan daratan. Hal inilah yang mendorong untuk menganalisa kebutuhan akan fasilitas umum yang dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat dan pengunjung yang melakukan ziarah di Desa Morosari sebagai salah satu aspek untuk menunjang kebutuhan dan keberlangsungan hidup masyarakat Desa Morosari yang dimana wisata ziarah dapat menjadi salah satu sumber pendapatan desa ini.Metode yang digunakan adalah kualitatif yang menggunakan kondisi lapangan (alami) sebagai data kemudan menggalinya melalui berbagai observasi, yaitu mendata, memotret, wawancara dan mengamati. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kebutuhan fasilitas yang terpenting untuk memulai perancangan pengembangan Kawasan desa Morosari.Dari penelitian ini didapatkan kesimpulan yaitu, kebutuhan fasilitas umum yang pertama dikembangkan oleh masyarakat Desa Morosari baiknya menitik beratkan pada permasalahan infrastruktur jalan. Adapun diikuti oleh kebutuhan fasilitas umum lainnya seperti sekolah, fasilitas kesehatan yang didukung dengan sistem pembuangan serta distribusi air bersih yang baik dengan begini maka Desa Morosari akan menjadi desa wisata Bahari yang baik.Kata Kunci: Desa Morosari, Fasilitas Umum, Perancangan infrastruktur
PEMANFAATAN URBAN FARMING MELALUI KONSEP ECO-VILLAGE DI KAMPUNG PARALON BOJONGSOANG KABUPATEN BANDUNG Karto Wijaya; Asep Yudi Permana; Syarip Hidayat; Heru Wibowo
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (991.364 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.354

Abstract

Abstract: Bojongsoang Village as one of the areas in Bojongsoang District is a densely populated area, where there is a shift and transfer of green functions to built up land (such as: new housing, industry / factories and others). Land for the green lane has become built up land (built into a house), this makes what should be productive land become unproductive land. In addition, with the increasing pressure of green land into developed land, demanding the community to optimize the land they have as productive land.The understanding of space which is only understood as a horizontal plane as land that can be used as productive land must be changed. Space is not only implemented in the horizontal plane but can also utilize the vertical plane to have high flexibility as land that can be processed as productive land. The urban farming model as an urban agriculture program that has long been developing is a potential activity in supporting the sustainability and survival of a district.The purpose of this study is to determine the Eco Village model in the Paralon village area as an Eco-Architecture concept in supporting the development of Sustainable Cities, as one of the eco-architecture models in urban villages by utilizing their respective land and space.Keyword: Eco-Architecture, Eco Village, Green SettlementAbstrak: Desa Bojongsoang sebagai salah satu wilayah di Kecamatan Bojongsoang merupakan kawasan yang padat penduduk, di mana terdapat pergeseran dan pengalih fungsilahan hijau menjadi lahan terbangun (seperti: perumahan baru, industri/pabrik dan lain-lain). Lahan-lahan untuk jalur hijau menjadi lahan terbangun (dibangun menjadi rumah tinggal), hal inilah menjadikan yang seharusnya menjadi lahan produktif menjadi lahan yang tidak produktif. Di samping itu dengan semakin tertekannya lahan hijau menjadi lahan terbangun, menuntut masyarakat untuk mengoptimalkan lahan yang dimiliki sebagai lahan produktif. Pemahaman ruang yang hanya dipahami sebagai bidang horizontal sebagai lahan yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan produktif harus sudah mulai dirubah. Ruang tidak hanya diimplementasikan ke dalam bidang horizontal akan tetapi juga bisa memanfaatkan bidang vertikal menpunyai fleksibilitas yang cukup tinggi sebagai lahan yang bisa diolah sebagai lahan produktif. Model urban farming sebagai salah satu program pertanian perkotaan yang sudah lama berkembang merupakan aktivitas yang cukup potensial dalam menunjang keberlanjutan (sustainable) dan kebertahanan (survival) dari sebuah kabupaten.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan model Eco Village di wilayah desa Paralon sebagai konsep Eco-Architecture dalam mendukung pengembangan Kota Berkelanjutan, sebagai salah satu model eco-architecture di desa-desa perkotaan dengan memanfaatkan lahan dan ruang masing-masing.Kata Kunci: Arsitektur Ramah Lingkungan, Desa Ramah Lingkungan, Permukiman hijau  
FAKTOR – FAKTOR PENGARUH PREFERENSI PENGGUNA PASAR PETEROGAN SEMARANG PASCA REVITALISASI Mira Fitriana; Suzanna Ratih Sari; Siti Rukayah
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.995 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.328

Abstract

Abstract: Declining visitor interest in traditional markets is one of the problems currently faced by traditional markets. The form of government effort to maintain the existence of traditional markets is by conducting a revitalization program. Semarang Peterongan Market is one of the Semarang City public facilities located on Jl. MT. Haryono No.936, Peterongan, Kec. South Semarang. Before burned, the conditions were very poor namely slums, dirty, irregular arrangement of shanties and unavailability of parking lots. This study aimed to identify the factors that caused traders not to occupy the 2nd and 3rd floors of the Peterongan Market , identifying buyer preferences to the efforts of the revitalization program that have been carried out at the Peterongan Market and to evaluate the physical, non-physical components and infrastructure that exist in the Peterongan Market. The study used a descriptive qualitative approach. Data collection is done by means of observation and interviews with market agencies, visitors and traders. The results showed that there were factors that caused traders not to occupy the 2nd and 3rd floors, buyers were reluctant to go up to the 2nd and 3rd floors, there was worst accessibility for traders or buyers, there were obstacles in the circulation of merchandise, design and size of kiosks and booths. accommodate the needs of traders. Buyers and traders' preferences are access and circulation that can accommodate their needs in the market, design kiosks and booths that are suitable for their trade. Based on the analysis results of the Semarang Peterongan Market building evaluation analyzed with regulations that apply to the physical component, it is generally appropriate.Keyword: zoning, circulation, user preferences,revitalizationAbstrak: Menurunya minat pengunjung terhadap pasar tradisional menjadi salah satu masalah yang sedang dihadapi pasar tradisional sekarang ini. Bentuk usaha pemerintah untuk menjaga eksistensi pasar tradisional yaitu dengan melakukan program revitalisasi. Pasar Peterongan Semarang merupakan salah satu fasilitas publik Kota Semarang yang berlokasi di Jl. MT. Haryono No.936, Peterongan, Kec. Semarang Selatan. Sebelum mengalami kebakaran,kondisi pasar sangat memprihatinkan yaitu kumuh,kotror,penataan lapak yang tidak teratur serta tidak tersedianya lahan parkir.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor pengaruh preferensi pengguna tentang apa saja penyebab pedagang tidak menempati lantai 2 dan lantai 3 Pasar Peterongan Semarang,mengidentifikasi preferensi pembeli terhadap upaya program revitalisasi yang sudah dilakukan di Pasar Peterongan serta mengevaluasi komponen fisik,non fisik serta prasarana yang ada pada Pasar Peterongan. Penelitian menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif . Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara dengan dinas pasar,pengunjung serta pedagang. Hasil penelitian menunjukkan adanya faktor-faktor penyebab pedagang tidak menempati lantai 2 dan lantai 3 adalah pembeli enggan naik ke lantai 2 dan 3,tidak adanya aksesbilitas yang baik untuk pedagang maupun pembeli,terdapat kendala dalam sirkulasi barang dagangan,desain serta ukuran kios dan los tidak mengakomodasi kebutuhan pedagang. Preferensi pembeli dan pedagang cenderung dengan adanya akses serta sirkulasi yang dapat mengakomodasi kebutuhan mereka didalam pasar,desain kios serta los yang sesuai dengan jenis dagangan mereka. Berdasarkan hasil analisis  evaluasi bangunan Pasar Peterongan Semarang dianalisis dengan peraturan yang berlaku pada komponen fisik,umumnya sesuai.Kata Kunci: zoning,sirkulasi,preferensi pengguna,revitalisasi
STRATEGI POTENSI DALAM PENGEMBANGAN WISATA ICE SKATING DI DALAM MALL JAKARTA (Studi Kasus: Sky Rink Taman Anggrek Jakarta) Annica Etenia; R Siti Rukayah; Wijayanti Wijayanti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.138 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.337

Abstract

Abstract: Ice skating is a winter sport that is rarely in demand by Indonesians mainly because of the tropical climate, and the lack of knowledge about the sport around the community. This phenomenon has aroused the public's curiosity in winter sports. Therefore several malls in Jakarta have implemented ice skating tours in recreational entertainment facilities provided to attract the attention of visitors, one of which is Sky Rink in Mall Taman Anggrek. The trend is an exciting thing to study as potential in the concept of ice sports tourism in the mall. In this study explains the possibilities of this ice tourism. The method used is a qualitative SWOT approach by explaining the potential, weaknesses, opportunities and threats while the results of the study are descriptive explanations of the potential in developing ice skating tours in the mall.Keyword: ice skating, mall, wisata, ice rinkAbstrak: Ice skating merupakan olahraga musim dingin yang jarang diminati oleh orang Indonesia terlebih karena iklim yang tropis, serta kurang tahunya masyarakat sekitar tentang olahraga ini. Fenomena ini menimbulkan penasaran masyarakat dalam olahraga musim dingin tersebut, oleh sebab itu beberapa mall di Jakarta telah menerapkan wisata ice skating dalam fasilitas hiburan rekreasi yang disediakan untuk menarik perhatian pengunjung, salah satunya Sky Rink yang ada di Mall Taman Anggrek. Trend tersebut menjadi hal yang menarik untuk dikaji sebagai potensi dalam konsep wisata olahraga es di dalam mall. Dalam penelitian ini menjelaskan mengenai potensi-potensi tentang wisata es ini. Metode yang digunakan yaitu dengan pendekatan SWOT kualitatif dengan memberikan penjelasan mengenai potensi, kelemahan, kesempatan dan ancaman. Sedangkan hasil dari penelitian berupa penjelasan deskrptif mengenai potensi dalam mengembangkan wisata ice skating di dalam mall.Kata Kunci: ice skating, malls, sport tourism, ice rinks
PENGEMBANGAN DESAIN MICRO HOUSE DALAM MENUNJANG PROGRAM NET ZERO ENERGY BUILDINGS (NZE-Bs) Permana, Asep Yudi; Wijaya, Karto; Nurrahman, Hafiz; Permana, Aathira Farah Salsabilla
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1210.274 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.424

Abstract

Abstract: Energy efficiency is a top priority in design, because design errors that result in wasteful energy will impact operational costs as long as the building operates. The opening protection in the facade should be adjusted according to their needs, for optimum use of sky light. Inhibiting the entry of solar heat into the room through the process of radiation, conduction or convection, optimum use of sky light and efforts to use building skin elements for shading are very wise efforts for energy savings. House construction planning must be careful and consider many things, including: physical potential. Physical potential is a consideration of building materials, geological conditions and local climate. Related to the issue of global warming that occurs in modern times, climate is a major consideration that needs to be resolved.The purpose of building design, especially in residential homes aims to create amenities for its inhabitants. Amenities are achieved through physical comfort, be it spatial comfort, thermal comfort, auditory comfort, or visual comfort.Energy waste is also caused by building designs that are not well integrated and even wrong and are not responsive to aspects of function, and climate. This is worsened by the tendency of the designers to prioritize aesthetic aspects (prevailing trends). The issue of green concepts and energy consumption efficiency through the Net Zero-Energy Buildings (NZE-Bs) program from the housing sector as a response to tackling global warming is already familiar in Indonesia, although its application has not yet been found significantly. Green concepts offered by housing developers are often merely marketing tricks and are not realized and grow the responsibility of the residents to look after them. Due to the lack of understanding of the green concept, housing developers tend to offer more a beautiful and green housing environment, not the actual green concept.Keyword: Socio-culture, Energy efficiency, Energy consumption, Environment. The green conceptAbstrak: Efisiensi energi merupakan prioritas utama dalam disain, karena kesalahan disain yang berakibat boros energi akan berdampak terhadap biaya opersional sepanjang bangunan tersebut beroperasi. Pelindung bukaan pada fasade sebaiknya dapat diatur sesuai kebutuhannya, untuk pemanfaatan terang langit seoptimal mungkin. Penghambatan masuknya panas matahari kedalam ruangan baik melalui proses radiasi, konduksi atau konveksi, pemanfaatan terang langit seoptimal mungkin serta upaya pemanfaatan elemen kulit bangunan untuk pembayangan merupakan upaya yang sangat bijaksana bagi penghematan energi. Perencanaan pembangunan rumah harus cermat dan mempertimbangkan banyak hal, antara lain: potensi fisik. Potensi fisik adalah pertimbangan akan bahan bangunan, kondisi geologis dan iklim setempat. Terkait dengan isu pemanasan global yang terjadi pada masa modern ini, iklim menjadi sebuah pertimbangan utama yang perlu diselesaikan.Tujuan desain bangunan khususnya pada rumah tinggal bertujuan menciptakan amenities bagi penghuninya. Amenities dicapai melalui kenyamanan fisik, baik itu spatial comfort, thermal comfort, auditory comfort, maupun visual comfort.Pemborosan energi juga disebabkan oleh desain bangunan yang tidak terintegrasi dengan baik bahkan salah dan tidak tanggap terhadap aspek fungsi, serta iklim. Hal tersebut diperparah yang kecenderungan para perancang lebih mementingkan aspek estetis (tren yang berlaku). Isu konsep hijau dan efisiensi konsumsi energi melalui program Net Zero-Energy Buildings (NZE-Bs) dari sektor perumahan sebagai respon untuk menanggulangi pemanasan global sudah tidak asing di Indonesia, walaupun penerapannya masih belum dapat ditemukan secara signifikan. Konsep hijau yang ditawarkan oleh pengembang perumahan seringkali hanya sebagai trik pemasaran belaka dan tidak diwujudkan serta ditumbuhkan tanggung jawab para penghuni untuk menjaganya. Akibat minimnya pemahaman mengenai konsep hijau tersebut, para pengembang perumahan cenderung lebih banyak menawarkan lingkungan perumahan yang asri dan hijau, bukan konsep hijau yang sebenarnya.Kata Kunci: Sosio-kultur, Efisiensi Energi, Konsumsi energi, Lingkungan, Konsep Hijau
HUBUNGAN SETING KORIDOR ANJASMORO RAYA DENGAN AKTIVITAS PEDAGANG KAKI LIMA Stefanus Peter Ibrahim; Suzanna Ratih Sari
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.842 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.346

Abstract

Abstract: The presence of Jenderal Ahmad Yani Semarang International Airport, caused many tourists to come to Semarang, and the impact of one of them was on Anjasmoro Raya corridor whose activities were growing.  This phenomenon can be found with the presence of shops as formal sector activities and the development of pedagang kaki lima activities as a sector informal.  This informal activity uses the shoulder space of the road which should fuction to support the transportation activities in the corridor, but is used as a place of sale by pedagang kaki lima, so there is a strength of property that supports the activities of pedagang kaki lima.  This study aims to find the relationship between the setting of the Anjasmoro Raya corridor and pedagang kaki lima activity through the strength of property in the Anjasmoro Raya corridor.  The research method used is descriptive qualitative, with data collection techniques in the form of place centered mapping.  The result showed that there was a relationship between the setting of the Anjasmoro Raya corridor and the activities of street vendors.Keyword: Settings, Pedagang Kaki Lima Activities, Anjasmoro Raya CorridorAbstrak: Kehadiran Bandar Udara International Jenderal Ahmad Yani Semarang membuat banyaknya wisatawan yang datang ke kota semarang, dan dampak salah satunya pada koridor Anjasmoro Raya yang semakin berkembang aktivitasnya, dimana gejala ini dapat dijumpai dengan hadirnya pertokoan sebagai aktivitas sector formal dan berkembangnya aktivitas pedagang kaki lima sebagai sektor informal.  Aktivitas informal ini menggunakan ruang bahu jalan yang seharusnya berfungsi untuk mendukung aktivitas transportasi yang ada di koridor, namun dimanfaatkan sebagai tempat jualan oleh pedagang kaki lima, sehingga terdapat kekuatan property yang mendukung aktifitas pedagang kaki lima.  Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan seting koridor Anjasmoro Raya dnegan pola aktivitas pedagang kaki lima, melalui kekuatan properti yang ada di koridor Anjasmoro Raya.  Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik analisa data berupa place centered mapping.  Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan seting koridor Anjasmoro Raya dengan aktivitas pedagang kaki lima.Kata Kunci: Seting, Aktivitas Pedagang Kaki Lima, Koridor Anjasmoro Raya
BIOMIMETIK: PENERAPAN METODE ANALOGI NACHTIGALL PADA LIPATAN BIDANG SUN SHADING Panji Anom Ramawangsa; Atik Prihatiningrum
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.375

Abstract

Abstract: Sun glare has a negative effect on the visual comfort of residents in buildings. Sun shading is a building device that functions to reduce and control the sunlight that enters the building space. Biomimetics is a science that combines technology and natural characteristics into new forms of products in solving problems faced by humans. The Nachtigall analogy method is a biomimetic transfer method that balances the function or behavior of several different objects by emphasizing natural shapes into the design. The conclusion that can be obtained is the process of analogy transfer method in the folds of Putri Malu plant leaf limbs applied to the form of sun shading can be used with the help of kinetic technology.Keyword: Analogy, Glare, Sun ShadingAbstrak: Silau matahari memberikan efek negatif bagi kenyamanan visual penghuni di dalam bangunan. Sun shading merupakan perangkat bangunan yang berfungsi untuk mereduksi dan mengontrol cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan bangunan. Biomimetik merupakan ilmu yang menggabungkan teknologi dan karakteristik alam menjadi bentuk produk yang baru dalam memecahkan masalah yang di hadapi manusia. Metode analogi Nachtigall merupakan salah satu metode transfer biomimetic yang menyetarakan fungsi atau perilaku dari beberapa benda yang berbeda dengan menitik beratkan bentuk alam ke dalam desain. Kesimpulan yang di dapat adalah proses metode transfer analogi pada lipatan tungkai daun tumbuhan Putri Malu yang di aplikasikan ke bentuk sun shading dapat digunakan dengan bantuan teknologi kinetik.Kata Kunci: Analogi, Silau, Sun Shading

Page 8 of 31 | Total Record : 305