cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
kartowijaya@universitaskebangsaan.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
arcade@universitaskebangsaan.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
Published by Universitas Kebangsaan
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Architecture Journal A R C A D E is Open Journal System published by Prodi Architecture Kebangsaan University, Bandung. Architectural Journal A R C A D E is, is a peer-reviewed scientific journal, publishing scholarly writings about Architecture and its related discussion periodically. The aims of this journal is to disseminate research findings, ideas, and review in architectural studies SCIENTIFIC AREAS: Building (architecture) and Urban/Regional Study: theory, history, technology, landscape and site planning, behavioral, social and cultural, structure and construction, traditional architecture, criticism, digital architecture, urban design /planning, housing and settlements, and other related discussion Architecture Education and Practice: curriculum/studio development, work opportunities and challenges, globalization, locality, professionalism, code of ethics, project managerial etc. Architectural Journal A R C A D E is published 3 times a year in March, July and November every last date of the month.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
PENINGKATAN KUALITAS TAMAN DENGGUNG DI SLEMAN SEBAGAI TAMAN RAMAH ANAK MELALUI PENGEMBANGAN KECERDASAN ANAK Anggar Prasetyo
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.816 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i3.283

Abstract

Abstract: Taman Denggung is the ones of green public space that was located in central government of Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Taman Denggung as public space can be easily accesed by general public. All levels of society with various groups ranging from children until street vendors and those with commercial interests can access Taman Denggung. With the large number of users in Denggung Park, it causes insecurity towards visitors, especially children. Infertility is caused by the commercial activities of street vendors and business people, vehicles and community egos with motorized vehicles that undermine the development of children's intelligence. So that efforts are needed to improve the quality of Denggung Park to become a child-friendly park. This study uses the qualitative method with observation and interviews to get the existing data then completed through theoretical studies related to the development of children's intelligence. From this study, it was found that creating a Denggung Park into a child-friendly park needed an effort to improve zoning, which emphasized the safety of children, then from the zoning it began to be inserted and applied to each element of children's intelligence development.Keyword: child friendly, children's intelligence, green open spaceAbstrak: Taman Denggung merupakan salah satu ruang terbuka hijau yang terletak di pusat pemerintahan Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Taman Denggung sebagai ruang publik dapat secara mudah diakses oleh mesyarakat umum. Seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai kalangan mulai dari anak-anak hingga PKL serta yang memiliki kepentingan komersil dapat mengakses Taman Denggung. Dengan banyaknya pengguna pada Taman Denggung menimbulkan ketidak ramahan terhadap pengunjung, terutama anak anak. Ketidak ramahan diakibatkan karena aktifitas komersil PKL dan pembisnis wahana serta ego masyarakat dengan kendaraan bermotornya yang menggagu pengembangan kecerdasan anak. Dengan demikian diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas Taman Denggung menjadi taman ramah anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitastif dengan observasi dan wawancara untuk mendapatkan data kemudian diselesaikan melalui kajian teori berkaitan denngan pengembangan kecerdasan anak. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa dalam membentuk Taman Denggung menjadi taman ramah anak diperlukan usaha pembenahan zonasi yang menitik beratkan terhadap keamanan anak kemudian dari zonasi tersebut mulai disisipkan dan diaplikasian setiap elemen pengebangan kecerdasan anak.Kata Kunci: ramah anak, kecerdasan anak, ruang terbuka hijau
AKTIVITAS WISATA RELIGI DALAM PERUBAHAN PERMUKIMAN DI KAWASAN BERSEJARAH MENARA KUDUS Arlina Adiyati; Agung Budi Sardjono; Titin Woro Murtini
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5325.679 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i2.258

Abstract

Abstract: Menara Kudus area is a settlement of urban villages that has own characteristics and urban embryo of Kudus city. Many traditional houses and ancient buildings can be found in there as a historical area. But, Menara Kudus area continues to develop into a religious tourism area that makes the process changes physically and non-physically. The purpose of this study is to find out what changes occur in Menara Kudus area and the underlying factors. A research method is qualitative explorative with informants as the main resource and uses purposive observation to sample selection. The results of this study indicate a public response to new activities by utilizing residential houses and their residential environment as business space in supporting religious tourism activities. The factors behind the change are increasing the number of visitors, the needs of tourist facilities, type of business space, and orientation of buildings following tourist routes. These changes have an impact on changes in the economy of society, lifestyle, and social society in the Menara Kudus area. But tourism activities are able to maintain the culture and traditions community because it is an interest in tourist visits.Keyword: changes, settlement, houses, religious tourism, historical area, Menara Kudus area.Abstrak: Kawasan Menara Kudus merupakan sebuah permukiman masyarakat kampung kota yang memiliki ciri khas tersendiri dan cikal bakal berdirinya kota Kudus. Banyak rumah-rumah tradisional dan bangunan kuno masih dapat ditemukan disana sehingga ditetapkan sebagai kawasan bersejarah. Namun sebagai kawasan permukiman kawasan Menara Kudus terus berkembang menjadi kawasan wisata religi sehingga mengalami proses perubahan secara fisik maupun non fisik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan apa saja yang terjadi di kawasan Menara Kudus dan faktor yang melatarbelakanginya. Metode penelitian ini adalah kualitatif yang digali secara eksploratif dengan informan sebagai narasumber utama dan menggunakan pemilihan sampel amatan secara purposive. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya respon masyarakat terhadap aktivitas baru dengan memanfaatkan ruang rumah tinggal dan lingkungan permukiman mereka sebagai ruang usaha dalam mendukung aktivitas wisata religi. Faktor yang melatarbelakangi perubahan tersebut adalah adanya faktor peningkatan jumlah pengunjung, kebutuhan fasilitas wisata, perubahan jenis usaha yang dimiliki, dan perubahan arah orientasi bangunan mengikuti akses jalur wisata. Perubahan tersebut berdampak pada perubahan perekonomian masyarakat, gaya hidup, dan sosial kemasyarakatan di kawasan Menara Kudus. Namun aktivitas wisata religi mampu mempertahankan budaya dan tradisi adat istiadat leluhur karena menjadi minat bagi kunjungan wisatawan.Kata Kunci: perubahan, permukiman, rumah tinggal, wisata religi, kawasan bersejarah, kawasan Menara Kudus.
TELAAH PENGUKURAN SOUNDSCAPE SEBAGAI KRITIK TERHADAP ELEMEN ARSITEKTURAL DI TAMAN FILM BANDUNG SEBAGAI USAHA PENINGKATAN KUALITAS RUANG KOTA Roni Sugiarto; Nadya Gani Wijaya
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1772.785 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i3.210

Abstract

Abstract: Although in Indonesia has a standard rules about the level of noise in the region and the environment according to the decree of the Minister of Environment No. KEP-48/MENLH/11/1996, but the evaluation and control done to an area is still lacking. Soundscape is an environmentally acoustics part that is closely related to the quality perception of region noise. The purpose of this research is to critically study how architectural elements of the Bandung Film Park, are able to effectively and optimally contribute to the quality of environmental auditory, while also discovering the soundscape benefits as one of the analytical tools in designing. By implementing a qualitative approach with direct observation data retrieval techniques and merge into the phenomenon, the research can be an example of strategic implementation in the creation of good environmental sound quality. In other respects, a soundscape research can be a necessity to raise human awareness or designer in particular to environmental sounds as an aspirational and evaluative means to a sustainable city and community order.Kata Kunci: Soundscape, City Park, Architectural ElementAbstrak: Walaupun di Indonesia memiliki aturan standar tentang tingkat kebisingan dalam kawasan dan lingkungan, menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep-48/Menlh/11/1996, namun evaluasi dan kontrol yang dilakukan terhadap suatu kawasan masih kurang dilakukan. Soundscape merupakan bagian akustika lingkungan yang terkait erat dengan kualitas persepsi kenyamanan bunyi kawasan. Tujuan penelitian ini adalah secara kritis menelaah bagaimana elemen arsitektural pembentuk Taman Film Bandung mampu secara efektif dan optimal dalam memberi kontribusi yang baik terhadap kualitas audial lingkungan, sekaligus menemukan manfaat soundscape sebagai salah satu alat analisis dalam perancangan. Dengan menerapkan pendekatan yang bersifat kualitatif dengan teknik pengambilan data observasi langsung serta melebur dengan fenomena yang terjadi, maka penelitian dapat menjadi contoh penerapan strategis dalam penciptaan kualitas suara lingkungan yang baik. Di lain hal, penelusuran soundscape dapat menjadi kebutuhan untuk meningkatkan kesadaran manusia atau perancang secara khusus terhadap suara-suara lingkungan sebagai sarana aspiratif dan evaluatif menuju tatanan kota dan masyarakat yang berkelanjutanKata Kunci: Soundscape, Taman Kota, elemen Arsitektur
PERSEPSI MASYARAKAT BANDAR LAMPUNG TERHADAP PENGGUNAAN SIGER PADA BANGUNAN Kurniawan, Guruh Kristiadi; Mardiyanto, Anggi; Matondang, Adelia Enjelina; Purwono, Eko
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.675 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i2.262

Abstract

Abstract: The use of siger elements is found in commercial and government buildings in the city of Bandar Lampung. The existence of the siger element in the building is widely used after the issuance of the mayor's regulation that every commercial building and government in the city of Bandar Lampung must use the siger element. The lack of understanding about the preservation of local culture and architectural design of buildings makes the use of siger elements seem compelling and careless. This condition can be triggered because of the existence of regional regulations which in its formulation do not consider the perceptions of the local community about the use of the Siger element and the incomplete information in the existing regional regulations. The analysis that will be used in this study is an analysis of public perceptions about the use of siger in buildings. In this study, it was revealed how the perceptions of the people of Bandar Lampung about the use of siger elements in buildings. By knowing the perception of the Bandar Lampung community about the use of the siger element in the building, it is hoped that this study can be used as a recommendation in policy making to preserve local culture through building architectural design. The results of the study found 88% of respondents agreed with the use of siger elements in buildings and 12% of respondents said they did not agree.Keyword: Perception, Siger, BuildingAbstrak: Penggunaan elemen siger banyak ditemui pada bangunan-bangunan komersial dan pemerintah di Kota Bandar Lampung. Keberadaan elemen siger pada bangunan marak digunakan setelah dikeluarkannya peraturan walikota bahwa setiap bangunan komersial dan pemerintah yang berada di Kota Bandar Lampung harus menggunakan elemen siger. Kurangnya pemahanan tentang pelestarian budaya lokal dan desain arsitektural bangunan menjadikan penggunaan elemen siger terkesan memaksa dan asal-asalan. Kondisi tersebut dapat dipicu karena keberadaan peraturan daerah yang dalam perumusannya tidak mempertimbangkan persepsi masyarakat lokal akan penggunaan elemen siger dan kurang lengkapnya informasi dalam peraturan daerah yang ada.Studi ini dilakukan untuk mengetahui persepsi masyarakat Bandar Lampung tentang penggunaan elemen siger pada bangunan. Analisis yang akan digunakan dalam studi ini adalah analisis persepsi masyarakat tentang penggunaan siger pada bangunan. Pada studi ini diungungkapkan bagaimana persepsi masyarakat Bandar Lampung tentang penggunaan elemen siger pada bangunan. Dengan mengetahui persepsi masyarakat Bandar Lampung tentang penggunaan elemen siger pada bangunan diharapkan studi ini dapat digunakan sebagai rekomendasi dalam pembuatan kebijakan untuk melestarikan budaya lokal melalui desain arsitektur bangunan. Hasil studi didapatkan 88% responden setuju dengan penggunaan elemen siger pada bangunan dan 12% responden menyatakan tidak setuju.Kata Kunci: Persepsi, Siger, Bangunan
DAMPAK PEMBANGUNAN FLYOVER MANAHAN SOLO DITINJAU DARI AKSESIBILITAS PENGGUNA JALAN Datta Sagala Widya Prasongko; Suzanna Ratih Sari
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1033.837 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i3.222

Abstract

Abstract: The junction between the roads Jl. Adi Sucipto, Jl. MT Haryono, Jl. and Dr. Moewardi is one point of congestion that occurred in the city of Solo. The junction of these roads is the third in the area of education, sport, offices, commerce, and settlements, so that congestion can occur at any time. Solo City Government decided to build a flyover, which was given the name Flyover Manahan Solo, which connects the road to address the congestion problem that occurred. By using descriptive qualitative approach method, the author does observation and research on the impact posed Manahan Solo Flyover, in terms of how aksesibilitasnya against road users. Based on observation and the research that has been done, the results show that the road of third accessibility less well after compared with factors that affect accessibility, specifically time and distance.Keyword: Impact, Manahan Solo Flyover, Accessibility of Road UsersAbstrak: Persimpangan antara ruas Jl. Adi Sucipto, Jl. MT Haryono, dan Jl. Dr. Moewardi merupakan salah satu titik kemacetan yang terjadi di Kota Solo. Persimpangan ketiga ruas jalan tersebut berada di kawasan pendidikan, olah raga, perkantoran, perniagaan, dan permukiman, sehingga kemacetan bisa terjadi kapan pun. Pemerintah Kota Solo memutuskan untuk membangun sebuah jalan layang, yang diberi nama Flyover Manahan Solo, yang menghubungkan ketiga ruas jalan tersebut untuk mengatasi masalah kemacetan yang terjadi. Dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, penulis melakukan observasi dan penelitian terhadap dampak yang ditimbulkan Flyover Manahan Solo, ditinjau dari bagaimana aksesibilitasnya terhadap pengguna jalan. Berdasarkan observasi dan penelitian yang telah dilakukan, hasilnya menunjukkan bahwa aksesibilitas ketiga ruas jalan tersebut kurang baik setelah dikaitkan dengan faktor yang mempengaruhi aksesibilitas, yaitu waktu dan jarak tempuh.Kata Kunci: Dampak, Flyover Manahan Solo, Aksesibilitas Pengguna Jalan
ANALISIS PHYSICAL MODEL FOR DAYLIGHT SPACES DENGAN PENDEKATAN AN EXPERIMENTAL-BASED DESIGN Nova Asriana
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.117 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i2.187

Abstract

Abstract:  An experimental-based design; analyze physical model for daylight spaces is an experimental based design approach by using natural lighting. This experiment is based on applied models of skylight conditions in the field. The goal of this study is to identify configurations of model prototype models by using natural lighting optimally, then to describe their natural lighting through draw light and to measure the intensity of light through photometry. The results of this modeling experiment are several configurations that form the optimal model ing by using natural light through how much light intensity can get into a room. The prototype model is sized 7.2m x 8.4m x 5m by performing several configurations. The configuration alternatives include ten roof configuration, wall opening and type of material used. Based on the results of experiments, the characteristics of the intensity of natural light that get into a room are strongly influenced by the size and position of the opening area. In addition, using clerestory provides greater light intensity than using vertical windows. The impact of the intensity of the light is increasing a good visual interest for users.Keyword: physical model, natural lighting, daylight spaceAbstrak: An experimental-based design; analyze physical model for daylight spaces merupakan sebuah pendekatan perancangan berbasis eksperimen melalui pemanfaatan pencahayaan alami. Eksperimen ini berbasis model terapan terhadap kondisi skylight di lapangan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi konfigurasi – konfigurasi model prototipe maket yang memanfaatkan pencahayaan alami secara optimal, kemudian menggambarkan pencahayaan alaminya (draw light) dan melakukan pengukuran intensitas cahaya melalui photometry. Hasil dari eksperimen permodelan ini adalah beberapa konfigurasi bentukan model yang optimal dalam pemanfaatan cahaya alami melalui seberapa banyak intensitas cahaya yang dapat masuk ke dalam suatu ruangan. Prototipe model maket yang digunakan berukuran 7.2m x 8.4m x 5m dengan melakukan beberapa konfigurasi. Alternatif konfigurasi yang digunakan pada eksperimen ini yakni konfigurasi bukaan atap, bukaan dinding dan jenis material yang digunakan sebanyak sepuluh konfigurasi. Berdasarkan hasil dari eksperimen yang dilakukan, bahwa karakteristik intensitas cahaya alami yang masuk ke dalam suatu ruangan sangat dipengaruhi oleh ukuran dan posisi area bukaan. Selain itu juga, pemanfaatan jendela atap memberikan intensitas cahaya yang lebih besar daripada pemanfaatan jendela vertikal. Dampak dari intensitas cahaya yang masuk ke dalam suatu ruangan juga memberikan peningkatan minat visual ruangan yang cukup bagi pengguna  ruangan tersebut. Kata Kunci: physical model, pencahayaan alami, daylight space,
KINERJA TERMAL SELUBUNG GEDUNG KULIAH KOTA BANDAR LAMPUNG ITERA Andi Asrul Sani; Adelia Enjelina Matondang; Guruh Kristiadi Kurniawan; Anggi Mardiyanto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.294 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i3.303

Abstract

Abstract: The use of glass material should consider the comfort of space in the building. Field of glass is needed as natural lighting and visual facilities between the occupants and the surrounding environment. Its function as natural lighting is often accompanied by an increase in temperature in buildings, considering that Indonesia is a tropical country. Building temperatures that increase due to incoming sunlight can cause discomfort to building occupants. Such conditions make building occupants use air conditioner (AC). The use of air conditioners can increase the value of building energy consumption. For this reason, research on the value of heat transfer in buildings or the value of OTTV (Overall Thermal Transfer Value). OTTV value calculation is done by manual calculation. Bandar Lampung City lecture building at the Sumatra Institute of Technology was chosen as the object of this study. From the results of the study found that the value of heat transfer of a building or OTTV (Overall Thermal Transfer Value) is influenced by the factor of the ratio of the window area to the facade or WWR (Window Wall Ratio) and the shading factor (Shading Coefficient).(Keywords: Keyword: energy consumption, building energy, glass. Abstract: Penggunaan material kaca semestinya mempertimbangkan kenyamanan ruang dalam bangunan. Bidang kaca diperlukan sebagai pencahayaan alami dan sarana visual antara penghuni dan lingkungan sekitar. Fungsinya sebagai pencahayaan alami seringkali disertai dengan peningkatan temperatur pada bangunan, mengingat Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis. Temperatur bangunan yang meningkat akibat dari radiasi sinar matahari yang masuk dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi penghuni bangunan. Kondisi seperti itu membuat penghuni bangunan menggunakan air conditioner (AC). Penggunaan air conditioner tersebut dapat meningkatkan nilai konsumsi energi bangunan. Untuk  itu dilakukan penelitian mengenai nilai perpindahan panas dalam bangunan atau nilai OTTV (Overall Thermal Transfer Value). Penghitungan nilai OTTV dilakukan dengan penghitungan manual. Gedung kuliah Kota Bandar Lampung di Institut Teknologi Sumatera di pilih sebagai objek dalam penelitian ini. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa nilai perpindahan panas suatu bangunan atau OTTV (Overall Thermal Transfer Value) dipengaruhi oleh faktor nilai perbandingan luas jendela terhadap bidang fasad atau WWR (Window Wall Ratio) dan faktor pembayangan (Shading Coefficient).Kata kunci : konsumsi energi, energi bangunan, kaca.
PENGARUH AKTIVITAS PENDUKUNG TERHADAP KUALITAS VISUAL (Studi Kasus : Jalan Pahlawan Semarang) Ayuta Lestariani; Bambang Setioko; Erni Setyowati
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1174.472 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i2.154

Abstract

Abstract:Pahlawan Street is one of the most favorite street corridor in Semarang. It is crowded by people every weekend not only because of its location itself but also because of the existence the surrounding buildings.  It has wide pedestrian walk which triggered many activity support to begin. The presence of many activity support affect the visual quality of Pahlawan street. This research is aimed to know the influences of activity support towards visual quality of Pahlawan street A quantitative rasionalistic method is used by collecting literature study, questionnaires and field observationns..The method data analysis will use statistical analysis by regression test using SPSS 24.0 software for windows. The result of this research proved that activity support influences the visual quality of Pahlawan street.Keywords : activity support, visual quality, street corridor Abstrak: Koridor Jalan Pahlawan merupakan koridor jalan favorit yang cukup ramai dan berada di pusat Kota Semarang.Pada koridor jalan ini terdapat bangunan-bangunan tinggi yang menjadi magnet bagi warga untuk datang kesana.Keberadaan bangunan-bangunan tinggi disertai dengan jalur pedestrian yang lebar,tentu juga menjadi magnet bagi berkembangnya activity support yang terjadi disana.Dengan adanya activity support yang terbentuk di koridor Jalan Pahlawan tentu berpengaruh terhadap kualitas visualnya. Untuk mengetahui pengaruh tersebut,maka penelitian ini menggunakan metode kuantitatif rasionalistik.Metode pengumpulan data berupa studi literature, observasi lapangan, wawancara dan kuesioner. Metode analisis data yang digunakan berupa analisis statistic dengan uji regresi menggunakan program SPSS.Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh antara activity support terhadap kualitas visual koridor Jalan Pahlawan.Kata kunci : activity support,kualitas visual,koridor
MENGIDENTIFIKASI VARIABEL KONSEP TAMAN RAMAH DIFABEL Studi Kasus : Taman Nostalgia Kota Kupang Johanes M. Taka Longa
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.672 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i3.318

Abstract

Abstract: Nostalgia Park is one of the efforts of the City of Kupang in fostering the enthusiasm of all City residents to create a culture of planting. The presence of this park is also the only park that has become a public space in the city of Kupang. The function of the City's public space is as a place for citizens to release the boredom of routine in life in the Cities. This place is not accessed by only a group of City residents, but it can be accessed as a whole including people with disabilities who have special abilities. In this study, researchers wanted to identify facilities and accessibility based on universal design principles as a variable concept of a park that is difable-friendly in Nostalgia parks. The method used is descriptive qualitative and then compared the existing data with the literature to determine the strengths and weaknesses of the facilities and accessibility of the Nostalgia park. The results of the analysis found that out of the 6 variable variables of the diffable-friendly concept there are 5 variables that have been applied to the Nostalgia park, but still do not meet the standard of application that is accessible and 1 variable that is not yet available at all.Key words: Variables, Park Concept, Diffable FriendlyAbstrak: Taman Nostalgia adalah salah satu upaya pemerintah Kota Kupang dalam  menumbuhkan semangat seluruh warga Kota untuk menciptakan budaya menanam. Kehadiran taman ini juga menjadi satu-satunya taman yang menjadi ruang publik di Kota Kupang. Fungsi dari ruang publik Kota adalah sebagai tempat bagi  warga masyarakat untuk melepaskan kebosanan akan rutinitas dalam kehidupan di Kota-Kota. Tempat ini tidak diakses oleh sekelompok warga Kota saja, tetapi dapat di akses secara menyeluruh termasuk kaum difabel yang memiliki kemampuan khusus. Dalam kajian ini, peneliti ingin mengidentifikasi fasilitas dan aksesibilitas berdasarkan prinsip desain universal sebagai variabel konsep taman yang ramah difabel pada taman Nostalgia. Metode yang digunakan bersifat kualitatif deskriptif kemudian dikomparasikan data yang ada dengan literatur untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan fasilitas dan aksesibilitas taman Nostalgia. Hasil analisis ditemukan bahwa dari 6 variabel konsep ramah difabel terdapat 5 variabel yang sudah diterapkan pada taman Nostalgia, namun masih belum memenuhi standar penerapan yang aksesibel dan 1 variabel yang belum tersedia sama sekali.Kata kunci : Variabel, Konsep taman, Ramah difabel.
PERSEPSI PENGGUNA TERHADAP TINGKAT KEPENTINGAN ELEMEN RUANG TERBUKA PUBLIK DI KOMPLEK ALUN-ALUN UTARA SURAKARTA Ghufroni Arsyad; Ahmad Sarwadi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v3i3.320

Abstract

Abstract: This Study aims to understand the level of interest of public space element based on user perception who are categorized by visitor and traders in complex of north alun-alun surakarta. The study was conducted with a questionnaire of 100 visitors and 33 traders from the average population in the field divided into 4 segments to find out more in detail. Questionnaire data were analyzed with Multidimensional Scaling in SPSS to determine the ranking of the interests of 21 elements of public open space. Findings with double scaling according to visitors' perceptions that Pedestrian (Rank 1), Parking (rank 2) and Vegetation (Rank 3) while according to Pedestrian traders (rank 1), Places to Eat and drink (rank 2), Kiosk (Rank 3). In conclusion, the Pedestrian became the most important element in the public open space in Surakarta's northern plaza complex. The influence of the level of importance of elements of public open space varies depending on the settings and character of the open space itself.Keyword: Perception, Public Open Space, Multidimensionl ScalingAbstrak: Studi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepentingan elemen ruang terbuka publik bedasarkan persepsi pengguna yang dikategorikan pengunjung dan pedagang di komplek alun-alun utara Surakarta. Studi dilakukan dengan kuisioner sejumlah 100 pengunjung dan 33 pedagang dari populasi rata-rata di lapangan yang di bagi 4 segmen untuk mengetahui lebih detail. Data kuisioner dianalisa dengan Multidimensional Scaling pada SPSS untuk mengetahui peringkat kepentingan dari 21 elemen ruang terbuka publik. Hasil Temuan dengan penskalaan ganda menurut persepsi pengunjung bahwa Pedestrian (Peringkat 1), Parkir (peringkat 2) dan Vegetasi (Peringkat3) sedangkan menurut pedagang Pedestrian (peringkat1), Tempat Makan/minum (peringkat2), Kios (Peringkat3). Kesimpulanya Pedestrian menjadi elemen yang paling penting di ruang terbuka publik di komplek alun-alun utara Surakarta. Pengaruh tingkat kepentingan elemen dari ruang terbuka publik berbeda-beda tergantung seting dan karakter dari ruang terbuka itu sendiri.Kata Kunci: Persepsi, Ruang terbuka publik, Multidimensional Scaling

Page 7 of 31 | Total Record : 305