cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
kartowijaya@universitaskebangsaan.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
arcade@universitaskebangsaan.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
Published by Universitas Kebangsaan
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Architecture Journal A R C A D E is Open Journal System published by Prodi Architecture Kebangsaan University, Bandung. Architectural Journal A R C A D E is, is a peer-reviewed scientific journal, publishing scholarly writings about Architecture and its related discussion periodically. The aims of this journal is to disseminate research findings, ideas, and review in architectural studies SCIENTIFIC AREAS: Building (architecture) and Urban/Regional Study: theory, history, technology, landscape and site planning, behavioral, social and cultural, structure and construction, traditional architecture, criticism, digital architecture, urban design /planning, housing and settlements, and other related discussion Architecture Education and Practice: curriculum/studio development, work opportunities and challenges, globalization, locality, professionalism, code of ethics, project managerial etc. Architectural Journal A R C A D E is published 3 times a year in March, July and November every last date of the month.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
SETTING RUANG KOMUNAL DI SEPANJANG PANTAI SANUR, BALI. Ni Wayan Nurwarsih; I Kadek Merta Wijaya
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1270.649 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i2.230

Abstract

Abstract:. Beach spaces in Bali, for traditional communities are very important and are part of their ritual life cycle. Open space on the beach is very important because it can accommodate many religious, social, cultural and ritual activities. The many social levels of the community come together to use the area on the beach to carry out various kinds of activities, to produce spaces and areas that are architecturally formulated and their meanings. The communal space setting on the object of research is intended to find out whether communal space already exists or is newly formed after various activities are present. Or the space has never existed, even though there are indeed private spaces that have been acknowledged by users and providers of tourist accommodation that were present later. The method used is descriptive qualitative method by thinking logically, structured and creatively, by mapping activities based on time segments and interviews. Formulate problems by describing the problem into smaller and more manageable segments, identifying patterns, solving complex problems into small steps, organizing and making a series of steps to provide solutions, and construct data representations through simulation. Keyword: Public Space Conflict, Space Pattern, Meaning of Space. Abstrak : Ruang-ruang pantai di Bali, untuk masyarakat tradisional menjadi amat penting dan merupakan bagian dari siklus kehidupan ritual mereka. Mengapa demikian, karena ruang pantai dapat mengakomodasi banyak kegiatan keagamaan, sosial, budaya dan ritual. Berbagai macam tingkatan sosial masyarakat hadir bersama-sama menggunakan area pantai untuk melakukan berbagai macam aktifitas, hingga menghasilkan ruang dan area yang secara arsitektur harus di telurusi bentuk dan maknanya. Setting ruang komunal pada objek penelitian dimaksudkan untuk menemukan apakah ruang komunal sudah ada atau baru terbentuk setelah beragam kegiatan hadir di tempat tersebut. Atau ruang tersebut tidak pernah ada, bahkan yang ada memang ruang-ruang privat yang sudah diakui oleh pengguna dan penyedia akomodasi wisata yang hadir belakangan. Metoda yang digunakan yakni metoda dengan jalan berfikir secara logis, terstruktur dan kreatif, dengan melakukan mapping kegiatan berdasarkan segmen waktu dan wawancara. Merumuskan masalah dengan menguraikan masalah tersebut ke segmen yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola, mengidentifikasi pola, memecahkan masalah selain kompleks menjadi langkah-langkah kecil, mengatur dan membuat serangkaian langkah untuk memberikan solusi, dan membangun representasi data melalui simulasi. Hasil penelitian menujukan bahwa ruang komunal tidak hadir begitu saja di ruang publik apabila ruang tersebut terzonasi dan diberikan batas. Kata Kunci :  Konfilk Ruang, Pola Ruang, Makna Ruang.
SERIAL VISION PADA KORIDOR JALAN MENARA KOTA KUDUS Rizqi Jamaluddin; Agung Budi Sardjono; Titien Woro Murtini
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.531 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i3.256

Abstract

Abstract: In structuring a city there is a high complexity experienced by cities so that existing problems will not be endless. When conducting city structuring there are many factors that influence in creating a good city environment. In providing a strong identity, there needs to be a harmonious relationship between one place and another. To find out the description of the strong characteristics and the clear need for serial vision scanning. Kudus itself is a city that has interesting characteristics on the road corridor. The corridors in the holy area have unique visual characteristics, which triggers the community to remember a building in that location. In this case, the corridor in the Menara Kudus Mosque Area is interesting to be appointed as an effort to revive the identity of the old city of the holy region through serial vision and its components. This research is considered important enough to be one of the basic studies in its design. In addition, it is very important to maintain the visual character of a corridor.Keyword: Serial Vision, Corridor, Jl.Menara KudusAbstrak: Dalam penataan sebuah kota terdapat kompleksitas yang tinggi dialami oleh kota sehingga permasalahan yang ada tidak akan ada habisnya. Saat melakukan penataan kota terdapat banyak faktor yang mempengaruhi dalam menciptakan lingkungan kota yang baik. Dalam memberikan identitas yang kuat perlu adanya keselarasan hubungan antar satu tempat dengan tempat yang lain. Untuk mengetahui gambaran tentang cirikhas yang kuat dan jelas perlu adanya pemindaian secara serial vision. Kudus sendiri merupakan kota yang memiliki cirikhas yang menarik pada koridor jalan. Adapun koridor yang ada di kawasan kudus mempunyai karakteristik visual unik sehingga memicu masyarakat untuk mengingat sebuah bangunan di lokasi tersebut. Dalam hal ini koridor di Kawasan Masjid Menara Kudus menarik untuk diangkat sebagai upaya mengangkat kembali identitas kawasan kota lama kudus melalui serial vision dan komponen didalamnya. Penelitian ini dirasa cukup penting untuk menjadi salah satu dasar kajian dalam perancangannya. Selain itu sangat penting untuk menjaga karakter visual sebuah koridor.Kata Kunci: Serial Vision, Koridor, Jl. Menara Kudus
PENATAAN KAMPUNG NELAYAN DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGI DI KELURAHAN BAGAN DELI KOTA MEDAN Hilma Tamiami Fachrudin; Fadila Rahmadani
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.425 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i2.186

Abstract

Abstract: Indonesia is a maritime country that has abundant marine natural resources, with optimal and wise utilization, it will be a promising source of income for both the local community as well as the local area. Therefore, the infrastructure and maritime-related arrangements along the coast and the port are things that must be considered and developed. Gabion Port is one of the ports with the largest marine products in the province of North Sumatra, especially in the city of Medan. This port is located near Bagan Deli village which has not yet been optimally arranged and it has economic problems and serious environmental hygiene problems, so that with the application of the concept of ecological architecture can answer the existing problems through its principles. Some applications of ecological concepts in this arrangement can be seen from material aspects, energy aspects, building orientation, and utility aspects. The method used is the glass box method, by looking at elements that need to be applied to support the socio-economic activities of the local community. The results of this paper are in the form of the concept of structuring fishing villages which can be a solution to slum environmental problems and helps improve the economic level of local communities.Keyword: fishing village, ecological architecture, bagan deli Abstrak: Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki sumber daya alam kelautan yang berlimpah, dengan pemanfaatan secara optimal dan bijak akan menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan baik bagi masyarakat sekitar maupun daerah setempat. Untuk itu infrastruktur dan penataan terkait kelautan sepanjang pantai dan pelabuhan merupakan hal yang harus diperhatikan dan dikembangkan. Pelabuhan Gabion merupakan salah satu pelabuhan dengan hasil laut terbesar di kawasan provinsi Sumatera Utara khususnya kota Medan. Pelabuhan ini berada di dekat kelurahan bagan deli yangmana belum tertata secara optimal, serta memiliki masalah perkeonomian dan juga memiliki permasalahan kebersihan lingkungan yang cukup serius, sehingga dengan penerapan konsep arsitektur ekologi dapat menjawab permasalahan yang ada melalui prinsip-prinsipnya. Beberapa penerapan konsep ekologi pada penataan ini dapat dilihat dari aspek material, aspek energy, orientasi bangunan, dan aspek utilitas. Metode yang digunakan adalah metode glass box,dengan melihat elemen elemen yang perlu diterapkan untuk mendukung aktivitas social ekonomi masyarakat setempat. Hasil penelitian ini berupa konsep penataan kampung nelayan yang dapat menjadi pemecahan masalah lingkungan kumuh serta membantu meningkatkan taraf perekonomian masyarakat setempat.Kata Kunci: Kampung Nelayan, Arsitektur Ekologi, Bagan Deli
TIPOLOGI STADION SEPAK BOLA KONTEMPORER (OBJEK STUDI: GELORA BANDUNG LAUTAN API) Agara Dama Gaputra
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1585.339 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i3.254

Abstract

Abstract: The development of sports, especially football, began to articulate as an industry and cultural statement. The stadium, as a place for football matches and as a form of architectural work, continues to develop along with the times. The architectural development of stadiums in the modern era, led them not to act only as a building, these stadiums often transformed as an icon of a city or even the country where they located. This research was conducted to identify the factors that shape the typology of contemporary stadiums, with Gelora Bandung Lautan Api as the object of study. Based on interviews, observations and literature studies, various kinds of factors determine the typology of contemporary football stadiums. Although the standards issued by FIFA are the main influences, the concepts and approaches taken by the designer also gives considerable contribution. Thus, the application of standards applied to the design should be balanced by appropriate design approach, which resulting functional stadium architectures while still in accordance with its identitiy as a part of a city or country where it located.Keyword: contemporer, football stadium, typologyAbstrak: Perkembangan olah raga, terutama sepak bola mulai berartikulasi sebagai sebuah industri dan pernyataan budaya. Stadion, sebagai tempat berlangsungnya pertandingan sepak bola dan sebagai suatu bentuk karya arsitektur, terus berkembang seiring perkembangan zaman. Perkembangan arsitektur stadion di era modern ini kemudian menggiring stadion tidak hanya menjadi bangunan fungsional saja, sering kali stadion menjelma sebagai icon sebuah kota atau bahkan negara tempatnya berdiri. Penelitian yang dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membentuk tipologi dari stadion kontemporer ini menetapkan Gelora Bandung Lautan Api sebagai objek studi. Berdasarkan wawancara, observasi dan studi literatur, ditemukan berbagai macam faktor yang menentukan tipologi stadion sepak bola yang kontemporer. Meskipun standar yang dikeluarkan oleh FIFA menjadi pengaruh utama, konsep serta pendekatan yang dilakukan oleh perancang juga memiliki andil yang cukup besar. Dengan demikian, pengaplikasian standar yang diberlakukan pada rancangan hendaknya diimbangi oleh pendekatan perancangan yang tepat agar arsitektur stadion yang tercipta dapat berfungsi sebagaimana mestinya tetapi tetap sesuai dengan identitasnya sebagai bagian dari suatu kota atau negara tempatnya berdiri.Kata Kunci: kontemporer, stadion sepak bola, tipologi
PERANCANGAN KORIDOR JALAN MELALUI PENDEKATAN WAKTU DALAM RUANG (Studi Kasus: Koridor Jalan Fakhrudin Jakarta) Dody Kurniawan
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.092 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v2i2.30

Abstract

ABSTRACT : This research is triggered by the conflict of interest between the road users and the existence of Sogo Jongkok market which has been an obstacle for Jalan Fakhrudin and has diminished the function of the street as the circulation way of vehicles. Moreover, the less integrated time management in coordinating various market activities which is urban in nature has made the Sogo Jongkok market cannot exist for a long time. It has not been able to continuously support various activities at this area. The existence of Sogo Jongkok as a temporary market has not been adequately managed which result in inharmoniousness with formal buildings as the background. Time and space approach in the corridor design of Jalan Fakhrudin is carried out by managing the Sogo Jongkok temporary market and by analyzing some design-related aspects, such as circulation aspect, and time management aspect. This analysis is expected to be able to support various activities at the area of Jalan Fakhrudin within 24 hours on holidays and to harmoniously exist together with other existing formal buildings.Keywords: Circulation, Time managementABSTRAK: Penelitian ini didasari oleh adanya persoalan konflik kepentingan antara pengguna jalan dengan kegiatan pasar Sogo Jongkok sehingga mengakibatkan tertutupnya Jalan Fakhrudin dan menimbulkan penurunan fungsi jalan tersebut sebagai jalur sirkulasi kendaraan. Selain itu, kurang terpadunya manajemen waktu dalam mengatur kegiatan pasar yang bersifat urban tersebut sehingga kegiatan pasar Sogo Jongkok tidak berlangsung lama dan belum dapat menghidupkan kegiatan di kawasan itu secara menerus. Keberadaan pasar temporer Sogo Jongkok juga belum tertata dengan baik dan menimbulkan ketidakserasian dengan bangunan formal yang melatarbelakanginya. Pendekatan waktu dalam ruang pada perancangan koridor Jalan Fakhrudin dilakukan dengan menata pasar temporer Sogo Jongkok dengan menganalisa beberapa aspek perancangan, seperti aspek sirkulasi dan aspek manajemen waktu. Diharapkan dengan analisa tersebut dapat menghidupkan kegiatan di kawasan jalan Fakhrudin selama 24 jam pada hari libur dan dapat berdampingan harmonis secara fisik dengan bangunan formal yang ada.Kata kunci: Sirkulasi, Manajemen waktu
ELEMEN FISIK PEMBENTUK PUSAT KOTA JEPARA BERDASARKAN PETA MENTAL MASYARAKAT Muhammad Bagas Ramadan; Suzana Ratih Sari; Edward E. Pandelaki
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.868 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i2.228

Abstract

Abstract: City’s imagery formation consist of physical elements that can be seen in terms of function, location, shape, magnitude, uniqueness, character. The exploratory of image forming elements is one of the important keys to get a positive image of the city. By using the community mental map method based on Lynch's theory, this study is expected to be able to purify the elements that make up the image of Jepara city that are built through people's perceptions, experiences, imagination and feelings. This study used qualitative research with exploration method, in order to understand the physical elements forming the city center, since the informant must freely provide an understanding of the meaning of the object that would represent the physical element forming the center of Jepara. Based on the analysis results, it can be concluded that the physical elements forming the central image of the city of Jepara are physical elements formed through the of the objects that make up the physical elements forming the image of the city of Jepara which are are arranged through physical objects Alun - Alun, Pendopo, SCJ (Jepara Culinary Place), Kaliwiso Bridge, Kaliwiso River, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Yos Sudarso, Jalan Wolter Monginsidi, Chinatown.Keywords: Physical elements, mental maps, Jepara Abstrak: Pembentukan citra dari kota dibangun elemen fisik yang dapat dilihat dari segi fungsi, lokasi, bentuk, besaran, keunikan, karakter. Penggalian elemen pembentuk citra merupakan salah satu kunci penting untuk mendapat citra yang positif dari kota. Jepara merupakan kota dalam proses berkembang menguatkan citra dalam kotanya. Dengan menggunakan metode peta mental masyarakat berdasarkan teori Lynch, penelitian ini diharapkan akan dapat mengerucutkan elemen yang menjadi pembentuk citra kota Jepara yang dibangun melalui persepsi, pengalaman, imajinasi dan perasaan masyarakatnya. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan cara eksplorasi,karena untuk memahami elemen fisik pembentuk pusat kota informan harus secara bebas memberikan pemahaman makna terhadap obyek yang akan mewakili elemen fisik pembentuk pusat kota Jepara. Berdasarkan pada hasil analisis maka dapat ditarik kesimpulan bahwa elemen fisik pembentuk citra pusat kota jepara adalah Elemen fisik dibentuk melalui fungsi atau cara kerja dari obyek – obyek yang menyusun elemen fisik pembentuk citra kota jepara. Elemen fisik pembentuk citra pusat kota jepara disusun melalui obyek – obyek fisik  Alun - Alun, Pendopo, SCJ(Tempat Kuliner Jepara), Jembatan Kaliwiso, Sungai Kaliwiso, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Yos Sudarso, Jalan Wolter Monginsidi, Pecinan.Kata Kunci: Elemen fisik, peta mental,  Jepara.
KARAKTERISTIK PEDAGANG INFORMAL SEBAGAI “ACTIVITY SUPPORT” KORIDOR JALAN KINTAMANI - BATAM Helen Cia; Agung Budi Sarjono
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.905 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i3.264

Abstract

Abstract: The Maitreya school and tourists who came to Maha Vihara Duta Maitreya made the Kintamani corridor increasingly active, can be seen by the existence of shops as a formal activity which was followed by the proliferation of informal activities.Informal activities using road shoulder that should be provided as an emergency route are used as a place of activity where this activity also moves the economy and social activities for the road user community, this activity helps especially students, students and the surrounding community to fulfill their needs because of their superior location and more affordable prices, especially when compared to goods and services provided by formal traders.The phenomenon of Informal Activity as the Kintamani corridor support activity is the purpose of the research so that the structuring of the area of informal activities is better and safer for the perpetrators of the activity. The technique of survey primary data collection is through visual observations in the form of observations of "time budget method" and photo media, secondary data collection techniques by searching for the needs of informal activities and the behavior of the perpetrators of these informal activities..Keyword: activity support , informal traders , setting area Abstrak: Sekolah Maitreya dan wisatawan yang datang ke Maha Vihara Duta Maitreya membuat koridor Kintamani semakin meningkat aktivitasnya, bisa dilihat dengan adanya pertokoan sebagai aktivitas formal yang diikuti semakin menjamurnya aktivitas informalnya.   Aktivitas informal menggunakan bahu jalan yang seharusnya disediakan sebagai jalur darurat digunakan sebagai tempat beraktivitas dimana aktivitas ini juga menggerakkan perekonomian dan aktivitas sosial bagi masyarakat pengguna jalan, aktivitas ini membantu khususnya para siswa, mahasiswa dan masyarakat sekitar dalam memenuhi kebutuhannya karena keunggulannya lokasi yang lebih dekat dan harga yang lebih terjangkau, terutama ketika dibandingkan dengan barang dan jasa yang disediakan oleh pedagang formal.Fenomena Aktivitas Informal sebagai activity support koridor Kintamani inilah yang menjadi tujuan dari penelitian sehingga penataan area aktivitas informal yang menjadi lebih baik dan aman bagi pelaku aktivitas. Tehnik pengumpulan data primer survei dengan observasi visual berupa pengamatan “time budget method” dan media foto, teknik pengumpulan data sekunder dengan cara mencari kebutuhan dari aktivitas informal dan perilaku pelaku aktivitas informal tersebut. Kata Kunci: Activity Support , Pedagang Informal , Setting Area
ANALISIS ELEMEN FASAD PADA BANGUNAN KOLONIAL KARYA F.D. CUYPERS & HELSWIT DI KOTA CIREBON Agara Dama Gaputra
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1532.627 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i2.255

Abstract

Abstract: Colonial Architecture in Indonesia is a historical heritage that should be preserved. Characteristics of colonial architecture, among others, can be seen from the typology and elements forming its facade. The architectural consulting firm F.D. Cuypers & Hulswit whose works are spread in major cities of Indonesia is one of many influential architects during the Dutch colonial administration. This study describes the works of F.D. Cuypers & Hulswit based on elements forming their facade. The results of this study indicate the works of related architects, although they follow the development of existing styles and technologies, still maintain similarities in their characteristics.Keyword: facade, characteristic, colonialAbstrak: Arsitektur Kolonial di Indonesia merupakan peninggalan sejarah yang seharusnya dilestarikan. Karakteristik arsitektur kolonial antara lain dapat dilihat dari tipologi serta elemen-elemen pembentuk fasadnya. Dari sekian banyak arsitek-arsitek yang berpengaruh saat masa pemerintahan kolonial Belanda, adalah biro konsultan arsitektur F.D. Cuypers & Hulswit yang karya-karyanya tersebar di kota-kota besar Indonesia. Penelitian ini mendeskripsikan karya-karya F.D. Cuypers & Hulswit berdasarkan elemen pembentuk fasadnya. Hasil penelitian ini mengindikasikan karakteristik dari karya-karya arsitek terkait, meskipun mengikuti perkembangan langgam serta teknologi yang ada, tetap memiliki kesamaan pada karakteristiknya.Kata Kunci: fasad, karakteristik, kolonial
PENGARUH VARIASI DIMENSI & PENGELOMPOKAN BUKAAN TERHADAP PERGERAKAN DAN KECEPATAN ANGIN DI DALAM GEDUNG KANTOR (OPENPLAN LAYOUT) Muhamad Shoful Ulum; Sri Nastiti Nugrahaini Ekasiwi; I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.496 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i3.319

Abstract

Abstract: Implementation of cross ventilation in highrise office building will face wind speed problem due to differences in elevation and system capabilities in creating wind distribution in the room. This paper examines the influence of apertures with configured distance on building facades against wind speed and wind flow distribution. It generated by using computational fluid dynamics. Performance of cross ventilation in hipotetical models were tested using calculation model k-e RNG. Enlarge the apertures dimension up to 40% window to wall ratio increase wind velocity in building without decrease wind distribution quality. Apertures with equal distance create good distribution of wind of up to 85% depth of building.Keyword: cross ventilation, tropical, cooling effect                                                                           Abstrak: Implementasi ventilasi silang di gedung kantor bertingkat akan menghadapi masalah kecepatan angin karena perbedaan ketinggian dan kemampuan sistem dalam menciptakan distribusi angin di ruangan. Penelitian ini meneliti pengaruh celah dengan jarak yang dikonfigurasi pada fasad bangunan terhadap kecepatan angin dan distribusi aliran angin. Penelitian dilakukan dengan menggunakan software CFD (computatuonal Fluid Dynamics). Kinerja ventilasi silang dalam model hipotetis diuji menggunakan model perhitungan k-e RNG. Simulasi menunjukkan, memperbesar dimensi lubang hingga rasio jendela ke dinding 40% meningkatkan kecepatan angin di gedung tanpa menurunkan pemerataan distribusi angin. Lubang dengan jarak yang sama membuat distribusi angin yang baik hingga 85% kedalaman bangunan.Kata Kunci: ventilasi silang, tropis, efek pendinginan
KONSEP PERANCANGAN FASAD BANGUNAN BERDASARKAN KARAKTER FASAD BANGUNAN DALEM DI JALAN MONDORAKAN KOTAGEDE, YOGYAKARTA Augustinus Madyana Putra; Andi Prasetiyo Wibowo
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.354 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i2.236

Abstract

Abstract: The uniqueness of an area is a soul place that will distinguish a location from another location. The historic Kotagede area of Yogyakarta is divided into four road sections, and one of the road sections is the Mondorakan Road. The building on Mondorakan Road originally consisted of a series of palace buildings with a very distinctive facade appearance with three types of building facades. After the earthquake that occurred in 2006, many buildings in this area were destroyed and renovated but did not adjust to the appearance of the original facade, so the uniqueness of the city became blurred. Through this research, it is expected to be able to identify and provide solutions to these conditions. The methods applied are case studies and observations in the field, then analyzed based on previous findings regarding three types of facade displays. The results of the analysis produce outcomes in the form of guidelines in the design process that are expected to be able to maintain the characteristics of an area. Facade reading is an important thing to keep because it can help preserve the soul of a place in this part of the road.Keyword: palace buildings, facade, the soul of a placeAbstrak: Keunikan sebuah kawasan merupakan sebuah jiwa tempat yang akan membedakan suatu lokasi dengan lokasi lain. Kawasan bersejarah Kotagede Yogyakarta terbagi menjadi 4 penggal jalan, dan salah satu penggal jalan tersebut yaitu Jalan Mondorakan. Bangunan di Jalan Mondorakan pada mulanya terdiri dari jajaran bangunan dalem dengan tampilan fasad yang sangat khas dengan tiga tipe fasad bangunan. Pasca gempa yang terjadi tahun 2006, banyak bangunan di area ini yang hancur dan direnovasi namun tidak menyesuaikan dengan tampilan fasad semula, sehingga keunikan kawasan menjadi kabur. Melalui penelitian ini diharapkan mampu mengidentifikasi dan memberi solusi mengenai kondisi tersebut. Metode yang diterapkan yaitu studi kasus dan observasi di lapangan, kemudian dianalisis berdasar temuan sebelumnya mengenai 3 tipe tampilan fasad. Hasil analisis menghasilkan temuan berupa panduan dalam proses perancangan yang diharapkan mampu mempertahankan ciri khas suatu kawasan. Keterbacaan fasad ini menjadi hal penting untuk tetap dipertahankan karena dapat membantu adanya jiwa tempat di penggal jalan ini.Kata Kunci: bangunan dalem, fasad, jiwa tempat

Page 6 of 31 | Total Record : 305