cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
kartowijaya@universitaskebangsaan.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
arcade@universitaskebangsaan.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
Published by Universitas Kebangsaan
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Architecture Journal A R C A D E is Open Journal System published by Prodi Architecture Kebangsaan University, Bandung. Architectural Journal A R C A D E is, is a peer-reviewed scientific journal, publishing scholarly writings about Architecture and its related discussion periodically. The aims of this journal is to disseminate research findings, ideas, and review in architectural studies SCIENTIFIC AREAS: Building (architecture) and Urban/Regional Study: theory, history, technology, landscape and site planning, behavioral, social and cultural, structure and construction, traditional architecture, criticism, digital architecture, urban design /planning, housing and settlements, and other related discussion Architecture Education and Practice: curriculum/studio development, work opportunities and challenges, globalization, locality, professionalism, code of ethics, project managerial etc. Architectural Journal A R C A D E is published 3 times a year in March, July and November every last date of the month.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
SIRKULASI MANUSIA DAN KENDARAAN PADA PEDESTRIAN TERHADAP KONEKSITAS SIMPANG LIMA SEMARANG Rohman Eko Santoso; Suzanna Ratih Sari; Siti Rukayah
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.483 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.321

Abstract

Abstract: The Simpang Lima area is a city center with a variety of activities, the center of circulation, publik space, green space, religion, sports, economy, social and culture. In the regulation of vehicle and human circulation sistems it is very important and requires an impact analysis as well as very long projections. The intersection of five Semarang City known as the center of the economic area as well as the green open space that used as a publik space so that many activities and activities that occur in the area. In addition to being a business district and office intersection, there is also a weekly car free day event, becoming a very large center of activity on Sundays and a publik space in Semarang.The influence of the five intersections in this area will focus on humans who are in front of the five intersection (ciputra mall stop) with the intersection of five because the location is the number of people passing through more roads. So in this study two recommendations will emerge, the first of which relates to humans who crossed at one point, the second is recommendations for the entire region.Keyword: Circulation, Pedestrian, ConnectivityAbstrak: Kawasan Simpang Lima merupakan pusat kota yang terdapat berbagai macam kegiatan, pusat sirkulasi, ruang publik, ruang hijau, agama, olahraga, ekonomi, sosial dan budaya. Dalam pengaturan sistem sirkulasi kendaraan maupun manusia sangatlah penting dan memerlukan suatu analisa dampak juga proyeksi yang sangat panjang. Simpang lima Kota Semarang diketahui sebagai pusat kawasan ekonomi maupun ruang terbuka hijau yang dijadikan ruang publik sehingga banyak kegiatan dan aktifitas yang terjadi dikawasan tersebut. Selain menjadi kawasan bisnis dan perkantoran simpang lima juga terdapat event mingguan car free day, menjadi pusat aktifitas yang sangat besar pada saat hari minggu dan menjadi ruang publik di kota semarang. Pengaruh simpang lima pada kawasan ini akan focus terhadap manusia yang berada di depan simpang lima (halte ciputra mall) dengan lapangan simpang lima tersebut karena pada lokasi tersbut jumlah manusia yang melewati jalanlebih banyak. Maka dalam penelitian ini akan muncul dua rekomendasi, yang pertama terkait manusia yang menyebrang pada datu titik tersebut, yang kedua rekomendasi seluruh kawasan.Kata Kunci: Sirkulasi, Pedestrian, Koneksitas
EVALUASI KONSEP RAMAH PEJALAN KAKI PADA PEDESTRIAN MALIOBORO DENGAN PENDEKATAN KONSEP WALKABILITY Alexianus Thomas Uak
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.368 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.324

Abstract

Abstract: Malioboro Pedestrian is located in the tourist area of Malioboro, which has been arranged by the Yogyakarta Regional Government. The arrangement carried out applies the concept of the Cultural Terrace which basically has the purpose of creating a tourist area of Malioboro that is visitor-friendly, including pedestrians. Many facilities are provided for pedestrians to support this concept, for example the provision of benches, special diffable lanes and other facilities. The purpose of this paper is to evaluate the pedestrian-friendly concept applied to the Malioboro pedestrian with the walkability concept approach. The method used in this study uses descriptive qualitative method, which is direct observation to the study location to find out, understand and directly identify the actual conditions that exist in Malioboro pedestrian. In addition to knowing the comfort level of actual conditions, the concept of walkability is used as a comparison concept. The results of this study indicate that the arrangement of the Malioboro pedestrian carried out by the government has met the criteria of pedestrian friendliness in accordance with the concept of walkability, namely accessibility, aesthetics, safety and security criteria and comfort aspects. Although structuring has met the criteria, the existing facilities have not been used and utilized properly by Malioboro pedestrian users, so that there are some negative impacts that cause discomfort, such as waste problems and mastery of pedestrian space for other activities that are not in accordance with pedestrian functions.Keyword: Malioboro, Malioboro pedestrian, pedestrian friendly, cultural terrace, the concept of walkabilityAbstrak: Pedestrian Malioboro berada pada kawasan wisata Malioboro yang telah ditata oleh Pemerintah Derah Istimewah Yogyakarta. Penataan yang dilakukan menerapkan konsep Teras Budaya yang pada dasarnya memiliki tujuan untuk menciptakan kawasan wisata Malioboro yang ramah pengunjung, termasuk pejalan kaki. Banyak fasilitas yang disediakan pada pedestrian untuk mendukung konsep ini, misalnya pengadaan bangku, jalur khusus difabel dan fasilitas lainnya. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengevaluasi konsep ramah pejalan kaki yang diterapkan pada pedestrian Malioboro dengan pendekatan konsep walkability. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yakni melakukan observasi langsung ke lokasi studi untuk mengetahui, memahami serta mengidentifikasi secara langsung kondisi aktual yang ada pada pedestrian Malioboro.Selain itu untuk mengetahui tingkat kenyamanan kondisi aktual maka digunakan konsep walkability sebagai konsep pembanding. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa penataan pedestrian Malioboro yang dilakukan pemerintah telah memenuhi kriteria ramah bagi pejalan kaki sesuai konsep walkability, yakni kriteria aksesibilitas, estetika, keselamatan dan keamanan serta aspek kenyamanan. Meskipun secara penataan telah memenuhi kriteria, fasilitas yang ada belum digunakan dan dimanfaatkan dengan baik oleh pengguna pedestrian Malioboro, sehingga muncul beberapa dampak negatif yang menimbulkan ketidaknyamanan, misalnya masalah sampah dan penguasaan ruang pejalan kaki untuk aktivitas lainnya yang tidak sesuai dengan fungsi pedestrian.Kata Kunci: Malioboro, pedestrian Malioboro, ramah pejalan kaki, teras budaya, konsep walkability
TRANSFORMASI RUANG HUNIAN TRANSMIGRAN BALI AKIBAT AKULTURASI DI DESA BASARANG JAYA, KALIMANTAN TENGAH Herwin Sutrisno; Theresia Susi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.397 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.347

Abstract

Abstract: Balinese transmigrants in Basarang Jaya Village, Central Kalimantan indirectly brought their tradition and culture. The meeting of Balinese culture elements with the local culture elements (the Dayak Ngaju tribe) has caused acculturation in the village. In the point of view of architecture, such acculturation is implemented in the residence of Balinese transmigrants in the form of changes or adjustments based on the characteristics of both cultures, and one of the examples is the transformational changes in the Balinese residences. This research aims to identify the physical transformation of Balinese residences that happened because of acculturation in Basarang Jaya. This research employed the qualitative descriptive research, and the data were collected from field observations, documentation, and in-depth interviews with key resources and residential owners. The result has shown that the kind of transformation occurring at Balinese residences in Basarang Jaya Village is the transformation in the residences’ basic form, masses, and room elements.Keyword: Spatial transformation, balinese residence, Basarang Jaya Abstrak: Transmigran Bali yang berpindah ke Desa Basarang Jaya, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah secara tidak langsung membawa serta tradisi dan budayanya. Bertemunya unsur-unsur budaya yang dibawa oleh transmigran Bali dengan unsur-unsur budaya masyarakat lokal (suku Dayak Ngaju) menyebabkan terjadinya akulturasi di Desa Basarang Jaya. Dari segi arsitektur, akulturasi tersebut terimplementasi pada hunian transmigran Bali. Dalam hunian transmigran Bali terjadi berbagai perubahan atau penyesuaian antara budaya yang mereka bawa dengan lingkungan tempat tinggalnya, salah satunya tampak pada transformasi ruang hunian transmigran Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi transformasi ruang hunian yang terjadi pada hunian transmigran Bali akibat akulturasi di Desa Basarang Jaya. Metode penelitian yang dipergunakan adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan di lapangan, dokumentasi dan wawancara mendalam dengan nara sumber. Hasil penelitian menunjukan bahwa transformasi hunian yang terjadi pada hunian transmigran Bali di Desa Basarang Jaya adalah perubahan bentuk hunian berupa perubahan bentuk dasar hunian, perubahan massa hunian dan perubahan jenis ruang.Kata Kunci: Transformasi Ruang, Hunian Transmigran Bali, Basarang Jaya
PEMANFAATAN JALUR PEDESTRIAN PADA AREA MIXED-USE DI JL. MT HARYONO (KORIDOR PETERONGAN-PEREMPATAN BANGKONG) Kania Kinasih; Edi Purwanto; Atiek Suprapti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (901.513 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.344

Abstract

Abstract: This research is based on a new design on the pedestrian ways on MT. Haryono Street corridor of the Peterongan-Bangkong intersection, because the Semarang City Government made several changes to the pedestrian lane design in several locations, one of which was on MT. Haryono Street. Through this new pedestrian ways design, researchers will associate with mixed areas or mixed-use areas in the corridor that will be examined based on factors and indicators of the mixed area and pedestrian ways design. The purpose of this study is to determine the utilization of pedestrian ways in the mixed-use area which gets the highest priority based on pedestrian path users. Field data and interview results on pedestrian path users obtained were then analyzed using a qualitative deductive method combined with quantitative through sampling with purposive sampling. And it was concluded that the highest utilization of the new design of pedestrian ways in the MT Haryono Street is a function and activity.Keyword: Pedestrian ways’ utilization, mixed-use area, MT. Haryono street corridor, fuction and activityAbstrak: Penelitian ini didasari oleh desain baru pada jalur pedestrian di Jalan MT. Haryono koridor Peterongan-Perempatan Bangkong, karena Pemerintah Kota Semarang melakukan beberapa perubahan terhadap desain jalur pedestrian di beberapa lokasi, salah satunya di Jalan MT. Haryono. Melalui desain jalur pedestrian yang baru ini, peneliti akan mengkaitkan dengan area campuran atau mixed-use area pada koridor tersebut yang akan diteliti berdasarkan faktor-faktor dan indikator area campuran dan desain jalur pedestrian. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pemanfaatan jalur pedestrian pada area mixed-use manakah yang mendapat prioritas paling besar berdasarkan pengguna jalur pedestrian. Data lapangan dan hasil wawancara pada pengguna jalur pedestrian yang didapat kemudian dianalisa menggunakan metode deduktif kualitatif yang dikombinasikan dengan kuantitatif melalui pengambilan sample dengan purposive sampling. Dan didapatkan kesimpulan pemanfaatan paling tinggi dari desain baru jalur pedestrian Jalan MT. Haryono adalah fungsi dan aktivitas.Kata Kunci: Pemanfaatan jalur pedestrian, area mixed-use, koridor Jalan MT. Haryono, fungsi dan aktivitas
TRANSFORMASI ADAPTASI BANGUNAN DI PERMUKIMAN INFORMAL TEPI SUNGAI KAHAYAN Nindita Kresna Murti; Atiek Suprapti; Agung Budi Sardjono
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.773 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.339

Abstract

Abstract: Many informal settlements in Indonesia have been unable to survive, this is due to changes that occur in the neighborhood. This change resulted in the not surviving of informal settlements, but this did not affect the informal settlements in the city of Palangkaraya, settlements on the banks of the Kahayan river were even more developed, and began to develop towards the mainland.As climate change and the global environment increase, there is a tendency for people to conceptualize adaptation in residential buildings as a process of survival and how adaptation is practiced by people who face the negative impacts of climate change, for example in informal settlements on the Kahayan river bank, where residents adapt to building their homes to be able to withstand environmental changes. Where the neighborhood is located there are tides of the river, as well as other environmental factorsThis study is to find out how the Kahayan River settlement communities can survive, with changes that occur in the environment by analyzing using 6 strategies in building adaptation, namely: Adjustable, Versatile, Refitable, Convertible, Scalable, and Movable (Robert Schmid, 2009). Adaptation that occurs in these settlements, namely on building houses that follow climate change, times, and the environment.Keyword: Informal Settlements, Kahayan River Edge, Adaptation, Transformation.Abstrak: Permukiman Informal di Indonesia banyak yang sudah tidak dapat bertahan, hal ini di karenakan adanya perubahan yang terjadi di lingkungan permukiman tersebut. Perubahan ini berakibat tidak bertahannya permukiman informal, namun hal ini tidak mempengaruhi permukiman informal di Kota Palangkaraya, permukiman yang berada di tepi sungai kahayan ini malah semakin berkembang, dan mulai berkembang menuju ke daratan.Seiring dengan meningkatnya perubahan iklim dan lingkungan global, ada kecenderungan masyarakat untuk membuat konsep adaptasi pada bangunan rumah tinggal sebagai proses untuk bertahan dan bagaimana adaptasi dipraktikkan oleh orang-orang yang menghadapi dampak negatif perubahan iklim, sebagai contoh pada permukiman informal yang berada di tepi sungai Kahayan, di mana warga beradaptasi pada bangunan rumah mereka untuk dapat bertahan terhadap perubahan lingkungan. Di mana lingkungan permukiman ini terdapat pasang surut air sungai, serta faktor lingkungan lainnya.Penelitian ini untuk mengetahui cara masyarakat permukiman tepi Sungai Kahayan dapat bertahan, dengan perubahan yang terjadi di lingkungan dengan menganalisa menggunakan 6 strategi dalam adaptasi bangunan, yaitu: Adjustable, Versatile, Refitable, Convertible, Scalable, dan Movable (Robert Schmid, 2009). Adaptasi yang terjadi pada permukiman ini, yaitu pada bangunan rumah yang mengikuti perubahan iklim, jaman, dan lingkungan.Kata Kunci: Permukiman Informal, Tepi  Sungai Kahayan, Adaptasi, Transformasi.
PERAN HUNIAN VERTIKAL SEBAGAI SOLUSI TERHADAP KAWASAN KUMUH DI KOTA BATAM KEPULAUAN RIAU Hendro Murtiono; Suzanna Sari; Edward Endrianto Pandelaki
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.827 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.326

Abstract

Abstract: The Simpang Lima area is a city center with a variety of activities, the center of circulation, publik space, green space, religion, sports, economy, social and culture. In the regulation of vehicle and human circulation sistems it is very important and requires an impact analysis as well as very long projections. The intersection of five Semarang City known as the center of the economic area as well as the green open space that used as a publik space so that many activities and activities that occur in the area. In addition to being a business district and office intersection, there is also a weekly car free day event, becoming a very large center of activity on Sundays and a publik space in Semarang.The influence of the five intersections in this area will focus on humans who are in front of the five intersection (ciputra mall stop) with the intersection of five because the location is the number of people passing through more roads. So in this study two recommendations will emerge, the first of which relates to humans who crossed at one point, the second is recommendations for the entire region.Keyword: Circulation, Pedestrian, ConnectivityAbstrak: Kawasan Simpang Lima merupakan pusat kota yang terdapat berbagai macam kegiatan, pusat sirkulasi, ruang publik, ruang hijau, agama, olahraga, ekonomi, sosial dan budaya. Dalam pengaturan sistem sirkulasi kendaraan maupun manusia sangatlah penting dan memerlukan suatu analisa dampak juga proyeksi yang sangat panjang. Simpang lima Kota Semarang diketahui sebagai pusat kawasan ekonomi maupun ruang terbuka hijau yang dijadikan ruang publik sehingga banyak kegiatan dan aktifitas yang terjadi dikawasan tersebut. Selain menjadi kawasan bisnis dan perkantoran simpang lima juga terdapat event mingguan car free day, menjadi pusat aktifitas yang sangat besar pada saat hari minggu dan menjadi ruang publik di kota semarang. Pengaruh simpang lima pada kawasan ini akan focus terhadap manusia yang berada di depan simpang lima (halte ciputra mall) dengan lapangan simpang lima tersebut karena pada lokasi tersbut jumlah manusia yang melewati jalanlebih banyak. Maka dalam penelitian ini akan muncul dua rekomendasi, yang pertama terkait manusia yang menyebrang pada datu titik tersebut, yang kedua rekomendasi seluruh kawasan.Kata Kunci: Sirkulasi, Pedestrian, Koneksitas
POLA PERGERAKAN WISATAWAN DI KAWASAN WISATA TUAN KENTANG Nova Asriana; Dewi Rachmaniatus Syahriyah
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (812.345 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.333

Abstract

Abstract: Tuan Kentang is a district that is located in downstream of Palembang City, South Sumatera. Geographically, Tuan Kentang has a potential position which is in capital city of Palembang and bordered by Musi river and Ogan river. This location is very unique because of the traditional houses which are well-known from Sriwijaya Kingdom, especially the tradition of handwoven which is called by Jumputan. According to this potential evidence, the various of tourism attractions stimulate the pedestrian and tourist movement. This goal of study aims to investigate the spatial pattern of pedestrian movement in Tuan Kentang village where this investigation will be recommended and design strategy to develop tourism attractions in this area. This research is formed by qualitative method descriptively. In addition, collecting data and observing area is executed by surveying in certain time. This sample of this study is non-random purposive sampling technically, such as local people and tourist who visit in this area. This analysis depicts tourist movement patterns in Tuan Kentang which have spatial goal-oriented on focusing to final destination. Keyword: Movement, Tourism, Tuan KentangAbstrak: Tuan Kentang adalah sebuah kelurahan yang berada di kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Secara geografis, Kelurahan Tuan Kentang berada di Pusat kota Palembang, tepatnya bagian hulu Kota dan berbatasan langsung dengan Sungai Ogan. Selain kondisi geografisnya yang unik, Kawasan Tuan Kentang ini juga terkenal dengan peninggalan rumah – rumah tradisional Kota Palembang, seperti Rumah Limas Gudang dan budaya turun menurun dalam pembuatan kerajinan tenun tradisional Jumputan. Uniknya objek wisata serta banyaknya variasi objek wisata yang tersebar di wilayah kawasan wisata tuan kentang memicu adanya pergerakan wisatawan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola keruangan yang terbentuk dari pergerakan wisatawan di Kawasan Wisata Tuan Kentang. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi dalam pengembangan titik-titik objek wisata di Kawasan Wisata Tuan Kentang. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan sifat penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan survei dan observasi dalam kurun waktu tertentu. Sampel dipilih dengan teknik non-random purposive sampling, yaitu masyarakat lokal setempat serta wisatawan yang datang untuk mengunjungi kawasan wisata Tuan Kentang. Hasil analisis menunjukkan bahwa pola Pergerakan wisatawan di kawasan wisata Tuan Kentang saat ini memiliki tipe spasial goal oriented, yaitu berorientasi pada tujuan.Kata Kunci: Pergerakan, Pariwisata, Tuan Kentang
ANALISIS POLA PERMUKIMAN KAMPUNG PENELEH SURABAYA Stivani Ayuning Suwarlan
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.517 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.335

Abstract

Abstract: Settlement patterns in an area can change due to population growth and activity from year to year, thereby increasing the need for housing. The increased need for housing has caused local residents to build buildings without regard to initial land boundaries / initial house plots, so that building compaction occurs. As a result of building compaction can change the pattern of settlements and even create new patterns of settlement in the area. Knowing changes in patterns and the existence of new patterns is very necessary, especially for local governments as material for study in making regulations / policies. This case occurred in Surabaya Peneleh Village, which used to have settlements on the riverbank transformed into an area that had an elongated pattern following the street network and clustered pattern due to compaction of buildings.Keywords: settlement, settlement patterns, building compactionAbstrak: Pola permukiman pada suatu wilayah dapat mengalami perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan dan aktivitas penduduk dari tahun ke tahun sehingga meningkatkan kebutuhan rumah tinggal. Kebutuhan rumah yang meningkat ini menyebabkan penduduk setempat mendirikan bangunan tanpa memperhatikan batas lahan/ kavling awal, sehingga terjadilah pemadatan bangunan. Hasil dari pemadatan bangunan ini dapat merubah pola permukiman bahkan menciptakan pola permukiman baru pada wilayah tersebut. Diketahuinya perubahan pola dan keberadaan pola baru sangat diperlukan terutama bagi pemerintah setempat sebagai bahan kajian dalam pembuatan peraturan/ kebijakan. Hal ini terjadi pada Kampung Peneleh Surabaya yang awalnya hanya memiliki permukiman di pinggiran sungai bertransformasi menjadi wilayah yang memiliki pola permukiman memanjang mengikuti jaringan jalan dan pola mengelompok akibat pemadatan bangunan.Kata Kunci: permukiman, pola permukiman, pemadatan bangunan
FENOMENA THE SACRED PUBLIC SPACE BERDASARKAN TEORI LEFEBVRE “THE PRODUCTION OF SPACE” STUDI KASUS: RUANG PUBLIK KOTA LARANTUKA SEBAGAI CITRA KOTA REINHA ROSARI Reginaldo Christophori Lake; Yohanes Basuki Dwisusanto; Yohanes Djarot Purbadi; Fransiscus Xaverius Eddy Arinto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4345.459 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i2.452

Abstract

Citra kota menjadi gerbang awal mengenal sejarah, budaya, ekonomi dan sosial suatu kota. Namun, sebagian besar citra kota terbatas hanya mengikuti trend kota-kota modern tanpa melihat sejarah awal terbentuknya kota tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan penerapan konsep produksi ruang publik sebagai citra kota. Sejalan dengan tujuan tersebut, Kota Larantuka dipilih sebagai studi kasus. Teori Lefebvre “The Production of Space” dan elemen primer kota digunakan untuk membaca isu dari studi kasus, kemudian interpretasi diperoleh dari analisis deskriptif. Penelitian ini melengkapi penelitian yang ada tentang ritual Semana Sancta dan ruang publik kota, dengan mengeksplorasi isu penelitian secara mendalam pada kasus studi. Diharapkan bahwa proses perancangan citra kota dan ruang publik kota terwujud dari meaningful; responsive; dan democratic. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi referensi bagi para pemangku kebijakan dan pelestarian arsitektur, serta masyarakat awam.Kata Kunci: Citra Kota Reinha Rosari, Ruang publik sakral, Semana Sancta Larantuka
PENERAPAN PRINSIP PASSIVE COOLING PADA UMKM SHOPPING CENTER DI PEKANBARU Muhammad Agramansyah Hasyim; Yohannes Firzal; Mira Dharma Susilawaty
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (888.548 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i2.447

Abstract

Abstract: UMKM shopping center is a facility that supports the fulfillment of UMKM development needs in Pekanbaru City. Where the City of Pekanbaru is part of the State of Indonesia which has begun the era of the MEA with the start of creative partnerships. Then the required facilities that can be requested and the quality improvement container needed, especially in the city of Pekanbaru. Pekanbaru City as the capital of Riau Province, has relatively high economic growth in UMKM. Based on data from the UMKM DISKOP in 2015 there were 535,139 activists. That shows the benefits in economic growth. But it is not balanced with support and supporting facilities. The application of passive cooling is applied as a method in controlling thermal in buildings, with the aim of providing comfort. With the concept of air movement which means moving, the implementation of passive cooling that relies on wind movement in optimizing thermal regulation of activities that involve the movement of visitors inside the building.Keyword: Pekanbaru,, UMKM, Shopping center, Passive cooling, thermal.Abstrak: UMKM shopping center adalah fasilitas yang berupaya memenuhi kebutuhan pengembangan UMKM di Kota Pekanbaru. Dimana Kota Pekanbaru yaitu bagian dari Negara Indonesia telah memasuki era MEA dengan dimulainya perekonomian kreatif. Maka dibutuhkan fasilitas yang dapat mempromosikan dan wadah peningkatan kualitas produk yang dibutuhkan, terutama di kota Pekanbaru. Kota Pekanbaru sebagai ibu kota Provinsi Riau, memiliki pertumbuhan ekonomi tergolong tinggi terutama di UMKM. Berdasarkan data DISKOP UMKM pada 2015 terdapat 535.139 penggiat. Itu menunjukkan keuntungan dalam pertumbuhan ekonomi. Namun  tidak diimbangi dengan ketersediaan dan fasilitas pendukung. Penerapan passive cooling yang diterapkan sebagai metode dalam mengendalikan termal pada bangunan, dengan tujuan memberikan kenyamanan. Dengan konsep air movement yang berarti bergerak, implementasi dari passive cooling yang mengandalkan pergerakan angin membrikan  kenyaman dalam pengoptimalam pengaturan termal terhadap aktivitas berupa pergerakan pengunjung yang berada di dalam bangunan.Kata Kunci: Pekanbaru, UMKM, Shopping Center, Passive cooling, termal.

Page 9 of 31 | Total Record : 305