cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
JAUR (Journal of Architecture and Urbanism Research)
Published by Universitas Medan Area
ISSN : 25990179     EISSN : 25990160     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Architecture is an art done by every individual to imagine themselves and the science in designing the building. In a broader sense, the architecture includes designing and building the entire built environment, ranging from the macro level of urban planning, urban design, landscape architecture, to the micro level of building design, furniture design and product design. Architecture also refers to the results of the design process.
Arjuna Subject : -
Articles 293 Documents
Pusat Kesehatan Mental Anak dan Remaja Korban Kekerasan dengan Pendekatan Healing Environment di Pekanbaru Nada Rizqi Amalia; Pedia Aldy; Muhd Arief Al Husaini
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol 5, No 1 (2021): JAUR OKTOBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v5i1.4932

Abstract

Fenomena kekerasan pada anak merupakan hal yang sangat memprihatinkan, terlihat dari kasus kekerasan pada anak yang meningkat setiap tahun di Indonesia, kekerasan yang terjadi meliputi kekerasan fisik, psikis, seksual dan ekonomi yang berdampak pada kesehatan jiwa. Perlu adanya perlakuan khusus untuk melihat banyaknya korban kasus kekerasan pada anak di berbagai daerah. Di Provinsi Riau tingkat kasus kekerasan dari tahun 2012 - 2020 berjumlah 1225 kasus dan Kota Pekanbaru merupakan daerah penyumbang kasus kekerasan dengan total 713 kasus. Kasus kekerasan yang terjadi didominasi oleh kekerasan seksual, hal ini membuktikan masih rendahnya kesadaran masyarakat dan perlunya penanganan terutama bagi korban kekerasan yaitu anak, karena anak. Kesehatan mental sangat berpengaruh dalam optimalisasi perkembangannya terutama anak-anak korban kekerasan fisik dan psikis yang membutuhkan fasilitas dan pengobatan yang tepat. Hal inilah yang mendasari terciptanya Puskesmas Mental Anak sebagai wadah yang dapat menampung dan melayani kebutuhan kesehatan jiwa yang didalamnya terdapat fasilitas penyuluhan, sharing, relaksasi dan fasilitas pendukung lainnya. Perancangan ini menggunakan Healing Environment Approach yang mengedepankan prinsip penyembuhan sebagai penerapan desain, tidak hanya aspek fisik non fisik juga saling mempengaruhi dengan menciptakan suasana penyesuaian elemen desain yang memberikan rangsangan positif bagi panca indera sehingga dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dalam proses penyembuhan. Hal inilah yang mendasari terciptanya Puskesmas Mental Anak sebagai wadah yang dapat menampung dan melayani kebutuhan kesehatan jiwa yang didalamnya terdapat fasilitas penyuluhan, sharing, relaksasi dan fasilitas pendukung lainnya. Perancangan ini menggunakan Healing Environment Approach yang mengedepankan prinsip penyembuhan sebagai penerapan desain, tidak hanya aspek fisik non fisik juga saling mempengaruhi dengan menciptakan suasana penyesuaian elemen desain yang memberikan rangsangan positif bagi panca indera sehingga dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dalam proses penyembuhan. Hal inilah yang mendasari terciptanya Puskesmas Mental Anak sebagai wadah yang dapat menampung dan melayani kebutuhan kesehatan jiwa yang didalamnya terdapat fasilitas penyuluhan, sharing, relaksasi dan fasilitas pendukung lainnya. Perancangan ini menggunakan Healing Environment Approach yang mengedepankan prinsip penyembuhan sebagai penerapan desain, tidak hanya aspek fisik non fisik juga saling mempengaruhi dengan menciptakan suasana penyesuaian elemen desain yang memberikan rangsangan positif bagi panca indera sehingga dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dalam proses penyembuhan.
Perancangan Pineapple Center dengan Pendekatan Arsitektur Biofilik di Kualu Nenas Rifa Novriani; Muhd Arief Al Husaini; Wahyu Hidayat
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol 5, No 1 (2021): JAUR OKTOBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v5i1.4898

Abstract

Hasil pertanian yang paling terkenal dan menjadi buah segar ungulan di Kualu Nenas yaitu Nanas. Hasil produksi usahatani nanas yang cukup melimpah di daerah Kualu Nenas ini dapat meningkatkan pendapatan petani dengan memasarkan hasil produk nanas kepada konsumen ataupun pedagang secara langsung. Kebanyakan petani nanas di daerah Kampar memasarkan nanas dalam bentuk buah segar di tepi jalan lintas Pekanbaru-Bangkinang. Pedagang yang berjualan di tepi jalan tersebut kuranglah menarik minat konsumen sehingga sedikit penjualan yang dihasilkan. Untuk memanfaatkan hasil produksi nanas yang melimpah dan menunjang hasil penjualan nanas, maka diperlukanlah Pineapple Center yang mampu menarik minat konsumen sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Pineapple Center menjadi bangunan sebagai fasilitas komersial yang mewadahi berbagai kegiatan seperti pengolahan nanas menjadi kuliner maupun kerajinan, sebagai tempat edukasi seperti penelitian dan pelatihan pengembangan nanas, dan juga area rekreasi bagi wisatawan dan masyarakat setempat. Metode yang digunakan dalam perancangan ini yaitu metode primer berupa survei, serta berbagai sumber literatur sebagai metode sekunder. Pada perancangan arsitektur Pineapple Center ini menggunakan tema Arsitektur Biofilik dimana tema ini membuat keselarasan antara objek arsitektur dan lingkungan alam sekitarnya.
Revitalisasi Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara dengan Tema Arsitektur Vernakular Dianita Lestari; Neneng Y Barky; Yunita Safitri Rambe
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol 1, No 2 (2018): JAUR April
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v1i2.1765

Abstract

Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu museum di Kota Medan yang sudah dirintis sejak tahun 1954. Museum ini berlokasi di jalan H. M. Jhoni No.51 Medan. Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara memiliki berbagai macam jenis koleksi sejarah, koleksi tersebut berguna sebagai bahan pembuktian sejarah alam, budaya manusia dan lingkungannya serta dapat menggambarkan identitas suatu bangsa. Pada saat ini Muesum Negeri Propinsi Sumatera Utara mengalami penurunan pengunjung setiap tahunnya. Penurunan pengunjung ini disebabkan karena tidak ada daya tarik museum di mata masyarakat. Maka dari itu diperlukan pembenahan terhadap museum tersebut.Bentuk museum dalam pengembangan ini masih mengikuti bentuk asal dari bangunan museum, hanya saja ada penambahan lantai pada bangunan dan menjadikan bangunan yang awalnya merupakan bangunan multi massa menjadi bangunan satu massa Kata Kunci : Pengembangan Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara, Arsitektur Vernakular
Tradisionalitas dan Modernitas Dikotomi Perkembangan Wilayah Pesisir Kabupaten Gunungkidul Arie Nurzaman
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol 3, No 2 (2020): Vol 3, No 2 (2020): JAUR APRIL
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v3i2.3168

Abstract

Pola aktivitas dan penggunaan ruang dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk ekonomi, sosial, budaya, atau sejarah. Daerah pedesaan yang umumnya didominasi oleh daerah tertinggal menjadi korban eksploitasi manusia dalam hal pemanfaatan ruang, termasuk wilayah pesisir. Oleh karena itu, pemanfaatan dan pengembangan wilayah pesisir dan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut membutuhkan pendekatan yang tepat. Dikotomi ruang perlu dipahami sebagai aspek pengembangan wilayah pesisir itu sendiri. Makalah ini bertujuan untuk menilai pola pemanfaatan ruang, dikotomi antara aspek tradisional dan modern dalam pemanfaatan ruang, serta kemungkinan strategi dan kebijakan pengembangan pemerintah wilayah pesisir di Kabupaten Gunungkidul. Metode ini merupakan kombinasi dari metode kuantitatif yang dilaksanakan dengan meninjau peta dan analisis data sekunder untuk melihat tren perkembangan dalam periode tertentu, sedangkan metode kualitatif dilakukan untuk memperkuat hipotesis dan untuk memahami analisis lebih lanjut dari pendekatan kuantitatif.Dikotomi ruang dijabarkan dalam konteks spasial dan pemanfaatan. Konteks spasial dibagi menjadi wilayah inti (ibukota kecamatan) dan pinggiran (wilayah pesisir), sedangkan dalam konteks pemanfaatan ruang, dibedakan menjadi penggunaan tradisional dan modern. Analisis dikotomi melalui penggambaran kuadran memberikan gambaran tentang potensi pembangunan daerah, ruang lingkup pembangunan tidak hanya sebagian tetapi juga secara spasial. Pengembangan Jaringan Jalan Nasional Jawa Selatan (JJLS) dan pengembangan sektor pariwisata adalah dua faktor utama dalam pembangunan daerah, sehingga kebijakan publik sebagai implementasi dari intervensi pemerintah setidaknya harus mempertimbangkan sektor spesifik yang akan ditangani, prioritas pembangunan seperti skala dan pendekatan, dan tingkat perkembangan.Kata kunci: dikotomi; tradisional; modern; Gunungkidul; wilayah pesisir
KONSERVASI BANGUNAN TJONG A FIE DALAM USAHA KEBERLANJUTAN MEMPERTAHANKAN BANGUNAN BERSEJARAH KOTA MEDAN denny meisandy hutauruk; yunita syafitri rambe
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol 1, No 1 (2017): JAUR OKTOBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v1i1.1449

Abstract

ABSTRAKKota Medan merupakan salah satu kota yang mempunyai bangunan sejarah yang cukup banyak. Bangunan sejarah ini merupakan peninggalan kolonial yang sangat menarik, yang saat ini dapat disaksikan terutama dalam berbagai fungsi baru seperti rumah tinggal, kantor, hotel, rumah toko, tempat peribadatan, rumah sakit, dan sekolah. Secara estetika, bangunan tersebut pada umumnya merupakan paduan gaya, desain, dan arsitektur Melayu, Belanda, India, Inggris, dan Cina, sebagai akumulasi dan kristalisasi sejarah Kota Medan sendiriDalam dua dasawarsa terakhir, Kota Medan mengalami pembangunanisme dengan menyatunya kekuatan pemerintah dan pengusaha (pemilik bangunan bersejarah) dalam proses modernisasi dan globalisasi kapital. Sebagai akibatnya, banyak bangunan bersejarah dihancurkan dan diganti oleh berbagai bentuk pusat perbelanjaan.Penghancuran tersebut tidak saja menghilangkan sejarah dan identitas Kota Medan serta kebanggan masyarakat tetapi juga mengabaikan upaya-upaya pengembangan pariwisata berbasis estetika bangunan bersejarah yang sangat potensial bagi emansipasi masyarakat setempat. Sehingga  pada akhirnya Kota Medan nanti diasumsikan akan kehilangan karakter utama dan identitas historisnya.Penelitian ini akan dilakukan dengan pengambilan data yang akan diolah dan dianalisa bentuk kerusakan yang selanjutnya akan dilakukan cara bagaimana melakukan konservasi pada bangunan tersebut. Konservasi adalah upaya-upaya pelestarian akan tetapi tetap memperhatikan manfaat yang bisa didapatkan pada saat itu dengan cara tetap mempertahankan keberadaan setiap komponen-konponen untuk pemanfaatan di masa yang akan datang. Kata Kunci : Bangunan bersejarah, Tjong A Fie, Konservasi ABSTRACTThe city of Medan is one of the cities that has quite a lot of historical buildings. This historical building is a very interesting colonial legacy, which today can be seen primarily in many new functions such as homes, offices, hotels, shop houses, places of worship, hospitals, and schools. Aesthetically, the building is generally a blend of Malay, Dutch, Indian, English, and Chinese styles, designs and architecture, as the accumulation and crystallization of the history of Medan itself In the last two decades, the city of Medan experiencing of development with the unity of government and entrepreneurs (owners of historic buildings) in the process of modernization and globalization of capital. As a result, many historic buildings were destroyed and replaced by various forms of shopping centers. The destruction not only eliminated the history and identity of Medan City as well as the pride of the people but also neglected the efforts of aesthetic-based tourism development based on the potential for the emancipation of the local community. So in the end the city of Medan will be assumed will lose the main character and historical identity. This research will be done by taking the data to be processed and analyzed the form of damage which will be done how to do the conservation of the building. Conservation is a conservation effort but keep in mind the benefits that can be obtained at that time by maintaining the existence of any components for future utilization. Keywords: Historic building, Tjong A Fie, Conservation           
Arahan Penempatan Signage di Jalur Pedestrian Jalan Iskandar Muda Kota Medan hibnul walid
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol 3, No 1 (19): JAUR OKTOBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v3i1.2902

Abstract

Kota Medan sebagai Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Hal ini terjadi seiring dengan pembangunan pusat-pusat perdagangan dan bangunan-bangunan komersil di beberapa tempat, Salah satunya di koridor Jalan Iskandar Muda. Pada umumnya bangunan-bangunan tersebut menyebar di sepanjang koridor jalan yang berfungsi sebagai kawasan komersial di kota Medan. Kondisi ini melahirkan aktivitas pergerakan orang yang cukup tinggi, salah satunya pergerakan orang yang terjadi di jalur pedestrian. hal ini mendorong  tingginya penyelenggaraan  signage dimana pejalan kaki sebagai sasaran utamanya. Signage merupakan alat komunikasi yang berfungsi untuk memberi informasi kepada orang-orang yang sedang berjalan maupun berkendaraan. Kehadiran signage di Jalan Iskandar Muda Kota Medan ternyata lebih cenderung memanfaatkan potensi ekonomi kawasan secara maksimal, sehingga terjadi pergeseran fungsi ruang kota menjadi ruang ekspresi media iklan. Hal ini terlihat dari titik-titik pemasangan signage yang terlalu banyak dan beragam serta ukuran signage yang tidak memenuhi kaidah estetika visual kota yang pada akhirnya mengganggu kenyamanan pejalan kaki dan mengurangi keindahan estetika visual pada koridor Jalan Iskandar Muda tersebut. Sebagai upaya menciptakan kenyamanan kota yang mendukung terhadap estetika visual serta tidak mengganggu kenyamanan pejalan kaki, penelitian ini menghasilkan konsep desain berupa penempatan signage sesuai zona peruntukkannya yaitu pada zona pedestrian, desain proporsi ketinggian signage terhadap lebar jalur pedestrian dengan menggunakan pendekatan skala manusia, desain dimensi panel atau bidang signage dengan menggunakan konsep golden section, serta  pengaturan titik penempatan atau persebaran signage dengan menggunakan konsep irama (rytme) dan peraturan daerah yang telah ditetapkan dengan tujuan membatasai jumlah signage pada jalur pedestrian
Perancangan Sekolah Alam Dengan Tema Arsitektur Ramah Lingkungan sherlly maulana
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol 2, No 1 (2018): JAUR OKTOBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v2i1.2045

Abstract

Sekolah alam adalah bentuk pendidikan alternatif yang menggunakan alam sebagai media utama untuk siswanya belajar dengan menggunakan pembelajaran aktif atau tindakan dimana anak belajar melalui pengalaman langsung. Penggunaan alam sebagai media pembelajaran diharapkan membantu anak-anak atau pelajar di masa depan agar lebih sadar akan lingkungan dan mengetahui penerapan pengetahuan yang dipelajari, tidak hanya sebatas teori. Oleh sebab itu, perlu adanya upaya mendesain sebuah sekolah alam dalam rangka untuk meningkatkan minat belajar dan memaksimalkan potensi alam dengan memanfaatkan material-material alami yang ada sebagai bahan bangunan untuk perancangan sekolah alam. Penggunaan material alami aman bagi kesehatan pengguna bangunan yang mayoritas adalah siswa sekolah dasar berumur 6-12 tahun. Dalam perancangan ini bambu sendiri menjadi material utama dalam perancangan sekolah alam ini, karena bambu sendiri merupakan material yang ramah lingkungan, harganya murah dan mudah didapat. Bambu ini akan di desain sedemikian rupa agar dapat menghadirkan nilai estetika dan merasa nyaman.
Dikotomi Keruangan Wilayah: Karakteristik Wilayah dan Daya Saing Daerah Provinsi Jawa Timur Ihdiny Mauhiya Miftahar Rahmah
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol 3, No 2 (2020): Vol 3, No 2 (2020): JAUR APRIL
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v3i2.3142

Abstract

Pembangunan daerah dilaksanakan berdasarkan potensi masing-masing daerah. Pembangunan daerah diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun, implementasi pembangunan daerah masih belum merata di seluruh wilayahnya. Dalam tulisan ini, penulis bertujuan untuk mengidentifikasi perkembangan Provinsi Jawa Timur dengan pendekatan spasial dan non-spasial untuk mengetahui karakteristik secara lebih rinci. Untuk analisis spasial, dilakukan melalui analisis wwwwxwdikotomi sesuai dengan kondisi geografis Provinsi Jawa Timur di mana sebagian wilayahnya terletak di Pulau Jawa dan sebagian lagi terletak di Pulau Madura dan beberapa pulau di sekitarnya. Di sisi lain, analisis juga dilakukan pada aspek non-spasial yang dilakukan dengan dikotomi antara daerah maju dan terbelakang. Sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 131 Tahun 2015 tentang Penentuan Daerah Tertinggal 2015-2019, ada 4 kabupaten yang masih termasuk dalam daerah Tertinggal. Berdasarkan analisis spasial dan non-spasial yang mengidentifikasi karakter masing-masing daerah, penulis telah mengembangkan beberapa rekomendasi strategi untuk masing-masing daerah. Strategi-strategi ini termasuk meningkatkan daya saing melalui peningkatan infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia untuk mencapai pembangunan inklusif.
Perencanaan Sport Center Di Kota Medan Dengan Tema Arsitektur Difabel ulia said pertiwi; sherlly maulana; rina saraswaty
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol 1, No 1 (2017): JAUR OKTOBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v1i1.1448

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan negara yang menghargai perbedaan pendapat, kepercayaan, suku, dan budaya antar manusia, sehingga muncul keanekaragaman aktifitas yang dilakukan manusia di suatu tempat. Salah satu aktifitas yangg sering dilakukan manusia adalah berolahraga. Namun, pengembangan dan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan aktifitas tersebut sering tidak mempertimbangkan pengguna yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel). Peraturan pemerintah tentang difabel sudah ada sejak tahun 1997 yaitu UU no.4 tahun 1997. Oleh karena itu, pengembangan dan pembangunan di tempat-tempat publik/umum harus di rancang dengan memikirkan aktifitas kaum difabel. Perancangan sport center menggunakan pendekatan  perancangan arsitektur difabel. Bangunan yang dirancang ramah terhadap masyarakat berkebutuhan khusus sehingga pengguna yang memiliki keterbatasan kemampuan dapat menggunakan fasilitas dengan mandiri. Tahapan yang digunakan dalam perencanaan sport center ini adalah pengumpulan data, analisis, konsep dan desain.Penataan tapak dan bangunan dirancang untuk memberikan kenyamanan dan kemudahan pengguna berkebutuhan khusus menggunakan fasilitas yang tersedia pada sport center. Bentuk massa bangunan respon terhadap bentuk tapak yaitu bentuk persegi. Massa bangunan kemudian dibagi menjadi 2 lantai dengan sirkulasi vertikal nya menggunakan tangga dan ram. Lantai 1 massa bangunan dimundurkan sebagian ruangnya untuk memberikan bayangan dan mengurangi paparan langsung sinar matahari ke dalam bangunan. Lantai 1 memiliki fungsi sebagai area fasilitas pendukung sport center, yaitu ruang informasi, restoran, retail, toilet dan mushola. Lantai 2 difungsikan untuk arena olahraga. Kata Kunci : Sport Center, Difabel, Arsitektur Difabel AbstractIndonesia is a country that respects differences of opinion, beliefs, tribes, and cultures among human beings, resulting in the diversity of human activities performed somewhere. One of the activities that people often do is exercise. However, development and development to meet the needs of these activities often do not consider users who have different abilities (disfabel). The government regulation on the disabled has been in existence since 1997, namely Law No.4 of 1997. Therefore, development and development in public places must be designed by considering the activities of the disabled people. Designing a sports center using a design approach difabel architecture. The buildings are designed to be friendly to the community with special needs so that users with limited ability can use the facility independently. Stages used in the planning of this sports center is the collection of data, analysis, concepts and design. Site and building design is designed to provide comfort and ease of users with special needs using the facilities available at the sports center. The form of building mass response to the shape of the tread is square shape. The mass of the building is then divided into 2 floors with its vertical circulation using stairs and ram. The 1st floor of the mass of the building was reversed partly to give shadows and reduce the direct exposure of sunlight into the building. 1st floor has a function as a support facility for sports center, which is information room, restaurant, retail, toilet and prayer room. 2nd floor functioned for sports arena. Keywords : Sport Center, Difabel, Disabled Architecture
Pelestarian Pendopo Aceh Timur Ditinjau Dari Sejarah Bangunan cut azmah; Irma Yunita Sari; Bambang Karsono; Nurhaiza Nurhaiza
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol 3, No 1 (19): JAUR OKTOBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v3i1.2938

Abstract

Melestarikan bangunan bersejarah mempunyai arti penting untuk dapat mengingat kembali kejadian yang historis. Peristiwa perang di Aceh banyak meninggalkan benda-benda besejarah, salah satunya Pendopo di Aceh Timur. Pendopo ini berusia lebih dari 50 tahun dan mewakili gaya arsitektur di zamannya, sehingga perlu dilakukan pendokumentasian untuk pelestarian.Tujuannya melestarikan arsitektur kolonial melalui upaya pendokumentasian fisik bangunan secara terukur dengan menggunakan salah satu prinsip dari ICOMOS yaitu sejarah Bangunan. Metode yang digunakan rasionalistik-kualitatif dengan cara studi lapangan dan wawancara. pendopo mengalami bebrapa kali perubahan fungsi, terakhir fungsi gedung pendopo adalah tempat menerima tamu/berkumpul. .

Page 8 of 30 | Total Record : 293