cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20890117     EISSN : 25805932     DOI : -
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA diterbitkan sejak 1 April 2011 oleh Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) dengan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) Cabang Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Daerah Banjarmasin.
Arjuna Subject : -
Articles 295 Documents
RESEPSI MASYARAKAT TERHADAP CERITA DATU SANGGUL (THE LEGEND OF DATU SANGGUL AS RECEIVED BY THE COMMUNITY) Pifa Nuryani
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 11, No 1 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v11i1.10563

Abstract

Abstract The legend of Datu Sanggul as received by the community. This research aims to describe the forms of reception and the factors causing the community (audience) to receive the Legend of Datu Sanggul. This is qualitative literary research through the receptive approach to literature. The data was collected through interviews, and field observations in the areas of the Datu Sanggul's Grave, and the documents of the manakib or books relating to the Datu Sanggul. The results of this research are (1) can be known the community's receptions on the Legend of Datu Sanggul are the forms of execution of annual commemoration of Datu Sanggul, the number of pilgrims to the Datu Sanggul's Grave, the habit of reciting manakib (biography), the presence of people who are eloquent in telling Datuk Sanggul's manakib, and the existence of the publication of manakib. (2) can be known the factors influencing the community to receive the Legend of Datu Sanggul are the factors of (a) the vows, wishful thinking/desires (positions, marriage partners, projects to build houses, etc), (b) the healing from illness, (c) the inner pressure and weak self-awareness based on which they hope they cured because of karomah of Datu Sanggul, (d) the socioculture, the family problem, the love towards a guardian. All factors and forms of community reception are influenced by community acceptance horizon factors such as background understanding of religion, religious emotions, social culture, and education. All the factors and forms of community's reception are influenced by the factors of the community's acceptance horizon such as the background of understanding of religion, religious emotions, social culture, and education. Key words: reception, legend, Datu SanggulAbstrak Resepsi Masyarakat Terhadap Cerita Datu Sanggul. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk resepsi dan faktor penyebab timbulnya tindakan resepsi masyarakat terhadap cerita Datu Sanggul. Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif deskriptif melalui pendekatan resepsi sastra. Sumber data penelitian diambil dari tuturan informan baik melalui kegiatan wawancara, observasi lapangan di makam Datu Sanggul, dan dokumen manakib atau buku yang berkaitan dengan Datu Sanggul. Hasil dari penelitian ini adalah (1) dapat diketahui bentukbentuk resepsi masyarakat terhadap cerita Datu Sanggul berupa pelaksanaan haul Datu Sanggul tiap tahun, banyaknya peziarah ke makam Datu Sanggul, adanya kebiasaan membaca manakib, adanya orang yang fasih menceritakan riwayat Datu Sanggul, dan adanya buku manakib yang diterbitkan. (2) dapat diketahui faktorfaktor yang mempengaruhi tindakan resepsi masyarakat terhadap cerita Datu Sanggul adalah faktor adanya nazar, aktor adanya angan-angan/ keinginan (jabatan, jodoh, proyek membangun rumah, dsb.), faktor keinginan kesembuhan dari sakit, faktor tekanan batin dan kesadaran diri lemah sehingga berharap atau bertawassul melalui Datu Sanggul yang diyakini sebagai wali dan berkaromah, faktor sosial budaya, faktor masalah rumah tangga, dan faktor kecintaan terhadap wali. Semua faktor dan bentuk resepsi masyarakat tersebut dipengaruhi faktor horizon penerimaan masyarakat seperti latar belakang pemahaman keagamaan, emosi keagamaan, sosial budaya, dan pendidikan. Kata-kata kunci: resepsi masyarakat, cerita legenda, Datu Sanggul
HOMONIMI DAN AMBIGUITAS FONETIK DALAM MAHALABIU (HOMONYMY AND AMBIGUITY PHONETIC IN MAHALABIU Lastaria Lailatul Fithriyah Azzakiyah
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 10, No 2 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v10i2.9379

Abstract

AbstractHomonymy and Ambiguity Phonetic in Mahalabiu. Homonymy is a form of wordsthat have different meanings but the pronunciation or spelling is the same andambiguity is the ability to express more than one interpretation. In this case, it isrelated to the ‘mahalabiu discourse’ which tends to have multiple meanings ineveryday language usage. The method used in this research is a descriptivequalitative method. Data collection techniques using interview techniques andrecording techniques. As for the object of research is the indigenous people of theBanjar tribe who live in the Alabio village. In ‘mahalabiu’, there are several formsof homonymy, namely: “maharakan, tarap, Langgar, Pagat, tinjak, maling, haur,dikalang, pusat, nyawa, dan kuitan”. In addition, there is also homonymy which ishomophony and homonymy which is homograph. (1) Homophony is the same soundbut different in writing and meaning, namely: “maharumi (maharu mi), kadada (kadada), dan anakutu (anakku tu)”;and (2) homography in ‘mahalabiu’ occurs as aresult of the unification of vocabulary in phonetic pronunciation, namely“bakicap”. Other than that,in ussing the word mahalabiu on average contains adouble meaning, this occurs due to the use of the word homonymy, while the contextin the conversation is not clear, resulting in inactivity.Key words: homonymy, phonetic ambiguity, mahalabiuAbstrakHomonimi dan Ambiguitas Fonetik dalam Bahasa Mahalabiu. Homonimi adalahbentuk kata yang memiliki makna yang berbeda tetapi pelafalan atau ejaannyasama dan ambiguitas adalah kemampuan mengekspresikan lebih dari satupenafsiran. Dalam hal ini berkaitan dengan mahalabiu yang cenderungmenimbulkan makna ganda dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif yang bersifat deskriptif.Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan teknik rekaman.Adapun yang menjadi objek penelitian ialah masyarakat asli suku Banjar yangtinggal di desa Alabio. Dalam wacana mahalabiu terdapat beberapa bentukhomonimi, yaitu: “maharakan, tarap, langgar, Pagat, tinjak, maling, haur,dikalang, pusat, nyawa, dan kuitan”. Selain itu, ada pula homonimi yang bersifathomofoni dan homonimi yang bersifat homograf. (1) Homofoni merupakan bunyiyang sama tetapi berbeda tulisan dan maknanya, yaitu: “maharumi (maharu mi),kadada (ka dada), dan anakutu (anakku tu)”; dan (2) homografi dalam mahalabiuterjadi akibat dari penyatuan kosakata dalam pelafalan fonetik, yaitu “bakicap”.Selain itu, dalam pemakaian katamahalabiu rata-rata mengandung makna gandahal ini terjadi dikarenakan pemakaian kata homonimi, sedangkan konteks dalampercakapan tidak jelas sehingga muncul ketaksaan.Kata-kata kunci:homonimi, ambiguitas fonetik, mahalabiu
PELANGGARAN MAKSIM TUTUR DALAM PEMILIHAN CALON PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2019 (VIOLATION OF THE SPEECH ACT MAXIM IN THE PRESIDENTIAL CANDIDATES ELECTION DEBATE OF THE REPUBLIC OF INDONESIA IN 2019) Novi Paraswanty
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 10, No 2 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v10i2.9373

Abstract

AbstractViolation of the speech maxim in the Presidential Candidates Election Debate of theRepublic of indonesia In 2019.This research was aimed at describing the forms of violationof the speech act maxim and describing the functions of violationofspeech act maxim in thepresidential candidate election debate of the Republic of Indonesia in 2019. This research wasqualitative, and conducted by using the descriptive method. The soutce of data was thePresidential Candidate Election Debate of the Republic of Indonesia in 2019. The researchresults of speech maxim violation in the Presidential Candidate Election Debate of theRepublic of Indonesia in 2019 consist of 5 research problems, which are: (1) the form ofquantity of maxim violation, (2) the form of quality of maxim violation, (3) the form of relevanceof maxim violation, (4) the form of method of maxim violation, and (5) the functions of speechacts of maxim violation. The form of quantity maxim violation consists of statements containinganswers that comprise the information needed. The form of quality maxim violation consists ofstatements that contain answers which are less convincing, and contain answers which aresimilar or agree to the questions, and also contain answers which the evidence is not true. Theform of relevance maxim violation consists of statements which contain answers that are notrelevance with the questions and contain the contents of the correct answer but are notrelevance. The form of method maxim violation consists of statements which containambiguous answers, and contain long and wordy answers. The function of the speech acts hasfour functions: Representative function which consists of statements of affirmation, conclusion,and facts. Expressive function consists of statements of praise, difficulty, happiness, andmisery. Directive function consists of statements of ordering, advising, and commanding.Commissive function consists of statements of promise, rejection, and threat.Keywords:violation of speech maxim, debate AbstrakPelanggaran Maksim Tutur Dalam Debat Pemilihan Calon Presiden Republik IndonesiaTahun 2019. Tujuan pada penelitian ini untuk mendeskripsikan wujud pelangaran maksim danmendeskripsikan fungsi tindak tutur pelanggaran maksim dalam debat pemilihan calonPresiden Republik Indonesia tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif,dengan metode deskriptif. Sumber data penelitian ini ialah debat pemilihan calon PresidenRepublik Indonesia tahun 2019. Hasil penelitian dari pelanggaran maksim tutur dalam debatPemilihan Calon Presiden Republik Indonesia tahun 2019 ini terdiri dari lima rumusanmasalah yaitu : (1) wujud pelanggaran maksim kuantitas, (2) wujud pelanggaran maksimkualitas, (3) wujud pelanggaran maksim relevansi, (4) wujud pelanggaran maksim cara, dan(5) fungsi tindak tutur pelanggaran maksim. Wujud pelanggaran maksim kuantitas terdiri daripernyataan yang mengandung jawaban yang melebihi informasi yang dibutuhkan. Wujudpelanggaran maksim kualitas berupa pernyataan yang mengandung jawaban yang kurangmeyakinkan, mengandung jawaban yang sama atau sependapat, dan mengandung jawabanyang bukti kebenarannya tidak benar. Wujud pelanggaran maksim relevansi terdiri daripernyataan yang mengandung jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan, danmengandung isi jawaban yang benar tapi tidak sesuai. Wujud pelanggaran maksim cara terdiridari pernyataan yang mengandung jawaban yang ambigu, dan mengandung jawaban panjanglebar, bertele-tele. Fungsi tindak tutur memiliki empat fungsi yaitu: Fungsi representatif yangterdiri dari pernyataan penegasan, kesimpulan, fakta. Fungsi ekspresif terdiri dari pernyataanmemuji, kesulitan, kesenangan, kesengsaraan. Fungsi direktif terdiri dari pernyataanmenyuruh, memberi saran, perintah. Fungsi komisif terdiri dari pernyataan janji, penolakan,ancaman.Kata-kata kunci: pelanggaran maksim tutur, debat
KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN DARING BERBASIS KEKOOPERATIFAN DAN KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PERKULIAHAN BAHASA INDONESIA (THE EFFECTIVENESS OF LANGUAGE POLITENESS AND COOPERATIVENESS-BASED ONLINE LEARNING MODEL IN THE INDONESIAN LANGUAGE LECTURE) Dina Mardiana
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 11, No 1 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v11i1.10569

Abstract

Abstract The Effectiveness of Language Politeness and Cooperativeness-Based Online Learning Model in The Indonesian Language Lecture. In general, the online learning model in the implementation of lectures during the 2019 corona virus disease (Covid-19) pandemic is more focused on the use of digital learning strategies or application devices which are used as learning media. In fact, effective communication strategies in lecture activities should also receive special attention. The use of polite and cooperative language in the communication is one of the factors supporting the success of the online lecture process. This study aims to describe the effectiveness of language politeness and cooperativeness-based online learning model in the Indonesian Language Lecture at the PGSD Study Program. The effectiveness is measured by the level of student learning outcomes throughout the lecture. As many as 40 students of the fourth semester of the 2019/2020 academic year were used as the data source in the implementation of this research. The research method used was the R&D method with one-group pretest-posttest design which was carried out in three treatments. The result of data analysis shows pretest-posttest statistical analysis indicates p=0.000 where this value is lower than Sig. 0.05 so that Ho is rejected. It can be concluded that the language politeness and cooperativeness-based online learning model is effective to be used in the Indonesian Language lecture at the PGSD Study Program. Key words: online learning models, language cooperativeness, language politeness, Indonesian language lecture. Abstrak Keefektifan Model Pembelajaran Daring Berbasis Kekooperatifan dan Kesantunan Berbahasa dalam Perkuliahan Bahasa Indonesia. Secara umum, model pembelajaran daring pada pelaksanaan perkuliahan di masa pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19) ini lebih terfokus pada penggunaan strategi pembelajaran era digital ataupun perangkat aplikasi yang digunakan sebagai media belajarnya. Padahal, strategi berkomunikasi yang efektif dalam kegiatan perkuliahan hendaknya juga mendapat perhatian khusus. Penggunaan bahasa yang santun dan kooperatif saat berkomunikasi merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan proses perkuliahan secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keefektivan penggunaan model pembelajaran daring berbasis kesantunan dan kekooperativan berbahasa dalam perkuliahan Bahasa Indonesia pada Program Studi PGSD. Keefektivan diukur dari tingkat hasil belajar mahasiswa pada perkuliahan tersebut. Sebanyak 40 orang mahasiswa semester IV tahun akademik 2019/2020 sebagai sumber data dalam pelaksanaan penelitian ini. Metode penelitian yang digunakan adalah metode R&D dengan desain model eksperimen one-group pretest-posttest design yang dilaksanakan dalam tiga kali treatment. Berdasarkan hasil analisis pada data nilai pretest dan posttest hasil belajar mahasiswa maka diperoleh hasil analisis statistik Pretest-Posttest Topik I, Topik II, dan Topik III masing-masing p=0.000 yang menyatakan p<0,05 sehingga Ho ditolak. Dengan demikian, model pembelajaran daring berbasis kekooperativan dan kesantunan berbahasa efektif digunakan untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam perkuliahan Bahasa Indonesia di Program Studi PGSD. Kata-kata kunci: model pembelajaran daring, kekooperatifan berbahasa, kesantunan berbahasa, perkuliahan bahasa Indonesia.
PERSUASIF PADA TUTURAN NADIEM MAKARIM (MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN) DALAM MENYAMPAIKAN KEBIJAKAN (PERSUASIVE SPEECH OF NADIEM MAKARIM (MINISTER OF EDUCATION AND CULTURE) IN DELIVERING POLICY) Noranisa Noranisa
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 11, No 1 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v11i1.10564

Abstract

Abstract Persuasive Speech of Nadiem Makarim (Minister of Education and Culture) in Delivering Policy. This study aims to describe the persuasive speech forms and persuasive patterns in the speeches of the Minister of Education and Culture in delivering policies. This research use a qualitative approach and descriptive method. Data collected by documentation techniques. The data obtained from this study in the form of words or series of words referring to persuasive speech. Data sources are twenty videos of the Minister of Education and Culture. The results showed that the forms of persuasive speeches delivered by the Minister of Education and Culture when delivering policies, are: (a) persuasive speech when inviting; (b) persuasive speech when giving mandatory; (c) persuasive speech when persuading; (d) persuasive speech when convincing and (e) persuasive speech when suggesting to the audience. Based on these forms of speech, the forms of a persuasive speech for inviting and persuading are more frequently used by the Minister of Education and Culture. The patterns in persuasive speeches spoken by the Minister of Education and Culture include (a) patterns of problem-solving in relation to the policy of free learning; (b) the causal pattern in relation to the causes of Indonesia being unable to progress and to the plan of 100 days; (c) the pros and cons patterns in relation to the impact of technological development; and (e) the patterns of motived orders in relation to attracting and focusing the attention of youth, as well as satisfying the motivational needs of youth regarding success. Based on these persuasive speech patterns, patterns of problem-solving and those of the motived orders are widely used by the Minister of Education and Culture to convince the public when delivering their programs. Keywords: speech forms, patterns, persuasifonAbstrak Persuasif pada Tuturan Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) dalam Menyampaikan Kebijakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk tuturan persuasif dan pola-pola persuasif pada tuturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam menyampaikan kebijakan.. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Data yang diperoleh dari penelitian ini berupa kata atau rangkaian kata yang menjadi tuturan persuasif. Sumber data diperoleh dari dua puluh video menteri pendidikan dan kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk tuturan persuasif yang terdapat pada tuturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam menyampaikan kebijakan, yakni: (a) tuturan persuasif yang bersifat mengajak; (b) tuturan persuasif yang bersifat perintah; (c) tuturan persuasif yang bersifat bujukan; (d) tuturan persuasif yang bersifat meyakinkan serta (e) tuturan persuasif yang bersifat saran. Berdasarkan bentukbentuk tuturan tersebut, bentuk tuturan yang lebih banyak digunakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah bentuk tuturan persuasif yang bersifat mengajak dan membujuk. Pola-pola dalam pidato persuasif yang dituturkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meliputi: (a) pola pemecahan masalah, berupa kebijakan merdeka belajar; (b) pola sebab-akibat berupa penyebab Indonesia tidak bisa maju dan rencana 100 hari; (c) pola pro-kontra berupa dampak perkembangan teknologi, serta (e) pola urutan bermotif berupa menarik dan memusatkan perhatian pemuda, serta pemuasan kebutuhan motivasional pemuda mengenai kesuksesan. Berdasarkan pola-pola pidato persuasif tersebut, pola persuasif yang banyak digunakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk meyakinkan masyarakat ketika menyampaikan program-programnya adalah pola pemecahan masalah dan pola urutan bermotif. Kata-kata kunci: bentuk tuturan, pola, persuasif
KONSEP POLA HIDUP MASYARAKAT DALAM PETATAH PETITIH MINANGKABAU DENGAN PENDEKATAN INDIGENIUS (THE CONCEPTION OF COMMUNITY LIFE IN PETATAH PETITIH MINANGKABAU WITH INDIGENEOUS APPROACH) Mega Febriani Sya Zuriyati Zuriyati dan Siti Gomo Attas
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 11, No 1 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v11i1.10559

Abstract

Abstract The Conception of Community Life in Petatah Petitih Minangkabau with The Indigeneous Approach. This study aims to identify the Minangkabau conceptions values as depicted in the petatah petitih Minang (proverb). This research examines Minang Proverb with the Indigenous Psychology approach. Qualitative research methods, describing, interpreting the concept of values in the Minangkabau community which is illustrated by the Minang proverb. The data collection technique used is desk research and interview. Sources of literature study are from the Minangkabau Adat textbook obtained from the Rumah Gadang Minangkabau pavilion in Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta; the results of previous studies / research, and relevant information from online mass media. Online Interview was conducted with the Chief Advisor of the Bundo Kanduang Council Organization Advisor Solok City, West Sumatra. The results show that there are ten values or Minangkabau life concept which are contained in the Minang proverb which is inherent in the Minang identity, namely; hiduik baraka, baukue jo bajangko; baso basi –malu jo sopan; tenggang raso; loyal; fair; thrifty; watchful; braveness; wise diligent and humble. Key words: Minangkabau conceptions, Minang proverb, Indigenous psychology Abstrak Konsep Pola Hidup Masyarakat dalam Petatah Petitih Minangkabau dengan Pendekatan Indigenius. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi konsepsi nilai-nilai adat yang berkaitan dengan pola hidup masyarakat Minangkabau (Minang) yang tergambar dalam Petatah Petitih (pepatah) Minang. Penelitian ini mengkaji psikologi yang lekat pada budaya adat Minangkabau yang tertuang dalam Pepatah Minang dengan pendekatan Indigenous Psychology (Psikologi Indigenius). Metode penelitian kualitatif, yakni menggambarkan, menafsirkan konsepsi nilai-nilai adat pada masyarakat Minangkabau yang tergambar pepatah Minang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara studi kepustakaan (desk research) dan wawancara. Sumber studi kepustakaan adalah dari buku teks Adat Minangkabau yang diperolah dari anjungan Rumah Gadang Minangkabau di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta; hasil kajian/penelitian sebelumnya, dan informasi yang relevan dari media massa daring. Wawancara dilakukan kepada Ketua Penasehat Organisasi Bundo Kanduang Kota Solok Sumatera Barat secara daring. Hasil menunjukan terdapat sepuluh nilai atau konsep pola hidup masyarakat Minang yang tertuang dalam pepatah minang yang melekat pada jati diri orang Minang yakni; hiduik baraka, baukue jo bajangko; baso basi-malu jo sopan; tenggang raso; setia; adil; hemat cermat; waspada; berani karena benar; arif bijaksana; rajin dan rendah hati. Kata-kata kunci: nilai budaya Minangkabau, pepatah Minang, psikologi indigenius
ANALISIS WACANA KRITIS PADA PIDATO POLITIK MANTAN KETUA UMUM PARTAI GOLKAR ABURIZAL BAKRIE (CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS ON POLITICAL SPEECH BY THE FORMER HEAD OF GOLKAR, ABU RIZAL BAKRIE) Herlina Yuni Astuti
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 10, No 2 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v10i2.9374

Abstract

AbstractCritical Discourse Analysis on Political Speech by The Former Head of Golkar,Abu Rizal Bakrie. Discourse is a unit of language based on words used tocommunicate in social contexts. Therefore, it cannot be denied that language isan effective tool in all aspects of life, including on the political stage. This studyaims to analyze the structure of the political speech of the former chairman of theGolkar Party, Aburizal Bakrie, entitled "Flowing But Not Drifting". The type ofthis research is descriptive qualitative with the Van Dijk's model of criticaldiscourse analysis. The results of this study indicate that the macro structure ofthe ARB speech text is "Flowing But Not Drifting". In the study of the textsuperstructure, ARB's speech was arranged in a simple way which then becamea strategy in delivering a discourse in front of the cadres. The final element ofvan Dijk's critical discourse analysis study is the micro or semantic structure.The ARB speech consists of background elements, details, presuppositions andnominalization in the semantic section. The use of pronouns, and the tenses usedare active and passive sentences, and tend to use aspects of conditionalcoherence. ARB also tends to use diction in a style that leads to the use oflanguage that is simple and easy to understand because it starts the speech bygiving greetings, thanks and also insertion of a pantun, which is understood as away to give a more positive nuance to the Golkar Party.Key words: CDA, speech, politics, Golkar, ARB AbstrakAnalisis Wacana Kritis Pada Pidato Politik Mantan Ketua Umum PartaiGolkar Aburizal Bakrie. Wacana merupakan satuan bahasa berdasarkan katayang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Oleh karena itu,tidak bisa dipungkiri lagi bahwa bahasa adalah alat yang efektif dalam segalaaspek kehidupan termasuk dalam panggung politik. Penelitian ini bertujuanuntuk menganalisis struktur pidato politik mantan ketua umum Partai Golkar,Aburizal Bakrie, yang berjudul “Mengalir Tapi Tak Hanyut”. Jenis penelitian iniadalah deskriptif kualitatif dengan metode analisis wacana kritis model Van Dijk.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa struktur makro teks pidato ARBadalah “Mengalir Tapi Tak Hanyut”. Pada kajian sisi superstruktur teks, pidatoARB tersusun secara sederhana yang kemudian menjadi sebuah strategi dalammenyampaikan suatu wacana di hadapan para kader. Elemen terakhir darikajian analisis wacana kritis oleh van Dijk adalah struktur mikro atau semantik.Pidato ARB terdiri dari elemen latar, detail, pra-anggapan dan nominalisasipada bagian semantik. Penggunaan kata ganti, dan bentuk kalimat yangdigunakan adalah kalimat aktif dan pasif, serta cenderung menggunakan aspekkoherensi kondisional. ARB juga cenderung menggunakan diksi dengan gayayang mengarah kepada penggunaan bahasa yang sederhana dan mudahdipahami karena mengawali pidato dengan memberi salam, ucapan terima kasihdan juga disisipi sebuah pantun, yang mana hal tersebut dipahami sebagai carauntuk memberikan nuansa yang lebih positif atas Partai Golkar.Kata-kata kunci:AWK, pidato, politik, Golkar, ARB
TUTURAN RITUAL MALABUH PADA MASYARAKAT BANJAR KALIMANTAN SELATAN (RITUAL SPEECH MALABUH IN BANJAR COMMUNITY OF SOUTH KALIMANTAN) Raudatul Munawwarah Rusma Noortyani
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 11, No 1 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v11i1.10565

Abstract

Abstract Ritual Speech Malabuh In Banjar Community of South Kalimantan. This study aimed to determine the structure, function, and to analyze the ritual speech of malabuh meaning in Banjar community, South Kalimantan. In examining this problem, researchers used a qualitative research with descriptive method. Sources of data in this study were some data of ritual speech that obtained from 10 informants who have experience in performing malabuh ritual. Data collection techniques used interview through recording the spoken speech by informants. Data analysis used transcription, identification, classification, and inference of data to determine the structure, function, and meaning of ritual speech. The result of the research concludes that the structure of the malabuh ritual speech has a structure consisting of one (1) verse, which is a maximum of 7 lines and a minimum of 1 line. This ritual speechs have the complete sentence structure and have structural elements consisting of greeting, intention, and purpose. Ritual speech of malabuh was functioned as an introduction or a tool to invoke God's power, either directly or through an intermediary by the mystical crocodile which is believed have the power to provide protection or to eliminate the disturbance. The ritual speech that analyzed with hermeneutic approach performed significantly as a communication medium for serving malabuh ritual offerings. Key words: malabuh, ritual speech, mystical crocodile, banjar community Abstrak Tuturan Ritual Malabuh pada Masyarakat Banjar Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui struktur, fungsi, dan menganalisis makna tuturan ritual malabuh pada masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan. Dalam mengkaji masalah ini peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah data tuturan ritual yang didapat dari 10 informan yang memiliki pengalaman melakukan ritual malabuh. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara melalui perekaman dan pencatatan tuturan lisan yang diucapkan oleh informan. Analisis data yang digunakan dengan pentraskripsian data, pengidentifikasian data, pengklasifikasian data, dan penyimpulan data untuk mengetahui struktur, fungsi, dan makna tuturan ritual malabuh. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa struktur tuturan ritual malabuh memiliki struktur yang terdiri dari terdiri dari satu (1) bait, dimana berjumlah paling banyak 7 baris dan paling sedikit 1 baris. Tuturan ritual malabuh ini memiliki struktur kalimat yang lengkap dan memiliki unsur pembangun struktur yang terdiri dari salam pembuka, unsur niat, dan unsur tujuan. Fungsi tuturan ritual malabuh sebagai pengantar atau alat untuk memohon kekuasaan Tuhan, baik secara langsung maupun melalui perantara buaya gaib yang dipercaya memiliki kekuatan untuk memberikan perlindungan atau dihilangkan gangguan yang sedang dihadapi. Tuturan ritual yang dianalisis menggunakan pendekatan hermeneutik bermakna sebagai media komunikasi untuk menyajikan sajian ritual malabuh tersebut. Kata-kata kunci : malabuh, tuturan ritual, buaya gaib, masyarakat banjar
PANDANGAN DUNIA DEWI ANGGRAENI DALAM NOVEL MY PAIN MY COUNTRY: KAJIAN STRUKTURALISME GENETIK LUCIEN GOLDMANN (DEWI ANGGRAENI’S WORLD VIEW IN MY PAIN MY COUNTRY: LUCIEN GOLDMANN GENETIC STRUCTURALISM STUDY) Derri Ris Riana
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 11, No 1 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v11i1.10571

Abstract

Abstract Dewi Anggraeni’s World View in My Pain My Country: Lucien Goldmann Genetic Structuralism Study. This research aims to uncover human facts, collective subject, the structure of the novel My Pain My Country, which illustrates the character's problems, both concerning other characters and the environment, and the worldview expressed by the author as part of a social class group supported by Dewi Anggraeni's authorship helped to reconstruct the author's worldview. The analysis uses genetic structuralism with a dialectical method based on the concept of understanding and explanation in finding coherence of meaning. The data source is Dewi Anggraeni’s novel ”My Pain My Country”. The results showed that the author described “My Pain My Country” as human facts through geographical, sociological, psychological, historical, and ideological facts. Dewi Anggraeni describes the collective subject in two different social classes, namely the Chinese ethnic group to be described as the capitalists and indigenous people as the proletarians. The structure of “My Pain My Country” was constructed by relating the characters and the environment. The author represented the relationship between the characters in human opposition. Meanwhile, the relationship between the characters and the environment were represented through natural, social and cultural oppositions. The structure of the novel reflected the Dewi Anggraeni’s worldview as a form of sympathy, not only towards the victims of the 1998 tragedy from Chinese but also towards the lower middle class of indigenous people; and world views on nationalism, justice, and Chinese integration. Key words: genetic structuralism, human fact, world view Abstrak Pandangan Dunia Dewi Anggraeni dalam Novel My Pain My Country: Kajian Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fakta kemanusiaan; subjek kolektif; struktur novel My Pain My Country yang menggambarkan permasalahan tokoh, baik dalam hubungannya dengan tokoh lain maupun dengan lingkungannya; dan pandangan dunia yang diekspresikan pengarang sebagai bagian dari kelas sosial yang didukung oleh jejak kepengarangan yang turut merekonstruksi pandangan dunia Dewi Anggraeni. Analisis menggunakan strukturalisme genetik dengan metode dialektik yang berdasarkan pada konsep pemahaman dan penjelasan dalam menemukan koherensi makna. Sumber data adalah novel My Pain My Country karya Dewi Anggraeni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel My Pain My Country sebagai fakta kemanusiaan digambarkan pengarang melalui fakta geografis, sosiologis, psikologis, historis, dan ideologis. Subjek kolektif dimunculkan Dewi Anggraeni dalam dua kelas sosial yang berbeda, yaitu kelompok etnis Tionghoa yang digambarkan sebagai kaum kapitalis dan pribumi sebagai proletar. Struktur novel My Pain My Country dibangun oleh hubungan antartokoh, serta tokoh dan lingkungan. Hubungan tokoh dan tokoh digambarkan dalam oposisi manusia. Sementara itu, hubungan tokoh dan lingkungan digambarkan melalui oposisi alamiah, sosial, dan kultural. Struktur novel itu merefleksikan pandangan dunia Dewi Anggraeni sebagai wujud keprihatinan, baik terhadap korban tragedi 1998 dari Tionghoa maupun kelompok menengah ke bawah, serta pandangan tentang nasionalisme, keadilan, dan integrasi Tionghoa. Kata-kata kunci: strukturalisme genetik, fakta kemanusiaan, pandangan dunia
REFLEKSI KONFLIK SOSIAL ANTARTOKOH DALAM NOVEL NEGERI DI UJUNG TANDUK KARYA TERE LIYE(REFLECTION OF SOCIAL CONFLICT BETWEEN CHARACTERS IN THE NOVEL“NEGERI DI UJUNG TANDUK” BY TERE LIYE) Rika Marsela
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 10, No 2 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v10i2.9375

Abstract

Reflection of Social Conflict between Characters in the Novel “Negeri di UjungTanduk” By Tere Liye. This study aims to reflect and explained back the socialconflict between characters in the novel dalam novel “Negeri di Ujung Tanduk”by Tere Liye by using approaches and types qualitative research. Data in the formof sentences and discourse contained in novel quotations. The method used in thisresearch is descriptive methode. Based on the results that have been found, themore dominant characteristics of social conflict are manifest social conflicts.Social conflict are more common in the Thomas who have open conflict with otherfigures. Social conflict experiendced by the characters have different place, time,and atmosphere settings. Social conflict occurs more dominantly to Thomasbecause the initial conflict that occurs is rooted in the story of Thomas’s past.Keywords: reflection, characteristic of social conflict, novel AbstrakRefleksi Konflik Sosial Antartokoh dalam Novel “Negeri di Ujung Tanduk”Karya Tere Liye. Penelitian ini bertujuan untuk merefleksikan dan memaparkankembali konflik sosial antartokoh dalam novel “Negeri di Ujung Tanduk” karyaTere Liye dengan menggunakan pendekatan dan jenis penelitian kualitatif. Databerbentuk kalimat dan wacana yang terdapat dalam kutipan novel. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Berdasarkan hasil yangtelah ditemukan, karekteristik konflik sosial yang lebih dominan yaitu konflik sosialmanifes. Konflik sosial tersebut lebih banyak terdapat pada tokoh Thomas yangmemiliki konflik secara terbuka dengan tokoh yang lainnya. Konflik sosial yangdialami tokoh-tokoh dalam novel tersebut memiliki latar tempat, waktu, dansuasana yang berbeda-beda. Konflik sosial terjadi lebih dominan kepada tokohThomas karena konflik awal yang terjadi berakar dari kisah masa lalu Thomas.Kata-kata kunci:refleksi, karakteristik konflik sosial, novel

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2025): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 1 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 13, No 2 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 13, No 1 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 12, No 2 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 12, No 1 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 11, No 2 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 11, No 1 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 10, No 2 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 10, No 1 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 9, No 2 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 8, No 2 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 8, No 1 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 7, No 2 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 7, No 1 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 6, No 2 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 6, No 1 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 5, No 2 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 5, No 1 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 4, No 2 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 4, No 1 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 3, No 2 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 3, No 1 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) More Issue