cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial
ISSN : 23392800     EISSN : 25812666     DOI : -
Core Subject : Social,
Al Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Islam adalah jurnal berkala ilmiah yang dikelola oleh peer-review, di mana ilmuwan lain (peer-review) mengevaluasi nilai artikel dan kredibilitas sebelum diterbitkan. Jurnal ini didedikasikan untuk menerbitkan artikel ilmiah dalam studi pendidikan Islam dari berbagai aspek dan perspektif serta tema-tema yang telah ditentukan.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 05 (2015)" : 10 Documents clear
IMPLEMENTASI PENGALOKASIAN ZAKAT PADA ASHNÂF FÎ SABÎLILLÂH (STUDI IJTIHAD ULAMA KLASIK DAN KONTEMPORER) Eka Sakti Habibullah
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 3, No 05 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2048.349 KB) | DOI: 10.30868/am.v3i05.139

Abstract

Zakat adalah  kewajiban syar’i  yang banyak dibahas  dalam  kitab- kitab fiqh turôts(klasik) maupun  kitab-kitab  fiqh mu’âshir  (kontemporer).  Dalam  diskursus  tentang zakat tentu sisi khilâfiyah fiqhiyyah menjadi sesuatu keniscayaan  sebagaimana terjadi dalam diskursus kewajiban  syar’i lainnya. Salah satu yang menjadi ranah perbedaan tersebut adalah masalah ashnaf bagi mustahiq zakat khususnya mengenai golongan fii sabilillah.  Banyaknya perbedaan  pendapat  mengenai  penafsiran  dari  golongan  ini memunculkan minat penelitian  untuk mengkaji lebih jauh  tentang  hal ini. Pendapat yang râjih (kuat) adalah  pendapat pertengahan  berdasarkan  nushûh syari’yah (dalil- dalil syar’i) dan qiyâs tidak memperluas makna fî sabîlillâh   sehingga tidak masuk didalamnya seluruh amal taqarrub  dan semua maslahat umum, serta tidak membatasi maknanya sebatas jihad qitâl saja. Pendapat ini merupakan gabungan antara  uslûb al- hashr (metode pembatasan) sebagaimana  yang ada di dalam surat at-taubah  ayat 60 dan perluasan  makna dalam satu kata yang terdapat  di dalam nushûs al-qurân   dan sunnah. Key Word:  Ashnaf zakat, Fi Sabilillah, Qiyas, Tafsir kontemporer.
TAQNIN AL-AHKAM; SEJARAH, KEABSAHAN DAN TANTANGAN DI INDONESIA Imam Yazid
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 3, No 05 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.228 KB) | DOI: 10.30868/am.v3i05.140

Abstract

Taqnin al-Ahkam adalah  mengumpulkan hukum dan  kaidah  penetapan  hukum yangberkaitan  dengan  masalah  hubungan  sosial,  menyusunnya secara  sistematis,  serta mengungkapkannya dengan  kalimat-kalimat  yang  tegas,  ringkas,  dan  jelas  dalam bentuk bab, pasal,  dan atau  ayat yang memiliki nomor secara  berurutan,  kemudian menetapkannya   sebagai   undang-undang   atau   peraturan,    lantas   disahkan   oleh pemerintah,   sehingga   wajib   para    penegak   hukum   menerapkannya   di   tengah masyarakat.  Sebagai permasalahan  yang baru  pada  dunia Islam, ia  menjadi bahan pertentangan. Pihak yang mendukung berpendapat bahwa taqnin ahkam adalah bentuk transformasi  hukum Islam yang dihadapkan  pada  hukum negara  modern. Sementara pihak yang tidak setuju berpendapat bahwa ia akan menjadikan hukum Islam menjadi stagnan dan tidak memiliki sifat dinamis. Terlepas dari perbedaan  pendapat tersebut, saat  ini umat Islam khususnya di Indonesia telah mengesahkan beberapa  peraturan perundang-undangan  yang  memiliki nuansa  syariah  Islam.  pada  beberapa  wilayah yang memiliki otonomi khusus seperti Aceh telah menjadikan qanun sebagai  sumber hukum Islam. Key Word:  Qanun, Taknin Ahkam, Hukum Positif Indonesia, Legeslasi.
FIQH INDONESIA: TRANSFORMASI DAN SINKRONISASI FIQH WASIAT DAN HIBAH DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM DI INDONESIA Abu Syhabudin
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 3, No 05 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1544.34 KB) | DOI: 10.30868/am.v3i05.135

Abstract

Compilation of Islamic Law (CIL) on the testament and grant it describes the sourcematerial of Fiqh. In particular  testament and grant are discussed in Fiqh. The Fiqh of testament and grants with CIL there are similarities and differences. In the Fiqh, testament and  grant  the discussion based  on the theory of knowledge, while the discussion CIL has been transformed into chapters, chapter and verse, these changes are shaped like laws and regulations (qanûn). Articles in CIL about testament and grant suspected to be the transformation of Fiqh as a result of diligence Indonesian clerics.  However,  there  are   several  chapters   and  verses  in  CIL  are   not  in synchronous (as appropriate)  with the Fiqh. This study aims to examine the transformation of matter Fiqh on the testament and grant to the material provisions contained  in  CIL, analyzing  synchronization  between CIL materials  with Fiqh, knowing synchronization CIL with the legal system in Indonesia, knowing the shape transformation on the testament and grant to the articles in CIL, and analyzing the Indonesian scholars diligence in transforming the material in the articles of CIL: age21 years, a testament to the heirs, grant one-third property, and the calculation of the grant from parents to children as inheritance. Based on the results of research conducted by the authors, it can be concluded that: 1) The articles contained in CIL about testament and grants is the transformation of Fiqh. 2) There is synchronization between the material articles  of testament and grants  in CIL with Fiqh and legal system in Indonesia. 3) There are two forms of transformation, namely a) The textual transformation  that  comes from the  book of Fiqh.  b) Transformation  contextual sourced from Indonesian diligence scholars, including: provision of age 21 years, a testament to the heirs, grant one-third, and the calculation of the grant as a legacy. Key Word: Fiqh, Transformasi, Sinkronisasi, Wasiat, Hibah
KONTEKSTUALISASI HUKUM ISLAM DI INDONESIA Muhammad Syakur Chudlori
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 3, No 05 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.232 KB) | DOI: 10.30868/am.v3i05.141

Abstract

Teks Al-Qur’an sudah jelas ia terkumpul dalam suatu mushhaf yang berisi 114 suratyang dimulai dari surat al-Fatihah sampai dengan surat al-Nas yang terdiri dari 30 juz. Nabi Muhammad  yang diutus sebagai nabi terakhir dan untuk seluruh umat telah wafat dan teks Al-Qur’an dengan  sendirinya   berhenti, namun al-waqa’i  (kejadian- kejadian) akan terus berlangsung, maka untuk itu penafsiran terhadap Al-Qur’an akan sangat   berperan.   Kontekstualisasi  hukum  Islam  adalah   salah   satu  metode  yang digunakan  oleh para  ahli  hukum Islam dalam  memahami ayat-ayat  Al-Qur’an dan hadits   Nabawi  berdasarkan   realitas   terkini.  Para   ulama  telah   mengembangkan bagaimana  hukum Islam harus senantiasa  up to date hingga bisa dilaksanakan kapan saja,  di mana saja  dan dalam keadaan  bagaimanapun  juga. Model kontekstualisasi hukum Islam dapat dilakukan dengan melakukan penafsiran dengan metode pendekatan yang didasarkan pada realitas dan perkembangan ilmu pengetahuan di dunia. Dengan ini diharapkan hukum Islam akan senantiasa  bisa langgeng seiring dengan perkembangan umat manusia. Key Word:  Kontekstualisasi Hukum, tafsir Ahkam, Fiqh, Indonesia.
PENYERAPAN HUKUM ISLAM PADA KOMUNITAS ADAT (STUDI ANTROPOLOGI HUKUM DI BADUY, KAMPUNG NAGA DAN MARUNDA PULO) Abdurrahman Misno
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 3, No 05 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1193.683 KB) | DOI: 10.30868/am.v3i05.136

Abstract

The first community to accept Islam was the tenant at the coastal areas of Sumatra,Java, Sulawesi, Kalimantan, Maluku and Nusa Tenggara. After that Islam disseminated to rural  areas  throughout  the country as  the consequence of their reception of Islamic law. However, the fact was not all Islamic law accepted and implemented,  because   they  already   have   customs  practiced   continuously  by hereditary generations long before the arrival  of Islam. Some custom in Indonesia, which still survive was practiced by indigenous community such as Baduy, Kampung Naga and Marunda Pulo. Research shows that the reception of Islamic law by the community of Baduy in the implementation of Islamic law marriage that is reading the creed of the Prophet  Muhammad Pbuh, the presence of dowry and marriage records  by KUA, especially  on  the  community of Outer  Baduy. Meanwhile the community of Inner Baduy has not been  accept the Islamic law a lot in the field of marriage.  Reception  in the field of inheritance was limited to the mention of the terms in Islamic inheritance, while the division still follow their customs that divide the estate  equally both boys and  girls.  While the community of Kampung Naga reception occurs in the majority of law and worship in particular  muamalah espescially in wedding. At issue still retain their inheritance patterns of inheritance according to their customs that divide the inheritance with equal parts between boys and  girls.  Kampung  Marunda  Pulo  reception  of  Islamic  law  in  worship  and muamalah.  Islamic law reception  process  occurs  due to internal  factors  (custom character and creed) and external (social interaction and the power of the state). Keywords:   Reception  of  Law,  Indigenous  Community,  Adat,  Baduy,  KampungNaga, Marunda Pulo and Theory Reception through Selection-modification.
KEDUDUKAN DAN KEWEWENANGAN PENGADILAN AGAMA DI INDONESIA Suherman Suherman
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 3, No 05 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.174 KB) | DOI: 10.30868/am.v3i05.142

Abstract

Peradilan  Agama telah ada di Nusantara jauh sejak zaman masa penjajahan Belanda.Bahkan menurut pakar sejarah peradilan, ia teah ada sejak Islam masuk ke Indonesia, yaitu melalui tahkim. Perubahan zaman telah membawa pasang surut perkembanganya hingga Indonesia merdeka. Ia disyahkan sebagai bagian dari sistem peradilan dengan UU No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan  Agama. Walaupun mengalami berbagai tantangan, namun PA masih bisa eksis hingga saat ini. Beralihnya PA menjadi bagian dari Mahkamah Agung memiliki dapak negatif dan positif. Dampak negatifnya adalah ia tidak lagi menjadi kewenangan Kementerian Agama sebagai induknya, sementara dampak positifnya adalah  secara  langsung  PA telah  diakui keberadaannya  sebagai bagian dari lembaga peradilan  di Indonesia. Saat ini kewenangan Pengadilan Agama tidak hanya dalam masalah  Nikah, Thalak, cerai  dan rujuk saja.  Ia juga mengadili masalah   persengketaan   ekonomi  syariah   di  Indonesia.   Berkembangnya  ekonomi syariah menjadikan PA semakin memiliki prospek di masa yang akan datang. Key Word:  Peradilan Agama, Kedudukan dan Wewenang, Ekonomi Syariah
KEPASTIAN HUKUM GADAI TANAH DALAM HUKUM ISLAM (TELAAH HUKUM GADAI ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN GADAI TANAH DI KABUPATEN BOGOR) Muhammad Sulaeman Jajuli
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 3, No 05 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1006.418 KB) | DOI: 10.30868/am.v3i05.137

Abstract

Fiduciary   is  a  usual  universal  sociological  phenomenon  that  occur  everywhereespecially in our country. In Indonesia society, it grows conventionally and based on habit that have occurred for generation to generation. Land fiduciary in Bogor district has done for long time. Practice  of land fiduciary that occurred was running without any document for legal certainty guarantee.  Meanwhile, academically legal certainty guarantee  is a theory that has not been developed yet by Islamic law jurist. Based on research  results, concluded that 1. Implementation of rule according  to Islamic law fiduciary land must meet the requirements and harmonious elements of fiduciary. Terms pledge the land is; can be handed over, useful, or fixed assets can be moved, not mixed up with someone else's property, and land is fiduciary owned by râhin.  The pillars pledge is âqid (presence of râhin and murtahin), al-ma'qûd (marhun), al-ma'qûd 'alaih (marhûnbih) and shîghat. Practice fiduciary land in legal term in Islam is called bay al- wafa' not rahn because the terms and pillars contained in rahn accordance  with the rules  in  bay al-wafa.  2.  The definition of legal  certainty  in  the  implementation of fiduciary land under Islamic law is evidence in the form of written documents in the form of stamp duty, or paper sealed and the presence of witnesses from both parties’ murtâhin  and  râhin.  For  the  Bogor  regency  society,legal  certainty  is  considered sufficient to the existence of an element of trust between two sides (murtahin and râhin) without the use of evidence or documents and witnesses. 3. Based to the study of the law of Islamic fiduciary land, practices of fiduciary land in Bogor regency society belong to the category imperfect contract.  Said to be imperfect because of the implementation agreement contained elements of usury which is forbidden by the religion that is taking advantage  of more than  possession lent. Besides the practice  of fiduciary in Bogor regency become less perfectly even invalid because it is contrary to the commands of Allah in the ◌Al-Qur'an about the principle of 'faktubuh' (Surah al-Baqarah/2:282) Key Word: Kepastian Hukum, Hukum Islam, Gadai Tanah, Bogor
HARMONISASI HUKUM ADAT DAN HUKUM ISLAM BAGI PENGEMBANGAN HUKUM NASIONAL DI INDONESIA Abdurrahman Misno
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 3, No 05 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (989.161 KB) | DOI: 10.30868/am.v3i05.143

Abstract

Indonesia adalah  sebuah negara  yang menganut pluralisme hukum, ada  tiga sistemhukum yang hidup di negeri  ini yaitu hukum adat,  hukum Islam dan  hukum Barat (Belanda). Ketiganya merupakan sistem hukum yang membentuk hukum nasional  di Indonesia.  Dalam  rangka  membangun  sistem  hukum nasional  diperlukan  adanya harmonisasi  antara   ketiga  sistem  hukum tersebut.  Salah  satu  langkah  yang  bisa dilakukan untuk adalah dengan mengkaji secara mendasar nilai-nilai dasar dari sistem hukum tersebut. Upaya harmonisasi  dapat  dilakukan antara  hukum adat  dan hukum Islam, keduanya memiliki sifat dasar  yang elastis dan memberikan ruang bagi sistem hukum lainnya untuk saling mengisi. Sistem hukum adat memberikan ruang bagi sistem hukum Islam untuk saling melengkapi, demikian pula sebaliknya. Harmonisasi antara hukum adat  dan  hukum Islam diharapkan  akan  menjadi bahan  bagi  pembangunan hukum nasional di Idnonesia Key Word:  hukum adat, hukum Islam, harmonisasi hukum, hukum nasional
KRITIK HUKUM ISLAM TERHADAP UNDANG-UNDANG NO. 42 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN DI INDONESIA Sutisna Sutisna
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 3, No 05 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1311.186 KB) | DOI: 10.30868/am.v3i05.138

Abstract

According to Imam Al-Mawardi, Caliph, King, Sulthan, the Imamate or the head ofstate to replace prophetic institution in order to protect and regulate the religious life of the world. Al-Mawardi has set clear requirements for a head of state. Indonesia, which is one of the countries in the world with a majority Muslim population and the largest number in the world, heads  of State and  lifting mechanisms thought to follow the requirements of Islamic law. The results showed that the election of the head of state in Islam is done in ways that vary according to the circumstances. These differences can be understood as the dynamics of the election of Heads of State in Islam which will continue to take place according  to the roll  of time, circumstances, and conditions. Election of the president and vice president in Indonesia  has  undergone significant changes. In the Old Order and the New Order president and vice presidential election conducted by members of the Assembly. Meanwhile, since the Reform Era to the present election of president and vice president made directly by the people. Electoral system and the president and vice president of the terms of the president and vice president candidates in Indonesia as described in Law No. 42 of 2008 on the General Election of President and Vice President are in accordance with Islamic law. In fact, according to the author terms the president and vice president candidates contained in Law No. 42 of2008 was not only appropriate, but the adoption of Islamic law derived from the Quran and Al-Sunnah. Keyword:  Criticism, the selection mechanism, terms, heads of state, Islamic law, Act
HAK CIPTA PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Agus Suryana
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 3, No 05 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1121.679 KB) | DOI: 10.30868/am.v3i05.144

Abstract

Penelitian   ini  merupakan  riset  kepustakaan  (library   reseach)   yang  berupayamenjawab  persoalan  bagaimana  sebenarnya  Hak  Cipta  dalam  tinjauan  Syariah Islam, apakah  Islam mengakui adanya  hak cipta,  serta  bagaimana  prinsip  Islam dalam  melindungi hak cipta.  Data  diperoleh  dengan  menelaah  literatur-literatur kepustakaan, file-file digital terutama pada Maktabah Syamilah, Hadits Asy-Syarif dan Jami’ Fiqh Al-Islam, serta  situs-situs Open Library yang menyediakan akses buku-buku Islam klasik dan kontemporer.      Selain itu sebagai penguat data yang terkumpul dari  kajian  pustaka  dilakukan  pula  field  research     pada  Direktorat Jenderal   Hak  Kekayaan  Intelektual  di  Jakarta,   Perwakilan  Buseniss  Software Alliance Jakarta  dan Kantor IKAPI Pusat Jakarta.  Temuan penelitian menunjukkan bahwa dalam khazanah hukum Islam hak cipta dikenal dengan istilah Haq Al-Ibtikar yaitu hak atas suatu ciptaan yang pertama kali dibuat. Islam hanya mengakui dan melindungi karya cipta yang selaras dengan norma dan nilai yang ada di dalamnya. Jika karya cipta tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Islam, maka ia tidak diakui sebagai  "karya  cipta"  bahkan tidak ada  bentuk perlindungan  apapun  untuk jenis karya tersebut. Perlindungan terhadap hak cipta dalam Islam memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi agar  suatu karya cipta dapat diakui sebagai   hak kepemilikan atas harta,  yaitu: a).Tidak mengandung unsur-unsur haram di dalamnya, b). Tidak menimbulkan kerusakan di masyarakat, c). Tidak bertentangan dengan syariat Islam secara  umum. Hak cipta sebagai sebuah hak kepemilikan atas suatu manfaat akan berakhir  ketika pemiliknya melakukan akad  (transaksi),  baik akad  yang  bersifat tabaru' (sosial)  ataupun akan tijary (perdagangan). Key  Word:   Hak  Atas  Kekayaan  Intelektual,  Hak  Cipta,  Syariah,  Islam  danPembajakan.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2017 2017