cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 162 Documents
Membangun Makna Teologis Gotong Royong dalam Memperkuat Kebhinekaan Deasy Elisabeth Wattimena-Kalalo
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.197

Abstract

This article discusses the form of dialogue based on social relations as an effort to approach radical Islamic groups to maintain diversity in Indonesia country. It is a manifestation of the spirit of postmodern plurality in the context of the theology of religions. The aim of the problem of this research is how to maintain diversity with radical groups in the context of postmodern plurality and how connected this spirit is to the ecumenical procession. The author uses a literature study to analyze it. The spirit of postmodern plurality promotes the principle of mutual cooperation which mediates Christian groups for dialogue based on social relations with radical groups. This encouragement to build relationships with groups that keep their distance from Christianity requires an inherent cultural approach between the two and a spirit that unites as a nation. That way, dialogue with radical groups is not a necessity but a possibility to maintain diversity.        AbstrakArtikel ini membahas tentang bentuk dialog berbasis relasi sosial sebagai upaya mendekati kelompok Islam Radikal untuk menjaga kebhinekaan sebagai perwujudan semangat pluralitas postmodern dalam konteks berteologi agama-agama. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana menjaga kebhinekaan bersama kelompok radikal dalam konteks pluralitas postmodern dan seberapa terhubung semangat ini dengan arak-arakan ekumenikal. Penulis menggunakan studi pustaka untuk menganalisisnya. Semangat pluralitas postmodern mempromosikan kembali prinsip gotong royong yang mengantarai kelompok Kristen untuk dialog berbasis relasi sosial dengan kelompok radikal. Untuk membangun hubungan dengan kelompok yang menjaga jarak dengan Kekristenan dibutuhkan pendekatan budaya yang melekat di antara keduanya dan spirit yang mempersatukan sebagai bangsa. Dengan begitu, dialog dengan kelompok radikal bukanlah sebuah keniscayaan melainkan kemungkinan untuk menjaga kebhinekaan.
Ontologi Kristus dan Hubungannya dengan Soteriologi Yohanes Verdianto
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.200

Abstract

Controversies regarding Christology have occurred for centuries from the post-apostolic era to the present day, in which the main controversy lies in the nature of Christ, and not in the function of Christ. This article aims to find out the nature of Christ related to soteriology so that we can be sure that Jesus is the Savior that is fitting for human beings. This is a qualitative approached article using a descriptive historical and documentary research method. By considering a Bible reading on Hosea 13:4 explained that there is no Savior besides God, thus only a divinely perfect being could be a perfect offering to redeem human beings. Both divinity and humanity are needed for Christ to be an effective Savior because the Bible presents for Christ to be a substitutionary sacrifice, to unite with humanity, and for him to be humanities’ representative as the second Adam, to be their example and finally to be their mediator and priest.AbstrakKontroversi mengenai Kristologi telah terjadi selama berabad-abad dari era pasca-apostolik hingga saat ini, di mana isu utama adalah pada sifat Kristus, bukan pada fungsi Kristus. Kontroversi tentang kodrat Kristus selama inkarnasi-Nya selalu terkait dengan fungsi-Nya sebagai Juruselamat. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui sifat Kristus yang berkaitan dengan soteriologi, sehingga dapat dipastikan bahwa Yesus adalah Juruselamat yang cocok untuk manusia. Artikel ini merupakan pendekatan kualitatif yang menggunakan metode deskriptif historis serta penelitian dokumenter. Dengan mempertimbangkan pembacaan pada Hosea 13:4 yang menjelaskan bahwa tidak ada Juruselamat selain Tuhan, maka hanya sosok ilahi yang sempurna yang bisa menjadi persembahan sempurna untuk menebus manusia. Baik keilahian dan kemanusiaan diperlukan bagi Kristus untuk menjadi Juruselamat yang efektif karena Alkitab menyajikan bagi Kristus sebagai korban pengganti, untuk bersatu dengan umat manusia, dan baginya untuk menjadi perwakilan umat manusia sebagai Adam kedua, untuk menjadi teladan mereka dan akhirnya menjadi mediator dan imam mereka.
Berteologi Global dan Bermisi dalam Konteks: Sebuah Usulan Kontekstualisasi Kekristenan Masa Kini Tony Salurante
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.201

Abstract

This article shows that globalization has had a direct impact on Christiani-ty. Changes in the current context should encourage the church to see and think, realize and act according to its theological context. By being wisely aware of the current context of the church, this article invites the Church not to give up the values passed on by previous generations. Change in context remains biblical in theology. Nowadays theologies from different areas are able to form local theologies that have an openness to complement each other. By acknowledging that theology is an attempt at contextualization that has occurred since its inception. The thesis of this article is that globalization changes the way the church thinks about a contextual mission, which is to think glocally. Now is a potential momentum for the church to re-formulate its theologies by looking at the global context and biblical principles. The mission of the church will be effective and steadfast by studying faithfully the thoughts of every age while still adhering to biblical teachings..AbstrakArtikel ini menunjukkan bahwa globalisasi memiliki dampak langsung ter-hadap kekristenan. Perubahan konteks saat ini sepantasnya mendorong gereja untuk melihat dan memikiran, menyadari dan bertindak sesuai konteks ber-teologinya. Dengan menyadari konteks gereja saat ini dengan bijaksana, arti-kel ini mengajak Gereja untuk tidak melepaskan nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Berubah dalam konteks tetap biblikal dalam ber-teologi. Saat ini teologi dari berbagai wilayah yang berbeda namun mampu membentuk teologi lokal yang memiliki keterbukaan untuk saling melengka-pi, dengan mengakui bahwa berteologi adalah usaha kontekstualisasi yang telah terjadi sejak awalnya. Tesis dari artikel ini adalah globalisasi merubah cara berpikir gereja tentang misi yang kontekstual, yaitu berpikir secara glo-bal. Saat ini menjadi sebuah momentum yang potensial bagi gereja untuk merumuskan kembali teologinya dengan melihat kepada konteks global dan prinsip biblikal. Misi gereja akan efektif dan teguh dengan mempelajari setia pemikiran setiap zaman namun tetap memegang teguh aja-ran alkitabiah.
Makna Proselitisasi di Masa Intertestamental bagi Misi Gereja Masa Kini Paulus Purwoto
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.163

Abstract

This study aims to examine how proselytization means in an intertestamental state for contemporary mission activities. At that time the proselytization carried out by Palestinian Jews and diaspora Jews continued, resulting in a wave of religious conversions in Judaism called real proselytes (ger tsedeq) as well as people who fear Allah (passive proselytes). This study uses a qualitative approach with descriptive methods, in which the researcher tries to answer the research problem by looking for literary sources that correlate with the research problem. From this research, it can be concluded that proselytizing in the intertestamental era opened up opportunities for church missions in the New Testament era, as documented in the Acts of the Apostles where the apostles carried out missions with the main target of delivering the gospel to all nations, starting with carrying out missions for proselytes, so many of them believed.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana makna proselitisasi di ma-sa intertestamental bagi kegiatan misi masa kini. Pada masa itu proselitisasi yang dilakukan oleh orang Yahudi Palestina maupun Yahudi diaspora terus berjalan sehingga menghasilkan gelombang konversi religius pada agama Yudaisme yang disebut proselit sungguhan (ger tsedeq) maupun orang-orang yang takut akan Allah (proselit pasif). Penelitian ini menggunakan pendeka-tan kualitatif dengan metode deskriptif, di mana  peneliti  berusaha menja-wab permasalahan penelitian dengan mencari sumber-sumber literatur yang berkorelasi dengan masalah penelitian. Dari penelitian ini dapat disimpulkan proselititasi di masa intertestamental membuka peluang bagi misi gereja di era Perjanjian Baru, seperti terdokumentasi dalam Kisah Para Rasul di mana para rasul melakukan misi dengan target utama menyampaikan Injil bagi semua bangsa, bermula dengan melakukan misi bagi orang hasil proselit, sehingga banyak dari mereka yang menjadi percaya.
Menerapkan Konsep Hidup Menjadi Anak-anak Terang Berdasarkan Efesus 5:1-21 bagi Remaja GPdI Samiri, Serui, Papua Siska Arista Tino; Pestaria Happy Kristiana
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.204

Abstract

Youth are part of God's church. However, it cannot be denied that adolescence is known as a time of storms and pressure, which if not handled properly will make teenagers live in the wrong relationships and way of life. This article aims to provide an understanding of life as children of light according to Ephesians 5: 1-21 to the youth of GPdI in the Samiri Region, Serui, Papua, so that they realize that being a new human being must relate to life as bright children who have left their deeds. dark in the past. By using the interpretation of the text of Ephesians 5: 1-21, this research resulted in two things, namely: spiritual characteristics and personality characteristics.AbstrakRemaja adalah bagian dari gereja Tuhan. Namun tidak adapat dipungkiri bahwa masa remaja dikenal sebagai masa badai dan tekanan, yang jika tidak ditangani dengan baik akan membuat para remaja hidup dalam pergaulan dan cara hidup yang salah. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai hidup sebagai anak-anak terang menurut Efesus 5:1-21 kepada para remaja GPdI Wilayah Samiri, Serui, Papua, supaya mereka menyadari bahwa menjadi manusia baru haruslah berhubungan dengan hidup sebagai anak-anak terang yang meninggalan perbuatan gelap di masa lalu.Dengan menggunakan metode tafsir teks Efesus 5:1-21, maka penelitian ini meng-hasilkan dua hal, yakni: karakteristik spiritual dan karakteristik kepribadian.
Memahami Karya Allah melalui Penyandang Disabilitas dengan Menggunakan Kritik Tanggapan Pembaca terhadap Yohanes 9:2-3 Vincent Kalvin Wenno; Molisca Ivana Patty; Johanna Silvanna Talupun
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 2: November 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v4i2.141

Abstract

Disability is an imbalance of interactions between biological conditions and the surrounding social environment. Disability is never separated from understanding normality. However, a normality that results in normal can harm the personal lives of people with disabilities. Likewise with theology and Christianity tends to ignore the reality of persons with disabilities with biased interpretations of the Bible. John 9: 1-40 gives another dimension, Jesus healed and even defended people with disabilities. This text gives hope for the good treatment of Jesus for persons with disabilities. However, the reality in this life is not like that. For this reason, this study deals with the text of John 9: 1-40 using a critique of the reader's response to finding out, first, the response of persons with disabilities to the text, and secondly the meaning of God's work through persons with disabilities. This research focuses on diverse groups of people with disabilities at the Yayasan Cergas, Maluku.AbstrakDisabilitas merupakan ketidakseimbangan interaksi antara kondisi biologis dan lingkungan sosial sekitar. Disabilitas memang tidak pernah terlepas dari pemahaman normalitas. Akan tetapi, normalitas yang menghasilkan norma-lisme dapat memberikan dampak negatif bagi kehidupan pribadi penyandang disabilitas. Begitu juga dengan teologi dan kekristenan yang cenderung mengabaikan realitas penyandang disabilitas dengan berbagai penafsiran Alkitab yang bias. Yohanes 9:2-3 memberikan dimensi lain, Yesus menyem-buhkan, bahkan membela kaum disabilitas. Teks ini memberikan pengha-rapan akan perlakuan yang baik dari Yesus bagi penyandang disabilitas. Namun, kenyataan dalam kehidupan sekarang tidak seperti demikian. Untuk itu, studi ini menggumuli teks Yohanes 9:2-3 menggunakan suatu kritik tanggapan pembaca untuk mengetahui, pertama, respon penyandang disabi-litas terhadap teks tersebut, dan kedua, pemaknaan karya Allah melalui diri penyandang disabilitas. Penelitian ini berfokus pada kelompok penyandang disabilitas yang beragam pada Yayasan Cergas, Maluku
Evolusi, Kepegarian, dan Spiritualitas: Memahami Realitas Pandemi dan Pasca-Pandemi Berdasarkan Pemikiran Ilia Delio Stepanus Ammai Bungaran
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 1: Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i1.224

Abstract

This article assesses the pandemic and post-pandemic situation from a theological lens. The Covid-19 pandemic abruptly halted the order of life. Covid-19 imposes a new lifestyle that seems to persist even after the pandemic is considered to have passed. In this regard, it is no longer possible to see the pandemic as "abnormal."  The best option for understanding the pandemic is to accept it as a new reality and respond to it accordingly, including spiritually. The word "spiritual" in this article refers to realizing the significance of Christ's presence during the pandemic and even after the pandemic. In a very dynamic and utterly uncertain world, it takes an effort to live in Christ, which is also very dynamic and emerges in and through uncertainty. This idea is constructed based on emergentism and evolution, in particular Ilia Delio's idea about The Emergent Christ, and Gordon Kaufman's ideas about serendipitous creativity. The goal is to understand Christ as a certainty as well as uncertainty and as a spiritual way of living in the pandemic and post-pandemic. By living the uncertain Christ, Christian spirituality is being invited to live a love that is embracing, unifying, and always new. This spirituality is what is needed to support pandemic and post-pandemic life.AbstrakTulisan ini merupakan sebuah upaya memahami pandemi dan pasca-pandemi dari lensa teologi. Pandemi Covid -19 tiba-tiba saja mengubah tatanan kehidupan. Covid-19 memaksakan laku hidup baru yang tampaknya akan menjadi kesehari-harian bahkan setelah pandemi ini dianggap berlalu. Dalam konteks ini, pandemi tidak mungkin lagi dilihat sebagai kondisi “abnormal.” Pilihan terbaik memahami pandemi adalah menerimanya sebagai realitas baru dan meresponnya secara wajar, termasuk secara spiritual. Kata “spiritual” dalam tulisan mengarah sebuah upaya melihat signi-fikansi kehadiran Kristus dalam pendemi bahkan pasca-pandemi. Dalam dunia yang sangat dinamis dan serba tidak pasti, dibutuhkan sebuah upaya menghidupi Kristus yang juga sangat dinamis dan muncul di dalam dan melalui ketidakpastian. Tulisan ini merupakan undangan memahami Kristus sebagai kepastian sekaligus ketidakpastian sebagai jalan spiritual menghidupi pandemi dan pasca-pandemi. Gagasan ini dikon-struksi dari perspektif kepegarian, evolusi, gagasan Delio tentang The Emergent Christ, dan gagasan Kaufman tentang Serendipitous Creativity. Dengan menghidupi Kristus yang tidak pasti, spiritualitas Kristen sesungguhnya sedang diundang meng-hidupi cinta yang merengkuh, menyatukan, dan selalu baru. Spiritualitas inilah yang dibutuhkan menghidupi pandemi dan pasca pandemi. 
Teologi Kerukunan Umat Beragama: Studi pada Masyarakat Desa Boneana, Kupang Barat Marla Marisa Djami
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 1: Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i1.231

Abstract

This study intends to describe the religious harmony in Boneana village. Communi-cation between religious communities is still tenuous. The harmony between religious communities in Bonenana can be used as an example in national life. The system for regulating religious communities is not yet optimal. This research approach is qualitative, data obtained through interviews with the Boneana community. The results of the analysis show that religious differences are not a barrier to mutual help. The trauma caused by the conflict after evacuating from Timor Leste made the people of Boneana want to live in peace. Harmony in the Boneana community is built on mutual respect for one another. The dialogue carried out by the Bonenana community is informal, where dialogue is in everyday life. The difference is a platform used by the people in Bonenana to build a sense of belonging. The people in Boneana have carried out harmony according to the principle of harmony theology.AbstrakPenelitian ini bermaksud memaparkan kerukunan beragama di desa Boneana. Komunikasi antar umat beragama masih renggang. Kerukunan antar umat beragama di Bonenana dapat dijadikan contoh dalam kehidupan berbangsa. Sistem  pengaturan umat beragama belum masksimal. Pendekatan penelitan ini adalah kualitatif. Data didapatkan melalui wawancara terhadap masyarakat Boneana. Hasil analisis memperli-hatkan bahwa perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk saling membantu. Trauma akibat konflik pasca mengungsi dari Timor Leste membuat masyarakat Boneana ingin hidup damai. Kerukunan di masyarakat Boneana dibangun dalam sikap saling menghargai satu sama lain. Dialog yang dilakukan masyarakat Bonenana bersifat informal, di mana dialog dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan merupakan wadah yang dipakai masyarakat di Bonenana untuk membangun rasa saling memiliki. Masyarakat di Boneana telah menjalankan kerukunan sesuai pokok teologi kerukunan.
Aplikasi Ibrani 12:5-13 sebagai Model Pendidikan Karakter Disiplin Anak Generasi Z dalam Keluarga Kristen di Era New Normal Pandemi Covid-19 Kezia Yemima
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 1: Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i1.203

Abstract

Covid-19 has an impact on the lives of generation Z children 7-14 years old. Besides the health issue, the discipline character of generation Z children 7-14 years old also became the problem in the New Normal Pandemic Covid-19 Era. This problem can be solved by applying discipline character training for children in a Christian family. This research aims to create a discipline character training model in a Christian family for generation Z children 7-14 years old in the era of New Normal Pandemic Covid-19 Era. This research is applied research that uses a qualitative approach, using descriptive and interpretive analysis methods. By using this method, the principle education context in Hebrew 12:5-13 dan context of generation Z children can be obtained. The principle and context will be synthesized to produce the new model of education characteristics. This research produces a discipline character education model in Christian families for children of generation Z, aged 7-14 years at New Normal Pandemic Covid-19 Era.AbstrakCovid-19 berdampak pada kehidupan anak-anak generasi Z usia 7-14 tahun. Selain isu kesehatan, disiplin anak generasi Z usia 7-14 tahun dalam melaku-kan kegiatan sehari-hari juga menjadi permasalahan di era New Normal Pan-demi Covid-19 ini. Permasalahan ini dapat diatasi dengan menerapkan pen-didikan karakter disiplin bagi anak dalam keluarga Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model pendidikan karakter disiplin dalam keluarga Kristen bagi anak-anak generasi Z di era New Normal Pandemi Covid-19. Penelitian ini adalah penelitian terapan yang menggunakan pen-dekatan kualitatif, dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan interpretatif. Dengan metode ini, prinsip pendidikan kitab Ibrani 12:5-13 dan konteks anak generasi Z dapat diperoleh. Prinsip dan konteks tersebut akan disintesiskan untuk menghasilkan model pendidikan karakter yang baru. Penelitian ini menghasilkan model pendidikan karakter disiplin dalam keluar-ga Kristen era new normal Pandemi Covid-19
Semangat Reformasi Persembahan Umat Pasca Pembuangan Menurut Maleakhi 3:6-12 Rudolf Panggabean
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 5, No 1: Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v5i1.243

Abstract

The tithe offering to God shows the repentance of the people to Him. Obedience in giving a true tithe offering is a practice of covenant between God and His people, but n its implementation, people break their covenants against God's decree.  people still practice the wrong practices of worshipping God, especially regarding things. The real tithe is not of how much the people give to God, but rather a form of obedience to Him. This condition was conveyed by Malachi to the people of Israel. This study aims to analyze the text of Malachi 3:6-12 to gain an understanding of the spirit of reform of post-exile offerings. The method used in this study is qualitative by applying descriptive methods through the analysis of the social history of the text. In terms of the spirit of reform of the people after the exile according to the text of Malachi 4:6-12, it is obtained an understanding of the spirit of reform of the offering of the people as obedience through thanksgiving to God and to the common welfare.AbstrakPersembahan persepuluhan kepada Allah menunjukkan pertobatan umat kepada-Nya. Ketaatan dalam memberikan persembahan persepuluhan yang benar merupakan salah satu praktik perjanjian antara Allah dan umat-Nya, namun pada pelaksanaannya, umat melanggar perjanjian mereka terhadap ketetapan Allah itu. umat masih saja melakukan praktik peribadatan yang salah kepada Allah, khususnya mengenai persembahan perse-puluhan. Kondisi ini disampaikan Nabi Maleakhi kepada umat Israel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa teks Maleakhi 3:6-12 untuk mendapatkan pemahaman semangat reformasi persembahan umat pasca pembuangan. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan menerapkan metode deskriptif melalui analisis sejarah sosial teks. Dalam hal semangat reformasi persmbahan umat pasca pembuangan  menurut teks Maleakhi 4:6-12, maka didapatkan pemahaman mengenai semangat reformasi persembahan umat sebagai ketaatan melalui ucapan syukur kepada Allah dan untuk kesejahteraan bersama

Page 6 of 17 | Total Record : 162