cover
Contact Name
Yushak Soesilo
Contact Email
yushak@sttintheos.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.dunamis@sttintheos.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 25413937     EISSN : 25413945     DOI : -
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani dengan nomor ISSN 2541-3937 (print), ISSN 2541-3945 (online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta. Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu Teologi Kristen, terutama yang bercirikan Injili-Pentakosta, dan bidang Pendidikan Kristiani.
Arjuna Subject : -
Articles 394 Documents
Keharaman Babi dalam Agama Abrahamik: Analisis Materialisme Kebudayaan Marvin Harris Bimba Valid Fathony; Suparjo Suparjo
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 11, No 1 (2026): Oktober 2026 (In Progress)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v11i1.2124

Abstract

Abstract. The prohibition of pork in Abrahamic religions is generally only associated with theological arguments based on highly dogmatic religious sacred texts. However, this research attempts to analyze the prohibition of pork from the perspective of Marvin Harris's cultural materialism, which seeks to break down theological arguments by showing that human culture is not formed by metaphysical matters, but rather by material conditions and the physical environment that determine human consciousness. With this approach, Harris attempts to explain cultural phenomena scientifically and materialistically by basing them on material and economic factors, thus challenging dogmatic theological explanations. The result of the study shows that the prohibition of pork is the result of societal adaptation based on concrete material and environmental conditions.Abstrak. Keharaman babi dalam agama Abrahamik pada umumnya hanya dikaitkan dengan argumen teologis berbasis teks suci agama yang sangat dogmatis. Namun, riset ini mencoba menggali bagaimana keharaman babi dianalisis dalam perspektif materialisme kebudayaan Marvin Harris, yang berupaya mendobrak argumen teologis dengan memandang bahwa budaya manusia bukanlah terbentuk dari hal-hal metafisis, melainkan karena kondisi materi dan lingkungan fisik yang menentukan kesadaran manusia. Dengan pendekatan ini, Harris mencoba menjelaskan fenomena budaya secara ilmiah dan materialistik dengan mendasarkannya pada faktor-faktor materi dan ekonomi, sehingga menentang penjelasan teologis yang bersifat dogmatis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keharaman babi sebagai hasil adaptasi masyarakat berdasarkan kondisi materi dan lingkungan yang konkret dengan alasan praktis terkait lingkungan maupun ekonomi.
Penginjilan dan Keadilan Sosial: Misi dalam Konteks Indonesia Endang Caturini Sulistyowati; Ayub Sugiharto
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 11, No 1 (2026): Oktober 2026 (In Progress)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v11i1.2453

Abstract

Abstract. Churches often confront evangelism against social action. This study aims to construct the integration of evangelism and social justice in order to formulate a holistic mission for the church in Indonesia. The methodology employed is biblical exposition. The result indicates that the Bible connecting the proclamation of the Gospel with advocacy for marginalized groups. In conclusion, evangelism and social justice are inseparable dimensions; therefore, the church needs to embody this integration through transformative diakonia, advocacy, and economic empowerment.Abstrak. Gereja kerap mempertentangkan kegiatan penginjilan dan aksisosial. Penelitian ini bertujuan mengkaji integrasi penginjilan dan keadilan sosial untuk merumuskan misi yang holistik bagi gereja di Indonesia. Metode yang digunakan ialah eksposisi teks Alkitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Alkitab mengaitkan pemberitaan Injil dengan pembelaan terhadap kelompok marginal. Kesimpulnya, penginjilan dan keadilan sosial merupakan dua dimensi yang tak terpisahkan sehingga gereja perlu mewujudkannya melalui diakonia transformatif, advokasi, dan pemberdayaan ekonomi.
Rekonstruksi Ontologi Ruang Sakral yang Inklusif: Teologi Disabilitas, Kritik atas Ableisme, dan Implikasinya bagi Liturgi Injili-Pentakostal Stefanus De Fatima Nahac; Yohanes Parapat
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 11, No 1 (2026): Oktober 2026 (In Progress)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v11i1.2427

Abstract

Abstract. This paper argues that the exclusion of people with disabilities from participation in churches may be sustained not only by inadequate physical accessibility, but also by an ableist ontology of sacred space. Drawing on three interdisciplinary theories, including constructivist theology, and integrating disability theology and Edward Soja’s spatial trialectics, this study will reconstruct churches’ sacred space by developing a relational-participatory ontology centered on five core constructs. The most far-reaching practical implications are in liturgy and sacrament, while church architecture, leadership, record-keeping, and education remain supportive institutional conditions. This study contributes a conceptual model and evaluative framework for liturgy that is responsive to people with disabilities—positioning them as constitutive members of the body of Christ.Abstrak. Artikel ini berargumen bahwa eksklusi penyandang disabilitas dari partisipasi dalam gereja dapat berlangsung bukan hanya karena rendahnya aksesibilitas, tetapi juga karena ontologi ruang sakral yang bersifat ableist. Dengan menggunakan teologi konstruktif, kajian disabilitas kritis, dan teori ruang, studi ini mendefinisikan ontologi tersebut sebagai seperangkat asumsi tentang apa yang menjadikan ruang gerejawi sakral, tubuh siapa yang diakui sebagai partisipan sah, serta bagaimana otoritas liturgis didistribusikan. Melalui dialog dengan teologi disabilitas dan trialektika spasial Edward Soja, penelitian ini merekonstruksi ruang sakral melalui ontologi relasional-partisipatif yang bertumpu pada kehadiran ilahi, kerentanan, resiprokalitas, partisipasi, dan keterlibatan. Implikasi praktis yang paling luas jangkauannya dalam liturgi dan sakramen, sementara arsitektur, kepemimpinan, pencatatan, dan pendidikan gereja tetap menjadi kondisi institusional yang mendukung. Studi ini menyumbangkan model konseptual dan kerangka evaluatif liturgi yang responsif terhadap penyandang disabilitas—dengan memposisikan mereka sebagai anggota konstitutif dari tubuh Kristus.
Dari Mistisisme Ibadah Menuju Rational Soul: Pembacaan Teologis Yohanes 4:24 dalam Konteks Pentakostal-Karismatik Rully Simorangkir; Yohanes Parapat
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 11, No 1 (2026): Oktober 2026 (In Progress)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v11i1.2454

Abstract

Abstract. Drawing on John 4:24, this study provides a theological reading for Pentecostal-Charismatic contexts that sometimes constrict worship “in spirit and truth” to mystical experience, mere emotional intensity, or speaking in tongues. We argue that Jesus' statement doesn't replace the affective and charismatic dimensions of worship but makes them part of an inseparably united spirit and truth. The study uses a qualitative, biblical-theological, and contextual-hermeneutical methodology, with John 4:24 as the central text and John 14:26 (pneumatically) as a supporting text. This article proposes the "rational soul" as a more constructive model for biblically based worship: a theological-pedagogical framework concerning the Spirit-renewed soul of the believer—shaped by Scripture—that is capable of recalling a body of Christ-centered teachings, inclined to discern authentic spiritual experiences, and ultimately able to embody those truths in concrete obedience.Abstrak. Kajian ini menawarkan pembacaan teologis atas Yohanes 4:24 dalam konteks Pentakostal-Karismatik, yang ketika penyembahan “dalam roh dan kebenaran” sering kali dipersempit sebatas pengalaman mistis, intensitas emosional, atau bahasa roh. Penulis berargumen bahwa pernyataan Yesus tidak meniadakan dimensi afektif dan karismatik dalam penyembahan, tetapi menempatkannya dalam kesatuan yang tidak terpisahkan antara roh dan kebenaran. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif teologis-biblika dan hermeneutik kontekstual, dengan Yohanes 4:24 sebagai teks utama dan Yohanes 14:26 sebagai teks pendukung pneumatologis. Artikel ini menawarkan rational soul sebagai model yang lebih konstruktif untuk ibadah yang berlandaskan Alkitab: suatu bangunan teologis-pedagogis sehubungan dengan jiwa yang diperbarui oleh Roh dalam diri orang percaya yang dibentuk melalui Kitab Suci; mampu mengingat rangkaian ajaran yang berpusat pada Kristus, tersirat dalam kecenderungan untuk menguji pengalaman-pengalaman spiritual yang benar, dan pada akhirnya mewujudkan kebenaran-kebenaran itu dalam ketaatan yang konkret.