cover
Contact Name
Yushak Soesilo
Contact Email
yushak@sttintheos.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.dunamis@sttintheos.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 25413937     EISSN : 25413945     DOI : -
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani dengan nomor ISSN 2541-3937 (print), ISSN 2541-3945 (online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta. Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu Teologi Kristen, terutama yang bercirikan Injili-Pentakosta, dan bidang Pendidikan Kristiani.
Arjuna Subject : -
Articles 374 Documents
Manusia dalam Teologi Gregorius dari Nyssa: dari Penciptaan sampai Pemulihan Akhir Yusuf Slamet Handoko; Hendi Hendi; Risno Djabu
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 11, No 1 (2026): Oktober 2026 (In Progress)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v11i1.2015

Abstract

Abstract. This research aims to comprehensively analyze the theological anthropology and eschatology of Gregory of Nyssa, from creation to the final restoration (apokatastasis). Using a historical-theological analysis of Gregory's primary texts, particularly De Opificio Hominis, as well as relevant secondary literature, this study systematically traces Gregory's thought. The result indicates that Gregory presents a dynamic vision of humanity as the Imago Dei, possessing a dual nature (microcosm and person), whose vocation to unite with God was interrupted by sin but is restored through the Incarnation and Resurrection of Christ, culminating in a universal restoration (apokatastasis) that transcends, yet does not negate, history and human freedom.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif antropologi teologis dan eskatologi Gregorius dari Nyssa, mulai dari penciptaan hingga pemulihan akhir (apokatastasis). Dengan menggunakan analisis historis-teologis terhadap teks-teks primer Gregorius, terutama De Opificio Hominis, serta karya-karya sekunder yang relevan, penelitian ini menelusuri pemikiran Gregorius secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gregorius menyajikan visi dinamis tentang manusia sebagai Imago Dei yang memiliki kodrat ganda (mikrokosmos dan pribadi), yang panggilannya untuk bersatu dengan Allah terganggu oleh dosa namun dipulihkan melalui inkarnasi dan kebangkitan Kristus, yang berpuncak pada pemulihan universal (apokatastasis) yang melampaui, namun tidak meniadakan, sejarah dan kebebasan manusia.
Integrasi Literasi Digital dan Teologi Inkarnasional dalam Pendidikan Agama Kristen Kristiani Kristiani; Oda Judithia Widianing
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 11, No 1 (2026): Oktober 2026 (In Progress)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v11i1.2324

Abstract

Abstract. The development of digital technology often creates a disparity between technical skills and spiritual maturity, which can lead to moral degradation in cyberspace. Therefore, the need for theological digital literacy is crucial. This study uses a literature review method to examine the synthesis of digital literacy and theological principles within the framework of Christ's incarnation. The results show that incarnational theology provides a theological and practical foundation for contextual Christian education to be present in the digital culture of society. This integration transforms the digital space into a locus of authentic faith encounters that guide the maturation of faith so that students can become witnesses of Christ in the digital space.Abstrak. Perkembangan teknologi digital kerap kali menciptakan disparitas antara keterampilan teknis dan tingkat kedewasaan rohani yang berdampak pada degradasi moral di ruang siber. Maka, kebutuhan akan literasi digital yang bersifat teologis menjadi sangat krusial. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan untuk mengkaji sintesis antara literasi digital dengan prinsip teologis dalam kerangka inkarnasi Kristus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi inkarnasional memberi fondasi teologis dan praktis kepada Pendidikan Kristen secara kontekstual untuk hadir dalam budaya masyarakat digital. Integrasi ini mengubah ruang digital menjadi locus perjumpaan iman sejati yang menuntun pendewasan iman sehingga peserta didik dapat menjadi saksi Kristus dalam ruang digital.
Model Relasi dan Multiplisitas Pribadi: Pedagogi Karakter Kristen pada Peserta Didik di Daerah Konflik Yosep Iswanto Padabang
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 11, No 1 (2026): Oktober 2026 (In Progress)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v11i1.1942

Abstract

Abstract. Conflict-prone personalities directly and indirectly impact the success of character education in school. This situation raises the question of what educational model Christian educators should implement to develop students' character. In the context of students exposed to conflict, understanding (Christian) character is not only limited to striving for an active relationship with God, but also the fellowship of personality becomes important to consider. I argue that to develop a character education model in conflict areas, educators need to understand students' personalities as diverse and possessing fellowship values. Drawing on the thinking of Jorge Lopez Gonzalez, in this study, I discuss the concept of character education in the face of multiplicity and the model of fellowship to restore personality.Abstrak. Kepribadian yang rentan terhadap konflik secara langsung maupun tidak langsung memberikan pengaruh terhadap keberhasilan pendidikan karakter di lingkungan sekolah. Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang model pendidikan apa yang sebaiknya diterapkan oleh pendidik Kristen untuk mengembangkan karakter peserta didik. Pada konteks peserta didik yang terpapar konflik, pemahaman tentang karakter (Kristen) tidak hanya dibatasi pada upaya memperjuangkan relasi aktif dengan Tuhan, namun kerapuhan kepribadian pun menjadi penting untuk diperhatikan. Saya berargumen bahwa untuk membangun model pendidikan karakter di daerah konflik, pendidik perlu memahami pribadi peserta didik sebagai pribadi yang beragam dan memiliki nilai-nilai kerapuhan. Dengan memanfaatkan pemikiran Jorge Lopez Gonzalez, dalam penelitian ini, saya mempercakapkan konsep pendidikan karakter dalam wajah multiplisitas dan model persekutuan untuk memulihkan kepribadian.
Liturgi Yang Hidup: Memaknai Kembali Liturgi Kristen melalui Penelusuran Sejarah Perkembangannya Richardson Siwy
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 11, No 1 (2026): Oktober 2026 (In Progress)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v11i1.1959

Abstract

Abstract. Liturgy is often understood as a service that takes place in sacred spaces, even confined within them. However, in its historical origins, liturgy has a broad definition and can provide living meaning to Christian worship and life. Using literature review, with an analytical-critical approach, this study traces the initial meaning of liturgy and follows its changes, as well as how it is interpreted today. Ultimately, it is realized that liturgy encompasses all of life; it is not limited to sacred spaces, let alone clerical vestments, but rather opens of entire life of the church to all.Abstrak. Liturgi sering dipahami sebagai ibadah yang berlangsung di ruang-ruang sakral, bahkan terbatas di dalamnya. Namun, dalam asal-usul historisnya, liturgi memiliki makna yang luas dan dapat memberikan makna yang hidup bagi ibadah dan kehidupan Kristen. Menggunakan metode pustaka dengan pendekatan analistis-kritis, tulisan ini menelusuri makna awal liturgi dan jejak perubahannya serta bagaimana liturgi dimaknai saat ini. Pada akhirnya, disadari bahwa liturgi mencakup seluruh kehidupan; tidak terbatas pada ruang-ruang suci, apalagi busana klerikal, melainkan membuka seluruh kehidupan bergereja bagi semua orang.