cover
Contact Name
Yushak Soesilo
Contact Email
yushak@sttintheos.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.dunamis@sttintheos.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 25413937     EISSN : 25413945     DOI : -
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani dengan nomor ISSN 2541-3937 (print), ISSN 2541-3945 (online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta. Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu Teologi Kristen, terutama yang bercirikan Injili-Pentakosta, dan bidang Pendidikan Kristiani.
Arjuna Subject : -
Articles 383 Documents
Kebaktian Kebangunan Rohani sebagai Ruang Katarsis: Perspektif Teori Katarsis dan Embodied Experience Eirene Kardiani Gulo
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v10i2.1943

Abstract

Abstract. This study aimed to understand the cathartic experiences of young people in the Revival Service (KKR) and its implications for spiritual formation. The study was conducted using a qualitative hermeneutic phenomenological approach through in-depth interviews and participant observation toward six youth from the BNKP Church. Data analysis was conducted using Sigmund Freud's catharsis theory and Thomas Csordas's concept of embodied experience. The results revealed three main findings: first, the phenomenon of split catharsis indicates a tension between the urge to express emotions and social-communal norms; second, catharsis is interpreted as a spiritual experience that integrates psychological, physical, and faith aspects; third, the sustainability of the healing effect depends on community support and continued spiritual practice.Abstrak. Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman katarsis kaum muda dalam Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dan implikasinya bagi pembentukan spiritualitas. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi hermeneutik melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap enam pemuda Gereja BNKP. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori katarsis Sigmund Freud dan konsep embodied experience Thomas Csordas. Hasil penelitian mengungkapkan mengungkap tiga temuan utama: pertama, fenomena split catharsis menunjukkan ketegangan antara dorongan ekspresi emosional dan norma sosial-komunal; kedua, katarsis dimaknai sebagai pengalaman rohani yang mengintegrasikan aspek psikologis, tubuh, dan iman; ketiga, keberlanjutan efek pemulihan bergantung pada dukungan komunitas dan praktik rohani lanjutan.
Pendidikan Kristiani sebagai Praksis Perdamaian: Integrasi Pemikiran Dietrich Bonhoeffer dan Thomas Groome Yanice Janis
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v10i2.1953

Abstract

Abstract. This study explores Dietrich Bonhoeffer’s theological perspective as a foundation for Christian education in fostering peace, courage, and transformative action within communities. The research employs a qualitative library method with theological analysis, drawing upon Bonhoeffer’s writings and contemporary scholarship on Christian education. The finding reveals that Bonhoeffer’s emphasis on community, risk-taking, and resistance to injustice can be integrated with Thomas Groome’s framework of Christian religious education to create a transformative pedagogical model. Such integration enables Christian communities to act as peace agents by embodying ethical commitment, dialogical learning, and social engagement.Abstrak. Kajian ini mengeksplorasi perspektif teologis Dietrich Bonhoeffer sebagai fondasi bagi pendidikan Kristiani dalam menumbuhkan perdamaian, keberanian, dan tindakan transformatif dalam komunitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis kajian pustaka dengan analisis teologis, berfokus pada karya Bonhoeffer dan literatur kontemporer tentang pendidikan Kristiani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penekanan Bonhoeffer pada komunitas, keberanian mengambil risiko, dan perlawanan terhadap ketidakadilan dapat diintegrasikan dengan kerangka pendidikan Kristiani Thomas Groome untuk menghasilkan model pedagogi transformatif. Integrasi ini memungkinkan komunitas Kristen menjadi agen perdamaian melalui komitmen etis, pembelajaran dialogis, dan keterlibatan sosial.
Imaji Jembatan Lalu-Lintas: Mengunjungi Kembali Persoalan Sola Scriptura Stephen Rehmalem Eliata
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v10i2.1964

Abstract

Abstract. The doctrine of sola scriptura has been highly criticized by contemporary theologians. The critique shows that the doctrine of sola scriptura is impossible. It is based on its ontological interpretation, which is assumed to be capable of interpreting reality. This study attempts to revisit this critique. I argue that the doctrine of sola scriptura can be maintained only if it is revisited and reinterpreted. The word of God through the Bible is interpreted as the only (sola) bridge for humans to connect with God through God's visual revelation in the world. I demonstrate my argument by analyzing Calvin's thinking in his important works, namely the Institutes of the Christian Religion and A Harmony of the Gospels, and using secondary sources from contemporary Calvin scholars. My analysis indicates that, first, for Calvin, the Bible is the primary instrument of God's self-revelation to humans. Second, God reveals Himself in visible-invisible relationships through the world. Finally, the Holy Spirit works in freedom to secure God's revelation to humans.Abstrak. Ajaran mengenai sola scriptura mendapat kritik tajam dari para teolog kontemporer. Kritik tersebut menunjukkan bahwa ajaran sola scriptura adalah sebuah ketidakmungkinan. Kritik ini disebabkan oleh pemaknaannya yang bersifat ontologis yang dianggap mampu menafsir seluruh realitas. Penelitian ini mencoba mengunjungi kembali kritik tersebut. Saya berpendapat bahwa ajaran tentang sola scriptura dapat dipertahankan hanya jika dikunjungi kembali dan ditafsir ulang. Firman Allah melalui Alkitab ditafsir sebagai jembatan satu-satunya (sola) bagi manusia untuk terhubung dengan Allah melalui penyataan visual Allah dalam dunia ciptaan. Saya membuktikan pendapat dengan menganalisis pemikiran Calvin dalam karya-karya pentingnya, yaitu “Institute of Christian Religion” dan “A Harmony of the Gospels,” serta menggunakan sumber sekunder dari para peneliti kontemporer Calvin. Analisis saya menunjukkan bahwa, yang pertama, bagi Calvin Alkitab adalah instrumen primer penyataan diri Allah bagi manusia. Yang kedua, Allah menyatakan diri dalam relasi visible-invisible di dunia. Yang terakhir, Roh Kudus berkarya dalam ruang bebas untuk menjamin penyataan Allah diberikan bagi manusia.
Pengajaran Antikorupsi Bagi Warga Gereja: Menyimak Upaya Andar Ismail Melalui “Seri Selamat” Binsen Samuel Sidjabat
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v10i2.2063

Abstract

Abstract. This paper highlights the importance of educating church members to address the challenge of corruption in Indonesia. Seminars, workshops, religious teachings, and catechism can all be means of church community development activities. One of the teaching models for church members that is still needed is learning writing that is easy for readers to understand and provoke reflection to take a positive attitude. Andar Ismail has made this effort through several theological, critical, and reflective writings in “Seri Selamat” to voice anti-corruption. Through a literature study method, this article presents the attitudes and thoughts that Andar Ismail specifically expresses for adults. This study concludes that the church is called not only to manage worship and fellowship, but also to cultivate transformative learning about faith in Christ. Faith in the Lord Jesus should motivate church members to reject corruption and choose honesty, even if it costs them money.Abstrak.Tulisan ini menyajikan pentingnya pengajaran warga gereja menghadapi tantangan praktik korupsi di Indonesia. Seminar, lokakarya, pengajaran agama, katekisasi, dapat menjadi sarana kegiatan pembinaan warga gereja. Salah satu model pengajaran bagi warga gereja yang masih diperlukan ialah pembelajaran tulisan yang mudah dipahami oleh pembaca dan menimbulkan perenungan guna pengambilan sikap positif. Andar Ismail telah melakukan upaya itu melalui sejumlah tulisan teologis, kritis dan reflektif dalam ”Seri Selamat” untuk menyuarakan sembilan pesan anti korupsi. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur, artikel ini mengemukakan sikap dan pemikiran yang secara khusus disajikan Andar Ismail bagi warga gereja dewasa. Melalui kajian ini dapat disimpulkan bahwa gereja dipanggil bukan saja mengelola ibadah dan persekutuan, tetapi juga mengelola pembelajaran iman kepada Kristus yang membawa transformasi. Iman kepada Tuhan Yesus patut memotivasi warga gereja menolak korupsi dan memilih kejujuran sekalipun mahal harganya.
Membaca Teks Mazmur 137:1-9 dari Perspektif Logoterapi Viktor Frankl Irnawati Satigi
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v10i2.1333

Abstract

Abstract. Psalm 137:1-9 is a Hebrew poem depicting the psychological dynamics of the exiled people. Reading the text of Psalm 137:1-9 through the lens of Viktor Emil Frankl's logotherapy, within the Asian contextual hermeneutic framework employed in this paper, has opened up opportunities for other interpretations of the text. From a logotherapeutic perspective, the exile and the destruction of the temple and Jerusalem placed them in a state of noödinamika. Rather than hindering spiritual growth, this painful reality can be used as a gateway to other interpretations of the dynamics of the relationship between the people and their God. Through a logotherapeutic perspective, Psalm 137:1-9 is understood as a portrait of the spiritual transformation of the people in response to their situation and condition.Abstrak. Mazmur 137:1-9 merupakan puisi Ibrani yang berisi dinamika psikologis umat di pembuangan.  Pembacaan teks Mazmur 137:1-9 dengan menggunakan lensa logoterapi dari Viktor Emil Frankl, dalam kerangka kerja hermeneutik kontekstual Asia yang dikerjakan dalam tulisan ini telah membuka peluang pemaknaan yang lain terhadap teks. Dari kacamata logoterapi, peristiwa pembuangan dan momentum kehancuran bait suci serta kota Yerusalem telah menempatkan mereka dalam kondisi noödinamika. Alih-alih menjadi penghambat pertumbuhan spiritual, realita yang menyakitkan dapat dijadikan gerbang menuju pemaknaan yang lain tentang dinamika hubungan umat dan Tuhannya. Melalui perspektif logoterapi, Mazmur 137:1-9 dipahami sebagai sebuah potret transformasi spiritual umat dalam merespon situasi dan kondisinya.
Glossolalia sebagai Verbum Ineffabile: Jejak Wittgensteinian hingga Derridean-Caputian dalam Liturgi Apofatik Pentakostal John Stevie Manongga; Junifrius Gultom; Onnie M Lumintang
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v10i2.1866

Abstract

Abstract. Glossolalia is often reduced either to a meaningless linguistic deviation or to a form of private mysticism, shielded from theological critique and public reflection. This article proposes an alternative reading of glossolalia as verbum ineffabile—an apophatic utterance and prophetic liturgical act that signals divine presence beyond the boundaries of representation. Through a conceptual hermeneutical approach, this study integrates Wittgenstein’s language games and forms of life, Derrida’s différance and trace, and Caputo’s theopoetics of the event. The finding reveals that glossolalia is not merely a linguistic anomaly, but an embodied, communal, and subversive act of faith that disrupts established semiotic and liturgical structures.Abstrak. Glossolalia sering direduksi menjadi deviasi linguistik yang dianggap tidak bermakna, atau mistisisme privat yang tertutup bagi kritik teologis dan refleksi publik. Artikel ini mengusulkan pembacaan alternatif atas glossolalia sebagai verbum ineffabile, yaitu suatu bentuk ujaran apofatik dan tindakan liturgis profetik yang menyatakan kehadiran ilahi di luar batas representasi. Melalui pendekatan hermeneutika konseptual, studi kualitatif ini mengintegrasikan permainan bahasa (language games) dan bentuk kehidupan (forms of life) dari Wittgenstein, konsep différance dan jejak (trace) dari Derrida, serta teopoetika peristiwa (theopoetics of the event) dari Caputo. Hasil kajian menunjukkan bahwa glossolalia bukan sekadar fenomena linguistik, melainkan praktik iman yang berinkarnasi secara komunal dan subversif terhadap struktur bahasa dan liturgi yang mapan.
Resakralisasi Makanan: Membaca Teologi Makan Norman Wirzba dalam Praktik Konsumsi Anak Muda di kawasan SunBae Ramli Sarimbangun; Clara Christina Rompas
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v10i2.1903

Abstract

Abstract. Eating is often taken for granted in today's consumerist culture, often viewed as a meaningless activity. Conducted by the theological thought of Norman Wirzba, this article examines how eating connects us to nature, our fellow creatures, and the Creator. The finding demonstrates that eating is more than just a physical need, but also an opportunity to celebrate our connection with nature and God. Eating can be a hidden sacrament, a place where young people learn to slow down, notice the forgotten, and cherish the fragile.Abstrak. Makan sering dianggap hal biasa dalam budaya konsumtif saat ini, dan melihatnya sebagai suatu kegiatan tanpa makna. Dengan merujuk pada pemikiran teologis Norman Wirzba, artikel ini mengkaji bagaimana makan menghubungkan kita dengan alam, sesama makhluk hidup, serta Sang Pencipta. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa makan lebih dari sekadar kebutuhan fisik, tetapi juga kesempatan untuk merayakan hubungan kita dengan alam dan Tuhan. Makan bisa menjadi sakramen tersembunyi, tempat di mana anak muda belajar memperlambat hidup, memperhatikan yang terlupakan, dan menghargai yang rapuh.
Penginjilan Linier Geografis ataukah Simultan? Analisis Penginjilan dalam Kisah Para Rasul 1:8 Daniel Sutoyo
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v10i2.591

Abstract

Abstract. This study aims to analyze the model of evangelism in Acts 1:8. There are two prevailing views on this evangelism model: linear geographical evangelism and simultaneous evangelism. This study uses a qualitative method with a hermeneutic approach. The results show that Acts 1:8 is not a geographical map of evangelism. The simultaneous evangelism model aligns with the Great Commission in Matthew 28:19-20.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisi model pemberitaan Injil dalam Kisah Para Rasul 1:8. Selama ini ada dua pandangan tentang model penginjilan tersebut, yaitu penginjilan yang bersifat linier geografis dan penginjilan yang bersifat simultan. Penelitian ini dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan prinsip-prinsip hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kisah Para Rasul 1:8 bukan sebagai peta penginjilan yang harus diikuti secara geografis. Model penginjilan secara simultan sejalan dengan Amanat Agung dalam Matius 28:19-20.
Development of an Inclusive Religious Literacy Model in Local Churches in Maluku and North Maluku Rouli Retta Trifena Sinaga; Johan Robert Saimima
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v10i2.2199

Abstract

The memory of the interfaith conflicts in Maluku and North Maluku from 1999 to 2004 reproduced to give rise to the current conflict is crucial to be noticed. The purpose of this study is to explain an inclusive religious literacy model in local churches by mapping the social and cultural capital at the local churches’ level, then analyzing empirical data on inclusive religious literacy in the local churches and developing an inclusive religious literacy model in the local churches in Maluku and North Maluku. By using qualitative method a phenomenological approach to inclusive religious literacy based on Pancasila and Joseph Cardinal Ratzinger’s concept of the meaning of Christian brotherhood that is in dialogue with social and cultural capital in the local churches’ context, especially in Maluku and North Maluku, besides the local churches’ teachings, regulations, and programs, is carried out in this research. The finding of this research is that the Protestant Church of Maluku in the synodal, clasis, and congregational levels has implemented inclusive religious literacy in Maluku and North Maluku and it is developed from this research as an inclusive religious literacy model based on the local wisdoms of fraternity of the contexts.
Yudas Iskariot dan Narasi Pengampunan: Menggugat Finalitas Penghakiman dalam Tradisi Kristen Tiopan Aruan
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 11, No 1 (2026): Oktober 2026 (In Progress)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v11i1.1778

Abstract

Abstract. The figure of Judas Iscariot has historically been labeled as a symbol of failure, betrayal, and eternal damnation. In many Christian traditions, the narrative of Judas Iscariot concludes with the final judgment, leaving no room for restoration or forgiveness. This article intends to challenge that understanding through a narrative approach and a hermeneutic of forgiveness, by re-examining the story of Judas Iscariot from theological, ethical, and pastoral perspectives. It compares the responses of remorse shown by Judas Iscariot and Peter, while also exploring insights from theologians such as Karl Barth, David Bentley, and Miroslav Volf. Thus, this paper highlights the possibility of forgiveness within God's plan of salvation—even for the “son of perdition.”Abstrak. Tokoh Yudas Iskariot secara historis telah dilabel sebagai simbol kegagalan, pengkhianatan, dan kebinasaan kekal. Dalam banyak tradisi Kristen, narasi tentang Yudas Iskariot berujung pada finalitas hukuman, tanpa ruang untuk pemulihan atau pengampunan. Artikel ini berupaya menantang pemahaman tersebut melalui pendekatan naratif dan hermeneutika pengampunan, dengan menelaah kembali kisah Yudas Iskariot secara teologis, etis, dan pastoral, dan dengan membandingkan respons penyesalan Yudas Iskariot dan Petrus serta mengeksplorasi pemikiran dari teolog-teolog seperti Karl Barth, David Bentley, dan Miroslav Volf. Dengan demikian, tulisan ini menyoroti kemungkinan adanya ruang pengampunan dalam rencana keselamatan Allah, bahkan bagi “anak kebinasaan” sekalipun.