cover
Contact Name
Yusrawati JR Simatupang
Contact Email
yusrawati090992@gmail.com
Phone
+6285260106663
Journal Mail Official
intankemalasari00@gmail.com
Editorial Address
STKIP Bina Bangsa Getsempena, Jalan Tanggul Krueng Aceh, No.34, Rukoh, Darussalam, Banda Aceh, 23112
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Numeracy : Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika
ISSN : 23550074     EISSN : 25026887     DOI : -
Core Subject : Education,
Numeracy Journal is a journal on mathematics education. The Journal publishes articles comprising on mathematics learning, critical study of mathematics learning, classroom action research research on mathematics curriculum, learning method of mathematic, learning media of mathematic, research on mathematics assessment, and research on the development of mathematics learning.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 1 (2020)" : 13 Documents clear
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA DENGAN MENGGUNAKAN GEOMETRIC SKETCPAD Dazrullisa; T. Chairul Mahdi
Jurnal Numeracy Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.007 KB) | DOI: 10.46244/numeracy.v7i1.995

Abstract

The lack of understanding of students 'mathematical concepts in solving mathematical problems, caused by teachers who teach with learning models that are less conditioned to the abilities of their students, this does not provide an opportunity for students to channel their ideas or ideas so that students' understanding of mathematical concepts is still low. The sample in this study was only two classes. Data were processed using the t-test statistical formula at a significant level = 0.05. After the data is processed using t-test so that t-count = 5.5 and t-table = 1.681 are obtained. So t_count> t_table is 5.5> 1.681 then H_0 is rejected and acceptance of H_a occurs. Thus the hypothesis in this study states that the mathematical concepts of students taught using discovery learning models are better than those taught without using discovery learning models using sketcpad geometric software. Data were processed using the t-test statistical formula at a significant level = 0.05. After the data is processed using t-test so that t-count = 5.5 and t-table = 1.681 are obtained. So t_count> t_table is 5.5> 1.681 then H0 is rejected and acceptance of Ha occurs. Abstrak Kurangnya pemahaman konsep matematika siswa dalam menyelesaikan masalah matematika, disebabkan oleh guru yang mengajar dengan model pembelajaran yang kurang dikondisikan dengan kemampuan siswa mereka, ini tidak memberikan kesempatan bagi siswa untuk menyalurkan ide atau ide mereka sehingga siswa Pemahaman konsep matematika masih rendah. Sampel dalam penelitian ini hanya dua kelas. Data diolah menggunakan rumus statistik uji-t pada tingkat signifikan = 0,05. Setelah data diproses menggunakan uji-t sehingga t-hitung = 5,5 dan t-tabel = 1,681 diperoleh. Jadi t_count> t_table adalah 5.5> 1.681 maka H_0 ditolak dan penerimaan H_a terjadi. Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini menyatakan bahwa konsep matematika yang diajarkan siswa menggunakan model discovery learning lebih baik daripada yang diajarkan tanpa menggunakan model discovery learning menggunakan perangkat lunak geometris sketcpad. Data diolah menggunakan rumus statistik uji-t pada tingkat signifikan = 0,05. Setelah data diproses menggunakan uji-t sehingga t-hitung = 5,5 dan t-tabel = 1,681 diperoleh. Jadi t_count> t_table adalah 5.5> 1.681 maka H0 ditolak dan penerimaan Ha terjadi. Kata Kunci: Discovery Learnig, Pemahaman Konsep Matematis, Geometri Sketcpad
MENUMBUHKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA MELALUI MODEL BELAJAR PBL BERBASIS RICH TASK MATEMATIKA Fitriati Fitriati; Marlaini Marlaini
Jurnal Numeracy Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.768 KB) | DOI: 10.46244/numeracy.v7i1.996

Abstract

Problem solving skills are essential skill for students to live in a challenging world. Teachers are required to carry out the mathematics instruction that could train these skills. One of the learning models that can be used is problem based learning (PBL) with rich mathematical tasks. Therefore, the purpose of this study is to apply the PBL-based Rich Tasks model to develop students' problem solving skills. This study used one-shot case study experimental design involving 21 grade 9 students from one of the junior high schools in Banda Aceh. The results showed that PBL with Rich Mathematical Tasks was able to develop students' problem solving skills with an average achievement before treatment (pre-test) equal to 2.92 which then improve after treatments given with the score equal to 70.82. In addition, the score of each of the end lesson tests also risen with 62.14 for PB1 and 67.75 for PB2. This improvement was gained because the PBL with rich tasks approach has the potentials to facilitate student learning mathematics. Teachers are advised to use the PBL with rich tasks approach continuously in the daily mathematics instruction, so that students’ problem solving skills can be improved in the future. Abstrak Keterampilan pemecahan masalah merupakan skil penting yang harus dimiliki peserta didik agar dapat hidup bertahan dalam dunia yang penuh dengan tantangan. Untuk itu guru dituntut agar mampu melaksanakan proses pembelajaran matematika yang dapat melatih keterampilan tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model belajar PBL berbasis Rich Tasks Matematika. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk menerapkan model PBL berbasis Rich Tasks untuk menumbuhkembangkan keterampilan pemecahan masalah siswa. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen one-shot case study yang melibatkan 21 siswa kelas IX dari salah satu sekolah menengah pertama di Banda Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PBL berbasis Rich Tasks mampu mengembangkan keterampilan pemecahan masalah siswa, dengan rata-rata nilai tes awal sebesar 2.92 yang meningkat pada tes akhir dengan nilai rata-rata sebesar 70.82. Begitu juga dengan nilai tes matematika di akhir setiap pertemuan terus meningkat yaitu 62,14 (P1) dan 67.75 (PB2). Hal ini disebabkan karena model PBL berbasis rich tasks sangat potensial dalam memfasilitasi siswa belajar. Guru disarankan untuk terus dapat menggunakan rich tasks secara kontinue dalam proses pembelajaran matematika sehari-hari, sehingga keterampilan pemecahan masalah siswa dapat ditingkatkan dimasa yang akan datang. Kata Kunci: Rich Tasks, PBL, Keterampilan Pemecahan Masalah, Pembelajaran Matematika
CAPAIAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA DENGAN MODEL AIR Nuralam Nuralam; Maulidayani Maulidayani
Jurnal Numeracy Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.651 KB) | DOI: 10.46244/numeracy.v7i1.997

Abstract

The mathematical concept learned in school require mathematical reasoning abilities. But the test results show the students’ mathematical reasoning ability is still relatively low. To overcome this problem, applied a learning model called Auditory Intellectually Repetition (AIR). AIR can develop mathematical reasoning abilities students through problem solving. The purpose of this study is to describe the mathematical reasoning abilty of students through the AIR learning model is higher than taught through conventional learning models.. The research design used was quasi experiment with pretest-posttest control group design. The populations in this study were all of the Eighth Grade Students of SMPN 1 Jantho and the samples taken were classes VIII-2 and VIII-1 by using the random cluster technique sampling. The data collected wasby using the mathematical reasoning ability test. The result of research through the right-hand t-test statistic test obtained 3.79 > 1.68 then accept Ha reject Ho. Therefore, it was concluded that the students’ mathematical reasoning ability learned through the AIR learning model were higher than those taught conventional learning models. Abstrak Konsep matematika dipelajari di sekolah memerlukan kemampuan penalaran matematis. Namun hasil tes menunjukkan kemampuan penalaran matematis siswa masih tergolong rendah. Salah satu alternatif membuat kemampuan penalaran matematis lebih baik melalui model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR). Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan penalaran matematis siswa yang diajarkan dengan model AIR lebih baik daripada siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional. Rancangan penelitian menggunakan quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest control grup design. Populasi dalam penelitian seluruh siswa kelas VIII SMPN 1 Kota Jantho dan sampelnya kelas VIII-2 dan VIII-1 dipilih dengan teknik cluster random sampling. Data yangdikumpulkan dengan menggunakan tes kemampuan penalaran matematis. Hasil penelitian melalui uji statistik uji-t pihak kanan diperoleh thitung > ttabel yaitu 3,79 > 1,68 maka Ha tolak Ho. Disimpulkan bahwa kemampuan penalaran matematis siswa yang diajarkan dengan model AIR lebih baik daripada yang diajarkan denganpembelajaran konvensional. Kata Kunci: Model Pembelajaran, Model Air, Kemampuan Penalaran Matematis
KESULITAN SISWA DAN SCAFFOLDING DALAM MENYELESAIKAN MASALAH GEOMETRI RUANG Buaddin Hasan
Jurnal Numeracy Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.094 KB) | DOI: 10.46244/numeracy.v7i1.998

Abstract

Mathematics as one of supporting human activities in their lives. Mathematics as a solution of various problems confronting humans. But there are some difficulties in studying mathematics. This research aims to analyze the difficulties faced by students when solving geometry problems and find solutions in the form of scaffolding. The subjects in this study were three eighth grade students with different levels of ability. This research is a qualitative research with data collection techniques using task-based test and interview methods. Technical data analysis using data reduction techniques, the presentation of data to the conclusion. The results showed that the difficulties experienced by students in solving geometry problems include, (1) not being able to dig up the information in the problem, (2) not being able to make a plan of completion correctly, (3) not being able to connect the concept of geomteriors with other concepts, (4) unable to use count operations correctly, (5) not checking the results of its work. Scaffolding given to overcome the problem include, they are: (1) reviewing: asking students to read the problem again carefully, (2) explaining: giving a description of the problem or instructions in the problem solving process to make a solution step, (3) developing conceptual thinking, explaining and restructuring (conducting question and answer to direct students to the correct answer. (3) connecting, developing conceptual. Abstrak Ilmu matematika sebagai salah satu penunjang kegiatan manusia dalam kehidupannya. Matematika sebagai solusi dari berbagai permasalahan yang dihadapai manusia. Namun terdapat bebrapa kesulitan dalam mempelajari ilmu matematika. Penlitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan yang dihadapi siswa saat menyelesaikan masalah geometri dan mencari solusi berupa scaffolding. Subjek dalam penelitian ini adalah tiga orang siswa kelas VIII dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode tes dan wawancara berbasis tugas. Teknis analisis data menggunakan teknik reduksi data, penyajian data sampai pada penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan masalah geometri diantaranya, (1) tidak mampu menggali informasi yang ada pada soal, (2) tidak mampu membuat rencana penyelesaian secara benar, (3) tidak mampu menghubungkan konsep geomteri dengan konsep yang lain, (4) tidak mampu menggunakan operasi hitung dengan benar, (5) tidak melakukan pengecekan terhadap hasil pekerjaannya. Scaffolding yang diberikan untuk mengatasi masalah diantaranya, adalah: (1) reviewing : meminta siswa membaca soal kembali dengan teliti, (2) explaining: memberikan gambaran masalah atau petunjuk pada proses penyelesaian masalah untuk membuat langkah penyelesaian, (3) developing conseptual thinking, explainig and restructuring (melakukan tanya jawab untuk mengarahkan siswa pada jawaban yang benar. (3) connecting, developing conceptual. Kata Kunci: Geometri, Kesulitan, Scaffolding
MODEL PROBLEM BASED LEARNING DAN PRESPEKTIF GENDER TERHADAP KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA Bedilius Gunur; Apolonia Hendrice Ramda
Jurnal Numeracy Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.564 KB) | DOI: 10.46244/numeracy.v7i1.1000

Abstract

This research aims to; 1) comparing the Problem Based Learning model with the direct learning model from the perspective of students' mathematical reasoning abilities. 2). Look at the interaction of effects between learning models and gender on students' mathematical reasoning abilities. The design of this study used a 2 x 2 factorial design. Sampling was carried out using a simple random sampling technique by first conducting a class equality test. Data was collected using a test technique in the form of a question matter. Data were analyzed using two-way ANOVA. The analysis shows that; 1). The problem-based learning model of learning is better than the direct learning model in terms of students 'mathematical punishment abilities, 2. There was no interaction between the learning models used with the gender on the students' mathematical punishment abilities of students. Both male and female students requested compilation to be taught by applying the problem-based learning model to the direct learning model. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk; 1) membandingkan model Problem Based Learning dengan model pembelajaran langsung dalam perspektif kemampuan penalaran matematis siswa. 2). Melihat interaksi efek antara model pembelajaran dan gender terhadap kemampuan penalaran matematis siswa. Rancangan penelitian ini menggunakan desain factorial 2 x 2. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik simpel random sampling dengan terlebih dahulu melakukan uji kesetaraan kelas. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik tes dengan bentuk soal uraian. Data dianalisis menggunakan ANAVA dua jalur. Hasil analisis menunjukan bahwa; 1). Model pembelajaran problem based learning lebih baik dibandingkan model pembelajaran lansung dalam hal kemampuan penalaran matematis siswa, 2. Tidak terdapat efek interaksi antara model pembelajaran yang digunakan dengan gender terhadap kemampuan penalaran matematis siswa. Baik siswa laki-laki maupun siswa perempuan sama baiknya ketika dibelajarkan dengan menerapkan model pembelajaran problem based learning dari pada model pembelajaran lansung. Kata Kunci: Problem Based Learning; Gender; Penalaran Matematis
PEMBELAJARAN LUAS DAN KELILING LINGKARAN MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING Muhamad Saleh; Rifaatul Mahmuzah; Nurul Ayu
Jurnal Numeracy Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.403 KB) | DOI: 10.46244/numeracy.v7i1.1002

Abstract

Mathematics is a basic science that is very important to learn from elementary school to university. Thus the mathematical material provided must be oriented to the needs of the appropriate level of education. The purpose of this study was to determine the completeness of MTsS Lam Ujong students' learning outcomes in the broad and circumferential material through the Contextual Teaching and Learning approach. This study uses a quantitative approach. The sample in this study was class VIII-1 MTsS Lam Ujong 2018/2019 academic year, with a number of students 20. The sampling technique was carried out randomly. Data collection techniques using test and non-test instruments (observation and interviews). Based on the calculation results, it can be concluded that the MTsS Lam Ujong Student Learning Outcomes in the Material Area and Circumference through the Contextual Teaching and Learning Approach have reached completeness standards. Abstrak Matematika adalah ilmu dasar yang sangat pentingdipelajari sejak Sekolah Dasar, sampai Perguruan Tinggi.Dengan demikian Materi matematika yang diberikan harus berorientasi kepada kebutuhan jenjang pendidikan yang sesuai.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar siswa MTsS Lam Ujong pada materi luas dan keliling lingkaran melalui pendekatan Contextual Teaching andLearning. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini adalah kelasVIII-1MTsS Lam Ujong Tahun pelajaran 2018/2019, dengan jumlah peserta didik 20.Teknik pengambilan sampel dilakukan secara random. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen tes dan non tes (observasi dan wawancara).Berdasarkan hasil perhitungan dapat disimpulkan bahwa Hasil Belajar Siswa MTsS Lam Ujong Pada Materi Luas dan Keliling Lingkaran Melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning telah mencapai standar ketuntasan. Kata Kunci: Lingkaran, Pembelajaran, CTL
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MISSOURI MATHEMATIC PROJECT (MMP) UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA Muhsin Muhsin; Husna Husna; Putri Raisah
Jurnal Numeracy Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.664 KB) | DOI: 10.46244/numeracy.v7i1.1023

Abstract

Mathematical learning activities are mostly carried out independently with limited guidance from the teacher. This raises the consequences of the demands for student independence in learning. Independence of student learning in the learning process will affect student learning outcomes, students who are independent in learning will enjoy working on problems independently. In fact, not all students have a sense of awareness to be independent in learning, sometimes even during the learning process, students often feel bored and lazy. This may be caused due to the lack of approaches and learning models used by educators. One solution to improve student learning independence through the Missouri Mathematics Project (MMP) learning model. The purpose of this study was to determine the increase in students' learning independence. The population in this study were all eighth grade students of Junior High School 4 Sakti. Sampling using Purposive Sampling class VIII1 was selected as an experimental class and class VIII3 as a control class. The instruments used in the form of an initial test (pretest) and final test (posttest) and a questionnaire of student learning independence. Data processing was performed using SPSS 16.0 using t-test statistics, namely independent sample T-test at a significant level of 0.05. From the results of data processing it is obtained that p-value = 0.001, because p-value <0.05 then H0 is rejected H1 is accepted. Thus it can be concluded that the application of the Missouri Mathematics project (MMP) learning model can improve the learning independence of eighth grade students of Junior High School 4 Sakti. Abstrak Kegiatan pembelajaran matematika sebagian besar dilakukan secara mandiri dengan bimbingan terbatas dari guru. Hal ini memunculkan konsekuensi adanya tuntutan kemandirian siswa dalam belajar. Kemandirian belajar siswa dalam proses belajar akan mempengaruhi hasil belajar siswa, siswa yang mandiri dalam pembelajaran akan senang mengerjakan soal secara mandiri. Pada kenyataannya tidak semua siswa memiliki rasa kesadaran untuk mandiri dalam belajar, bahkan kadang saat proses belajar berlangsung, siswa sering merasa bosan dan malas. Hal ini mungkin di sebabkan karena minimnya pendekatan dan model pembelajaran yang digunakan oleh pendidik. Salah satu solusi untuk meningkatkan kemandirian belajar siswa melalui model pembelajaan Missouri Mathematics Project (MMP). Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemandirian belajara siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sakti. Penarikan sampel menggunakan Purposive Sampling maka terpilih kelas VIII1 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII3 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa tes awal (pretest) dan tes akhir (postest). Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS 16.0 menggunakan statistik uji-t yaitu independent sampel T-test pada taraf signifikan 0,05. Dari hasil pengolahan data maka diperoleh bahwa p-value=0,001, karena p-value < 0.05 maka H0 ditolak H1 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan penerapan model pembelajaran Missouri Mathematics project (MMP) dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sakti. Kata Kunci: Kemandirian Belajar, Missouri Mathematics Project
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN SOFTWARE GEOGEBRA DI SMP Tuti Asmiati; M. ikhsan; Muhammad Subianto
Jurnal Numeracy Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.555 KB) | DOI: 10.46244/numeracy.v7i1.1036

Abstract

Learning to use the assisted PBL model Geogebra software can be used by teachers in learning as well as full of the requirements of 2013. However, the availability of Problem Based Learning software-assisted tools Geogebra software for system of two-variable linear equations material because the teacher has never been implemented. learning as expected. So it is necessary to develop a learning tool Problem Based Learning Software Geogebra assisted for system of two-variable linear equations material material. This research is intended to produce a mathematics learning tool with Geogebra assisted Problem Based Learning model that is valid, practical and effective. The research development model in this research is the development model of Plomp (2013) which consists of three stages, namely (1) initial investigation phase, (2) phase. The experimental subjects in this study were students of grade VIII MTsN Model Banda Aceh. Data completion method is done through expert validation sheet, learning result test, and student obsevation sheet. Validation results by available experts. Practical criteria are met based on the observer's assessment of the implementation of the learning has a good category and the average student activity shows very good criteria. The effectiveness criteria are met based on the results of group work on student worksheet, and the value of student learning outcomes is above the minimal completeness criteria. This study produced a product in the form of a learning device material for two-variable linear equation systems assisted by geogebra software for students of class VIII MTsN that are valid and practical and effective. Abstrak Pembelajaran berbasis pemecahan masalah dengan bantuan teknologi informasi sangat ditekankan dalam Kurikulum 2013. Pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning berbantuan Software geogebra dapat digunakan guru dalam pembelajaran serta memenuhi syarat kurikulum 2013. Namun, belum tersedianya perangkat pembelajaran Problem Based Learning berbantuan Software geogebra untuk materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel menyebabkan guru belum melaksanakan pembelajaran seperti yang diharapkan. Maka perlu dikembangkan sebuah perangkat pembelajaran Problem Based Learning berbantuan Software Geogebra untuk materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran matematika dengan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan Geogebra yang valid, praktis dan efektif. Model penelitian pengembangan dalam penelitian ini adalah model pengembangan Plomp (2013) yang terdiri atas tiga fase, yaitu (1) fase investigasi awal, (2) fase rancangan, dan (3) fase penilaian. Subjek uji coba dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTsN Model Banda Aceh. Metode pengumpulan data dilakukan melalui lembar validasi ahli, tes hasil belajar, dan lembar obsevasi siswa. Hasil validasi oleh ahli diperoleh bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan memenuhi kriteria valid. Kriteria kepraktisan terpenuhi berdasarkan hasil penilaian pengamat terhadap keterlaksanaan pembelajaran memiliki kategori baik dan rata-rata aktivitas siswa menunjukkan kriteria sangat baik. Kriteria kefektifan terpenuhi berdasarkan nilai hasil kerja kelompok` pada Lembar Kerja Peserta Didik, dan nilai tes hasil belajar siswa berada di atas Kriteria Ketutasan Minimal. Penelitian ini menghasilkan produk berupa perangkat pembelajaran materi sistem persamaan linear dua variabel yang berbantuan software geogebra untuk siswa MTsN kelas VIII yang valid dan praktis dan efektif. Kata Kunci: Perangkat Pembelajaran, Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, Software Geogebra
KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN KEMANDIRIAN BELAJAR MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TREFFINGER Afnan Afnan; M. Ikhsan; M. Duskri
Jurnal Numeracy Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.365 KB) | DOI: 10.46244/numeracy.v7i1.1037

Abstract

Creative thinking is one kind of thinking (thinking) that directs getting insight (insight) recently, a new approach, a new perspective, or a new way of resolving problems. In addition to creative thinking ability factor, factor of independence is also very important in developing the students ' ability. Independence study is an effort being made to do the learning process independently on the basis urge myself to understand a problem at hand. One of the efforts to cultivate creative thinking ability and independence student learning is done through the application of the learning model Treffinger. The purpose of this study was to describe the ability of the creative thinking and independence of learning through the application of the learning model Treffinger. This research uses qualitative descriptive method. The subject of this study, namely six grade VII-5 MTsN Tungkop Aceh Besar. Research instrument is the interview conducted researchers based on a test of the ability of creative thinking. An examination of the validity data is done by triangulation of the time. Data analysis is conducted through several stages of data reduction, i.e., the presentation of data, and the withdrawal conclusion. The research results obtained that; (1) the ability of the creative thinking of students through the learning progression treffinger's model. The results obtained from the selected students to six, four students are able to measure indicators of creative thinking. (2) Independence of learning of students in solving problems through learning model Treffinger, has fully met the criteria students almost entirely standalone learning. Abstrak Berpikir kreatif merupakan salah satu jenis berpikir (thinking) yang mengarahkan diperolehnya wawasan (insight) baru, pendekatan baru, perspektif baru, atau cara baru dalam menyelesaikan masalah. Disamping faktor kemampuan berpikir kreatif, faktor kemandirian juga sangat penting dalam mengembangkan kemampuan siswa. Kemandirian belajar merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk melakukan proses pembelajaran secara mandiri atas dasar dorongan diri sendiri untuk memahami suatu permasalahan yang dihadapi. Salah satu upaya untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif dan kemandirian belajar siswa dilakukan melalui penerapan model pembelajaran Treffinger. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif dan kemandirian belajar melalui penerapan model pembelajaran Treffinger. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini yaitu enam siswa kelas VII-5 MTsN Tungkop Aceh Besar. Instrumen penelitian adalah wawancara yang dilakukan peneliti berdasarkan tes kemampuan berpikir kreatif. Pemeriksaan validitas data dilakukan dengan triangulasi waktu. Analisis data dilakukan melalui beberapa tahap yakni, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian diperoleh bahwa; (1) kemampuan berpikir kreatif siswa melalui model pembelajaran treffinger mengalami perkembangan. Hasil yang diperoleh dari ke enam siswa yang dipilih, empat siswa mampu mengukur indikator berpikir kreatif. (2) Kemandirian belajar siswa dalam menyelesaikan masalah melalui model pembelajaran Treffinger, secara kesuluruhan hampir seluruhnya siswa memenuhi kriteria kemandirian belajar. Kata Kunci : Treffinger, Kemampuan Berpikir Kreatif, Kemandirian Belajar
PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA SMP MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING Rianti Rahmalia; Hajidin Hajidin; BI. Ansari
Jurnal Numeracy Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.701 KB) | DOI: 10.46244/numeracy.v7i1.1038

Abstract

Mathematical communication skills of students are still relatively low. One learning model can improve students 'mathematical communication skills and at the same time students' mathematical disposition is the Problem Based Learning (PBL) model. The aim to be achieved is to find out the improvement of students 'mathematical communication skills and mathematical disposition using PBL models in terms of students' initial mathematical level. This research is an experimental research design with pretest posttest control group design. The research population was Grade VII students of SMP 9 Langsa. Students are grouped into two classes namely the experimental class and the control class randomly selected from eight parallel classes. The instrument used was a test of mathematical communication skills and a mathematical disposition questionnaire. Data analysis was performed using two-way ANOVA. The results showed that improving students 'mathematical communication ability and students' mathematical disposition by applying PBL learning models is better than students applying conventional learning models. There is no interaction between the PBL learning model with student level on mathematical communication skills and students' mathematical disposition. Abstrak Kemampuan komunikasi matematis siswa masih tergolong rendah. Salah satu model pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa dan sekaligus disposisi matematis siswa adalah model Problem Based Learning (PBL). Tujuan yang ingin dicapai ialah untuk mengetahui peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa dan disposisi matematis menggunakan model PBL ditinjau dari kemampuan awal matematis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain pretest postest control group design. Populasi penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 9 Langsa. Siswa dikelompokkan menjadi dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol yang dipilih secara acak dari delapan kelas paralel. Instrumen yang digunakan tes kemampuan komunikasi matematis dan angket disposisi matematis. Analisis data dilakukan dengan menggunakan anova dua arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa dan disposisi matematis siswa dengan menerapkan model pembelajaran PBL lebih baik dari pada siswa yang menerapkan model pembelajaran konvensional. Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran PBL dengan level siswa terhadap kemampuan komunikasi matematis dan disposisi matematis siswa. Kata Kunci: Komunikasi Matematis, Disposisi Matematis, Problem Based Learning

Page 1 of 2 | Total Record : 13