cover
Contact Name
Yusrawati JR Simatupang
Contact Email
yusrawati090992@gmail.com
Phone
+6285260106663
Journal Mail Official
intankemalasari00@gmail.com
Editorial Address
STKIP Bina Bangsa Getsempena, Jalan Tanggul Krueng Aceh, No.34, Rukoh, Darussalam, Banda Aceh, 23112
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Visipena
ISSN : 20861397     EISSN : 25026860     DOI : 10.46244/visipena
Core Subject : Education,
Articles to be published on Visipena should follow the focus and scope of this journal. The scope of this journal is Education.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2012)" : 8 Documents clear
COMPARISON STUDY OF FERMAT, SOLOVAY-STRASSEN AND MILLER-RABIN PRIMALITY TEST USING MATHEMATICA 6.0 Ega Gradini
Jurnal Visipena Vol 3 No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.941 KB) | DOI: 10.46244/visipena.v3i1.48

Abstract

This paper presents three primality tests; Fermat test, Solovay-Strassen test, and Rabin-Miller test. Mathematica software is used to carry out the primality tests. The application of Fermat’s Litle Theorem as well as Euler’s Theorem on the tests was also discussed and this leads to the concept of pseudoprime. This paper is also discussed some results on pseudoprimes with certain range and do quantitative comparison. Those primality tests need to be evaluated in terms of its ability to compute as well as correctness in determining primality of given numbers. The answer to this is to create a source codes for those tests and evaluate them by using Mathematica 6.0. Those are Miller-Rabin test, Solovay-Strassen test, Fermat test and Lucas-Lehmer test. Each test was coded using an algorithm derived from number theoretic theorems and coded using the Mathematica version 6.0. Miller-Rabin test, SolovayStrassen test, and Fermat test are probabilistic tests since they cannot certainly identify the given number is prime, sometimes they fail. Using Mathematica 6.0, comparison study of primality test has been made and given the Miller- Rabin test as the most powerful test than other.
EVALUASI PROGRAM DIKLAT PADA KOPERASI MAHASISWA (KOPMA) DALAM LINGKUNGAN PERGURUAN TINGGI BINA BANGSA GETSEMPENA BANDA ACEH TAHUN 2011 Azhar Amsal
Jurnal Visipena Vol 3 No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.52 KB) | DOI: 10.46244/visipena.v3i1.49

Abstract

Perguruan Tinggi memiliki landasan ideal dan praktis yakni sebagai bagian dari upaya kegiatan pengembangan dalam proses pembelajaran bagi mahasiswa dan mempunyai hubungan kerjasama dan jaringan antar kampus. Jaringan assosiasi Koperasi Mahasiswa (Kopma) merupakan satu kekuatan organisasi yang dapat digerakkan sebagai wadah yang mampu mendukung sinergi pengembangan dalam mengatasi segala permasalahan kopma di tingkat nasional, regional dan lokal. Evaluasi program bertujuan untuk mengetahui apakah program yang dirancang, dilaksanakan, dan bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam program dimaksud. Pada pelaksanaannya evaluasi program diklat untuk koperasi mahasiswa dalam lingkungan Perguruan Tinggi Bina Bangsa Getsempena Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam ini bermaksud mencari informasi untuk mendapatkan gambaran rancangan dan pelaksanaan program diklat perkoperasian yang telah dilaksanakan. Hasil evaluasi program diklat tersebut akan digunakan untuk mengambil keputusan tentang program diklat perkoperasian yang dimaksud. Tujuan evaluasi program pendidikan dan latihan pada koperasi mahasiswa ini untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan diklat perkoperasian, serta untuk merumuskan model dan sistem evaluasi diklat perkoperasian yang ideal di koperasi mahasiswa dalam lingkungan Perguruan Tinggi Bina Bangsa Getsempena Propinsi NAD. Dalam prakteknya Diklat Perkoperasian yang pernah diselenggarakan masih memiliki sisi-sisi kekurangan. Dari sisi internal adalah kurikulum berupa materi pelatihan kurang sesuai dengan usaha koperasi mahasiswa, ketidakseimbangan antara penyampaian teori dan praktek lapangan, kompetensi pelatih/instruktur yang belum sepadan dengan kepentingan usaha kopma, rentang waktu pelatihan yang belum sejalan dengan harapan peserta. Dari sisi eksternal adalah kurangnya pemupukan modal usaha kopma pasca diklat serta minimnya program pendampingan dalam pemasaran dan penguatan jaringan kemitraan kopma terhadap sentra industri di sekitar kampus. Disamping itu pihak peserta dan instruktur mengeluhkan minimnya insentif selama pelatihan berlangsung. Pelatihan perkoperasian di masa mendatang sepatutnya merupakan hasil pilihan yang kompromi diantara berbagai kalangan mulai dari pihak penyelenggara/ instansi terkait, peserta dan pengelola koperasi mahasiswa, perguruan tinggi, LSM dan lembaga keuangan terkait. Hal tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa elemen yang berhubungan dengan input, proses, output, outcome dan impact merupakan tahapan-tahapan yang tidak boleh lepas dari semua pihak yang terkait. Indikator keberhasilan dan kekurangberhasilan pelatihan perkoperasian bagi Kopma tidak saja ditentukan oleh tingkat pengorganisasian pelatihan selama proses belajar mengajar dalam pelatihan, akan tetapi juga oleh hasil pembinaan pasca pelatihan. Oleh karena itu Diklat Perkoperasian yang selama ini dilaksanakan oleh berbagai pihak patut diteruskan dengan melakukan berbagai penyesuaian dan perbaikan.
STIMULASI KECERDASAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK MELALUI MEDIA TOPENG EDUKATIF DALAM BERMAIN PERAN DI PAUD CINTA ANANDA BANDA ACEH Rina Syafrida
Jurnal Visipena Vol 3 No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.79 KB) | DOI: 10.46244/visipena.v3i1.51

Abstract

Usia dini merupakan usia paling penting dalam perkembangan manusia. Dalam periode ini, dasardasarkepribadian anak belum terbentuk. Salah satu kecerdasan yang sangat penting untukdikembangkan pada diri yaitu kecerdasan sosial emosional. Rangsangan terhadap Kecerdasanemosional yang diberikan pada usia dini mempengaruhi pola emosi anak hingga ia dewasa. Salahsatu metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan kecerdasan sosial emosional anak yaitudengan metode bermain peran menggunakan topeng edukatif. Melalui metode ini anak dapat belajarberinteraksi dengan anak lain dan belajar mengelola emosinya dengan cerdas. Penelitian dilakukanpada anak kelas B di PAUD Cinta Ananda dan hasil peningkatan yang diperoleh setelahmenggunakan metode bermain peran menggunakan topeng edukatif adalah peningkatan sebesar 31,4persen pada siklus pertama dan hasil rata-rata peningkatan yang diperoleh anak pada dua kali siklusadalah 72,9%. Hasil dari penerapan metode bermain peran menggunakan media topeng edukatif iniadalah peningkatan dalam aspek Metode bermain peran menggunakan media topeng dapatmeningkatkan kualitas emosi anak dalam berkomunikasi dengan cara guru melatih anakmengkomunikasikan emosinya, meningkatkan kemampuan anak dalam mengelola persaannya, baikperasaan sedih, marah, maupun gembira, meningkatkan partisipasi anak dalam bermain peran, anakdirangsang untuk menumbuhkan sifat empati sehingga anak lebih peduli terhadap situasi emosi yangdialami anak lain meningkatkan rasa tanggung jawab anak, guru melatih anak untuk dapatbertanggung jawab terhadap kegiatan yang dilakukannya dan meningkatkan kemampuan sosialisasianak dengan cara melibatkan anak dalam permainan kelompok dan anak dituntut untuk dapatbekerjasama dengan anak lain.
PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SISWA DI SEKOLAH M. Husin
Jurnal Visipena Vol 3 No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.431 KB) | DOI: 10.46244/visipena.v3i1.52

Abstract

Secara garis besar kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatikan. Oleh karena itu pemerintah melakukan reformasi pendidikan yang pada dasarnya sudah meupakan suatu tekat dan gerakan bangsa Indonesia yang selalu ingin melakukan perbaikan dalam kualitas sumber daya manusia Indonesia.Salah satu dalam bidang menajemen pendidikan. Manajemen berbasis sekolah (MBS) merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia. Pelaksanan manajemen operasional berbasis sekolah dapat mempengaruhi peningkatan kulaitas pendidikan dan sumber daya manusianya disini terlihat peningkatan mutu kelulusannya.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DASAR PECAHAN DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SEKOLAH DASAR Herawati
Jurnal Visipena Vol 3 No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.643 KB) | DOI: 10.46244/visipena.v3i1.53

Abstract

Penelitian ini merupakan studi eksperimen di SD Dinas Pendidikan Cabang Tiga Mutiara di Kabupaten Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam dengan desain penelitian pretes dan postes yang diberikan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen belajar melalui model pembelajaran matematika realistik dan kelompok kontrol melalui pembelajaran metematika konvensional. Sedangkan instrument yang digunakan adalah tes kemampuan pemahaman konsep dasar pecahan dan berpikir kritis, skala sikap siswa dan format observasi aktivitas belajar siswa selama pembelajaran. Subjek penelitian adalah siswa SD Dinas Pendidikan Cabang Tiga Mutiara di Kabupaten Pidie, dengan subjek sampel adalah siswa kelas IV SD 3 Beureunuen sebagai kelompok eksperimen dan siswa kelas IV SD 1 Beureunuen sebagai kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan pemahaman konsep dasar pecahan dan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran matematika realistik secara statistik lebih baik dibandingkan dengan siswa yang belajar matematika dengan pembelajaran matematika konvensional. Selain itu juga siswa menunjukkan sikap positif pada pembelajaran ini.
PENERAPAN PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK (PMR) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA DAN SIKAP SISWA Zikra Hayati
Jurnal Visipena Vol 3 No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.123 KB) | DOI: 10.46244/visipena.v3i1.54

Abstract

This research was conducted on 60 pupils at fourth level in an Elementary School in Banda Aceh (MIN 1 Banda Aceh). Comparing to other schools in Aceh, the school has a good quality, in this case middle ability of the grade students, than others. The experimental design both qualitative and quantitative approaches, in order to investigate students’ abilities to solve word problems. There are two groups, namely, experimental group which using realistic mathematics education (RME) approach in instruction , and another group without using RME in instruction. in the case using instrument, both groups used the same instrument in this research. Moreover, eksperimental case research Pre-test Post-test Control Group Design was used, in order to investigate differences between student who has ability to solve word problem by using RME approach and student who get instructions without RME approach and so to know interaction between students ability to solve word problem by mathematics realistic. The investigation based on the level ability mathematics students (high level, medium level and low level), and to see students’ attitude toward mathematics realistic. Based on data analysis, it is found that a differences of students abilities between experimental group and control group. The differences of the abilities shown by statistics test by anova test (by using α = 0,05). It means that there are differences of students’ abilities to solve word problems using RME and students’ ability to word word problems using conventional learning as learning instructions.therefore, there is no interaction between students’ abilities in order to solve word problems in RME based on students’ abilities (high level, medium level and low level) and students’ attitude toward RME approach.
PENERAPAN PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP DAN PEMAHAMAN HAKIKAT SAINS SISWA Thursinawati
Jurnal Visipena Vol 3 No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.339 KB) | DOI: 10.46244/visipena.v3i1.55

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi masih lemahnya proses pembelajaran di Sekolah Dasar. Dalam pembelajaran siswa kurang aktif dan tidak memperoleh pemahaman hakikat sains dalam proses pembelajaran IPA. Pembelajaran inkuiri terbimbing adalah pembelajaran dengan proses penyelidikan/penemuan yang memiliki langkah-langkah kerja ilmiah untuk membentuk karakteristik saintis dan sikap ilmiah siswa yang dilakukan dengan bimbingan dari guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan penguasaan konsep dan pemahaman hakikat sains antara siswa yang mendapatkan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional pada kelas V Sekolah Dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu yang dilakukan pada beberapa kelas V SDN di Kecamatan Baiturrahman Kota Banda Aceh. Untuk memperoleh data digunakan instrumen penelitian yaitu: tes penguasaan konsep, tes pemahaman hakikat sains, angket siswa, observasi keterlaksanaan pembelajaran inkuiri terbimbing, dan wawancara untuk tanggapan guru. Data dianalisis dengan menggunakan uji-t untuk melihat perbedaan gain yang dinormalisasi penguasaan konsep dan pemahaman hakikat sains siswa pada kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan penguasaan konsep dan pemahaman hakikat sains yang signifikan antara siswa yang mendapatkan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Pada penguasan konsep nilai rata-rata N-Gain kelas eksperimen sebesar 0.43 dan kelas kontrol adalah 0.20. Pemahaman hakikat sains nilai rata-rata N-Gain kelas eksperimen sebesar 0.34 dan kelas kontrol adalah 0.073. Peningkatan penguasaan konsep dan pemahaman hakikat sains siswa kelas V SD pada kelas eksperimen karena skenario pembelajaran dirancang melalui pembelajaran inkuiri terbimbing, sehingga munculnya aspek inkuiri dan sikap ilmiah siswa. Sedangkan pada kelas kontrol aspek inkuiri tidak secara utuh dan sikap ilmiah tidak muncul karena pembelajaran tidak dirancang untuk pembelajaran inkuiri terbimbing. Saran dari penelitian ini diharapkan dalam menerapkan pembelajaran inkuiri di Sekolah Dasar, guru dianjurkan menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing. Agar pembelajaran inkuiri terbimbing dilaksanakan secara optimal, hendaknya guru dapat memperhatikan aspek-aspek: (a) kesiapan siswa untuk melaksanakan pembalajaran IPA, (b) materi pelajaran IPA yang memiliki konsep yang abstrak hendaknya dapat disampaikan secara lebih maksimal dan tepat, (c) motivasi belajar terhadap siswa agar dapat dilakukan secara optimal, (d) pemilihan bahan dan alat yang digunakan harus tepat, (e) mempersiapkan bahan dan alat untuk percobaan dengan lengkap (cukup), (f) menyediakan waktu yang luang agar proses inkuiri terlaksana dengan optimal, (g) memberikan pemahaman hakikat sains kepada siswa tidak hanya dengan penjelasan verbal saja.
KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI TUTOR PAUD DALAM MENYUSUN RENCANA PEMBELAJARAN DI KECAMATAN JANTHO ACEH BESAR Lina Amelia
Jurnal Visipena Vol 3 No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.339 KB) | DOI: 10.46244/visipena.v3i1.56

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan di lapangan yang menunjukkan masih terkendalanya penyusunan rencana pembelajaran PAUD oleh tutor di Kecamatan Janto Aceh Besar. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang kendala-kendala yang dihadapi tutor PAUD dalam menyusun rencana pembelajaran, khususnya di Kecamatan Jantodilihat dari segi: (1) acuan kurikulum PAUD, (2) pengembangan materi pembelajaran PAUD, (3) sistematika menyusun perencanaan PAUD. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Lembaga PAUD yang ada di daerah Kecamatan Janto Aceh Besar. Dan informan dari penelitian ini adalah tutor dari beberapa lembaga PAUD. Cara pengambilan datanya yaitu dengan teknik snowball sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman wawancara dan pengolahan data menggunakan teknik analisis data secara deskriptif dengan lebih menekankan pada interpretasi kualitatif dengan tujuan untuk mencapai pengertian dan untuk mendapatkan informasi yang lebih memadai dari informan. Berdasarkan temuan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam menyusun rencana pembelajaran di Kecamatan Janto yang dilihat dari segi: (1) acuan kurikulum PAUD, tutor terkendala pada acuan kurikulumnya yang belum baku dan pada pemahaman guru terhadap acuan kurikulum tersebut (2) Dalam pengembangan materi pembelajaran di PAUD, tutor terkendala pada masih rendahnya wawasan tutor, dalam memilih dan menentukan jenis kegiatan pembelajaran, memilih media dan sumber belajar, menentukan metode pembelajaran, pengelompokan anak sesuai umur, dalam memvariasikan jenis kegiatan dan pengaturan anak saat kegiatan berlangsung (3) Dalam sistematika menyusun perencanaan pembelajaran di PAUD, tutor terkendala pada keterbatasan wawasan dan pola pikir tutor dan format pembuatan rencana pembelajaran yang masih rancu bagi tutor. Untuk itu disarankan pada tutor untuk mau menambah wawasan dan mengubah pola pikirnya dalam menyusun rencana pembelajaran untuk anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tetap dapat difasilitasi dengan baik. Selain itu juga diharapkan adanya kerjasama HIMPAUDI, penilik PAUD kecamatan dan pihak dinas pendidikan yang berwenang di bidang PAUD untuk mencari jalan alternatif dalam mengatasi kebingungan tutor dalam menyusun rencana pembelajaran untuk anak.

Page 1 of 1 | Total Record : 8