cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
DAMPAK PEMBANGUNAN WADUK JATIGEDE TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKATNYA Yuzar Purnama
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.138 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i1.89

Abstract

AbstrakBelakang ini mencuat keresahan masyarakat yang terkena dampak pembangunan Waduk Jatigede. Seolah merupakan kasus baru, padahal masalah Waduk Jatigede sudah berlangsung cukup lama yakni sejak presiden Republik Indonesia, Soekarno. Pembangunan Waduk Jatigede adalah proyek pembuatan pembangkit tenaga listrik. Proyek ini berada di wilayah administrasi Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, meliputi Kecamatan Jatigede, Wado, Cisitu, Darmaraja, dan Kecamatan Jatinunggal. Penelitian ini menarik karena sejak pertama di mulainya pembangunan waduk sampai sekarang, Januari 2015, belum selesai. Penelitian ini mengupas dampak pembangunan Waduk Jatigede terhadap kehidupan sosial budaya masyarakatnya, yang dibatasi pada masalah ganti rugi, relokasi, dan tinggalan nilai budaya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dampak sosial budaya pembangunan waduk terhadap masyarakatnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, metode kajiannya deskriptif analitik. Penelitian di mulai dari sumber pustaka, mencari data lapangan dengan observasi dan wawancara, klasifikasi data, analisis, dan laporan penelitian. Dari penelitian disimpulkan bahwa dampak sosialseperti permasalahan relokasi, ganti rugi, dan masalah tinggalan budaya yang meresahkan warga merupakan imbas dari pembangunan waduk. Permasalahan sebenarnya bisa diminimalisir jika pembangunan tidak tersendat akibat perencanaan kurang matang dan faktor dana. Namun seiring berjalan waktu permasalahan tersebut sedikit demi sedikit dapat ditangani oleh berbagai pihak dan diharapkan tahun 2015 waduk mulai digenangi. AbstractFidgetiness appear at this moment because of the developing of Jatigede Dam. Apparently as a new case, actually this thing has appeared since the first president of Indonesia, Soekarno. The build of Jatigede Dam is the project of generator of electricity power. This project are in the administraton area of Sumedang Regency, West Java Province. Jatigede project involved of five area in five sub-district, there are; Jatigede, Wado, Cisitu, Darmaja, and Jatinunggal Subdistrict. Not all of the area got the effect, only 26 villages. This research arequite interesting because since the Jatigede Dam were built until the years of 2015 the project is not finished. The first problem is related to the unfinished problems of social and cultural. This research purpose is to reveal the effect of Jatigede Dam for life of social cultural society, which focused on claim damages, relocated, and the legacy of cultural values or customs. The research method is qualitative, and the discussing method is descriptive analytic. The step of the research start from library research, finding the field collection with observation and interview, continued with classification the data, analysis and arranged the research report. From this research can be concluded that social impact such as relocated problems, claim damages, and the legacy of the ancestor as the impact of Jatigede building process. Actually, if the building of Jatigede run smoothly, the problems can be minimize. In line with the time, little by little the problems get solved handled by the authority, in this case are the local government or centre government. And the target to settle up all of the problems in the years 2015.
TOPONIMI DI KABUPATEN CIREBON Hermana .
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.651 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.255

Abstract

AbstrakDatangnya Ajaran Islam ke daerah Cirebon dibawa oleh para ulama yangberpusat di daerah Muara Jati. Raden Walang sungsang yang diperintahkan olehSyekh Dathul Kafhi untuk membuka lahan di sekitar Lemah Wungkuk sekarangdikenal sebagai daerah Tegal Alang-alang, untuk menyebarkan Ajaran Islam kedaerah selatan Cirebon, pada saat itu masih termasuk ke dalam kekuasan GaluhPajajaran. Penamaan Tegal Alang-Alang tidak terlepas dari kondisi tempat padasaat itu, yang banyak ditumbuhi sejenis rumput alang-alang. Perkembangan agamaIslam sangat pesat setelah Syekh Syarif Hidayatullah memegang tampuk kekuasandi Kerajaan Cirebon. Perkembangan ini bukan hanya kekuasaan secara politik,tetapi juga secara sosial budaya. Untuk menunjang ekspansi kekuasaan perlu adanyadaerah-daerah yang dikuasai. Pembukaan lahan untuk pemukiman penduduk perluadanya nama tempat untuk daerah tersebut. Penamaan suatu daerah tidak terlepas darisejarah budaya daerah tersebut. Asal-usul nama tempat di Kabupaten Cirebon tidakterlepas dari peran Pangeran Cakrabuana dan Syekh Syarif Hidayatullah. Panamaansatu tempat banyak yang berasal dari petatah petitih yang diucapkan oleh PangeranCakrabuana dan Syekh Syarif Hidayatulllah. Nama-nama tempat tersebut bisa terjadihasil pekerjaan orang, perasaan orang, keadaan alam, sejenis nama pohon atau punnama-nama benda yang ada pada saat daerah tersebut ditemukan.AbstractWhen Syekh Syarif Hidayatullah came into throne the spread of Islam inCirebon was developing very rapidly, either politically or socio-culturally. Politically,the sultanate expanded its power to other regions and conquered them, resulting theneed to open many lands for habitation. The new conquered lands needed new namesand the names which were applied to them were closely related to the cultural historyof the lands themselves. It was Pangeran (Prince) Cakrabuana and Syekh SyarifHidayatullah who named the lands, based on their sayings as well as topograhic ormorphological condition of each lands.
SEJARAH SOSIAL KOTA BEKASI Adeng Adeng
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.062 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v6i3.171

Abstract

AbstrakKegiatan penelitian dan penulisan sejarah sosial baru dilakukan sekitar tahun 1950-an, baik di negara-negara maju maupun di negara-negara yang sedang berkembang. Di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, kegiatan penelitian dan penulisan Sejarah Sosial masih sedikit dilakukan terutama yang bercorak sejarah sosial daerah. Penelitian dan penulisan sejarah yang sering dilakukan bercorak Sejarah Politik dan Sejarah Militer. Sejarah politik isinya menguraikan tentang pemerintahan kerajaan-kerajaan di Indonesia, pada masa pemerintahan Belanda, dan pendudukan Jepang. Sejarah Militer isinya tentang pertempuran-pertempuran baik melawan agresi Belanda maupun facisme Jepang. Dengan tersusunnya Sejarah Sosial Kota Bekasi diharapkan dapat diperoleh gambaran atau potret seluruh aspek kehidupan sosial daerah Kota Bekasi pada masa kini, dengan latar belakang masa lampau untuk memberikan proyeksi pada masa yang akan datang.  Untuk merekontruksi digunakan metode sejarah yang meliputi empat tahap, yaitu:  heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Kota Bekasi sebelumnya sebuah kecamatan dari Kabupaten Bekasi. Pada tahun 1982 Kecamatan Bekasi ditingkatkan statusnya menjadi kota administrasi. Pada tahun 1996 kembali ditingkatkan statusnya menjadi kotamadya. Dalam perkembangannya Kota Bekasi menjadi kawasan industri dan kawasan tempat tinggal kaum urban. Kota yang berada dalam lingkungan megapolitan ini merupakan salah satu kota besar urutan keempat di Indonesia yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. AbstractThe Research and writing of the new social history made around the 1950s, both in developed countries and in emerging countries. In countries like Indonesia as one of the emerging countries, research and writing of Social History is few, especially about the history of social region.  Research and writing of history is often done patterned with Political History or Military History. The contents of Political history usually outlining with the era of kingdoms, and the governments in Indonesia at the time of Dutch and Japanese occupation.  The contents of Military History usually discussed the battles either against the aggression of the Dutch and Japanese fascism.  With the completion of the Social History of Bekasi City, hopefully it can get a photograph all aspects of the social life of the city of at present, with a background in the past to provide projections of future.  This research used historical method which includes four phases: heuristic, criticism, interpretation, and historiography.  In the past Bekasi well known as sub-district of Bekasi District. In 1982 the sub-district of Bekasi upgraded to municipality or administration city. Bekasi become a city in 1996.  In their development, Bekasi become a central of industrial area and as residence of urban society. The town is located in a megapolitan city of Jakarta, and one of the biggest cities in in the province of West Java.
PERANAN SANGGAR DALAM MELESTARIKAN KESENIAN TRADISIONAL BETAWI Yuzar Purnama
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.519 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i3.112

Abstract

AbstrakIndonesia memiliki khasanah budaya yang relatif  banyak, salah satunya adalah kesenian tradisional. Kondisi real kesenian tradisional sekarang ini sebagian punah dan sebagian lagi  diujung kepunahan (hidup enggan mati tak mau). Upaya pelestarian yaitu perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sudah dilakukan baik oleh pemerintah maupun  masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya perhatian terhadap wadah/tempat bernaung kesenian, sanggar. Tulisan ini mengupas peran sanggar dalam menjaga kelestarian kesenian tradisional, yang dibatasi pada sanggar yang terdapat di wilayah Betawi, dengan pertimbangan bagaimana kehidupan sanggar kesenian tradisional yang berada di wilayah paling modern di Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan tentang korelasi sanggar dengan kesenian tradisional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskriptif. Penelitian didahului dengan studi pustaka, pengambilan data dengan observasi dan wawancara, dilanjutkan dengan klasifikasi data, analisis data, dan hasil. Kesimpulan penelitian adalah pentingnya eksistensi sanggar sebagai salah satu upaya untuk mengantisipasi kepunahan kesenian  khususnya kesenian topeng Betawi, topeng blantek, dan tanjidor. Peranan sanggar dalam kesenian tradisional adalah sebagai wadah/ tempat bernaung sejumlah seni budaya, sebagai media edukasi baik pendidikan maupun latihan, sebagai media hiburan bagi masyarakat sekitar dan peminat seni, sebagai tempat mengatur strategi seputar seni yang ditekuni sebagai tempat bersilaturahmi (berkumpul dan berdiskusi) dalam rangka mempererat persaudaraan. AbstractRelatively, Indonesia has many cultural treasures, one of them is a traditional art. Real conditionsof traditional art today partly extinct and partly at the threshold of extinction (reluctant live, but do not want todead). The preservation effort that is the protection, development and utilization has been done either by the government or the public. One reason is the lack of attention to the shelter of art, a studio. This writing examines the role of studios in preserving traditional art, which is restricted to the studio located in the region of Batavia, with consideration of how the life of a traditional art studio located in the most modern in Indonesia. The research aims is to gain the informationrelated to the traditional art studio. This study used a qualitative approach with descriptive research method. Proceeded by doing literature research and collecting data through observation and interviews, followed by data classification, data analysis, and data findings. The results showed that the importance of the existence of the studio as an effort to anticipate the extinction of Betawi art, especially art masks, masks Blantek, and tanjidor. The role of studios in the traditional arts isas a shelter of a number of arts and culture, as a medium of education both education and training, as a medium of entertainment for the local community and art enthusiasts, as a set strategy in the art that occupied as a place to stay in touch (get together and discuss) in order to strengthen the brotherhood. 
PENCAK SILAT PANGLIPUR Tinjauan Sejarah Budaya M. Halwi Dahlan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.45 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i2.278

Abstract

AbstrakPanglipur adalah salah satu perguruan silat yang didirikan oleh Abah Aleh padatahun 1909 di Bandung. Dalam perkembangannya pendekar-pendekar Panglipur turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia khususnya pada masa revolusi kemerdekaan. Kepemimpinan Panglipur diserahkan Abah Aleh kepada puteranya bernama Udi, namun perwira muda Angkatan Udara ini meninggal dunia. Abah Aleh kemudian menyerahkan kepemimpinan kepada putri keempatnya Rd. Enny Rukmini. Pada masa kepemimpinan Rd. Enny Rukmini dibantu beberapa murid senior Panglipur mengalami perkembangan. Penelitian ini mendiskripsikan tentang lahir dan berkembangnya Perguruan Silat Panglipur berdasarkan studi pustaka dan wawancara dengan pewaris perguruan tersebut serta dengan beberapa murid Perguruan Pencak Silat Panglipur dari berbagai tingkatan. Kini Pencak Silat Panglipur tidak hanya berkembang di Asia, tetapi juga di Eropa. AbstractPanglipur is the name of traditional martial art institution founded by Abah Aleh in Bandung in 1909. Its pendekar (warrior) have important role in defending ourindependence, especially during our independence revolution. Panglipur made great progress under Rd. Enny Rukmini, the fourth daughter of Abah Aleh. This research tries to describe the birth and development of Perguruan Silat Panglipur based on bibliographical study and in-depth interview with the heirs of the institution and some disciples from various levels. Today, Perguruan Silat Panglipur has spread to as far as Europe.
CIPATAT KOLOT: DINAMIKA KAMPUNG ADAT DI ERA MODERNISASI Irvan Setiawan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.164 KB) | DOI: 10.30959/ptj.v6i2.194

Abstract

AbstrakKampung adat merupakan bagian dari aset budaya yang perlu dilestarikan. Rekapitulasi kampung adat di Provinsi Jawa Barat bersifat relatif karena masih ada beberapa kampung adat yang belum terdata, dan salah satunya adalah Kampung Cipatat Kolot di Desa Kiarapandak Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor. Dinamika budaya akibat modernisasi membuat Kampung Cipatat Kolot menjadi sebuah kampung yang mengikuti perkembangan zaman. Aset budaya yang menjadi kunci sebuah kampung adat mulai luntur. Sementara itu, pendataan dan pengkajian mengenai Kampung Cipatat Kolot masih sangat minim. Penelitian ini mencoba untuk mengeksplorasi dan mengkaji aset dinamika budaya yang masih dimiliki Kampung Cipatat Kolot. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini menyimpulkan bahwa sangat disayangkan apabila aset budaya Kampung Cipatat Kolot tidak dilestarikan, salah satunya karena makam Buyut Cipatat sebagai sesepuh dan menjadikan Kampung Cipatat Kolot menjadi sebuah kampung adat masih sangat dihormati tidak hanya oleh warga sekitar tetapi juga kasepuhan dalam kesatuan adat Banten Kidul. Selain itu dinamika budaya masih belum begitu jauh yang ditandai oleh masih adanya upacara tradisional yang biasa dilaksanakan oleh kampung adat dalam wilayah kesatuan Banten Kidul. AbstractTraditional village as one of the cultural heritage should be conserved. The numbers of traditional village still in process of recapitulation.  One of traditional village is Kampung Cipatat Kolot in Desa Kiarapandak Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor.  The village is not holding the traditional ways anymore; they live long with the modernization.  The cultural asset vanished. Meanwhile, there’s still lack of data and research about Cipatat Kolot village. This research tries to explore and examine the cultural heritage existence of Kampung Cipatat Kolot.  Using qualitative method, the research concludes that the cultural assets of Kampung Cipatat Kolot were not perpetuated.  One of the cultural assetsthat should be conserved is the grave of Buyu Cipatat which is well known as an elder. It should be conserved because of his name Kampung Cipatat Kolotis respected by other traditional village and in the line of Banten Kidul customs. 
LINTASAN SEJARAH PEMERINTAHAN KABUPATEN SERANG ABAD XVI - XX Euis Thresnawaty
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.652 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i2.246

Abstract

AbstrakSejarah pemerintahan daerah Serang mencakup waktu sangat panjang, karena berawal dari pembentukan Kesultanan Banten abad ke-16. Berarti pemerintahan di daerah tersebut berlangsung pada zaman Kompeni, Hindia Belanda, Pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan.Dalam perjalanan sejarahnya, Kesultanan Banten mengalami dinamika akibat gejolak situasi politik pada zaman penjajahan, bahkan kesultanan itu akhirnya dihapuskan. Zaman Hindia Belanda dan Pendudukan Jepang, Serang menjadi ibukota Keresidenan Banten dan Kabupaten Serang. Kedudukan Serang yang disebut terakhir berlangsung sampai sekarang. Mulai akhir tahun 2000, Serang kembali memiliki kedudukan penting sebagai ibukota kabupaten merangkap ibukota Provinsi Banten sejak tanggal 4 Oktober 2000.Dalam perjalanan sejarahnya, banyak peristiwa penting terjadi di daerah Serang yang penting dipetik maknanya. Atas dasar itulah tulisan ini dibuat. AbstractHistory of goverment of area Serang include;covers very time length, because having beginning of from forming of Sultanate Banten century XVI. Means goverment in the area takes place at period Kompeni, Hindia Belanda, Japan Occupying, and independence.On the way its the history, Sultanate Banten experiences dynamic as result of distortion of political situation at colonization period, even the sultanate finally is abolished. Dutch Indies period and Occupying Jepang, Serang to become capital of Residence Banten and Sub-province Serang. Position Serang so-called last taken place until now. Starts is year-end 2000, Serang had important position as capital of regency doubles capital of Provinsi Banten commencing from the date of 4 October 2000.On the way its the history, many important events happened in area Serang which is important is taken the meaning. On the basis of that is this article made.
KONSEP TATA RUANG RUMAH TINGGAL MASYARAKAT KUTA DESA KARANGPANINGAL KECAMATAN TAMBAKSARI KABUPATEN CIAMIS Ria Intani T.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.242 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i1.162

Abstract

AbstrakPenelitian konsep tata ruang rumah tinggal ini membahas mengenai bentuk rumah, penggunaan bahan bangunan dan cara membangun, aturan dalam tata letak rumah dikaitkan dengan keberadaan rumah lainnya, tata letak rumah dalam suatu areal, arah hadap rumah, pembagian ruang, dan aturan-aturan lain yang terkait yang menyertainya. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai konsep tata ruang rumah tinggal di Kampung Kuta. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode kualitatif, dengan tahapan kerjanya meliputi: studi pustaka, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai saat ini konsep tata ruang rumah di Kampung Kuta tetap berpegang teguh pada aturan yang diwariskan oleh para leluhur. Konsepnya adalah: Arah hadap rumah dilihat dari panjang rumah; Antara satu rumah dengan rumah yang lain harus berhadap-hadapan, tidak boleh saling memunggungi; Ruang-ruang yang terdapat dalam suatu rumah harus berhadapan dengan ruang yang sama pada rumah yang ada di depannya, dan sebagainya. Tabu atau pamali berperan dalam pelestarian adat-istiadat yang berkenaan dengan konsep tata ruang rumah di Kampung Kuta. AbstractThis research discusses spatial concept in building a house and the relation among houses in the village of Karangpaningal. The aim of the research is to get an understanding of how the Kuta people build their houses according to their knowledge of spatial concept. The author conducted descriptive research using qualitative method. Data were collected through bibliographic study, observation, and interviews. The result shows that the people of Kuta are still clinging to the concept that was inherited fromtheir ancestors, for example the houses must be facing towards each other. Even a room in one’s house must be in the same line with the room inside the house in front of his. It is taboos or pamali that have major role in preserving this customs.
PERDAGANGAN LADA DI LAMPUNG DALAM TIGA MASA (1653-1930) Iim Imadudin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.014 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i3.14

Abstract

This article aims to reveal the dynamics of the pepper trade in Lampung in three political systems. The study uses historical method consists of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The struggle for influence in the region is created in the pattern of domination and subordination. Lampung as the pepper producer is under the influence of Banten, VOC, and the Dutch government. Thus, it is inevitable that there isthe economic exploitation in the relationship. The study shows that the dynamics of the pepper trade in Lampung cannot be separated from the various competing parties. The players are Sultanate of Banten, VOC, and the Dutch government. However, the role of local elites of Lampungis also taken into account. The waning of pepper trade, in addition to internal factors such as not optimal maintenance of pepper garden, also due to lower demand from the international market. The monopoly factor of the pepper trade by foreign powers also crushes the pepper trade system that has lasted long enough.
WAWACAN RADEN PANJI ATMAKA: SUATU KAJIAN PERSPEKTIF HISTORIS Erlan Saefuddin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.728 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i1.213

Abstract

AbstrakWawacan Raden Panji Atmaka (WRPA) merupakan suatu karya sastra yang diindikasikan mengandung unsur-unsur sejarah. Oleh sebab itu, pengkajiannya menggunakan pendekatan sejarah. Untuk mendukung pendekatan ini, diterapkan metode komparatif-analitis supaya dapat dibuktikan bahwa indikasi-indikasi di dalam teks yang menunjukkan hubungan dengan sejarah. Untuk pemahamannya yang lebih luas, terutama dalam memperkirakan konteks zaman dan akar historis dari karya ini, perlu kiranya dibahas jejak-jejak historis yang relevan secara umum. Selanjutnya dianalisis unsur-unsur historis di dalam wawacan ini untuk memahami maknanya yang merefleksikan realitas zaman tertentu. Pada akhirnya, dapat ditemukan bahwa WRPA adalah sebuah karya yang memiliki unsur-unsur legendaris dari sejarah Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Unsur-unsur legendaris itu meliputi dua aspek penting dalam masalah sejarah, yaitu latar tempat dan nama tokoh. Latar tempatnya adalah Yogya, Solo, Surakarta, Magelang, dan Kedu. Nama tokohnya adalah Sinuhun/Sultan Mataram dan Pangeran Mangkunagara. Latar tempat dan nama tokoh WRPA itu bersifat legendaris karena historis faktualnya hanya dari segi penamaan. Secara umum, WRPA juga menunjukkan satu bukti mengenai sejarah transformasi kebudayaan Sunda dengan kebudayaan Jawa. AbstractWawacan Raden Panji Atmaka (WRPA) is one works of literature indicated to have history elements. Therefore, the research use history approach. For support this approach, Analysis-comparative method is used for can be proved that indications in that text shows relation with history. For understanding in wider range, especially in conjecture period context and history root from this works, it is necessary to discuss the relevant history trail in a general. End then the history elements is to analyze the meaning of in this wawacan which reflects of certain period. In the end can be founded that WRPA is one work have legendary elements from history of Kasunanan Surakarta and Kesultanan Yogyakarta. The legendary elements consist of two important aspects in the historical problems, those are the places and the figures. The places are Yogya, Solo, Surakarta, Magelang, and Kedu. The figures are Sinuhun/Sultan Mataram and Pangeran Mangkunagara. Those becomes a legend because the factual history only in naming. Generally WRPA also shows one prove about transformation history of Sundanese culture and Java culture.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue