cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
SEJARAH SINGKAT KERAJAAN CIREBON Heru Erwantoro
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.289 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i1.130

Abstract

AbstrakAdanya kecenderungan beberapa daerah yang dahulunya merupakan pusat kerajaan untuk membentuk provinsi sendiri merupakan fenomena yang muncul di era reformasi. Di Jawa Barat, setelah Banten memisahkan diri dari Provinsi Jawa Barat dan membentuk Provinsi Banten, kini giliran  Cirebonberkeinginan juga untuk memisahkan diri dan membentuk provinsi tersendiri. Adanya fenomena  untuk memisahkan diri itu tentu saja menimbulkan pertanyaan, ada apa dengan wilayah-wilayah yang  dahulunya pernah menjadi pusat kerajaan? Berbagai persoalan masa kini sesungguhnya dapat dimengerti dan dicarikan solusinya melalui pendekatan ilmu sejarah. Begitu juga dengan fenomena keinginan Cirebon untuk membentuk provinsi sendiri. Dari penelusuran sejarah dapatlah dikatakan bahwa  momentum reformasi dan otonomi daerah mendorong para elit Cirebon bernostalgia dengan masa lalu. Romantisme akan masa keemasan Kerajaan Cirebon menjadi model ideal untuk membangun wilayah Cirebon dan sekitarnya  di masa yang akan datang. Memang pada masa keemasan Kerajaan Cirebon, Cirebon mengalami perkembangan yang pesat dalam segala bidang kehidupan.  Abstract After reformation, some regions that were previously kingdoms claimed their status for province. First, Banten in the Province of West Java has succeeded in doing it and Cirebon is following to do the same. This is very interesting: claim for separation emerged from regions that were previously great, independent kingdoms. What is really happening? The author conducted history method to seek solution for this problem. The result shows that the elites of Cirebon court want to revive old glory of their kingdom when it experieced many great achievements in almost every areas of life. Those glorious time become model for them to build future Cirebon. This romanticism has been driven by political situation, especially reformation and regional autonomy.
KALIMAT PENOBATAN RAJA: Membaca Logika Semiotik Orang Moronene di Pulau Kabaena Heksa Biopsi Puji Hastuti
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.061 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i3.37

Abstract

 Kalimat penobatan raja Moronene di Kabaena cikal bakalnya adalah pesan perpisahan Tebota Tulanggadi kepada putranya  yang terdapat dalam legenda “Donsiolangi dan Wa Lu Ea”. Penelitian ini mengangkat permasalahan tentang bagaimana pandangan filosofis orang Moronene di Kabaena terhadap posisi raja sebagai pemimpin tertinggi negeri, yang tercermin dari kalimat penobatan raja yang ada dalam legenda ini. Data berupa lima kalimat perpisahan raja dan anaknya diambil dari kisah legenda “Donsiolangi dan Wa Lu Ea”. Data dianalisis secara deskriptif dengan pendekatan semiotika. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pandangan filosofis orang Moronene di Kabaena terhadap seorang raja adalah bahwa raja harus amanah dan mutlak berlaku adil pada rakyatnya; Raja harus berhati-hati dan penuh pertimbangan dalam mengambil putusan. Tanggung jawab sebagai raja dapat membalikkan kejadian; Kebijakan raja sangat berdampak bagi negerinya, baik dampak positif maupun negatif; dan Raja harus selalu siap menjawab pertanyaan dan mencari solusi bagi segala permasalahan rakyatnya. 
PENDIDIKAN SELERA: PERKEMBANGAN BUDAYA MAKAN DALAM RUMAH TANGGA URBAN JAKARTA PADA PERIODE 1950-AN Gregorius Andika Ariwibowo
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.23 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i2.103

Abstract

AbstrakPeriode 1950-an secara global disebut sebagai abad atom. Pada periode ini terjadi modernisasi dalam gaya hidup dengan berkembangnya peralatan-peralatan elektronik dalam lingkup rumah tangga. Pada periode ini pula masyarakat Perkotaan Jakarta mengalami transformasi dalam lingkup rumah tangga, perkembangan peralatan rumah tangga modern mengubah kebiasaan sehari-hari kehidupan rumah tangga perkotaan.. Tulisan ini membahas bentuk gaya hidup masyarakat Perkotaan Jakarta terutama terkait dengan perkembangan budaya makan di lingkungan rumah tangga. Selain itu tulisan ini juga membahas mengenai kebijakan dari pemerintah yang turut memberikan warna dalam perkembangan budaya makan di lingkungan rumah tangga perkotaan. Kajian ini menggunakan konsep Pendidikan selera. Pendidikan selera merupakan proses pengenalan dan perkembangan sajian, selera, dan budaya makan akibat persinggungan dan asosiasi antarbudaya, serta perkembangan budaya modern. Kajian ini menarik kesimpulan bahwa terdapat empat faktor memengaruhi perkembangan budaya makan di Kota Jakarta pada periode 1950-an. Faktor-faktor tersebut yakni, perkembangan pendidikan; interaksi sosial dan kekerabatan yang terjalin antarrumah tangga urban; perkembangan industri pengolahan makanan; dan melalui peran Lembaga Makanan Rakjat (LMR).  AbstractIn the 1950s period was globally referred as an atom century. This period witnessed the modernization of lifestyle with the development of electronic equipment in the domestic sphere. In this period the people of Urban Jakarta also undergone a transformation in the domestic sphere, the development of modern household appliances which was changed the habits of everyday life of urban households. This paper discusses the shape of people's lifestyles of Urban Jakarta primarily associated with the development of the culture of eating in a domestic environment. In addition, this paper also discusses the policies of the government that also provide the variety in the development of eating culture in the neighborhood of urban households.  This study uses the concept of Education tastes. Taste of education is a process of introduction and development of the dish, tastes and culture of eating due to the intersection and inter-cultural associations, as well as the development of modern culture. This study draws the conclusion that there were four factors that was influencing the development of the culture of eating in the city of Jakarta in the 1950s. These factors were the development of education; social interaction and kinship that exists between urban households and the development of food processing industry; and through the role of the People's Institute of Food (LMR).
POTENSI WISATA DI LAMPUNG DAN PENGEMBANGANNYA Ani Rostiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.434 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i1.185

Abstract

AbstrakLampung sebagai salah satu provinsi di Indonesia memiliki potensi alam dan budaya yang bisa dikembangkan sebagai objek wisata. Potensi tersebut antara lain alam yang indah dan hawa sejuk, dikelilingi oleh kehijauan bukit dan gunung yang banyak ditumbuhi aneka ragam bunga dan pohon. Aneka ragam budayanya juga terlihat unik dan menarik, demikian pula adat istiadatnya. Dengan kondisi demikian maka Lampung bisa dijadikan mata rantai tujuan wisata Masalahnya adalah potensi tersebut belum tergarap sepenuhnya, oleh sebab itu perlu kajian secara mendalam bagaimana potensi dan pengembangannya. Dari hasil identifikasi potensi wisata yang ada di Lampung, maka akan dikaji bagaimana strategi pengembangannya dengan melihat semua komponen produk wisata yakni meliputi atraksi, amenitas, akses, dan ancillary service. Komponen produk wisata kemudian dinilai dengan analisis SWOT (strenghts, weaknesses, opportunities, threats) untuk melihat strategi yang digunakan dalam pengembangan pariwisata. Analisis SWOT digunakan pada data yang tidak menggunakan angka (kualititatif) dan digunakan sebagai dasar dalam perumusan kebijakan. Dengan demikian yang menjadi ruang lingkup kajian ini adalah : mengungkapkan potensi budaya, termasuk juga potensi alam, religi, dan sejarah; melihat sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pariwisata; sikap dan perilaku masyarakat setempat dalam menyikapi masalah kepariwisataan.AbstractLampung has great natural and cultural potencies that could be developed as objects of tourism: beautiful landscapes, moderate weather and various vegetations with mountains and hills surrounding it. Not to mention various unique customs and cultural heritage. Unfortunately, these potencies have not been fully developed yet for the benefit of its people. By using SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, threats) analysis, theauthor reviewed all components of tourism, such as attractions, amenities, access, and ancillary services. The aim of this study is to reveal cultural, natural, religious, and historical potencies as well as facilities and infrastructure that would support tourism activities, attitude and behavior of the local community in dealing with problems in tourism.
POLA PRAKTIK KEHIDUPAN KOMUNITAS ORANG ASLI KUKUSAN DI DEPOK JAWA BARAT Arie Januar
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.115 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i2.71

Abstract

AbstrakTulisan ini mendiskusikan tentang pola ‘orang asli’ menghadapi transformasi sosial ekonomi. Transformasi yang terjadi begitu cepat mengakibatkan perubahan struktur pada komponen ‘orang asli’. Oleh karena itu, untuk mengurangi dampak dari kemajuan tersebut, mereka membentuk suatu organisasi sosial dalam komunitasnya, sebagai bentuk upaya mempertahankan diri. Organisasi sosial akar rumput yang terbentuk dalam sebuah ikatan kolektif, yakni kekerabatan, spasial, dan keagamaan, masing-masing melahirkan modal sosial dalam menghadapi pembangunan. Apabila ikatan sosial mereka kuat, ‘orang asli’ cenderung lebih mudah beradaptasi dengan dunia baru di lingkungannya, terutama dalam aspek sosial ekonomi, dan budaya. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan tujuan agar dapat menyelami lebih dalam pola adaptasi ‘orang asli’ di tengah transformasi sosial ekonomi. Pola pikir ini bertumpu pada ikatan kolektivitas mereka dalam organisasi sosial akar rumput, yang mana dengan kegiatan tersebut melahirkan peluang-peluang sosial ekonomi yang menjadi pijakan untuk melestarikan komunitas mereka di Kukusan Depok. Abstract This paper discusses the pattern of 'indigenous people' facing socio-economic transformation. Transformation happens so quickly lead to structural changes in the components 'indigenous people'. So as to reduce the impact of such advances, they form a grass-roots organization in the community, as a form of self-defense. Grassroots organization formed in a collective bond, that kinship, spatial, and religious, each gave birth to social capital in the face of development. Where they are strong grassroots ties, 'indigenous people' tend to be more adaptable to the new world in their environment, especially in the socio-economic aspects, and culture. This paper uses a qualitative approach, with the aim to delve deeper into patterns of adaptation 'indigenous people' in the middle socio-economic transformation. This mindset is based on the bond of their collectivity in grassroots organizations, which will give rise to the activities of socio-economic opportunities, the basis for preserving their community in Kukusan Depok.
FUNGSI KARINDING BAGI MASYARAKAT CIKALONGKULON KABUPATEN CIANJUR Lina Herlinawati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.611 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i1.237

Abstract

AbstrakKarinding adalah satu jenis alat musik tradisional, dibuat dari bambu atau pelepah enau. Alat musik itu dimainkan oleh mulut disertai pukulan jari tangan, sehingga menghasilkan bunyi yang yang unik dan low decible. Alat musik tersebut diciptakan oleh leluhur petani Sunda. Selain untuk bermain musik, bunyi alat itu dipercaya dapat mengusir hama dan binatang perusak tanaman. Fungsi karinding demikian itu masih berlangsung pada masyarakat Cikalongkulon Kabupaten Cianjur.Seiring dengan perkembangan zaman, kemudian karinding menjadi alat hiburan, bahkan kini menjadi bentuk kesenian yang menarik, karena dapat dikola-borasikan dengan alat-alat musik lain. AbstractKarinding is a traditional music instrument, which is made from bamboo or palm leaf. This music instrument is played by mouth, alongside with tap from finger, creating an unique, low decible sound.This music instrument is created by the Sundanese farmer ancestor. In addition to its function as a music instrument, the sound of this instrument is believed as a pest repellant. This specific function is still believed by the people of Cikalong Kulon in Bandung Residence.Along with time, karinding developed into an entertainment tool, even as an attractive form of art because its combinable with other music instrument.
PEMUJAAN LELUHUR DI KEPULAUAN MALUKU TENGGARA: JEJAK BUDAYA MATERI DAN PERANNYA BAGI STUDI ARKEOLOGI KAWASAN Marlon NR Ririmasse
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.962 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i3.153

Abstract

AbstrakPemujaan leluhur adalah salah satu aspek penting dalam konstruksi sosial masyarakat masa lalu di Kepulauan Maluku Tenggara. Model kepercayaan tradisional ini berlangsung setidaknya hingga pergantian abad ke-20 menyusul introduksi agama modern di wilayah ini. Praktek pemujaan leluhur juga dimanifestasi secara materi dalam ragam produk budaya masa lalu di Kepulauan Maluku Tenggara. Tulisan ini mencoba untuk meninjau kembali aktivitas pemujaan leluhur masa lalu dalam kawasan dan secara khusus berusaha mengamati bentuk-bentuk representasi material atas aktivitas khas ini. Diskusi atas peran tema spesifik ini dalam studi arkeologi akan dihadirkan untuk melengkapi opsi tema penelitian yang sejalan dengan karakter Kepulauan Maluku Tenggara. Observasi lapangan dan studi pustaka dipilih sebagai pendekatan dalam kajian ini. Hasil penelitian menemukan bahwa pemujaan leluhur dipraktekkan secara luas pada masa lalu di Kepulauan Maluku Tenggara. Wahana pemujaan umumnya ditampilkan dalam bentuk patung dengan ciri beragam antarsatu komunitas dengan komunitas lainnya serta berasosiasi dengan rencana ruang tradisional. Akhirnya, pengetahuan spesifik terkait religi masa lalu ini dapat menjadi wahana untuk memperkaya kedalaman kajian arkeologi dan sejarah budaya dalam kawasan. Abstract Ancestor worship is one of the important aspects in social construction of past society in Southeast Maluku Islands. This traditional model of beliefs lasted, at least, up to the change of 20th century following the introduction of modern religions in the region. It is manifested materially in various products of past culture. The purpose of this research is to review past ancestor-worship activities in the region and, specifically, try to observe forms of material representations of this unique activity. The author presents discussion on the role of this specific theme in archaeological study in line with characteristics of the Southeast Maluku Islands. Field observation and bibliographical study are chosen for this study. The author finds that ancestor worship was practiced vastly in Southeast Maluku Islands in the form of statues that had various characteristics from one community to another, and it was associated with the traditional space design. It is hoped that this research would become a way to enrich the depth of archaeological study and culture history in a region.
KESENIAN SISINGAAN SUBANG: SUATU TINJAUAN HISTORIS Anggi Agustian Junaedi; Nina Herlina Lubis; Kunto Sofianto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.934 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.6

Abstract

Kesenian sisingaan merupakan kesenian yang berasal dari daerah di sebelah utara Provinsi Jawa Barat bernama Kabupaten Subang. Sampai saat ini, kesenian  sisingaan dipersepsikan oleh banyak orang sebagai bagian dari perjuangan rakyat yang dalam hal ini perlawanan terhadap tuan tanah atau penjajah. Namun, pendapat ini perlu ditinjau ulang mengingat beberapa pakar kesenian seperti Edih dan Armin Asdi yang mengatakan bahwa pada awalnya kesenian ini berfungsi sebagai alat untuk mengarak anak-anak yang akan dikhitan. Maka, untuk menjabarkan persoalan tersebut peneliti menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, kesenian sisingaan tidak lahir sebagai aksi perlawanan karena sebelum aksi tersebut terjadi, kesenian ini telah ada dan beberapa kali digelar pada acara khitanan. Setidak-tidaknya ada dua indikator yang dapat dikemukakan untuk menjelaskan latar belakang terbentuknya sisingaan. Pertama, ia merupakan bagian integral dari proses islamisasi di Subang. Kedua, sebagai bentuk penghormatan kepada P.W. Hofland karena telah berjasa membangun Subang beserta penduduknya. Kata kunci: kesenian sisingaan, historis, Subang.
KOPI DI PRIANGAN ABAD XVIII-XIX Lasmiyati Lasmiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.252 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i2.94

Abstract

AbstrakSejak 20 Juli 1818 Keresidenan Priangan terdiri atas Cianjur,  Bandung, Sumedang, Limbangan, dan Sukapura. Daerah tersebut sebagai penghasil kopi.   Kopi pada saat itu merupakan komoditas yang sangat dibutuhkan oleh bangsa Eropa, sehingga memicu  VOC untuk memasok kopi dari pegunungan Priangan. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahap heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari hasil penelitian diperoleh informasi bahwa biji kopi yang ditanam di Priangan dapat tumbuh subur, bahkan sewaktu Cianjur dijabat oleh Wiratanu III dapat menyerahkan hasil tanaman kopi melebihi kabupaten lainnya. Selama kopi dalam pengawasan VOC, harga di pasaran terus naik, namun di tingkat  petani harga kopi sangat rendah, akibatnya para  petani banyak yang  meninggalkan perkebunan. Ketika kekuasaan VOC digantikan oleh pemerintah Hindia Belanda, Daendels merangkul para bupati untuk bekerja sama dalam hal penanaman kopi.  Bupati dan bawahannya mendapatkan persentasi dari penanaman kopi tersebut, namun sayang penduduknya dipekerjakan untuk membangun infrastruktur tanpa imbalan, rakyat pun banyak yang mati kelaparan. Masa pemerintahan Van der Cappelen, penanaman  kopi     di Priangan mengalami penurunan  seiring dengan wabah penyakit yang melanda Keresidenan Priangan. Pada masa kepemimpinan Van den Bosch, penanaman kopi  dipadukan dengan tanaman lainnya, seperti kapas,sutera, dan lain-lain. Meskipun kopi di pasaran dunia terus naik, namun penanaman kopi tidak membuahkan hasil yang maksimal.  AbstrakSejak 20 Juli 1818 Keresidenan Priangan terdiri atas Cianjur,  Bandung, Sumedang, Limbangan, dan Sukapura. Daerah tersebut sebagai penghasil kopi.   Kopi pada saat itu merupakan komoditas yang sangat dibutuhkan oleh bangsa Eropa, sehingga memicu  VOC untuk memasok kopi dari pegunungan Priangan. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahap heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari hasil penelitian diperoleh informasi bahwa biji kopi yang ditanam di Priangan dapat tumbuh subur, bahkan sewaktu Cianjur dijabat oleh Wiratanu III dapat menyerahkan hasil tanaman kopi melebihi kabupaten lainnya. Selama kopi dalam pengawasan VOC, harga di pasaran terus naik, namun di tingkat  petani harga kopi sangat rendah, akibatnya para  petani banyak yang  meninggalkan perkebunan. Ketika kekuasaan VOC digantikan oleh pemerintah Hindia Belanda, Daendels merangkul para bupati untuk bekerja sama dalam hal penanaman kopi.  Bupati dan bawahannya mendapatkan persentasi dari penanaman kopi tersebut, namun sayang penduduknya dipekerjakan untuk membangun infrastruktur tanpa imbalan, rakyat pun banyak yang mati kelaparan. Masa pemerintahan Van der Cappelen, penanaman  kopi     di Priangan mengalami penurunan  seiring dengan wabah penyakit yang melanda Keresidenan Priangan. Pada masa kepemimpinan Van den Bosch, penanaman kopi  dipadukan dengan tanaman lainnya, seperti kapas,sutera, dan lain-lain. Meskipun kopi di pasaran dunia terus naik, namun penanaman kopi tidak membuahkan hasil yang maksimal.   AbstractIn the 20th century, Priangan territory; Cianjur, Bandung, Sumedang, Limbangan (Garut), Sukapura (Tasiklamalaya), and Ciamis was known as the region producer of coffee. Coffee at that time was a commodity that needed by the Europeans, thus triggering the VOC to come to Priangan mountains. This study uses a heuristic method to the stage of history, criticism, interpretation, and historiography. It was obtained an information from the result of this research that the coffee beans which is grown in Priangan can flourish easily. When Cianjur was held by Wiratanu III, Cianjur be able to deliver the coffee plant exceedeed other districts. During the coffee was  in VOC controled, market prices continued to rise, but at the farm level the price was very low, as the result many farmers left plantations. When the power of VOC was replaced by the Dutch, Daendels approached the regents to work together on coffee growing.  The Regent and his subordinates would get benefit of the coffee growing, but unfortunately the population was employed to build infrastructure without reward hence too many people were dying of hunger. In the reign of Van der Cappelen, the coffee cultivation in Priangan decreased since the disease outbreaks that hit Priangan Residen. During the reign of Van den Bosch, the coffee plantation was combined with other crops, such as cotton, silk, and others. Although coffee in the world market continued to rise, but the cultivation of coffee does not produce maximum results.
POLA PENGASUHAN ANAK PADA MASYARAKAT ARAB SUNDA DI KABUPATEN PURWAKARTA Yanti Nisfiyanti
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.598 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v1i3.260

Abstract

AbstrakKeluarga merupakan kesatuan sosial terkecil tempat pertama kali seorang manusia menerima pengasuhan dan pendidikan dari orang tua. Dalam pola penga-suhan dan pendidikan anak, terdapat proses sosialisasi nilai-nilai yang disampaikan orang tua kepada anak. Pola pengasuhan anak pada setiap keluarga membentuk per-kembangan dan karakter anak.Pada pembentukan karakter anak lebih ditentukan oleh budaya orang tua. Dalam pola pengasuhan anak pada keluarga keturunan Arab Sunda proses sosialisasi nilai-nilai ditentukan oleh budaya akulturasi Arab dan Sunda. AbstractFamily is the smallest social unity, where the first time humans were given care and education by their parents. In the child caring and education pattern, there’s a socialization. Process of these values which is given by the parents to the children. These pattern are exist in every family and shaping children’s character and development.Same as the patterns in Sundanese-Arabian descendence families, there’s also a socialization process of values from the parent’s to children. Those values originated from two cultures, Arabian and Sundanese. 

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue