cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
PERANAN LASYKAR HIZBULLAH DI PRIANGAN 1945-1948 Galun Eka Gemini dan Kunto Sofianto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.293 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i3.107

Abstract

AbstrakPenelitian ini menggambarkan Peranan Lasykar Hizbullah di Priangan dalam kurun waktu 1945 hingga 1948. Untuk merekontruksi permasalahan ini digunakan metode sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data digunakan studi literatur dan wawancara, yaitu mengkaji sumber-sumber literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti dan mewawancarai saksi sejarah atau pelaku sejarah sebagai narasumbernya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui latar belakang terbentuknya Lasykar Hizbullah di Priangan; (2) mengetahui proses terbentuknya Lasykar Hizbullah di Priangan; dan (3) mengetahui peranan Lasykar Hizbullah di Priangan pada masa revolusi kemerdekaan (1945-1948). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lasykar Hizbullah terbentuk pada 10 Januari 1945. Lasykar Hizbullah merupakan organisasi/sayap kepemudaan yang berada di bawah naungan Masyumi Karesidenan Priangan. Lasykar Hizbullah telah memberikan peran penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka terlibat aktif dalam pertempuran-pertempuran melawan Belanda-Sekutu, seperti Bandung Lautan Api, Agresi Militer Belanda I, menyikapi Perjanjian Renville. Lasykar Hizbullah di Priangan pada perkembangannya terbagi menjadi dua kelompok: pertama, pro-pemerintah dan bergabung dengan TNI-Divisi Siliwangi sebagai hasil dari adanya program fusi badan-badan perjuangan dengan TNI pada 1947; kedua, kontra-pemerintah dan menjelma menjadi Tentara Islam Indonesia pada 1948, benteng terdepan Negara Islam Indonesia bentukan Kartosuwiryo. AbstractThis study illustrates the role of Laskar Hizbullah in Priangan in the period 1945 to 1948. In order to reconstruct the problem, this study uses history method which consists of four stages, namely heuristic, criticism, interpretation, and historiography. The techniques of data collection used literature and interviews, including reviewing the sources of literature related to the problems studied and interviewing the witnesses of history or historical actors as the respondents.  This study aims to: (1) know the background of the Laskar Hizbullah formation in Priangan; (2) recognize the process of of Lasykar Hizbollah formation in Priangan; and (3) identify the role of Laskar Hizbullah in Priangan during the revolution of independence (1945-1948). The results showed that Laskar Hizbullah was formed on January 10, 1945. It is an organization under the auspices of Masjumi Priangan Residency. Hezbollah army has given an important role in maintaining the independence of Indonesia. They are actively involved in the battles against the Dutch-ally, such as Bandung Sea of Fire, Dutch Military Aggression I, addressing the Renville Agreement. Hezbollah army in Priangan, in its development, is divided into two groups: first, pro-government and join TNI-Siliwangi Division as a result of the fusion program ofstruggle agencies with the military in 1947; second, a counter-government and transformed into Islamic Army of Indonesia in 1948, the fort leading of Indonesian Islamic State of Kartosuwiryo formation.
ARSITEKTUR TRADISIONAL RUMAH KAMPUNG PULO Suwardi Alamsyah P.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4866.008 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i1.273

Abstract

AbstrakRumah tradisional Kampung Pulo dibangun oleh Embah Dalem Syarif Muhammad, sekitar abad ke-17. Pembangunan keenam rumah  dan sebuah masigit yang kini berada di Desa Cangkuang Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, diperuntukkan keenam putrinya dan seorang putranya. Arsitektur tradisional rumah Kampung Pulo, mencirikan unsur budaya Sunda, baik bentuk, struktur, dan ragam hiasnya walau tidak secara langsung, tetapi tetap mempertahankan tata nilai yang ada sepanjang perjalanan sejarahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan memahami peranan masyarakat di dalam mempertahankan arsitektur rumah serta fungsi simbol-simbol dalam kehidupan masyarakat serta hubungannya dengan arsitektur rumah Kampung Pulo. Adapun metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif analitis. AbstractTraditional houses of Kampung Pulo were built around 17th century by Embah Dalem Syarif Muhammad. These houses comprise six houses for his daughters and a mosque for his son. As a whole, the architecture of the houses reflect Sundanese traditional architecture that preserved its values over history. The goal of the research is to dig and to comprehend the role of the society in preserving the architecture and the function of symbols in the society in relation to the architecture itself. The methodology of research is based on Winarno Surakhmad (1985:139): a method that is used to investigate and to solve problems that covers collecting, analysing and interpreting data, as well as making conclusion based on the research. The author has conducted a descriptive-analytical method.
PERKEMBANGAN ZINE DI BANDUNG: MEDIA INFORMASI KOMUNITAS MUSIK BAWAHTANAH (1995-2012) Hary Ganjar Budiman
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.097 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i1.189

Abstract

Abstrak    Zine adalah salah satu media informasi dalam bentuk cetak. Zine muncul dan digunakan oleh komunitas untuk berbagi informasi seputar komunitas dan kegemarannya. Zine dikelola secara non professional, mandiri, dan dibagikan secara gratis melalui pendistribusian yang terbatas. Pada umumnya, zine diterbitkan  bukan sebagai pencarian keuntungan namun berusaha mewadahi idealisme melalui ide-ide yang muncul. Dengan membahas perkembangan zine di Bandung, diharapkan dapat diketahui suatu proses komunikasi melalui media zine, serta sejauh mana pengaruhnya terhadap eksistensi komunitas tersebut. Hal ini menjadi penting karena keberadaan zine terkait langsung dengan penyampaian informasi yang bersinggungan dengan eksistensi komunitas bawahtanah. Informasi yang disampaikan melalui zine kemudian dalam jangka waktu yang panjang turut membentuk suatu karakter, jaringan, bahkan industri kreatif, juga bisnis yang menjadi pendukung keberadaan komunitas bawahtanah di Bandung. Melalui penelitian ini dapat diketahui bahwa zine adalah media yang mampu merepresentasikan kesadaran identitas komunitas dan dapat mengakomodasi ide yang muncul sebagai jawaban kondisi sosial, melalui berbagai pesan atau informasi yang disampaikan. AbstractZine is one of the information printed media.  Zine appeared and use by the community in sharing their information around the communities and hobbies.  Zine manage by nonprofessional, autonomous, and act of grace with limited distributions.  In general, zine is published as a non-profitable product, but to provide a place for idealism.  Hopefully, the discussion about zine in Bandung can find the communication process through the zine, and the influence for the community itself.  That point is so important because the existence of the zine related to the existences of underground community.  Kinds of information in the zine in a long period of time also shaped the character, network, also creative industry that supports the existences of underground community.  Through this research, it can find that zine is the media of conscious representations of community identity, and it can accommodate the ideas (new ideas) as an answer of our social condition through kinds of message or information.
RASPI SANG MAESTRO RONGGENG GUNUNG Euis Thresnawaty S.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.859 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i2.75

Abstract

AbstrakRaspi adalah seorang maestro seni yang peduli pada lestarinya kesenian tradisional yang hampir punah, yaitu ronggeng gunung. Kesenian tradisional ini berasal dari Kabupaten Ciamis. Tarian ini muncul atas nama cinta dan dendam Dewi Siti Samboja, putri ke-38 Prabu Siliwangi karena suaminya Raden Anggalarang tewas di tangan bajak laut/bajo. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui siapakah Raspi, bagaimana kiprahnya sebagai ronggeng gunung, yang mampu bertahan sampai sekarang. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh informasi bahwa Raspi lahir di Dusun Karang Gowok, Kabupaten Ciamis tahun 1956. Sejak kecil ia hidup sendiri karena kedua orang tuanya telah bercerai. Usia 13 tahun, yaitu sekitar tahun 1970-an, Raspi lari dari rumahnya karena dipaksa kawin oleh orang tuanya. Saat pelarian itulah ia bertemu guru pertamanya sebagai penari ronggeng yaitu Embah Maja Kabun di Kampung Jubleg, Desa Panyutran, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Ciamis. AbstractRaspi is a master of the art who concern about the preservation of nearly extinct traditional arts, namely Ronggeng Mountains. This traditional art is derived from Ciamis District. This dance appears in the name of love and revenge of Samboja Siti Dewi, daughter of the 38th Prabu Siliwangi Raden Anggalarang because her husband was killed by the pirates / bajo. This research is conducted to find out who is Raspi?, how his work as Ronggeng Mountain, is able to survive until now? The method used is the historical method which includes heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results are obtained that Raspi was born in Dusun Karang Kupa, Ciamis district in 1956. Since he was a kid, he lived alone because his parents had divorced. At age 13, which is about 1970, Raspi ran away because he was forced to marry by his parents. In his escape, he met his first teacher as a dancer Ronggeng, Embah Maja Kabun in Kampung Jubleg, Panyutran Village, District Padaherang, Ciamis District.
PERKEMBANGAN PEMERINTAHAN KABUPATEN CIREBON H. Iwan Roswandi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.417 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.241

Abstract

AbstrakTujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa bagaimana perkembangan pemerintahan Kabupaten Cirebon tahun 2008. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah, melalui empat tahapan, yaitu heuristik (menemukan), kritik, interpretasi, dan historiografi. Perkembangan Kabupaten Cirebon (2005-2006) dapat diilustrasikan dari segi pemerintahan yang sebagian wilayahnya terletak di sepanjang pantai laut Jawa dan sebagian lagi wilayah Kabupaten Cirebon berada di daerah perbukitan. Hal ini memperlihatkan semakin beragamnya karakteristik yang ada, sehingga merupakan suatu modal untuk kemajuan daerahnya. Pengaruh pembangunan dan modernisasi berdampak jelas terhadap perubahan kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya serta pertahanan dan keamanan, apalagi Kabupaten Cirebon merupakan pintu gerbang memasuki wilayah Jawa Tengah. Berdasarkan fakta jumlah penduduk yang cukup besar dari tahun ke tahun cukup sulit menyatukan komponen yang ada sehingga berdampak pada pelaksanaan pemerintahan yang kurang optimal. Demikian pula pada tahun 2008 masih tetap sama mempunyai jumlah penduduk yang besar dan tidak merata. AbstractThe purpose of this research is to analyse the development of the government of Kabupaten Cirebon in 2008. The author conducted methods used in history in four stages: heuristic, critique, interpretation, and historiography. Kabupaten Cirebon has various characteristics due to its unique landscapes that consits of coastal and hilly areas, and this would be a good capital for developing the region. Kabupaten Cirebon is also the main gate to the province of Central Java. The research came into conclusion that the development and modernization had influenced the political, economical and socio-cultural life of the people.
GERAKAN SOSIAL DI TANAH PARTIKELIR PAMANUKAN DAN CIASEM 1913 Iim Imadudin, Kunto Sofianto, dan Miftahul Falah
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.087 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i3.157

Abstract

AbstrakSepanjang  tahun 1913 berlangsung serangkaian kerusuhan atau pergolakan sosial di tanah Pamanukan dan Ciasem yang melibatkan petani dan para pekerja di satu pihak, dan pengusaha perkebunan dan pemerintah kolonial di pihak lain. Peristiwa tersebut mencerminkan adanya ketegangan diantara komponen masyarakat baik yang bersifat horizontal maupun vertikal. Di tanah partikelir Pamanukan dan Ciasem, tuan tanah melakukan eksploitasi terhadap tanah dan petani yang hidup di wilayahnya. Di tanah partikelir tidak ada lagi hubungan yang bersifat mutualisme, tetapi beralih pada aspek komersialisasi pertanian. Para petani yang bekerja pada perkebunan-perkebunan asing sering diperlakukan dengan semena-mena. Maka timbullah gerakan sosial yang dimotivasi oleh perasaan keagamaan dan berkembang meluas. Penelitian yang mempergunakan metode sejarah ini bertujuan mengungkap gerakan sosial dan respons pemerintah kolonial terhadap gerakan  para petani di tanah Pamanukan dan Ciasem. Penelitian mengenai gerakan sosial merupakan tema riset yang menarik sekaligus menantang. Terdapat kontinuitas historis yang menunjukkan bahwa konflik di wilayah perkebunan hingga hari ini masih terus berlangsung.  AbstractDuring the year of 1913 there were series of riots or social unrest in the Plantation land of Pamanukan and Ciasem, involving peasants and labourers against landowners and colonial government. The incidents reflected the tension amongst social components either horizontally or vertically. The landlords exploited the land and the peasants very badly. There were no mutual relationships between landlords and their peasants. It has changed into commercialization of agriculture. The peasants were often treated unjustly, resulting in protests in the form of social movement motivated by religious feelings. This research tries to reveal social movement and the respond of colonial government in facing it. History method is applied, and the author finds that the conflict continued even up to this day.
PELABUHAN BANTEN SEBAGAI BANDAR JALUR SUTRA Adeng .
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.711 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i1.208

Abstract

AbstrakPenulisan ini dimaksudkan untuk mempelajari hubungan antara kota pelabuhan dengan perkembangan kebudayaan sebagai akibat adanya interaksi antarbangsa yang menyertai kegiatan perdagangan. Selain itu, untuk mengetahui hubungan pelabuhan dengan pedalaman serta sarana transportasinya. Dalam penulisan ini digunakan metode penelitian yang berlaku di dalam ilmu sejarah, yaitu: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pada tahap heuristik dilakukan pengumpulan data primer dan data sekunder. Kemudian dilakukan kritik intern dan kritik ekstern untuk memastikan keotentikan dan kredibilitas. Selanjutnya data tersebut dikelompokkan menurut jenisnya. Setelah proses pemberian makna, maka sampailah pada tahap historiografi, yaitu proses penulisan kisah sejarah. Peranan dan kedudukan Banten sebagai pelabuhan jalur sutra yang perkembangannya begitu pesat tidak terlepas dari perkembangan dunia internasional, yang disebabkan oleh adanya motif ekonomi, politik, dan agama. AbstractThis writing is intended for studying the relationship between port city and culture development as the result of international interaction which. In this writing, historical method were used, including heuristic, critic, interpretation, and historiography. On the heuristic step, the collection of primary data and secondary data were conducted. Next the internal and external critic, to make sure its authenticity and originality. And then those data were grouped according its type. After the meaning giving process, finally it reached the historiography step, a history writing step. The role of Banten as a port city for the Silk Road, which the development is very fast, affected by the international world caused by economic, politic, and religion motives.
SAKAI SAMBAIAN : SISTEM GOTONG ROYONG DI LAMPUNG TIMUR Ani Rostiyati
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.842 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i1.125

Abstract

Abstrak             Di Lampung Timur tepatnya di Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana, masyarakatnya masih memegang kuat nilai-nilai kegotongroyongan yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, baik gotong royong tolong-menolong maupun gotong royong kerja bakti. Masyarakat Negara Nabung menjalankan  aktivitas gotong royong tolong-menolong dalam kehidupan sehari-hari, baik di bidang mata pencaharian hidup, kemasyarakatan, dan pelaksanaan upacara adat.  Di bidang mata pencaharian, mereka melakukan gotong royong di bidang pertanian yakni di ladang (kebun) dan  sawah. Selain bidang pertanian, gotong royong juga dilakukan dalam bidang kemasyarakatan yakni  membantu dalam mendirikan rumah, kematian, dan jika ada musibah seperti sakit, kebakaran, kecelakaan dan lain-lain. Di bidang adat, masyarakat  tolong-menolong dalam pelaksanaan upacara adat, misalnya dalam upacara perkawinan, kelahiran, dan pemberian gelar (cakak pepadun). Gotong royong kerja bakti juga dilakukan untuk kepentingan umum seperti memperbaiki jalan, mesjid, irigasi, dan balai desa. Namun demikian, tidak dipungkiri pada masa sekarang bentuk gotong royong mengalami perubahan akibat dari perkembangan teknologi, industrialisasi, dan modernisasi. Terlepas dari perubahan yang terjadi, sikap gotong royong pada masyarakat Negara Nabung masih cukup kuat melekat. Hal itu disebabkan di Desa Negara Nabung terdapat prinsip sakai sambaian, salah satu prinsip hidup gotong royong di Lampung. Sakai sambaian adalah nilai budaya penting pada masyarakat Negara Nabung yang sudah menjadi pedoman hidup sehari-hari. AbstractDesa (village) Negara Nabung, Kecamatan (district) Sukadana in East Lampung holds strong values of togetherness (gotong-royong), either in their daily social life or in traditional ceremony. This kind of value has gradually faded due to very fast development in technology, industrialization and modernization. Fortunately, Desa Negara Nabung has a principle called sakai sambaian that helps their bond strong. Sakai sambaian is their guidance in their daily social life, e.g. in erecting new houses, mending roads, and conducting wedding ceremony.
PENGOBATAN TRADISIONAL ORANG BUGIS-MAKASSAR Dloyana Kusumah
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.777 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.22

Abstract

Sesungguhnya, masyarakat Bugis-Makassar sebagaimana halnya suku-suku bangsa  lain di Indonesia, sejak lama telah memiliki sistem pengetahuan tentang pengobatan tradisional yang bersumber dari kearifan lokal mereka. Namun sangat disayangkan pengetahuan tersebut kini hanya diketahui oleh kalangan terbatas yaitu orang tua, sementara tulisan yang ada masih dalam bahasa dan aksara daerah. Oleh karena itu sedikit sekali yang memahami pengetahuan tentang pengobatan tradisional. Dengan tujuan untuk mengkaji sistem pengetahuan pengobatan tradisional Bugis-Makassar dan menyediakan alternatif pilihan bagi warga untuk pengobatan penyakit. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode etnografi, sebagai cara untuk memahami sistem budaya dan model perawatan kesehatan mereka, pengumpulan data juga dilakukan dengan studi kepustakaan, observasi, dan wawancara mendalam. Diketahui bahwa hingga kini masyarakat Bugis Makassar masih memegang teguh pengetahuan tentang pengobatan tradisional sebagai bagian dari sistem budaya mereka.Kata kunci : kearifan lokal, pengobatan tradisional, orang Bugis-Makassar.
UPACARA HULUWOTAN: RITUAL PADA MASYARAKAT GAMBUNG DESA MEKARSARI – KABUPATEN BANDUNG Nina Merlina
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1315.039 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i2.98

Abstract

Abstrak Upacara huluwotan adalah kegiatan ritual yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali, tepatnya setiap bulan silih mulud atau bulan Rabi’ul Akhir dalam kalender Islam. Kegiatan ini merupakan tradisi masyarakat Gambung yang sudah turun temurun. Upacara ini merupakan satu bentuk cacarekan  atau nazar (hajat) leluhur, yang pada saat itu masyarakat Kampung Gambung kesulitan air bersih. Dipimpin oleh sesepuh kampung, masyarakat bersepakat untuk membangun solokan atau saluran air yang panjangnya kurang lebih 2 kilometer mulai dari huluwotan (mata air) di kaki Gunung Geulis sampai ke permukiman warga. Upacara tersebut sudah menjadi tradisi yang tidak pernah terlewatkan. Upacara ini sangat menarik untuk diteliti. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui proses jalannya upacara huluwotan yang mana upacara ini berkaitan dengan kekuatan alam dan kekuatan gaib dan masyarakat masih mempertahankan upacara tersebut sampai sekarang. Selain itu, tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk melihat perubahan yang terjadi dan faktor yang mempengaruhinya. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan datanya sebagai berikut; studi pustaka, wawancara dan observasi langsung pada masyarakat Gambung, Desa Mekarsari, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung. AbstractHuluwotan ceremony is a ritual held once a year, precisely every year in Mulud Rabi Late in the Islamic calendar. This event is a tradition of Gambung society, which had been started in the past time. This ceremony is a form of cacarekan or votive (lavatory) ancestors, which at that time the village communities of Gambung are having difficulties in providing clean water. Led by the village elders, the community agreed to build solokan or water channel, which has length of approximately 2 kilometers from huluwotan (springs) at the foot of Mount Geulis up to the residence.The ceremony has become a tradition that never missed. This ceremony is very interesting to be studied. The objective of this study is to determine the course of the ceremony ofhuluwotan that is associated with the forces of nature and the magicwhere the public retains the ceremony until now. In addition, another goal of the study was to see the changes and the factors that influence it. The method used in this study is a qualitative method of data collection techniques as follows; literature, interviews and direct observation in Gambung community, village Mekarsari, Pasir Jambu subdistrict, Bandung district.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue