cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
TEMPAT-TEMPAT KERAMAT DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS Aam Masduki
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.027 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i3.176

Abstract

AbstrakDewasa ini bangsa Indonesia sedang berada di tengah-tengah kebudayaan yang sedang tumbuh dan berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Meskipun di tengah arus perkembangan yang sangat pesat  dalam segala aspek kehidupan, masih nampak bahwa ada masyarakat  yang masih kuat berpegang pada adat kebiasaan dan mentalitas para leluhur mereka tentang kepercayaan sebagai keyakinan dalam hidupnya yang diwujudkan melalui tindakan. Di antaranya pada waktu tertentu pergi atau berkunjung ke tempat-tempat keramat, misalnya makam-makam para leluhur yang dianggap keramat atau tempat-tempat yang dianggap mempunyai tuah dan sebagainya.Tempat-tempat keramat banyak ditemukan di semua daerah di Indonesia. Di tempat-tempat inilah masyarakat pendukung suatu kebudayaan mengekspresikan dirinya secara religius dengan beranekaragaman cara dan laku. Hal tersebut bisa dimengerti karena kepercayaan sebagai salah satu unsur kebudayaan, terdiri atas pola-pola sistematis dari keyakinan anggota masyarakat. Pola-pola tersebut sistematis karena manifestasinya teratur dalam kejadian maupun ekspresinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tempat-tempat keramat  serta mengungkap fungsi dan maknanya, agar masyarakat terutama generasi muda bisa  mengetahui dan memelihara tinggalan leluhur. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang melihat pada aspek nilai dan konsep berpikir pada masyarakat tersebut, serta penggalian data melalui observasi dan wawancara. AbstractToday the Indonesian nation was in the midst of a culture that is growing and changing in accordance with the development of science and technology.  While in the midst of rapid growth in all aspects of life, it appears that there are still people who still hold on to the customs and mentality of their ancestors of faith as belief in life created by the action. Among them at a certain time to go or visiting sacred places, such as the tombs of the ancestors that are considered sacred or places that are considered to have good luck and so on.  Sacred places are found in all regions in Indonesia. In places it is public support for a culture to express themselves religiously with various manner and behavior.  This is understandable, given the trust as one of the cultural elements, consisting of systematic patterns of society belief-pattern.The patterns are systematic, as a regular in the incidence of manifestations and expressions.  The purpose of this study was to identify sacred sites and reveals the function and meaning, so that people, especially younger generations can know and preserve the remains of ancestors.  This is a descriptive study using a qualitative approach that looks at the aspects of value and the concept of thinking in the community, as well as extracting data through observation and interviews.
SEJARAH SOSIAL-BUDAYA KABUPATEN KUNINGAN Euis Thresnawaty S.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.868 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i1.62

Abstract

AbstrakKuningan adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang terletak di ujung Timur. Dari sisi sejarah sosial budayanya Kabupaten Kuningan menarik untuk dikaji, karena sejak beberapa abad yang lalu daerah Kuningan telah menjadi daerah pemukiman manusia. Dari penemuan-penemuan benda seperti menhir, dolmen, dan lain-lain dapat disimpulkan bahwa daerah Kuningan telah didiami oleh manusia sejak masa neolitik. Namun demikian, mengingat panjangnya sejarah yang dilalui Kabupaten Kuningan dengan melalui beberapa masa maka penelitian ini difokuskan pada masa kolonial hingga kemerdekaan untuk mengetahui bagaimana kondisi sosial budaya di Kabupaten Kuningan pada masa tersebut. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak dahulu posisi Kabupaten Kuningan yang strategis membuat wilayah dan masyarakatnya senantiasa mampu mengikuti dinamika kehidupan, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi dengan kelompok masyarakat lainnya baik secara teritorial maupun kultural. AbstractKuningan District is one area in West Java province located at the end of Northeast. In terms of social and cultural history of Kuningan regency, it is interesting to be investigated since from several centuries ago Kuningan has become the area of human settlements. From the discoveries of objects such as menhirs, dolmen, etc , it can be concluded that the Kuningan has been inhabited by humans since the Neolithic era. Nevertheless, due to the long history of Kuningan, this study only focused on the colonial to independence period to determine how the social and cultural conditions in the district of Kuningan in that era. The method used is the historical method which includes heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results showed that from long ago, the strategic position of Kuningan District makes this area and the community is able to follow the dynamics of life, thus it enables the interaction with other community, both territorially and culturally.
FUNGSI SENI GEMBYUNG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT PANJALU KABUPATEN CIAMIS Endang Supriatna
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.228

Abstract

AbstrakGembyung sebagai kesenian buhun yang menjadi sebuah seni pertunjukan di Panjalu, hingga kini tetap bertahan dengan ciri ketradisionalannya. Bersama dengan pelaksanaan Upacara Nyangku maupun peringatan Maulid Nabi Saw. atau pada acara hiburan pada saat khitanan anak, Gembyung tampil bersahaja. Namun demikian, penampilannya tetap menyampaikan makna baik melaui gerak, lagu, gending musik, maupun sesajennya bahwa hidup akan terus bergerak seiring berlangsungnya sang waktu. Bagi masyarakat Panjalu, Seni Gembyung tidak hanya sebuah ungkapan ekspresi keindahan, namun lebih dari itu, Gembyung memiliki makna kecintaan serta penghormatan kepada asal-usul leluhur mereka. Tulisan ini berupaya mengupas fungsi Seni Gembyung pada masyarakat Panjalu. Ada dua bagian yang dibahas, pertama gambaran sosial budaya masyarakat Panjalu tempat kesenian ini tumbuh. Kedua, menjelaskan Seni Gembyung, mulai dari perkembangannya, lagu dan teknik pementasan, fungsi dan peranan kesenian ini pada masyarakat pendukungnya. Serta, upaya masyarakat Panjalu memelihara Seni Gembyung agar tidak tergerus oleh seni modern yang semakin deras berupaya menggeser seni lokal. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. AbstractGembyung is a kind of traditional performance art in Panjalu that has a long history. Along with Nyangku ceremony or commemoration of Maulid Nabi Saw. (the birth of prophet Muhammad Saw.), or celebration after a child has circumsized, gembyung is played in a very plain way. The mystical music and the fragrance of the offerings accompanied the dancers in expressing their respect to the ancestors. This paper tries to reveal the function of gembyung art in the society of Panjalu. There are two parts to be discussed: firstly, the description of sociocultural setting of Panjalu society where the art has been developed. Secondly, explanation of gembyung art, beginning with the development, the songs, and the performance techniques. A descriptive method and qualitative approach were conducted in this paper.
RONGGENG BUGIS DALAM TINJAUAN SEJARAH KEBUDAYAAN M. Halwi Dahlan
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.549 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i2.144

Abstract

AbstrakRonggeng Bugis adalah salah satu jenis seni tari yang berkembang di Kabupaten dan Kota Cirebon.  Beberapa sumber menyebutkan bahwa tari ini dilahirkan semasa dengan pembentukan Kerajaan Cirebonoleh Sunan Gunung Jati tahun 1482.  Ide lahirnya tari ini adalah sebagai samaran dalam kegiatan memata-matai musuh. Tari yang dimainkan oleh kaum laki-laki ini didandani seperti perempuan dan ditampilkan dalam bentuk sendratari yang mengandung unsur humoris. Kata “bugis” yang melekat pada nama tari ini identik dengan nama salah satu suku bangsa di Pulau Sulawesi bagian selatan selain suku bangsa Makassar, dan Toraja. Kaitan antara Kerajaan Cirebondengan suku Bugis ini adalah adanya klaim bahwa orang-orang bugis telah menjadi bagian dari pasukan telik sandi Cirebonsehingga namanya menjadi Ronggeng Bugis. Masalahnya, dukungan data berupa dokumen tentang keberadaan orang Bugis di Cirebon pada abad XV  tidak ada kecuali oral history, tetapi telah menjadi keyakinan masyarakat setempat terutama kalangan seniman bahwa orang Bugis pernah menjadi anggota pasukan Kerajaan Cirebon.  Tujuan penulisan ini adalah mengungkap peranan orang Bugis diCirebon dengan melakukan perbandingan dengan beberapa peristiwa yang berkaitan dengan “merantaunya” pasukan Bugis.  Metode yang digunakan adalah metode diskriptif analisis sedangkan pemaparan peristiwanya menggunakan metode sejarah.  Hasilnya adalah fakta menarik tentang peranan orang Bugis tersebut. AbstractRonggeng Bugis is a kind of dance that was developed in Cirebon. Some sources say that the birth of the dance was contemporaneous with the establishment of the Kingdom of Cirebon by Sunan Gunung Jati in 1486. The purpose of the dance was firstly as a disguise to spy on the enemy. The dancers are men who dressed up in women’s costume and it is performed as sendratari (drama in the form of dance) that contains elements of humor. Ronggeng Bugis is performed by the Bugis troop of the Cirebon Kingdom’s army. Bugis is the name of ethnic group from South Sulawesi, and this is how the dance got its name. The questions are whether the Bugisnese troop had been established at that time and what their contributions were because the Bugisnese had not been migrated to Cirebon until the 17th century whereas the Kingdom of Cirebon had been founded in the 15th century. There is a distance of about 200 years. This study finds that Ronggeng Bugis was not invented contaporaneous with the establishment of the Kingdom of Cirebon but, instead, during the conflict between Trunojoyo dan Amangkurat I of the Kingdom of Mataram. The author describes the invention and development of Rnggeng Bugis based on bibliographic study and interview with the artists.
BAU NYALE: TRADISI BERNILAI MULTIKULTURALISME DAN PLURALISME I made purna
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.79 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i1.327

Abstract

Budaya spiritual etnis Sasak dalam perjalanannya telah mengalami perkembangan yang  cepat. Diawali dengan masuknya  agama Islam  dari Jawadan Makasar, serta agama Hindu dari Bali. Kehadiran kedua agama tersebut kemudian diolah masyarakat Sasak dalam konsep sinkretisme, dan wadah puncaknya berupa ajaran Islam Wetu Telu. Pengejahwantahan dari sinkretisme  menghasilkan tradisi-tradisi sebagai penguat identitas etnis Sasak. Satu di antara tradisi yang ada, yaitu Bau Nyale. Sebagai pokok sandaran analasis penulisan membatasi tiga pokok rumusan, yaitu 1) apa fungsi tradisi Bau Nyale bagi masyarakat pendukungnya; 2) nilai-nilai budaya apa saja yang dimuat dalam tradisi Bau Nyale; 3) Kenapa diberi pengakuan, penghargaan dan kesetaraan tradisi Bau Nyale dengan tradisi yang lain yang hidup di Lombok  oleh komunitas lain. Pisau analisis untuk mengindentifikasi yaitu teori semiotika dan neo-fungsionalisme. Penelitian ini merupakan penelitian  kualitatif dengan teknik deskriptif interpretatif.   Tujuan dari penelitian  ini  untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi dan nilai budaya  yang dimuat pada tradisi Bau Nyale. Dari hasil mengidentifikasi, maka karya budaya intangible Bau Nyale layak sebagai tradisi yang memiliki nilai multikulturalisme dan pluralisme. Sasak ethnic spiritual culture in its journey has experienced rapid development. It starts with the entry of Islam from Java and Makasar, as well as Hinduism from Bali. The presence of the two religions is then processed by the Sasak community in the concept of syncretism, and the top place is the teachings of Islam Wetu Telu. The implication of syncretism resulted  traditions as a reinforcement of Sasak ethnic identity. One of the existing traditions, is the Bau  Nyale. There are three main issues in this research, which are 1) what is the function of Nyale Bau tradition for the support community; 2) what cultural values are contained in the Bau Nyale tradition; 3) why is Bau Nyale tradition given the recognition, appreciation and equivalence with other traditions that live in Lombok by other communities. Theories used to identify are the Semiotics Theory and Neo-functionalism. This research is a qualitative research with descriptive interpretative technique. The purpose of this study is to identify the functions and cultural values contained in the Bau Nyale tradition. From the results of identifying, the Bau Nyale cultural work deserves a tradition that has value multiculturalism and pluralism. 
“REVOLUSI DALAM REVOLUSI”: TENTARA, LASKAR, DAN JAGO DI WILAYAH KARAWANG 1945-1947 IIm Imadudin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.959 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i1.330

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap konflik tentara dengan laskar dan jago di wilayah Karawang. Penelitian ini mempergunakan metode sejarah yang terdiri atas heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sama seperti halnya di daerah lain, revolusi kemerdekaan di wilayah Karawang berlangsung dengan sengit. Dinamika perjuangan kemerdekaan di Karawang terasa lebih keras lagi setelah proklamasi kemerdekaan. Pada masa perjuangan Karawang merupakan “rumah” bagi tentara dan laskar perjuangan. Banyaknya kelompok laskar dan kelompok jago yang sering menghadirkan kerusuhan menimbulkan permasalahan tersendiri sebagaimana digambarkan pada artikel ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik antara tentara, laskar, dan jago terjadi disebabkan adanya keyakinan yang besar terhadap janji-janji revolusi, perbedaan ideologis mengenai bagaimana perjuangan harus dimenangkan, faktor ketidakpercayaan yang mengakibatkan hubungan-hubungan yang tidak harmonis antarfaksi perjuangan di Karawang. This study aims to reveal the conflict of soldiers with paramilitary troops and warior in the area of Karawang. This study uses historical methods consisting of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Just as in other areas, the revolution of  independence in the Karawang was fierce. The dynamics of the struggle for independence in Karawang was even harder after the proclamation of  independence. Karawang is a "home" for the army and the paramilitary-troops struggle. The large number of paramilitary troops groups and groups of warior often caused riots that raise their own problems as illustrated in this article. The results show that the conflict between the army, the paramilitary troops and the warior occurred due to the great conviction of the promises of the revolution, the ideological differences about how the struggle should be won.  The unbelieving factor resulted an unharmonious relationships between-fraction struggle in Karawang.
SEJARAH KOTA BANDUNG DARI ”BERGDESSA” (DESA UDIK) MENJADI BANDUNG ”HEURIN KU TANGTUNG” (METROPOLITAN) Nandang Rusnandar
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.303 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i2.219

Abstract

AbstrakBandung merupakan sebuah kota yang mempunyai alur sejarah yang sangat panjang, wilayah yang asalnya hanya sebuah Bergdessa „desa udik yang sunyi sepi yang terdiri dari 25 sampai 30 rumah…‟. Apabila dari satu rumah terdiri atas 4 orang anggota keluarga, maka dari 25 sampai 30 rumah tersebut diperkirakan penduduk di tempat itu berjumlah seratus dua puluhan jiwa dan diduga semuanya adalah orang Sunda. Itulah penduduk yang menempati „Dayeuh Bandung‟ sebagai cikal bakal Kota Bandung. Dewasa ini, Bandung terwujud sebuah kota metropolitan yang indah penuh sanjung. Tujuan penelitian ini mengungkapkan sejarah Kota Bandung. Metode penelitian yang dipergunakan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Bandung berkembang sesuai dengan situasinya. AbstractThe city of Bandung has a very long history, from the area of a remote and calm village (Bergdessa) consisting of 25 to 30 houses (approximately 120 people), it has turned into a big city (metropolitan) populated by over 4 millions people. The village was called Dayeuh Bandung (the city of Bandung) and it is considered to be the embryo of nowadays Bandung. The early population of Dayeuh Bandung was probably the Sundanese only. Revealing the history of the city of Bandung would be the main goal of this research, and the methods we are conducting are heuristic, critique, interpretive, and historiography. We came into conclusion that Bandung has developed accordingly.
MENGANTAR ARWAH JENAZAH KE PARAI MARAPU : UPACARA KUBUR BATU PADA MASYARAKAT UMALULU, SUMBA TIMUR Lukman Solihin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.162 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i2.135

Abstract

AbstrakAgama Marapu merupakan akar dari sistem sosial, politik, dan budaya orang Sumba. Di bidang sosial, ia mendasari terbentuknya pelapisan sosial dari kaum bangsawan, orang bebas, dan budak. Di bidang politik, golongan bangsawan mendapat legitimasi sebagai penguasa lokal (raja). Sementara di bidang budaya, agama ini melahirkan ritual yang diyakini berasal dari zaman megalitik, yaitu upacara kubur batu. Upacara ini diselenggarakan secara kolosal dengan melibatkan jaringan kerabat yang luas, pemotongan hewan dalam jumlah besar, penggunaan kain tradisional yang sarat makna, serta berbagai tahapan ritual yang dimaksudkan untuk mengantar arwah jenazah menuju alam leluhur (parai Marapu). Artikel ini mendeskripsikan konsep-konsep dalam agama Marapu dan manifestasinya dalam upacara kubur batu. Konsep-konsep dalam agama Marapu, meminjam analisis Clifford Geertz, telah menjadi model of reality dan model for reality bagi masyarakat Sumba dalam memahami kehidupan dan kematian. Sebagai model of reality, agama Marapu mengandaikan konsepsi ideal tentang kehidupan pasca-kematian, yaitu parai Marapu. Sementara sebagai model for reality konsepsi mengenai parai Marapu menjadi panduan (peta kognitif) untuk memuliakan orang yang meninggal melalui penyelenggaraan upacara kematian, pemberian bekal kubur, dan persembahan hewan kurban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, di mana proses pengumpulan data dikerjakan dengan cara melakukan observasi, wawancara mendalam, serta kajian pustaka. Informan dalam penelitian ini adalah kerabat atau anggota keluarga yang hadir dalam penyelenggaraan upacara kubur batu.AbstractMarapu belief is the root of the social, political, and cultural system of Sumba. Socially it underlies the formation of social stratification: the nobles, free people, andslaves. Politically, the nobility have legitimacy as local rulers (kings). Culturally, this belief has given birth to rituals called stone grave ceremony which dates back to megalithic era. The ceremony was held in a colossal way involving extensive network of relatives, large amount of animal slaughtering, the use of very meaningful traditional fabrics, as well as various stages of rituals that are meant to take the bodies to the millieu of an cestral spirits (Parai Marapu).This article describes the concepts of Marapu belief and its manifestations in the stone graveceremony. Borrowing Clifford Geertz’s analysis, concepts in Marapu belief have become a model of reality and models for reality for the people of Sumbain understanding life and death. As a model of reality, Marapu belief counts on ideal conception of life after-death that is Parai Marapu. Whileas a model for reality the conception of Parai Marapu becomes a guide (cognitive map) to honor the dead through the organization of the funeral ceremony, grave goods offering, as well as animal sacrifices. This study used a qualitative approach, in which the process of data collection was conducted through observation, in-depth interviews, and bibliographical review. Informants in this study were relatives or family members who attended the stone grave ceremony.
GERAKAN SOSIAL POLITIK DI BLAMBANGAN TAHUN 1767-1768 Nur Maria
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.939 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i3.26

Abstract

Kajian yang menyuarakan tentang gerakan sosial di Indonesia memang banyak dihasilkan. Akan tetapi kajian yang secara spesifik membahas gerakan sosial yang terjadi di Blambangan belum ada. Blambangan, sekarang dikenal dengan Kabupaten Banyuwangi, merupakan daerah perbatasan antara Jawa dan Bali, rawan akan terjadinya konflik, salah satu wujudnyaadalah terjadinya gerakan sosial tahun 1767-1768 yang dipimpin oleh Wong Agung Wilis. Melalui penggunaan metode sejarah, tulisan ini bertujuan mengkaji munculnya gerakan sosial di Blambangan, isu-isu yang menjadi fokus perhatian atau capaian-capaian yang diraih gerakan sosial di Blambangan pada masa pendudukan VOC. Berbagai perspektif mengenai gerakan ini dibangun dengan memanfaatkan sumber-sumber VOC, babad dan beberapa kajian historis mengenai Blambangan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, gerakan sosial di Blambangan terjadi karena adanya beberapa alasan, baik dari segi politik, sosial, etnis, agama bahkan ekonomi. Gerakan sosial di Blambangan sebenarnya tidak pernah berakhir, bahkan ketika Wilis, pemimpin gerakan tersebut dibunuh oleh VOC, para pengikutnya masih melanjutkan gerakan tersebut. Sampai pada akhirnya VOC melakukan berbagai strategi baik kompromi dengan pemimpin gerakan, mendatangkan pasukan perang dari Jawa dan Madura bahkan melakukan gencatan senjata untuk menghentikannya.Kata kunci: gerakan sosial, Wong Agung Wilis, VOC, Blambangan.
TATACARA DAN RITUAL MENDIRIKAN RUMAH DI KAMPUNG NAGA KEBUPATEN TASIKMALAYA Nandang Rusnandar
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.5 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i3.117

Abstract

AbstrakKampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya, merupakan kampung yang penduduknya masih berpegang teguh kepada adat  istiadat dalam menjalankan kehidupan istiadat, melingkupi segala bentuk  aspek kehidupan. Hal tersebut dapat terlihat dari tata cara mendirikan rumah. Keteguhan dalam mempertahankan adat ini menjadi kebiasaan tatacara mendirikan rumah dalam bentuk arsitektur yang ada di Kampung Adat Naga. Proses mendirikan rumah merupakan ritual yang tak putus mulai dari awal hingga akhir pembangunan. Proses mendirikan sebuah rumah merupakan kegiatan ritual yang secara masif dilakukan untuk mensucikan tempat tinggal (rumah) agar terbebas dari hal-hal yang bersifat gaib Bahkan dalam kenyataan kesehariannya, rumah memiliki fungsi sebagai tempat untuk ritual itu sendiri. Rumah yang dibangun bersama anggota keluarga sangat bermakna dalam. Segenap anggota masyarakat yang terlibat akan merasa memiliki bagian yang menjadi karyanya, sehingga keberadaan sebuah rumah adalah bagian utuh dari makro-kosmosnya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran secara utuh dan mendalam tentang tata cara dan ritual yang mengungkap simbol dan nilai  filosofisnya. Metode penelitian adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung dan wawancara. AbstractKampung Naga in Tasikmalaya District, is a village whose people still cling to the customs and traditions in running life, encompasses all aspects of life forms. This can be seen from the procedure of building up their homes. The firmness in defending this custom becomes the habit of building up home procedures in the form of architecture of Kampung Naga. The process of building a house is a ritual that is unbroken from the beginning to the end of development. The process of setting up a home is a massive rituals performed to purify the residence (home) to be free from the things that are unseen.Even in the daily reality, the house has a function as a place for ritual itself. Houses are built by family members in has a deep meaning. All community members involved will give a feel asa part of their work, so that the existence of a home is an integral part of its macro-cosmos. The purpose of this study is to get a full and deep picture of the ordinances and rituals that reveal the symbols and philosophical values. The research method is a method of qualitativewith direct observation and interviews asthe data collection techniques.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2021 Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021 Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020 Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, JUNE 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNE 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARCH 2016 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNE 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARCH 2012 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARCH 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNE 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARCH 2009 More Issue