cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Analisis Potensi Interaksi Obat Antidiabetik Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Inap RS PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta Adinda Fitriani; Siwi Padmasari
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71905

Abstract

Kombinasi beberapa obat yang diterima pasien diabetes melitus selama terapi dapat memicu timbulnya masalah pada pengobatan salah satunya adalah interaksi obat. Kejadian interaksi obat menyebabkan tidak terkontrolnya kadar glukosa darah sehingga dapat mempengaruhi morbiditas, mortalitas, dan kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran potensi interaksi obat antidiabetik dan menganalisis hubungan jumlah penggunaan obat antidiabetik terhadap potensi kejadian interaksi obat pasien rawat inap di RS PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta periode Januari–Desember 2020. Penelitian ini merupakan penelitian analitik non-eksperimental dengan pengambilan sampel secara retrospektif. Sampel pada penelitian ini sebanyak 60 pasien. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan gambaran karakteristik pasien dan analisis bivariat menggunakan uji statistik Chi-square dilakukan untuk melihat hubungan antara jumlah penggunaan obat pertama kali saat pasien menjalani rawat inap dengan potensi kejadian interaksi obat. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa mayoritas pasien berusia 61-80 tahun (55%) dengan jenis kelamin perempuan (53,3%). Pasien DM tipe 2 memiliki penyakit penyerta (88,3%) terbanyak yaitu ulkus diabetik (35,6%). Regimen terapi antidiabetik yang paling banyak adalah tunggal antidiabetik (68,3%) dengan mayoritas menggunakan metformin (45%) dan nonantidiabetik paling banyak digunakan adalah antibiotik seftriakson (16,7%). Pasien mayoritas mendapatkan jumlah obat ≥5 obat (66,7%). Pasien DM tipe 2 paling banyak mengalami potensi kejadian interaksi obat antidiabetik sebanyak 71,7% dengan obat antidiabetik yang paling sering menimbulkan interaksi adalah metformin. Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara jumlah penggunaan obat terhadap potensi kejadian interaksi obat p=0,000 (<0,05) dengan odds ratio 16,714.
Gambaran Kipi (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) Pada Karyawan Rumah Sakit yang Mendapatkan Imunisasi Dengan Vaksin Sinovac di RSUD Kota Yogyakarta Adriyanto Rochmad Basuki; Gita Mayasari; Esti Handayani
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71908

Abstract

Imunisasi menggunakan vaksin adalah relatif aman tetapi bukan tanpa efek samping, karena sebagian orang dapat mengalami reaksi setelah imunisasi yang bersifat ringan sampai berat. Reaksi ini disebut dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran KIPI pada karyawan rumah sakit yang mendapatkan imunisasi dengan vaksin Sinovac di RSUD Kota Yogyakarta. Jenis penelitian ini deskriptif dengan pengambilan data secara prospektif. Populasi adalah semua karyawan yang mendapatkan imunisasi dengan vaksin Sinovac pada bulan Januari - Maret 2021 sebanyak 572 orang yang memenuhi syarat inklusi dan eksklusi dengan metode purposive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner google form yang disampaikan ke masing-masing responden. Pengolahan data dilakukan dengan analisa univariate. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 54,5% dari responden mengalami gejala KIPI Sinovac, sedangkan sebanyak 45,5% melaporkan tidak mengalami gejala KIPI. Gejala KIPI yang paling banyak muncul dalam penelitian ini adalah nyeri di tempat suntik yaitu sebanyak 243 orang (42,5%). Awitan gejala KIPI muncul pada hari pertama setelah imunisasi. Lama gejala KIPI menetap yaitu selama 1 hari. Gambaran KIPI vaksin Sinovac diharapkan dapat membantu program imunisasi dan dapat memperkuat keyakinan masyarakat akan pentingnya imunisasi sebagai upaya pencegahan penyakit Covid-19 yang efektif.
Gambaran Pelaporan Inspeksi Berkala Setelah Diberlakukan Sistem Pelaporan Online Vika Marlyn Yunita Wijayanti
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71909

Abstract

Pendahuluan: Pelaporan inspeksi berkala sebelumnya dilakukan dengan menggunakan form checklist kemudian data inspeksi dimasukkan ke dalam tabel Excel secara manual. Hal tersebut dinilai tidak efektif karena banyak menggunakan kertas, lembar inspeksi kurang komunikatif, waktu pelaksanaan inspeksi tidak terpantau dan pengelolaan data pelaporan membutuhkan waktu relatif lama. Instalasi Farmasi RSUP Dr Sardjito berinovasi dengan menerapkan inspeksi berkala berbasis online. Penelitian ini bertujuan melihat peningkatan jumlah pelaksanaan inspeksi, ketepatan waktu pelaporan inspeksi, dan kesesuaian pengisian inspeksi berkala setelah pelaksanaan pelaporan inspeksi online. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional. Sampel yang digunakan adalah 109 ruang yang digunakan sebagai lokasi penyimpanan obat di RSUP Dr Sardjito. Analisis data dilakukan dengan menghitung persentase pelaksanaan inspeksi, ketepatan waktu inspeksi, dan kesesuaian pengisian inspeksi dari google form dan aplikasi. Hasil. Jumlah pelaksanaan inspeksi naik sebesar 5,51% saat menggunakan aplikasi dibandingkan dengan manual. Terjadi peningkatan ketepatan waktu pelaporan inspeksi sebesar 7,7% setelah menggunakan aplikasi online dibandingkan saat menggunakan google form. Terjadi peningkatan kesesuaian pengisian data inspeksi setelah menggunakan google form sebesar 15% sedangkan dengan menggunakan aplikasi meningkat sebesar 34,38%. Kesimpulan. Terjadi peningkatan jumlah dalam pelaksanaan inspeksi, ketepatan waktu pelaporan inspeksi dan kesesuaian pengisian inspeksi berkala setelah pelaksanaan inspeksi berkala online.
Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Covid-19 Terkonfirmasi Dengan Komorbid di Bangsal Ogan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Periode April-Juni 2021 Yuniar Yuniar; Aninditha Rachmah Ramadhiani; Dini Asyifa; Winda Kirana Ade Putri; Winta Sari Apriliana
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71910

Abstract

Latar Belakang: Corona virus Disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh sindrom pernapasan akut coronavirus-2 (severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 atau SARS-CoV-2). Tantangan pengobatan pasien Covid -19 salah satunya adalah pada pasien dengan komorbid. Pemilihan terapi Covid-19 perlu mempertimbangkan interaksi obat Covid-19 dengan pengobatan penyakit komorbid. Mayoritas penderita penyakit penyerta mengalami polifarmasi, sehingga akan meningkatkan potensi terjadinya interaksi obat. Tujuan: tujuan penelitian ini yaitu untuk untuk mengetahui interaksi obat dan mencegah terjadinya interaksi obat yang potensial pada pasien Covid-19 dengan komorbid di bangsal Ogan RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang. Metode: penelitian ini merupakan penelitian observasional yang dilakukan secara prospektif pada pasien Covid-19 terkonfirmasi dengan Komorbid yang dirawat di bangsal Ogan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode April-Juni 2021. Analisis interaksi obat menggunakan aplikasi Lexicomp. Tingkat keparahan interaksi ditentukan berdasarkan tingkat resiko, tingka tkeparahan, dan tingkat reliabilitas. Hasil: sampel dari penelitian ini berjumlah 23 pasien dengan jumlah potensi interaksi obat 94 interaksi. Persentase penyakit penyerta tertinggi ialah Hipertensi sebesar 48%. Serta persentase penggunaan obat>5 obat sebanyak 100%. Berdasarkan mekanisme, interaksi farmakodinamika 69% kejadian dan interaksi farmakokinetika 31% kejadian interaksi. Berdasarkan tingkat resiko interaksi persentase tertinggi pada kategori C sebesar 77% sehingga diperlukan pemantauan terapi. Berdasarkan tingkat keparahan, interaksi obat moderate tertinggi dengan persentase 74% kejadian, interaksi minor 21% kejadian, dan interaksi mayor 5% kejadian. Berdasarkan tingkat reliabilitas, persentase tertinggi pada kategori fair dengan 72 interaksi, good 18 interaksi, dan Excellent 5 interaksi.
Masalah Terkait Obat pada Pasien Onkologi: Apa yang Harus Diperhatikan oleh Apoteker? Yovita Diane Titiesari; Helin Yovina Nursalim; Jessica Nathania
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71911

Abstract

Pasien kanker seringkali memiliki regimen terapi yang kompleks dan rawan terjadi kesalahan pengobatan. Penelitian ini bertujuan menentukan masalah, penyebab, dan klasifikasi obat yang berhubungan dengan masalah terkait obat (drug related problems/DRPs) pada pasien kanker. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif. Kasus DRP dilaporkan oleh apoteker klinis di rumah sakit khusus kanker selama periode Januari sampai Agustus 2021. DRP terkait obat kanker diklasifikasikan mengunakan sistem klasifikasi DRP menurut PCNE versi 9.1. Kelas terapi obat yang terlibat diklasifikasikan menggunakan klasifikasi berdasarkan MIMS. Dari 146 laporan DRP yang berhubungan dengan pasien kanker, masalah DRP yang paling banyak terjadi adalah keamanan pengobatan (63,7%) dan efektivitas pengobatan (17,81%). Penyebab DRP yang sering terjadi adalah pemilihan obat (38,06%), pemilihan dosis obat (21,94%), dan durasi terapi obat (14,84%). Selain itu, golongan obat yang mempengaruhi sistem saraf pusat, antiinfeksi, dan obat yang bekerja pada sistem kardiovaskular dan hematopoietik adalah jenis obat yang paling sering berkaitan dengan DRP. Apoteker harus lebih memperhatikan pemilihan obat dan dosis serta durasi pengobatan, tidak hanya pada kemoterapi tetapi juga pada obat-obatan pendukung kemoterapi, saat memberikan asuhan kefarmasian untuk pasien kanker.
Peran Apoteker Klinis dalam Tim Onkologi Multidisiplin untuk Meningkatkan Keamanan Pengobatan Yovita Dianie Titiesari; Luh Nyoman Vidya Saraswati
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71912

Abstract

Pendekatan multidisiplin sering kali digunakan dalam penanganan medis pada sekelompok pasien yang memiliki kompleksitas secara patogenesis maupun pengobatannya, salah satunya pada pasien kanker. Studi ini bertujuan untuk menentukan peranan apoteker klinis dalam tim onkologi multidisiplin. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif yang datanya diambil secara retrospektif di sebuah rumah sakit kanker di Indonesia. Intervensi yang dilakukan apoteker klinis terhadap masalah terkait obat (drug related problem/DRP) diklasifikasikan menggunakan PCNE Drug Related Problem versi 9.1. Tipe intervensi yang diberikan oleh apoteker klinis kemudian dikelompokkan sesuai klasifikasi yang diajukan oleh Allenet et al. Klasifikasi ini telah tervalidasi untuk mendokumentasikan intervensi oleh apoteker klinis yaitu penambahan obat baru, penghentian obat, penggantian obat, penggantian rute administrasi obat, pemantauan obat, optimasi mode administrasi dan penyesuaian dosis. Terdapat 148 intervensi yang dilakukan oleh apoteker klinis dari 146 masalah terkait obat yang ditemukan, 79,7% dari intervensi tersebut ditujukan langsung kepada dokter penulis resep. Intervensi yang paling sering diberikan oleh apoteker klinis yang penghentian terapi (45,9%), penyesuaian dosis (24,0%) dan penggantian terapi (8,2%). Dokter sebagai penulis resep menerima dengan baik intervensi yang diberikan dan mengimplementasikan intervensi tersebutsecara penuh pada 89,7% kasus. Apoteker merupakan bagian penting dalam tim multidisiplinonkologi yang berperan aktif dalam mendeteksi dan juga mengusulkan intervensi untuk mengurangi masalah terkait obat dan meningkatkan keamanan obat. Tingginya tingkat penerimaan intervensi menunjukkan bahwa intervensi yang diberikan oleh apoteker klinis sangatlah efektif dalam pengobatan pasien.
Efektifitas Penggunaan Enoxaparin dan Fondaparinux Sebagai Antikoagulan Pada Pasien Covid-19 di RSUD Sidoarjo Novianti Fatli Azizah; Renny Nurul Faizah; Digna primasanti; Ikrimatul Khuluqiyah Prihantini; Imanda Gita Romadhian
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71913

Abstract

Covid-19 merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh coronavirus tipe baru. Tidak hanya menyebabkan pneumonia viral, SARS-CoV-2 juga memiliki dampak terhadap sistem kardiovaskular. Sebanyak 16-49% kasus severe Covid-19 ditemukan memiliki komplikasi trombotik, yang ditandai dengan peningkatan nilai d-dimer, fibrinogen, pemanjangan waktu prothrombin, dan trombositopenia. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunan obat Enoxaparin dan Fondaparinux sebagai antikoagulan pada pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo. Desain penelitian yang digunakan adalah Observasional yang bersifat retrospektif pada pasien rawat inap Covid-19 selama pada Bulan Mei - Agustus 2020, dimana subyek terbagi dalam 3 kelompok pasien yang mendapat terapi antikoagualan injeksi sub-cutan. Masingmasing kelompok diukur kadar d-dimer sebelum dan sesudah pemberian antikoagulan. Pada kelompok 1 (pasien mendapat terapi Enoxaparin 1x injeksi per-hari) dengan rata-rata penggunaan antikoagulan selama 5,5 hari, dimana penurunan kadar d-dimer tidak signifikan. Kelompok 2 (pasien mendapat terapi Enoxaparin 2x injeksi per-hari), rata-rata penggunaan antikoagulan 5,6 hari dengan rata-rata penurunan d-dimer sebesar 1596 µg/l. Pada kelompok 3 (pasien mendapat terapi Fondaparinux 1x injeksi per-hari), rata-rata penggunaan antikoagulan 3,5 hari, dengan rata-rata penurunan d-dimer sebesar 1630 µg/l. ada perbedaan bermakna dari nilai d-dimer sebelum dan sesudah pemberian Enoxaparin 2x sehari dan Fondaparinux 1x sehari. Berdasarkan hasil statistik, diketahui bahwa kelompok pemberian antikoagulan terbaik dalam menurunkan nilai d-dimer adalah kelompok 3 (Fondaparinux).
Perbedaan Efektifitas Terapi Eritropoetin Alfa dan Beta Pada Pasien Hemodialisis Reguler di RSUD Sidoarjo Renny Nurul Faizah; Novianti Fatli Azizah; Hari Purwoko
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71914

Abstract

Erythropoietin adalah langkah terakhir dalam pengobatan anemia yang disebabkan oleh penyakit ginjal kronis. Ada beberapa pilihan untuk eritropoietin rekombinan, yaitu eritropoietin alfa dan eritropoietin beta. Erythropoietin alfa dan beta adalah dua bentuk rhEPO yang memiliki urutan asam amino yang sama tetapi berbeda dalam rantai glikosilasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas eritropoietin alfa dan eritropoietin beta dengan mengamati peningkatan kadar hemoglobin pasien. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain pre-post-test pada 2 kelompok pasien yang mendapat terapi eritropoietin di Unit Hemodialisis. RSUD Sidoarjo periode September-Oktober 2019. Setiap kelompok diukur kadar Hbnya sebelum dan sesudah pemberian eritropoietin selama 1 bulan. Terdapat 52 responden yang memenuhi kriteria inklusi, dimana 29 pasien pada kelompok eritropoietin alfa dan 23 pasien pada kelompok eritropoietin beta. Rata-rata peningkatan Hb subjek yang menggunakan eritropoietin beta lebih besar daripada eritropoietin alfa. Berdasarkan uji statistik diperoleh nilai p=0,049 (p<0,05), artinya ada perbedaan yang signifikan antara perbedaan kadar Hb setelah eritropoietin alfa (0,02g/dl) dan eritropoietin beta (0,48g/dl ) dan tidak ada reaksi obat yang tidak diinginkan dari kedua kelompok penelitian.
Efisiensi Biaya Floor Stock Dengan Paket Tindakan di Poliklinik Bedah RSUP Dr. Sardjito Anisa Dewi Ratnaningtyas
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.72123

Abstract

Floor stock atau sistem persediaan lengkap di ruangan merupakan pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai untuk persediaan di ruang rawat disiapkan dan dikelola oleh Instalasi Farmasi. Pengelolaan obat yang efisien merupakan salah satu faktor yang penting dalam keberhasilan manajemen secara keseluruhan, serta bertujuan untuk terjaminnya ketersediaan obat yang bermutu baik, secara tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu serta digunakan secara rasional sehingga dana yang tersedia dapat digunakan dengan sebaik-baiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelayanan floor stock dengan paket tindakan di poliklinik bedah umum dan poliklinik bedah orthopedi RSUP Dr. Sardjito terhadap efisiensi biaya yang dikeluarkan. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif. Data diambil secara retrospektif pada 22 Maret - 11 Juni 2021 dan secara prospektif pada 14 Juni - 3 September 2021. Berdasarkan hasil penelitian, setelah dilakukan pelayanan floor stock dengan paket tindakan terjadi efisiensi biaya pengeluaran yang dibuktikan dengan adanya penurunan biaya pengeluaran sebesar 21,19% untuk poliklinik bedah umum dan 43,50% untuk poliklinik bedah orthopedi.
Pengaruh Kecepatan Pencampuran Terhadap Sifat Fisik Lotion Nano-Ekstrak Etanol Kulit Buah Pisang (Musa balbisiana Colla) dan Daun Teh Hijau (Camellia sinensis L. Kuntze) Dian Eka Ermawati; Alfia Andhika Putri
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i2.59209

Abstract

Kulit pisang kepok (M. balbisiana Colla) dan daun teh hijau (C. sinensis L. Kuntze) memiliki aktivitas antioksidan. Teh hijau mengandung katekin 20-30% meliputi epikatekin, epikatekin-3-galat, epigalokatekin, dan epigalokatekin-3-galat dengan nilai IC50 21,44 µg/mL. Kulit pisang kepok mengandung galokatekin, epikatekin, dan katekin. Aktivitas antioksidan pisang kepok yaitu 94,25% dengan nilai IC50 64,03±2,78 ppm yang tergolong sangat aktif. Pemakaian ekstrak sebagai zat aktif kosmetik memiliki pharmaceutical elegance rendah, sehingga ekstrak diformulasikan dalam SNEDDS (Self Nano-Emulsifying Drugs Delivery System). Maserasi kulit pisang kepok dan daun teh hijau menggunakan pelarut etanol 96%. Komponen formula SNEDDS (minyak kemiri : tween 80 : PEG 400) perbandingan 1:6:1; 1:7:1 dan 1:8:1. Orientasi ekstrak yang ditampung dalam sistem antara 100-500 mg. SNEDDS dengan loading ekstrak maksimal didispersikan dalam basis lotion kemudian dilakukan pecampuran dengan variasi kecepatan pencampuran (mortir, homogenizer kecepatan 500 dan 1000 rpm). Pengamatan sifat fisik dan kimia lotion meliputi viskositas, pH, daya sebar dan daya lekat. Analisa statistik menggunakan One Way Anova. Pengujian lotion dilakukan selama 12 hari dan data dianalisa menggunakan Paired T-Test. Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa variasi kecepatan pencampuran berpengaruh signifikan terhadap daya sebar dan daya lekat, namun tidak berpengaruh terhadap viskositas dan pH lotion. Homogenizer dengan kecepatan 1000 rpm merupakan metode terbaik untuk lotion nano ekstrak etanol kombinasi kulit pisang kepok dan daun teh hijau karena memenuhi persyaratan sifat fisik dan kimia yang baik selama penyimpanan.