cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Efektivitas Penggunaan Asam Folat Dalam Memperbaiki Luaran Fungsional Pasien Stroke Iskemik Akut Ratih Rakasiwi; Zullies Ikawati; Ismail Setyopranoto
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.66230

Abstract

Hiperhomositeinemia terjadi pada pasien stroke iskemik akut dan dapat memperburuk luaran terapi karena bersifat neurotoksik. Asam folat merupakan salah satu pilihan terapi yang dapat menurunkan kadar homosistein. Studi mengenai efektivitas asam folat pada pasien stroke iskemik akut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan asam folat dalam membantu memperbaiki luaran fungsional dan mengurangi durasi rawat inap pasien stroke iskemik akut. Penelitian dilakukan secara observasional-analitik dengan desain kohort retrospektif. Dari 168 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, diperoleh 72 pasien menerima asam folat dan 96 pasien sebagai kelompok kontrol dimana tidak menerima asam folat selama rawat inap. Efektivitas penggunaan asam folat dalam membantu memperbaiki luaran fungsional diukur menggunakan skala Modified Barthel Index (MBI) dengan membandingkan perubahan skor MBI antara kedua kelompok ketika masuk rumah sakit dan ketika evaluasi pada minggu pertama perawatan. Perubahan skor MBI pada kelompok asam folat dan kelompok kontrol masing-masing sebesar 3,03±2,79 dan 2,55±2,59 (p=0,343) dengan rerata durasi rawat inap selama 7,12±1,44 dan 7,46±1,84 hari (p=0,442). Penggunaan asam folat selama pengamatan pada minggu pertama tidak signifikan secara statistik baik dalam membantu memperbaiki luaran fungsional maupun mengurangi durasi rawat inap pasien stroke iskemik akut. Penelitian lebih lanjut dengan intervensi dan pengamatan yang lebih lama hingga fase kronik (selama 3-6 bulan) perlu untuk dilakukan.
Faktor yang Mempengaruhi Respon Terapi Gangguan Ansietas dengan Alprazolam Ni Nyoman Yudianti Mendra; Zullies Ikawati, Apt.; Cecep Sugeng Kristanto
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.66260

Abstract

Tujuan utama terapi ansietas yakni mencapai remisi dan mencegah terjadinya kekambuhan. Dalam praktek klinik remisi lebih sulit untuk dicapai, sehingga tujuan terapi yang lebih diharapkan ialah ketercapaian respon terapi. Berkaitan dengan hal tersebut, pilihan terapi untuk gangguan ansietas mempertimbangkan beberapa faktor. Salah satu terapi yang umum digunakan untuk menangani ansietas yakni golongan benzodiazepin khususnya alprazolam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara beberapa faktor terkait yang meliputi usia, jenis kelamin, penggunaan obat lain, dosis alprazolam, dan riwayat penyalahgunaan obat dengan ketercapaian respon terapi pasien dengan gangguan ansietas dengan terapi alprazolam.  Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Pengambilan data secara retrospektif pada rekam medis dan kartu pengobatan pasien rawat jalan dengan gangguan ansietas periode Januari 2018 – Oktober 2020 di RS Bethesda Yogyakarta. Respon terapi berupa perbaikan gejala dan kondisi pasien selama 6 bulan penggunaan alprazolam yang tertera pada data rekam medis berdasarkan penilaian dokter spesialis kedokteran jiwa. Jumlah subjek penelitian yakni 84 pasien yang terdiri atas 39 subjek dengan perbaikan dan 45 subjek belum menunjukkan perbaikan. Berdasarkan hasil uji Chi-Square dan Fisher’s Exact test, faktor penggunaan obat lain dan dosis alprazolam yang mempengaruhi respon terapi. Kombinasi dengan antidepresan (RR 2,308; 95%CI 1,387-3,840) dan penggunaan alprazolam dosis rendah (RR 2,151; 95% CI 1,508-3,067) memiliki kecenderungan menunjukkan perbaikan terhadap respon terapi.
Kontaminasi Bakteri Pada Pencampuran Sediaan Intravena dan Lingkungan Pencampuran Sediaan Intravena di Rumah Sakit Meilia Nhadia Amalia; Fita Rahmawati; Titik Nuryastuti
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.66407

Abstract

Pencampuran sediaan intravena yang tidak dilakukan secara aseptik berisiko tinggi menyebabkan infeksi nosokomial karena adanya kontaminasi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis bakteri yang mengontaminasi sediaan intravena dan lingkungan pencampuran sediaan intravena. Penelitian ini dilakukan di RS Akademik UGM menggunakan desain cross sectional. Sejumlah 9 sampel uji kontaminasi bakteri yang terdiri dari 3 sampel sediaan intravena yang dicampurkan personel dari dua ruangan bangsal perawatan dan area Laminar Air Flow (LAF), sebanyak 4 sampel berupa bakteri dari swab telapak tangan dan mukosa hidung dari dua personel sebelum melakukan cuci tangan, dan 2 sampel berupa bakteri dari swab lingkungan pencampuran sediaan intravena. Kontaminasi bakteri dilihat melalui uji sterilitas metode inokulasi langsung dan identifikasi bakteri menggunakan reagen kit Analytical Profile Index (API) untuk bakteri gram negatif dan BBL Crystal untuk bakteri gram positif. Hasil penelitian ini tidak terdapat kontaminasi bakteri pada sediaan pencampuran intravena yang diuji sterilitasnya. Hasil swab tangan kedua personel ditemukan bakteri Staphylococcus epidermidis. Hasil swab mukosa hidung personel ditemukan bakteri Corynebacterium spp., Klebsiella pneumoniae, Kytococcus sedentarius, dan Staphylococcus epidermidis. Hasil swab lingkungan pada bangsal perawatan ditemukan bakteri Kytococcus sedentarius dan Staphylococcus epidermidis sedangkan di area clean room tidak ditemukan bakteri. Kontaminasi bakteri yang ditemukan bersifat patogen dan non patogen sehingga kebersihan personel maupun lingkungan perlu diperhatikan dalam proses pencampuran sediaan intravena
Perilaku Swamedikasi Masyarakat Wonosobo selama Pandemi Covid-19 Rezha Nur Amalia; Eva Annisaa'; Ragil Setia Dianingati
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.66442

Abstract

The COVID-19 pandemic has resulted in restrictions on health services. It is estimated that there is concern about being infected when going to a health care facility that can influence people's behavior to do self-medication. This study aims to determine the behavior of self-medication in the Wonosobo community during the Covid-19 pandemic and the factors that influence it. This research is an observational descriptive study with an online survey technique using a questionnaire and using 107 samples with certain criteria obtained using a purposive sampling technique. The majority of respondents did self-medication 1-2 times during the Covid-19 pandemic (67.3%). The reason for doing self-medication is because they used to do it before the pandemic (57%), and the most felt complaint was pain (16%). The majority of drugs consumed were antipyretic drugs (26%) and the majority had taken drugs that are legally allowed to be used for self-medication (96%). The majority of respondents buy drugs at pharmacies (92%) and if they do not recover, they will check with a doctor (59.8%). The results of the test of the relationship between self-medication behavior with factors of age, education, and knowledge (p <0.05). While the factors of employment, income, health facilities, ownership of health insurance, type of health insurance, and sources of information on drug selection had no significant effect (p>0.05). So it can be concluded that age, education, and knowledge affect self-medication behavior in the Wonosobo community during the Covid-19 pandemic.
Profil Skala Nyeri dan Kadar Interleukin-6 pada Pasien Ulkus Kornea Bakteri di RS Mata “Dr. YAP” dan RSUP Dr. Sardjito Berdasarkan Profil Terapi: Prospective Case Series Bani Adlina Shabrina; Ika Puspitasari; Suhardjo Pawiroranu
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.66531

Abstract

Ulkus kornea merupakan kondisi kegawatdaruratan mata yang ditandai dengan inflamasi pada kornea dan adanya infiltrat pada kornea akibat defek epitel. Penyebab utama dari ulkus kornea adalah infeksi bakteri. Case series ini bertujuan untuk mengetahui profil kadar interleukin-6 dan skala nyeri pada pasien ulkus kornea bakteri  di indonesia berdasarkan profil terapi. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif observasional, dengan parameter berupa penurunan kadar interleukin-6 (IL-6) dan skala nyeri berdasarkan visual analogue scale (VAS). Terdapat 2 (dua) kasus ulkus kornea bakteri di Rumah Sakit Mata “Dr. YAP” and Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito yang dibahas dalam case series ini. Kasus 1 (satu) berasal dari Rumah Sakit Mata “Dr. YAP” dan merupakan laki-laki berusia 14 tahun yang didiagnosis ulkus kornea dengan tingkat keparahan sedang, durasi penyakit selama 2 (dua) bulan, dan penyebab penyakit tidak diketahui. Kasus 2 (dua) berasal dari Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito dan merupakan pria berusia 33 tahun yang didiagnosis ulkus kornea dengan tingkat keparahan berat, durasi penyakit selama 3 hari, dan penyebab penyakit tidak diketahui. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profil terapi yang berbeda-beda tetap memberikan penurunan kadar IL-6 dan skala nyeri (VAS) pada semua kasus ulkus kornea bakteri dengan tingkat keparahan, durasi, dan penyebab penyakit masing-masing.
Uji Aktivitas Penangkapan Radikal 2,2- difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) Ekstrak Kering Meniran (Phyllanthus niruri L) Andayana Puspitasari Gani; Retno Murwanti; Dyaningtyas Dewi Pamungkas Putri; Miftahus Sa&#039;adah
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.66591

Abstract

Meniran (Phyllanthus niruri L), adalah salah satu tanaman obat yang telah banyak digunakan dalam sediaan obat tradisional dengan indikasi meningkatkan daya tahan tubuh. Diduga terdapat hubungan yang kuat antara aktivitas antioksidan dan respon imun, terutama respon imun humoral yang diperantarai oleh aktivitas makrofag. Pembuatan ekstrak kering sebagai bahan baku sediaan obat tradisional berpotensi menimbulkan adanya perubahan aktivitas ekstrak dikarenakan adanya pemanasan pada prosesnya. Untuk itu, pada penelitian ini diuji aktivitas penangkapan radikal DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ekstrak kering meniran dengan kadar flavonoid total sebesar 0,79 ± 0,06 % EK, memiliki aktivitas penangkapan radikal DPPH dengan IC50 sebesar 74,28 µg/mL. Proses pengeringan dan penambahan bahan pengisi pada ekstrak dapat berpengaruh pada aktivitas penangkapan radikal DPPH.
Gambaran Tingkat Pengetahuan pada Pasien yang Mendapatkan Terapi Warfarin Lina Wati Lubis; Fita Rahmawati; I Dewa Putu Pramantara
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.66925

Abstract

Keberhasilan penggunaan warfarin yang aman dan efektif dapat dicapai melalui pemberian informasi dan edukasi yang relevan sesuai dengan kebutuhan pasien. Informasi mengenai sejauh mana pemahaman pasien terhadap obat warfarin sangat diperlukan. Penelitian bertujuan mengidentifikasi tingkat pengetahuan pasien mengenai penggunaan obat antikoagulan warfarin. Penelitian ini merupakan studi prospektif cross-sectional yang melibatkan 83 pasien yang mendapatkan terapi warfarin di dua instalasi rawat jalan rumah sakit pemerintah. Modifikasi Oral Anticoagulant Knowledge (MOAK) yang telah reliabel dan valid digunakan untuk menilai pengetahuan pasien tentang warfarin. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan pasien tergolong rendah dengan rerata skor pengetahuan 28,5% (SD±19,07). Sejumlah 11 responden (13,3%) memiliki kategori rendah (rerata skor MOAK > 50%), 70 responden (84,3%) memiliki pengetahuan kategori sedang (rerata skor MOAK 50%-30%), dan 2 responden (2,4%) memiliki kategori baik (rerata skor MOAK < 30%). Pengetahuan yang paling dikuasai oleh pasien adalah pengetahuan mengenai indikasi obat warfarin (82,85%) sementara itu pengetahuan terendah adalah pada pertanyaan mengenai interaksi obat warfarin dengan vitamin K (12,85%) dan cara melakukan diet selama mengkonsumsi warfarin (12,85%). Mayoritas pengetahuan pasien tergolong masih rendah sehingga diperlukan peran yang lebih aktif dari tenaga kesehatan khususnya farmasi dalam memberikan informasi dan edukasi yang lebih berfokus kepada kesenjangan pengetahuan terbanyak yang dialami oleh pasien.
Faktor yang Memengaruhi Biaya Out Of Pocket (OOP) Pelayanan Kesehatan Pasien Rawat Jalan: Analisa Data Sekunder Indonesia Family Life Survey Gelombang 4 (IFLS4) Ceria Rizki Amalia; Dwi Endarti; Anna Wahyuni Widayati
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.67648

Abstract

Kebutuhan pelayanan kesehatan akibat sakit muncul secara sporadik dan tidak dapat diprediksi yang memberikan beban ekonomi pada pasien. Semakin besar biaya kesehatan yang dikeluarkan oleh individu dapat memperburuk kondisi keuangan rumah tangga. Penelitian ini difokuskan untuk menganalisa biaya kesehatan Out Of Pocket (OOP) pelayanan kesehatan rawat jalan akibat sakit berdasarkan perspektif pasien, serta faktor-faktor yang dapat berpengaruh pada biaya OOP akibat pelayanan kesehatan rawat jalan sakit berdasarkan perspektif pasien. Penelitian ini menggunakan rancangan studi observasional dengan pendekatan cross sectional menggunakan data sekunder yang diperoleh dari IFLS4 tahun 2007. Data utama yang digunakan berisi karakteristik demografi dan karakteristik kesehatan responden sebagai variabel bebas, serta biaya OOP sebagai variabel terikat. Analisa data menggunakan analisa deskiptif dan analisis inferensial menggunakan modiefied linear regression sebagai teknik analisa utama. Biaya OOP pasien rawat jalan untuk biaya medis langsung pengobatan tidak termasuk obat resep berdasarkan hasil analisis pada IFLS4 tahun 2007 sebesar Rp. 20.815,71, dengan dipengaruhi oleh sepuluh variabel sosiodemografi-kesehatan meliputi pendidikan, status pekerjaan, pendapatan, latar belakang ekonomi, provinsi, pelayanan kesehatan yang digunakan, jarak ke pelayanan kesehatan, waktu perjalanan, waktu tunggu dilayani dan penyakit kronis. Berdasarkan IFLS4 tahun 2007 Indonesia masih sangat minim penggunaan asuransi kesehatan oleh pasien rawat jalan akibat sakit. Proteksi keuangan dibutuhkan oleh masyarakat untuk menghindari pengeluaran biaya kesehatan yang bersifat katastropik.
Evaluasi Kesesuaian Antibiotik Empiris Terhadap Clinical Outcome pada Pasien Infeksi Saluran Kemih (ISK) di RSUD Sijunjung, Sumatera Barat Yeli Trimayanti; Titik Nuryastuti; Nunung Yuniarti
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.67901

Abstract

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan kondisi ditemukannya mikroorganisme dalam jumlah sangat banyak pada urin sehingga menimbulkan infeksi pada saluran kemih. Intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi pada pengobatan infeksi menimbulkan permasalahan, terutama resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik salah satunya disebabkan oleh peresepan antibiotik yang tidak sesuai yang dapat mempengaruhi clinical outcome pasien. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kesesuaian penggunaan antibiotik empiris yang digunakan terhadap clinical outcome pada pasien ISK di rawat inap RSUD Sijunjung, Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif-analitik dengan desain cohort retrospektif. Subjek penelitian pasien dewasa dengan ISK di rawat inap RSUD Sijunjung periode Januari 2018 - Desember 2019.  Dari 90 pasien ISK (121 regimen antibiotik) yang memenuhi kriteria inklusi. Pemberian antibiotik yang sesuai ditemukan sebanyak 67,77% (82 regimen) dan yang tidak sesuai 32,23% (39 regimen) yaitu 29,75% (36 regimen) dengan durasi pemberian terlalu singkat, 1,65% (2 regimen) interval tidak tepat dan 0,83% (1 regimen) dosis kurang. Hasil analisis dengan uji Fisher hubungan kesesuaian penggunaan antibiotik empiris terhadap clinical outcome pada pasien ISK di rawat inap RSUD Sijunjung tidak menunjukkan hasil yang bermakna secara statistik dengan nilai probabilitas 0,057 (p > 0,05) yang berarti kesesuaian terapi antibiotik empiris pada pasien ISK tidak berhubungan dengan clinical outcome pasien.
Faktor Prediktif Signifikansi Dampak Klinik Intervensi Apoteker pada Pasien Geriatrik Rawat Inap Margarita Krishna Setiawati; I Dewa Putu Pramantara
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.68426

Abstract

Pasien geriatrik mengalami perubahan fisiologik, farmakokinetika, dan farmakodinamika. Hal ini menjadi penyebab terjadinya Drug-Related Problems (DRPs) pada geriatrik. Apoteker berperan penting dalam mengoptimalkan efektivitas dan keamanan terapi obat pasien khususnya geriatrik, yaitu dengan mencegah dan mengatasi DRPs. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor prediktif (komorbiditas, jumlah obat, Length of stay, dan usia) signifikansi dampak klinik intervensi Apoteker pada pasien geriatrik rawat inap. Dengan diketahuinya faktor prediktif ini dapat membantu Apoteker untuk dapat melakukan prioritas dalam pemantauan terapi obat pasien. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental without control group. Penelitian dilakukan pada pasien geriatrik rawat inap di Rumah Sakit Panti Rapih periode Maret - April 2021, dengan kriteria inklusi pasien usia ≥ 60 tahun, merupakan kasus penyakit dalam, dan teridentifikasi DRPs. Kriteria eksklusi pasien dirawat di ruang perawatan Covid-19 dan ruang intensif. Apoteker melakukan pemantauan terapi obat pasien, mengidentifikasi DRPs, dan memberikan intervensi atasnya. Intervensi yang diberikan Apoteker, dinilai signifikansi dampak kliniknya. Signifikansi dampak klinik intervensi Apoteker ditentukan melalui professional adjustment berdasarkan tools yaitu Assessment the potential impact of the pharmacist’s recommendation on patient care. Penelitian ini menggunakan analisis univariat dan multivariat. Pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi berjumlah 28 orang, dengan total 47 DRPs dan jumlah intervensi sebanyak 53. Signifikansi intervensi yang terbanyak adalah kategori significant yaitu sebanyak 50,94%. Faktor prediktif (komorbiditas, jumlah obat, Length of stay, dan usia) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap signifikansi dampak klinik intervensi Apoteker.