cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
The Effect of Carrageenan Concentration on the Physical and Chemical Properties of Gummy Turmeric Acid Jamu Nurul Rochmawati; Dian Eka Ermawati
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i2.63615

Abstract

Turmric acid Jamu is an Indonesian herbal drink that made from turmeric and tamarind. The herbal medicine industry in Sleman Yogyakarta produces Turmric acid Jamu, but the concentration of curcuminoid has not been determined. Consumers of Turmric acid Jamu are limited to women and adults. Children rarely want to consume jamu, even though the curcuminoid in turmeric can increase appetite, especially for todler. Innovation is needed to process Turmric acid Jamu into products that more desirable and efficacious. Gummy is made with the addition of a gelling agent so that the texture is chewy. Carrageenan is a gelling agent made from seaweed and is safe for food products. The purpose of this study was to determine the effect of variations in carrageenan concentrations on physical and chemical properties, also to determine the optimum concentration of carrageenan in gummy Turmric acid Jamu according to the Indonesian National Standard on soft candy. This research is an experimental laboratory with variations in the concentration of carrageenan (7.5%; 8.0%; 8.5%) and Turmric acid Jamu as the main ingredient. The test include organoleptic, pH, weight uniformity, water content, disintegration time and the respondent acceptance test. The concentration of curcuminoid using spectrophotometry UV-VIS method and statistical analysis. The results showed that carrageenan concentration affected organoleptic, weight uniformity, moisture content, and disintegration time, but did not affect pH. The curcuminoid concentration of Turmric acid Jamu was 1.47% and the gummy was 0.03% (w/w). The carrageenan concentration of 8.0% is the optimum formula because it meets the quality requirements of the gummy and is the most preferred by the respondents.
Evaluasi Kesesuaian Penggunaan Antibiotik Profilaksis Terhadap Kejadian Infeksi Luka Operasi Pada Pasien Bedah Digestif di Salah Satu Rumah Sakit Tipe B Kabupaten Sleman Dhannia Fitratiara; Ika Puspitasari; Titik Nuryastuti
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.63691

Abstract

Infeksi Luka Operasi (ILO) adalah penyebab infeksi nosokomial yang sering terjadi pada luka bekas sayatan setelah operasi. Penggunaan antibiotik profilaksis bedah dapat efektif mengurangi tingkat ILO dengan pemilihan antibiotik yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran rasionalitas penggunaan antibiotik profilaksis, mengetahui angka kejadian ILO, mengetahui hubungan rasionalitas penggunaan antibiotik profilaksis terhadap kejadian ILO, dan mengetahui faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian ILO pada pasien bedah digestif. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional deskriptif-analitik dengan desain cross sectional melibatkan pasien bedah digestif yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dari data rekam medik pasien rawat inap selama periode 1 Januari-31 Desember 2019 di salah satu RS tipe B Kabupaten Sleman. Terdapat 110 pasien menjalani bedah digestif yang masuk dalam kriteria inklusi pada penelitian ini. Rasionalitas penggunaan antibiotik profilaksis berdasarkan metode Gyssens (kategori 0) pada penelitian ini sebesar 20,9% (23 pasien). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara ketidakrasionalan penggunaan antibiotik profilaksis dengan kejadian ILO (P=0,712). Faktor risiko ILO yang teridentifikasi berdasarkan analisis bivariat adalah komorbiditas, prosedur operasi bersamaan, dan sifat operasi. Sedangkan analisis multivariat menunjukkan bahwa prosedur operasi bersamaan memiliki hubungan yang bermakna dengan angka kejadian ILO. Individu dengan prosedur operasi bersamaan memiliki risiko hampir 8 kali lebih tinggi untuk mengalami ILO (OR 7,625; CI 95% 1,370-42,423; p = 0,020).
Pengelolaan Obat yang Tidak Terpakai Dalam Skala Rumah Tangga di Kota Bandung Anis Puji Rahayu; Asti Yunia Rindarwati
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i2.64389

Abstract

Obat merupakan komoditas yang memiliki banyak manfaat, namun juga dapat memberikan dampak negatif jika tidak dikelola dengan baik. Salah satu dampak negatifnya adalah obat sisa yang sudah tidak digunakan oleh masyarakat akan menjadi sampah B3 rumah tangga yang membahayakan lingkungan hidup. Mengingat dampak kesehatan dan lingkungan yang cukup besar terkait obat sisa, peneliti melakukan penelitian terkait pengelolaan obat yang tidak terpakai dalam skala rumah tangga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode penelitian analisis kuantitatif. Data diperoleh melalui teknik wawancara menggunakan instrumen berupa kuesioner kepada responden sebanyak 100 (seratus) rumah tangga di Kota Bandung yang dipilih melalui cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan 86,0% rumah tangga memiliki obat di rumah yang diperoleh dari fasilitas kesehatan (rumah sakit, klinik, dan puskesmas) (39%) dan apotek (38%). Sebanyak 25,53% dari obat yang dimiliki tidak lagi digunakan dan didominasi oleh golongan analgesik-antipiretik (6,28%) dan obat batuk dan flu (6,69%). Hampir seluruh responden di Kota Bandung (93%) membuang obat yang tidak lagi digunakan ke tempat sampah tanpa prosedur yang tepat dan sisanya membuang ke saluran air, dikubur, atau dibakar. Hal ini menunjukkan potensi resiko pencemaran lingkungan yang tinggi dan timbulnya dampak negatif lain dari segi sosial, ekonomi, dan kesehatan.
Pengaruh Readmisi Terhadap Biaya pada Pasien PPOK Eksaserbasi Akut dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Trirahmi Hardiyanti; Nanang Munif Yasin; Tri Murti Andayani
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i3.65382

Abstract

Peningkatan beban ekonomi pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) tidak terlepas dari adanya pengaruh readmisi dan faktor-faktor yang berhubungan seperti lama rawat inap, komorbid, dan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan lama rawat inap, komorbid, dan pekerjaan dengan readmisi serta mengetahui pengaruh readmisi terhadap biaya pada pasien PPOK eksaserbasi akut di Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Data diambil secara retrospektif melalui rekam medik dan data dari bagian keuangan yang berisi biaya perawatan pasien rawat inap PPOK eksaserbasi akut di RS Paru Respira Yogyakarta periode 1 Januari 2014 sampai 31 Desember 2019. Data readmisi diperoleh dari rekam medik, diamati dalam kurun waktu satu sampai tiga tahun setelah pasien dilakukan rawat inap. Analisis biaya dilakukan dari perspektif rumah sakit meliputi biaya medis langsung, yaitu biaya kamar, biaya keperawatan, biaya jasa pelayanan medik, biaya tindakan non medik, biaya penunjang medik, dan biaya obat serta barang medik.  Analisis faktor faktor yang berhubungan dengan readmisi dan seberapa besar pengaruh frekuensi readmisi terhadap biaya menggunakan uji Chis-square dan Mann-whitney. Penelitian ini terdiri dari 100 pasien dengan 74 pasien tanpa readmisi dan 26 pasien readmisi. Karakteristik pasien yang dominan meliputi berusia ≥ 66 tahun; berjenis kelamin laki-laki; memiliki lama rawat inap < 4 hari; memiliki komorbid ≥ 1; bekerja sebagai petani, buruh, dan pekerja swasta; dan anggota program BPJS kelas tiga. Sekitar 26% pasien readmisi dengan frekuensi readmisi 1-2 kali selama satu tahun. Biaya rata-rata terapi tiap pasien PPOK rawat inap readmisi dan tanpa readmisi yaitu Rp3.056.551 dan Rp2.829.114. Hasil penelitian menunjukan bahwa lama rawat inap berhubungan dengan readmisi pasien PPOK eksaserbasi akut (p = 0,004). Readmisi mempengaruhi biaya pasien PPOK eksaserbasi akut. Biaya tindakan non medis adalah biaya yang paling berpengaruh (p = 0,005).
Kualitas Hidup dan Biaya Sakit Pasien Dengue di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta Herjanti Ratnawiningsih; Dyah Aryani Perwitasari; Woro Supadmi; Imaniar Noor Faridah
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.70539

Abstract

Jumlah kasus penyakit infeksi dengue pada tahun 2019 di Kabupaten Bantul mencapai 1.424 orang. Berdasarkan manifestasi klinis dengue terbagi menjadi dengue fever (DF), dengue haemorrhagic fever (DHF) dan dengue shock syndrome (DSS), dapat memberikan dampak pada kualitas hidup dan biaya sakit. Tujuan penelitian untuk mengetahui kualitas hidup dan biaya sakit pasien dengue selama menjalani rawat inap. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan cross-sectional di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta periode Februari - Juli 2021. Kualitas hidup dinilai menggunakan instrumen EQ-5D-5L untuk pasien dewasa dan  EQ-5D-Y untuk pasien anak, sedangkan biaya sakit diperoleh dari bagian keuangan rumah sakit yaitu biaya medis langsung.  Sebanyak 40 pasien rawat inap dengan dengue berjenis kelamin laki-laki (60%),  usia  4-20 tahun (75%) dan menggunakan asuransi BPJS (82,5%). Kualitas hidup pasien menunjukkan bahwa sebesar 80% pasien DF sedikit bermasalah pada dimensi perawatan diri, sebesar 69% dan 100% pada pasien DHF dan DSS sedikit bermasalah pada dimensi rasa sakit/ketidaknyamanan. Rata-rata biaya sakit pada pasien DF, DHF dan DSS  masing-masing sebesar  Rp 3.192.725 , Rp 2.872.517 dan Rp 5.090.190. Infeksi dengue memberikan dampak pada kualitas hidup pasien dengue. Rata-rata biaya sakit tertinggi pada pasien dengan DSS.
Profil Penggunaan Kosmetika di kalangan Remaja Putri SMK Indonesia Yogyakarta Ratih Dwi Lestari; Aris Widayati
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.70915

Abstract

Remaja memiliki kecenderungan senang bereksplorasi dengan mencoba berbagai jenis produk kosmetika. Namun demikian, keamanan harus menjadi pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan produk kosmetika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil penggunaan kosmetika di kalangan remaja putri. Penelitian ini bersifat deskriptif, yang merupakan studi pendahuluan (preliminary research) dari studi yang lebih besar tentang perilaku penggunaan kosmetika di kalangan remaja putri. Responden penelitian adalah siswa putri SMK INDONESIA Yogyakarta. Data dikumpulkan dengan panduan wawancara terstruktur dalam bentuk google form kepada 294 responden. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 19 jenis sediaan kosmetika untuk wajah. Alasan menggunakan kosmetika diantaranya untuk merawat kulit wajah (87%), menambah kepercayaan diri (8%), mengikuti trend (2%), menghilangkan jerawat (1%), agar kulit tidak kusam (1%), dan penghargaan pada diri sendiri (1%). Sumber informasi produk kosmetika diperoleh melalui media sosial (32%),  teman (23%), internet (20%), saudara 17%, dan iklan TV (8%). Tempat membeli produk kosmetika diantaranya toko/swalayan (59%), online shop (27%), dan klinik kecantikan (14%). Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menggali faktor yang mempengaruhi perilaku penggunaan kosmetika di kalangan remaja putri dan aspek keamanan dari kosmetika yang banyak digunakan.
Pengembangan Media Edukasi Berbasis Video Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Penggunaan Multivitamin Untuk SMK Kesehatan di Yogyakarta S. Ch. Ari Widiastuti Sutjipto; Yosef Wijoyo; Nunung Priyatni W.
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.70966

Abstract

Pemberian edukasi kesehatan dengan tema perilaku bersih dan sehat (PHBS) serta penggunaan multivitamin dengan baik melalui media video, akan memberikan manfaat yang sangat besar pada proses belajar mengajar di sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) interaksi media edukasi berbasis video yang bertemakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta penggunaan multivitamin, 2) Mengungkapkan media edukasi berbasis video perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan multivitamin. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan, yang dilakukan dengan pengembangan media berbasis video edukasi. Prosedur pengembangan media pembelajaran dilakukan melalui : 1) Tahap studi pendahuluan antara lain studi literatur dan studi lapangan, 2) Tahap pengembangan dilakukan dengan pembuatan draft desain model atau perancangan yang dibagi menjadi 3 bagian diantaranya a) menyusun materi, b) membuat naskah dan menyiapkan storyboard , c) pengambilan video dan editing video. Selanjutnya penilaian oleh para ahli atau pakar materi, media dan ujicoba terbatas untuk menilai kelaykan media yang dibuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tersusunnya media edukasi berbasis video dengan tema perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta penggunaan multivitamin berdasarkan berdasarkan penilaian ahli media diperoleh prosentase sebesar 77,50%, ahli materi diperoleh prosentase sebesar 85,50% dan hasil ujicoba terbatas diperoleh prosentase sebesar 81,07%. Media video edukasi PHBS dan multivitamin termasuk kategori sangat layak
Peran Apoteker dalam Kolaborasi Interprofesi: Studi Literatur Dea Anita Ariani Kurniasih; Ita Sinta; Sinta Syania; Herlina Andini; Elsa Pudji Setiawati
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71900

Abstract

Peran apoteker telah berkembang dari pemberi asuhan kepada pasien, juga sebagai bagian dari tim interprofesi untuk berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain yang bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan. Adanya kegagalan dalam kolaborasi interprofesi merupakan salah satu penyebab kejadian efek samping obat. Studi literatur ini dilakukan pada bulan September 2021 menggunakan basis data elektronik MEDLINE dengan menggunakan kata kunci “pharmacist” atau “pharmacists” atau “pharmacist role” atau “pharmacist intervention” dan “interprofessional collaborative practice” atau “interprofessional collaboration” atau “inter collaborative practice” dengan kurun waktu tahun 2000-2021 dengan filter clinical trial dan randomized control trial menghasilkan 12 artikel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan intervensi apoteker dapat memberikan pelayanan pada pasien secara sinergis dan mutual dalam tim kolaborasi interprofesi. Kerjasama apoteker dapat membantu mengontrol tekanan darah pasien, menurunkan kunjungan rumah sakit dan rawat inap yang disebabkan oleh asma, meningkatkan manajemen terapi, membantu mengontrol kadar glukosa, tekanan darah dan lipid, meningkatkan kualitas pelayanan pada manajemen terapi penyakit kronis, mengatasi masalah yang berkaitan dengan obat, membantu menurunkan angka terapi irasional pada pasien lansia dan meningkatkan kepatuhan pasien. Penelitian selanjutnya diharapkan adanya penerapan tugas apoteker dalam kolaborasi interprofesi pada penanganan penyakit kronis di Indonesia.
Strategi Perencanaan dan Pengadaan Obat Dalam Penanganan Pandemi Covid-19 di Instalasi Farmasi RSUD Bali Mandara Gusti Ayu Putu Puspikaryani; I Gusti Ayu Made Iin Kristanti; I Made Agus Yogeswara Wibawa
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71902

Abstract

World Health Organization (WHO) menyatakan penyakit virus Corona-19 sebagai global pandemi. Perencanaan dan pengadaan persediaan obat di instalasi farmasi harus dilakukan secara baik agar rumah sakit terhindar dari masalah kehabisan persediaan obat di gudang farmasi. Penelitian ini melihat penerapan strategi pengendalian persediaan obat di Rumah Sakit dengan menerapkan kombinasi metode ABC, metode konsumsi, dan metode epidemiologi. Pengambilan data dilakukan dari bulan Januari - Juli 2021. Data yang digunakan pada penelitian ini bersumber dari data sekunder. Dilakukan pengelompokan obat dengan menggunakan Metode ABC ke dalam 3 kelompok, yaitu kelompok A untuk persentase 0 - 70%, kelompok B untuk persentase > 70 - 90%, dan kelompok C untuk persentase > 90 - 100%. Hasil analisis ABC yang dilakukan untuk RSUD Bali Mandara Bulan Januari - Juli tahun 2021 diperoleh obat kelompok A sebanyak 38 item (17,43%), kelompok B sebanyak 43 item (19,72%), dan kelompok C sebanyak 137 item (62,84 %). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perencanaan dan pengadaan dengan menggunakan metode ABC, metode konsumsi dan metode epidemiologi cukup efektif untuk mengatasi kekosongan obat Covid-19 dan obat untuk gejala penyertanya.
Analisis Farmakoekonomi (Cost Effectiveness Analysis) Penggunaan Terapi Infus Imunoglobulin Intravena (IVIG) Pada Kasus Coronary Virus Disease (Covid-19) Issaura Issaura; Novianti Fatli Azizah; Renny Nurul Faizah; Ika Putri Jami&#039;atusholihah; Shafinaz Nabila Rahmania
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71903

Abstract

Imunoglobulin Intravena (IV IG) merupakan produk derivatif plasma pendonor yang dapat memberikan proteksi imun secara pasif terhadap berbagai macam patogen. Pada infeksi Covid-19 yang berat, pemberian terapi infus IV IG dapat mengurangi respon inflamasi, antibodi autoreaktif yang mengikat sitokine dan domain variabel antibodi lain (antibodi anti-idiotipik). Selain itu, kehadiran dimer IgG pada IV IG dapat memblokir pengaktifan FcγR pada sel efektor imun. Tujuan untuk menganalisis Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Length of Stay (LOS) penggunaan terapi IV IG sebagai penilaian terhadap urgensitas pemberian terapi IV IG pada pasien COVID-19. Penelitian ditinjau dari perspektif rumah sakit sebagai penyedia layanan kesehatan, menggunakan Total Medical Cost dengan efektifitas LOS pasien. Disajikan dengan analisis deskriptif dan analisa farmakoekonomi efektifitas biaya yang dikerjakan secara retrospektif, pada periode waktu 3 bulan (Juni- Agustus 2020) di Instalasi Rawat Inap Intensive Care Unit (ICU) Isolasi Mawar Merah Putih RSUD Kabupaten Sidoarjo. Didapatkan jumlah sampel yang masuk kriteria inklusi 38 pasien. Kelompok pasien tanpa pemberian IV IG (25 pasien) lebih cost effective dibanding kelompok dengan pemberian IV IG, yaitu lebih menghemat Rp. 2.510.741 dengan LOS ICU 11 hari dibanding IV IG merk Gamaras® (4 pasien), dan lebih menghemat Rp 3.702.561 dengan LOS ICU 6 hari dibanding IV IG merk Intratect® (9 pasein). Dengan uji statistik tanpa pemberian IVIG dengan IVIG merk Gamaras® dan Intratect® menunjukkan LOS tidak bermakna (sig>0,05) dan ACER yang berbeda bermakna (sig