cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Review artikel: Gambaran Penggunaan Pompa Proton Inhibitor (PPI) Sebagai Profilaksis Stress Ulcer Di Unit Perawatan Intensif Wulandari, Dewi; Nugroho, Agung Endro; Rahmawati, Fita
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 4 (2025): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i2.98109

Abstract

Stress ulcer merupakan cidera mukosa lambung mulai dari erosi hingga ulkus yang biasanya terlihat pada pasien kritis di intensive care unit (ICU).  Untuk mencegah perdarahan saluran cerna (stress ulcer) maka membutuhkan agen profilaksis stress ulcer. Agen terapi yang banyak digunakan sebagai profilaksis stress ulcer pada pasien perawatan intensif adalah pompa proton inhibitor contohnya omeprazole, pantoprazole, lansoprazole, dan esomeprazole. Kajian ini bertujuan untuk melihat efektivitas antara golongan PPI  sebagai profilaksis stress ulcer. Kajian ini merupakan tinjauan naratif (narrative review) yang dilakukan dalam empat tahapan berbeda diantaranya identifikasi kata kunci, penetapan kriteria inklusi dan eksklusi, pemilihan literatur yang relevan, dan analisis hasil. Pencarian informasi yang dilakukan dengan mengumpulkan database elektronik seperti Google Scholar, Pubmed, dan Scopus dari tahun 2014 hingga 2024. Efektivitas penggunaan PPI sebagai profilaksis stress ulcer yang diamati dengan melihat tidak adanya kejadian perdarahan pada saluran cerna.
Komposisi Kimia dan Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Bunga Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M. Sm.) Warna Merah dan Merah Muda terhadap Cutibacterium acnes Farras, Hazimah Anis; Purwantini, Indah; Sulaiman, T.N. Saifullah
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 4 (2025): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i4.99046

Abstract

Minyak atsiri bunga kecombrang telah diketahui memiliki aktivitas antibakteri terhadap beberapa bakteri Gram positif dan Gram negatif. Bunga kecombrang memiliki empat variasi warna. Tinjauan terhadap kandungan senyawa bunga kecombrang dengan warna spesifik perlu dilakukan untuk membantu pemanfaatannya secara khusus. Ekstrak bunga kecombrang telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Namun, belum ada publikasi jurnal aktivitas antibakteri minyak atsiri bunga kecombrang terhadap bakteri penyebab jerawat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan kandungan kimia minyak atsiri bunga kecombrang warna merah dan merah muda serta uji aktivitas antibakteri keduanya terhadap C. acnes. Minyak atsiri diperoleh melalui destilasi uap-air. Analisis kandungan kimia dilakukan menggunakan GC-MS. C. acnes digunakan untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri menggunakan mikrodilusi. Sebanyak 72 komponen teridentifikasi pada bunga kecombrang merah sedangkan 59 komponen teridentifikasi pada bunga kecombrang merah muda. Konsentrasi hambat minimum yang dihasilkan adalah 12,5 mg/mL pada masing-masing variasi bunga kecombrang. Kesimpulannya adalah komponen kimia dominan pada minyak atsiri kecombrang merah dan merah muda adalah dodekanal (24,47% dan 25,84%) dan 1-dodekanol (21,15% dan 39,99%). Minyak atsiri bunga kecombrang merah dan merah muda memiliki aktivitas penghambatan terhadap C. acnes.
Karakteristik Pengobatan dan Biaya Medis Langsung Kanker Payudara pada Kemoterapi Rawat Jalan di RSUD Dr. M. Yunus Tahun 2023 Utami, Dika Aryan; Andayani, Tri Murti; Endarti, Dwi
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 4 (2025): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i4.103487

Abstract

Kanker payudara merupakan jenis kanker dengan prevalensi tertinggi di Indonesia dan secara global, yang memerlukan analisis biaya pengobatan untuk mencapai efektivitas terapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik pengobatan kanker payudara pada pelayanan kemoterapi rawat jalan di RSUD Dr. M. Yunus selama periode 1 Januari hingga 31 Desember 2023 dan merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross-sectional. Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari SIM RS dan rekam medis pasien, yang kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak RStudio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 2.268 pelayanan kemoterapi rawat jalan untuk 386 pasien, mayoritas berusia 40–44 tahun. Pengobatan diberikan melalui tiga rute: intravena (IV), oral (PO), dan kombinasi (injeksi dan oral), dengan total 31 regimen pengobatan. Total biaya medis langsung mencapai Rp 5.719.995.986, dengan rata-rata biaya per pasien sebesar Rp 2.522.044. Rute intravena (IV) paling sering digunakan (49,87%), sementara regimen EC-T (Epirubicin, Cyclophosphamide, dan Docetaxel) paling banyak diberikan (32,80%). Regimen Paclitaxel-Trastuzumab memiliki biaya medis langsung tertinggi, yaitu Rp 9.002.322. Penelitian ini memberikan wawasan tentang karakteristik pengobatan kanker payudara di RSUD Dr. M. Yunus dan diharapkan dapat menjadi dasar perancangan kebijakan berbasis data untuk meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan.
Evaluative Study of Pharmacotherapy in Pulmonary Tuberculosis Patients at the Gorontalo Provincial Regional Hospital Ramadhani, Fika Nurul; Lihawa, Karmila; Ismail, Siti Naysila; Malopo, Najwa Febra; Selviani, Ni Wayan; Saputra, Mohammad Abdul Ghali
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 4 (2025): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i4.106985

Abstract

Tuberkulosis paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, ditandai dengan angka kejadian yang tinggi dan keberhasilan pengobatan yang bervariasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk penerapan farmakoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan farmakoterapi pada pasien tuberkulosis paru di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Gorontalo. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional retrospektif, dengan fokus pada studi kasus pasien laki-laki berusia 55 tahun yang dirawat pada bulan Januari 2025. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien, termasuk tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium dan radiologi, dan regimen terapi yang diberikan. Temuan menunjukkan bahwa terapi awal difokuskan pada stabilisasi kondisi pasien dengan pemberian mukolitik, antibiotik, dan agen hemostatik, sebelum memulai pengobatan antituberkulosis (OAT). Evaluasi mengungkapkan bahwa regimen terapi sesuai dengan pedoman nasional dan rekomendasi WHO; namun, beberapa potensi Masalah Terkait Obat (DRP) diidentifikasi, seperti indikasi tanpa terapi untuk manajemen nyeri dan potensi hepatotoksisitas karena interaksi antara rifampisin dan pirazinamid. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pemantauan terapi yang komprehensif, termasuk penilaian efek samping dan potensi interaksi obat, untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan tuberkulosis paru di fasilitas perawatan kesehatan regional.
Evaluation of Total Flavonoid Content in Nephelium lappaceum L. Leaves from Different Altitudes Using UV-Vis Spectrophotometry. Pratiwi, Sekar Ayu; Gobel, Dhea Indira; Kusumaningtyas, Febrianika Ayu
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 4 (2025): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i4.107177

Abstract

Rambutan (Nephelium lappaceum L.) is a widely distributed plant in various regions and is known to contain flavonoid compounds. In pharmaceutical development, the geographical location of plant growth can influence the levels of secondary metabolites. This study aims to determine the total flavonoid content in rambutan leaves based on differences in altitude using UV-Visible spectrophotometry at a wavelength of 435 nm. The leaves were extracted via maceration using ethanol p.a. as the solvent. The total flavonoid content was determined using AlCl₃ reagent with quercetin as the standard. The results showed that rambutan leaves collected from lowland areas (Komo Luar Subdistrict, Wenang District, Manado City) had a higher total flavonoid content (42.7 ppm) compared to those of highland regions (Kampung Jawa Subdistrict, Tomohon City), which contained 30.4 ppm. These findings indicate that plants grown at lower altitudes produce higher levels of flavonoids, possibly due to increased light intensity and climatic conditions, which promote the synthesis of secondary metabolites such as flavonoids.
Tatalaksana Terapi Antibiotik pada Pasien Infeksi Saluran Kemih di Salah Satu Rumah Sakit di Gorontalo: Studi Kasus Papeo, Dizky Ramadani Putr; Tuloli, Teti Sutriyati; Otoluwa, Siti Zahra; Maghfiroh, Adinda Nur; Anggraini, Diva Nur; Yahya, Fiantika Ambadar; AinunSusanto, Iffanda Nur
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 4 (2025): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i4.107217

Abstract

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi nosokomial tersering yang memerlukan tatalaksana antibiotik yang tepat dan individual. Penelitian ini bertujuan untuk menyalakan terapi antibiotik pada pasien wanita usia 58 tahun yang didiagnosis ISK komplikata di salah satu rumah sakit di Gorontalo. Kajian studi kasus ini menggunakan pendekatan SOAP (Subjektif, Objektif, Penilaian, Perencanaan) dan fokus pada evaluasi klinis pasien dari awal hingga akhir perawatan. Pasien awalnya diberi terapi levofloksasin intravena, namun mengalami reaksi alergi sehingga terapi diganti menjadi seftriakson. Gejala klinis membaik setelah penyesuaian terapi, antibiotik dan kemudian dialihkan ke bentuk sefiksim oral untuk perawatan lanjutan di rumah. Pemberian cetirizine dan metilprednisolon efektif mengatasi reaksi alergi. Studi ini menekankan pentingnya penggunaan terapi empiris yang tepat, identifikasi dini terhadap reaksi obat, serta transisi aman dari terapi parenteral ke oral. Tidak dilakukannya kultur urin menjadi keterbatasan dalam evaluasi. Secara keseluruhan, terapi antibiotik yang diberikan sesuai dan memberikan hasil terapi yang baik. 
Characterization and Effect of Chitosan Concentration Variations on the Nanosuspension Formula of Ethanol Extracts from Plantago major L. Leaves Using the Ionic Gelation Method Irawan, Muhamad Bayu; Hertiani, Triana; Martien, Ronny
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 4 (2025): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i4.107330

Abstract

The ethanol extract of Plantago major L. leaves contains secondary metabolites, including phenolics and iridoid glycosides, which exhibit anti-inflammatory and wound-healing properties. Nanoparticle technology, in the form of nanosuspensions, is a method that can enhance the ability of active compounds to pass through cell membranes at the nanoscale. This study aimed to characterize and investigate the effects of varying chitosan concentrations on the nanosuspension formulation of Plantago major L. ethanol leaf extract using the ionic gelation method. The ethanol extract was formulated into nanosuspensions with five different concentrations of chitosan polymer: 0.25% (F1), 0.5% (F2), 0.75% (F3), 1% (F4), and 1.25% (F5). Testing parameters included particle size, polydispersity index (PDI), and zeta potential, measured using the Malvern Zetasizer Nano ZS instrument. The characterization results for all formulations showed an average particle size ranging from 445.7 to 811.5 nm, a PDI ranging from 0.385 to 0.518, and a zeta potential between 23.9 and 31.0 mV. These results indicate that all formulations fall within the nanoparticle size range (10–1,000 nm), exhibit relatively homogeneous polydispersity indices, and display stable zeta potentials. Variations in chitosan concentration in each nanosuspension formula of ethanol extract of Plantago major L. influenced the characterization, with increasing chitosan concentration resulting in larger particle sizes and higher zeta potentials, thereby enhancing the potential for these nanosuspensions to be formulated into drug delivery systems.
Efektivitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Bronkopneumonia Pediatri Di Instalasi Rawat Inap Rsud dr. Loekmono Hadi Kudus Amalia, Shofia; Amalia, Ria; Rosnarita, Intan Adevia
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 4 (2025): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i4.109143

Abstract

Bronkopneumonia menjadi salah satu faktor penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian pada anak balita, terutama di negara-negara dengan status perkembangan rendah hingga menengah, sehingga memerlukan terapi antibiotik yang tepat agar perbaikan kondisi klinis pasien dapat tercapai secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil penggunaan antibiotik pada pasien bronkopneumonia pediatri serta mengevaluasi efektivitas penggunaannya berdasarkan penurunan suhu tubuh, nilai respiratory rate (RR), jumlah leukosit, dan perbaikan gejala klinis (batuk, sesak, dan pilek). Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan kohort retrospektif menggunakan data rekam medis pasien periode Juni–Desember 2024. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon, Mann-Whitney, dan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan adalah ampicillin-sulbactam (61,4%), diikuti oleh ceftriaxone (35%). Penggunaan antibiotik efektif dalam menurunkan suhu tubuh, nilai RR, jumlah leukosit, serta memperbaiki gejala klinis pasien. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara ceftriaxone dan ampicillin-sulbactam dalam menurunkan suhu tubuh (p = 0,411), nilai RR (p = 0,974), jumlah leukosit (p = 0,496), serta pada durasi perbaikan gejala batuk (p = 0,649), sesak (p = 0,767), dan pilek p = 0,188. Dapat disimpulkan bahwa profil penggunaan antibiotik pada pasien bronkopneumonia pediatri di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus didominasi oleh ampicillin-sulbactam, dan penggunaannya efektif dalam memperbaiki kondisi klinis pasien, serta tidak terdapat perbedaan efektivitas yang signifikan antara ceftriaxone dan ampicillin-sulbactam.