cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Evaluasi pelaksanaan responsi praktikum Biokimia Farmasi kurikulum 2017 dengan soal UKAI-like model CBT Adam Hermawan; Riris Istighfari Jenie; Rumiyati Rumiyati; Susi Ari Kristina
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.60791

Abstract

Metode computer based testing (CBT) dengan tipe soal multiple choice questions (MCQs) telah dilakukan untuk evaluasi pembelajaran pendidikan tinggi Farmasi. Evaluasi pembelajaran praktikum Biokimia Farmasi di tahun 2017 dan 2018 telah dilakukan dengan format CBT dengan tipe soal mirip UKAI (UKAI-like). Meskipun demikian belum pernah dievaluasi persepsi mahasiswa terhadap pelaksanaan responsi. Pada penelitian ini, selain dilakukan penilaian kemampuan kognitif, dilakukan juga evaluasi terhadap persepsi mahasiswa terhadap CBT dengan model UKAI-like. Sebanyak 214 mahasiswa Farmasi UGM semester II tahun akademik 2018/2019 terlibat dalam studi ini. Mahasiswa mengerjakan 30 soal tipe MCQs mirip UKAI dengan total waktu mengerjakan 20 menit. Ada 3 capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK) untuk mata praktikum yang diukur yaitu pemahaman prinsip, pemahaman cara kerja serta kemampuan mengaplikasikan hasil praktikum. Persepsi dan penerimaan mahasiswa terhadap metode CBT untuk evaluasi pembelajaran praktikum diukur dengan kuesioner. Persentase CPMK praktikum menunjukkan hasil yang merata untuk ketiga jenis CPMK yaitu berada pada rentang 60%. Selain itu mahasiswa juga setuju bahwa metode CBT dapat diterima untuk evaluasi praktikum. Meskipun demikian, mahasiswa merasa bahwa soal responsi cukup sulit dan mengeluhkan terbatasnya waktu responsi. 
Pengaruh Edukasi Apoteker Terhadap Tahap Berhenti Merokok pada Mahasiswa Perokok Aktif Tahap Contemplation Siswati Siswati; Prih Sarniatnto; Nurita Andayani
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i1.61230

Abstract

Kebiasaan merokok merupakan salah satu kebiasaan tidak sehat yang potensial menimbulkan penyakit kronis, seperti Diabetes Melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, penyakit jantung koroner, kanker paru dan penyakit pernafasan kronis. Masih banyaknya mahasiswa yang merokok, memerlukan pendekatan seperti adanya edukasi apoteker terhadap upaya berhenti merokok. Perilaku berhenti merokok terbagi menjadi beberapa tahapan, yaitu: tahap pre-contemplation, contemplation, preparation, action, maintenance dan relapse. Pada tahap contemplation, perokok telah berfikir serius untuk berhenti merokok. Intervensi edukasi oleh apoteker sebagai salah satu tenaga kesehatan, terutama pada perokok yang berada pada tahap contemplation merupakan hal penting yang dapat  menunjang keberhasilan upaya berhenti merokok,sehingga mahasiswa perokok dapat berada pada tahap selanjutnya dari tahap contemplation. Penelitian ini memiliki desain studi quasi eksperimental pre-test dan post test dan pengumpulan data menggunakan metode purposive sampling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi apoteker terhadap perilaku berhenti merokok pada mahasiswa perokok aktif tahap contemplation. Dengan responden 43 mahasiswa perokok aktif tahap contemplation, hasil penelitian diuji dengan uji t one pair, untuk melihat pengaruh edukasi apoteker terhadap perilaku berhenti merokok. Hasil penelitian menunjukkan, edukasi apoteker memberikan perubahan yang bermakna pada nilai Urica Scale tahap perilaku berhenti merokok, namun tidak merubah tahap berhenti merokok responden, dimana sebelum edukasi adalah contemplation, sesudah edukasi juga tetap berada di tahap contemplation.
Pengaruh kombinasi Superdisintegrant Crospovidone dan Croscarmellose Sodium pada sifat fisik dan disolusi Fast Disintegrating Tablet Hidroklorotiazid Dewi Farahiyah; Teuku Nanda Syaifullah Sulaiman
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i1.61756

Abstract

Hidroklorotiazid (HCT) merupakan obat lini pertama untuk penanganan hipertensi. HCT memiliki kelemahan terkait bioavailabilitasnya yang rendah dan umumnya tersedia dalam bentuk sediaan tablet konvensional sehingga dapat menimbulkan masalah tersendiri bagi pasien yang tidak mampu menelan tablet. Fast disintegrating tablet (FDT) HCT merupakan tablet yang dapat terdisintegrasi dan terdisolusi dengan cepat di dalam mulut yang memungkinkan obat dapat diabsorpsi di daerah pregastric sehingga meningkatkan bioavailabilitas obat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula FDT HCT yang menghasilkan sifat fisik optimum dengan kombinasi superdisintegrant crospovidone (CP) dan croscarmellose sodium (CCS). FDT HCT diformulasikan menggunakan kombinasi superdisintegrant CP:CCS pada rentang konsentrasi CP 2-6% dan CCS 1-5%. FDT dibuat dengan metode kempa langsung. Tablet FDT yang dihasilkan, dilakukan uji sifat fisik tablet yaitu kekerasan, kerapuhan, waktu disintegrasi, waktu pembasahan, rasio absorpsi air, dan uji disolusi. Data diolah dengan metode simplex lattice design menggunakan software Design Expert® untuk memprediksi formula optimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  CP berpengaruh signifikan dalam mempercepat waktu pembasahan, waktu disintegrasi, dan disolusi tablet, sedangkan CCS berpengaruh signifikan dalam menurunkan kekerasan, meningkatkan kerapuhan dan rasio absorpsi air.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Penggunaan Obat Batuk OTC (Over The Counter) dengan Faktor Demografi pada Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta Listiana Hidayati; Amrina Amalia Yogananda
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i1.62011

Abstract

Batuk merupakan upaya pertahanan paru terhadap berbagai rangsangan yang ada dan refleks fisiologis yang melindungi paru dari trauma mekanik, kimia dan suhu. Batuk merupakan gejala tersering penyakit pernapasan dan masalah yang sering kali dihadapi dokter dalam praktik sehari-hari di Indonesia. Pengobatan batuk biasanya dilakukan dengan pengobatan sendiri atau swamedikasi. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan-keluhan dan penyakit ringan yang dialami seseorang dengan menggunakan obat herbal, obat tradisional maupun modern dengan tanpa adanya intervensi dari tenaga medis seperti dokter. Pengetahuan swamedikasi sendiri kemungkinan berhubungan dengan faktor demografi seperti kluster, tahun angkatan, dan jenis kelamin. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat batuk pada responden, gambaran tingkat pengetahuan responden serta hubungan faktor demografi dengan tingkat pengetahuan responden dalam penggunaan obat batuk.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik bersifat non-eksperimental melalui penyebaran kuesioner. Kuesioner yang berisi 24 pertanyaan terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Penelitian dilakukan di Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta. Jumlah sampel yang digunakan adalah 319 responden. Data primer selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan analisis bivariat dengan Chi-Square test.Hasil penelitian menunjukkan gambaran tingkat pengetahuan responden dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu baik, sedang, dan kurang. Berdasarkan hasil uji bivariat diketahui faktor klaster berhubungan dengan tingkat pengetahuan mengenai penggunaan obat batuk dengan nilai p ≤ 0,05. Tahun angkatan dan jenis kelamin tidak memiliki hubungan dengan tingkat pengetahuan responden mengenai penggunaan obat batuk.
Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Empirik dan Definitif pada Pasien Sepsis di Intensive Care Unit RSUP. Dr. Sardjito Mayada Rakhmima Karizki; Ika Puspitasari; Rizka Humardewayanti Asdie
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.62045

Abstract

Sepsis merupakan penyakit mengancam jiwa berupa disfungsi organ yang berhubungan dengan infeksi. Hingga saat ini sepsis menjadi sebab utama kematian di Intensive Care Unit (ICU). Penanganan yang diberikan pada 1 jam pertama akan menentukan keberhasilan terapi selanjutnya, salah satunya antibiotik. Penggunaan antibiotik yang rasional berkaitan dengan luaran klinik pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan rasionalitas antibiotik dengan luaran klinik pasien sepsis di ICU RSUP Dr. Sardjito tahun 2018-2019. Penelitian dilakukan secara observasional-analitik dengan desain kohort retrospektif. Dari 59 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, diperoleh 138 antibiotik dengan rincian 112 antibiotik empirik dan 26 antibiotik definitif. Kriteria Gyssens digunakan untuk evaluasi rasionalitas antibiotik dilanjutkan analisis hubungan rasionalitas antibiotik dan variabel perancu dengan luaran klinik menggunakan uji Chi-square atau Fisher's Exact. Masing-masing uji menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 95%. Persentase penggunaan antibiotik secara rasional (kategori 0) sebesar 13,6% (23 antibiotik) untuk antibiotik empirik dan 21,6% (8 antibiotik) untuk antibiotik definitif. Total persentase antibiotik tidak rasional (kategori I-V) dari antibiotik empirik dan definitif secara berurutan sebesar 86,4% (146 antibiotik) dan 78,4% (29 antibiotik). Terdapat hubungan yang tidak signifikan antara rasionalitas antibiotik dengan luaran klinik pasien sepsis di ICU RSUP Dr. Sardjito tahun 2018-2019 (p>0,05).
Profil Klinis Pasien Pengguna Warfarin Pada Poli Jantung RSUD Dr. Soeselo Kabupaten Tegal Fita Rahmawati; Ismi Arsyi Arsyi Aulia; I Dewa Putu Pramantara
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.62470

Abstract

Warfarin merupakan antikoagulan oral yang biasa diresepkan untuk mencegah dan mengobati kejadian tromboemboli. Warfarin memiliki jendela terapi yang sempit, variabilitas luas dalam dosis-respons antar individu, dan sejumlah besar interaksi terhadap obat dan makanan. Penelitian ini bertujuan mengetahui profil klinis pasien pengguna warfarin pada Poli Jantung RSUD dr Soeselo Kabupaten Tegal. Penelitian ini merupakan penelitian descriptive cross sectional. Pengambilan data dilakukan secara prospektif menggunakan tehnik consecutive sampling pada bulan 15 Juni – 6 Agustus 2020 di Poli Jantung RSUD  dr.Soeselo Kabupaten Tegal. Sejumlah 97 pasien memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini. Profil klinis pasien yang menggunakan warfarin diperoleh melalui penelusuran rekam medik dan wawancara terstruktur.  Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian mendapatkan rerata usia pasien 53,5 tahun dengan usia paling banyak pada rentang 60-80 tahun (38%). Proporsi perempuan lebih banyak (70%) dengan mayoritas tingkat pendidikan pada level tingkat dasar (66%). Indikasi terbanyak penggunaan warfarin adalah Atrial Fibrilasi (91%) dengan durasi penggunaan warfarin paling banyak pada rentang waktu hingga 6 bulan (36%) diikuti penggunaan warfarin lebih dari 25 bulan (31%). Pada penelitian ini International Normalized Ratio (INR) yang mencapai rentang terapeutik hanya sebesar 11%, sedangkan efek samping obat terjadi pada 10% pengguna warfarin.  Informasi gambaran profil penggunaan warfarin sangat diperlukan untuk menentukan strategi lebih lanjut dalam upaya meningkatkan luaran terapi pasien. 
Pengaruh Medication Therapy Management Terhadap Kepatuhan, Outcome Klinik dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Mellitus Dyah Purwantiningsih; Nanang Munif Yasin; Susi Ari Kristina
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.62497

Abstract

Sebagian besar penderita Diabetes Mellitus (DM) belum memahami dengan benar pengobatan yang dijalaninya. Ketidakpatuhan dan ketidakpahaman pasien dalam menjalankan terapi merupakan salah satu penyebab kegagalan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh Medication Therapy Management (MTM) terhadap tingkat kepatuhan, outcome klinik dan kualitas hidup pasien DM peserta Program Rujuk Balik (PRB). Rancangan penelitian ini menggunakan kuasi-ekperimental, dengan desain penelitian pretes-posttes with control group. Bentuk intervensi berupa layanan farmasi berbasis MTM. Subyek penelitian yaitu pasien DM peserta PRB di Kabupaten Sragen yang masuk kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan adalah pill count, GDP dan DQLCTQ. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney atau T-test. Dari total 106 responden terbagi menjadi dua yaitu 55 responden kelompok kontrol dan 51 responden kelompok intervensi. Setelah dilakukan intervensi berupa layanan farmasi berbasis MTM menunjukkan adanya peningkatan kepatuhan pasien sebesar 5,76±9,17 (p=001), peningkatan outcome klinik berupa penurunan GDP sebesar 26,61±42,04 (p=0,010), dan  peningkatan kualitas hidup pasien sebesar 2,71±4,83 (p=0,018). Intervensi berupa layanan farmasi berbasis MTM dalam penelitian ini memperbaiki semua aspek variabel yang diteliti.
Kualitas Hidup Pasien Kanker Rawat Jalan yang Menjalani Kemoterapi di RSUD Kota Yogyakarta Ratna R.; Woro Supadmi; Endang Yuniarti
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i2.62832

Abstract

Kualitas hidup merupakan kondisi dimana pasien memiliki kesejahteraan secara fisik, psikologis dan sosial serta mampu mengoptimalkan potensinya dalam kehidupan dan aktivitasnya sehari-hari. Jenis kanker dan kemoterapi yang diberikan dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien kanker secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien kanker dengan menggunakan kuesioner EORTC QLQ-C30 dan menganalisis hubungan karakteristik demografi pasien, jenis kanker dan stadium kanker serta regimen kemoterapi dengan kualitas hidup pasien kanker. Penelitian ini merupakan penelitian observasional menggunakan desain cross sectional dengan subyek semua pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi di RSUD Kota Yogyakarta dan memenuhi kriteria inklusi selama bulan September-Oktober 2020. Data yang diperoleh dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan dianalisis statistik dengan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan skor rata-rata kualitas hidup pada skala status kesehatan global adalah 61,03±14,07. Domain tertinggi pada skala fungsional adalah fungsi sosial dengan skor rata-rata 92,40±17,14 dan kehilangan nafsu makan merupakan domain tertinggi pada skala gejala dengan skor rata-rata 52,94±28,93. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik demografi pasien kanker (usia dan jenis kelamin) dengan kualitas hidup pada skala status kesehatan global (p < 0,05), sedangkan untuk jenis kanker, stadium, regimen dan siklus kemoterapi tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup pada status kesehatan global (p > 0,05). 
Analisis Cost Consequences Obat Kemoterapi pada Pasien Kanker Payudara di RS Pemerintah Kota Yogtakarta Hesty Riza Oktastika; Woro Supadmi; Endang Yuniarti
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i2.63175

Abstract

Kanker merupakan penyebab utama kematian didunia. Di Indonesia kanker payudara berada di urutan kedua. Prevalensi tertinggi kanker payudara di Indonesia tahun 2013 pada provinsi D.I. Yogyakarta yaitu sebesar 2,4%. Pemberian kemoterapi menimbulkan efek samping berupa hiponatremi (20,2%), neutropenia (11,4%), leukopenia (9,6%). Penatalaksanaan efek samping tersebut mempengaruhi biaya perawatan khususnya biaya medik. Penelitian ini menggunakan desain observasional. Pengambilan data secara retrospektif yaitu Januari 2018 - Desember 2019. Pemilihan subyek penelitian semua populasi pasien kanker payudara yang sesuai dengan kriteria inklusi. Perspekstif biaya berdasarkan perspektif provider meliputi biaya selama menjalani kemoterapi sampai selesai. Data yang diambil adalah kondisi pasien, keluhan dan penggunaan kemoterapi dan biaya dari bagian keuangan RS. Hasil penelitian menunjukkan regimen kemoterapi di RS Pemerintah Kota Yogyakarta pada periode 2018 – 2019 terdapat 6 variasi yang paling banyak digunakan adalah regimen TEC 41 pasien (54%). Efek samping yang paling umum terjadi antara lain mual (89,3%), muntah (88%), neutropenia (60%), leukopenia (54%) dan anemia (46,7%). Obat kemoterapi paling tinggi regimen BEC (Rp. 19.707,273) dan terendah TAC (Rp. 9.320,663). Biaya medik obat non kemoterapi tertinggi regimen BEC (Rp. 924,836) dan terendah regimen TE (Rp. 650,000). Biaya medik lain paling tinggi pada regimen BEC (Rp. 7.435,6943) dan paling rendah pada regimen TE (Rp. 6.752,639).
Rasionalitas Pendosisan Ketorolak pada Pasien Geriatri Dengan Penurunan Fungsi Ginjal Rawat Inap di RSUD Benyamin Guluh Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara Syaifullah Saputro; Djoko Wahyono; Nanang Munif Yasin
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i2.63612

Abstract

Ketorolak merupakan NSAID yang utamanya dieliminasi melalui ginjal yang membutuhkan penyesuaian dosis pada pasien  geriatri dengan penurunan fungsi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil rasionalitas pendosisan ketorolak, menganalisis hubungan antara rasionalitas pendosisan dengan efektivitas terapi serta kejadian efek samping pada pasien geriatri rawat inap dengan penurunan fungsi ginjal. Penelitian dilakukan dengan rancangan cross-sectional. Pengambilan data secara retrospektif  melalui penelusuran rekam medis pasien geriatri rawat inap RSUD Benyamin Guluh periode 2015-2020. Data yang diamati berupa regimen pengobatan, serum kreatinin, efektivitas terapi dan efek samping. Rasionalitas pendosisan dinilai berdasarkan kesesuaian dosis dengan referensi/formula Guisti Hayton. Efektivitas terapi tercapai jika penurunan VAS <50% dan kejadian efek samping dapat diamati pada catatan perkembangan pasien pada rekam medis. Uji statistik Chi Square dilakukan untuk mengetahui hubungan antara rasionalitas pendosisan dengan efektivitas terapi dan efek samping.  Dari 100 kasus sebanyak 35 kasus mendapatkan pendosisan yang rasional dan 65 kasus pengobatan yang tidak rasional. Pendosisan rasional dengan efektivitas tercapai sebesar 85.7%  dan tidak tercapai 14.3%, pendosisan tidak rasional dengan efektivitas tercapai sebesar 83.1% dan tidak tercapai sebesar 16.9%.  Sedangkan efek samping tidak ditemukan pada kelompok rasional ataupun tidak rasional. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rasionalitas dosis dengan efektivitas (p>0,05) maupun kejadian efek samping.