cover
Contact Name
Faradila Hasan
Contact Email
Faradila Hasan
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.alsyirah@iain-manado.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah
ISSN : 16934202     EISSN : 25280368     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah, with registered number ISSN 1693-4202 (Print), ISSN 2528-0368 (Online) is a peer-reviewed journal published twice a year in June and December by Faculty of Sharia, State Islamic Institute of Religious Affairs (IAIN) Manado. Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah is a Communication Media between Sharia and Law Scholars (Law, Islamic Law, Sharia Economic Law and Social Society). Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah invites enthusiasts and experts in Islamic Law and Legal Sciences to write or disseminate research results relating to Sharia and Law issues.
Arjuna Subject : -
Articles 606 Documents
MINAT MASYARAKAT ISLAM KOTA MANADO UNTUK MENYELESAIKAN PERKARA KEWARISANDI PENGADILAN AGAMA Naskur Naskur
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/as.v13i2.175

Abstract

Pengadilan Agama merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu yang diatur dalam  undang-undang, perkara  · perdata yang dimaksud salah satunya adalah soal keuiarisan. Penelitian ini memfakuskan  masalah pada  bagaimana  minat masyarakat Islam khususnya  di  kota  Manado  untuk  menyelesaikan  soal  keuiarisannya di Pengadilan Agama,  serta faktorjaktor apa saja yang menyebabkan berminat atau tidaknya umat Islam menyelesaikanperkara kewarisannya di  Pengadilan  Agama.   Metode penelitian   ini  menggunakan   teknik pengumpulkan data melalui angket dan wawancara. Hasildaripenelitian ini adalah dari 300 responden yang mengisi angket,  minat masyarakat lebih  besar menyelesaikan perkara kewarisannya di Pengadilan Agama dibanding Pengadilan Negeri, yakni  29.67% berbanding 13.33%. Sedangkan faktor  berminatnya  masyarakat  terbagi  dua;  Pertama, faktor dorongan  keyakinan.  Kedua, faktor yuridis.  Kemudian faktor tidak berminatnya masyarakat diantaranya; Faktor kebiasaan, yuridis, keadilan, kejujuran.
CELEBRATING SHARIA INDONESIA: ISLAMIC HARMONY AND PANCASILA IN THE VISION OF INDONESIAN NATIONALITY Lufaefi Lufaefi
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jis.v17i2.951

Abstract

This article discusses and offers at the same time the issue of formalizing Islamic law in Indonesia. It started with a debate about the ideals of the formalization of Islamic law, which never ended. The debate about this has led to at least two significant views, namely fundamentalism and secularism. The first group believes that Islam is a religion that prepares solutions to all problems. In the context of Indonesians, such rules override local state laws, such as the 1945 Constitution and the Pancasila ideology. Meanwhile, the second group tried to give up religion in answering modern problems. This article uses a qualitative method, and two knives of analysis, namely socio-historical and maqāṣid of the Koran. This paper proves that the ideology of the State of Indonesia, namely Pancasila, contains substantive sharia values. The values of Islamic law are contained in every principle and are following the vision of Indonesian nationhood as a nation that harmonizes between Islam and nationality. These values are relevant to the values that exist in the country of Medina as the first country formed by the Prophet Muhammad. With the values of Islamic law in the Pancasila, Indonesia is worth mentioning as a sharia country.
MENCERMATI KETENTUAN HARTA BERSAMA SEBAGAI SUATU DINAMIKA HUKUM ISLAM DI INDONESIA Nasruddin Yusuf
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 4, No 1 (2006)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/as.v4i1.213

Abstract

Ketentuan-ketentuan Hukum Islam meskipun diyakini pengikutnya sebagai ketentuan-ketentuan agama, namun tidak jarang para mujtahid hukum Islam berusaha merespons perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam masyarakat, baik dengan mencoba mengadakan interpretasi ayat­ayat maupun mengadopsi maslahat yang dikandung. Harta bersama merupakan bentuk akomodasi pemuka hukum Islam Indonesia terhadap hukum Islam dengan hukum adat. Diketahui bahwa kitab­kitab fiqh tidak ada penjelasan institusi masyarakat Indonesia ke dalam sistem hukum Islam. Dengan masuknya persoalan harta bersama ini ke dalam sistem hukum Islam semakin mengukuhkan dinamisasi hukum Islam terhadap perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat Dengan ketentuan praktek-praktek tersebut tidak melanggar norma-norma yang baku dalam hukum Islam
Legal Construction of the Buginese Understanding Muhammad Yusuf; Ismail Suardi Wekke; Afandi Salleh; Rosdalina Bukido
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jis.v19i2.1530

Abstract

This article investigates the relevance of values of Bugis culture dan Muslim Scholars' views in Bugis Quranic exegesis by MUI of South Sulawesi. This research uses a content analysis approach to the Bugis Quranic exegesis. Bugis Muslims scholars' views about women's rights (opportunity) to be public leaders, iddah, and inheritance distribution are relevant to core values of Bugis culture and local wisdom of Bugis people. To be public leaders, women never mind as long as they fulfill qualitative and functional criteria. In household affairs, a married couple is a partnership where both have responded to do together. 'Iddah stress to religious principle and culture of siri' (self-respect), paccing (purity), asitinajang (fairness).  Inheritance distribution does relate to the right and responsibility to realize equality and justice. Muslim scholars' of Bugis have the expertise to deliver values of Bugis culture, and explanatory is not only explicitly, but also implicitly and inherently. The Quran and local wisdom are two values integrated into giving solutions to people. Therefore, the integration between local wisdom relevant to the teachings of Islam (the Koran) undertaken by the ulama will undoubtedly be more effective.
ORANG YANG MEWARISKAN HARTANYA DALAM PERSPEKTIF KOMPILASI HUKUM ISLAM Naskur Naskur
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 9, No 1 (2011)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/as.v9i1.10

Abstract

Orang yang mewariskan hartanya adalah orang yang telah meninggal dunia dengan bentuk kematian secara hakiki, hukmy dan taqdiri. Kematian secara hakiki atau dalam Kompilasi Hukum Islam disebutkan orang yang pada saat meninggal adalah kematian tanpa melalui pembuktian dapat diketahui dan dinyatakan bahwa seseorang telah meninggal dunia. Kematian secara yuridis atau dalam Kompilasi Hukum Islam yang dinyatakan meninggal adalah dimaksudkan kematian melalui keputusan hakim dinyatakan telah meninggal dunia. Sedangkan kematian secara taqdiri yang dalam Kompilasi Hukum Islam termasuk dalam kategori orang yang dinyatakan meninggal adalah kematian yang berdasarkan anggapan bahwa seseorang telah meninggal dunia.
SEJARAH PERADILAN AGAMA DI INDONESIA (Pendekatan Yuridis) Muhammad Sukri
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 10, No 2 (2012)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/as.v10i2.252

Abstract

Sejarah Peradilan Agama di Indonesia lelah ada sejak jaman kerajaan-kerajaan Islam, kemudian pada jaman penjajahan be landa dan Jepang. sesudah kemerdekaan sampai akhirnya keluar IV .Yo. 7 tahun 1989 lemang Pengadilan agama yang lehih mempertegas lagi kedudukan Pengadilan Agama di Indonesia Proses interaksi peradilan agama mi telah berlangsung dalam jangka waktu wng panjang sejak masyarakat Islam memiliki kekuatan politik pada masa kesultanan Islam hingga sekarang, maka ketika disebutkan peradilan agama maka yang dimaksudkan adalah peradilan Islam di Indonesia.
Endogamous Marriages in Kiai Sukorejo's Family: Sufi Social Fiqh Transformation and Implications for Islamic Jurisprudence Mirwan Mirwan; Mohammad Firmansyah; Faishal Agil Al Munawar; Abdul Fajri Kolopita
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 21, No 2 (2023)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jis.v21i2.2363

Abstract

Marriage with the principle of endogamy in the context of arranged marriages, as observed within the family of Kiai Sukorejo in Situbondo, is influenced by religious, cultural, and Sufi tradition factors. The research uses the phenomenological method to delve into the meaning behind the phenomenon. Marriage is regarded as a means to follow the Sunnah of the Prophet, strengthen religious devotion and Faith, reinforce family bonds, and preserve the existence of the Islamic boarding school (Boarding School). Aspects of lineage, religious commitment, and scholarly qualifications take precedence in arranged marriages as an implementation of the concept of kafa'ah in Islamic jurisprudence (Fiqh). The mystical understanding derived from Sufi teachings also affects perspectives and actions in accepting arranged marriages. This research provides a significant contribution to understanding social Sufi jurisprudence (Fiqh) and the practice of endogamous marriages within the context of Islamic boarding schools. The study's findings offer valuable recommendations for developing social fiqh understanding, remarkably grounded in Sufi teachings. It is important to note that this study has a limitation in that it did not involve female informants, which should be a crucial consideration in analyzing and exploring the meaning of arranged marriages.
HUKUM ISLAM DAN KONTRIBUSINYA PADA HUKUM NASIONAL Mohammmad Kasim
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 8, No 1 (2010)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/as.v8i1.43

Abstract

Dalam perjalanan sejarah, Islam masuk ke wilayah Nusantara dan Asia Tenggara pada umumnya, dan kemudian membentuk masyarakat politis pada penghujung abad ke 13, ketika pusat-pusat kekuasaan Islam di Timur Tengah dan Eropa telah mengalami kemunduran. Ulama-ulama kita di zaman itu nampaknya belum memiliki kemampuan intelektual yang canggih untuk membahas fikih Islam dalam konetks masyarakat Asia Tenggara, sehingga kitab-kitab fikih yang ditulis pada umumnya adalah ringkasan dari kitab-kitab fikih di zaman keemasan Islam, dan ketika mazhab-mazhab hukum telah terbentuk. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hukum Islam di Indonesia, sesungguhnya adalah hukum yang hidup, berkembang, dikenal dan sebagiannya ditaati oleh umat Islam di negara ini.
MAKNA KEADILAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN PERUNDANG-UNDANGAN Nurlaila Harun
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/as.v11i1.166

Abstract

Keadilan tidak pernah bertemu sejak zaman dahulu hingga saat ini, sebab masalah keadilan merupakan hal yang sangat esensial dalam kehidupan manusia, keadilan terus dibicarakan dan diperjuangkan oleh setiap individu dan masyarakat untuk memperolehnya agar kehidupannya dapat berjalan dengan baik aman dan sentosa. Keadilan adalah kebijakan tertinggi dan selalu ada dalam segala manifestasinya yang beraneka ragam. Keadilan merupakan salah satu tujuan setiap agama yang ada didunia ini, termasuk agama islam yang menempatkan keadilan ditempat yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan beraneka.
The Analysis Of Minimum Marriage Age Determination In Indonesia And Other Islamic Countries Nur Azizah
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jis.v16i2.664

Abstract

The age of marriage is always a polemic in the household. This is based on the view that the age of marriage that is not mature mentally, physically, psychologically, and education is susceptible to unstable attitudes in taking policies or decisions. So that it is feared that they have not been able to respond to problems in the marriage. Indonesia is a country with Muslims as a major population regulating the minimum age of marriage, as well as Muslim countries in the world. The research method used is the juridicalnormative approach. There are someconclusions obtained. First, the Shari'a does not explicitly set a minimum age for marriage, but legal age and understanding are elements that must be fulfilled for prospective brides, and especially for husbands who are positioned as heads of families. Second, every Islamic country, including Indonesia, has different rules regarding the minimum age of marriage, but the purpose of the restriction remains the same, which is to form a partner who is physically and resourcefully ready to build a sakinah household.Keywords: Rules; Age; Marriage