ANALISIS STRATEGI PEMBELAJARAN SAINS DENGAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK KELAS V PADA BUKU TEMATIK TEMA 8 SUB TEMA 3 MEMELIHARA EKOSISTEM Siti Mastiyah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Konsentrasi Sains Universitas Islam Negeri Sunan KaliJaga Yogyakarta, Indonesia mastiyahs@gmail.com Abstrak Agar pengajaran menjadi lebih efektif dan afektif, pembelajar seharusnya dipahami lebih dari sekedar penerima pasif pengetahuan, melainkan seseorang yang secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran yang diarahkan oleh guru menuju lingkungan kelas yang nyaman dan kondisi emosional, sosiologis, psikologis, dan fisiologis yang kondusif. Selain itu yang membuat pengajaran menjadi afektif adalah bagaimana guru berusaha menjadi panutan (modelling) dengan memperlihatkan kepribadian dan sikapnya yang positif, berpengalaman dalam mengajar, cakap dalam menyampaikan informasi, reflektif, dan motivatoris. Pemilihan strategi dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan sub materi, dan perkembangan pada psikologi anak, agar tujuan dalam pembelajaran dapat tercapai dan berjalan seoptimal mungkin, selain itu anak mampu dan mudah menyerap materi yang disampaikan oleh pendidik, adapun tugas pendidik yaitu menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran. Kata Kunci: Strategi Pembelajaran, Sains, Psikologi Perkembangan, buku Tematik Pendahuluan Peserta didik sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial, memerlukan situasi pendidikan yang mendorong dirinya untuk mampu berkembang sesuai dengan potensi masing-masing. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Efesiensi dan keefektifan pembelajaran dalam proses interaksi belajar yang baik adalah segala daya upaya guru untuk membantu peserta didik agar bisa belajar dengan baik. Guru memiliki peran yang sangat vital dan fundamental dalam membimbing, mengarahkan, dan mendidik peserta didik dalam proses pembelajaran. Seorang guru tidak hanya dituntut sebagai pengajar yang bertugas menyampaikan materi pelajaran tertentu, tetapi juga harus berperan sebagai pendidik. Peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Gaya belajar adalah cara di mana anak-anak menerima informasi baru dan proses yang akan mereka gunakan untuk belajar. Sebagian anak menerima informasi lebih baik dengan cara visual. Sebagian lagi dengan cara auditori. Sedangkan yang lain mungkin lebih efektif mengambil informasi dengan cara kinestetik. Gaya belajar dapat memupuk bakat dan kekuatan anak, tetapi jika tidak dipahami dan ditunjang, maka justru dapat mengganggu belajar saat beberapa area lemah dan kompetensi yang mereka butuhkan tidak terpenuhi. Sebagai seorang pendidik harus mampu memilih strategi pembelajaran yang tepat bagi peserta didiknya. Karena itu dalam memilih strategi pembelajaran, pendidik harus memperhatikan keadaan atau kondisi peserta didik, bahan pelajaran serta sumber-sumber belajar yang ada agar penggunaan strategi pembelajaran dapat diterapkan secara efektif dalam menunjang keberhasilan belajar peserta didiknya. Pada kesempatan kali ini penulis akan mencoba menganalisis strategi pembelajaran yang terdapat pada buku guru tema tema 8, memelihara ekosistem di kelas V Sekolah Dasar. Hasil dan Pembahasan Pengertian Strategi Pembelajaran Makna Strategi Strategi berasal dari kata benda dan kata kerja dalam bahasa Yunani yaitu strategy. kata benda yaitu strategos yang merupakan gabungan kata stratos (militer) dengan “ego” (memimpin). Sebagai kata kerja yaitu stratego yang berarti merencanakan (to plan).[1] Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal. Dengan demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Ada dua hal yang patut kita cermati dari pengertian di atas. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk pengunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada peroses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapain tujuan. Dengan demikian, penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagi fasilitas dan sumber belajar semuanya di arahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Oleh sebab itu, sebelum menetukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi.[2] Strategi adalah prosedur atau langkah-langkah teknis yang harus ditempuh untuk menerapkan metode pembelajaran tertentu di kelas.[3] Makna Pembelajaran Pembelajaran dapat dikatan sebagai hasil dari memori, kognisi, dan metakognisi, yang berpengaruh terhadap pemahaman. Hal inilah yang terjadi ketika seseorang sedang belajar, dan kondisi ini juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, karena belajar merupakan proses alamiah setiap orang. Wenger mengatakan. “pembelajaran bukanlah aktifitas, sesuatu yang dilakukan oleh seseorang ketika ia tidak melakukan aktivitas yang lain . pembelajaran bisa terjadi dimana saja dan pada level yang berbeda-beda, secara individual, kolektif ataupun sosial”. Pada dasarnya pembelajaran dapat dikatakan sebagai proses modifikasi dalam kapasitas manusia yang bisa dipertahankan dan ditingkatkan levelnya. Selama proses ini, seseorang bisa memilih untuk melakukan perubahan atau tidak sama sekali terhadap apa yang ia lakukan. Ketika pembelajaran diartikan sebagai perubahan dalam perilaku, tindakan, cara, dan performa, maka konsekuensinya jelas: kita bisa mengobservasi bahkan mengverivikasi pembelajaran itu sendiri sebagai objek.[4] Makna Strategi Pembelajaran strategi dapat diartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi juga bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Adapun tujuan strategi pembelajaran adalah terwujudnya efisiensi dan efektivitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik.[5] Menurut Sanjaya (2007 : 126) Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sedangkan menurut Suyono dan Hariyanto,[6] strategi pembelajaran adalah rangkaian kegiatan dalam proses pembelajaran yang terkait dengan pengelolaan siswa, pengelolaan guru, pengelolaan kegiatan pembelajaran, pengelolaan lingkungan belajar, pengelolaan sumber belajar dan penilaian agar pembelajaran lebih efektif dan efesien sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu serangkaian rencana kegiatan yang termasuk didalamnya penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam suatu pembelajaran. Strategi pembelajaran disusun untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Strategi pembelajaran didalamnya mencakup pendekatan, model, metode dan teknik pembelajaran secara spesifik. Pertimbangan Pemilihan Strategi Pembelajaran Berbagai jenis strategi pembelajaran dapat dikelompokkan berdasarkan berbagai pertimbangan. Menurut Winata putra (2003) ada beberapa pertimbangan dalam hal ini, yaitu:[7] Berdasarkan pertimbangan proses pengolahan pesan Strategi deduktif, dengan strategi deduktif materi atau bahan pelajaran diolah dari mulai yang umum, generalisasi atau rumusan ke yang bersifat khusus atau bagian-bagian itu dapat bersifat atribut atau cirri-ciri. Strategi deduktif dapat digunakan dalam mengajarkan konsep, baik konsep konkret maupun konsep terdefinisi Strategi induktif, dengan strategi induktif materi atau bahan pelajaran diolah mulai dari yang khusus (sifat cirri atau atribut) ke yang umum, generalisasi atau rumusan. Strategi induktif dapat digunakan dalam mengajarkan konsep, baik konsep konkret maupun konsep terdefinisi Berdasarkan pertimbangan pihak pengolah pesan strategi Ekspositorik, dengan strategi ekspositorik bahan atau materi pelajaran diolah oleh guru. Siswa tinggal “terima jadi” dari guru. Dengan strategi ekspositorik guru yang mencari dan mengolah bahan pelajaran, yang kemudian menyampaikanya kepada siswa. Strategi ekspositorik dapat digunakan di dalam mengajarkan berbagai materi pelajaran, kecuali yang sifatnya pemecahan masalah. Strategi Heuristik, dengan strategi heuristik bahan atau materi pelajaran diolah oleh siswa. Siswanya yang aktif mencari dan mengolah bahan pelajaran. Guru sebagai fasilitator memberikan dorongan arahan, dan bimbingan. Dengan strategi heuristik diharapkan siswa bukan hanya paham dan mampu melakukan suatu pekerjaan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, akan tetapi juga akan terbentuk sikap-sikap positif, seperti: kritis, kreatif, inovatif, mandiri, terbuka, Berdasarkan pertimbangan interaksi Guru dengan Siswa Strategi tatap muka, akan lebih baik dengan menggunakan alat peraga. Strategi pengajaran melalui media, guru tidak langsung kontak dengan siswa, akan tetapi guru “mewakilkan” kepada media. Siswa berinteraksi dengan media. Terdapat beberapa strategi pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran, tetapi tidak semuanya sama efektifnya dapat mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itu dibutuhkan kreativitas guru dalam memilih strategi pembelajaran yang tepat. Jenis-jenis Strategi Pembelajaran Penggunaan strategi dalam proses pembelajaran sangat diperlukan untuk mempermudah proses tersebut sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. Tanpa strategi yang jelas, proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif dan tidak akan terarah pada tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Question Students Have Question Students Have merupakan strategi yang melatih peserta didik agar memiliki kemampuan dan ketrampilan bertanya.[8] Langkah-langkah dalam pembelajaran Question Students Have adalah sebagai berikut: Membagikan kartu kosong kepada setiap peserta didik dalam setiap kelompok Peserta didik menulis beberapa pertanyaan tentang hal-hal yang berkaitan dengan materi Pertukaran kartu Tanya dengan anggota kelompok lain Setiap kelompok menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut Picture and Picture Picture and Picture merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Gambar ini menjadi perangkat utama dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah dalam pembelajaran Picture and Picture adalah sebagai berikut: Menyajikan materi sebagai pengantar Guru menunjukkan gambar-gambar kegiatan yang berkaitan dengan materi Guru menunjuk siswa secara bergantian untuk mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis Guru menanyakan alas an dasar pemikiran urutan gambar tersebut Dari urutan gambar tersebut guru mulai menanamkan konsep materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Example Non Example Example non example merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Strategi ini bertujuan mendorong siswa untuk belajar berpikir kritis dengan memecahkan permasalahan-permasalahan yang termuat dalam contoh-contoh gambar yang disjikan. Strategi Example Non Example juga ditujukan untuk mengajarkan siswa dalam belajar memahami dan menganalisis sebuah konsep dan siswa lebih leluasa, lebih bebas, lebih mandiri dalam mengerjakan tugas. Siswa diberi kesempatan untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan dan pengetahuan guru atau temannya dan untuk membangun cara alternatif untuk berfikir dan merasakan. Langkah-langkah dalam pembelajaran example non example adalah sebagai berikut:[9] Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Guru menempelkan gambar di papan tulis. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisis gambar. Melalui diskusi kelompok 5-6 orang peserta didik, hasil diskusi dari analisis gambar tersebut dicatat pada kertas. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. Guru mulai menjelaskan mulai dari pertanyaan, komentar, dan jawaban. Guru dan peserta didik menyimpulkan materi. Aspek–aspek Perkembangan Peserta Didik Pada Fase Sekolah Dasar Perkembangan dapat diartiakan sebagai “perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati”. Pengertian lain dari perkembangan adalah “perubahan-perubahan yang dialami individu atau organism menuju tingkat kedewasaanya atau kematanganya (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmania) maupun psikis (rohaniah).[10] Adapun aspek perkembangan peserta didik yaitu diantaranya: Perkembangan Kognitif Menurut Piaget mengatakan bahwa seorang anak mulai membangun pemahamanya tentang dunia, otak yang berkembangpun membentuk skema. Ini merupakan tindakan-tindakan atau representasi mental yang mengorganisasikan pengetahuan. Dalam teori piaget anak-anak yang lebih tua memiliki skema-skema yang meliputi berbagai strategi dan perencanaan untuk mengatasi persoalan. Sebagai contoh, seorang anak yang berusia 5 tahun mungkin telah memiliki suatu skema yang meliputi strategi mengklasifikasikan objek-objek sesuai ukuran, bentuk atau warna.[11] Aspek atau domain kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).[12] Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif terdapat enam jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Kenem jenjeng yang dimaksud adalah (1) pengetahuan, hafalan, ingatan (knowledge), (2) pemahaman (comprehension), (3) penerapan (application), (4) analisis (analysis), (5) sintesis (synthesis), (6) penilaian (evaluation).[13] Pengetahuan (knowledge) adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus dan lain-lain tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakanya. Pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk mengerti dan memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan di ingat. Penerapan adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tatacara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus teori-teori dan sebagainya. Dalam situasi yang baru kongkret bisa juga disebut suatu persoalan. Analisis adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian tersebut Sintesis adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sintesis merupakan suatu proses berfikir yang memadukan bagian-bagian atau unsure-unsur secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang berstruktur atau berbentuk pola baru. Penilaian atau evaluasi merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi nilai atau ide. Perkembangan Sosial Syamsu Yusuf (2007) menyatakan bahwa Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial.[14] Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagao proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi ; meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama. Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya. Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirsakan sejak usia enam bulan, disaat itu mereka telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang mendengar suara keras) dan kasih sayang.[15] Sunarto dan Hartono (1999) menyatakan bahwa : “Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial mulai dari tingkat sederhana dan terbatas, yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang amat kompleks. Dari kutipan diatas dapatlah dimengerti bahwa semakin bertambah usia anak maka semakin kompleks perkembangan sosialnya, dalam arti mereka semakin membutuhkan orang lain. Tidak dipungkiri lagi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan mampu hidup sendiri, mereka butuh interaksi dengan manusia lainnya, interaksi sosial merupakan kebutuhan kodrati yang dimiliki oleh manusia. c) Perkembangan Bahasa bahasa adalah sarana komunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup semua cara berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat atau gerak dengan menggunakan kata-kata, kalimat bunyi, lambang, gambar atau tulisan. Dengan bahasa semua manusia dapat mengenal dirinya sesame manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral atau agama.[16] Usia sekolah dasar ini merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata (vocabulary) pada awal masa ini, anak sudah menguasai sekitar 2.500 kata. Dengan dikuasainya ketrampilan membaca dan berkomunikasi dengan orang lain, anak sudah gemar membaca atau mendengarkan cerita yang bersifat kritis (tentang perjalanan/petualangan, riwayat para pahlawan dsb). Pada masa ini tingkat berfikir anak sudah lebih maju, dia banyak menanyakan soal waktu dan sebab akibat. Oleh sebab itu, kata Tanya yang dipergunakannya pun yang semula hanya “apa”, sekarang sudah diikuti dengan pertanyaan “dimana” , “dari mana”, “kemana”, “mengapa”, dan “bagaimana”. pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah proses-proses yang berlaku di dalam otak seseorang anak ketika memperoleh bahasa ibunya. Proses-proses ketika anak sedang memperoleh bahasa ibunya terdiri dari dua aspek: pertama aspek performance yang terdiri dari aspek-aspek pemahaman dan pelahiran, kedua aspek kompetensi. Kedua jenis proses ini berlainan. Proses-proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau kemampuan mempersepsi kalimat-kalimat yang di dengar, sedangkan proses pelahiran melibatkan kemampuan melahirkan atau mengucapkan kalimat-kalimat sendiri. Kedua kemampuan ini apabila telah betul-betul dikuasai seorang anak akan menjadi kemampuan linguistiknya. Kemampuan ini terdiri dari tiga komponen: kemampuan memperoleh fonologi, semantic dan kalimat. Ketiga kompenen ini diperoleh anak secara serentak atau bersamaan. d) Perkembangan Emosi Menurut Sarlito Wirawan Sarwono emosi adalah setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam). Mengenjak usia sekolah, anak mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya. Kemampuan mengontrol emosi diperoleh anak melalui peniruan dan latihan (pembiasaan). Dalam proses peniruan, kemampuan orangtua dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Apabila anak dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang suasana emosinya stabil, maka perkembangan emosi anak cenderung stabil. Emosi-emosi yang secara umum dialami pada tahap perkembangan usia sekolah ini adalah marah, takut, cemburu, iri hati, kasih sayang, rasa ingin tahu, dan kegembiraan (rasa senang, nikmat atau bahagia). e) Perkembangan Fisik Pada masa bayi (0-1 tahun) perkembangan fisik anak mengalami kecepatan paling cepat dibandingkan usia selanjutnya. Kemampuan dan ketrampilan yang dapat diberikan pada anak mulai dari berguling, merangkak, duduk, berdiri dan berjalan.[17] Pada usia 2-3 tahun, secara fisik memiliki kesamaan dengan usia sebelumnya namun pada usia ini anak sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada disekitarmya. Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak usia 4-6 tahun aktif melakukan berbagai kegiatan. Hal ini untuk mengembangkan motorik halus dan kasar anak. Pertumbuhan anak usia 7-8 tahun terlihat lebih lambat disbanding usia 5 tahun. Pada usia SD, rata-rata anak bertambah tinggi 2-5 inci, berat badan bertambah 3-5 pon tiap tahun, muncul gigi permanen dan bentuk muka tampak lebih memanjang. Selain itu kemampuan visual anak sudah lebih terkoordinasi dengan baik. Sehingga anak mulai siap untuk membaca petunjuk atau mengerjakan tugas yang membutuhkan koordinasi mata dan tangan. [18] Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, dapat dipahami bahwa perkembangan fisik anak usia dini mulai beranjak matan, maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakanya sudah selaras dengan kebutuhanya. Selain itu, pada masa ini juga ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena itu, usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik, seperti menulis, menggambar, melukis, berenang dan sebagainya. Analisis/Pembahasan Pada tulisan ini pemakalah akan mencoba menganalisis strategi yang terdapat dalam buku tematik Sekolah Dasar/Madrasah Ibtida’iyah buku pegangan guru, kelas V Tema 8 Ekosistem, Subtema 3 Memelihara Ekosistem, pembelajaran 1. Selain menganalisis strategi yang terdapat dalam buku tematik, pemakalah akan menawarkan strategi lain yang dapat digunakan guru dalam pembelajaran ini. Hasil analisis pemakalah sebagai berikut: Pemetaan kompetensi dasar pembelajaran IPA pada pembelajaran 1 Kompetensi Dasar 3.6 Mengenal jenis hewan dari makanannya dan mendeskripsikan rantai makanan pada ekosistem di lingkungan sekitar 4.6 Menyajikan hasil pengamatan untuk membentuk rantai makanan dan jejaring makanan dari makhluk hidup di lingkungan sekitar yang terdiri dari karnivora, herbivore dan omnivore Indikator Mengidentifikasi cara-cara aliran energi di dalam sebuah ekosistem Membuat laporan investigasi tentang cara-cara aliran energy di dalam ekosistem Tujuan Pembelajaran : Dengan membuat piramida makanan pada ekosistem bersama kelompok, siswa mampu mengidentifikasi cara-cara aliran energi di dalam sebuah ekosistem dengan teliti Tabel C.1 Hasil Analisis Strategi Pembelajaran Pada Pembelajaran IPA di Buku tematik Kelas V SD/MI Strategi Pembelajaran Langkah- langkah Pembelajaran Question Students Have (Pertanyaan dari Siswa) 1. Bagikan potongan-potongan kertas (kartu Tanya) 2. Siswa menuliskan pertanyaan 3. Pertukaran kartu Tanya dengan anggota kelompok lain 4. Setiap kelompok menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut 1. Siswa mengamati gambar sebuah rantai makanan ekosistem padang rumput yang terdapat pada buku siswa 2. Siswa dengan bantuan guru mencoba mengidentifikasi apa saja yang termasuk kedalam rantai makanan ekosistem dalam gambar 3. Siswa membaca dengan cermat teks bacaan berjudul energy dan ekosistem 4. Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa tentang aliran energi pada rantai makanan dengan menggunakan gambar piramida makanan 5. Siswa membuat beberapa pertanyaan pada Kartu Tanya √ √ 6. Siswa mendiskusikan pertanyaan - pertanyaan mereka dengan anggota kelompok lain √ √ Dari strategi yang telah banyak ada di buku, peneliti sengaja mencari kecocokan atau kemiripin dari strategi tersebut dengan langkah-langkah pembelajaran guru. Langkah-langkah pembelajaran yang ada di buku guru ada kemiripan ketika dikaitkan menggunakan strategi Questions students have. Berdasarkan tabel C.1, langkah-langkah strategi Questions students have yaitu membagikan kartu kosong (kartu Tanya) dalam setiap kelompok, sesuai dengan langkah pembelajaran yang ke lima yaitu siswa mem at beberapa pertanyaan pada kartu Tanya. Siswa menuliskan beberapa pertanyaan yang terkait dengan materi sesuai dengan langkah pembelajaran ke lima. Pertukaran kartu Tanya dengan anggota kelompok lain dan Setiap kelompok menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut langkah strategi ini sesuai dengan langkah pembelajaran yang ke enam yaitu Siswa mendiskusikan pertanyaan - pertanyaan mereka dengan anggota kelompok lain. Tabel C.2 Hasil Analisis Strategi Pembelajaran Pada Pembelajaran IPA di Buku Tematik Kelas V SD/MI Strategi Pembelajaran Langkah -langkah Pembelajaran Picture and Picture 1. Menyajikan materi sebagai pengantar 2. Guru menunjukkan gambar-gambar kegiatan yang berkaitan dengan materi 3. Guru menunjuk siswa secara bergantian untuk mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis 4. Guru menanyakan alasan dasar pemikiran urutan gambar tersebut 5. Dari urutan gambar tersebut guru mulai menanamkan konsep materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai 1. Siswa mengamati gambar sebuah rantai makanan ekosistem padang rumput yang terdapat pada buku siswa √ 2. Siswa dengan bantuan guru mencoba mengidentifikasi apa saja yang termasuk kedalam rantai makanan ekosistem dalam gambar √ √ 3. Siswa membaca dengan cermat teks bacaan berjudul energy dan ekosistem √ 4. Guru menstimulus tentang aliran energi pada rantai makanan dengan menggunakan gambar piramida makanan Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa √ √ 5. Siswa membuat beberapa pertanyaan pada Kartu Tanya 6. Siswa mendiskusikan pertanyaan - pertanyaan mereka dengan anggota kelompok lain Berdasarkan tabel C.2, Menyajikan materi sebagai pengantar diterapkan pada langkah pembelajaran yang ke tiga, yaitu siswa membaca dengan cermat. Guru menunjukkan gambar-gambar kegiatan yang berkaitan dengan materi diterapkan pada langkah pembelajaran satu, dua, empat, yaitu Siswa mengamati gambar sebuah rantai makanan ekosistem padang rumput yang terdapat pada buku siswa, Siswa dengan bantuan guru mencoba mengidentifikasi apa saja yang termasuk kedalam rantai makanan ekosistem dalam gambar, tentang aliran energi pada rantai makanan dengan menggunakan gambar piramida makanan Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa. Guru menunjuk siswa secara bergantian untuk mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis diterapkan pada langkah pembelajaran ke dua yaitu Siswa dengan bantuan guru mencoba mengidentifikasi apa saja yang termasuk kedalam rantai makanan ekosistem dalam gambar. Guru menanyakan alasan dasar pemikiran urutan gambar tersebut diterapkan pada langkah pembelajaran ke empat yaitu tentang aliran energi pada rantai makanan dengan menggunakan gambar piramida makanan Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa. Langkah-langkah pembelajaran dalam buku tematik, yaitu pada pembelajaran IPA merupakan langkah-langkah yang menggunakan/memadukan dua strategi pembelajaran. Perpaduan antara strategi question students have dan Picture and Picture merupakan perpaduan yang efektif. Saling melengkapi di setiap langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan. Walaupun dalam penyampaian media gambarnya menggunakan metode Picture and picture. Tidak hanya itu pada langkah pembelajaran yang ada dibuku guru kelas V tema 8 subtema 3 pada pembelajaran IPA adalah dengan memadukan dua strategi yaitu dengan menggunakan strategi Question Students Have (Pertanyaan dari Siswa )dan Picture and picture. Selanjutnya dengan memadukan dua strategi ini strategi Question Students Have (Pertanyaan dari Siswa) dan Picture and picture ini juga dianalisis berdasarkan aspek perkembangan siswa pada usiasekolah dasar. Dimana aspek tersebut disesuaikan dengan strategi yang ada dibuku. Pada perpaduan dua strategi ini terdapat aspek kognitif dan sosial. Dimana pada aspek perkembangan kognitif ini lebih ditekankan pada kemampuan berfikir siswa seperti pada langkah strategi ini siswa diminta menuliskan pertanyaan, setiap kelompok menjawab pertanyaan tersebut dari kelompok lain dan Guru menanyakan alasan dasar pemikiran urutan gambar tersebut, dengan langkah tersebut akan membuat anak berfikir kritis. siswa mencoba mencari atau menemukan jawaban terhadap suatu pertanyaan dari kelompok lain ditandai dengan adanya kreatifitas, seperti mencari sebuah jawaban dari buku materi, artikel dan sumber media cetak atau elektronik. Sedangkan dalam perkembangan aspek sosial terwujud pada langkah pembelajaran yang ke 3 dan 4, yaitu pertukaran kartu Tanya dengan anggota kelompok lain dan setiap kelompok menjawab petanyaan tersebut. Dalam hal ini ditandai dengan adanya interaksi antara guru dengan murid, murid dengan murid (adanya kerja sama antara satu kelompok dan diskusi dalam kelompok. Tabel C.3 Strategi yang disarankan Oleh Penulis Pada Pembelajaran IPA di Buku Tematik Kelas V SD/MI Strategi Pembelajaran Langkah -langkah Pembelajaran Example Non Example 1. Guru mempersipkan gambar-gambar sesuai dengan pembelajaran 2. Guru menampilkan gambar melalui OHP 3. Guru memberi petunjuk kepada siswa untuk memperhatikan gambar dan setiap kelompok mencatat hasil diskusi dari analisa gambar tersebut 4. Tiap kelompok diberikan kesempatan membacakan hasil diskusinya 1. Siswa mengamati gambar sebuah rantai makanan ekosistem padang rumput yang terdapat pada buku siswa √ √ 2. Siswa dengan bantuan guru mencoba mengidentifikasi apa saja yang termasuk kedalam rantai makanan ekosistem dalam gambar √ √ 3. Siswa membaca dengan cermat teks bacaan berjudul energy dan ekosistem √ 4. Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa tentang aliran energi pada rantai makanan dengan menggunakan gambar piramida makanan √ √ 5. Siswa membuat beberapa pertanyaan pada Kartu Tanya 6. Siswa mendiskusikan pertanyaan - pertanyaan mereka dengan anggota kelompok lain √ √ Penulis menyarankan strategi pembelajaran yang sesuai untuk digunakan dalam pembelajaran IPA subtema 3 adalah strategii Exampel Non Example hal itu dilakukan dengan memperhatikan indikator dan langkah-langkah pembelajaran yang terdapat pada buku tematik kelas V SD/MI. Pembelajaran dengan menggunakan Example Non Example adalah pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media untuk menyampaikan materi pelajaran. Adapun tujuan Strategi ini sesuai dengan perkembangan kognitif yang diharapkan yaitu mendorong siswa untuk belajar berfikir kritis dengan memecahkan permasalahan-permasalahan yang termuat dalam contoh-contoh gambar yang disajikan. Tidak hanya itu saja dalam perkembangan kognitif, adanya sebuah media gambar dapat meningkatkan ingatan dan penalaran anak serta membuat siswa berfikir kritis dalam mengembangkan pemahaman yang mendalam mengenai konsep (rantai makanan). Sedangkan dalam aspek sosial dalam strategi Example Non Example terwujud dengan adanya kelompok diskusi dan dalam diskusi tersebut terjadi interaksi secara efektif dengan kelompok lain. Dan dalam aspek perkembangan bahasa dalam langkah strategi yang disarankan lebih ditunjukkan dengan kegiatan siswa membuat kesimpulan dan menuliskan hasil laporan kegiatan. Dengan langkah tersebut, secara tidak langsung siswa harus menyusun kata-kata menjadi kalimat yang digunakan untuk membuat kesimpulan dan menuliskan hasil laporan. Semakin banyak perbendaharaan kata yang dimiliki anak, maka tipe kalimat yang dapat disusun akan akan semakin panjang dan bervariasi. Berdasarkan tabel C.3, langkah-langkah strategi example non example sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang terdapat pada buku tematik. Adapun langkah strategi yang diawali dengan guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan langkah pembelajaran yang ke 1, 2 dan 4 yaitu; Siswa mengamati gambar sebuah rantai makanan ekosistem padang rumput yang terdapat pada buku siswa, Siswa dengan bantuan guru mencoba mengidentifikasi apa saja yang termasuk kedalam rantai makanan ekosistem dalam gambar, Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa tentang aliran energi pada rantai makanan dengan menggunakan gambar piramida makanan. Strategi pembelajaran yang ke 2 yaitu guru menampilkan gambar lewat OHP sesuai dengan langkah pembelajaran yang ke 1, 2, dan 4. Langkah strategi yang ke 3 yaitu guru memberi petunjuk kepada siswa untuk memperhatikan gambar dan setiap kelompok mencatat hasil diskusi dari analisa gambar tersebut sesuai dengan langkah pembelajaran yang ke 6 yaitu siswa mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan mereka dengan anggota kelompok lain. Dan langkah setrategi yang ke empat guru memberikan kesempatan setiap kelompok membacakan hasill diskusinya sesuai dengan langkah pembelajaran yang ke 3 dan 6 yaitu Siswa membaca dengan cermat teks bacaan berjudul energy dan ekosistem, siswa mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan mereka dengan anggota kelompok lain. Penutup Berdasarkan hasil analisis yang peneliti lakukan pada buku guru tema 8, memelihara ekosistem di kelas V Sekolah Dasar strategi yang sesuai dengan buku guru tersebut yaitu strategi question student have dan strategi picture and picture. Peneliti juga menganalisis berdasarkan aspek perkembangan siswa pada usia sekolah dasar. Dimana aspek tersebut disesuaikan dengan strategi yang ada dibuku. Pada perpaduan dua strategi ini terdapat aspek kognitif dan sosial. Penulis juga menyarankan strategi pembelajaran yang sesuai digunakan dalam pembelajaran IPA subtema 3 adalah strategii Exampel Non Example hal itu dilakukan dengan memperhatikan indikator dan langkah-langkah pembelajaran yang terdapat pada buku tematik kelas V SD/MI. DAFTAR PUSTAKA Desmita, 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Rosdakarya Hardini, Isriani dan Dewi Puspitasari. 2012. Strategi Pembelajran Terpadu, Yogyakarta: Familia. Hisyam Zaini dkk, 2013. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: CTSD Huda, Miftahul. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-isu Metodis dan Paradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Ismail, Fajri. 2012. Evaluasi Pendidikan, Palembang : Rineka Cipta Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan, Jakarta: Kencana Majid, Abdul. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: Rosdakarya Offset Papalia, Diane E. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Peroses Pendidikan, Jakarta: Kencana Santrock, Jhon W. 2007. Perkembangan Anak, Jakarta :Erlangga Sukardi, Ismail. 2013. Model-model Pembelajaran Modern. Palembang: Tunas Gemilang Press Suyono dan Hariyanto, 2000. Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Suprijono, Agus . 2010. Cooperative Learning (Teori dan Aplika PAIKEM), Yogyakarta: Pustaka Pelajar Yusuf, Syamsu. 2007. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakar [1] Abdul Majid, Strategi Pembelajaran. (Bandung: Rosdakarya Offset, 2013) hlm. 3. [2]Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Peroses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2007), h.126-127 [3] Ismail Sukardi, Model-model Pembelajaran Modern. (Palembang: Tunas Gemilang Press, 2013),. Hlm. 29 [4] Miftahul Huda, Model-model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-isu Metodis dan Paradigmatis. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 3 [5] Isriani Hardini dan Dewi Puspitasari, Strategi Pembelajran Terpadu, (Yogyakarta: Familia, 2012), hlm.11 [6] Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), hlm. 20 [7] Ismail Sukardi, hlm. 47-49 [8] Agus Suprijono, Cooperative Learning (Teori dan Aplikasi PAIKEM), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 108 [9] Ibid., hlm. 234 [10] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 15 [11]Jhon W Santrock, Perkembangan Anak, (Jakarta :Erlangga, 2007), hlm 243-244. [12] Diane E. Papalia, Human Development (Psikologi Perkembangan), (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 323 [13] Fajri Ismail, Evaluasi Pendidikan, (Palembang : Rineka Cipta, 2012), hlm. 36-40 [14] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan., hlm. 28 [15] Desmita, Psikologi Perkembangan. (Bandung: PT. Rosdakarya. 2006), hlm. 36 [16] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan, hlm. 179-180 [17] Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 39 [18] Sue Bredekamp dan Carol Copple, Developmentally Appropiarte Practice in Early Childhood Program ( Washington, D.C: National Association For the Education of Young Children, 2002), hlm. 146-147