cover
Contact Name
Maruatal Sitompul
Contact Email
m.sitompoel@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi.oldi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
OLDI (Oseanologi dan Limnologi di Indonesia)
ISSN : 01259830     EISSN : 2477328X     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia is a scientific journal that publishes original research articles and reviews about all aspects of oceanography and limnology. Manuscripts that can be submitted to Oseanologi dan Limnologi di Indonesia is the result of research in marine and inland waters in Indonesia. Submissions are judged on their originality and intellectual contribution to the fields of oceanography and limnology
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 1 (2016)" : 9 Documents clear
Laju Dekomposisi Serasah Daun di Ekosistem Bakau Pulau Kelong, Kabupaten Bintan Dharmawan, I Wayan Eka; Zamani, Neviaty P.; Madduppa, Hawis H.
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/oldi.2016.v1i1.8

Abstract

Hutan bakau di bagian tenggara Pulau Kelong memiliki cadangan karbon yang banyak dalam tegakan dan sedimen yang mengindikasikan produktivitas primer kawasan yang tinggi. Dekomposisi serasah daun, sebagai bagian dari produktivitas kawasan, menghasilkan unsur hara esensial sederhana yang dimanfaatkan untuk menopang pertumbuhan bakau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui laju dekomposisi serasah daun di setiap zona penelitian, yaitu zona darat (Landward, L), tengah (Middle zone, M), dan dekat laut (Seaward, S) yang dibedakan berdasarkan kelimpahan jenis tumbuhan dan parameter in situ. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret–Mei 2015 di kawasan bakau Pulau Kelong, Kabupaten Bintan. Proses dekomposisi diamati pada enam interval waktu, yaitu 2, 4, 7, 14, 28, dan 42 hari dengan menggunakan kantong jaring yang berisi 10 g daun basah yang diletakkan di permukaan substrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa L merupakan zona dengan persentase dekomposisi tertinggi (56,34 ± 20,58%) dibandingkan dengan M dan S yang berturut-turut sebesar 51,59 ± 15,46% dan 51,09 ± 8,70%. Laju dekomposisi serasah paling tinggi di zona L yaitu 1,40 ± 0,82 g·m-2.hari-1 yang berbeda nyata dari zona M dan S, berturut-turut sebesar 0,83 ± 0,89 g·m-2.hari-1 dan 0,78 ± 0,70 g·m-2.hari-1.  Analisis koefisien laju dekomposisi (k) menunjukkan bahwa laju dekomposisi di dalam kawasan tergolong tinggi (k > 0,01). Laju dekomposisi memiliki korelasi dengan kelimpahan spesies bakau, nilai salinitas air, dan suhu tanah
BIODEGRADASI ANAEROBIK MAKROALGA Ulva sp. UNTUK MENGHASILKAN BIOGAS DENGAN METODE BATCH Krisye, Krisye; Kawaroe, Mujizat; Hasanudin, Udin
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandungan karbohidrat yang tinggi dan lignin yang rendah dari makroalga Ulva sp. merupakan keunggulannya sebagai substrat untuk memproduksi biogas. Biogas dapat dihasilkan melalui proses biodegradasi anaerobik menggunakan metode batch. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi biogas dan gas metana (CH4) yang dihasilkan Ulva sp. dalam sistem batch. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2013 sampai Juli 2014 di Laboratorium Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi Institut Pertanian Bogor, Laboratorium Pengujian Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB dan Laboratorium Pengelolaan Limbah Agroindustri Universitas Lampung. Penelitian ini diawali dengan analisis proksimat, kemudian pembuatan starter dari kotoran sapi, dilanjutkan dengan aklimatisasi dan proses biodegradasi anaerobik yang menggunakan metode batch. Hasil dianalisis menggunakan program statistik SPSS 17. Hasil analisis proksimat menunjukkan bahwa Ulva sp. memiliki kadar air 16,7%, kadar abu 14,9%, lemak 2,9%, karbohidrat 60,3%, protein 5,3%, lignin 4,6%, Total Organic Carbon (TOC) 26,1%, dan Nitrogen 1,3% serta rasio C/N 20,5. Setelah proses aklimatisasi, biogas yang dihasilkan dari 8,8 L biomassa Ulva sp. sebesar 70,9 L dengan rentang pH 6,3–7,1 sedangkan pada proses biodegradasi anaerobik metode batch dari 4 kg Ulva sp. dihasilkan biogas sebesar 153,9 L dengan kandungan metana 51,1 L. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa setiap kg Ulva sp. berpotensi menghasilkan biogas sebesar 38,5 L dengan kandungan metana 12,8 L. Hubungan antara COD dan volume gas metana yang terakumulasi yaitu -0,971.
LAJU PERTUMBUHAN IKAN KERAPU BEBEK Cromileptes altivelis YANG DIPELIHARA DALAM KERAMBA JARING APUNG Dody, Safar; La Rae, Dinawanti
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budi daya ikan Kerapu Bebek Cromileptes altivelis mempunyai peluang yang baik pada masa yang akan datang, meskipun masih mengalami kendala dalam pemeliharaannya. Salah satu parameter yang perlu diperhatikan adalah padat tebar yang berhubungan dengan luas wadah pemeliharaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah padat tebar yang sesuai untuk menghasilkan pertumbuhan optimum ikan Kerapu Bebek C. altivelis yang dipelihara dalam keramba jaring apung. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimen dengan 3 perlakuan padat tebar dan 3 ulangan. Keramba yang digunakan berukuran 1 x 1 x 1,5 m3 sebanyak 9 buah dengan ukuran mata jaring 0,5 inci. Penelitian dilakukan di perairan Banda Neira, Maluku, dengan kondisi perairan selama percobaan adalah salinitas berkisar 33,2–34,6‰, suhu perairan berkisar 25–31°C, pH berkisar 7–7.5, kecepatan arus berkisar 0,32–3.97cm/s, kejernihan air berkisar 14,29–20 m. Pakan yang diberikan adalah ikan rucah dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari sebanyak 10% dari berat total tubuh ikan. Hasil penelitian menunjukkan setelah 4 bulan dibudidayakan pertumbuhan mutlak yang terbaik ditunjukkan oleh perlakuan padat tebar 25 ekor, yaitu 18,22 g, sedangkan terendah ditunjukkan oleh perlakuan padat tebar 75 ekor, yaitu 13,25 g. Laju pertumbuhan spesifik pada perlakuan padat tebar 25 ekor mencapai 1,34%/hari, perlakuan padat tebar 50 ekor mencapai 1,18%/hari, dan perlakuan padat tebar 75 ekor mencapai 0,97%/hari.
REKAMAN POSISI MUKA LAUT PADA AKHIR MASA DEGLASIAL DI PERAIRAN KEPULAUAN MATASIRI, LAUT JAWA Setyawan, Wahyu Budi; Nuryana, Suherman Dwi
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada Masa Glasial, Paparan Sunda adalah suatu daratan yang kemudian secara bertahap digenangi oleh air laut pada masa deglasial. Makalah ini mengungkapkan posisi muka laut di Paparan Sunda pada masa akhir-deglasial. Bukti posisi muka laut diperoleh dari temuan endapan gambut di dalam empat core yang diambil dari dasar laut perairan Kepulauan Matasiri, Kalimantan Selatan dengan metode gravity core dalam survei yang dilaksanakan pada bulan Nopember 2010 dengan Kapal Penelitian Baruna Jaya VIII. Analisis posisi muka air laut dilakukan berdasarkan kedalaman muka laut sekarang dan kedalaman endapan gambut di dalam core. Hasil analisis posisi muka laut menunjukkan empat posisi muka laut, yaitu -27,0 m, -41,3 m, -53,6 m dan -58,6 m di bawah muka laut sekarang. Analisis umur berdasarkan kurva perubahan muka laut di Paparan Sunda menunjukkan umur secara berurutan sekitar 10, 11, 12 dan 12,8 ribu tahun. Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa rekaman jejak perubahan muka laut relatif pada masa akhir-deglasial juga ditemukan di Laut Jawa.
Table of contents and Editorial board OLDI, Redaksi
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DINAMIKA DAN EVOLUSI PANTAI PROBOLINGGO, JAWA TIMUR Suyarso, Suyarso
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dataran pesisir Probolinggo membentang dari Kecamatan Tongas di bagian barat hingga Kecamatan Kraksaan di bagian timur.Sebelah selatan merupakan areal persawahan yang subur, sedangkan sebelah utara merupakan kawasan pertambakan. Fenomena perubahan pantai Probolinggo sangat dipengaruhi oleh material yang dipasok dari Gunung Bromo. Penelitian yang dilakukan pada April–Mei 2012, Februari 2013, dan Agustus 2014 bertujuan untuk mengetahui dinamika dan evolusi pantai serta perubahan dan alih fungsi lahan pesisir Probolinggo. Analisis perubahan pantai di pesisir Probolinggo dari tahun 1973 hingga 2013 dilakukan menggunakan citra landsat multitemporal, pengukuran dan penggambaran profil pantai di daerah penelitian menggunakan alat ukur sifat datar shokiza dan alat perekam pasang surut SeaBird Electronic. Hasil analisis menunjukkan bahwa di pesisir bagian barat, proses akresi masih terus berlangsung, sedangkan di bagian timur, kecepatan akresi terus menurun dan bahkan saat ini di beberapa tempat sedang terjadi erosi pantai. Dataran akresi yang terbentuk oleh proses marin dimanfaatkan oleh penduduk sebagai kawasan pertambakan, sedangkan akresi yang terbentuk oleh proses fluvial dimanfaatkan sebagai areal persawahan.
PENETAPAN KEBUTUHAN HARIAN PAKAN IKAN RUCAH UNTUK PENGGEMUKAN KEPITING BAKAU Scylla paramamosain DI KERAMBA JARING DASAR Permadi, Sandi; Juwana, Sri
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggemukan kepiting Bakau merupakan bagian dari kegiatan budi daya kepiting yang banyak diminati dan dilakukan petambak karena durasi pemeliharaannya yang relatif pendek, yaitu 14–21 hari per siklus. Ikan rucah merupakan pakan alami kepiting Bakau yang mudah didapat dengan harga terjangkau. Belum diperoleh informasi ilmiah mengenai kebutuhan harian pakan ikan rucah untuk penggemukan kepiting Bakau. Informasi ilmiah mengenai jumlah pemberian pakan harian masih terbatas pada pembesaran kepiting. Oleh karena itu, kajian ilmiah mengenai kebutuhan harian pakan ikan rucah untuk penggemukan kepiting perlu dilakukan. Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu kabupaten penghasil kepiting Bakau dan berpotensi sebagai tempat pengembangan budi daya kepiting Bakau. Oleh karena itu, Probolinggo dipilih sebagai lokasi penelitian ini yang dilakukan pada bulan November–Desember 2014. Kepiting uji yang digunakan memiliki lebar karapas 8–13 cm dan bobot 115–500 g. Kepiting dipelihara dalam keramba jaring dasar (KJD) berukuran 5 x 5 m2 dengan kepadatan 16 kepiting/KJD dan rasio jenis kelamin 1:1. Penelitian ini terdiri dari 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Persentase pemberian pakan harian adalah 10, 15, 20, dan 25% dari berat tubuh kepiting. Parameter yang diamati selama pemeliharaan 13 hari yaitu pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup, dan persentase kepiting gemuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ransum pakan harian ikan rucah sebanyak 10% dan15% dari berat tubuh kepiting memberikan hasil panen terbaik untuk penggemukan kepiting Bakau. Tingkat kelangsungan hidup yang diperoleh yaitu 70% dari kepadatan awal 0,64 kepiting/m2, dengan pertambahan total berat tubuh sebesar 14% selama pemeliharaan.
EKSTRAKSI DAN FORMULASI SUSPENSI ORAL TERIPANG Holothuria scabra SEBAGAI SUMBER ANTIOKSIDAN Ardiansyah, Ardi
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teripang telah lama dijadikan sebagai bahan pangan dan obat bagi masyarakat Asia dan Timur Tengah. Indonesia termasuk salah satu pemasok Teripang dalam perdagangan utama di Asia. Di Indonesia, Teripang umumnya hanya dimanfaatkan dalam bentuk bahan mentah. Holothuria scabra merupakan salah satu spesies Teripang yang berpotensi untuk dieksplorasi sebagai sumber antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan Teripang H.scabra dalam bentuk ekstrak dan suspensi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Produk Alam Laut Pusat Penelitian Oseanografi LIPI dari April hingga Desember 2014. Teripang diekstraksi dengan pelarut metanol 96% atau etanol 96%, kemudian diuji aktivitas antioksidannya. Ekstrak Teripang yang memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi dibuat dalam bentuk suspensi untuk selanjutnya dievaluasi kestabilan (organoleptik, pH, mikroorganisme) dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol memiliki aktivitas antioksidan lebih tinggi daripada ekstrak metanol, tetapi masih lebih rendah daripada pembanding, yaitu asam askorbat. Berdasarkan penghitungan, ekstrak metanol dan etanol menunjukkan nilai IC50 sebesar 232,54 ppm dan 157,38 ppm, sedangkan nilai IC50 asam askorbat 30,29 ppm. Formula yang paling stabil (F1a) masih memiliki aktivitas antioksidan, yaitu sebesar 42,11%.
STATUS LIMNOLOGIS DANAU SIOMBAK, MEDAN, SUMATRA UTARA Muhtadi, Ahmad; Yunasfi, Yunasfi; Leidonald, Rusdi; Sandy, Sarah D.; Junaidy, Adil; Daulay, Achmad T.
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Danau Siombak terletak di pesisir Kota Medan, sehingga perairannya dipengaruhi oleh pasang surut. Danau ini berfungsi sebagai resapan air, pengendali banjir, area kegiatan penangkapan ikan dan biota perairan lain, serta tempat wisata. Berbagai kegiatan di danau ini menyebabkan perubahan kualitas lingkungan perairan danau. Untuk menjaga kelestarian danau tersebut, maka diperlukan upaya pengelolaan yang tepat. Pengelolaan danau seharusnya diawali dengan pemahaman yang baik tentang sifat dan ciri-ciri perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status limnologis Danau Siombak melalui analisis morfometri, aspek fisika, kimia, dan biologi perairan, serta status trofik perairan. Morfometri mencakup dimensi permukaan dan bawah permukaan. Parameter fisika meliputi suhu, Total Suspended Solid (TSS), kejernihan air, daya hantar listrik (DHL), dan salinitas. Parameter kimia meliputi pH, oksigen terlarut (DO), Biological Oxygen Demand (BOD5), Chemical Oxygen Demand (COD), nitrat, dan fosfat. Parameter biologi mencakup struktur komunitas nekton dan bentos. Pengukuran morfometri danau dilakukan pada bulan April 2014 pada saat pasang dan surut. Pengukuran kualitas air dan pengambilan data biologi dilakukan pada bulan Mei–Juli 2014 pada saat pasang dan surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Danau Siombak memiliki luas 41,44 ha dengan kedalaman maksimum 5 m saat pasang dan 4 m saat surut. Berdasarkan aspek fisika, kimia, dan biologi perairan, Danau Siombak tergolong perairan terbuka yang dipengaruhi oleh pasang surut, bersifat asin, dan berkadar oksigen tinggi, dengan waktu tinggal air danau (Rt) selama 15,65 jam dan debit (Q) sebesar 3,7 x 107 m3/jam saat pasang dan 3,0 x 107 m3/jam saat surut. Konsentrasi fosfat yang tinggi mengindikasikan perairan ini sudah tercemar. Namun, kualitas air Danau Siombak masih sesuai untuk kegiatan perikanan. Komunitas bentos dan nekton relatif tidak stabil. Komunitas bentos didominansi oleh Blue Mussel (Mytilus edulis) saat pasang (57%) dan Red-rimmed Melania (Melanoides tuberculata) saat surut (41,34%). Komunitas nekton didominasi oleh Blue Panchax (Aplocheilus panchax) baik pasang (74,07%) maupun surut (64,79%). Secara umum, perairan Danau Siombak tergolong eutrofik.

Page 1 of 1 | Total Record : 9