cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL TATA KELOLA SENI
ISSN : 24429589     EISSN : 26147009     DOI : -
Jurnal Tata Kelola Seni adalah jurnal yang dikelola oleh Program Studi Tata Kelola Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Jurnal ini memuat hasil penelitian dan tinjauan buku dalam bidang tata kelola, terkhusus di wilayah seni.
Arjuna Subject : -
Articles 113 Documents
Model Gaya Kepemimpinan dalam Kelompok Musik Kiai Kanjeng Muhammad Tahdianoor
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 2, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.166 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v2i1.1815

Abstract

Banyak faktor yang membuat Kiai Kanjeng memiliki banyak prestasi. Salah satu faktor pentingnya adalah gaya kepemimpinan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam memimpin Kiai Kanjeng. Karena itu peneliti tertarik untuk mengidentifikasi karakteristik gaya kepemimpinan dan merumuskan model gaya kepemimpinan Cak Nun dalam memimpin Kiai Kanjeng. Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah kualitatif. Hasil analisis data berdasarkan teori gaya kepemimpinan dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi dan mewancarai beberapa narasumber yang dianggap penting dalam penelitian ini. Berdasarkan analisa data dalam penelitian ini, karakteristik gaya kepemimpinan yang identik dengan Cak Nun secara keseluruhan cenderung memenuhi katagori gaya kepemimpinan transformasional. Gaya kepemimpinan Cak Nun yang berbeda-beda berimplikasi pada kesolidan anggota, kreatif, eksis dan mempunyai penggemar yang militan sehingga Kiai Kanjeng mampu bertahan sampai sekarang. Model gaya kepemimpinan Kiai Kanjeng yang dipimpin oleh Cak Nun yaitu, otokrasi, demokrasi, kendali bebas (laissez faire) dan partisipatif, tergantung pada kegiatan Kiai Kanjeng. Kiai Kanjeng from a standing start (1993) to the present (2016) already has been many achievements. It is the result of the leadership style by Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) led Kiai Kanjeng. Thus the researchers are interested in identifying the characteristics of leadership style and formulate a model of leadership style in leading Cak Nun Kiai Kanjeng. Bernard M. Bass suggests that transformational leadership is the leader to encourage, motivate and innovate the members to do something beyond their own ability to improve the life of the group. The method used is a qualitative researcher. The results of data analysis are based on the theory of leadership style with a case study approach. Further data collection is done by observation, documentation and interviewed several sources that are considered in this study. Based on data analysis in this study, the characteristics of leadership style that is synonymous with Cak Nun meet category leadership style autocracy, democracy, free rein (laissez faire), participative and transformational in accordance with the activity. Cak Nun's leadership style is different implications for the solidity member, creative, exist and has fans that are militants so Kiai Kanjeng is able to survive until now. Cak Nun implements smoking-control leadership style transformational in schedulingduration exercise, discipline personnel and development staff resources (managerial). Cak Nun applies autocrary-transformational leadership style in addressing the invitation and when determining the strat-stoping song and song capabilities in the development ao lead- singger and composition/arrangement. Cak Nun apply transformational leadership style, autocrary and democratic in prepariation for staging. Cak Nun implements free rein, democratic, transformational leadership style when staging evaluation. Overall, there is a leadership style that is the same in each process, the transformational leadership style.
PEMBERDAYAAN LIFE SKILLS BATIK SEKOLAH DASAR NEGERI (SDN) DI PANDAK KABUPATEN BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Suharjito Suharjito
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 1, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.043 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v1i2.1640

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model penyelenggaraan pemberdayaan seni batik di SDN di Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Jigudan, SDN Gunturan, SDN Ciren yang terletak di sekitar desa Wijirejo Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul. Subyek penelitian yakni pengelola sekolah, pendamping dan fasilitator dalam pemberdayaan life skills batik tersebut. Pengumpulan data dilakukan secara bertahap sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan peneliti. Teknik yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Tahapan analisis data dalam penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dimaksudkan dengan merangkum data, memilih hal-hal pokok, disusun secara sistematik. Penyajian data bertujuan untuk memudahkan peneliti memahami hasil penelitian yang telah didapatkan. Triangulasi sumber dilakukan untuk menjelaskan validitas data dengan berbagai narasumber dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Pelaksanaan program pemberdayaan life skills batik SDN di Kecamatan Pandak dilaksanakan dengan melalui beberapa tahapan yaitu : (1) Menyusun renstra pendidikan dan pelatihan life skills batik melalui pemberdayaan bagi sekolah yang menjadi obyek dan subyek pelatihan. (2) Menyusun : a) kurikulum batik untuk siswa Sekolah Dasar, b) standar kompetensi membatik, c) indikator ketercapaian kompetensi membatik dan mengajar batik untuk para guru, d) menyusun indikator ketercapaian kompetensi membatik bagi siswa Sekolah Dasar. (3) Menyediakan instruktur yang berpengalaman untuk mendukung kegiatan pemberdayaan. (4) Menyusun jadwal pelatihan, jadwal tugas widyaiswara/instruktur. (5) Melaksanakan pemberdayaan dan monitoring pada setiap pelatihan batik. (6) Menyusun format monitoring kegiatan pemberdayaan batik. (7) Melakukan evaluasi dan melaporkan hasil pemberdayaan batik yang telah dilaksanakan setiap 3 bulan kepada pihak Astra International, Tbk. (8) Menggunakan strategi pelatihan in house trainning.
Strategi Pengembangan Kawasan Wisata Pasar Terapung Berbasis Kearifan Lokal di Kota Banjarmasin Desy Sugianti
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 2, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3848.57 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v2i2.1820

Abstract

Banjarmasin dalam dunia kepariwisataan di Indonesia terkenal dengan kota seribu sungai. Sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki aliran sungai terbanyak membuat Banjarmasin juga dikenal sebagai kota dengan daya tarik pasar terapungnya. Di Kota Banjarmasin, pasar terapung yang dikenal luas oleh masyarakat dan sempat menjadi tema dari jargon salah satu televisi swasta di Indonesia adalah keberadaan Pasar Terapung Kuin. Seiring perkembangan zaman, kondisi Pasar Terapung Kuin saat ini mengalami kemunduran perkembangan. Banyak media baik online maupun surat kabar terbitan memberitakan tentang sepinya pembeli dan menurunnya jumlah pedagang yang berjualan di Pasar Terapung Kuin. Hal tersebut dikonfirmasi pula oleh beberapa pedagang yang tetap berjualan di Kuin. Melihat dari permasalahan tersebut kemudian pemerintah setempat melakukan tindakan guna menghidupkan kembali budaya sungai yang melekat erat sebagai image Kota Banjarmasin dengan membangun pasar terapung yang berada tepat berseberangan dengan titik 0 (nol) kilometer Kota Banjarmasin serta beberapa atraksi wisata lain di sekitar pasar terapung tersebut. Namun, sejak kehadiran Pasar Terapung Siring, jumlah kunjungan yang didata oleh pengelola menunjukkan adanya kesenjangan angka. Dimana Pasar Terapung Siring mampu mendatangkan tamu dengan angka mencapai sekitar 56.000-an (lima puluh enaman ribu), sementara kawasan Pasar Terapung Kuin hanya mampu menempati angka tertinggi dalam 1 tahun sebesar 3.000-an (tiga ribuan) pengunjung. Maka berdasarkan paparan tersebut dalam penelitian ini dilakukan pendekatan dengan metode penelitian triangulasi, menggunakan analisis kualitatif deskriptif dan analisis SWOT yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengelolaan kawasan Pasar Terapung Kuin dan Siring untuk kemudian memformulasi strategi pengembangan kawasan pasar terapung di Banjarmasin. Dalam temuan penelitian berdasarkan hasil analisis kualitatif yang dilakukan, ditemukan bahwa; sistem pengelolaan terhadap Pasar Terapung Kuin dan Siring memiliki perbedaan yaitu; infrastruktur yang dikembangkan lebih banyak dilakukan di Siring, peran serta masyarakat yang terlibat dalam mengelola kepariwisataan pasar terapung juga lebih terorganisir di Siring. Sementara untuk kawasan Kuin belum adanya organisasi atau asosiasi resmi yang dibentuk oleh warga sekitar guna menjalankan program pengelolaan dan pengembangan kawasan dalam usaha untuk menghidupkan kembali budaya sungai di Banjarmasin. Arahan strategi berdasarkan analisis SWOT adalah kawasan wisata pasar terapung di Banjarmasin idelanya memiliki strategi dalam hal penambahan produk, pasar dan fungsi-fungsi kawasan serta melakukan pemanfaatan kekuatan dan peluang yang dimiliki. Strategi pengembangan terhadap kawasan pasar terapung di Banjarmasin mampu dikembangkan dan dapat menjalankan strategi yang bersifat ofensif. Banjarmasin in the world of tourism in Indonesia known as the city of a thousand rivers. Banjarmasin is one of the areas in Indonesia that has the most river flow so that makes Banjarmasin also known as a city who has Floating Market. In the city of Banjarmasin, Floating Market (Kuin Floting market) widely known by the public after appeared in one of television in Indonesia as their theme of television slogan. Currently, Kuin floating market condition is on a decline in development. Many media such as online and newspaper published preach about the less of buyers and the declining number of traders who sell in Kuin Floating Market. It is also confirmed by some traders who keep selling in Kuin. Based on that case then the local government taken the action to revive the culture of the embedded river as the image of Banjarmasin City by builded a floating market that is near to the center of the city and became a part of tourist attractions in Banjarmasin. However the number of visitors that recorded by the manager shown a gap between Kuin and Siring. Where Siring floating market can bring guests with numbers reaching 56.000 visitors but Kuin floating market area is only able to occupy the highest lift in 1 year of 3.000 visitors. So based on that case, this research approached with trianggulation research method, using descriptive qualitative analysis and SWOT analysis which aims to identify the management of Kuin and Siring floating market area and then make a formulation of the development strategy of Floating Market area in Banjarmasin. This research found that; the management system of Kuin and Siring floating market has the difference action; Many Infrastructure developed has done in Siring, the participation of communities involved in managing tourism of the floating market and makes Siring also more organized. However, Kuin area hasn’t official organization or association formed by local people to run the program of management and development of the area in an effort to revive the river culture in Banjarmasin. Strategy directives based on SWOT analysis are; Floating market tourism area in Banjarmasin ideally has a strategy in terms of addition of products, markets and functions of the region by using their strengths and opportunities. Development strategy for floating market area in Banjarmasin could be able to develop and run the offensive strategy.
Strategi Pengelolaan Pelatihan pada Kelompok Teater (Studi Kasus Pengajian Tubuh Tony Broer) Teuku Zulfajri
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 3, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.311 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v3i2.2636

Abstract

Latihan olah tubuh merupakan kewajiban bagi setiap aktor untuk mewujudkan tubuh yang luwes dan sigap di saat pertunjukan dalam kelompok teater. Hal ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan karena akan memberikan suatu nilai positif terhadap muatan materi yang dipentaskan dalam teater. Pengajian Tubuh Tony Broer merupakan kelompok latihan teater yang berbasis di Yogyakarta yang juga mengedepankan olah tubuh sebagai rutinitas latihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi pengelolaan kegiatan pelatihan pada kelompok Pengajian Tubuh Tony Broer. Pentingnya penelitian ini adalah untuk memetakan proses keberlangsungan sebuah kelompok seni pertunjukan dan menggali sejauhmana kelompok ini memaknai olah tubuh dan manfaatnya, tidak hanya dalam pentas teater tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil analisis deskriptif yang dilakukan menunjukkan bahwa pengelolaan latihan di bawah Pengajian Tubuh yang dilakukan oleh Tony Broer mengedepankan pada latihan tubuh yang disiplin untuk menghasilkan kekuatan dan ketahanan tubuh aktor. Body exercise is an obligation for every actor to realize a flexible body and sprightly when the performance in the theater group. This is an inseparable part because it will give a positive value to the material content staged in the theater. Tony Broer's Body Study is a group of theater exercises based in Yogyakarta that also emphasizes exercise as an exercise routine. The purpose of this study is to find out how the strategy of management training activities in Tony Broer's Body Study Group. The importance of this research is to map the sustainability process of a performing arts group and explore the extent to which this group understands the exercise and its benefits not only in theater performances but also in everyday life. The research method used is qualitative research method with descriptive case study. Data collection techniques used through observation, interviews, documentation studies, and literature study. The result of descriptive analysis showed that the management of the exercises under Body Studies performed by Tony Broer prioritizes disciplined body exercises to produce the strength and endurance of the actor's body.
Pengambilan Keputusan dalam Organisasi Seni Berbasis Universitas: Studi Kasus Ansambel Gitar “Inilah” UNY Johanes Kristianto
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 3, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.496 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v3i1.2601

Abstract

Abstrak Penulisan ini bertujuan mengulas lebih dalam bagaimana seorang pemimpin organisasi seni berbasis universitas dalam mengambil keputusan. Metode yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dalam penulisan ini menggunakan kajian lapangan. Kajian yang dimaksud berupa observasi dan wawancara terstruktur. Tidak ada kebijakan yang tertulis dalamInilah, dalam setiap pengambilan keputusan ketua organisasi memilih beberapa subjek untuk melakukan jajak pendapat yang meliputi pembina, pelatih, kakak tingkat, dan adik tingkat. Untuk menciptakan suasana interpersonal yang baik dipilih juga dengan cara ngopi dan tamasya.Kata kunci: pengambilan keputusan, kebijakan prosedural, ansambel gitar  Abstract This research aims to examine more deeply how a leader of university-based art organizations in making decisions. The method used in this study is qualitative descriptive. Data collection by field study, such as observation and structured interview. There is no policy used in Inilah, decision resulted from an organization that selects multiple subjects to discuss which includes the coach, coach, seniors, and juniors. To create a good interpersonal atmosphere is also selected by way of “ngopi” and sightseeing. Keywords: making decision, procedural fairness, guitar ansamble
Strategi Pengembangan Komunitas “Dazzle Voices” terhadap Minat Penonton dalam Konser Opera Nooraida Heriyanti
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 3, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.57 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v3i2.2607

Abstract

Abstrak Seni pertunjukan sangat dekat dengan kehidupan manusia. Beragam jenis seni pertunjukan bermunculan di Indonesia khususnya di Yogyakarta, salah satunya Konser Opera. Namun sayangnya, dalam masyarakat Indonesia masih banyak yang belum mengetahui dan mau menikmati jenis pertunjukan ini. Pada saat musik klasik khususnya Konser Opera menghadapi tantangan baru dalam usahanya menarik dan mempertahankan penonton, para pelaksana dalam hal ini komunitas, tentunya sangat menginginkan informasi apa yang membuat berhasil dan apa yang tidak dalam menarik minat penonton. Komunitas mencoba mencari cara baru untuk mengembangkan dan meningkatkan daya tarik penonton. Selama ini Musik Opera dipandang sebagai ‘Musik kelas atas’ dan hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Dazzle Voices kembali memperkenalkan musik klasik, khususnya Musik Opera kepada masyarakat umum, khususnya di Yogyakarta sebagai Kota Budaya dan Kota Pelajar. Sebagai komunitas nonprofit, Dazzle Voices merasa belum memiliki strategi yang objektif untuk menghadapi persaingan dalam lingkungan yang dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alternatif strategi yang dapat dipilih secara objektif menggunakan EFE, IFE, dan SWOT Matrix oleh Komunitas Dazzle Voices. Strategi ini dapat digunakan untuk membantu mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan minat penonton terhadap konser opera.Kata kunci: konser opera, strategi management, IFE, EFE, SWOT matriks  Abstract Performing art is very close to human life. Various types of performing arts popping up in Indonesia especially in Yogyakarta, one matter Concert Opera. However, in Indonesian society there are still many who do not know and want to enjoy this kind of show. While Classical Music, especially Opera Concerts aired on an exciting and sustained journey of viewers, the executors in this community certainly desperately wanted what information was made to work. The community is trying to find new ways to develop and increase the attractiveness of the audience. All this time Opera Music appeared as 'Top music' and only enjoyed by certain circles only. Dazzle Voices rewake music classical music special Opera to the general public, especially Yogyakarta as a cultural city and student city. With the non provit community, Dazzle Voices feels that they do not yet have an objective strategy for dealing with competition in a dynamic environment. This study aims to determine alternative strategies that can be selected objectively using EFE, IFE, and SWOT Matrix by Dazzle Voices community. This strategy can be used to help identify things that relate to audience interest in opera concerts. Keywords: opera concert, management strategy, IFE, EFE, SWOT matrix
RETRACTED ARTICLE: Strategi Pengembangan Manajemen Jember Fashion Carnaval Violeta Wosi Permata
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 3, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.9 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v3i1.2602

Abstract

AbstrakJember Fashion Carnaval adalah sebuah event tahunan dalam ajang seni karnaval tata busana, pertama kali terselenggara pada tahun 2001. JFC telah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan telah berusia lebih dari enam belas tahun. Dalam perjalanan yang sangat panjang tersebut bukan berarti JFC tidak memiliki kendala dalam penyelenggaraannya. JFC sempat akan diberhentikan oleh Pemerintah Kabupaten Jember pada tahun 2009, sebab bukan termasuk dalam daftar kegiatan Pemerintah Kabupaten Jember. Terlepas dari permasalahan yang dialami oleh JFC, pada kenyataannya perjalanan JFC terbukti mampu menembus pasar internasional dan dapat terselenggara setiap tahun dengan inovasi-inovasi barunya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan memformulasikan strategi pengelolaan Jember Fashion Carnaval. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, dengan menggunakan pendekatan analisis SWOT. Hasil dari penelitian ini adalah posisi dari kuadran analisis SWOT, posisi yang didapatkan berada pada posisi kuadran I yaitu ekspansion (mendukung strategi ofensif), sehingga diperlukan pemilihan strategi menggunakan kekuatan dan memanfaatkan peluang. Strategi yang sebaiknya diterapkan adalah membentuk kerja sama dalam bentuk kerja sama budaya dengan negara lain, pengembangan dan peningkatan kualitas manajemen organisasi, dan mengimplementasi standarisasi karnaval bertaraf internasional, seperti adanya sistem teknologi untuk menunjang tradisi event JFC.Kata kunci: JFC, pengelolaan, analisis SWOT, manajemen strategi  Abstract Jember Fashion Carnaval is the Indonesian biggest annual fashion carnaval in Kabupaten Jember, East Java. Since 2001, the first event, JFC has experienced a long journey for over sixteen years, until now. Regardless to that very long journey, it does not mean JFC did not have obstacles in the process of the event. JFC was almost dismissed by the Government of Jember in 2009 because it was not listed in the government program of Kabupaten Jember. Regardless to the problems experienced by JFC, in fact, JFC had prove that they are able to penetrate for international market and comes every year with new innovations. The purpose of this study is to identify the management strategies adopted by Jember Fashion Carnaval as well as to analyze and formulate the management strategy of Jember Fashion Carnaval nowadays. The research method is descriptive qualitative method, this method is used for analyze and understand the perception of Jember Fashion Carnaval stakeholders, to get the internal and external variables formula of Jember Fashion Carnaval. The research approach is SWOT analysis, this approach is used to analyze internal and external variables in the management of Jember Fashion Carnaval, so that formulation of development strategy can be formulated. The result of this research is SWOT quadrant analysis, the position obtained is in the first position of quadrant I that is expansion (supporting onfensive strategy), so it is necessary to choose the strategy by using strength and utilize the opportunity. Strategies that should be implemented are establish cultural cooperation with other countries, developing and improving the quality of organizational management, and implementating the standardization of international carnival, such as the technology system to support the tradition of JFC event. Keywords: JFC, management, SWOT analysis, strategy management
Eksistensi Sanggar Singlon Kabupaten Kulon Progo Lusia Hestiningtyas
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 3, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.308 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v3i2.2608

Abstract

Abstrak Kebudayaan merupakan unsur penting sebuah bangsa. Kebudayaan merupakan jati diri bangsa dan menjadi kekayaan bangsa. Keberlangsungan kebudayaan daerah perlu dijaga keutuhan dan pelestariannya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yakni memberikan wadah bagi masyarakat untuk tetap memeliharanya dan yang mampu menjadi fasilitas pelestarian budaya yakni sebuah sanggar. Upaya menjaga sanggar yakni dengan cara pemasaran yang tepat. Salah satu Sanggar di Kulon Progo, yakni Sanggar Singlon memiliki strategi pemasaran yang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana strategi pemasaran yang diterapkan oleh Sanggar Singlon untuk menjaga eksistensi dan kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan sanggar tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa strategi pemasaran Sanggar Singlon Kulon Progo didasarkan pada dua aspek yakni figur dan komitmen penyajian karya terbaik. Bapak Joko Mursito selaku Ketua Sanggar merupakan figure yang tidak berorientasi pada keuntungan materi, namun nama baik Sanggar Singlon dalam menampilkan karya-karya terbaiknya. Sanggar singlon berkomitmen untuk selalu tampil terbaik dalam setiap pertunjukan karyanya. Sanggar Singlon memiliki visi untuk menciptakan suatu karya seni yang mampu menjadi ciri khas kesenian Kulon Progo. Salah satu karya mereka yakni Musik Krumpyung. Strategi pemasaran Musik Krumpyung dilakukan dengan menjadikan Musik Krumpyung sebagai materi pengetahuan umum atau muatan lokal di sekolah-sekolah Kulon Progo. Kata kunci: sanggar, strategi pemasaran, figur, dan komitmen sanggar  Abstract Culture is an important element of a nation. Culture is a national identity and a wealth of the nation. The sustainability of the local culture needs to be maintained for its wholeness and preservation. One of the efforts that can be done is to provide a place for the community to maintain it and that can be a cultural preservation facility that is a studio. Efforts to maintain the studio that is with the right way of marketing. One of the Sanggar in Kulon Progo, Sanggar Singlon has an interesting marketing strategy. This study aims to analyze how marketing strategies implemented by Sanggar Singlon to maintain the existence and public confidence in the existence of the Studio. The method used in this research is qualitative method. Data collection was done by observation and interview. The results of this study explain that the marketing strategy Sanggar Singon Kulon Progo is based on two aspects namely the figure and commitment of the presentation of the best work. Mr. Joko Mursito as chairman of Sanggar is a figure that is not oriented to material gain, but the name of Sanggar Singlon in performing his best works. Singlet Singles is committed to always perform best in every show of his work. Sanggar Singlon has a vision to create a work of art that can be characteristic of art Kulon Progo. One of their works is Krumpyung Music. Krumpyung Music marketing strategy is done by making Krumpyung Music as a matter of general knowledge or local content in Kulon Progo Schools. Keywords: studio, marketing strategies, figures, and studio commitments
Perilaku Etis Manajemen Tembi Rumah Budaya pada Pegawai yang Melakukan Kesalahan Arief Yulianto
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 3, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.329 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v3i1.2603

Abstract

AbstrakDengan melihat sisi pribadi serta latar belakang para pegawai maka dapat dilihat bagaimana mereka menjaga etika atau sikap sopan santun. Dalam hal ini, etika yang alfa dapat dilakukan oleh siapa saja, terlebih oleh anggota yang berpredikat berprestasi baik. Ditelisik dari segi psikologi, banyak teori yang memperkuat hal ini. Dari teori tersebut perusahaan atau organisasi dapat menilai anggotanya, apakah baik atau buruk dari segi etika mereka dalam bekerja. Tembi Rumah Budaya, Bantul, Yogyakarta merupakan salah satu contoh yang diambil penulis untuk menelisik proyek permasalahan tersebut. Dengan mewawancarai Manager Human Resources Department bersangkutan maka, dapat mengetahui sistem manajemen yang sudah ada di perusahaan tersebut, dengan demikian dapat dilihat siapa saja karyawan yang berprestasi dan diberi penilaian baik serta buruk di dalam mereka beretika.Kata kunci: psikologi, manajemen, sikap etis, etika, perilaku baik atau buruk  Abstract By looking at their personal side and background they can be seen how they maintain ethics or courtesy. In this case, an alpha ethic can be done by anyone, especially by a predicated member of achievement. Psychologically examined many theories that reinforce this. From that theory companies or organizations can assess members whether good or bad in terms of their ethics in work. Tembi Rumah Budaya, Bantul, Yogyakarta is one of the examples taken by the author to release the project of the problem. By interviewing the Human Resources Manager of the Department concerned, it can know the existing management system in the company, so it can be seen who the employees are achievers and given good judgment and bad in them ethical. Keywords: psychology, management, ethical attitude, ethics, bad and good behavior
Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Tuk Umbul Warungboto Berbasis Masyarakat Desy Sugianti
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 3, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.605 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v3i2.2610

Abstract

Abstrak Yogyakarta merupakan salah satu daerah di Indonesia yang mampu menghadirkan banyak jenis destinasi dengan kebudayaan sebagai komponen utamanya. Salah satu yang menjadi potensi destinasi adalah keberadaan kawasan cagar budaya yang dimiliki oleh Kota Yogyakarta yaitu kawasan Pesanggrahan Warungboto atau biasa disebut juga Pesanggrahan Rejowinangun. Pesanggrahan ini merupakan pesanggrahan milik Keraton Yogyakarta yang dulunya digunakan oleh sultan Hamengkubawana ke II. Situs ini memiliki Tuk Umbul di dalamnya. Tuk umbul merupakan sebuah kawasan cagar budaya yang pengembangannya telah dilakukan secara berkelanjutan. Hingga saat ini kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan cagar budaya di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan DIY. Perkembangan pelestarian cagar budaya Tuk Umbul dalam hal kepengurusan, saat ini sedang serius dialihkan berbasis masyarakat. Saat ini masyarakat sekitar telah membentuk sebuah komunitas pemerhati kawasan situs Tuk Umbul. Dalam penelitian ini dibahas mengenai upaya komunitas pemerhati dalam hal pelestarian kawasan cagar budaya Tuk Umbul. Temuan di lapangan dan dari hasil wawancara serta dokumentasi terhadap subjek dan objek penelitian yaitu situs Tuk Umbul menunjukkan bahwa dalam hal pembentukan kepengurusan kawasan situs Tuk Umbul masih dalam proses peningkatan SDM untuk mengisi struktur kepengurusan yang nantinya akan dibentuk legalitas untuk dapat sepenuhnya mampu menjalankan visi dan misi yang diagendakan oleh komunitas terhadap kawasan situs cagar budaya Tuk Umbul.Kata kunci: pelestarian kawasan, cagar budaya, berbasis masyarakat, tuk umbul warungboto  Abstract Yogyakarta is one of the regions in Indonesia that is able to present many types of destinations with culture as its main component. One of the potential destinations is the existence of cultural heritage areas of Yogyakarta, namely the Warungboto Pesanggrahan area or commonly called the Pesanggrahan Rejowinangun. This guesthouse is a pesanggrahan owned by the Yogyakarta Palace which was used by the Second Sultan Hamengkubawana. This site has Tuk Umbul in it. Tuk umbul is a cultural heritage area whose development has been carried out sustainably. Until now the area has been designated as one of the cultural heritage areas under the management of the DIY Cultural Service. The development of the preservation of Tuk Umbul cultural heritage in terms of management, is currently being seriously transferred by the community. Currently the surrounding community has formed a community that observes the Tuk Umbul site area. In this study discussed the efforts of the community observers in terms of preserving the cultural heritage area of Tuk Umbul. The findings in the field and from the results of interviews and documentation on the subject and object of the research, namely the Tuk Umbul site indicate that in terms of establishing the Tuk Umbul site management board is still in the process of increasing human resources to fill the management structure, which will be formed to be able to fully implement the vision and mission which was scheduled by the community towards the Tuk Umbul cultural heritage site area. Keywords: preservation of the area, cultural heritage, community based, for pennant warungboto

Page 3 of 12 | Total Record : 113