cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 143 Documents
Pengaruh Seni Ilustrasi dalam Meningkatkan Minat Baca (Studi Desain Novel Karya Tere Liye) Inas Hana Aisyah; Dian Rinjani
INVENSI Vol 8, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v8i1.7184

Abstract

Buku adalah jendela ilmu, namun rendahnya minat membaca di Indonesia masih menjadi masalah tersendiri. Jika dibiarkan, ketertarikan mencari ilmu pada generasi muda dapat menghilang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh seni ilustrasi dalam meningkatkan ketertarikan membaca buku. Metode penelitian yang dilakukan dengan cara deskriptif-kualitatif yaitu dengan pendekatan kajian pustaka (library research) dan survei. Sampel penelitian adalah 100 responden dengan rentang usia 15-24 tahun sebesar 78% dan usia 25-30 tahun sebesar 22%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ilustrasi pada sampul buku memiliki peran penting dalam meningkatkan ketertarikan membaca. Sekitar 75% responden menyatakan lebih menyukai sampul buku dengan ilustrasi menarik, warna yang lembut, tipografi yang cocok dengan ilustrasi, dan kesan yang simpel ketika melihat sebuah buku. Oleh karena itu, langkah strategi yang dapat dilakukan dalam menarik minat baca generasi muda adalah dengan menyelipkan pengetahuan sains atau sejarah yang valid pada buku yang sedang digemari generasi muda, salah satunya ialah novel. Peneliti percaya bahwa sejatinya kebiasaan membaca buku menimbulkan efek candu atau ketertarikan untuk terus mengetahui informasi yang lain. Jika telah menyukai kebiasaan membaca, maka secara perlahan seorang akan terus mencari pengetahuan baru. The Influence of Illustrated Art in Increasing Interest in Reading (Study of Novel Design by Tere Liye)‎ ABSTRACT Books are a window of knowledge, but the low interest in reading in Indonesia is still a problem. If left unchecked, interest in seeking knowledge in the younger generation can be lost. This study was conducted to determine the effect of illustration art in increasing interest in reading books. The research method is descriptive-qualitative, using a literature study and survey approach. The research sample was 100 respondents with an age range of 15-24 years, 78% and ages 25-30 years, 22%. The results showed that illustrations on book covers have an important role in increasing reading interest. About 75% of respondents stated that they prefer book covers with attractive illustrations, soft colours, typography that matches the illustrations, and a simple impression when looking at them. book. Therefore, a strategic step to attract the younger generation's reading interest is to include valid scientific or historical knowledge in books favoured by the younger generation, one of which is novels. Researchers believe that "reading books" creates an addictive effect or an interest in continuing to know other information. If you already like the habit of reading, slowly, people will continue seeking new knowledge.
Perempuan Migran Buruh Gendong Yogyakarta sebagai Teks Penciptaan Video Tari Valentina Ambarwati
INVENSI Vol 8, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v8i1.7201

Abstract

Ketertarikan penulis saat memperhatikan seorang perempuan pekerja buruh gendong menjadi pemantik dalam proses penciptaan karya video tari. Pengalaman tersebut merupakan aspek yang perlu diperhatikan dalam proses eksplorasi dan improvisasi. Tujuan penelitian ini ialah memberikan pemahaman baru berupa bentuk koreografi yang berkaitan dengan peran perempuan migran buruh gendong Yogyakarta sebagai teks penciptaan karya video tari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam bidang seni (artistic research) termasuk pada klarifikasi Practice Led Research yang terbagi menjadi tiga langkah kerja yaitu wawancara, dokumentasi, dan observasi. Sedangkan metode penciptaan yang digunakan ialah dengan pendekatan antropologi visual. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, sebagian dari pekerja perempuan buruh gendong Pasar Beringharjo Yogyakarta berasal dari berbagai wilayah di luar daerah Yogyakarta. Kehadiran tubuh buruh gendong secara langsung menjadi keharusan dalam menjalankan aktivitas di pasar. Maka hasil pengamatan di atas dapat mendasari terciptanya karya video tari dan karya ini memadukan medium seni yaitu koreografi, videografi, dan musik. Dengan begitu karya ini mengekspresikan aktivitas kebertubuhan perempuan buruh gendong di pasar Beringharjo Yogyakarta. Women Migrant Workers Carry Yogyakarta as Text for Creating Dance Videos Abstract The author's interest in watching a woman carrying a labourer triggered the process of creating dance videos. This experience is an aspect that needs to be considered in the exploration and improvisation process. This study aims to provide a new understanding of choreography related to the role of women migrant workers carrying Yogyakarta as a text for creating dance video works. This study uses qualitative methods in the art (artistic research), including the clarification of Practice Led Research, divided into three work steps: interviews, documentation, and observation. While the method of creation used is a visual anthropological approach. Based on the observations that have been made, some of the female workers carrying the Beringharjo market in Yogyakarta come from various areas outside the Yogyakarta area. The presence of carrying workers directly becomes necessary in carrying out market activities. So the results of the above observations can underlie the creation of dance videos, and this work combines art mediums, namely choreography, videography, and music. This work expresses the bodily activities of women carrying labourers in the Beringharjo market, Yogyakarta.
Mencapai Kebahagiaan dari Penyakit Keloid sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis Bima Rekso Wibowo
INVENSI Vol 8, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v8i1.7830

Abstract

Penciptaan ini dilatarbelakangi pengalaman penulis saat mengalami penyakit keloid selama proses perjalanan hidup, sehingga mengubah perilaku penulis terhadap penampilan, lingkungan, aktivitas sehari-hari, dan sikap terhadap teman. Upaya yang dilakukan untuk sembuh sudah dilakukan tetapi belum menemukan hasil yang diharapkan, sehingga menganggap bahwa diri penulis belum bahagia. Penciptaan ini bisa bertujuan menjadi sebuah pembelajaran dan motivasi untuk orang lain agar tetap bersyukur dengan apa yang telah ditetapkan. Metode yang digunakan pada penciptaan ini yaitu practice by research yakni pengalaman diri penulis dan menggunakan literatur yang membawa pada metode David Campbell untuk mematangkan konsep berkarya. Proses kreatif menurut David Campbell ada lima tahapan yaitu: Persiapan, Konsentrasi, Inkubasi, Iluminasi, dan Verifikasi/Produksi. Selanjutnya, penulis melakukan perwujudan karya dengan membuat sketsa-sketsa, dilanjutkan penyelesaian karya yang berjudul “Mencapai kebahagiaan dengan cara bahagia”. Penulis memetaforakan selotip sebagai bahan dalam karya karena memiliki sifat perekat di mana sifat tersebut sama seperti sifat keloid yang melekat pada kulit tubuh. Kesimpulan yang didapatkan yakni bahwa seiring berjalannya waktu penulis bisa terbiasa dengan keloid. Adanya dukungan orang-orang terdekat dan fenomena-fenomena yang terjadi menimbulkan sebuah pemikiran bahwa tidak ada satu pun manusia yang tidak memiliki kekurangan dan permasalahan dalam hidup, hanya bagaimana kita menerima keadaan terhadap apa yang ditetapkan dengan bersyukur sehingga kebahagiaan dapat dicapai. Achieving Happiness from Keloid as The Main Idea for Creation of Paintings Abstract This creation is motivated by the author's experience of experiencing keloids during his life, thus changing the author's behavior towards appearance, environment, daily activities, and attitudes towards friends. Efforts have been made to recover but haven’t found the expected results, so that the writer assumes that he isn’t happy. The aim of this creation to be a lesson and motivation for others to remain grateful for what has been set. The method that used in this creation is practice by research, that’s the author's own experience and using literature that leads to David Campbell's method to finalize the concept of work. According to David Campbell, the creative process has 5 (five) stages: Preparation, Concentration, Incubation, Illumination, and Verification/Production. Furthermore, the author makes the embodiment of the work by making sketches and then proceeds to the completion of the work by tittle "Achieving Happiness in A Happy Way". The author makes a metaphor from masking tape as a material in the work because it has adhesive properties where the properties are the same as the characteristic of keloids attached to the skin of the body. The conclusion from the process of creating this artwork is as time goes by the author can get used to keloids. Support from closest people and the phenomena that occur give rise to a thought that there’s not a single human being who doesn’t have shortcomings and problems in their life, just how do we accept the situation to what’s set with gratitude so that happiness can be achieved.
Integrasi Sosial dalam Kesenian Gambang Semarang sebagai Representasi Kritik terhadap Segregasi Putra Prayoga, Nicodemus Raka Manggala
INVENSI Vol 9, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i1.8766

Abstract

Kota Semarang di era kolonial Belanda merupakan salah satu wilayah strategis dan menguntungkan. Dominasi pihak kolonial sebagai bangsa kelas pertama lambat laun menimbulkan gesekan berwujud bentuk-bentuk resistensi dari kelompok masyarakat kelas bawah seperti pemberontakan bahkan perang. Sejarah kelam ini semakin diperburuk dengan kebijakan segregasi sosial guna mempermudah pengawasan pemerintah kolonial. Bayang-bayang konsep segregasi pada masyarakat Semarang semakin diamini dengan konflik-konflik berbau politik, ras, dan agama di kemudian hari. Di lain pihak pertumbuhan kesenian gambang Semarang membawa semangat yang berlawanan dengan citra kota yang tersekat dalam kehidupan multikulturnya. Fokus penelitian ini adalah menemukan titik di mana perkembangan kesenian gambang Semarang menjadi kritik atas citra Kota Semarang yang masih kental dengan segregasi sosial, dan menghubungkannya dengan realitas perkembangan seni gambang Semarang hari ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mengetahui sejarah perkembangan Kota Semarang dan gambang Semarang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terwujudnya integrasi sosial yang dihasilkan dari kesadaran kolektif antaretnis menjadi representasi pudarnya segregasi identitas kultur yang dibawa dari masing-masing kelompok etnik yang terlibat dalam kerja kolaboratif kesenian gambang Semarang. Dengan kata lain, pertumbuhan kesenian gambang Semarang menjadi kritik secara representatif atas keberadaan konsep segregasi etnis masyarakat Semarang.Social Integration in Gambang Semarang Art as a Representation of Criticism of Segregation ABSTRACT During the Dutch colonial era, Semarang City was one of the strategic and profitable areas. The domination of the colonial party as a first-class group gradually caused friction in the form of resistance from lower-class groups, such as rebellion and war. This dark history was worsened by social segregation policies to facilitate the supervision of the colonial government. The shadow of the concept of segregation in Semarang is increasingly followed by political, racial, and religious conflicts in the future. On the other hand, the development of gambang Semarang arts brings a contrasting spirit to the image of this city with its multicultural life. This study aims to identify the point where the development of gambang Semarang art becomes a criticism of the image of Semarang City which still upholds social segregation and to relate it to the current development of the art. This study used a qualitative method with a case study design to find out the history of the development of Semarang City and gambang Semarang. The results of this study showed that the realization of social integration resulting from inter-ethnic collective awareness represented the fading of segregation of cultural identities of each ethnic group involved in the collaborative work of gambang Semarang arts. In other words, the development of gambang Semarang art has become a representative criticism of the existence of the concept of ethnic segregation in society in Semarang.
Studi Kasus Multikultural Visual Maskulinitas Model Iklan Baliho Mie Sedaap Cup Korean Hot Spicy Andies Maftu Khanan
INVENSI Vol 8, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v8i2.11265

Abstract

Tren K-Pop yang masuk ke Indonesia sejak 2019 membuat periklanan, khususnya sebuah brand menjadi terpengaruh. Penggunaan artis dari Korea untuk menjadi bintang iklan telah muncul di merk makanan Indonesia dan brand itu adalah Mie Sedaap. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui fenomena multikultur iklan dalam bentuk baliho dengan merk Mie Sedaap edisi Korean Hot Spicy. Metode pada penelitian ini adalah metode kualitatif yang berdasarkan observasi lapangan, membuat catatan, dan mendeskripsikan. Hasil penelitian menemukan bahwa ditemukannya fenomena berupa budaya K-Pop yang memengaruhi brand lokal Indonesia, kemudian gaya berpakaian dari budaya lokal berubah menjadi modern dengan digunakannya pakaian berupa kemeja pada model K-Pop. Multicultural Case Study of Advertising Masculinity Models on Billboards Sedaap Noodles Cup Korean Hot Spicy ABSTRACT K-Pop trend that has entered Indonesia since 2019 has affected advertisements, especially a brand, become affected. The use of artist from Korea to become commercials, has appeared on Indonesian food brand, and that brand is Sedaap Noodle. The purpose of this observation is to know the phenomenon multi culture in the advertisement in the form of billboards with the Korean edition of the Korean Chicken Hot Spicy Sedaap Noodle brand. The method used in this research method is qualitative method. This method is based on field observations, taking notes, and describing. The result of the study found that influenced local Indonesian brands, the the style of clothing from local culture changed to modern with the use of clothes in the form of shirts on K-Pop models. 
Ornamen Musik Barok dalam Perkembangan Lagu Seriosa Indonesia Simorangkir, Yusuf
INVENSI Vol 9, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i1.8227

Abstract

Musik Barok merupakan gaya musik klasik Barat dari tahun 1600-1750 dan di era Barok, musik vokal memainkan peran dominan, sehingga musik instrumen hadir setelah berjalannya musik vokal. Pada zaman Barok, ornamen vokal muncul karena adanya perkembangan pesat dari zaman Renaisans yang pada saat itu orang menyanyi Gregorian tanpa vibrasi sama sekali. Budaya ini dibawa oleh para biarawan yang menyanyi di gereja dan istana dengan gaya yang sangat kaku. Ornamen-ornamen tersebut semakin menambah interpretasi seseorang di dalam bernyanyi. Tujuan penelitian ini untuk melihat seberapa besar pengaruh ornamen musik Barok dalam perkembangan lagu Seriosa Indonesia. Metode penelitian yang dipakai adalah heuristik, hermeneutika, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa ornamen yang terdapat dan dibawakan dalam repertoar Seriosa Indonesia yaitu: Trill, Mordent, Turn, Acciaccatura, Appoggiatura, dan Glissando. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ornamen musik Barok banyak memengaruhi perkembangan lagu Seriosa Indonesia. Terlihat ketika repertoar dinyanyikan, terdapat ornamen-ornamen yang tertulis dengan simbol musik Barok maupun tidak tertulis melalui simbol, namun langsung dijabarkan ke nada-nada tanpa perbedaan bunyi. Baroque Music Ornaments in the Development of Indonesian Seriosa Songs ABSTRACT Baroque music is a style of western classical music from 1600-1750, and in the Baroque era, vocal music played a dominant role in that instrument music dropped anchor after vocal music. In the Baroque era, ornaments, particularly vocal ornaments, emerged due to the rapid development of the renaissance era when people sang Gregorians without any vibration. This culture was brought by monks who sang in churches and palaces in a very rigid style, which led to the ornaments further adding to one's interpretation in singing. The purpose of this research is to see how immense the influence of Baroque music ornaments was in the development of the Seriosa Indonesia song. The research methods used are Heuristics, Hermeneutics, and Historiography. The results show that numerous ornaments are performed in the Seriosa Indonesia repertoire: Trill, Mordent, Turn, Acciaccatura, Appoggiatura, and Glissando. This research concludes that Baroque music's ornaments greatly influenced the development of Seriosa Indonesia's songs. When the repertoire is sung, there are ornaments written with symbols of Baroque music or not written through symbols but are immediately translated into notes without sound differences.
Analisis Gerak Tari Dalling melalui Laban/Bartenieff Movement Studies dalam Presentasi Performatif Dalling: The Initiation Melynda Adriani
INVENSI Vol 8, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v8i2.8005

Abstract

Tulisan ini merupakan pemaparan proses kreatif dibalik penciptaan karya tari Dalling: The Initiation. Fokus utama dalam penciptaan ini yakni pada pencarian titik permulaan gerak tari Dalling. Tari Dalling berkembang di lingkungan masyarakat suku Bajau yang bermukim di Kepulauan Derawan, Berau, Kalimantan Timur. Proses penciptaan ini merupakan langkah awal untuk membedah potensi terapeutik pada tari Dalling, namun fokus yang digarisbawahi saat ini dibatasi pada pencarian inisiasi terlebih dahulu sebagai akar menelusuri geraknya. Penelitian ini menerapkan metode practice-based research dan analisis data dilakukan dengan Laban/Bartenieff Movement Studies (LBMS). Format presentasi performatif dipilih untuk menyampaikan secara verbal tentang proses analisis dalam penciptaan karya Dalling: The Initiation. Karya tari ini juga menghadirkan sentuhan digital berupa animasi kostum tari Dalling yang seakan-akan digunakan penari yang bertujuan untuk eksperimentasi pemanfaatan teknologi dalam pertunjukan. Temuan yang didapat yakni cara ungkap dekonstruksi dari proses analisis menjadi rangkaian gerak serta penemuan beberapa bagian gerak tubuh yang dominan. Pergerakan dominan yakni pada bahu, tangan, dan pinggul yang memberi efek pada keaktifan gerak torso, serta inisiasi gerak dominan dari kaki kiri dan telapak tangan kanan pada setiap motif geraknya.Analysis of Dalling Dance Movements through Laban/Bartenieff Movement Studies in Performative Presentations of “Dalling: The Initiation” ABSTRACT This paper explains the creative process behind the dance work Dalling: the Initiation. The main focus in this work as on the search for a point of initiation of the Dalling dance movement. Dalling dance develops in Bajau ethnic community who live in the Derawan Islands, Berau, East Kalimantan. This creation process is the first step towards dissecting the therapeutic potential of Dalling dance. However, the focus underlined is currently limited to the search for initiation first as the root of tracing its motion. This research applies a practice-based research method, and data analysis was carried out with Laban/Bartenieff Movement Studies (LBMS). The format of the performative presentation was chosen to verbally convey the process of analysis of the work of Dalling: the Initiation. This dance work also presents a digital touch in the form of Dalling dance costume animations that seem to be used by dancers, the purpose of which is to experiment with the use of technology in performances. The findings obtained are a way of expressing the deconstruction of the analysis process into a series of motions and the discovery of several dominant body parts movements. The dominant movement is in the shoulders, hands, and hips, which has an effect on the activeness of the torso movement, as well as the initiation of the dominant movement of the left foot and right palm in each movement motif. 
Keterkaitan Multiple Intelligences dengan Kreativitas Pengalaman Seni Fadhilaturrahmi, Fadhilaturrahmi; Tjahyadi, Sindung; Pamadhi, Hadjar
INVENSI Vol 9, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i1.8533

Abstract

Seni bukan sekadar produk atau objek, lebih dari itu seni ialah hasil dari bentuk kreatif pada pengalaman penciptaannya. Pencipta seni mengolaborasikan berbagai kapabilitas manusia dalam tahap-tahap penciptaan, seperti kecerdasan, perasaan, dan kreativitas. Keterkaitan antara kreativitas pengalaman seni dan kecerdasan majemuk disingkap pada analisis riset terhadap sebuah komunitas seni di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tari, musik, fotografi, teater, lukis, dan videografi menjadi fokus bidang seni pada penelitian berbasis kuantitatif korelatif ini. Hasil akhir menunjukkan bahwa kecerdasan verbal-linguistik, kecerdasan eksistensial, kecerdasan badani-kinestetik, dan kecerdasan interpersonal dengan kreativitas pengalaman seni memiliki hubungan signifikan dengan level sedang. Kecerdasan natural, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan visual-spasial dengan kreativitas pengalaman seni memiliki hubungan signifikan dengan level lemah. Kecerdasan logika-matematika, dan kecerdasan musikal dengan kreativitas pengalaman seni memiliki hubungan yang sangat lemah.  Interrelation of Multiple Intelligences and Creativity of Art Experiences ABSTRACT Art is not just a product or an object; more than that, art is the result of a creative form in the experience of its creation. Art creators collaborate various human capabilities in the creation process, such as intelligence, feelings, and creativity. The relationship between creative artistic experiences and multiple intelligences is revealed in a research analysis of an art community at Gadjah Mada University, Yogyakarta. Dance, music, photography, theatre, painting, and videography are the focus of the arts in this correlative quantitative-based research. The final results show that verbal-linguistic intelligence, existential intelligence, bodily-kinesthetic intelligence, and interpersonal intelligence with artistic experience creativity have a significant relationship at a moderate level. Natural intelligence, intrapersonal intelligence, and visual-spatial intelligence with artistic experience creativity have a significant relationship at a weak level. Logical-mathematical intelligence and musical intelligence have a very weak relationship with artistic experience and creativity.
Reaksi Adiksi Masturbasi Terhadap Bentuk Fantasi Seksual dan Kontrol Sosial dalam Video Seni Pertunjukan Ambang Berti Galang Dwi Febrianto
INVENSI Vol 8, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v8i2.8183

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil dari proses produksi video seni pertunjukan Ambang secara komprehensif mulai dari gagasan pertunjukan, produksi video, pemilihan material pertunjukan, hingga visualisasi akhir yang mewakili alur pembabakan cerita dari gagasan pengkarya tentang masturbasi dan fantasi seksual. Pengkarya menggunakan material bambu, lendir, cat, serta keseluruhan anggota tubuh untuk menghasilkan artikulasi gerak tentang fantasi baru saat bermasturbasi dan dibenturkan dengan karakteristik ruang pertunjukan yang berbeda-beda. Video seni pertunjukan Ambang menggunakan kumpulan pembabakan sekuens visual non-narasi dan tanpa dialog agar dapat menjangkau gagasan secara menyeluruh mulai dari set pertunjukan hingga detail material terkecil sekalipun. Penggunaan gaya video non-narasi dan tanpa dialog dalam Ambang dipilih agar aspek visual dalam frame kamera mampu memberi penekanan konteks karya dan memiliki alur cerita yang lebih sistematis lewat komposisi gambar yang tidak bisa didapatkan dalam pertunjukan langsung di panggung. The Reaction of Masturbation Addiction of Sexual Fantasy Forms and Social Control in Ambang Performing Arts VideoABSTRACTThis paper is the result of the comprehensive production process of Ambang's performing arts video, starting from the idea of a performance, video production, selection of performance material, to the final visualization that represents the plot of the story from the creator's ideas about masturbation and sexual fantasy. The artist uses bamboo materials, mucus, paint, and whole-body parts to produce motion articulations about new fantasies when masturbating and colliding with the characteristics of different performance spaces. Ambang's performance art videos use non-narative style to reach a comprehensive idea from the set of performances to even the smallest material details. The use of non-narrative video in Ambang was chosen so that the visual aspect can emphasize the context of the work and has a more systematic storyline through image composition that cannot be obtained in live performances on stage.
Estetika dan Karakteristik Keris Puthut dalam Ketubuhan sebagai Inspirasi Gerak Tari Wulansari, Putri Nuur
INVENSI Vol 9, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i1.8837

Abstract

Karya ini merupakan karya dalam bentuk dance film dengan pijakan gerak abstrak untuk menggambarkan setiap adegan. Judul karya ini adalah Mandhita, kata tersebut diambil dari bentuk keris Puthut yang di sana terdapat bentuk seorang pandhita yang dalam kamus bahasa Jawa dilinggakan menjadi Mandhita. Mandhita berarti singgasana (persinggahan ratu) bisa diartikan juga sebagai orang yang punya ilmu atau orang yang tahu agama. Tujuan dalam karya ini untuk memberikan edukasi tentang proses pembuatan keris, karakteristik keris, ritual keris, dan juga secara khusus eksplorasi rasa dalam memahami estetika keris sebagai inspirasi kekaryaan seorang perempuan. Metode yang digunakan adalah metode longitudinal dan metode pendekatan dance film. Berdasarkan hasil penelitian, bahwa dalam keris memiliki arti dan karakter yang dapat dituangkan ke dalam tubuh sebagai inspirasi gerak tari. The Aesthetics and Characteristics of the Keris Puthut in the Body as Inspiration for Dance Movements ABSTRACT This work is a dance film that uses abstract motion to depict each scene. The work's title is Mandhita, derived from the form of the Puthut keris, which includes the form of a pandhita. In Javanese, 'Mandhita' is a shortened form of 'pandhita' and can refer to a throne (a queen's stopover) or to a knowledgeable or religious person. The purpose of this work is to educate about the process of making a keris, the characteristics of the keris, and keris rituals, and to explore the aesthetics of the keris as inspiration for artistic expression. The methods used include the Longitudinal method and the dance film approach. The study's results show that the keris holds meaning and character that can inspire dance movements.

Page 11 of 15 | Total Record : 143