cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 143 Documents
Konsep Garap Karawitan dalam Sudut Pandang Musik Generatif Harly Yoga Pradana
INVENSI Vol 6, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v6i2.5275

Abstract

ABSTRAK Seni generatif merupakan seni yang menitikberatkan pada sistem, aturan, dan kondisi awal sebagai pancingan untuk kemudian berkembang dengan sendirinya. Seni generatif semakin banyak disoroti seiring dengan perkembangan teknologi. Akibatnya, pandangan terhadap seni generatif semakin mengacu pada penggunaan komputer atau peranti berteknologi tinggi (hi-tech). Karawitan merupakan produk budaya masyarakat Jawa pada wilayah seni suara yang diasumsikan memiliki sifat generatif. Tulisan ini membahas tentang cara pandang konsep garap karawitan Jawa dari sudut pandang musik generatif. Beberapa teknik dan aspek garap dibahas dan dimaknai sebagai logika kerja. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menerapkan teknik segmentasi dalam menganalisis data. Hasil dari pembahasan ini diketahui bahwa aspek generatif pada karawitan terdiri dari empat jenis: struktur pola, gramatika, kompleksitas, kondisi, dan aturan (rule). Diketahui pula logika kerja dari aspek tersebut yang berkaitan dengan wilayah musik dan harapannya bisa dikembangkan untuk membangun sistem pada karya musik generatif secara umum. The Concept of "Garap" on Javanese Karawitan in The Generative Music Perspective ABSTRACT Generative art is about using systems, rules, and initial conditions as a trigger to develop independently in the creative process. Technology has changed the perspective of generative art nowadays. Generative art is more identified with innovative methods that use computers or high-tech devices. "Karawitan Jawa" is a cultural product of Javanese society in the auditive field, which is assumed to be generative. This paper discusses the concept of "garap" in Javanese karawitan from the generative music perspective. Several techniques and aspects of "garap" are discussed and interpreted as logical procedures. This research uses the literature study method by applying the segmentation technique. As a result, it was found that there are four generative aspects in karawitan: pattern structure, grammar, complexity, rule conditions. It is also known that these aspects are related to music, and hopefully, this will be useful for building a generative music system in general.
Eksperimentasi Permasalahan Teknik-teknik pada Cello Concerto No.1 Bagian Pertama “Allegretto” Karya Dmitri Shostakovich Neam Sahiqa Raya; Asep Hidayat; Ayub Prasetyo
INVENSI Vol 6, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v6i2.5462

Abstract

ABSTRAK Penguasaan teknik bagi seorang resitalis merupakan suatu keharusan, sesuai dengan tingkat kesulitan teknis yang ingin dicapai. Penulis mengacu pada penandaan teknis oleh pemain cello Mstislav Rostropovich untuk fingering dan bowing dalam repertoar pertama Cello Concerto No. 1 karya Dmitri Shostakovich yang kemudian ditemukan ketidakcocokan dalam preferensi pertimbangan teknis dan membuat penulis ingin mencoba bereksperimen untuk memecahkan masalah kesulitan teknis dalam repertoar tersebut. Technical Problems Experimentation in The Cello Concerto No.1, First Movement "Allegretto" by Dmitri Shostakovich ABSTRACT A recitalist's mastery of technique is a must, according to the level of desired achievements of technical difficulties. The author refers to the technical markings by cellist Mstislav Rostropovich for fingerings and bowings in the first cello concerto No.1 by Dmitri Shostakovich, which later was found discrepancies in the preferences of technical considerations, thus have made the author want to try to solve technical problems in the repertoire in a more personal way. 
Self Healing dari Trauma Masa Lalu dalam Karya Seni Lukis Abstrak Rizka Azizah Hayati
INVENSI Vol 6, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v6i2.4648

Abstract

ABSTRAK Manusia sering kali menolak emosi negatif, sebagai bentuk pertahanan diri yang berpengaruh negatif kepada alam bawah sadarnya. Pada beberapa kasus, hal ini bisa menyebabkan trauma dan self healing sangat penting untuk memperbaiki hal-hal yang belum terselesaikan itu, agar bisa berdamai dengan masa lalu untuk hidup yang lebih baik. Latar belakang tersebut merupakan landasan bagi pencipta dalam berkarya. Selain observasi pada diri sendiri dan lingkungan sekitar, penciptaan ini juga menggunakan teori Sigmund Freud sebagai referensi. Bentuk yang dihasilkan berupa seni lukis mix media. Penciptaan seni ini ditujukan sebagai media katarsis diri penulis dengan pemaknaan ulang kejadian dari masa lalunya. Self Healing from The Past Trauma in the Expressionist Abstract Painting ABSTRACT People tend to resist negative emotion as a form of self-defence that mostly gives bad impacts on their subconscious. In some cases, it could be a trauma whereas self-healing was needed in this situation to live better as the result of passing over the bad experiences. It became the foundation of the creator to create the work. Besides doing observations, the theory of Sigmund Freud was also followed as a reference. The shapes created were in the form of mixed media painting. The work was intended as a medium for the creators to re-interpret the past event as a self-catharsis.
Fungsi Tortor Somba-somba dalam Upacara Perkawinan Adat Batak di Yogyakarta Desy Wulan Pita Sari Damanik
INVENSI Vol 6, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v6i2.4936

Abstract

ABSTRAKTortor somba-somba adalah tarian untuk menyambut hula-hula pada bagian panomu-nomu dalam salah satu rangkaian upacara perkawinan adat Batak. Suku Batak di Yogyakarta kurang lebih ratusan kepala rumah tangga. Hal ini ditandai oleh berdirinya rumah ibadah Batak yang disebut HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Yogyakarta. Tulisan ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan pendekatan sosiologi. Fungsi sebagai kenyataan sosial yang harus dicari dalam hubungannya dengan tujuan sosial. Pendekatan sosiologi yang digunakan untuk mengetahui bagaimana fungsi Tari Tortor Somba-somba sebagai media permohonan doa dalam perkawinan adat Batak di Yogyakarta. Dengan menggunakan referensi dari buku Y. Sumandiyo Hadi yang berjudul Sosiologi Tari. Fungsi tortor somba-somba dalam upacara perkawinan adat Batak di Yogyakarta adalah suatu cerminan dari masyarakat yang religius dan menjaga identitas budaya Batak di Yogyakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan Tari Tortor Somba-somba pada proses upacara perkawinan adat Batak di Yogyakarta. Perkawinan adat Batak merupakan perkawinan yang sangat sakral bagi masyarakat Batak, yang berfungsi sebagai media permohonan doa kepada opung mula jadi na bolon atau Tuhan untuk memberikan pemberkatan kepada pengantin di dalam berumah tangga melalui gerakan tangan dan jari-jari yang melambangkan pemberkatan. The Function of Tortor Somba-Somba in a Traditional Batak Wedding Ceremony in Yogyakarta ABSTRACT Tortor somba-somba is a dance to welcome Hula-hula in the panomu-nomu part of a series of traditional Batak wedding ceremonies. The Batak tribe in Yogyakarta has approximately hundreds of household heads. This was marked by the establishment of a Batak house of worship called HKBP (Huria Kristen Batak Protestant) in Yogyakarta. This paper is qualitative research using a sociological approach. Function as a social reality to be sought in relation to social goals. The sociological approach used is to find out how the function of the Tortor somba-somba dance as a medium for prayer requests in traditional Batak marriages in Yogyakarta. By using references from Y. Sumandiyo Hadi's book with a book entitled dance sociology. The function of Tortor somba-somba in the traditional Batak wedding ceremony in Yogyakarta reflects a religious society and maintains a Batak cultural identity in Yogyakarta. The purpose of this study was to analyze and describe the Tortor Somba-somba dance in the traditional Batak wedding ceremony in Yogyakarta. Batak traditional marriage is a very sacred marriage for the Batak community, which functions as a medium for prayer requests to opung mula so na bolon or God to give a blessing to the bride and groom in the household through hand and finger movements that symbolize the blessing.
Pembinaan Tari Cegak oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rokan Hulu Syefriani syefriani; Yahyar Erawati
INVENSI Vol 6, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v6i2.4958

Abstract

ABSTRAKManusia tidak pernah lepas dari kebudayaan dan adat istiadat, kebudayaan berfungsi sebagai identitas dan ciri khas masing-masing daerah. Kebudayaan bersifat turun-temurun, dari generasi ke generasi terus diwariskan. Di Desa Ulak Patian terdapat budaya dan seni tradisi yang diwarisi oleh masyarakat Suku Bonai, karena Desa Ulak Patian merupakan pusat pemukiman suku terasing di Rokan Hulu yaitu Suku Bonai. Lembaga yang berwenang sebaiknya melakukan pembinaan terhadap Suku Bonai yang memiliki seni tradisi yang sudah ada sejak lama, terutama Tari Cegak. Karena jika pembinaan tidak dilakukan, maka akan dikhawatirkan kesenian tradisi yang ada pada Suku Bonai akan punah ditelan perkembangan zaman yang semakin berkembang dari waktu ke waktu. Pembinaan Tari Cegak dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Rokan Hulu untuk melestarikan dan menjaga kebudayaan serta tradisi-tradisi yang ada di Rokan Hulu khususnya di Desa Ulak Patian. Cegak Dance Development by Rokan Hulu Department of Culture and Tourism ABSTRACT Culture and customs can’t be separated from humans. Culture has functioned as a character and identity for each region. Culture is hereditary, it is still inherited from generation to generation. In the village of Ulak Patian, there are cultural and artistic traditions were inherited by Bonai tribal society, because Ulak Patian Village is the centre of isolated settlements in Rokan Hulu, which is the Bonai Tribe. Bonai Tribe should be coached by the authorized institution because they have traditional art that has been around for a long time, especially Cegak dance. If they don’t act, it will be feared that traditional arts that exist in the Bonai Tribe will be extinct. Cegak dance can be done coaching by the Department of Culture and Tourism at Rokan Hulu to preserve the culture and traditions that exist in Rokan Hulu, especially at Ulak Patian Village.
Sinkronisasi Bernyanyi dan Tari (Choralography) dalam Paduan Suara (Studi Kasus: Paduan Suara Vocalista Angels Klaten) Abraham Anton Febrindo Luwiga
INVENSI Vol 7, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v7i1.5716

Abstract

ABSTRAKBernyanyi merupakan aspek utama yang tentu wajib ada dalam paduan suara. Selain itu, dalam paduan suara juga melakukan gerakan atau tarian yang dikenal dengan istilah choralography. Bernyanyi mungkin bukan hal yang sulit dilakukan dalam sebuah paduan suara. Namun, bernyanyi sembari melakukan gerakan atau tarian kemungkinan dapat menimbulkan persoalan, misalnya terjadi ketidaksinkronan antara bernyanyi dan tarian yang dilakukan secara bersamaan. Bagaimana masalah ketidaksinkronan ini dapat dikontrol oleh anggota paduan suara? Penelitian ini bertujuan menelaah proses yang dilakukan oleh paduan suara untuk mencapai sinkronisasi dalam bernyanyi dan tari (choralography). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi pada Paduan Suara Vocalista Angels Klaten dan dilanjutkan dengan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, proses yang dilakukan oleh Paduan Suara Vocalista Angels adalah pematangan vokal, pengolahan gerak tubuh, dan latihan kreatif. Ketiga aktivitas ini menjadi aspek penting dalam mencapai sinkronisasi antara bernyanyi dan tari choralography dalam paduan suara. Synchronization of Singing and Dance (Choralography) in the Choir (Case Study: Vocalista Angels Choir Klaten) ABSTRACT Singing is the central aspect that must be in the choir. In addition, the choir also performs movements or dances known as choralography. Singing may not be a difficult thing to do in a choir. However, singing while doing movements or dancing may cause problems; for example, there is an asynchronous between singing and dancing simultaneously. How can choir members control this asynchronous problem? This study aims to examine the process carried out by the choir to achieve synchronization in singing and dance (choralography). This research was conducted using the observation method at the Klaten Angels Vocalista Choir and continued with descriptive analysis. Based on the research results, the process carried out by the Vocalista Angels Choir is vocal maturation, processing of body movements, and creative exercises. These three activities are essential aspects in achieving synchronization between singing and dance choralography in the choir.
Implementasi Aliran Seni Rupa Ekspresionisme pada Fotografi Fine Art Julietta Siti Refqa Herliansyah; Maya Purnama Sari
INVENSI Vol 7, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v7i1.5468

Abstract

ABSTRAKEkspresionisme merupakan salah satu bentuk seni rupa yang menganggap bahwa seni yang mengalir secara spontan dari seorang seniman, bukan merupakan jiplakan dari alam. Fotografi fine art atau fotografi seni adalah sebuah kegiatan mengirimkan pesan apa yang dirasakan oleh seniman kepada para penerimanya melalui keindahan yang terdapat dalam suatu foto yang bertujuan untuk mengubah perspektif orang lain. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk menghimpun dan mengkaji data responden dari hasil fotografi ekspresi yang menggunakan ciri dari salah satu aliran seni rupa yaitu ekspresionisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, metode statistika berupa teknik sampling dengan jenis purposive sampling, serta metode pengolahan datanya yaitu angket dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 37,5% responden memilih skala 4 dari 5. Penyampaian pesan melalui fotografi fine art pun dapat ditangkap dengan baik oleh para responden yang menunjukkan kesamaan makna yaitu sebuah kegembiraaan. Dengan demikian implementasi aliran seni rupa ekspresionisme pada fotografi fine art sudah diterapkan dengan baik. Implementation of The Flow of Expressionism in Fine Art Photography ABSTRACT Expressionism is a form of art that assumes that art that flows spontaneously from an artist is not a copy of nature. Fine art photography or art photography is an activity to send a message of what the artist feels to the recipient through the beauty contained in a photo that aims to change the perspective of others. The purpose of this research is to create and find out the respondents' views from the results of expression photography that uses the characteristics of one of the art schools, namely expressionism. The method used in this research is a quantitative method, statistical method is in the form of sampling technique with purposive sampling type, and the data processing method is questionnaire and literature study. The results showed that 37.5% of respondents chose a scale of 4 out of 5. The delivery of messages through fine art photography could also be captured well by the respondents who showed the same meaning, namely a joy. Thus, the implementation of the flow of expressionism in fine art photography has been well implemented.
Beksan Bedhaya Kirana Ratih di Keraton Kasunanan Surakarta: Studi Analisis Kebutuhan Pertunjukan Tari Tradisi Dewi Purnama Sari; Wahyu Lestari
INVENSI Vol 7, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v7i1.6133

Abstract

ABSTRAKBeksan Bedhaya Kirana Ratih merupakan salah satu jenis tari tradisi klasik yang lahir dan berkembang di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. Seperti halnya tari tradisi klasik lainnya, Beksan Bedhaya Kirana Ratih mengalami penurunan popularitas karena perkembangan zaman dan kurangnya publikasi dari masyarakat dan akademisi. Menyikapi permasalahan tersebut, berdasarkan analisis kebutuhan pertunjukan Beksan Bedhaya Kirana Ratih, perlu adanya penyesuaian dengan minat generasi zaman ini agar eksistensi tarian ini meningkat dan tetap lestari. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan perkembangan Beksan Bedhaya Kirana Ratih. Metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan model penulisan deskriptif dan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu obserasi, wawancara, dokumentasi. Hasil penelitian dari Analisis Kebutuhan Perkembangan Beksan Bedhaya Kirana Ratih dapat dilihat dari beberapa faktor, yakni faktor beralihnya fungsi ritual, gerak tari, busana, maupun dari faktor publikasi Beksan Bedhaya Kirana Ratih yang masih sedikit. Beksan Bedhaya Kirana Ratih at Keraton Surakarta Hadiningrat: The Analysis of The Needs of Traditional Dance PerformanceABSTRACTBeksan Bedhaya Kirana Ratih is a type of classical traditional dance that was born and developed from the Keraton Kasunanan Surakarta. Like other classical traditional dances, Beksan Bedhaya Kirana Ratih has experienced a decline in popularity due to the times and the lack of publications from the public and academics. Responding to these problems, based on the analysis of the needs of Beksan Bedhaya Kirana Ratih's performances, it is necessary to adjust to the interests of today's generation so that the existence of this dance increases and remains sustainable. This article aims to analyze the developmental needs of Beksan Bedhaya Kirana Ratih. The method used is qualitative with a descriptive writing model and the techniques used in data collection are observation, interviews, and documentation. The results of the analysis of the developmental needs of Beksan Bedhaya Kirana Ratih can be seen from several factors, namely the factor of shifting ritual functions, dance movements, clothing, as well as from the factor of Beksan Bedhaya Kirana Ratih's publication which is still few.
Tari Monamot dalam Pemahaman Masyarakat Desa Bunobogu Kabupaten Buol Siska Anis Maele; Masni Zakaria; Arwin W. Antu
INVENSI Vol 7, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v7i1.6085

Abstract

ABSTRAKSebagai tarian kreasi baru, Tari Monamot hadir dalam kehidupan masyarakat Desa Bunobogu, Kabupaten Buol, untuk menggambarkan rasa kegembiraan. Penyajiannya dalam beberapa ragam acara dapat mengandung ekspresi yang berbeda sebagai penggambaran suasana dan maksud setiap acara. Hal ini mengasumsikan fungsi tari Monamot sebagai tari hiburan, yang di sisi lain sangat mungkin terkandung makna- makna terpendam dalam setiap penyajiannya. Kejelasan yang diungkapkan di dalam tarian ini dapat pula menguak hal-hal lain terkait peradaban masyarakat Buol, termasuk identitas budaya dan sejarahnya. Oleh karenanya, penting untuk dilibatkan secara aktif masyarakat Desa Bunobogu untuk memahami makna tari Monamot, sebagai titik tolak ekspresi kolektif masyarakat Buol menghayati kehidupan mereka. Riset ini menerapkan metode penelitian yang menitikberatkan pada konsep pengembangan atau eksploratif. Pendekatan kualitatif bidang seni dan budaya tepat untuk mengkaji fenomena terkait pemahaman masyarakat pemilik tari Monamot. Pengumpulan data dilakukan melalui deep-interview, sementara analisis secara mendalam atasnya dilakukan secara bersamaan dalam kajian kepustakaan. Metode deskriptif dimaksudkan untuk melukiskan keadaan objek sebagai mana adanya, namun selalu dalam kesinambungan proses analisisnya yang mengacu pada kajian literatur-literatur terkait. Makna yang diungkapkan di dalam tari Monamot menguak hal-hal penting terkait peradaban masyarakat Buol, termasuk identitas budaya, sejarahnya, dan nilai filosofisnya. Pemahaman masyarakat Desa Bunobogu terhadap tari Monamot sampai ke tingkat merefleksikan cita-cita kolektif masyarakat untuk selalu bersikap rendah hati ibarat tanaman padi yang semakin merunduk saat semakin berisi dan siap dipanen. Dalam konteks yang berbeda-beda, bentuk penyajian tari Monamot beradaptasi dengan maksud acara, tempat pelaksanaan acara, dan siapa audiensnya, namun tidak mengalami perubahan struktur gerak, properti, dan musik pengiringnya. Pemahaman masyarakat Desa Bunobogu terhadap tari Monamot juga akan terus berubah seiring berubahnya waktu yang akan memengaruhi perkembangan tari Monamot sendiri. Monamot Dance in the Understanding of the Community of Bunobogu Village, Buol Regency ABSTRACT As a new dance creation, Monamot presents in the life of the people of Bunobogu Village, Buol Regency, to describe a sense of joy. Its presentation in several types of events can contain different expressions as a description of the atmosphere and the purpose of the respective event. This assumes that Monamot is merely an entertainment dance, which on the other hand it is very likely to contain hidden meanings in every presentation. The clarity expressed in this dance can also reveal other things related to the civilization of the Buol people, including their cultural and historical identity. Therefore, it is important for the people of Bunobogu village to be actively involved in understanding the meaning of the Monamot, as a starting point for the collective expression of the Buol people in living their lives. This study applies research methods that focus on the concept of development or exploratory. The qualitative approach in the arts and culture is appropriate to examine phenomena related to the understanding of the people who own the Monamot. Data collection is carried out through deep interviews, while in-depth analysis is carried out simultaneously in the literature review. The descriptive method is intended to describe the state of the object as it is, but always in a continuous process of analysis that refers to the study of related kinds of literature. The expressed meanings in the Monamot reveal important things related to the Buol’s way of life, including their cultural identity, history, and philosophical values. The understanding of the people of Bunobogu Village towards the Monamot is the point of reflecting the collective aspirations of the community to always be humble like a rice plant that bends more and more when it is fuller and ready to be harvested. In different contexts, the form of presentation of the Monamot adapts to the purpose of the event, the place where the event is held, and who the audience is, but does not experience changes in the structure of motion, properties, and the accompanying music. The understanding of Bunobogu’s people toward the meaning of Monamot will also continue to change over time which will affect the development of the Monamot itself.
Kesadaran Refleksi Aktor Sandiwara Berbahasa Jawa Studi Kasus Kelompok Sedhut Senut Ely Andra Widharta
INVENSI Vol 7, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v7i1.5907

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan menganalisis kesadaran sinis yang berkaitan dengan pengalaman, hasrat, dan perenungan kembali tentang nilai-nilai kehidupan yang dialami oleh para aktor Kelompok Sedhut Senut. Pada realitasnya bahwa aktor juga berbenturan dengan kesadaran sinis yang dialaminya. Teori yang dipakai adalah ekspresi, kreativitas, dan fantasi. Teori fantasi digunakan untuk pendekatan kelompok teater dalam upaya mewujudkan ideologi teater, sementara perwujudan tersebut melahirkan sinisme di dalam proses kreatifnya. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif, di mana data didapatkan melalui catatan lapangan dan wawancara terhadap narasumber internal dari kelompok dan narasumber eksternal yaitu penonton. Hasil penelitian ini sebagai berikut, kesadaran berteater, kesadaran memilih ruang pentas, kesadaran estetika, sampai dengan pengaruh kesadaran sinis rupanya dipengaruhi oleh hasrat ideologi berteater. Upaya mewujudkan ideologi itu pun tidak selalu berhasil karena selalu ada pengaruh daya sinisme di tengah proses kreatif. Namun, apa yang dialami oleh kelompok ini justru menemukan kesadaran refleksi. Dari kesadaran tersebut lalu kelompok ini mengalami ekstrospeksi dan introspeksi. Kemauan melihat ke luar dan ke dalam sebagai refleksi untuk terus mewujudkan ideologi teater dan kesadaran estetika berikut dengan tantangan selama proses kreatif. Reflective Awareness of Javanese Language Theatre’s Actor Sedhut Senut Group’s Case Study ABSTRACTThis research aims to analyze the cynical awareness related to experience, desire, and contemplation towards life’s values that has been experienced by the actors of Sedhut Senut’s group. The actor, too, encounters the cynical awareness he faces. While fantasy is used to approach the theatre group to embody theatre ideology, it delivers cynicism along its creative process. The method used is qualitative research, where data are obtained from field notes and interviews with internal interviewees from the group and external interviewees who are audiences. The results of this research are as follows, awareness of theatre, awareness of choosing a space to perform, awareness of aesthetics, to the influence of cynical awareness seems to be affected by the desire for theatrical ideology. Due to the influence of cynical power along the creative proses, an effort to embody the ideology does not always work out. However, what happens to this group opens their reflective awareness. From that awareness, this group has experienced extrospection and introspection. The urge to look out and in as reflection to keep actualizing theatre ideology and aesthetics awareness along with challenges during its creative process.

Page 9 of 15 | Total Record : 143