cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 143 Documents
Analisis Ritme Divisi dan Subdivisi Bagian Rap pada Lagu “Jogja Ora Didol” Tompo, Krisna Pradipta
INVENSI Vol 9, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i1.9129

Abstract

Ritme adalah salah satu aspek dasar dalam musik. Peran ritme yang dominan dalam musik, bahkan juga menjadi bagian dari aspek lain seperti melodi. Musik rap adalah salah satu jenis musik yang merepresentasikan dominasi ritme daripada pitch yang membuat istilah melodi dalam musik rap menjadi kurang cocok. Ritme kemudian menjadi ranah eksplorasi di mana salah satunya merujuk pada ritme divisi dan subdivisi. Riset ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa ‘nyanyian’ dalam musik rap tidak jauh dari pengolahan ritme divisi dan subdivisinya. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan musikologis. Tahap riset secara garis besar adalah mendengarkan dengan saksama data audio, proses transkripsi ke notasi balok, dan analisis menggunakan teori ritme divisi-subdivisi. Hasil dan kesimpulan analisis menunjukkan bahwa bagian rap dari lagu “Jogja Ora Didol” didominasi oleh subdivisi yang mencapai 89 ritme masing-masing per ketukan, divisi dengan jumlah 30 ritme masing-masing per ketukan, 24 not ketukan dasar, dan sisanya adalah tiga triplet masing-masing per ketukan. Pengolahan ritme divisi-subdivisi tersebut memiliki gradasi nilai nada dan hierarki yang dibalik, yakni dari nilai terkecil yakni not seperenambelas ke nilai terbesar yakni not seperempat.Rhythm Analysis of Rap Section Divisions and Subdivisions on the song "Jogja Ora Didol" ABSTRACT Rhythm is one of the fundamental aspects of music. The dominant role of rhythm in music is even part of other aspects, such as melody. Rap music is one type of music that represents the dominance of rhythm over pitch, which makes the term melody in rap music less suitable. Rhythm then becomes a field of exploration where one refers to the rhythm of division and subdivision. This research aims to show that 'singing' in rap music is not far from the processing of rhythmic divisions and subdivisions. The method used is a literature study with a musicological approach. The stages of the research are listening carefully to the audio data, transcribing it into music notation, and analyzing it using the division-subdivision rhythm theory. The results and conclusions of the analysis show that the rap part of the song Jogja Ora Didol is dominated by subdivisions that reach 89 rhythms each per beat, divisions with 30 rhythms each per beat, 24 introductory beat notes, and the rest are three triplets each per beat. The subdivision rhythm processing has a reversed pattern of pitch value and hierarchy, from the smallest value of sixteenth notes to the most significant value of quarter notes.
Perancangan Metaverse Berbasis Lingkungan dan Kemanusiaan Berjudul “Better World” Valentino, Alfredo
INVENSI Vol 9, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i1.8586

Abstract

ABSTRAK Meta digadang-gadang akan menjadi produk baru dengan berbagai fitur yang dapat dinikmati oleh penggunanya melebihi sosial media yang sudah pernah dirilis oleh Mark Zuckerberg. Meta memiliki fitur berupa ruang 3D di mana pengguna dapat membuat avatar mereka sendiri dengan tempat tinggal dan status sosial virtual mereka masing-masing. Dalam kasus ini penulis menggunakan konsep kepedulian terhadap lingkungan dan kemanusiaan karena dirasa perlu adanya keseimbangan antara dunia virtual dan realita sehingga mencegah terjadinya ketidakseimbangan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan metaverse sebagai wadah diskusi memantik penulis untuk membuat ruang lingkup pembahasan masalah-masalah yang terjadi di dunia realita dengan berdiskusi dengan berbagai pengguna dari penjuru dunia. Perancangan konsep ruang Metaverse Better World untuk meningkatkan kesadaran alam menggunakan metode design thinking. Pendekatan ini berpusat pada manusia terhadap inovasi yang diambil dari perangkat perancang untuk mengintegrasikan kebutuhan pengguna dalam perangkat itu sendiri. Dengan ini penulis ingin pengguna metaverse nanti untuk tetap menyeimbangkan dunia digital dan dunia virtual dengan acuh terhadap pemborosan virtual berupa pembelian aset semu. Penulis juga ingin pengguna lebih memberatkan kepentingan dunia nyata berupa alam di mana kita dapat bertemu dan berdiskusi tentang isu-isu terkini. Metaverse Concept Design Environment and Humanity-Based “Better World” ABSTRACT It is predicted that Meta will be a new product with various features that can be enjoyed by its users beyond the social media that Mark Zuckerberg has released. Meta features a 3D space where users can create their own avatars with their respective virtual residences and social statuses. In this case, the author uses the concept of concern for the environment and humanity because it is felt that there is a need for a balance between the virtual world and reality to prevent imbalances from occurring in everyday life. The use of the metaverse as a forum for discussion sparked the author to create a scope for discussing problems that occur in the real world by discussing with various users from all over the world. The method of designing the Metaverse Better World space concept to increase awareness of nature uses the design thinking design method. Where this human-centred approach to innovation is taken from the designer's device to integrate user needs into the device itself. With this, the author wants later metaverse users to keep balancing the digital world and the virtual world by being indifferent to virtual waste in the form of purchasing pseudo-assets. The author also wants users to give more importance to the real world in the form of nature where we can meet and discuss current issues.
Representasi Makna Film Berjudul "Barodak"
INVENSI Vol 8, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v8i2.8029

Abstract

Penciptaan ini bertujuan untuk merepresentasikan makna Barodak yang terbentuk dari keterkaitannya dengan berbagai unsur perfilman. Bentuk pengemasan yang dipilih oleh pengkarya yakni film tari, demi mempersingkat durasi film serta mempertimbangkan bahwa alasan utama representasi film berjudul Barodak ini untuk membedah proses kreatif pembuatannya sehingga sampai menjadi bentuk film yang utuh dan bisa dinikmati oleh masyarakat umum. Menganalisis dimensi perfilman apa saja yang terdapat di dalam karya ini, salah satunya bisa dilihat dari alur film seperti proses awal film Barodak memperlihatkan pengambilan shoot zoom in seorang penari menyalakan lilin secara detail mengungkapkan makna penerangan kehidupan bagi pengantin kelak saat membangun rumah tangga. Hal inilah yang membuat media film dijadikan sebagai usaha untuk merepresentasikan film Barodak karena mampu memperlihatkan objek terkecil menggunakan teknik perfilman yang lebih dikenal dengan teknik sinematografi. Selanjutnya karya ini menggunakan metode master scene method yang dilakukan dengan pengambilan beberapa shoot, terdiri atas master shoot dan coverage shoot, namun beberapa bentuk di dalam film diusahakan tidak akan terlalu jauh menggeser bentuk adat istiadat Barodak sebenarnya, mengingat dalam ranah film tentu saja ada beberapa bagian yang akan didramatisasi pengkarya agar layak menjadi sebuah tontonan yang tidak bersifat monoton.Representation of the Meaning of the Film Barodak ABSTRACT This creation aims to represent the Barodak meaning that is formed from its connection with various elements of film. The form of packaging chosen by the creators, namely dance films, is to shorten the duration of the film and to consider that the main reason for the representation of the film entitled Barodak is to dissect the creative process of making it so that it becomes a complete film and can be enjoyed by the general public. Analyze what film dimensions are contained in this work, one of which can be seen from the plot of the film such as the initial process of the Barodak film showing a zoom in shoot of a dancer lighting a candle in detail revealing the meaning of lighting life for the future bride and groom when building a household. This is what makes film media used as an attempt to represent Barodak films because they are able to show the smallest objects using film techniques, better known as cinematographic techniques. Then this work uses the master scene method which is carried out by taking several shots, consisting of a master shot and a coverage shoot, however, some forms in the film are tried not to shift too much the form of the actual baroque customs, bearing in mind that in the realm of film of course there are several parts that will be dramatized by the artist so that it is worthy of being a spectacle that is not monotonous. 
Pengkondisian Klasikal pada Grup Paduan Suara SMAN 1 Lhoksukon Arismunandar, Reza
INVENSI Vol 9, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i1.9362

Abstract

Pada paduan suara tingkat SMA, permasalahan terjadi ketika stimulus respons tidak berjalan semestinya. Penyanyi tidak merespons sesuai dengan musik iringan yang dimainkan. Bentuk tidak adanya respons bisa diakibatkan oleh berbagai hal. Pengkondisian klasik pada paduan suara yaitu kondisi stimulus ditambahkan untuk menghasilkan respons yang lebih baik. Penelitian ini membahas bentuk-bentuk perangsang bersyarat (stimulus conditioning) yang terjadi pada proses latihan hingga pertunjukan dan juga respons bersyarat (respons conditioning) yang diterima oleh penyanyi paduan suara. Metode yang digunakan penulis pada kajian ini adalah metode kualitatif dengan melakukan overt observation dan covert observation yaitu observasi secara terang-terangan dan tersamar. Penelitian dilakukan pada sekolah SMAN 1 Lhoksukon Kabupaten Aceh Utara selama enam hari dari proses latihan hingga pertunjukan. Peneliti mencatat seluruh perangsang bersyarat yang terjadi dan respons bersyarat yang timbul dari keseluruhan anggota paduan suara. Hasilnya adalah hal yang paling mendasar yang terjadi pada kelompok paduan suara SMAN 1 Lhoksukon baik pada proses latihan hingga tampil sepenuhnya adalah pengkondisian klasik. Tahapan yang direncanakan bersama hingga pengkondisian koreografi yang disiapkan adalah bentuk inovasi pelatih untuk menunjang penampilan.Classical Conditioning in SMAN 1 Lhoksukon Choir ABSTRACTIn the high school choir, problems occur when the response stimulus does not work properly. The singer does not respond according to the accompaniment music being played. Various things can cause a lack of response. Classical conditioning in chorus where the stimulus condition is added to produce a better response. This study examines the forms of conditional stimulation that occur in the process of rehearsal to performance and also the conditional responses received by choir singers. The method used by the author in this study is a qualitative method by carrying out overt observation and covert observation, namely overt and covert observation. The research was conducted at SMAN 1 Lhoksukon, North Aceh District for 6 days from the training process to the performance. The researcher records all conditional stimuli that occur and conditional responses that arise from all members of the choir. The result is that the most basic thing that happens to the SMAN 1 Lhoksukon choir, both in the process of practicing and performing fully, is classical conditioning. Stages that are planned together until the choreographic conditioning that is prepared is a form of trainer innovation to support performances.
Desain Aplikasi Sistem Informasi Pendidikan Berbasis Digital Jakti, Jalung Wirangga
INVENSI Vol 9, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i1.10284

Abstract

Dunia pendidikan di Indonesia saat ini menghadapi persoalan di antaranya: masifnya kemajuan Teknologi Informasi Digital; regulasi dan manajemen pendidikan yang menyangkut sumber daya manusia, kurikulum, dan metode pembelajaran; dampak pascapandemi COVID-19 berpengaruh terhadap perilaku (sosial-budaya), serta terjadinya paradigma baru proses pembelajaran. Tujuan riset perancangan ini untuk mewujudkan desain aplikasi sistem informasi digital yang dibutuhkan masyarakat. Desain aplikasi digital yang mampu memadukan kurikulum, metode, dan proses pembelajaran mobile (bergerak) dapat efektif, efisien, dan menarik bagi peserta didik. Design method dari Karjaluoto dengan tujuh tahapan (Define, Research, Ideate, Prototype, Select, Implement, dan Learn) digunakan dalam riset perancangan ini. Selanjutnya, hasil perancangan ini telah digunakan oleh PT Sinergi Sapta Jaya (PT SSJ) yang memiliki core pada pengembangan SID (Sistem Informasi Digital) berbasis mobile apps, web apps, dan dekstop apps. Karya desain aplikasi digital bergerak (mobile) memiliki fitur-fitur mudah dioperasikan (informatif & komunikatif), sehingga mempermudah tugas sekolah dalam menjalankan administrasi sekolah, serta menjembatani komunikasi antara siswa, orang tua, dan guru berkaitan dengan informasi akademik di sekolah.Educational Information System Application Design Digital Based ABSTRACT The world of education in Indonesia is currently facing problems, including the massive advancement of Digital Information Technology, Education regulations, and management concerning Human Resources, curriculum, and learning methods; the impact of the post-pandemic COVID-19 has affected behaviour (socio-cultural), as well as the emergence of a new paradigm of the learning process. The purpose of this design research is to realize the design of digital information system applications that are needed by the community. Digital application designs that can integrate curriculum, methods, and mobile learning processes can be effective, efficient, and attractive to students. The design method from Karjaluoto with seven stages (Define, Research, Ideate, Prototype, Select, Implement, and Learn) was used in this design research. Furthermore, the results of this design have been used by Sinergi Sapta Jaya (SSJ., Ltd.), which has a core in developing DIS (Digital Information System) based on mobile, web, and desktop apps. Mobile digital application design works have easy-to-operate (informative & communicative) features, making it easier for schools to carry out school administration and bridging communication between students, parents, and teachers regarding academic information at school.
Koordinasi Interpersonal Pemain Musik dalam Pertunjukan Musik Kamar (Studi Kasus Kelompok Kuartet Gesek Semi-Profesional di Yogyakarta) Azinuddin Milzam Dwitiya
INVENSI Vol 8, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v8i2.7965

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana cara kelompok kuartet gesek melakukan koordinasi antar pemain selama proses latihan dan pertunjukan. Kuartet gesek dianggap seperti sebuah organisasi karena di dalamnya terdapat interaksi sosial yang kompleks. Bermain dalam kuartet gesek memerlukan konsentrasi yang intens untuk saling mendengarkan sambil berkomunikasi agar menciptakan musik yang harmonis. Namun, musisi sering kali terlalu memusatkan perhatian pada notasi musik sehingga mengabaikan rekan bermainnya dan menghilangkan sifat ansambel itu sendiri sebagai percakapan musikal. Karenanya, pemain harus menyiapkan strategi untuk saling berkoordinasi tanpa instruksi seorang konduktor. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara semiterstruktur pada kelompok kuartet gesek semi-profesional di Yogyakarta. Temuan menunjukkan bahwa sosok pemimpin tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam kelompok kuartet gesek selama proses bermusik. Tidak seperti penelitian sebelumnya, yang menyarankan perlunya peran pemimpin dalam kelompok, mereka berkoordinasi menggunakan komunikasi nonverbal seperti gerakan tubuh, gestur, dan kontak mata untuk saling berbagi informasi dan pengetahuan musikal. Performers’ Interpersonal Coordination in Chamber Music Performance(A Case Study of Semi-Professional String Quartet Group in Yogyakarta) ABSTRACT The study aims to examine how the string quartet group coordinates among chamber music performers during the rehearsal and performance process. String quartet is considered an organisational since it involves complex social interactions. Playing in a string quartet requires intense concentration in relation to one another while interacting to create harmonious music. However, players are frequently preoccupied with musical notation that they disregard their partners, depriving the ensemble of its unique essence as a musical conversations. As a result, performers must devise a strategy to cooperate with each other without the assistance of a conductor. The qualitative research method was employed with data collected through semi-structured interviews with semi-professional string quartet groups in Yogyakarta. The findings reveal that the leader figure has no significant impact on the string quartet group during the performance. Unlike previous studies, which suggests the need for a leader role in the group, they share informations and musical understanding through nonverbal communication such as body movements, gestures, and eye contact.
Beat Frequency: Liminal Ritme dan Timbre dalam Musik Spektral Pamungkas, Yayi Wira
INVENSI Vol 9, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i1.9345

Abstract

Penulis meninjau bahwa karya musik spektral pada umumnya membutuhkan waktu yang panjang untuk menggerakkan setiap bagiannya. Hal ini disebabkan oleh lemahnya ritme atau aspek waktu dalam musik spektral karena musik spektral lebih berfokus pada dominasi timbre daripada kompleksitas melodi dan nilai not, serta sulitnya menghubungkan “timbre” (sebagai preferensi musik spektral) dengan “ritme” (sebagai kebutuhan untuk mengembangkan struktur musik). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami titik temu ritme dan timbre yang dihasilkan oleh liminalitas beat frequency dan spektralisme serta menemukan teknik komposisi musik spektral yang menghasilkan ritme kuat melalui eksperimen beat frequency. Penelitian ini menggunakan practice-led research dengan enam tahap penelitian yang berkorelasi satu sama lain. Dari ketiga hasil eksperimen disimpulkan bahwa konsekuensi formal untuk menciptakan musik spektral yang mempunyai ritme kuat melalui eksperimen beat frequency, yaitu (1) struktur makro berasal dari pertumbuhan organik ritme dan timbre yang dihasilkan oleh liminalitas beat frequency dalam spektrum bunyi, (2) beat frequency yang dihasilkan oleh setiap kombinasi parsial yang berinterval disonansi mempunyai hubungan konsepsi dan persepsi, dan (3) pengaliran, progresivitas, dan klimaks berbasis superposisi dan manipulasi kompleksitas beat frequency dari spektrum bunyi yang akan digunakan sebagai bahan. Beat Frequency: Rhythm and Timbre Liminal in Spectral Music ABSTRACTSpectral pieces generally take a long time to move each part. This is due to the weak rhythm or timing aspect in spectral music because spectral music focuses more on timbre dominance than melodic complexity and note value, and the difficulty of connecting “timbre” (as a spectral music preference) with “rhythm” (as the need to develop a music structure). This research aims to determine and understand the meeting point of rhythm and timbre produced by beat frequency liminality and spectralism to find a spectral music composition technique that has a strong rhythm through beat frequency experiments. This research uses practice-led research with six stages of research that are correlated with each other. From the three experimental results, it can be concluded that the formal consequences for composing spectral music that has a strong rhythm through beat frequency experiments are (1) the macrostructure comes from the organic growth of rhythm and timbre produced by the liminality of the beat frequency in the sound spectrum, (2) the beat frequency is produced by each partial combination with dissonance intervals having a conception and perception relationship, and (3) flow, progression, and climax based on superposition and placement of the beat frequency complexity of the sound spectrum to be used as material.
Keistimewaan Wanita Minangkabau dalam Karya Seni Lukis “Alua Tataruang Patah Tigo, Samuik Tapijak Indak Mati” Fauza, Norma
INVENSI Vol 8, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v8i2.8280

Abstract

Tujuan penciptaan ini yaitu menyampaikan bahwa istimewanya kedudukan wanita Minang dalam garis keturunan ibu (matrilineal) melalui ungkapan “alua tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati.” Ungkapan ini merupakan bentuk arti kekuatan dan kelembutan wanita Minang. Hal ini menjadikan ide dalam penciptaan karya seni yang dihadirkan. Kedudukan wanita Minang di Minangkabau sangat dihargai peranannya dalam suatu kaum. Bundo Kanduang merupakan wanita yang dituakan di suatu kaum yang paham dengan peraturan, nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau. Bundo kanduang juga mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan keputusan-keputusan atau peraturan-peraturan yang dibuat dalam suatu kaum. Nilai adat budaya Minangkabau juga mengalami pergeseran-pergeseran. Hal ini tidak hanya terjadi di luar Minangkabau saja namun juga terjadi di dalam adat itu sendiri. Adapun realitas perkembangan adat Minangkabau hari ini menjadikan ide dalam karya penciptakaan dalam bentuk karya seni lukis dua dimensional figuratif dengan menggunakan teknik impasto. Dalam proses penciptaan penulis menggunakan metode David Campbell karena sesuai dengan proses penciptaan yang penulis lakukan. Bentuk karya yang penulis hadirkan yaitu representasional dengan menghasilkan enam karya, pada keenam karya ini figur wanita menjadikan objek utamanya. Pada enam karya ini penulis mencoba mengekspresikan kedudukan wanita Minangkabau melalui karya seni lukis.  Privileges of Minangkabau Women in Painting (“Alua Tata Ruang Patah Tigo, Samuik Tapijak Indak Mati”) ABSTRACT The purpose of this creation is to convey the special position of Minang women in the maternal lineage (matrilineal) through the expression alua tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati". This expression is a form of meaning of Minang strength and tenderness. woman. This makes the idea in the creation of the artwork presented. The position of Minang women in Minangkabau is highly valued because of their role in society. Bundo Kanduang is an old woman in the community who understands the rules, customary values and Minangkabau culture. Bundo kanduang also has a very important role in determining decisions or regulations made within a clan. Minangkabau cultural customary values have also experienced a shift. This is not only happening outside Minangkabau but also within the adat itself. As for the reality of the current development of Minangkabau adat, the idea in creating works is in the form of two-dimensional figurative paintings using the impasto technique. In the creation process the author uses David Campbell method because it is in accordance with the creation process that the author is doing. The form of work presented by the author is representational in nature by producing six works, in these six works the female figure is the main object. In these six works, the author tries to express the position of Minangkabau women through painting.   
Fenomena Ketakutan Cinta Beda Agama sebagai Ide dalam Karya Seni Rupa Pambudi, Andreas Rilo
INVENSI Vol 9, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i1.8956

Abstract

Penelitian artistik ini dilakukan sebagai upaya untuk mengobservasi dan mengeksplorasi aspek di dalam tema fenomena ketakutan cinta beda agama untuk dapat dijadikan gagasan dalam penciptaan karya seni. Tujuan penelitian penciptaan seni ini adalah menciptakan karya seni yang inovatif dan eksploratif guna memantik suatu wacana bersifat kontradiktif yang masih dianggap tabu oleh masyarakat. Metode practice-based research digunakan dalam penelitian ini agar peneliti menyatu dengan objek yang dikerjakan dalam penghayatan secara timbal balik (prinsip in and through). Selain itu, metode practice-based research perlu melihat metode penciptaan terpublikasi sehingga tidak subjektif dan rinci dalam menguraikannya. Terdapat lima tahapan pada metode penciptaan David Campbell yang dijadikan rujukan, yaitu preparation, concentration, incubation, illumination, dan verification. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah karya yang merupakan hasil olah permasalahan fenomena cinta beda agama seperti sebuah kesalahan manusia. Karya ini secara teknis adalah hasil olah berbagai referensi visual, perpaduan gaya berkesenian sebelumnya, dan juga menggunakan material yang dipilih sebagai aspek dalam penyajian karya. Phenomences of Fear on Different Religious Love as Idea in ArtworksABSTRACTThis artistic research was an attempt to observe and explore any aspect of phenomenons of fear on different religious love so that it can be used as an idea in the creation of works of art. The purpose of this research on art creation is to create innovative and explorative works of art to ignite contradictory discourses that are still considered taboo by the public. This artistic research method is practice-based research, where the researcher blends with the object that is carried out in a reciprocal appreciation (the principle of in and through), he must also refer to the published creation method, so that it is not subjective, and the explanation is detailed. Five stages in David Campbell's method of creation are used as references, namely preparation, concentration, incubation, illumination, and verification. The results of this study are in the form of works that are the result of processing the problem of the love phenomenon between religions as a human error. This work is technically the result of the processing of various visual references, a combination of graffiti techniques, and uses the selected material as an aspect in the presentation of the work.
Kajian Proses Belajar Ansambel Musik Kolintang Kayu di RBN Wale Ma’zani Minahasa Tomohon Virgina Mariana Aray
INVENSI Vol 8, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v8i2.8418

Abstract

Ansambel Musik Kolintang Kayu (AMKK) Minahasa merupakan warisan budaya masyarakat Minahasa yang perlu dipelajari dan dilestarikan. RBN Wale Ma’zani sebagai Rumah Budaya Nusantara yang menaungi berbagai proses kreatif seni budaya Minahasa telah menghasilkan pemain dan pelatih yang berpengalaman dan berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran AMKK di RBN Wale Ma’zani Minahasa Tomohon. Melalui metode penelitian deskriptif kualitatif, data diperoleh berdasarkan observasi di lokasi penelitian, wawancara terstruktur dan tidak terstruktur dengan pelatih dan anak sanggar, serta dokumentasi selama proses latihan. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif, dengan keabsahan data yang diperoleh melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran AMKK menggunakan pendekatan pembelajaran aktif (active learning) dengan strategi pembelajaran ekspositori. Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode ceramah, demonstrasi, tutor sebaya, mengajar beregu, latihan/drill, dan pembagian tugas. Teknik dan taktik pembelajaran yang digunakan adalah pembawaan materi dengan tegas, serta pengulangan materi dengan pemberian hukuman dan penghargaan. Pembelajaran reguler terdiri dari latihan dasar dan latihan lanjutan. Pembelajaran nonreguler terdiri dari latihan dasar, latihan lanjutan, dan gladi/simulasi. Evaluasi dilakukan selama proses latihan, gladi/simulasi, serta gelar seni dan festival AMKK. Study of the Learning Process of the Kolintang Kayu Musical Ensemble at RBN Wale Ma’zani Minahasa Tomohon ABSTRACT The Minahasa Kolintang Kayu Musical Ensemble (AMKK) is a cultural heritage of the Minahasa people that needs to be studied and preserved. RBN Wale Ma’zani as the Archipelago Culture House which oversees various creative processes of Minahasa arts and culture, has produced experienced and quality players and coaches. This study aims to describe AMKK learning at RBN Wale Ma’zani Minahasa Tomohon. Through a qualitative descriptive research method, data was obtained based on observations at the research location, structured and unstructured inverviews with coaches and members, as well as documentation during the training process. Data were analyzed using qualitative descriptive analysis techniques, with the validity of the data obtained through triangulation. The results showed that: AMKK learning uses an active learning approach with an expository learning strategy. The learning methods used are lectures, demonstrations, peer tutoring, team teaching, drills, and division of tasks. The learning techniques and tactics used are emphasizing the material, and repeating the material by giving punishments and reward. Regular learning consists of basic exercises and advanced exercises. Non-regular learning consists of basic training, advanced training, and rehearsals/simulations. Evaluation is carried out during the training process, rehearsals/simulations, as well as art exhibitions and AMKK festivals.