cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 143 Documents
Mitos Bawang sebagai Ide Penciptaan Seni Lukis Bashory, Kharisma Adi
INVENSI Vol 9, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i2.11109

Abstract

Penelitian artistik ini dilakukan sebagai upaya untuk memberi pandangan baru terhadap mitos karena sering kali mitos hanya dianggap pesan oral tuturan yang sulit dipahami dan begitu abstrak. Teori Roland Barthes digunakan untuk mencari sebuah makna denotasi dari beberapa pesan mitos yang berkembang, khususnya pada mitos tumbuhan bawang. Tujuan penelitian penciptaan seni ini adalah menciptakan karya seni yang mempunyai cara pandang positif terhadap mitos tumbuhan bawang guna memantik wacana pentingnya merawat pikiran dan menjaga kesehatan. Metode penelitian artistik ini adalah practice-based research. Peneliti sebagai subjek, menyatu dengan objek penelitian, dalam penghayatan secara timbal-balik (prinsip in and through), serta merujuk metode penciptaan terpublikasi agar pemaparannya rinci dan tidak subjektif. Terdapat lima tahapan pada metode penciptaan David Campbell yang dijadikan rujukan, yaitu preparation, concentration, incubation, illumination, dan verification. Hasil penelitian ini berupa karya yang merupakan hasil olah permasalahan mitos tumbuhan bawang. Karya ini secara teknis menggunakan teknik akuarel dengan penggunaan media dari olahan tumbuhan bawang dan beberapa bahan alam lain untuk mempertajam korelasi ide gagasan konsep dan medium sehingga audiens dapat menangkap pesan yang terkandung di dalam karya. The Myth of Union as Creation Idea of Painting ABSTRACT Artistic research is carried out in an effort to give a new look at the myth. Because that myth is often just a speech message that is hard to understand and so abstract. By using the theory of Roland barthes to seek a denological meaning of several texts that developed. The purpose of this art creation research is to create works of art that have a positive view of myths, in addition to making myths a means of love for the environment, encouraged by innovative materials and exploratory use of natural dyes to stimulate the notion of the importance of caring for our minds and maintaining the relationship between man and nature and the creator. This method of artistic research is practice based research, researchers fused with objects that are done in mutual application (the in and through principle), and must also refer to the method of published creation, thus avoiding its subjective and elaborate design. There are 5 stages in the referral of David Campbell's creative methods: preparation, concentration, interbation, tolerance, and verification. This study was a work that was the product of a sort of Myth problem, such as definitions and philosophical myths. The work is technically the product of a variety of mythical oral messages as well as visual references, using an acupuncture technique using a medium of natural processed to improve the correlations of concept ideas and mediums in harmony with the environment and being able to project positive vibrations to maintain the environment at all times.
Komposisi Programma-Representatif dengan Konversi Idiom Musik Batak Toba dan Chromatic Mediant Manalu, Yohanes Tanaka Pangihutan; Sagala, Jayanti Mandasari
INVENSI Vol 9, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i2.9477

Abstract

Pernikahan merupakan peristiwa penting dalam kehidupan manusia karena menyatukan dua karakter dengan latar belakang yang berbeda. Pria, wanita, dan penyatuan pria dan wanita adalah tiga bagian dari pernikahan. Ketiga bagian ini menjadi representasi tiap bagian dalam penciptaan komposisi musik. Sifat atau karakter dari pria, wanita dan penyatuan pria dan wanita menjadi ekstra-musikal dalam pengolahan komposisi musik programma. Metode penciptaan pada komposisi musik ini menggunakan beberapa tahapan, yaitu eksplorasi, eksperimentasi, pengaplikasian dan penyajian karya. Komposisi ini merupakan musik baru dengan pengolahan konversi idiom musik Batak Toba dengan medium musik barat, yaitu solo cello dan chamber orchestra, yang mengambil sifat dari bentuk musik barat yaitu concerto. Cello berperan sebagai solo dengan mengambil gaya permainan sulim, chamber orchestra mengambil gaya permainan taganing dengan teknik pizzicato. Komposisi ini menggunakan sistem harmoni barat chromatic mediant dari Stefan Kostka dan pengolahan idiom musik Batak Toba dengan pola ritmis dan tangga nada pentatonik. Komposisi musik ini diciptakan dalam tiga gerakan untuk mewakili ketiga bagian representasi pernikahan, yaitu sonata, variation and theme, rondo. Pemberian judul Nadua Gabe Sada berasal dari bahasa Batak Toba yang berarti ‘dua menjadi satu’ sebagai bagian penting dalam peristiwa pernikahan.Programmatic-Representative Composition with Conversion of Batak Toba Musical Idioms and Chromatic mediants ABSTRACT Marriage is an important event in human life because it unites two characters with different backgrounds. Man, woman, and the union of man and woman are the three parts of marriage. These three parts become ideological representations of each part in the creation of a musical composition. The nature or character of men, women and the unification of men and women becomes extramusical in the creation of programmatic music composition. The method of creating this musical composition uses several stages, namely exploration, experimentation, application and presentation of the work. This composition is a new music with the conversion of Batak Toba music idioms to western music, namely solo cello and chamber orchestra, which take the characteristics of western musical forms, concerto. The cello acts as a solist by taking the sulim playing style, the chamber orchestra takes the taganing playing style with the pizzicato technique. This composition uses a chromatic mediant western musical harmony system from Stefan Kostka and the cultivation of Batak Toba music idioms with rhythmic patterns and pentatonic scales. This musical composition was created in three movements to represent the three parts of the representation of marriage, namely sonata, variation and theme, rondo. The title Nadua Gabe Sada derived from Batak Toba language which means 'two become one' as an important part of the marriage event.
Refresentatif Budaya Dilihat dari Syair Lagu Sasak dalam Karya Seni Rupa Afaqhi, Akhmad Dhinus
INVENSI Vol 9, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i2.10881

Abstract

Dalam pewarisan kebudayaan masyarakat adat ke generasi selanjutnya, masyarakat menginternalisasi budaya melalui tradisi lisan atau disebut dengan folklore. Hal ini disampaikan secara turun temurun, baik dalam bentuk lisan maupun isyarat dengan symbol dari alat bantu pengingat. Kekayaan budaya, dalam hal ini khususnya budaya sasak, banyak terekam dalam kazanah tradisi lisan dan kelisanan. Sistem nilai dan sistem pengetahuan ditranformasikan ke dalam tradisi lisan, pengetahuan tentang pengobatan, arsitektur, dan perhitungan mangsa. Tujuan penelitian ini, (1) mendeskripsikan dan mengklasifikasikan bentuk-bentuk satuan lingual istilah budaya yang terkandung dalam lirik lagu bahasa Sasak, (2) mendeskripsikan dan mengklasifikasikan makna-makna istilah budaya yang terkandung dalam lirik lagu bahasa Sasak. (3) menciptakan karya seni yang dilandasi dari setiap bait lagu sasak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan metode pengumpulan data untuk menghasilkan data dengan bentuk satuan istilah budaya dan makna budaya yang terkandung dalam lirik lagu Sasak. Representative of Culture as Reflected in Sasak Song Lyrics in Visual Artworks ABSTRACT In the cultural inheritance of the indigenous peoples to the next generation, the community internalizes the culture of the oral tradition or is called folklore. This is conveyed from generation to generation, either in oral form or in signs with symbols from reminders. Cultural wealth, in this case, especially the Sasak culture, is recorded in the realm of oral traditions and orality. The value system and knowledge system are transformed into the oral tradition, knowledge about medicine, architecture, and calculation of prey. The purpose of this research, (1) describe and classify the meanings of cultural terms that contained in the lyrics of Sasak language song. (3) creating artworks based on each verse of Sasak song. This research uses descriptive methods and collecting data methods to produce data in the form of cultural terms and cultural meanings contained in the lyrics of the Sasak traditional song.
Eksistensi dan Perubahan Tingkilan dalam Kebudayaan Masyarakat Kutai Kecamatan Tenggarong Kutai Kartanegara Kalimantan Timur Suprayedno, Suprayedno
INVENSI Vol 9, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i2.9745

Abstract

Tingkilan merupakan manifestasi produk budaya dari perilaku masyarakat Melayu Kutai yang memiliki peran serta nilai luhur yang terkandung di dalam kehidupan. Permasalahan yang terjadi pada situasi dan kondisi sosio-kultural masyarakat Kutai, memberikan peluang bagi kebudayaan tersebut untuk terus maju dan berkembang menyesuaikan zaman. Ketika keberadaan Tingkilan yang menjadi akar dan pijakan mulai ditinggalkan, maka bisa dipastikan mereka akan kehilangan sumber informasi yang menjadi pegangan hidup berbudaya dalam masyarakat Kutai. Penelitian ini bertujuan untuk melihat permasalahan yang terjadi dalam kebudayaan masyarakat Kutai Kartanegara melalui musik Tingkilan dengan menggunakan pendekatan etnomusikologi. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode deskriptif analitis dan menggunakan pendekatan etnomusikologi sebagai payung utama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan bentuk kesenian Tingkilan terjadi karena adanya peran pemerintah dan kebutuhan praktis masyarakat Kutai dalam memaknai perubahan zaman. Kesadaran tentang menyikapi suatu masalah justru memberi kesempatan pada kebudayaan masyarakat Kutai melalui musik Tingkilan untuk semakin inovatif dan dinamis dalam pengetahuan musik dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakatnya.Existence and Changes in Tingkilan within the Culture of the Kutai Community in Tenggarong, Kutai Kartanegara, East Kalimantan ABSTRACT Tingkilan is a cultural product manifestation of the behavior of the Kutai Malay people who have roles and noble values contained in life. The problems that occur in the socio-cultural situation and conditions of the Kutai community provide opportunities for this culture to continue to progress and develop to adapt to the times. When the existence of Tingkilan, which is the root and foothold, begins to be abandoned, it is certain that they will lose the source of information that is the basis for cultural life in Kutai society. This research aims to look at the problems that occur in the culture of the Kutai Kartanegara community through Tingkilan music using an ethnomusicological approach. This research is qualitative with analytical descriptive methods and uses an ethnomusicological approach as the main umbrella. The results of this research show that changes in the form of Tingkilan art occurred because of the role of the government and the practical needs of the Kutai people in interpreting changing times. Awareness about responding to a problem actually provides an opportunity for the culture of the Kutai people through Tingkilan music to be more innovative and dynamic in their musical knowledge by adapting to the needs of the community.
Makna Visual Tokoh Bratasena dalam Wayang Kulit Gaya Pakualaman Restu Aji, Abimanyu Yogadita
INVENSI Vol 9, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i2.11155

Abstract

Wayang kulit yang berkembang di Jawa memiliki berbagai macam gaya. Salah satu gaya adalah gaya Pakualaman. Terdapat ciri khusus yang membedakan antara wayang kulit Pakualaman dengan gaya wayang kulit lain. Penambahan atribut keris merupakan ciri khusus yang ada pada wayang kulit gaya Pakualaman. Penelitian ini bertujuan untuk menguak makna visual pada tokoh Bratasena gaya Pakualaman serta korelasinya dengan pemakaian atribut keris. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data penelitian didapatkan dengan melakukan observasi langsung ke lapangan dan wawancara dengan narasumber yang menguasai topik yang sedang diangkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tambahan atribut keris berfungsi untuk lebih memanusiakan wayang kulit, karena wayang kulit Kyai Jimat gaya Pakualaman bukan diciptakan untuk pertunjukan. Penggunaan atribut keris merupakan gambaran keseharian atribut yang digunakan di lingkungan Pakualaman. Makna visual dari tokoh Bratasena sesuai yang terdapat dalam naskah Sestradisuhul, Bratasena digambarkan sebagai tokoh yang kuat, teguh pendirian, pembela kebenaran dan lurus kemauannya, hal itu merupakan nasihat yang ditujukan kepada keluarga Pakualaman. The Visual Meaning of the Character Bratasena in the Pakualaman Style of Leather Puppet ABSTRACT Shadow puppets that developed in Java have various styles. One style is the Pakualaman style. There are special characteristics that differentiate Pakualaman shadow puppets from other shadow puppet styles. The addition of the keris attribute is a special characteristic of Pakualaman style shadow puppets. This research aims to reveal the visual meaning of the Pakualaman style Bratasena character and its correlation with the use of keris attributes. The method used in this research is a qualitative descriptive method. Research data was obtained by conducting direct observations in the field and interviews with sources who mastered the topic being discussed. The results of the research show that the additional attribute of the keris serves to further humanize the wayang kulit, because the Pakualaman style of wayang kulit Kyai Jimat was not created for performance. The use of keris attributes is an illustration of the everyday attributes used in the Pakualaman environment. The visual meaning of the character Bratasena is in accordance with that contained in the Sestradisuhul text, Bratasena is described as a strong figure, firm in his stance, defender of truth and straight in his will, this is advice addressed to the Pakualaman family.
Refleksi Fenomena Kontradiktif Desa dan Urban dalam Karya Musik Berjudul Mantani Zuzrilfikar, Ujung
INVENSI Vol 9, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i2.9389

Abstract

Kontradiksi dalam realita sosial sering kali menjadi hal yang berujung konflik. Konflik tersebut dapat berupa konflik sosial, komunikasi, hingga konflik lahan. Pada lingkup fenomena desa dan urban pada era sekarang, kedua lingkup tersebut memiliki pola perkembangan yang sangat berbeda. Lingkup desa memiliki kecenderungan pola hidup agraris sebagai way of life, sedangkan pola hidup urban lebih pada sistem produksi ekonomi kapitalis. Dari perbedaan kedua aspek tersebut memperjelas bahwa urgensi permasalahan sangat penting karena apabila fenomena kontradiktif tersebut bergesekan secara terus-menerus akan menyebabkan kesenjangan sosial yang sangat berjarak bahkan menimbulkan konflik fisik. Dari fenomena kotradiktif tersebut, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan komposisi musik foreground vs background dari Alan Belkin untuk menganalisis. Karya seni dalam hal ini karya musik dari Ujung Zu yang berjudul Mantani diharapkan dapat mejadi snapshot momentum kontradiktif desa dan urban. Secara garis besar karya musik berjudul Mantani memiliki tujuan untuk merefleksi pemikiran manusia tentang desa dan urban, sehingga pemikiran manusia tidak pada sudut pandang konflik melainkan pada sisi nilai humanis yang ada pada lingkup desa maupun lingkup urban. Berdasarkan kedua hal tersebut, secara filosofis karya Mantani menawarkan pembuktian bahwa Art is Universal ataukah akan lebih tepat apabila Art is Pluralism. Reflections of Rural and Urban Contradiction Phenomena in The Music Composition Entitled Mantani ABSTRACT Contradictions in social reality often led to conflict. These conflicts can be in the form of social conflicts, communication to land conflicts. In the current era of rural and urban phenomena, the two spheres have very different development patterns. The scope of the rural has a tendency towards an agrarian lifestyle as a way of life, while the urban lifestyle is more towards a capitalist economic production system. From the differences between these two aspects, the urgency of the problem is very important because if these contradictory phenomena rub together continuously, it will cause social inequality that is very distant and even cause physical conflict. From these contradictory phenomena, the writer uses a qualitative research method with a phenomenological approach and Alan Belkin’s foreground vs background music composition to analyze. It hoped that the artwork, in this case the musical piece from Ujung Zu, entitled Mantani, can become a snapshot of the contradictory momentum of rural and urban areas. Broadly speaking, the musical work entitled Mantani has the goal of reflecting on human thoughts about rural and urban areas, so that human thoughts are not based on a conflict perspective but on the side of humanist values that exist in both the rural and urban spheres. Based on these two things, philosophically, Mantani work offers proof that Art is Universal, or would it be more appropriate if Art is Pluralism.
Representasi Kepercayaan Marapu pada Film “Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak” Mustofa, Nurudin Sidiq
INVENSI Vol 9, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i2.11129

Abstract

Pada tahun 2017, dirilis film bergenre western berjudul Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak dan mendapat respons positif dengan lebih dari 34 nominasi penghargaan festival film dan pemutaran di lebih dari 10 negara karena mengangkat isu patriarki dan latar budaya yang ditampilkan. Film yang berlatar tempat di Sumba ini menampilkan kepercayaan asli Indonesia yang hampir punah yaitu kepercayaan marapu. Akan tetapi dalam pembuatan film tersebut, bisa terjadi bias konfirmasi yang menyebabkan kesalahan representasi budaya yang diangkat ke dalam film, yang dapat terjadi akibat ideologi personal yang dianut sang filmmaker. Penelitian ini berusaha untuk melihat apakah terdapat bias yang terjadi pada saat merepresentasikan kepercayaan marapu ke dalam film dan juga melihat representasi kepercayaan marapu apa saja yang ada dalam film. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, visual methodologies dari Gillian Rose dan analisis data menggunakan teori representasi dari Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada bias konfirmasi yang terjadi pada representasi kepercayaan marapu pada film Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak. Selain itu, ditemukan tiga unsur kepercayaan yang direpresentasikan dalam film yaitu, kepercayaan marapu itu sendiri, upacara Pahadangu, dan sistem pembelisan. The Representation of Marapu Belief on the ‘Marlina the Murderer in Four Acts’ Film ABSTRACT In 2017, the western genre film entitled “Marlina the Murderer in Four Acts” was released and received a positive response with more than 34 film award nominations and screenings in more than 10 countries due to the patriarchy issues and cultural setting presented. The film, which is set in Sumba, shows the almost extinct original belief in Indonesia, namely the marapu belief. However, in filmmaking, confirmation bias can occur which causes misrepresentation of the culture that is raised into the film that occurs because of the personal ideology adopted by the filmmaker. This study seeks to see if there is a bias that occurs when representing marapu's beliefs in the film and also to see what marapu belief represented in the film. This research uses descriptive qualitative research method, visual methodologies theory by Gillian Rose, and data analysis using representation theory by Stuart Hall. The results showed that no confirmation bias occurred in the representation of marapu's belief in the film "Marlina the Killer in Four Acts". In addition, there are three elements of marapu belief that are represented in the film: the marapu belief itself, the Pahadangu ceremony, and the ‘pembelisan’ or bride price system.
Menggabungkan Seni, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi: Eksplorasi HONF Terhadap Batas-batas Ekologi dan Ilmu Pengetahuan Widyaningrum, Irene Agrivina; Apriliawan, Gilang Wahyu
INVENSI Vol 9, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i2.14193

Abstract

House of Natural Fiber (HONF), yang didirikan pada tahun 1999 di Yogyakarta, Indonesia, merupakan sebuah kolektif seni inovatif yang menggabungkan seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk mengatasi masalah-masalah sosial, lingkungan, dan budaya yang mendesak. Proyek-proyek HONF, termasuk “Galactica V.2 Dharma Garden” dan “Immaculate Virtue,” mencontohkan pendekatan lintas-disiplin yang menggabungkan visualisasi data, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), seni lingkungan (environmental art), dan ilmu saraf (neuroscience). “Galactica V.1-2.1 Dharma Garden” menata ulang hubungan antara spiritualitas, ekosistem, dan keberlanjutan, dengan menggunakan seni lingkungan spekulatif dan kecerdasan buatan untuk memodelkan sistem ekologi. “Immaculate Virtue” menggunakan AI dan neurofeedback untuk merepresentasikan kemurnian spiritual, mengubah interaksi audiens menjadi pengalaman yang dinamis dan imersif. Kedua karya tersebut membahas masalah ekologi, menekankan keberlanjutan, dan mengeksplorasi bagaimana seni memengaruhi kognisi dan emosi. Proyek-proyek HONF menyoroti dedikasi mereka untuk memajukan kolaborasi interdisipliner, memberdayakan masyarakat, dan memperluas cakrawala praktik seni kontemporer. Combining Art, Science, And Technology: HONF's Exploration of Ecological and Scientific Frontiers ABSTRACT The House of Natural Fiber (HONF), established in 1999 in Yogyakarta, Indonesia, is an innovative art collective combining art, science, and technology to tackle pressing social, environmental, and cultural issues. HONF’s projects, including "Galactica V.2 Dharma Garden" and "Immaculate Virtue," exemplify a cross-disciplinary approach incorporating data visualization, artificial intelligence, environmental art, and neuroscience. "Galactica V.1-2.1 Dharma Garden" reimagines the connections between spirituality, ecosystems, and sustainability, using speculative eco-art and AI to model ecological systems. "Immaculate Virtue" employs AI and neurofeedback to represent spiritual purity, transforming audience interaction into dynamic, immersive experiences. Both works address ecological concerns, emphasize sustainability, and explore how art influences cognition and emotion. HONF's projects highlight their dedication to advancing interdisciplinary collaboration, empowering communities, and expanding the horizons of contemporary art practice.
Eksplorasi Bibir Berdasarkan Fenomena Bullying dalam Film “Baper” melalui Close-Up Shot Ramadhani, Zukhrofa Rizkiana
INVENSI Vol 9, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i2.9484

Abstract

Fenomena bullying adalah tindakan yang dilakukan untuk menyakiti, baik dalam bentuk verbal, psikologis atau emosional, serta dapat juga dalam bentuk fisik. Penindasan verbal tipe kedua ini berkaitan erat dengan perkembangan bahasa yang terjadi di masyarakat. Perkembangan bahasa dalam berkomunikasi selalu bertambah dengan istilah-istilah gaul yang populer di kalangan masyarakat. “Baper (bawa perasaan) banget sih”, ini adalah kalimat yang sering penulis dengar ketika penulis menggunakan perasaan saat merespons sesuatu seperti candaan verbal atau perlakuan nonverbal dari orang lain. Semakin lama, levelnya semakin meningkat menjadi sebuah indikator mengenai yang asyik dan tidak. Masyarakat tidak menyadari kalau penggunaan bahasa ini termasuk dalam kategori bullying. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana eksplorasi bibir berdasarkan fenomena bullying dalam film “Baper” melalui close-up shot. Metode penelitian yang dilakukan oleh penulis merupakan tahapan proses penciptaan karya video yang dipaparkan oleh Josef Steiff. Tahapan tersebut yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Sebuah pemilihan teknik pembuatan film sangat penting untuk diperhatikan agar pesan tertentu dapat tersampaikan ataupun diinterpretasikan sesuai dengan maksud pencipta karya film. Sebuah simbol memiliki peran yang penting, karena menjadi representasi mendalam dari sebuah ide. Simbol yang penulis tunjukkan dalam film “Baper” ini adalah bibir yang menjadi representasi tokoh Tiara yang menderita secara batin. Lip Exploration Based on the Bullying Phenomenon in the Film “Baper” through Close-Up Shots ABSTRACT The phenomenon of bullying forms and of hurting others, whether in verbal, psychological or emotional forms, and can also manifest as physical abuse. The second type of verbal harassment is closely related to the development of language in society. The evolution of language in communication is always expanding with the emergence of popular slang terms among the public. "Baper (being overly emotional)", is a sentence that the author often hears when responding emotionally to verbal jokes or non-verbal behavior from others. Over time, the level of emotional response increases, becoming an indicator of what is considered enjoyable or not. Society is unaware that the use of this language falls under the category of bullying. The problem statement in this study is how the exploration of lips relates to the phenomenon of bullying in the film "Baper" through close-up shots. The research method used by the author is the stages of the video creation process presented by Josef Steiff. These stages include pre-production, production, and post-production. The selection of film-making techniques is crucial to ensure that a specific message can be conveyed or interpreted according to the creator's intentions. A symbol plays an important role, as it becomes a deep representation of an idea. The symbol used in the film "Baper" is lips, which represent the character Tiara's inner turmoil.
Gerakan Subkultur oleh Komunitas Pojok Street Art Bali Aco, Putra Wali
INVENSI Vol 9, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i2.9469

Abstract

ABSTRAK Komunitas Pojok adalah salah satu komunitas street art yang ada di Bali. Perkumpulan ini awalnya merupakan “tongkrongan” para mahasiswa STSI bersama mahasiswa kampus lain. Dalam perkumpulan tersebut, komunitas ini tumbuh sebagai bentuk penyaluran kegelisahan dan keluh kesah mereka. Berawal dari keluh kesah terhadap perspektif yang rendah terhadap mahasiswa seni rupa, kegelisahan mereka dan kepedulian mereka pun akhirnya mencakup hal-hal yang lebih luas. Seperti mengkritik isu-isu sosial, budaya, serta lingkungan yang ada di Bali. Dengan kritikan dan teori, karya mereka tercipta. Dari sana penulis ingin mendokumentasikan aktivitas dan gerakan komunitas Pojok sebagai salah satu komunitas street art di Bali, untuk mendokumentasikan gerakan “Bali yang Binal” sebagai gerakan street art oleh komunitas Pojok yang sudah berlangsung hingga 16 tahun, untuk mengkaji gerakan “Bali yang Binal” dalam prespektif teori kritis. Subculture Movement by The Pojok Street Art Bali Community ABSTRACT The Pojok Community is one of the Street Art communities in Bali, this association was originally a "hangout" for STSI students with other campus students. In these associations, this community grew as a form of channeling their anxieties and complaints. Starting from complaining about the low perspective of art students, their anxiety and concern finally covered wider things. Such as criticizing social, cultural, and environmental issues in Bali. With criticism and theorists their work was created. From there the writer wanted to document the activities and movements of the Pojok community as one of the street art communities in Bali, to document the “Bali yang Binal” movement as a street art movement by the Pojok community which has been going on for 16 years, to examine the “Bali yang Binal” movement in a critical theory perspective.