cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Klinik
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 54 Documents
HUBUNGAN TEKANAN DARAH DENGAN OBESITAS PADA REMAJA OBES DAN NON-OBES DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOUW UTARA Ratulangi, Andrew Johanes; Bodhi, Widhi; ., Fatimawali; Manampiring, Aaltje
JKK (Jurnal Kedokteran Klinik) Vol 1, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN KLINIK
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Hypertension is a non-infectious disease that is caused by many factors. Obesity is one of these factors causing hypertension, and the prevalence is increasing everyday. This study aims to see the relation of blood pressure and obesity of teenagers in North Bolaang Mongondow. This study design is a cross sectional analytic. Study sample is SMP, SMA, and MTS student in North Bolaang Mongondow. From 60 respondents, 29 were obese and 30 were not. The blood pressure of these samples was measured and the relation between blood pressure and IMT was analyzed. Result of the study that was analyzed with mann-withney test shows no significant relation between obesity and systole and diastole blood pressure (p = 0,413, p = 0,938 ; p > 0,05). With spearman correlation test, it was found that there is a very low correlation and no relation between obesity and systolic blood pressure (rs=  -0,082, p=0,536) and it was found that there is a very low correlation and no relation between obesity and diastolic blood pressure (rs=0,010, p=0,939) Conclussion: based on study that was done in SMP, SMA, and MTS in North Bolaang Mongondow it was found that there is no correlation between blood pressure and obesity. Further study is needed and it is advised to use more samples. Keywords: blood pressure, obesity, hypertension   Abstrak: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang disebabkan oleh banyak faktor.  Dari sekian banyak faktor, obesitas merupakan salah satu penyebab terjadinya hipertensi pada saat ini, dan prevalensinya terus meningkat.  Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara tekanan darah dengan obesitas pada remaja masyarakat Bolaang Mongondow Utara.  Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional.  Subjek penelitian adalah siswa-siswi SMP, SMA, dan MTS di Kabupaten Bolaang Mongondouw Utara. Reponden yang mengikuti penelitian 60 anak,   terdiri dari 29 anak obes dan 30 anak non-obes.  Selanjutnya, sampel akan diukur tekanan darahnya.  Setelah itu, dilakukan analisis hubungan tekanan darah dengan IMT.  Hasil penelitian yang telah diolah menggunakan program statistik dengan uji mann-whitney menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara obesitas dengan tekanan darah sistolik dan diastolik ( p = 0,413, p = 0,938 ; p > 0,05). Dan dengan uji korelasi spearman didapatkan korelasi yang sangat lemah dan tidak terdapat hubungan antara obesitas dan tekanan darah sistolik (rs=  -0,082, p=0,536) dan didapatkan korelasi yang lemah dan tidak terdapat hubungan antara obesitas dan tekanan darah diastolik (rs=0,010, p=0,939) Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan di SMP, SMA, dan MTS di Kabupaten Bolaang Mongondouw Utara diperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan antara tekanan darah dengan obesitas. Untuk saat ini masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan sebaiknya dengan jumlah sampel yang lebih banyak. Kata kunci: tekanan darah, obesitas, hipertensi
MUKORMIKOSIS Adawiyah, Robiatul
JKK (Jurnal Kedokteran Klinik) Vol 1, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN KLINIK
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Mucormicosis is a mold which is currently beginning to be widely found in immunocompromised persons. Clinical manifestations are often influenced by the underlying diseases. This condition determine the type of sample taken for diagnosis. Enforcement of diagnosis is very important in the management that ultimately determines the outcome of the patient.Keywords: Mold, immunocompromised, mucormycosis ABSTRAK:  Mukormikosis adalah jamur kapang yang saat ini mulai banyak ditemukan pada individu imunokompromis. Manifestasi klinis sering dipengaruhi oleh penyait yang mendasarinya. Hal itu mempengaruhi jenis sampel yang diambil guna penegakan diagnosis. Penegakan diagnosis sangat penting dalam tatalaksana yang akhirnya menentukan outcome pasien.Kata Kunci: Jamur filamen, imunokompromis, mukormikosis
GAMBARAN KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK PENDERITA DOWN SYNDROME DI SLB YPAC MANADO Rampi, Chrisly E.N.D; Gunawan, Paulina; Pangemanan, Damayanti H.C.
JKK (Jurnal Kedokteran Klinik) Vol 1, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN KLINIK
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 ABSTRACT :   Down’s syndrome is an autosomal genetic disorder that frequently occurs and is caused by chromosome abnormalities of trisomy 21. This disorder causes disability in all respects, including maintenance oral hygiene so that any problems in the oral cavity can’t be avoided. This study aimed to obtain the oral hygiene in children with down syndrome. This was a descriptive with cross sectioal study. Samples were obtained by total sampling method. This study was conducted at SLB YPAC Manado. There were 12 children in this study. The results showed that there were 75% of children belonged to good category, 16,7% of children to fair category, and 8,3% to poor category. Conclusion: Most of the children with down syndrome in SLB YPAC Manado belonged to good category of oral hygiene.Keyword: Oral hygiene, down syndrome ABSTRAK: Down syndrome merupakan kelainan genetik autosomal yang sering terjadi dan disebabkan oleh kelainan kromosom trisomi 21. Kelainan ini menyebabkan ketidakmampuan dalam segala hal, termasuk menjaga kebersihan rongga mulutnya sehingga masalah dalam rongga mulut pun tidak dapat dihindari. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kebersihan gigi dan mulut pada anak-anak penderita down syndrome. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. Pengambilan sampel penelitian ini secara total sampling. Pengambilan data dilaksanakan di SLB YPAC Manado. Jumlah anak dalam penelitian ini adalah 12 anak. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 75%  kategori baik, 16,7% kategori sedang dan 8,3% kategori buruk. Simpulan: Gambaran kebersihan gigi dan mulut sebagian besar anak penderita down syndrome di SLB YPAC Manado termasuk dalam kategori baik.Kata Kunci: kebersihan gigi dan mulut , down syndrome
KASUS KEMATIAN YANG DIAKIBATKAN OLEH PEMBUNUHAN YANG MASUK BAGIAN FORENSIK RSUP PROF DR. R. D KANDOU MANADO TAHUN 2015 Sumampouw, Bill T; Siwu, James F; Mallo, Johannis F
JKK (Jurnal Kedokteran Klinik) Vol 1, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN KLINIK
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Death caused by murder become concerned by many people because of the increasing case nowadays. WHO listed 475.000 homicides that occured in 2012 (6,7/100.000 Population) around the world with 60% of the victims are male with average age of 15-44 years old. This research aimed to determine the profile of murder victims at Manado city in 2015 and to get data of homicides that handled by forensic department of RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado in 2015. This was a descriptive retrospective study. Data were obtained retrospectively from the Forensic Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, urban Police Station in Manado city. The results showed that the murdered cases that occurred at Manado city in 2015 were 34 cases. The 26 cases listed were autopsied by the Forensic Department meanwhile the 8 cases were not. The most victims were adults aged 26-45 years, which were 13 cases. Based on gender, 30 of 34 victims are male. Most of the cases were caused by sharp force violence and its 18 cases. Conclusion There were 34 murder cases listed that occurred at Manado in 2015. 26 cases autopsied and the rest were not. The most victims were adult, male and caused by sharp force violence. Keywords: murder, forensic, Manado Abstrak: Kasus kematian akibat pembunuhan menjadi salah satu topik hangat pada saat ini karena maraknya kejadian yang terjadi saat ini. Terbukti WHO telah mencatat  bahwa telah terjadi setidaknya 450.000 kasus pembunuhan di seluruh dunia pada tahun  2012 (6,7/100.000 Populasi) dengan 60% korban adalah laki-laki dengan rentan usia 15-44 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil korban kejahatan pembunuhan di kota Manado tahun 2015 dan untuk mendapatkan data kasus pembunuhan yang masuk di bagian forensik RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2015. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan melakukan peninjauan data yang diambil secara retrospektif di bagian forensik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Malalayang, Polres Manado. Hasil penelitian memperlihatkan tercatat kasus pembunuhan yang terjadi di Manado selang tahun 2015 sebanyak 34  kasus. 26  kasus di autopsi di bagian forensik, sementara 8 lainnya tidak Korban terbanyak ada pada kelompok usia dewasa  (26-45 tahun) sebanyak 13 kasus. Berdasarkan data jenis kelamin, 30 dari 34 korban berjenis kelamin laki-laki. Dan untuk sebab kematian, didapatkan sebab kematian terbanyak 18 kasus pembunuhan dengan kekerasan tajam. Simpulan: Tercatat 34 kasus pembunuhan yang terjadi di kota Manado selama tahun 2015. 26  kasus dilakukan autopsi dan 8 lainnya tidak. Korban pembunuhan terbanyak berada pada kelompok usia dewasa, berjenis kelamin laki-laki dan dengan sebab kematian akibat kekerasan tajam. Kata kunci: pembunuhan, forensik, Manado
SURVEI KECACINGAN PADA ANAK DENGAN RIWAYAT ALERGI DI SEKOLAH DASAR YANG TERDAPAT DI KECAMATAN WENANG KOTA MANADO Nathasia, Tjoa; Wahongan, Greta J P; Bernadus, Janno B B
JKK (Jurnal Kedokteran Klinik) Vol 1, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN KLINIK
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Helminthic infection is one of the infections commonly found in Indonesia. Immunity respond in helminthic infection is done by Th2, an immune respond that is also found in allergy. there are some theories stated regarding the relation between allergy and helminthic infection. This study aims to see the survey of helminthic infection in students with allergy history in Wenang District, Manado. This study is a cross sectional descriptive study. ISAAC questionnaire was distributed to 1000 students and after being analyzed, 56 of them are allergy positive, and 20 of them are willing to participate in this study. Feces and blood were obtained as sample. From 20 feces samples, it was found that there is no helminthic infection in any of them. From 20 blood samples, it was obtained that there are 7 (35%) samples with eosinophilia. Conclusion: based on study that was done, helmintic infection survey found all negative result in students with allergy history in Wenang District, ManadoKeywords: allergy, helminthic infection, elementary school students   Abstrak: kecacingan merupakan salah satu infeksi yang banyak ditemukan di Indonesia. Imunitas dari infeksi cacing diperankan oleh Th2, yang juga didapatkan pada alergi. Ada banyak teori yang dikemukankan mengenai hubungan alergi dengan kecacingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui survei kecacingan pada anak dengan riwayat alergi di sekolah dasar yang terletak di Kecamatan Wenang Kota Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan secara cross sectional. Sebanyak 1000 kuesioner ISAAC dibagikan dan 56 diantaranya menunjukan hasil positif alergi. Dari 56 anak dengan alergi, 20 bersedia menjadi sampel penelitian. Dilakukan pengambilan sampel berupa feses dan darah untuk diperiksa kecacingan dan eosinofilia. Dari 20 feses yang diperiksa semua menunjukan hasil negatif kecacingan. Dari 20 sampel darah yang diperiksa ditemukan 7 (35%) diantaranya mengalami eosinofilia Kesimpulan: berdasarkan penelitian yang dilakukan, survei kecacingan pada anak dengan riwayat alergi di Kecamatan Wenang, Kota Manado menunjukan hasil negatif kecacingan pada semua sampel.Kata kunci: alergi, kecacingan, anak sekolah dasar
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA DI KECAMATAN BOLANGITANG BARAT KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA Sukarno, Karina Janneta; Marunduh, Sylvia R.; Pangemanan, Damajanty H. C.
JKK (Jurnal Kedokteran Klinik) Vol 1, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN KLINIK
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Anemia merupakan salah satu permasalahan kesehatan di dunia terutama negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin dalam darah kurang dari normal. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi anemia di Indonesia yaitu 21,7%, dengan proporsi 20,6% di perkotaan dan 22,8% di pedesaan. Anemia banyak diderita oleh remaja dengan prevalensi sebesar 30-55%. Studi morbiditas pada Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 menemukan bahwa salah satu faktor resiko anemia adalah pengukuran antropometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks massa tubuh dan kadar hemoglobin pada remaja di Bolangitang Barat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan cross sectional study dan menggunakan metode total sampling dalam pengambilan sampel. Untuk menentukan indeks massa tubuh, dilakukan pengukuran antropometri khususnya berat dan tinggi badan terlebih dahulu. Kemudian dilakukan pengambilan darah  dan pemeriksaan hemoglobin dilakukan di laboratorium. Analisa data diolah dengan menggunakan bantuan program SPSS. Didapatkan Indeks Massa Tubuh (IMT) <18,5 yaitu dibawah normal ada 19 subjek (31,67%), sedangkan IMT terbanyak adalah 25-29,9 yaitu obesitas 1 ada 23 subjek (38,33%). Dengan menggunakan korelasi pearson pada tingkat kepercayaan 95%, dari 60 sampel remaja, ditemukan 6 remaja putri dengan kadar hemoglobin rendah. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara dengan kadar hemoglobin pada remaja di Bolangitang Barat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dan kadar hemoglobin pada remaja di Bolangitang Barat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Kata kunci: Indeks Massa Tubuh, Kadar Hemoglobin, Remaja. Abstract: Anemia is one of the many global health problems especially found in developing countries, including Indonesia. Anemia is a condition where the hemoglobin level is below a normal level. According to Basic Health Research  in 2013, the prevalence of anemia in Indonesia was 21.7 percent, with 20.6% prevalence found in urban area and 22.8% in rural area. Prevalence of anemia on teenagers were 30-55%. Morbidity study in 2001's Household Health Survey found that one of the risk factor for anemia is anthropometry measurement. This research is aimed at finding the body mass index and hemoglobin level in the youth of West Bolangitan, in North Bolaang Mongondow Regency. This research is done by observational analytic with cross sectional study and total sampling method. Anthropometric measure, especially body weight and height was done to measure body mass index, followed by blood sampling and laboratory test for hemoglobin. Data analysis were done with SPSS program. Body Mass Index of <18,5 or below normal, were found on 19 subjects (31,67%), while the largest group of BMI were found on 23 subjects (38,33%). By using Pearson correlation at the 95% confidence level on a sample of 60 adolescents, six female teenagers were found with low hemoglobin levels. This study shows an association between body mass index with hemoglobin levels in adolescents in West Bolangitang, North Bolaang Mongondow. Conclusion: There is a link between body mass index and hemoglobin levels in adolescents in West Bolangitang, in North Bolaang Mongondow. Keyword: body mass index, hemoglobin, youth
HUBUNGAN ANTARA MUTU PELAYANAN DENGAN KEPUASAN PASIEN DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT UMUM GMIM PANCARAN KASIH MANADO Pangerapan, Djeinne Thresye; Palandeng, Ora Et Labora I; Rattu, A. Joy M.
JKK (Jurnal Kedokteran Klinik) Vol 2, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN KLINIK
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractTo know the quality of service felt real by consumer, there is indicator of consumer satisfaction measure which lies in five dimension of service quality. The five dimensions are: Reliability, Tangibles, Responsiveness, Assurance, and Emphaty. Service and satisfaction are two things that cannot be separated, because with the satisfaction of the related parties can mutually correct to where the service provided whether to get better or worse (Kurniati, 2013). Based on the above, the purpose of this study to analyze the Relationship Between Quality Service With Patient Satisfaction in Polyclinic Diseases In General Hospital GMIM Pancaran Kasih Manado.  This research is an analytic research with cross sectional study design which conducted on October 2017 - January 2018 at Poliklinik Disease in General Hospital of GMIM Pancaran Kasih Manado. The sample of research based on the calculation Using Single Proportion Formulas is 97 people. Sampling method by quota sampling. The analysis used chi-square test at ranging from univariate, bivariate, and multivariate.  The results showed that the value of p value between physical evidence (0.001), reliability (0.103), responsiveness (0.047), assurance (0,195), and attention (0,020) with patient satisfaction in Polyclinic Diseases in General Hospital GMIM Pancaran Kasih Manado. There is a relationship between physical evidence, responsiveness, and attention to patient satisfaction in Polyclinic Diseases Internal General Hospital GMIM Pancaran Kasih Manado, while there is no relationship between reliability and assurance with patient satisfaction in Polyclinic Diseases in General Hospital GMIM Pancaran Kasih Manado. Suggestions for improving, upgrading, and developing physical facilities, improving services, making suggestion boxes, for patient complaints in the Outpatient Installation. Key Word : Quality of service, Patient satisfaction, Relationship, outpatient AbstrakUntuk mengetahui kualitas pelayanan yang dirasakan secara nyata oleh konsumen, ada indikator ukuran kepuasaan konsumen yang terletak pada lima dimensi kualitas pelayanan. Kelima dimensi tersebut, yaitu : Reliability, Tangibles, Responsiveness, Assurance, dan Emphaty. Pelayanan dan kepuasan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, karena dengan adanya kepuasan maka pihak terkait dapat saling mengkoreksi sampai dimana pelayanan yang diberikan apakah bertambah baik atau buruk (Kurniati, 2013). Berdasarkan hal tersebut maka tujuan penelitian ini menganalisis Hubungan Antara Mutu Pelayanan Dengan Kepuasan Pasien di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado.              Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan cross sectional study yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2017 – Januari 2018 di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado. Sampel penelitian berdasarkan perhitungan Menggunakan Rumus Proporsi Tunggal adalah 97 orang.Metode pengambilan sampel secara quota sampling. Analisis menggunakan uji chi-square di mulai dari univariat, bivariat, dan multivariat.              Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p value antara bukti fisik (0,001), kehandalan (0,103), daya tanggap (0,047), jaminan (0,195), dan perhatian (0,020) dengan kepuasan pasien di Poliklinik Penyakit dalam Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado.              Terdapat hubungan antara bukti fisik, daya tanggap, dan perhatian dengan kepuasan pasien di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado, sedangkan tidak terdapat hubungan antara kehandalan dan jaminan dengan kepuasan pasien di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado. Saran melakukan perbaikan, peningkatan, dan pengembangan sarana fisik, meningkatkan jasa pelayanan, membuat kotak saran, untuk keluhan pasien di Instalasi Rawat Jalan. Kata Kunci :  Mutu Pelayanan , Kepuasan Pasien, Hubungan, Pasien rawat jalan
KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN PREEKLAMSIADI RSUP PROF.DR.R.D. KANDOU MANADO PERIODE 1 JANUARI - 31 DESEMBER 2015 Lombo, Giovanna Eunike; Wagey, Freddy W; Mamengko, Linda
JKK (Jurnal Kedokteran Klinik) Vol 1, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN KLINIK
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Preeclampsia is the kind of hypertension that occurs in pregnant women in the 20th week of gestational age or after delivery, indicated by the rise of blood pressure to >140/90  mmHg and is accompanied by a large amount of protein in the urine (proteinuria), about 300 mg protein in the urine for 24 hours. Preeclampsia is divided into mild preeclampsia and severe preeclampsia. In Indonesia alone, hypertension in pregnant women on 2010 is around 21,5%, 24,7% in 2011, 26,9% in 2012, and 27,1% in 2013. Based on the data from those years, there is an increase of incidence of hypertension in pregnant women. The goal of this research is to discover characteristic of pregnant women with preeclampsia. This study uses a retrospective descriptive study design. Results: On the year 2015, there were 60 patients who got diagnosed with preeclampsia. The age group of 31-35 years old is the highest in number, PER (10%) and PEB (18,3%). The highest type of work, housewife PER (18,3%) and PEB (40%). The highest number of parity in primigravida, PER (18,3%) and PEB (43,3%). Based on the number of delivery happening in 2015, PER (11,7%) and PEB (20%). Nutritional status of obese (BMI > 30,00), PER (20 %) and PEB (53,3%). Hypertension history on those who didn’t have previous hypertension history, PER (25%) and PER (66,7%).Conclusion: the types of preeclampsia that happens the most is the severe preeclampsia at the mean age of 31-35 years old, occurred in housewifes, according to parity number in primigavida who’s gonna have delivery on 2015, with obese BMI control, the previous hypertension story is not obligated to be found.Keyword: preeclampsia, characteristics Abstrak: Preeklampsia adalah hipertensi yang terjadi pada ibu hamil dengan usia kehamilan 20 minggu atau setelah persalinan di tandai dengan meningkatnya tekanan darah menjadi ≥ 140/90 mmHg dan di sertai dengan kadar proteinuria 300 mg protein dalam urin selama 24 jam. Preeklampsia dibagi menjadi preeklampsia ringan dan preeklampsia berat. Di Indonesia, hipertensi pada ibu hamil tahun 2010 (21,5%), tahun 2011 (24,7%), tahun 2012 (26,9%), 2013 (27,1%). Berdasarkan data dari tahun 2010 - 2013 terjadi peningkatan kejadian hipertensi pada kehamilan.. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakteristik dari pasien ibu hamil dengan preeklampsia. Jenis penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif retrospektif. Hasil: pada tahun 2015, terdapat 60 pasien dengan diagnosis Preeklampsia. Kelompok umur tertinggi 31 – 35 tahun, PER (10%) dan PEB (18,3%). Jenis pekerjaan tertinggi ibu rumah tangga, PER (18,3%) dan PEB (40%). Jumlah paritas tertinggi pada primigravida, PER (18,3%) dan PEB (43,3%). Partus yang terjadi pada tahun 2015 terbanyak, PER (11,7%) dan PEB (20%). Status gizi ketegori obesitas (IMT ≥30,00), PER (20%) dan PEB (53,3%). Riwayat hipertensi pada kategori tidak memiliki riwayat hipertensi sebelumnya, PER (25%) dan PEB (66,7%). Kesimpulan: Jenis Preeklampsia yang paling banyak terjadi adalah PEB pada rata-rata umur 31 – 35 tahun, pekerjaan ibu rumah tangga, jumlah paritas pada primigravida, partus pada tahun 2015, status gizi dengan kategori obesitas, riwayat hipertensi sebelumnya tidak ditemukan.Kata Kunci: preeklampsia, karakteristik
SURVEI NYAMUK CULEX SPP DI DAERAH PERUMAHAN SEKITAR PELABUHAN BITUNG Eman, Giano Just; Berrnadus, Janno B B; Sorisi, Angle
JKK (Jurnal Kedokteran Klinik) Vol 1, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN KLINIK
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Nyamuk Culex spp sudah tersebar luas di berbagai belahan dunia dari daerah tropis hingga sub tropis, dan merupakan nyamuk pembawa vektor penyakit. Kota Bitung sebagai kota pelabuhan memungkinkan penyebaran penyakit filariasis dan arbovirus dari nyamuk Culex spp serta data tentang nyamuk Culex spp sebagai vektor masih kurang. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui data populasi nyamuk Culex spp di perumahan sekitar pelabuhan Bitung. Penelitian ini menggunakan deskriptif cross-sectional untuk mendapatkan gambaran deskriptif populasi nyamuk Culex spp di daerah perumahan sekitar pelabuhan Bitung. Berdasarkan penelitian di daerah perumahan sekitar Pelabuhan Bitung adalah daerah dengan sanitasi yang rendah. pada Bulan Oktober – November 2016 dengan metode penangkapan sweepping, didapatkan 116 nyamuk diantaranya, Culex quinquefasciatus sebanyak 115 nyamuk (99,1%), dan Aedes ageptyi sebanyak 1 nyamuk (0,9%).  Bedasarkan jenis kelamin, 66 nyamuk jantan (57,8%) dan 49 nyamuk betina (42,2%). Jadi, dapat disimpulkan bahwa 99,1% nyamuk yang ditangkap adalah nyamuk Culex spp dari spesies Culex quinquefasciatus. Kata Kunci: Nyamuk, Culex spp, Survei Abstract: Mosquito Culex spp already widespread in many parts of the world from the tropics to the sub-tropical, and is a vector of disease-carrying mosquitoes. Bitung city as a port city enabling the spread of filariasis and arbovirus of the mosquito Culex spp and Culex spp data about mosquitoes as vectors still lacking. The purpose of this study is Knowing Culex spp mosquito population data on the housing around the port of Bitung. This study used a descriptive cross-sectional study to get an overview of descriptive spp Culex mosquito populations in the residential area around the port of Bitung. Based on research in the residential area around the Port of Bitung is an area with low sanitation. on month from October to November 2016, with fishing methods sweepping, found 116 mosquitoes of them, as many as 115 mosquito Culex quinquefasciatus (99.1%), and as many as one mosquito Aedes ageptyi (0.9%). Based on gender, 66 males (57.8%) and 49 female mosquitoes (42.2%). Thus, it can be concluded that 99.1% of mosquitoes were captured is Culex spp mosquitoes of the species Culex quinquefasciatus. Key Word: Mosquito, Culex spp, Survey
HUBUNGAN UMUR DAN JENIS KELAMIN DENGAN ANGKA KEJADIAN KATARAK DI INSTALASI RAWAT JALAN (POLIKLINIK MATA) RSUP.Prof.Dr.R.D. Kandou Manado Periode Juli 2015 – Juli 2016 Tamansa, Gricia Earlene; Saerang, J S M; Rares, Laya M.
JKK (Jurnal Kedokteran Klinik) Vol 1, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN KLINIK
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Cataract is a condition where the usually clear and transparent eye lens turn cloudy. Cataract is the commonest eye abnormality that can cause blindness and sight disturbance. The risk factors that affect cataract incidence are intrinsic factors, such as age, gender, and genetics while the extrinsic factors are occupation, education, smoking, environment, economic status, and multivitamins. This study aims to discover the correlation between age and gender and cataract incidence in Outpatient Installation (Ophthalmology Polyclinic) RSUP.Prof. Dr. R.D. Kandou Manado in the period 2015 July – 2016 July. This Retrospective analytic study uses the data in the hospital’s Medical Record Department. Data was categorized into age, gender, and the type of cataract. There were 197 patients who came to ophthalmology polyclinic in the period 2015 July to 2016 July. The study result shows that of the 197 people with cataract, 88 of it are male (45%) and the rest 109 people are female (55%) while the age group  with cataract that is highest in number is those age 53-68 years old, the cataract most often contracted id the senile cataract. The correlation analysis shows that correlation between age and cataract incidence is p = 0,846 and the correlation between gender and cataract incidence is p = 0,01. Conclusion: in this study there was a significant correlation between gender and cataract incidence but there was no correlation between age and cataract incidence. Keywords : Age, Gender, Cataract Abstrak : Katarak adalah suatu keadaan dimana lensa mata yang biasannya jernih dan bening menjadi keruh. katarak merupakan kelainan mata yang menyebabkan kebutaan dan gangguan penglihatan yang paling sering ditemukan. Faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinnya penyakit katarak antara lain faktor intrinsik yaitu umur, jenis kelamin, dan genetik, sedangkan faktor ekstrinsik yaitu pekerjaan, pendidikan, perokok, lingkungan, status ekonomi, dan multivitamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan umur dan jenis kelamin dengan angka kejadian katarak di Instalasi Rawat Jalan (Poli Mata) RSUP.Prof.Dr.R.D.Kandou Manado Periode Juli 2015- Juli 2016. Penelitian ini bersifat analitik retrospektif dengan meneliti data di Bagian Rekamedik RSUP.Prof.Dr.R.D.Kandou. Data dikelompokan berdasarkan Umur,Jenis kelamin dan Jenis Katarak. Pasien yang datang berobat ke poli klinik mata selama periode juli 2015-juli 2016 sebanyak 197 orang. Dari hasil penelitian mendapatkan dari 197 orang yang menderita katarak dengan presentase 88 orang laki –laki (45%) dan perempuan 109 (55%) serta kelompok usia yang paling banyak menderita katarak adalah kelompok usia 53-68 tahun dan katarak yang paling banyak diderita yaitu katarak senilis. Analisis Hubungan antara Umur dan Jenis Kelamin dengan angka kejadian katarak di Instalasi Rawat Jalan  (Poli Mata) RSUP.Prof.Dr.R.D.Kandou Manado Periode Juli 2015- Juli 2016 mendapatkan nilai untuk hubungan Umur dan Angka Kejadian katarak P = 0.846 dan Hubungan Jenis kelamin dan angka kejadian katarak P =  0.01. Simpulan : Dalam penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan anatara Jenis Kelamin dengan angka kejadian katarak serta tidak terdapat hubungan antara umur dan angka kejadian katarak. Kata kunci : Umur, Jenis Kelamin, Katarak.