cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
KejadianEkspulsi Alat Kontrasepsi Dalam Rahim Banded T-Shaped dan Plain T-Shaped pada Pemasangan Intra Seksio Sesarea Dewi Novita; Umar Malinta; Samrichard Rambulangi; Firdaus Kasim
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 2 September 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2.308

Abstract

Tujuan: Mengetahui kejadian ekspulsi alat kontrasepsi dalam rahim banded T-shaped dan plain T-shaped pada pemasangan intra seksio sesarea.Metode: Sebuah studi cohort dilakukan di 4 rumah sakit bersalin Makassar dari bulan September-Desember 2021. Sampel dibagi ke dalam dua kelompok yaitu  mendapatkan banded T-shaped dan plain T-shaped.Hasil: Ada 216 pasien yang dipasangkan AKDR. Tidak terdapat perbedaan proporsi penggunaan jenis AKDR (p>0.05). Perubahan letak AKDR terjadi pada hari ke-40 (p(0.006) <0.05), pada hari ke-90 hari tidak terdapat perbedaan bermakna (p (0.073> 0.05). Pada hari ke-40 AKDR Banded T-shaped mengalami ekspulsi sebesar 20.4% sedangkan Plain T-shaped sebesar 8.3% (p (0.020) <0.05). Pada hari ke-90 kejadian AKDR Banded T-shaped sebesar 4.7% sedangkan Palin T-shaped sebesar 5.1% (p (1.000) >0.05).Diskusi: Ekspulsi paling sering terjadi pada 30-90 hari setelah pemasangan akibat perubahan anatomi dan fisiologis selama masa nifas. Ekspulsi yang lebih rendah pada Plain T-shaped karena lengan horizontal yang fleksibel, teknik pedengan pelebaran serviks yang lebih sedikit serta perdarahan lebih sedikit.Kesimpulan: Kejadian ekspulsi tersering pada hari ke-40 dan menurun pada hari ke-90 pasca pemasangan. Jenis AKDR dengan kejadian ekspulsi paling sedikit adalah Plain T-shaped dibandingkan dengan Banded T-shaped.Incidence of Expulsion of Banded T-shaped and Plain T-shaped Intrauterine Device in Intra-Caecarean Delivery InsertionAbstractObjective: Determine contraceptive device expulsion rate of banded T-shaped and plain T-shaped intra-cesarean.Method: A cohort study was conducted in 4 maternity hospitals at Makassar from September-December 2021. Samples were divided into two groups, getting Banded T-shaped and Plain T-shaped.Result: There were 216 patients who had an IUD inserted. There was no difference in the proportion of the use of IUD types (p>0.05). Changes in IUD position occurred on day 40 (p (0.006) < 0.05), on day 90 there was no significant difference (p(0.073 > 0.05). On day 40 the Banded T-shaped IUD expulsion was 20.4% while the Plain T-shaped was 8.3% (p(0.020) <0.05). On the 90th day the incidence of the Banded T-shaped IUD was 4.7%, while the Plain T-shaped was 5.1% ((1,000) >0.05).Dicussion: Expulsion most often occurs 30-90 days after insertion due to anatomic and physiological changes during puerperium. Lower expulsion in plain T-shaped due to flexible horizontal arm, less cervical dilation technique and less bleeding.Conclusion: The incidence of expulsion was most common on the 40th day and decreased on the 90th day after insertion. The type of IUD with the least number of expulsions was Plain T-shaped.Key word : IUD, Banded T-Shaped, Plain T-Shaped, Expulsions IUD
Antiviral Treatment on Pregnancy with COVID-19 Infection : A Systematic Review Simanjuntak, Tigor Peniel; Kakerissa, Angela Putri; Kurniawan, Grady Ivan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Article Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v4i2s.329

Abstract

Objective to evaluate antiviral treatment, duration, and side effects on pregnant women based on gestational age and severity of COVID-19 infection. Method: a systematic review of antiviral treatment, duration, and side effects on pregnant women based on gestational age and severity of COVID-19 infection. Systematic review was conducted following the guidelines of the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-analysis (PRISMA) Statement.  Result 948 papers accessed through Pubmed, Scopus, Science Direct, Cohcrane, and other with keywords “Antiviral”, “Pregnancy” “Pregnant” “Coronavirus” “COVID-19” “SARS-CoV-2”. Duplicate papers were excluded (n=302),  topics and abstracts that do not meet the criteria (n=612), and 25 papers that did not meet the inclusion criteria. 9 papers that meet the inclusion criteria (case reports and cohort retrospective case study) discussed 20 pregnant women with COVID-19 infection (16 moderate and severe cases received Remdesivir, 3 moderate and mild cases received Lopinavir-ritonavir combination, and 1 moderate case received Arbidol). Conclusion, remdesivir is an antiviral frequently used in pregnancy on trimester II and III with severe COVID-19 infection with a duration of treatment of 5-10 days. Remdesivir should be monitored because some show side effects of increasing liver function.Pengobatan Ibu Hamil yang Terinfeksi  COVID−19 dengan AntivirusAbstrakTujuan untuk mengevaluasi penggunaan obat antivirus, lama pengobatan, dan efek samping pada wanita hamil dengan infeksi COVID-19 berdasarkan usia kehamilan dan derajat keparahan. Metode tinjauan literatur sistematis tentang penggunaan obat antivirus, lama pengobatan, dan efek samping pada wanita hamil dengan infeksi COVID-19 berdasarkan usia kehamilan dan tingkat keparahan. Tinjauan sistematis mengikuti pedoman dari Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis (PRISMA). Hasil terdapat 948 jurnal yang diakses melalui Pubmed, Scopus, Science Direct, Cohcrane dan lainya dengan kata kunci : Antiviral, Pregnancy, Pregnant, Coronavirus, COVID-19, SARS-CoV-2. Terdapat jurnal yang terduplikasi (n=302), topik dan abstrak yang tidak sesuai kriteria (n=612), dan 25 jurnal yang tidak sesuai kriteria inklusi. Terdapat 9 jurnal yang memenuhi kriteria inklusi (laporan kasus dan studi retrosepktif kohort) yang membahas 20 wanita hamil dengan infeksi COVID-19 (16 kasus dengan derajat sedang dan berat menerima Remdesivir, 3 kasus derajat sedang dan ringan menerima kombinasi Lopinavir-ritonavir, dan 1 kasus derajat sedang menerima Arbidol). Kesimpulan, remdesivir adalah antivirus yang sering digunakan pada wanita hamil trisemester II dan III dengan infeksi COVID-19 derajat berat, lama pengobatan 5-10 hari. Remdesivir harus diwaspadai karena dapat menimbulkan efek samping seperti peningkatan fungsi hati. Kata kunci: Antivirus, Hamil, COVID-19
Hubungan antara Kadar Hemoglobin dan Jumlah Leukosit dengan Kejadian Prematuritas di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung Idham Rizali Saleh; Johanes C. Mose; Budi Handono
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 2 September 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2.282

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui adanya hubungan antara kadar hemoglobin dan kadar leukosit maternal dengan kejadian prematuritas di Rumah Sakit Umum Pendidikan Dr. Hasan Sadikin Bandung. Metode: Rancangan penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain studi potong-lintang. Subjek penelitian adalah pasien dengan persalinan pada kehamilan usia 24–42 minggu di Rumah Sakit Umum Pendidikan Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari – Desember 2019 yang berjumlah 82 pasien. Dilakukan pengumpulan data dari rekam medis pasien berupa usia kehamilan, kadar hemoglobin, kadar leukosit, dan faktor perancu berupa usia, tingkat pendidikan, dan tingkat paritas. Hubungan antara kadar hemoglobin dan jumlah leukosit dengan persalinan prematur dianalisis statistik dengan uji Chi-square. Variabel-variabel perancu akan dikendalikan melalui analisis multivariat dengan regresi logistik. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin dan kadar leukosit dengan terjadinya persalinan prematur (p<0,05). Hasil analisis dengan uji regresi logstik menunjukkan bahwa tetap terdapat hubungan bermakna antara kadar hemoglobin (OR 0,27; p<0,05) dan kadar leukosit (OR 3,60; p<0,05) dengan persalinan prematur setelah dilakukan pengendalian faktor perancu. Kesimpulan: Kadar hemoglobin dan kadar leukosit memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian persalinan prematur tanpa dipengaruhi oleh usia, tingkat pendidikan, dan tingkat paritas. Associated Between Hemoglobin and Leukocytes Levels with the Incidence of Prematurity in Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstract Objective: To examine whether an association exists between maternal hemoglobin and leukocyte level and the risk of preterm delivery in Rumah Sakit Umum Pendidikan Dr. Hasan Sadikin Bandung. Method: An analytical cross-sectional study involving 82 pregnant women who delivered at 24 – 42 weeks gestation at Rumah Sakit Umum Pendidikan Dr. Hasan Sadikin Bandung in January – December 2019 was conducted. Gestational age, maternal hemoglobin level, maternal leukocyte level, and confounding factors including age, education level, and parity data were collected from patients’ medical records. The association between maternal hemoglobin and leukocyte level with the risk of preterm delivery was analyzed using Chi-Square test. Multiple logistic regression models were used to control for confounding variables. Result: Maternal hemoglobin and leukocyte level were significantly associated with the risk of preterm delivery (p<0.05). Multiple logistic regression models showed that the associations between maternal hemoglobin level (OR 0.27; p<0.05) and maternal leukocyte level (OR 3.60; p<0.05) with the risk of preterm delivery were still significant after adjusting for confounding variables. Conclusion: Maternal hemoglobin and leukocyte level were significantly associated with the risk of preterm delivery after adjusting for age, education level, and parity. Key word: Hemoglobin, Prematuritas, Leukocyte.
Cara Vaksin Covid-19 Melindungi Ibu Hamil, Termasuk Pelaksanaan Etikanya Djamhoer Martaadisoebrata
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 2 September 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2.291

Abstract

Tujuan: Membicarakan bagaimana cara vaksin COVID-19 bisa mencegah ibu hamil dari penularan Corona Virus, serta pelaksanaan Etikanya.Metoda: Studi Literatur.Hasil: Dengan adanya pandemi COVID-19, maka jumlah ibu hamil yang tertulari corona virus, makin banyak. Hal ini, menimbulkan permasalahan, bagaimana menanganinya, termasuk pelaksanaan Etiknya. Sampai sekarang, belum ada kesepakatan antara para pakar, bagaimana bentuk penangannya. Untuk itu PT POGI, mengajukan rekomendasi, tindakan MATERNAL apa yang harus dilakukan pada ibu hamil dengan COVID-19.Kesimpulan:Ibu hamil dengan COVID-19, merupakan masalah besar bagi negara kita, karena jumlahnya yang banyak, penyebarannya merata dan prognosisnya, dubia ad malam.Dalam melayani ibu hamil dengan COVID-19, Petugas Medis, termasuk Dokter, telah berlaku ETIS kepada pasien. Hal ini terbukti dari :Melakukan Protokol Kesehatan.Didahului dengan pemberian Informed Consent.Selama bertugas, menggunakan Alat Pelindung Diri.Dalam pelaksanaannya, Petugas Medis, menunjukkan sikap yang empati, sabar, jujur dan ikhlas.
Hubungan Anti-Mullerian Hormone (AMH) pada Long dan Short Protocol Terhadap Fertilization Rate Pasien In Vitro Fertilization (IVF) Rizki Amalia Wahid; Edwin Armawan; Tono Djuwantono
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 2 September 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2.295

Abstract

Tujuan: Untuk mengevaluasi pengaruh kadar anti-mullerian hormone (AMH) dengan fertilization rate (FR) dan menilai perbedaan pengaruh jenis protokol (long protocol (LP) dan short protocol (SP)) pada tiap tingkat cadangan ovarium terhadap FR pada pasien in vitro fertilization (IVF) dengan Intracytoplasmic Sperm Injection. Metode: Data sekunder dari rekam medis pasien yang menjalani IVF di Aster Fertility Clinic Rumah Sakit Umum Pendidikan dr. Hasan Sadikin pada tahun 2016-2020 dan Bandung Fertility Centre Rumah Sakit Ibu Anak Limijati pada tahun 2018-2019. Penelitian ini analitik observational dengan metode Cohort retrospektif. Hubungan antara dua data kategorik diuji dengan uji chi-square dan uji Kruskal-Wallis digunakan pada data numerik dengan distribusi yang tidak rata pada lebih dari 2 kelompok, Hasil: Hasil data diperoleh nilai rerata kadar AMH secara keseluruhan adalah 3.30 ng/ml dengan rerata capaian FR sebesar 71.97%. Berdasarkan metode IVF yang dipilih, mayoritas pasien menjalani pengobatan SP 54.4% (rerata FR 72.80%) dibandingkan dengan LP 45.6% (rerata FR 70.97%). Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara kadar AMH dengan FR, dinyatakan dengan nilai p=0.977. Kadar AMH terhadap FR bila dipisahkan menurut protokol terapi yang diberikan tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna pada masing-masing protokol (LP p=0,763; SP p=0,843). Mengenai hubungan antara protokol IVF dengan FR juga tidak diperoleh perbedaan yang signifikan secara statistik dengan nilai p=0,27 (RR 1.17 (0.62-2.15); CI 95%). Penggobatan menggunakan LP (p=0,770) maupun SP (p=0.845) tidak memberikan pengaruh yang bermakna terhadap FR pada setiap kategori AMH.Kesimpulan: Tidak ada pengaruh kadar AMH dan protokol terapi terhadap FR.Relation of Anti-Mullerian Hormone (AMH) in Short and Long Protocol Againts Fertilization Rate of in Vitro Fertilization (IVF) PatientsAbstractObjective:To evaluate the effect of anti-mullerian hormone (AMH) levels on the success of fertilization rate (FR) and assess the effect of different types of protocols (long protocol (LP) and short protocol (SP)) at each level of ovarian reserve on fertilization rate of in-vitro fertilization (IVF) patients using Intracytoplasmic Sperm Injection.Method: Secondary data from the medical records of patients undergoing IVF at the Aster Fertility Clinic, Hasan Sadikin Hospital in 2016-2020 and Bandung Fertility Center Limijati Hospital. This study was an observational analytic study with a retrospective cohort approach. The relationship between two categorical data was analyzed by chi-square and Kruskal-Wallis on numerical data that were not normally distributed in more than 2 groups.Result: The result of obtained data is an average overall AMH level of 3.30 ng/ml with a mean FR achievement of 71.97%. Based on chosen IVF method, more patient underwent short protocol 54.4% (mean FR 72.80%) than long protocol 46.6% (mean FR 70.97%). There was no significant relationship between AMH levels and FR, expressed by the value of p = 0.977.  AMH levels against FR when separated according to the given therapy protocol did not show any significant difference in each protocol (LP p=0.763, SP p=0.843). Regarding the relationship between the IVF protocol and FR, there was also no statistically significant difference with p value =0.27 (RR 1.17 (0.62-2.15) 95% CI), as well as treatment using LP (p=0,770) or SP (p=0.845) did not have a significant effect on FR at each AMH category (p=0.599).Conclusion: There was no significant relationship between AMH levels and therapy protocol on FR.Key word: In Vitro Fertilization, Fertilization Rate, Anti-Mullerian Hormone, Ovarian Stimulation Protocol
Abnormal Uterine Bleeding in Adolescent Evelyne Theresia; Andreas Cristopher; Melissa Edelweishia
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Article Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2s.251

Abstract

AbstractAbnormal uterine bleeding (AUB) is a frequent cause of visits to health care provider during adolescent period. Heavy menstrual bleeding is the most frequent clinical presentation of AUB. This condition particularly worrisome in this group not only when it occurs at menarche, but also anytime afterward when bleeding lasts longer than 7 days, blood loss is greater than 80 mL per cycle, or other warning signs that indicate a history of heavy bleeding such as anemia. Careful history and examination can help elucidate the best next steps for workup and management. The primary goal of treatment is prevention of hemodynamic instability. Therefore, assessing the severity and cause of bleeding is important. Therapeutic approach in the acute period should be established according to the degree of anemia and amount of flow. Treatment options for medical care of AUB generally include hormonal, nonhormonal and surgery. Additionally, long-term management with hormonal therapy in patients with severe uterine bleeding is known to be safe for developing HPO axis.Perdarahan Uterus Abnormal pada RemajaAbstrakPerdarahan uterus abnormal (PUA) sering menjadi penyebab kunjungan ke penyedia layanan kesehatan selama masa remaja. Perdarahan menstruasi yang berat adalah gambaran klinis yang paling sering dari AUB. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan para remaja yang terjadi bukan hanya saat menarche, tetapi juga bila perdarahan berlangsung lebih dari 7 hari, kehilangan darah lebih dari 80 mL per siklus, atau gejala lain yang menunjukkan riwayat perdarahan berat seperti anemia. Anamnesa dan pemeriksaan yang cermat dapat membantu menentukan langkah selanjutnya untuk pemeriksaan lanjutan dan penatalaksanaan. Tujuan utama penatalaksanaan adalah untuk mencegah ketidakstabilan hemodinamik. Oleh karena itu, menilai tingkat keparahan dan penyebab perdarahan sangat penting. Pendekatan terapeutik pada periode akut harus disesuai dengan derajat anemia dan jumlah perdarahan. Pilihan pengobatan untuk perawatan medis pada PUA  umumnya termasuk hormonal, nonhormonal dan pembedahan. Selain itu, manajemen jangka panjang dengan terapi hormonal pada pasien dengan perdarahan uterus yang parah diketahui aman untuk perkembangan aksis HPO.Kata kunci: Perdarahan uterus abnormal, remaja, menstruasi berat
Gambaran Prevalensi dan Faktor Risiko Ibu pada Pasien Intrauterin Growth Restriction di Rumah Sakit Umum Pendidikan Hasan Sadikin Bandung Giritama Irwantoro; Dini Hidayat; Muhammad Alamsyah Aziz
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 2 September 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2.283

Abstract

Tujuan: Penelitian ini akan dilakukan untuk identifikasi prevalensi dan faktor risiko ibu terhadap angka kejadian IUGR di Rumah Sakit Umum Penidikan (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung.Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif menggunakan data sekunder dengan melihat data rekam medik rawat inap pasien hamil dengan IUGR yang lahir di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode bulan Januari 2018 – Desember 2019 berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.Hasil: Prevalensi kasus IUGR di RSUP Hasan Sadikin Bandung adalah 76,16 orang per 1000 kehamilan. Karakteristik pasien dengan diagnosis IUGR terbanyak pada usia 21-34 tahun (64,32%), dengan paritas paling banyak pada primipara dengan total 147 kasus (79,45%). Faktor Risiko IUGR terdiri dari nilai BMI terbanyak dengan 86 subjek (46.5%) memiliki nilai BMI di atas batas normal. Tiga puluh lima subjek penelitian (18.9%) memiliki riwayat merokok, sementara 15 pasien (8.1%) memiliki riwayat mengonsumsi alkohol. Penyulit dalam kehamilan dengan PEB sebagai penyakit penyulit terbanyak. 28 pasien (15,1%). Pasien memiliki riwayat penyakit kronis 25 orang (13,5%) di antaranya mempunyai riwayat hipertensi kronis. Mayoritas dari seluruh pasien bersekolah hingga jenjang sekolah menengah. Kesimpulan: Prevalensi kasus IUGR di RSUP Hasan Sadikin Bandung adalah 76,16 orang per 1000 kehamilan. Karakteristik pasien terbanyak pada usia 21-34 tahun (64,32%), dengan paritas paling banyak pada primipara dengan total 147 kasus (79,45%).Description of Maternal Prevalence and Risk Factors in Intrauterine Growth Restriction Patients at Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstractObjective: This study will identify the prevalence and risk factors of mothers for the incidence of IUGR in the General Hospital of Dr. Hasan Sadikin Bandung.Method: This research uses a retrospective descriptive design, using secondary data from the medical records of pregnant inpatients with IUGR born in RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung from January 2018 - December 2019 based on inclusion and exclusion criterias.Result: The prevalence of IUGR cases in RSUP Hasan Sadikin Bandung was 76.16 patients per 1000 pregnancies. The majority of patients with IUGR was at the age of 21-34 years (64.32%), with primipara was 147 of the cases (79.45%). The IUGR Risk Factor consists of 86 subjects (46.5%) having a BMI value above the normal limit, 35 study subjects (18.9%) had a history of smoking, and 15 patients (8.1%) had a history of consuming alcohol. Twenty-eight pregnancies (15.1%) complicated with preeclampsia. Patients with chronic diseases were 25 patients (13.5%) with chronic hypertension. The majority of the last education of all patients is in high school.Conclusion: Further research needed to assess the risk factors for the occurrence of intrauterine growth restriction (IUGR). Several components of fetal and uteroplacental risk factors, as well as other welfare level risk factors, may also need to be involved in the assessment of socioeconomic risk factors.Keyword: Prevalence, Intrauterine Growth Restriction. Risk Factor
Perbandingan Nilai Female Sexual Function Index pada Wanita Primipara Berdasarkan Metode Persalinan Rena Nurita; Andi Rinaldi; Wiryawan Permadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 2 September 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2.257

Abstract

Tujuan: Untuk membandingkan fungsi seksual pada wanita primipara dengan metode persalinan pervaginam dan seksio sesarea.  Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik secara cross-sectional. Penelitian ini dilakukan selama tujuh bulan di RS Hasan Sadikin dan Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Kota Bandung, dimulai pada September 2019 sampai Mei 2020. kriteria inklusi primipara, berusia 18-35 tahun, 3-6 bulan postpartum sebelum pengambilan data, aktif secara seksual dalam 6 bulan setelah persalinan dan melakukan hubungan seksual dalam empat minggu terakhir. Fungsi seksual dinilai dengan Female Sexual Function Index (FSFI).Hasil: Subjek penelitian ini terdiri dari 98 subjek dengan dibagi menjadi dua kelompok, yakni persalinan pervaginam (n=56) dan seksio sesarea (n=42). Subjek penelitian mengisi kuesioner FSFI versi Bahasa Indonesia. Dari 98 subjek, disfungsi seksual didapatkan 95% pada wanita dengan persalinan pervaginam dan 90% dengan seksio sesareaKesimpulan: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara persalinan pervaginam dan seksio sesarea terhadap disfungsi seksual. The Comparison of Female Sexual Function Index Score in Primiparous Women According to Delivery MethodsAbstractObjective: to compare the sexual function of primiparous woman with spontaneous delivery and cesarean section.Method:  This research is an analytic observational study with cross-sectional method. This study is a 7 months study at Dr. Hasan Sadikin Central General Hospital and Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Kota Bandung, started from September 2019 to May 2020. The inclusion criteria were primiparous, aged 18-35 year-old, 3-6 months postpartum before data collection, sexually active within 6 months after delivery and had sexual intercourse in the last four week. Sexual function was assessed by the Female Sexual Function Index (FSFI).Result: We obtained 98 subjects and divided them into two groups, spontaneous delivery (n = 56) and cesarean section (n = 42). Subject then filled out the Indonesian version of the FSFI questionnaire. From 98 subjects, sexual dysfunction was found in 95% subject with spontaneous delivery and 90% with cesarean section.Discussion: Using comparative chi square test (p = 0.43), there is no significant difference between each method of delivery on sexual dysfunction. Interestingly sexual dysfunction found in tremendous percentage compared to previous studies, either in spontaneous delivery (95%) or cesarean section (90%).Key word:cesarean section, Female Sexual Function Index, primiparous, sexual function, spontaneous delivery
Analisis Kadar Hemoglobin dan Hematokrit Maternal terhadap Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung Kendry Savira Yordian; Hanom Husni Syam; Adhi Pribadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 2 September 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2.261

Abstract

Pendahuluan: Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu penyumbang terbesar angka kematian bayi (AKB). Salah satu faktor risiko utama terjadinya BBLR adalah anemia dan kadar hematokrit yang rendah. Bayi yang memiliki berat lahir rendah  mempunyai efek jangka pendek maupun panjang terhadap bayi tersebut dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan mengumpulkan data rekam medis ibu hamil aterm yang melahirkan di Rumah sakit Hasan Sadikin  periode Januari – Desember 2019Hasil: Dari 40 sampel ibu hamil aterm anemia dan tidak anemia dengan rata rata usia 26,8 tahun didapatkan nilai rerata berat bayi pada ibu hamil aterm anemia adalah 2435 gram dan rerata berat badan bayi pada ibu hamil aterm tanpa anemia adalah 2691 gram. Berdasarkan hasil perhitungan uji chi square bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara hemoglobin dengan kejadian BBLR (p=0,0023<0,05), serta terdapat pula hubungan yang signifikan antara hematokrit dengan kejadian BBLR (p=0,003<0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara anemia dan kadar hematokrit  pada ibu hamil aterm dengan berat bayi lahir rendah di Rumah sakit Hasan Sadikin.Analysis of Hemoglobin Levels and Maternal Hematocrit on the Event of Low Birth Weight in Dr. Hasan Sadikin Bandung HospitalAbstractIntroduction: Low birth weight (LBW) is one of the largest contributors to infant mortality rates (AKB). One of the main risk factors for BBLR is anemia and low hematocrit levels. Babies with low birth weight have both short and long-term effects on the baby with high morbidity and mortality rates. Method: This study used an observational analytic design by collecting medical records of aterm pregnant women who gave birth at Hasan Sadikin Hospital from January to December 2019Result: Of the 40 samples of pregnant women with anemia and non-anemia with an average age of 26.8 years obtained the average weight of the baby in pregnant women aterm anemia was 2470 grams and the average infant weight in pregnant women without anemia was 2650 grams. Based on the chi square test calculations that there is a significant relationship between hemoglobin and BBLR events (p=0.0023<0.05), and there is also a significant relationship between hematocrit and BBLR events (p=0.014<0.05). Conclusion:  It can concluded that there is a significant correlation between anaemia inaterm pregnancy and low birth baby weight in Rumah sakit Hasan Sadikin.Key words: anemia hematocrit, term pregnancy, low birth weight
Preeklamsia Pascasalin Nuswil Bernolian; Wim T. Pangemanan; A. Kurdi Syamsuri; M. Hatta Ansyori; Putri Mirani; Peby Maulina Lestari; Abarham Martadiansyah; Cindy Kesty
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Article Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2s.196

Abstract

AbstrakTujuan: Memaparkan etiologi dan faktor risiko, diagnosis banding, patofisiologi, pemantauan, terapi, komplikasi, rekurensi dan tindakan preventif pada kasus preeklamsia pascasalin.Metode: Tinjauan pustaka dengan berbagai referensi yang diakses melalui mesin pencarian seperti Pubmed dan Sci-Hub dengan menggunakan kata kunci preeclampsia, hypertension, postpartum, management. Sumber referensi yang digunakan yaitu guidelines, jurnal, dan buku teks yang diterbitkan dalam 15 tahun terakhir.Kesimpulan: Insiden preeklamsia di Indonesia yaitu 128.273/tahun atau sekitar 5,3%. Sebanyak 0,3 – 27,5% kasus yang dilaporkan mengalami preeklamsia atau hipertensi pascasalin. Gejala-gejala preeklamsia pascasalin muncul setelah melahirkan. Mayoritas kasus berkembang dalam 48 jam setelah persalinan, walaupun sindrom dapat muncul hingga 6 minggu setelah persalinan. Periode pascasalin merupakan waktu kritis bagi spesialis obstetri dan ginekologi untuk menjamin wanita dengan riwayat preeklamsia untuk dipantau dalam jangka waktu pendek dan panjang. Akan tetapi, pemantauan pascasalin sangatlah rendah, berkisar antara 20-60%. Pemilihan antihipertensi pasca salin yaitu berikatan kuat dengan protein dan solubilitas lipid yang rendah sehingga lebih sedikit yang masuk ke ASI. Selain itu, dipengaruhi juga oleh ionisasi, berat molekul dan konstituen ASI (kandungan lemak, protein, dan air). Agen lini pertama untuk preeklamsia pascasalin adalah labetalol dan hidralazin intravena serta nifedipin. Wanita dengan hipertensi gestasional ataupun preeklamsia biasanya dapat menghentikan antihipertensi dalam 6 minggu pasca salin.Postpartum PreeclampsiaAbstractObjective: To explain about etiologies and risk factors, differential diagnosis, pathophysiology, follow up, treatment, complications, recurrence, and prevention of preeclampsia post delivery discharged.Method: Literature review with several references accessed through search engines such as Pubmed and Sci-Hub by using keywords preeclampsia, hypertension, postpartum, management. Reference sources used are guidelines, journals, and textbooks published in the last 15 years.Conclusion: The incidence of preeclampsia in Indonesia is 128,273/year or around 5.3%. As many as 0.3-27.5% of cases reported postpartum preeclampsia or hypertension. Symptoms of postpartum preeclampsia appear after delivery. The majority of cases develop within 48 hours after delivery, although the syndrome can appear up to 6 weeks after delivery. The postpartum period is a critical time for obstetricians and gynecologists to ensure women with a history of preeclampsia are monitored in the short and long term. However, postpartum monitoring is very low, ranging from 20-60%. The choice of antihypertensive postpartum is that it is strongly bound to protein with low lipid solubility so that fewer enter breast milk. In addition, it is also influenced by ionization, molecular weight and constituents of breast milk (fat content, protein, and water). The first line agent for postpartum preeclampsia is intravenous labetolol and hydralazine and also nifedipine. Women with gestational hypertension or preeclampsia can usually stop antihypertension within 6 weeks postpartum.Key word: postpartum preeclampsia, antihypertension

Page 11 of 38 | Total Record : 372