cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Analisis Risiko Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) pada Pasien Preeklamsi di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Periode Januari–Desember 2019 Tri Karyadi; Hanom Husni Syam; Hartanto Bayuaji
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 2 September 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2.301

Abstract

Tujuan: Preeklamsi adalah peningkatan tekanan darah (tekanan sitolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg) pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal, dan proteinuria, atau gejala klinis berat. Abnormalitas plasentasi serta perfusi plasenta yang buruk menyebabkan hipoksia pada janin sehingga terjadinya bayi lahir dengan berat rendah. BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah) adalah berat lahir <2.500 gram. BBLR diasosiasikan dengan risiko kematian yang tinggi, disabilitas neurologis jangka panjang, perkembangan bahasa yang terhambat, dan peningkatan risiko penyakit-penyakit kronis.Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional (potong lintang). Data dikumpulkan dari data yang tersedia pada rekam medis pasien yang melakukan persalinan di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada bulan Januari hingga bulan Desember tahun 2019.Hasil: Terdapat 252 (11,4%) ibu hamil dengan preeklamsi dari seluruh subjek. Prevalensi BBLR pada subjek total adalah 49,2%. Bayi dengan BBLR lebih banyak terjadi pada kelompok preeklamsi dibandingkan dengan kelompok non preeklamsi, yaitu 60,3% dibandingkan 47,8% (p < 0,001). Kelompok preeklamsi memiliki rerata BBL yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan kelompok non preeklamsi, yaitu 2.255,6 + 741,5 gram dibandingkan 2.465,5 + 696,2 gram (p <0,001).Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara preeklamsi dengan kejadian BBLR di Rumah sakit Hasan Sadikin.Risk Analysis of the Incidence of Low Birth Weight Infants in Preeclampsia Patient in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Periode January–December 2019AbstractObjective: Preeclampsia is an increase in blood pressure (systolic pressure 140 mmHg or diastolic 90 mmHg) in women who previously had normal blood pressure, and proteinuria, or severe clinical symptoms. Abnormal placentation and poor placental perfusion cause fetal hypoxia resulting in low birth weight babies. LBW (Low Birth Weight Babies) is birth weight <2,500 grams. LBW is associated with a high risk of death, long-term neurological disability, delayed language development, and an increased risk of chronic diseases.Method: This study used an analytical observational research design with a cross-sectional approach. The data collected is based on the results of the data available in the medical records of patients who gave birth at Dr. RSUP. Hasan Sadikin in January to December 2019.Result: There were 252 (11.4%) pregnant women with preeclampsia from all subjects. The prevalence of LBW in total subjects was 49.2%. Babies with LBW were more common in the preeclampsia group compared to the non-preeclampsia group, namely 60.3% compared to 47.8% (p < 0.001). The preeclampsia group had a significantly lower mean BBL than the non-preeclampsia group, which was 2,255.6 + 741.5 grams compared to 2,465.5 + 696.2 grams (p < 0.001).Conclusion:  It can be concluded that there is a significant relationship between preeclampsia and the incidence      of LBW at Hasan Sadikin Hospital.Key word: Preeclampsia, LBW
Sirenomelia (Mermaid Syndrome) Defrin Defrin; Calvindra Leenesa; Marcella Marcella
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 2 September 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2.243

Abstract

Objective: To report a rare fetal abnormalities caseMethod: Case reportCase:  Reported case of a 37-year-old patient came to the emergency room at RSIA Siti Hawa Padang with complaints of inpartu signs in the last 8 hours before entering the hospital. After the examination, the diagnosis was G3P2A0L3 35-36 weeks of preterm parturient active phase of first stage + twice previous CS + breech presentation. Then, the patient was planned for an emergency CS at 07.50 am. Born babies with genitalia form was not identified, BW: 2030 grams, BH: 30 cm, Scoring Apgar: 3/5, there are congenital abnormalities in the lower extremity of the baby like mermaid form. After observing the baby’s room, the baby was declared dead at 09.50 am.Conclusion: Sirenomelia is a rare congenital defect that has a fatal impact, characterized by varying degrees of fusion in the lower limbs, thoracolumbar spinal anomalies, sacrococcygeal agenesis, genitourinary and anorectal atresia. Because of the poor prognosis, management of sirenomelia will be very difficult with unexpected results.Sirenomelia (Sindroma Mermaid)AbstrakTujuan: Melaporkan sebuah kasus jarang tentang kelainan janinMetode: Laporan kasusKasus: Pasien 37 tahun datang sendiri ke IGD RSIA Siti Hawa Padang dengan keluhan nyeri pinggang menjalar ke ari-ari semakin lama semakin kuat dan sering sejak 8 jam sebelum masuk rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan ditegakkan diagnosis G3P2A0H3 parturien preterm 35-36 minggu kala I fase aktif + bekas SC 2x + letak sungsang. Kemudian, pasien direncanakan untuk dilakukan SC emergensi pukul 07.50 WIB. Dilahirkan bayi dengan JK : tidak teridentifikasi, BB : 2030 gram, PB : 30 cm, A/S : 3/5, terdapat kelainan kongenital pada ekstermitas bawah bayi. Setelah dilakukan observasi di ruang bayi, kemudian bayi dinyatakan meninggal pukul 09.50 WIB.Kesimpulan: Sirenomelia adalah cacat bawaan yang jarang dan menimbulkan dampak yang fatal, ditandai dengan berbagai tingkat fusi pada tungkai bawah, anomali tulang belakang thoracolumbar, agenesis sacrococcygeal, genitourinari dan atresia anorektal. Karena memiliki prognosis yang buruk, pengelolaan sirenomelia akan menjadi sangat sulit dengan hasil yang tidak terduga.Kata kunci : Kelainan janin, Sirenomelia, Mermaid syndrome.
Herpes Genitalis pada Kehamilan Dhara Alifa
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Article Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2s.317

Abstract

Herpes genitalis pada kehamilan merupakan infeksi pada genital disebabkan Herpes simplex virus (HSV) dengan gejala berupa vesikel berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekurens pada perempuan hamil. HSV dibagi menjadi HSV-1 dan HSV-2. HSV-2 paling sering menyebabkan herpes genital sekitar 82% kasus ditularkan melalui kontak seksual, HSV-1 lebih sering menyebabkan herpes non-genital, tetapi terjadi peningkatan kasus herpes genitalis diakibatkan HSV-1 karena praktek seksual orogenital. Penelitian tahun 2000-2001 dilakukan pada sekitar 16.000 ibu hamil melaporkan 16% terinfeksi HSV-2 dan 66% terinfeksi HSV-1. Infeksi HSV dibagi menjadi infeksi primer, non-primer, rekurens, dan asimptomatis. Frekuensi infeksi HSV neonatus di Amerika Serikat adalah 1/12500 kelahiran hidup. Herpes genitalis pada kehamilan memungkinkan penularan ke janin pada masa intrauterin 5%, perinatal 85%, atau postnatal 10%. Metode pewarnaan Giemsa, kultur HSV, biologi molekular (PCR), pemeriksaan histopatologi, atau serologi membantu menegakan diagnosis HSV. Penularan pada janin dapat menyebabkan abortus, stillbirth, pertumbuhan terhambat, Kelainan kongenital, dan kematian. Penggunaan Asiklovir atau Valasiklovir pada ibu hamil sebagai terapi utama dan terapi supresif. Terapi supresif digunakan untuk mencegah, menurunkan frekuensi rekurensi, menurunkan penularan selama kehamilan, dan menurunkan angka pelaksanaan sectio caesaria. Infeksi herpes genitalis pada kehamilan diatas 34 minggu direncanakan sectio caesarea untuk mengurangi risiko transmisi virus ke bayi. Kontak lama neonatus dengan jalur persalinan pada saat melahirkan spontan akan meningkatkan risiko tertularnya neonatus oleh HSV.Genital Herpes in PregnancyAbstractGenital herpes in pregnancy is an genital infection caused by the Herpes simplex virus (HSV) with symptoms in the form of grouped vesicles on an erythematous basis and is recurrency cases in pregnant women. HSV has HSV-1 and HSV-2. HSV-2 often cause genital herpes about 82% of cases and transmitted by sexual contact, HSV-1 caused more often non-genital herpes more often, but cases of genital herpes caused by HSV-1 were increasing due to orogenital sexual practices. A study in 2000-2001 conducted on about 16,000 pregnant women reported that 16% of cases were infected with HSV-2 and 66% were infected with HSV-1. HSV infection is divided into primary infection, non-primary, recurrent, and asymptomatic. The frequency of HSV-infected neonates in the United States is 1/12500 live of births. Genital herpes in pregnancy allows transmission to the fetus  5% during intrauterine, 85% during perinatal, or 10% during postnatal. Giemsa staining methods, cell culture, molecular biology (PCR), histopathological examination, or serology would be helpful on establishing the diagnosis of HSV. Transmission to the fetus may cause abortion, stillbirth, growth-retardation, congenital disorders, and death. The use of Acyclovir or Valacyclovir for pregnant women may be considered as primary therapy and suppressive therapy. Suppressive therapy is applied to pregnant women to prevent and reduce the frequency of recurrence, transmissions during pregnancy, and the rate of sectio caesaria. Genital herpes infection after 34-weeks-pregnancy is planned for caesarean section to reduce the risk of transmitting the virus to the baby. Prolonged contact of neonates with canal birth at spontaneous delivery will increase the risk of HSV transmission to neonates.Keywords : Genital Herpes, Pregnancy, HSV, Caesarean Section, Suppressive Therapy
Genotip Virus Human Pappiloma Tipe Risiko Rendah pada Wanita Pekerja Seks Komersial di Kota Makassar Yurike Adeline Chandra Montolalu; Susiawaty Susiawaty; Sharvianty Arifuddin
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.348

Abstract

Tujuan: Mengetahui genotip HPV risiko rendah melalui pemeriksaan DNA HPV dan mencari hubungan faktor risiko terhadap angka kejadian infeksi HPV pada PSK diMakassar  Metode: Jenis penelitian ini adalah potong lintang dan terlaksana pada bulan Agustus  2019.  Populasi penelitian adalah wanita PSK usia reproduktif dengan total 80 sampel.Hasil: Pemeriksaan genotip HPV menunjukkan tipe HPV risiko rendah didominasi oleh tipe 43 dan 44 serta riwayat coitarche berpengaruh terhadap angka kejadian Infeksi HPV di Makassar (p=0,002)Kesimpulan: Coitarche pada usia <15tahun merupakan faktor predisposisi terhadap infeksi HPV dan genotip terbanyak HPV risiko rendah adalah tipe 43 dan 44 pada PSK di MakassarGenotype of Low Risk Type Human Papilloma Virus in Female Commercial Sex Workers in MakassarAbstractObjective: To investigate low-risk HPV genotype through HPV DNA examination and to determine the correlation between risk factors and incidence of HPV infection in Commercial Sex Workers (CSWs) in Makassar.Method: Cross-sectional study was used and conducted in August 2019. The study population was productive CSWs with a total of 80 samples.Result: HPV genotype examination showed low-risk HPV types were dominated by types 43 and 44.Conclusion: Coitarche before 15 years old is a predisposing factor for HPV infection and the highest low-risk HPV genotype is type 43 and 44 in CSWs in Makassar.Key words : HPV Infection in Makassar, Low risk HPV
Cervical Cancer Radiotherapy Response in Dr. Hasan Sadikin General Center Hospital Jaeni Pringgowibowo; Dodi Suardi; Ruswana Anwar
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.340

Abstract

Objective: To determine the response to radiation therapy based on the characteristics of cervical cancer patients who were given radiotherapy at Hasan Sadikin Hospital in 2020.Methods: The study was conducted using an observational analytic study method with a cross-sectional design, involving 75 cases of cervical carcinoma who were given complete radiation therapy but were not given neoadjuvant chemotherapy or surgery, which were recorded in the medical record at the Central General Hospital (RSUP) Dr. Hasan Sadikin. Results: Response to therapy had a significant relationship (p< 0.05) with age (p 0.030), histopathological type (p 0.009), and tumor mass size (p 0.042), but had no significant relationship to cervical cancer stage (p 0.055). Further analysis found that the response to radiation therapy at stage III was highly dependent on the size of the tumor mass (p<0.001). Based on the odds ratio calculation, the response to therapy was better in patients aged 35 years 3.44 times compared to patients aged 18-34 years, cervical cancer with squamous type histopathology 5.23 times compared to adenocarcinoma type histopathology, and cervical cancer with tumor mass size. <4 cm 2.86 times compared to tumor mass size 4 cm.Conclusion: The therapeutic response was better in cervical cancer patients who underwent complete radiation therapy in patients aged 35 years, stage III cervical cancer with tumor mass size <4 cm, squamous type histopathology, and tumor mass size <4cm.Respon Radioterapi pada Kanker Serviks di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin BandungAbstrakTujuan: Untuk mengetahui respon terapi radiasi berdasarkan karakteristik pasien kanker serviks yang diberikan radioterapi di Rumah Sakit Hasan Sadikin tahun 2020. Metode: Penelitian dilakukan menggunakan metode studi analitik observasional dengan desain potong lintang, melibatkan 75 kasus karsinoma serviks yang diberikan terapi radiasi komplit tetapi tidak diberikan kemoterapi neoadjuvant maupun tindakan operasi, yang tercatat pada rekam medis di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin.Hasil: Respon terapi memiliki hubungan yang signifikan (p<0,05) terhadap usia (p 0,030), tipe histopatologi (p 0,009), dan ukuran massa (p 0,042), tetapi memiliki hubungan yang tidak bermakna terhadap stadium kanker serviks (p 0,055). Analisis lebih lanjut didapatkan bahwa respon terapi radiasi pada stadium III sangat bergantung kepada ukuran massa tumor (p<0,001). Berdasarkan penghitungan odd ratio respon terapi lebih baik didapatkan pada pasien berusia ≥35 tahun 3,44 kali dibandingkan pada usia 18-34 tahun, kanker serviks dengan histopatologi tipe skuamosa 5,23 kali dibandingkan histopatologi tipe adenokarsinoma, dan kanker serviks dengan ukuran massa tumor <4 cm 2,86 kali dibandingkan ukuran massa tumor ≥4 cm.Kesimpulan: Respon terapi lebih baik pada pasien kanker serviks yang dilakukan terapi radiasi komplit pada pasien berusia ≥ 35 tahun, kanker serviks stadium III dengan ukuran massa tumor <4 cm, histopatologi tipe skuamosa, dan ukuran massa tumor <4cm.Kata kunci : respon terapi, radiasi, kanker serviks
Tiga Kasus Holoprosensefal Alobar dengan Variasi Gambaran Klinis:Diagnosis Ultrasonografi Deviana Soraya Riu; Efendi Lukas
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.382

Abstract

Holoprosensefal (HPE) adalah spektrum malformasi dengan berbagai hasil luaran. Laporan ini menjelaskan 3 kasus holoprosensefal alobar yang dikonfirmasi saat antenatal dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Selain gambaran holoprosensefal alobar yang serupa pada ketiga kasus, ditemukan gambaran lain yaitu probosis, siklops, kelainan jantung, dan arteri umbilikalis tunggal. Gambaran klinis yang berbeda adalah preeklamsia, polidaktili, dan mikropenis pada kasus pertama, pada kasus kedua adalah mielomeningokel; dan hidransefal untuk kasus ketiga. Analisis kromosom dilakukan hanya pada kasus kedua dengan hasil berupa translokasi kromosom 3 ke 9 (46 XX, der (9) t(3:9)(p21:q33). Pencitraan menggunakan USG adalah modalitas yang bermanfaat untuk mendeteksi holoprosensefal alobar. Bila skrining dilakukan pada masa usia kehamilan yang tepat maka dapat ditemukan kelainan kongenital mayor letal secara dini, sehingga terminasi kehamilan lebih mudah dengan komplikasi yang lebih minimal.Three Cases Of Holoprosencephalic Alobar With A Variety Of Clinical Features: Ultrasound DiagnosticAbstractHoloprosencephaly (HPE) is a spectrum of malformations with various outcomes and the most common congenital brain disorder. This report describes 3 cases of alobar holoprosencephaly that were confirmed antenatally by ultrasound examination. Apart from the similar appearance of alobar holoprosencephaly in all three cases, other similar characteristics were proboscis, cyclopia, heart defects, and a single umbilical artery. The different clinical features were maternal preeclampsia, polydactyly, and micropenis in the first case. The different clinical feature in the second case was myelomeningocele; and hydranencephaly for the third case. Chromosome analysis was performed only in the second case with results in the form of translocation of chromosomes 3 to 9 (46 XX, der (9) t(3: 9)(p21: q33).If the chromosome analysis is limited, ultrasound imaging is beneficial for detecting alobar holoprosencephaly.Key words: alobar holoprosencephaly, myelomeningocele, hydranencephaly, preeclampsia
Profil Pasien Kanker Ovarium yang Dilakukan Fertility Sparing Surgery di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2017-2020 Rania Ramadha Athiyazahra; Ali Budi Harsono; Hartanto Bayuaji
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.349

Abstract

Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan karakteristik pasien kanker ovarium yang dilakukan tindakan fertility sparing surgery.Metode: Penelitian deskriptif menggunakan data rekam medis pasien kanker ovarium yang dilakukan tindakan fertility sparing surgery di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2017-2020. Sampel yang digunakan sebanyak 35 data rekam medis menggunakan metode total sampling. Hasil: Dari 35 pasien, sebagian besar berusia 20-29 tahun (37%),belum menikah (54%), dan nulipara (71%), Tindakan fertility sparing surgery dilakukan pada stadium I-II untuk tipe sel epitel, stadium I-III untuk tipe sel germinal, dan hanya pada stadium I untuk tipe sel sex cord stromal. Pasien usia <20 tahun dilakukan tindakan fertility sparing surgery pada stadium III dengan jenis histopatologi tipe sel germinal sementara pasien dengan usia>20 tahun mayoritas dilakukan tindakan pada stadium I dengan tipe histopatologi terbanyak adalah tipe sel epitel.Kesimpulan: Tindakan fertility sparing surgery bertujuan untuk mempertahankan organ reproduksi. Karakteristik pasien kanker ovarium yang dapat dilakukan tindakan fertility sparing surgery berusia 20-29 tahun dan nulipara. Tindakan fertility sparing surgery pada tipe sel epitel dan tipe sex cord stromal hanya dilakukan pada stadium dini, sementara pada tipe sel germinal dapat dilakukan hingga stadium III. Ovarian Cancer Patient Profile Undergoing Fertility Sparing Surgery at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung From 2017 Until 2020Abstract Objective: Aimed to describe the characteristics of ovarian cancer patients underwent fertility sparing surgery between 2017-2020 at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Methods: A descriptive study that used medical records of ovarian cancer patients that underwent fertility sparing surgery at Dr. Hasan Sadikin General Hospital from 2017-2020. The sample used was 35 data, using the total sampling methods. Result: From a total of 35 patients, most were aged 20-29 years (37%), unmarried (54%), and nulliparous (71%). Fertility sparing surgery was performed at stage I-II for epithelial cell, stage I-III for germ cells, and stage I for sex-cord stromal cells. Patients <20 years underwent fertility sparing surgery at stage III with the most common histopathology type is germ cell while patients >20 years underwent fertility sparing surgery at stage I with the histopathology type is surface epithelial cells.Conclusion: Fertility sparing surgery aimed to maintain the reproductive organs. Characteristics of patients who underwent fertility sparing surgery are aged 20-29 years and nulliparous. Fertility sparing surgery can be performed at an early stage for epithelial cell and sex-cord stromal cells, while germ cell can be performed up to stage III.Key words: ovarian cancer, fertility sparing surgery, characteristics
Prevalensi Mioma Uteri dengan Koeksistensi Hiperplasia Endometrium Nadya Hasna Rasyida Da; Aditiyono Aditiyono; Gita Nawangtantrini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.316

Abstract

Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi mioma uteri dengan koeksistensi hiperplasia endometrium pada RSUD Margono Soekarjo Purwokerto dalam rentang 2017−2019.Metode: Penelitian ini menggunakan desain observational cross-sectional yang dilakukan di Pusat Onkologi di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. Sumber data adalah hasil pemeriksaan mikroskopis pada laboratorium Patologi Anatomi dari pasien yang dilakukan histerektomi dengan teknik total sampling pada rentang waktu tahun 2017-2019. Data kemudian dicatat hasil pengolahan data univariat dan ditampilkan dalam bentuk tabel.Hasil: Dari 389 partisipan yang diteliti, terdapat 306 (78.7%) pasien terdiagnosa dengan mioma uteri tanpa hiperplasia endometrium dan 83 (21.3%) pasien dengan diagnosa mioma uteri disertai dengan koeksistensi hiperplasia endometrium. Dari 83 sampel pasien dengan koeksistensi hiperplasia endometrium, didapatkan 49 (59.0%) sampel memiliki gambaran hiperplasia simpleks non atipik, 14 sampel (16.9%) memiliki gambaran hiperplasia kompleks non atipik, 6 (7.2%) sampel dengan gambaran hiperplasia simpleks atipik dan 14 (16.9%) dengan gambaran hiperplasia kompleks atipik.Kesimpulan: Mioma uteri banyak terjadi pada usia perimenopause karena ketidak seimbangan hormone antara estrogen dan progesterone. Mioma uteri dapat terjadi dengan atau tanpa koeksistensi dengan patologi lainnya, seperti hiperplasia endometrium, adenomyosis ataupun polip. Hiperplasia endometrium sering terjadi sebagai patologi sekunder, dengan prevalensi terbanyak adalah hiperplasia endometrium simpleks non atipik.The Prevalence of Uterine Fibroid with Endometrial Hyperplasia CoexistenceAbstractObjective: This study was conducted to determine the prevalence of uterine fibroids with the coexistence of endometrial hyperplasia at RSUD Margono Soekarjo Purwokerto in the period of 2017−2019.Methods: This study used an observational cross-sectional design, conducted at the Oncology Center of RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. The data used are the results of microscopic examinations of patients who underwent hysterectomy in the Anatomical Pathology laboratory with total sampling technique in the period of 2017-2019.Results: Of the 389 participants studied, there were 306 (78.7%) patients diagnosed with uterine fibroids without endometrial hyperplasia and 83 (21.3%) patients with uterine fibroids with the coexistence of endometrial hyperplasia. From the 83 samples of patients with coexistence of endometrial hyperplasia, 49 (59.0%) samples had simple hyperplasia without atypia, 14 (16.9%) had complex hyperplasia without atypia, 6 (7.2%) had simple atypical hyperplasia and 14 ( 16.9%) with complex atypical hyperplasia.Conclusion: Uterine fibroids often occur at perimenopausal age due to hormonal imbalance of estrogen and progesterone. Uterine fibroids may occur with or without coexistence of other pathologies, such as endometrial hyperplasia, adenomyosis or polyps. Endometrial hyperplasia often occurs as a secondary pathology, with the highest prevalence being simplex  hyperplasia without atypia.Key words: uterine fibroid, endometrial hyperplasia, perimopause
Tinjauan Penggunaan Artificial Intelligence pada Overactive Bladder Syndrome Wanita di daerah dengan Sumber Daya Terbatas Edwin Armawan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.376

Abstract

Overactive Bladder Syndrome merupakan keadaan yang ditandai dengan keluhan Urinary urgency, yang umumnya disertai frekuensi dan nocturia, dengan atau tanpa urgency urinary incontinence (UI), pada keadaan tidak ada infeksi saluran kemih atau patologi lain yang jelas terdapat.Pada penelitian berbasis populasi didapatkan prevalensi OAB pada wanita berkisar antara 9-43%,2-9 dan meningkat sesuai dengan pertambahan usia10 walaupun didapatkan data pada beberapa penelitian prevalensinya menurun pada wanita diatas usia 60 tahun yang penyebab masih belum jelas.Dampak OABS pada kehidupan seseorang antara lain dapat menyebabkan terganggunya fungsi social, aktivitas fisik, vitalitas, dan emosi sehingga pada akhirnya OABS dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup secara bermakna, meningkatkan skor depresi, dan menurunkan kualitas tidur seseorang. Lebih jauh lagi efek dari OABS dapat menyebabkan patah tulang pada orang tua akibat jatuh karena kehilangan keseimbangan saat terbangun dari tidur malam karena akan berkemih.
Tata Laksana Disfungsi Dasar Panggul Pascasalin Mochamad Rizkar Arev Sukarsa; Rena Nurita; Melia Juwita Adha
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.339

Abstract

Tujuan: melakukan telaah literatur mengenai identifikasi dan tata laksana dini disfungsi dasar panggul pada onset baru atau lama. Gejala dan perubahan anatomis terkait disfungsi otot dasar panggul dapat berhubungan dengan hipertonisitas, hipotonisitas, atau gangguan koordinasi otot dasar panggul. Diagnosis disfungsi dasar panggul pascasalin sering terlewat karena ketiadaan alat skrining disfungsi dasar panggul khusus kehamilan. Evaluasi klinis dan diagnosis paling utama didasari pada gejala yang dilaporkan pasien. Evaluasi klinis mencakup empat domain penilaian yaitu terkait fungsi seksual, fungsi penyokong dasar panggul, fungsi urinasi, dan fungsi defekasi. Metode: merangkum berbagai referensi termutakhir yang dapat menjadi pedoman dan tata laksana disfungsi dasar  panggul. Hasil: awal disfungsi dasar panggul pascasalin ditegakkan berdasarkan domain evaluasi klinis yang dikeluhkan oleh pasien. Tata laksana meliputi pertimbangan onset gejala, tidak menganggap normal suatu gejala yang mengganggu, tata laksana konservatif, pemantauan berkala, dan lanjutan. Latihan otot dasar panggul (Kegel) terbukti dapat mengidentifikasi dan menguatkan otot yang berkaitan dengan fungsi miksi, defekasi, dan seksual. Kesimpulan: Latihan Kegel dapat berperan sebagai tata laksana rutin mandiri pasien dengan disfungsi dasar panggul dengan gejala semua domain. Latihan ini dapat dikombinasikan dengan terapi biofeedback atau modalitas rehabilitasi yang lain.Management of Pelvic Floor DysfunctionAbstract Objective: to perform a literature review the identification and early management of new-onset or pre-existing pelvic floor dysfunction. Symptoms and anatomical changes related to pelvic floor muscle dysfunction may be related to hypertonicity, hypotonicity, or discoordination of the pelvic floor muscles. Diagnosis of pelvic floor dysfunction  after delivery is difficult because there are no pregnancy-specific pelvic floor dysfunction screening tools. Clinical evaluation and diagnosis are primarily based on the patient's reported symptoms, which include four assessment domains related to sexual function, pelvic floor support function, urinary, and defecation. Methods: summarizes the latest references that provide guidance and treatment for pelvic floor dysfunction. Results: Management of pelvic floor dysfunction after the initial diagnosis was based on the evaluation domain from patient’s symptoms. Management includes considering the symptoms onset, awareness of disturbing symptoms, conservative management, monitoring, and advanced management. Pelvic floor exercises (Kegel) are clinically proven to identify and strengthen the muscles associated with micturition, defecation, or sexual function.Conclusion: Kegel exercises can act as routine independent management of pelvic floor dysfunction patients with symptoms in all domains. The exercise can be combined with biofeedback therapy or other rehabilitation modalities.Key words: clinical evaluation, hypertonicity, hypotonicity, kegel exercise,  pelvic floor, rehabilitation