cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Perbandingan Wound Dehiscence Pasca Seksio Sesarea Antara Pasien Rujukan dan Non-rujukan di Bandung Melia Juwita Adha; Benny Hasan Purwara; Ruswana Anwar
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.256

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kejadian wound dehiscence pasca seksio sesarea dan bakteri terkait antara pasien rujukan dengan non-rujukan. Metode: Penelitian ini merupakan  laporan serial kasus observasional secara retrospektif.  Kriteria subjek pada penelitian ini terdiri atas pasien rawat inap yang didiagnosis wound dehiscence pasca seksio sesarea, berusia 16 - 45 tahun, paritas 1 – 8, lama rawat 3 – 14 hari, terdapat pemeriksaan kultur pus, kadar hemoglobin dan albumin selama dirawat. Penelitian dilakukan di Departemen/SMF Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. Hasan Sadikin/Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung periode Januari – Desember 2019. Hasil: Dari seluruh seksio sesarea terdapat 942 kasus rujukan dan 431 kasus non rujukan. Wound dehiscence terjadi pada 20 kasus (1,45%), dengan jumlah kasus 16 (1,7%) dari seluruh kasus rujukan dan 4 (0,92%) kasus dari seluruh pasien non-rujukan. Tidak terdapat perbedaan karakteristik pasien dari kadar hemoglobin dan albumin ataupun luaran lama perawatan  (p>0,05). Kultur pus wound dehiscence menunjukkan bakteri tersering yang ditemukan dua kelompok adalah Staphylococcus spp. Kesimpulan: wound dehiscence lebih sering terjadi pada kasus rujukan dan tidak terdapat perbedaan karakteristik dan jenis bakteri antar kelompok rujukan dan non-rujukan.Comparison of the Incidence of Post-Caesarean Wound Dehiscence among Referral and Non-referral Patients in BandungAbstract Objective: This study aims to compare the incidence of post caesarean wound dehiscence and related bacteria between referred patients and non-referred patients.  Method: This was a retrospective observational case series. Inclusion criteria consisted of all inpatients who diagnosed as caesarean  section wound dehiscence, aged 16 – 45 years old, parity 1 – 8, length of stay 3 -14 days, as well as the albumin, hemoglobin, and pus culture had been examined. The study was conducted in Obstetric and Gynaecology Department, Hasan Sadikin Hospital, Bandung from January to December 2019. Result: Among all caesarean section cases, the referred and non-referred cases were 942 and 431, respectively. Wound dehiscence were occurred in 20 cases, consisted of 16 referred cases (1.7%) and 4 (0.09%) non-referred cases. There was no difference in subject characteristics, hemoglobin, albumin, and length of stay (p>0.05). The most common observed bacteria in both group was Staphylococcus spp. Conclusion: Wound dehiscence is more frequent occurred in referred cases and bacterial characteristics between referred and non-referred group is comparable.Key words: caesarian section, pus culture, referred case, Staphylococcus
Gambaran Karakteristik Dan Luaran Maternal Pasien Obstetri Yang Dirawat di Ruang Perawatan Intensif RSUP Dr. Hasan Sadikin Selama Periode 2017-2018 Katharina Hiria Daundy; Muhammad Alamsyah Aziz; Siti Salima
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.213

Abstract

Tujuan: Penelitian ini  dilakukan untuk mengetahui  gambaran  karakteristik dan  luaran maternal   pasien obstetri yang  dirawat di ruang perawatan intensif  RSUP Dr. Hasan Sadikin selama periode  tahun 2017–2018. Metode: Penelitian ini  menggunakan metode studi retrospektif deskriptif. Hasil: Sebanyak 173 pasien obstetri yang dirawat di ruang perawatan intensif  dengan luaran maternal hidup 159 pasien dan kasus meninggal 14 kasus. Luaran maternal hidup dengan penyakit penyerta terbanyak yaitu hipertensi dalam kehamilan, seperti eklamsia  36 (22,6%), impending eklamsia  12 (7,5%)  dan  PEB  52 (32,7%). Selain itu terdapat  penyakit jantung sebanyak 31 (19,5%). Luaran maternal meninggal   terbanyak  dengan penyakit jantung sebanyak 5 pasien (35,7%), eklamsia  sebanyak 4 pasien (28,6%). Kesimpulan: Indikasi rawat ruang intensif  terbanyak adalah hipertensi maligna 62 (39,0%). Jenis persalinan  terbanyak yaitu seksio sesarea 135 (78,0%).  Pasien dengan lama perawatan  selama <5 hari 99 (57,2%), 5–10 hari 63 (36,4%)  dan >10 hari 11 (6,4%).Bedasarkan hasil penelitian ini didapatkan penyakit terbanyak pasien obstetri yang dirawat di ruang perawatan intensif adalah  hipertensi dalam kehamilan meliputi eklamsia, impending eklamsia, dan preeklamsia berat.Description of Maternal Characteristics and Outcomes of Obstetrical Patients  in the Intensive Care Unit  Dr. Hasan Sadikin Hospital  during The Period 2017−2018Abstract:Objective: This study was conducted to determine the characteristics and maternal outcomes of obstetric patients who were treated in the intensive care unit of RSUP Dr. Hasan Sadikin during the 2017-2018 period. Method: a research method using a descriptive retrospective study.Result: A total of 173 obstetric patients were treated in intensive care unit 159 maternal outcomes and 14 cases died. Maternal outcomes of life with the most comorbidities are hypertension in pregnancy, such as eclampsia 36 (22.6%), impending eclampsia 12 (7.5%) and PEB 52 (32.7%). In addition there were heart disease as many as 31 (19.5%). Most maternal outcomes died with heart disease in 5 patients (35.7%), eclampsia in 4 patients (28.6%).Discussion : The most indication of intensive care is malignant hypertension 62 (39.0%). The most type of childbirth is cesarean section 135 (78.0%). Patients with duration of treatment for <5 days 99 (57.2%), 5-10 days 63 (36.4%) and> 10 days 11 (6.4%).Based on the results of this study found that most obstetric patients treated in intensive care are hypertension in pregnancy including eclampsia, impending eclampsia, and severe preeclampsia.Key words: Obstetric patients, intensive unit, maternal outcomes.
Faktor Risiko Kejadian Tumor Trofoblas Gestasional Pasca Evakuasi Molahidatidosa di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Agustus 2013 – Agustus 2018 Indah Permata Noer Islami; Dodi Suardi; Hanom Husni Syam; Mulyanusa A. Ritonga
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.201

Abstract

Tujuan: Penelitian bertujuan mengetahui faktor risiko kejadian TTG pasca evakuasi, untuk memprediksi penderita molahidatidosa yang berkembang menjadi TTG atau kembali normal.Metode: Menggunakan studi case control retrospektif dalam waktu 1 Agustus 2013 - 1 Agustus 2018. Populasi penelitian, penderita molahidatidosa yang datang dan dirawat pada Obstetri dan Ginekologi RSUP Hasan Sadikin.Hasil: Terdapat 59 pasien high risk, dan 67 pasien low risk. Probabilitas <0,05 terdapat hubungan signifikan antara usia dengan kejadian TTG. Probabilitas 0,031, terdapat hubungan signifikan antara paritas dengan kejadian TTG. Dengan uji Fisher Exact terdapat hubungan bermakna antara kadar βHCG praevakuasi dengan kejadian TTG (p value =<0,001), dan hubungan bermakna antara gambaran PA dengan kejadian TTG (p value =<0,001). Dengan uji Spearman Correlation terdapat hubungan yang bermakna antara kadar βHCG Praevakuasi dengan gambaran PA (p value <0, 001).Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara usia, paritas, BHCG, Patologi Anatomi, dengan kejadian TTG pasca evakuasi molahidatidosa. Dari analisis multivariat dengan uji regresi logistic didapatkan bahwa BHCG dan PA yang merupakan faktor risiko TTG.Risk Factors Trofoblas Tumor of Post Evacuation Of Hydatidiform Mole in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung Period August 2013−August 2018 PeriodAbstractObjective: This study aims to determine the risk factors for GTT events after HM evacuation, used to predict patients who will develop into GTT or return to normal.Methods: Case control study (retrospective) was conducted from August 1st 2013 −August 1st 2018. Population of this study was all patients with HM who came and treated at the RSHS Obstetrics and Gynecology Department. Result: There are 59 high risk, 67 low risk patients. The probability value is 0.015, (<0.05) there is a significant relation between age and the incidence of GTT. The probability value of 0.031, there is a significant relationship between parity and the incidence of GTT. Fisher Exact test, significant relation between pre-evacuated βHCG levels and GTT events (p value = <0,001), and significant relation between Pathology Anatomy result and GTT events (p value =<0,001) was found. Spearman Correlation test, there was significant relation between levels of βHCG pre-evacuation with Pathology Anatomy result (p value <0, 001). Conclusion: There is a significant relation between age, parity, BHCG, Pathology Anatomic result, and the incidence of GTT after evacuation of HM. From multivariate analysis with logistic regression test, it was found that BHCG and pathology anatomic were risk factors for GTT.Key words: Molahidatidosa, Gestational Trophoblast Tumor.
Apa itu Turun Peranakan M. Rizkar Arev Sukarsa; Aditya Wibowo; Arieff Kustiandi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Article Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2s.268

Abstract

Tujuan untuk mengetahui lebih dalam tentang turun peranakan atau prolaps alat genitalia dapat disamakan dengan suatu hernia, dimana suatu organ genitalia turun ke dalam vagina, bahkan mungkin keluar liang vagina. Hal ini karena kelemahan otot fasia dan ligamen penyokongnya. Kerusakan pada penyangga vagina dapat terjadi dalam satu lokasi saja (misalnya, dinding vagina anterior saja), tetapi lebih sering terjadi kombinasi. Metode merangkum daftar referensi terupdate sebagai bahan artikel yang dapat menjadi pedoman dan tatalaksana prolaps organ panggul. Hasil tidak semua prolaps alat genitalia membutuhkan terapi, karena banyak penderita tidak mempunyai keluhan, terutama stadium I dan kadang-kadang stadium II. Pada mereka yang mempunyai keluhan tentu perlu penanganan dengan tepat agar penderita merasa lebih baik. Prolaps uteri stadium II dan III dipilih vaginal histerektomi dan disertai dengan kolporafi anterior dan kolpoperineorafi, Hal ini terutama bila penderita sudah mengalami manaupose atau tidak memerlukan lagi organ reproduksi. Kesimpulan, walaupun tidak mengancam nyawa, akan tetapi prolapsus alat genitalia dapat menurunkan kualitas hidup wanita.What is ProlapseAbstractPurpose to find out more about descent or genital prolapse can be likened to a hernia, in which a genital organ descends into the vagina, possibly even out of the vaginal canal. This is due to weakness of the fascial muscles and ligaments that support them. Damage to the vaginal support can occur in one location only (eg, anterior vaginal wall only), but is more common in combination. Although it does not cause death, pelvic organ prolapse can reduce the quality of life for women. Method summarize an updated list of references as material for articles that can guide and treat pelvic organ prolapse. Result not all prolapse of the genitalia needed therapy, because many patients had no complaints, especially stage I and sometimes stage II. Those who have complaints, of course, need to be handled properly so that the sufferer feels better. Uterine prolapse stages II and III were chosen by vaginal hysterectomy and accompanied by anterior colporaphy and kolpoperineorafi, especially if the patient has menopause, or no longer needs reproductive organs. Conclusion, although not life threatening, genital prolapse can reduce a woman’s quality of life.Key word: Prolap genitalia, quality of life for women
Relationship of Placental TLR-7 Expression with Cord Blood HBV DNA and Placental HBV DNA Naeny Fajriah; Maisuri T Chalid; Lenny Lisal; Efendi Lukas; St. Nur Asni; Rina Masadah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 2 September 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2.289

Abstract

Objective: To determine the role of TLR-7 expression on intrauterine vertical transmission in pregnancy through identification of serum hepatitis B markers in both maternal and umbilical cord blood.Method: Analysis of TLR expression was performed on 38 paraffin block samples of placental tissue acquired from mothers with HBV using TLR immunohistochemical staining.Result: 16 of 38 samples were acquired from mothers aged 26-30 years old. Most of the samples were from primiparous mothers (52.6%). This study found no significant association between TLR-7 expression and HBV DNA in the placenta and cord blood (p = 1.000). However, we found a significant association between placental TLR-7 expression and maternal HBV DNA (p = 0.034). Meanwhile, placental HBeAg and HBV DNA were not associated with placental TLR-7 expression (p = 0.082; p = 1.000).Conclusion: There was no significant association between TLR-7 expression and HBV DNA in the placenta and cord blood, but we found a significant association between TLR-7 expression and maternal HBV DNA.  Hubungan Ekspresi TLR-7 Plasenta dengan HBV DNA Tali Pusat dan HBV DNA Plasenta AbstrakTujuan: untuk melihat peran ekspresi TLR-7 terhadap transmisi vertikal intrauterina pada kehamilan melalui identifikasi marker serum hepatitis B pada darah ibu dan talipusar.Metode: Analisis ekspresi TLR dilakukan pada 38 sampel blok paraffin jaringan plasenta ibu yang menderita HBV dengan memakai pewarnaan imuhohistokimia TLR.Hasil: 16 dari 38 sampel berusia 26-30 tahun. Sebagian besar sampel merupakan kelompok primipara (52.6%). Penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara ekspresi TLR-7 di plasenta dan HBV DNA darah tali pusat (p = 1.000). Tapi, kami menemukan hubungan yang signifikan antara ekspresi TLR-7 plasenta dan HBV DNA ibu (p = 0,034). Sedangkan HBeAg dan HBV DNA plasenta tidak berhubungan dengan ekspresi TLR-7 plasenta (p = 0,082; p = 1.000).Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara ekspresi TLR-7 dan DNA HBV di plasenta dan tali pusat, tetapi kami menemukan hubungan yang signifikan antara ekspresi TLR-7 dan DNA HBV ibu.  Kata kunci: toll-like receptor (TLR) 7, HBV DNA, tali pusat, plasenta, Hepatitis B, infeksi intrauterina
Perbedaan Karakteristik, Jenis Persalinan, Luaran Ibu dan Bayi Antara Preterm Dini dan Lanjut Mirza Sulanda Panji Putra; Johannes C Mose; Zulvayanti Zulvayanti; Edwin Armawan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 2 September 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2.297

Abstract

Tujuan: Kelahiran preterm dibagi menjadi dini dan lanjut. Kelahiran preterm memiliki angka, mortalitas dan morbiditas yang cukup tinggi. Data mengenai preterm dini dan lanjut di RSHS masih minim sehingga penelitian ini perlu untuk dilakukan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif secara cross-sectional untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan signifikan mengenai karakteristik ibu (riwayat paritas, pendidikan, pekerjaan, riwayat menikah) dengan persalinan preterm dini dan lanjut. Data berjumlah 125 pasien diambil melalui rekam medis dari Januari 2018 sampai Desember 2019.Hasil: Preterm lanjut ditemukan lebih banyak pada kelompok paritas 1 (60,6%), kelompok pendidikan SMP (40,8%), kelompok pekerjaan ibu rumah tangga (66,7%), dan kelompok status pernikahan menikah (43,9%). Preterm dini ditemukan lebih banyak pada kelompok paritas 3 (53,7%), kelompok pendidikan SD (73,7%), kelompok pekerjaan ibu rumah tanga (58,2%), dan status pernikahan menikah (56,1%). Pada kelompok karakteristik tidak terdapat perbedaan bermakna antara preterm dini dan lanjut. Terdapat perbedaan bermakna antara preterm dini dan lanjut untuk variabel luaran ibu (P = 0,028) dan luaran bayi (P = 0,001). Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada preterm dini dan lanjut untuk variabel luaran ibu (jenis persalinan) dan variabel luaran bayi (ruang rawat bayi).Differences Between Characteristics, Types of Delivery, Mother and Baby Outcome Between Early and Late PretermAbstractObjective: Preterm birth divided into early and late. Preterm birth has a fairly high incidence, mortality and morbidity rate. Risk factors of preterm birth are multifactorial. Data related to preterm at RSHS is very minimal so this research needs to be done.Method: This study is a comparative analytic study with cross-sectional approach to analyze the significant differences in characteristics of mothers (parity history, education, occupation, marriage history) preterm labor. Data from 125 patients is collected through medical records from January 2018 to December 2019.Result: Late preterm was found more in parity 1 group (60.6%), junior high school group (40.8%), housewives (66.7%), and marital status group (43.9%). Early preterm was found more in parity 3 group (53.7%), elementary school group (73.7%), housewives (58.2%), and marital status (56.1%). In characteristic group there were no significant differences between early and late preterm. There were significant differences between early and late preterm variables for maternal outcomes (P = 0.028) and infant outcomes P = 0.001). Conclusion: There are significant differences between early and late preterm for maternal outcome variables (type of delivery) and infant outcome (level 1 and level III ward). Key word: Characteristics, type of delivery, outcome, preterm birth.
Peran Sinbiotik pada Pencegahan Penyakit Alergi Johanes C. Mose
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Article Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2s.327

Abstract

Penyakit alergi menjadi masalah kesehatan dunia terutama di negara maju karena angka kejadiannya semakin meningkat, saat ini tercatat sekitar 30% dari populasi. Penyakit alergi berhubungan dengan faktor genetik (keturunan) dan atau faktor lingkungan yang mengakibatkan ketidakseimbangan mikrobiota usus ( dysbiosis) dan perubahan sistem imun tubuh. Walaupun faktor genetik dapat mendasari perkembangan dari penyakit alergi, namun kecenderungan semakin meningkat kejadiannya pada 2 dekade terakhir. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya faktor lingkungan termasuk cara persalinan, penggunaan anti biotika, diet tinggi lemak dan rendah serat, rendahnya kadar asam lemak omega-3 dan defisiensi/ insufisiensi vitamin D. Pada keadaan normal, mikrobiota usus berada dalam keadaan eubiosis, berbeda dengan keadaan disbiosis akibat ketidak seimbangan komposisi dan atau fungsi mikrobiota usus, yang berhubungan dengan penyakit alergi seperti eksim, asma dan alergi makanan. Pada penyakit alergi terjadi pengurangan variasi mikrobiota termasuk laktobasilus dan bifidobakteri dalam usus bayi sebelum timbulnya gejala klinis penyakit atopia. Upaya untuk memperbaiki keseimbangan mikrobiota dengan pemberian prebiotik, probiotik atau sinbiotik merupakan strategi pencegahan penyakit alergi yang sudah banyak dilaporkan. Pelbagai penelitian intervensi sudah pernah dilakukan pada binatang maupun uji klinis pada manusia dengan menggunakan pelbagai macam prebiotik, probiotik maupun sinbiotik. Beberapa analisis sistematik sudah dilakukan dengan hasil yang kontroversial.(Synbiotics : A new Perspective to Overcome Hereditary Basis of Allergic Disease)AbstractAllergic diseases are becoming a world health problem, especially in developed countries because the incidence rate is increasing, currently recorded about 30% of the population. Allergic diseases are associated with genetic factors (heredity) and/or environmental factors that result in an imbalance of the gut microbiota (dysbiosis) and changes in the body's immune system. Although genetic factors can underlie the development of allergic diseases, the trend has increased in the last 2 decades. This can be due to the presence of environmental factors including the mode of delivery, the use of anti-biotics, a high-fat and low-fiber diet, low levels of omega-3 fatty acids and vitamin D deficiency/ insufficiency. Under normal circumstances, the gut microbiota is in a state of eubiosis, in contrast to the state of dysbiosis due to imbalance of the composition and or function of the gut microbiota, which is associated with allergic diseases such as eczema, Asthma and food allergies. In allergic diseases there is a reduction in variations of the microbiota including lactobasilus and bifidobakteri in the baby's intestines before the onset of clinical symptoms of aopia disease. Efforts to improve the balance of the microbiota with the administration of prebiotics, probiotics or synbiotics are a widely reported allergy disease prevention strategy. Various intervention studies have been conducted in animals and clinical trials in humans using a variety of prebiotics, probiotics and synbiotics. Some systematic analysis has already been done with controversial results.Key word: prebiotic, probiotic, synbiotic, allergic diseases
Analisis Manajemen Tatalaksana Kanker Ginekologi di RSUP Sanglah di Era Pandemi COVID-19 I Gde Sastra Winata; Ngakan Ketut Darmawan; I Nyoman Bayu Mahendra
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Article Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2s.274

Abstract

AbstrakPandemi COVID-19 memberikan tantangan tersendiri dalam penanganan kanker, khususnya kanker ginekologi. Kondisi pasien penderita kanker yang telah mengalami immunocompromised baik karena penyakitnya maupun efek samping dari obat-obatan yang diberikan, berpotensi meningkatkan risiko pasien kanker untuk mengalami infeksi COVID-19 berat. Penatalaksanaan utama dari kanker yang bertonggak pada tiga poros yaitu operasi, kemoterapi, dan radioterapi perlu dilakukan adaptasi demi meningkatkan angka survival rate  pada pasien.Management of Gynecological Cancers in the COVID-19 Era: a Persepctive from Sanglah General HospitalAbstractThe COVID-19 pandemic as challenges in dealing with cancer, especially gynaecological cancer. The condition of cancer patients who have experienced immunocompromised due to both the disease and the side effects of the drugs increases the risk of cancer patients to experience severe COVID-19 infection. The management of cancer consists of three axes; surgery, chemotherapy, and radiotherapy, and needs to be adapted to increase patient survival. Key word: COVID-19; chemotherapy; operative; radiotherapy; gynaecological cancer     
Adenomiosis Berdampak Buruk terhadap Keberhasilan in Vitro Fertilization William Alexander Setiawan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Article Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2s.175

Abstract

AbstrakTujuan: Memaparkan etiologi dan faktor risiko, diagnosis banding, patofisiologi, pemantauan, terapi, komplikasi, rekurensi dan tindakan preventif pada kasus preeklamsia pascasalin.Metode: Tinjauan pustaka dengan berbagai referensi yang diakses melalui mesin pencarian seperti Pubmed dan Sci-Hub dengan menggunakan kata kunci preeclampsia, hypertension, postpartum, management. Sumber referensi yang digunakan yaitu guidelines, jurnal, dan buku teks yang diterbitkan dalam 15 tahun terakhir.Kesimpulan: Insiden preeklamsia di Indonesia yaitu 128.273/tahun atau sekitar 5,3%. Sebanyak 0,3 – 27,5% kasus yang dilaporkan mengalami preeklamsia atau hipertensi pascasalin. Gejala-gejala preeklamsia pascasalin muncul setelah melahirkan. Mayoritas kasus berkembang dalam 48 jam setelah persalinan, walaupun sindrom dapat muncul hingga 6 minggu setelah persalinan. Periode pascasalin merupakan waktu kritis bagi spesialis obstetri dan ginekologi untuk menjamin wanita dengan riwayat preeklamsia untuk dipantau dalam jangka waktu pendek dan panjang. Akan tetapi, pemantauan pascasalin sangatlah rendah, berkisar antara 20-60%. Pemilihan antihipertensi pasca salin yaitu berikatan kuat dengan protein dan solubilitas lipid yang rendah sehingga lebih sedikit yang masuk ke ASI. Selain itu, dipengaruhi juga oleh ionisasi, berat molekul dan konstituen ASI (kandungan lemak, protein, dan air). Agen lini pertama untuk preeklamsia pascasalin adalah labetalol dan hidralazin intravena serta nifedipin. Wanita dengan hipertensi gestasional ataupun preeklamsia biasanya dapat menghentikan antihipertensi dalam 6 minggu pasca salin.Postpartum PreeclampsiaAbstractObjective: To explain about etiologies and risk factors, differential diagnosis, pathophysiology, follow up, treatment, complications, recurrence, and prevention of preeclampsia post delivery discharged.Method: Literature review with several references accessed through search engines such as Pubmed and Sci-Hub by using keywords preeclampsia, hypertension, postpartum, management. Reference sources used are guidelines, journals, and textbooks published in the last 15 years.Conclusion: The incidence of preeclampsia in Indonesia is 128,273/year or around 5.3%. As many as 0.3-27.5% of cases reported postpartum preeclampsia or hypertension. Symptoms of postpartum preeclampsia appear after delivery. The majority of cases develop within 48 hours after delivery, although the syndrome can appear up to 6 weeks after delivery. The postpartum period is a critical time for obstetricians and gynecologists to ensure women with a history of preeclampsia are monitored in the short and long term. However, postpartum monitoring is very low, ranging from 20-60%. The choice of antihypertensive postpartum is that it is strongly bound to protein with low lipid solubility so that fewer enter breast milk. In addition, it is also influenced by ionization, molecular weight and constituents of breast milk (fat content, protein, and water). The first line agent for postpartum preeclampsia is intravenous labetolol and hydralazine and also nifedipine. Women with gestational hypertension or preeclampsia can usually stop antihypertension within 6 weeks postpartum.Key word: postpartum preeclampsia, antihypertension
Perbandingan Kadar Antioksi dan Total pada Kanker Serviks Stadium Lanjut Sebelum dan Setelah Kemoterapi Nur Amin Wahidji; Syahrul Rauf; Nuraini Abidin
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 2 September 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n2.285

Abstract

Tujuan: Membandingkan kadar antioksidan total pada penderita kanker serviks stadium lanjut sebelum dan setelah kemoterapi.Metode: Merupakan penelitian studi kohort prospektif yang dilakukan di Badan Layanan Umum (BLU) Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Perawatan onkologi-ginekologi Lontara 4 bawah dan Unit Penelitian Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Universitas Hasanuddin. dari perode tanggal 1 Oktober 2019–30 September 2020. Sampel penelitian adalah semua penderita kanker serviks stadium lanjut yang memenuhi kriteria inklusi. Data yang diambil adalah data primer menggunakan questionnaire serta pemeriksaan kadar Anti Oksidan Total dengan metode ELISA. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan program komputer SPSS 25.0, Microsoft Excel dan Microsoft Word.Hasil: Terdapat 34 orang sampel penelitian menderita kanker serviks stadium lanjut yang mendapatkan kemoterapi 3 seri. Stadium 2B memiliki perbedaan rerata antioksidan yang signifikan secara statistik. Tipe adenokarsinoma, jenis diferensiasi kategori sedang dan kategori tidak ada keterangan memiliki perbedaan kadar antioksidan yang signifikan secara statistik. Terdapat perbedaan rerata kadar antioksidan total antara sebelum dan sesudah dilakukan kemoterapi dengan p<0,05.Kesimpulan: Terdapat penurunan bermakna kadar antioksidan total sebagai penanda stres oksidatif pada pasien kanker serviks stadium lanjut yang menjalani prosedur kemoterapi.Comparison Total Antioxidant Levels in Patients with Advanced Cervical Cancer Prior and Post-ChemotherapyAbstractPurpose: Comparing total antioxidant levels in patients with advanced cervical cancer prior and post-chemotherapy.Method: This is a prospective cohort study underwent at the Public Service Agency of Wahidin Sudirohusodo Hospital, Lontara 4 Bawah oncology-gynecology care and Research Unit of State University Hospital, Hasanuddin University from October 1st, 2019 to September 30th, 2020. The study sample being used was all patients with advanced cervical cancer who met the inclusion criteria. The data extracted were primary data using a questionnaire, as well as the examination of Total Anti-Oxidant levels using the ELISA method. The data obtained were analyzed further using a computer program SPSS 25.0, Microsoft Excel, and Microsoft Word.Outcome: Approximately 34 study samples were suffering from advanced cervical cancer who undergone 3 series of chemotherapy. Stage 2B revealed a statistically significant difference in antioxidant level. The type of adenocarcinoma, the type of the moderate category differentiation, and the no description category had statistically significant differences in antioxidant levels. It was identified that there was a difference in the mean total antioxidant level between prior and post-chemotherapy with p < 0.05.Conclusion: There was a significant decline in the total antioxidant levels to indicate a sign of oxidative stress in advanced cervical cancer patients who are undergoing chemotherapy procedures.Key word: Antioxidant Levels, Advanced Cervical Cancer, Chemotherapy

Page 10 of 38 | Total Record : 372