cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Front Cover, Editorial Team, Table of Contents, and Back Cover Obgynia Jurnal
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi dan Luaran Pasien dengan Spekrtum Plasenta Akreta Adiguna Gurnita; Setyorini Irianti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6.n2.293

Abstract

Tujuan: Plasenta akreta mengakibatkan risiko perdarahan ibu dan morbiditas anak akibat prematuritas. Prevalensi dan luaran pasien dengan spekrum plasenta akreta di Indonesia masih rendah. Penelitian ini bertujuan mencari tingkat prevalensi serta  membandingkan luaran pada ibu dengan plasenta akreta.Metode: Desain penelitian merupakan penelitian deskriptif observasional yang diperoleh dari rekam medis tahun 2015–2019 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Februari-April 2020.Hasil: Pada 39 pasien dengan plasenta akreta didapatkan wanita berusia >35 tahun sebanyak 22 orang (56,4%). Kondisi yang banyak ditemui pada pasien plasenta akreta meliputi multipara sebanyak 26 orang (66,7%) dan riwayat seksio sesarea >1x sebanyak 20 orang (51.3%). Sebanyak 30 pasien (76,9%) membutuhkan 3 unit 200 mL Packed Red Cell (PRC). Sebanyak 31 bayi (83,7%) yang lahir dari ibu dengan plasenta akreta lahir kurang bulan atau prematur dan 26 bayi (70,2%) mengalami berat badan lahir rendah (BBLR), serta dari 17 bayi prematur, 8 (52,9%) bayi mengalami stunting.Kesimpulan: Pasien dengan plasenta akreta di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung mayoritas berusia tua, merupakan multipara dan memiliki riwayat seksio sesarea >1x. Pasien dengan plasenta akreta cenderung mengalami pendarahan yang banyak serta terdapat banyak bayi BBLR dan stunting. Prevalence and Outcome of Placenta Spectrum Accreta AbstractObjective: Placenta accreta carries a risk of maternal bleeding and child morbidity due to prematurity. The prevalence and outcomes of patients with spectrum placenta accreta in Indonesia are still limited. This study aims to evaluate the prevalence and outcomes in mothers with placenta accreta.Method: This is an observational descriptive study obtained from medical records for 2015–2019 at Dr. Hasan Sadikin Bandung from February–April 2020.Results: In 39 patients with placenta accreta, there were 22 women aged >35 years (56.4%). Conditions that were often found in patients with placenta accreta included multiparas in 26 people (66.7%) and history of cesarean section > 1x in 20 people (51.3%). A total of 30 patients (76.9%) required 3 units of 200 mL Packed Red Cell (PRC). A total of 31 babies (83.7%) born to mothers with placenta accreta were born preterm or premature and 26 babies (70.2%) had low birth weight (LBW), and of 17 premature babies, 8 (52.9%) babies are stunted.Conclusion: Patients with placenta accreta at Dr. Hasan Sadikin Bandung are mostly old, multiparous, and have history of more than 1 cesarean section. Patients with placenta accreta tend to experience heavy bleeding and there are many LBW and stunted babies.Key words: placenta accreta, placenta accreta spectrum, LBW, stunting
Efektifitas Penerapan Bundles IDO Sectio Caesarea: Scoping review Siti Jubaedah; Yanti Hermayanti; Erniati Erniati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6.n2.476

Abstract

Tujuan: Tinjauan ini bertujuan untuk mengidentifikasi literatur tentang bundles IDO yang telah terbukti berhasil menurunkan  angka kejadian IDO, dapat dijadikan panduan dalam penerapan bundles IDO pada pasien SC Metode: Pencarian dilakukan di beberapa database yaitu PubMed, Scopus dan CINAHL dengan kata kunci yang digunakan yaitu P=Pasien Post-operasi SC OR Cesarean Delivery, Concept=Surgical Site Infections OR SSI, Context=Bundles OR Procedure.Hasil: Delapan belas studi yang melibatkan total 24450. Tiga studi RCT, tujuh Cohort Studi retrospektif, lima Cross Sectional Studi, satu experiment dan dua Case Control studi. Kesimpulan: Bundles IDO terdiri dari Preoperasi: Mandi preoperasi,tidak dilakukan pencukuran rambut,bila mengganggu pakai clipper electrik, pertahankan kadar gula darah ≤200 mg/dl. Intraoperasi: Pemberian Antibiotik, skin dan vaginal preparasi, pertahankan normothermia, kebersihan tangan, penggantian sarung tangan dan set instrument, gunakan jahitan khusus untuk penutupan subkutan dan penutupan kulit. Post operasi: Pertahankan kadar gula darah ≤200 mg/dl, segera lepas kateter urine maksimal 24 jam kecuali ada indikasi, penggantian wound dressing Postoperative day 2, Edukasi Pasien tentang perawatan luka post operasi. Bundles ini dapat menurunkan angka kejadian infeksi IDO pada pasien yang dilakukan operasi SC.The Effectiveness of Implementing IDO Sectio Caesarea Bundles: Scoping reviewAbstractObjective: This review aims to identify the literature on SSI bundles which have been proven successful in reducing the incidence of SSI, which can be used as a guide in implementing SSI bundles in SC patients.Method: The search was carried out in several databases, namely PubMed, Scopus and CINAHL with the keywords used, namely P=Postoperative SC OR Cesarean Delivery Patient, Concept=Surgical Site Infections OR SSI, Context=Bundles OR Procedure.Results: Eighteen studies involving a total of 24450. Three RCT studies, seven Cohort Retrospective Studies, five Cross Sectional Studies, one experimental and two Case Control studies.Conclusion: SSI Bundles consist of Pre-surgery: Pre-surgery shower, no hair cutting, use an electric clipper if it bothers you, maintain blood sugar levels ≤200 mg/dl. Intraoperative: Administration of antibiotics, skin and vaginal preparation, maintain normothermia, hand hygiene, change of gloves and instrument sets, use special sutures for subcutaneous closure and skin closure. Post surgery: Maintain blood sugar level ≤200 mg/dl, immediately remove the urinary catheter for a maximum of 24 hours unless there is an indication, replace the wound dressing Postoperative day 2, educate patients about postoperative wound care. These bundles can reduce the incidence of SSI infections in patients undergoing SC surgery.Key words: Bundles, SSI, Post-Sesection Caesarean Patients
Peran Phosphatase Regenerating Liver-3 dan Vascular Endothelial Growth Factor dalam Progresivitas Kanker Ovarium Epitelial Sharvianty Arifuddin
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6.n2.526

Abstract

Tujuan: Mengetahui peran phosphatase regenerating liver-3 (PRL-3) dan vascular endothelial growth factor (VEGF) dalam progresivitas kanker ovarium.Metode: Penelitian dilakukan pada penderita kanker ovarium di beberapa rumah sakit jejaring Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar. Pengambilan sampel dilaksanakan secara consecutive sampling. Pengambilan cairan ascites dan jaringan tumor pada saat operasi dilakukan untuk pemeriksaan hematoksilin eosin dan immunohistokimia, dan pemeriksaan mRNA dengan RT-PCR. Pemeriksaan hematoksilin eosin untuk mengukur histopatologi. Pemeriksaan imunohistokimia dilakukan untuk mengetahui ekskpresi PRL-3 dan VEGF. RT-PCR digunakan untuk melakukan pemeriksaaan mRNA PRL-3. Data dianalisis dengan uji chi-square dan analisis korelasi Spearman pada taraf signifikansi 5%.Hasil: Hasil diperoleh 38 subyek penelitian yang terdiri dari 26,3% stadium awal dan 73,7% stadium lanjut. Ekspresi PRL-3 tidak berbeda secara bermakna berdasarkan stadium, derajat diferensiasi, dan lokasi tumor dengan p > 0,05. Ekspresi PRL-3 pada kanker ovarium primer yang disertai metastasis lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan kanker ovarium primer tanpa metastasis (p<0,05). Ekspresi VEGF tidak berbeda secara bermakna berdasarkan stadium, derajat diferensiasi, kanker ovarium primer, dan lokasi tumor dengan p > 0,05. Ada korelasi positif yang bermakna antara ekspresi PRL-3 dengan VEGF pada kanker ovarium epitelial (p<0,05).Kesimpulan: Tingginya ekspresi PRL-3 meningkatkan ekspresi VEGF dan progresivitas kanker ovarium epitelial. The Role of Phosphatase Regenerating Liver-3 and Vascular Endothelial Growth Factors in The Progressivity of Ovarium Epithelial CancerAbstractObjective: To determine the role of liver regenerating phosphatase-3 (PRL-3) and vascular endothelial growth factor (VEGF) in the progression of ovarian cancer.Method: This study was conducted on ovarian cancer patients in several teaching hospitals in the Department of Obgyn, Faculty of Medicine, Hasanuddin University, Makassar. Sampling was carried out by consecutive sampling. Sampling of ascites fluid and tumor tissue at the time of surgery was carried out for hematoxylin eosin and immunohistochemical examination, and for mRNA examination by RT-PCR. Eosin hematoxylin examination to measure histopathology. Immunohistochemical examination was carried out to determine the expression of PRL-3 and VEGF. RT-PCR was used to examine PRL-3 mRNA. Data were analyzed by chi-square test and Spearman correlation analysis at 5% significance level. Results: The results obtained were 38 research subjects consisting of 26.3% early stage and 73.7% advanced stage. PRL-3 expression did not differ significantly based on the stage, degree of differentiation, and tumor location with p > 0.05. PRL-3 expression in primary ovarian cancer with metastases was significantly higher than in primary ovarian cancer without metastases (p<0.05). VEGF expression did not differ significantly based on stage, degree of differentiation, primary ovarian cancer and tumor location with p > 0.05. There was a significant positive correlation between PRL-3 expression and VEGF in epithelial ovarian cancer (p<0.05). Conclusion: The high expression of PRL-3 increases the expression of VEGF and the progression of epithelial ovarian cancer. Key words: ovarian cancer, phosphatase regenerating liver-3, vascular endothelial growth factor
The Relationship between Ferritin Levels and Uterine Inertia in Labor Women Astri Ayu Agus; Andi Mardiah Tahir; Nurbani Bangsawan; Maisuri T Chalid; Efendi Lukas; Lenny M. Lisal
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6.n2.494

Abstract

Objective: To determine the relationship between ferritin levels and the incidence of uterine inertia in pregnant women. Method: This study uses a prospective cohort design. The study was conducted on all pregnant women aged 20-40 years who had antenatal care and be in labor at the Teaching Hospital in the Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Hasanuddin University. Data were analyzed with the chi-square test and the Mann-Whitney test. Results: Obtained 76 pregnant women where 44.7% of them had uterine inertia. The average ferritin level in the uterine inertia group was significantly lower (3.80 ± 2.84 ng/mL) than without the uterine inertia group (12.99 ± 11.40 ng/mL) with a value p<0.001. The average ferritin level in the mild anemia group was significantly higher (9.83 ± 10.35 ng/mL) than in the moderate anemia group (3.82 ± 2.51 ng/mL) with a p-value <0.05. Pregnant women with moderate anemia were found to be 4.68 more susceptible uterine inertia than pregnant women with mild anemia.Conclusion: There was a relationship between ferritin levels in pregnant women and the incidence of uterine inertia where low ferritin levels was risk factor of uterine inertia.Hubungan Kadar Feritin dengan Kejadian Inersia Uteri pada Ibu BersalinAbstrak Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kadar feritin dan kejadian inersia uteri pada ibu bersalin. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan kohort prospektif. Penelitian dilakukan pada semua wanita hamil usia 20-40 tahun yang melakukan antebatal care dan persalinan di Rumah Sakit Pendidikan di bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Data dianalsiis dengan uji chi square dan uji Mann Whitney. Hasil: Diperoleh 76 ibu hamil, sebanyak 44,7% di antaranya mengalami inersia uteri. Rata-rata kadar feritin pada kelompok inersia uteri secara signifikan lebih rendah (3,80±2,84 ng/mL) dibandingkan rata-rata kadar feritin pada kelompok tidak inersia uteri (12,99±11,40 ng/mL) dengan nilai p<0,001. Rata-rata kadar feritin pada kelompok anemia ringan secara signifikan lebih tinggi (9,83±10,35 ng/mL) dibandingkan rata-rata kadar feritin pada kelompok anemia moderat (3,82±2,51 ng/mL)  dengan nilai p<0,05. Ibu hamil dengan anemia moderat mempunyai risiko mengalami inersia uteri sebanyak 4,68 kali lebih besar dibandingkan ibu hamil dengan anemia ringan. Kesimpulan: Ada hubungan antara kadar feritin ibu hamil dan kejadian inersia uteri. Rendahnya kadar feritin menjadi salah satu penyebab kejadian inersia uteri.Kata kunci: Feritin, Ibu Bersalin, Inersia Uteri
Manajemen Jangka Panjang Endometriosis: Dapatkah Progestin Menjadi Andalan? Hartanto Bayuaji
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6.n2.527

Abstract

Latar belakang: pada tahun 2014 The Practice Committee of The American Society of Reproductive Medicine menyebutkan bahwa endometriosis merupakan penyakit kronis yang memerlukan penanganan jangka panjang dengan titik berat pada terapi medikamentosa. Progestin merupakan modalitas terapi yang berpotensi digunakan dalam jangka panjang. Dienogest merupakan progestin turunan 19-nortestosteron dengan pengaruh pada endometrium dan antiinflamasi yang kuat merupakan pilihan untuk terapi jangka panjang endometriosis.Metode: telaah pustaka.Hasil: dalam manajemen endometriosis, progestin digunakan dalam terapi jangka panjang serta untuk mencegah rekurensi. Penggunaan dienogest jangka panjang menurunkan skor visual analogue scale secara bermakna dari beberapa penelitian. Analisis efektivitas-biaya menunjukkan profil penghematan biaya yang lebih baik pada dienogest dibandingkan goserelin. Rekurensi endometriosis pasca operasi menurun secara bermakna pada wanita yang mendapat terapi dienogest. Dalam suatu network meta-analysis diketahui bahwa kombinasi agonis GnRH + dienogest diharapkan menjadi pilihan terbaik pencegahan rekurensi. Dari dua penelitian dengan subjek wanita Asia, efek samping dienogest terjadi pada sekitar 13,27% - 31,5% subjek dan umumnya bersifat ringan. Perubahan pola perdarahan uterus merupakan hal yang sering disampaikan subjek. Kepadatan mineral tulang mengalami penurunan pada pemberian dienogest namun mengingat pentingnya pencegahan rekurensi dan menghindari operasi ulang, keputusan penggunaan dienogest sebaiknya tidak hanya didasarkan pada hal ini saja. Simpulan: data menunjukkan bahwa dalam konsep terapi jangka panjang, progestin merupakan modalitas yang amat penting. Dienogest merupakan salah satu pilihan untuk manajemen jangka panjang endometriosis. Pengawasan penggunaan progestin harus selalu diperhatikan untuk mengupayakan diperolehnya hasil yang optimal.The Long Term Management Of Endometriosis: are Progestins the Reliable Choice?AbstractBackground: in 2014, The Practice Committee of The American Society of Reproductive Medicine stated that endometriosis should be viewed as a chronic disease that requires a lifelong management, with focus on progestins. Dienogest, a 19-nortestosterone derivative, is a progestin compound with strong endometrium effects and antiinflammatory property that may become an option in long term management of endometriosis.Method: literature reviewResults: progestins might be applied in both long term management and prevention of recurrence of endometriosis. The significant reduction of visual analogue scale score were found in several study. The cost-effectiveness analysis reveals better cost-saving profile of dienogest when compared with goserelin. Women who received postoperative dienogest treatment have reduced incidence of recurrence. In one network meta-analysis study, the GnRH agonist + dienogest combination revealed the best option for preventing recurrence. The adverse effects of dienogest from 2 Asian studies range from 13.27% - 31.5%, mostly mild cases. Changes in uterine bleeding pattern were the most common reported side effects. The bone mineral density decreased after dienogest treatment, however, considering the benefit of dienogest for preventing recurrence and repeated operation, the use of dienogest should not be solely based on bone mineral density changes.Conclusion: progestin is the important mainstay of long term therapi in endometriosis. Dienogest is an option in long term management of endometriosis. However, monitoring of their usage should be an important aspects to ensure optimal outcomes are achieved.Key words: bleeding pattern, bone mineral density, dienogest, endometriosis, long term management, progestins.
Hubungan Ekspresi Cyclooxygenase-2 (Cox-2) dengan Invasi Limfovaskuler, Infiltrasi Sel Radang dan Stadium Kanker Serviks Andi Ahmed Onterio; Syahrul Rauf; Nugraha Utama Pelupessy; Rina Masadah; Isharyah Sunarno; Nasrudin Andi Mappaware; Sharvianty Arifuddin
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6.n2.478

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Ekspresi COX-2 dengan Lymphovascular Space Invasion (LVSI), Infiltrasi sel radang dan stadium kanker serviks. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional di Rumah Sakit Pendidikan Tinggi Negeri Universitas Hasanuddin. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan data pemeriksaan kadar COX-2 pada 50 hasil biopsi dan hasil operasi pada kasus kasus kanker serviks melalui pemeriksaan immunohistokimia. Data dianalisis dengan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Hasil penelitian diperoleh ada hubungan signifikan antara eskpresi COX-2 dan stadium kanker serviks dengan nilai p<0,05. Ekspresi COX-2 tidak berhubungan signifikan dengan Lymphovascular Space Invasion dan infiltrasi sel radang dengan nilai p>0,05. Ekspresi COX-2 juga tidak berhubungan signifikan dengan paritas, pendidikan, pekerjaan, penggunaan kontrasepsi oral kombinasi ≥5 tahun, mitra seksual, dan riwayat merokok dengan nilai p>0,05. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi stadium kanker serviks maka semakin tinggi ekspresi COX-2, sehingga pemeriksaan ekspresi COX-2 dapat dijadikan sebagai pertanda keganasan pada serviks, selain itu ditemukan LVSI dan infiltrasi sel radang tidak memiliki pengaruh terhadap ekspresi COX-2.The Correlation Cyclooxygenase-2 (Cox-2) Expression and Lymphovascular Invasion, Inflammatory Cell Infiltration and Cervical Cancer StageAbstractObjective: This study is objected to find out the correlation between COX-2 expression and Lymphovascular Space Invasion, inflammatory cell inflation and cervical cancer stage. Method: This study uses cross sectional design at educational hospital of Hasanuddin University. COX-2 level examination was performed on 50 biopsy and surgery result on cervical cancer cases through immunohistochemistry. Data were analyzed using chi-square test with significant level of 95%. Results: Study result indicated that significant correlation is found between COX-2 expression and cervical cancer stage with p value < 0.05. No significant correlation is found between COX-2 expression and Lymphovascular Space Invasion and inflammatory cell inflation with p value > 0.05. No correlation also is found between COX-2 expression and parity, education, profession, combination oral contraception uses  5 years, sexual partner and smoking history with p value > 0.05. Conclusion: Based on our results it can be concluded that the higher the stage of cervical cancer in line with the expression of COX-2 and examination of COX-2 expression can be used as a marker of cervical malignancy, besides that LVSI and inflammatory cell infiltration not affected on COX-2 expression.Key words: Cyclooxygenase-2, Cervical Cancer, Stage.
Perbandingan Kadar Reactive Oxygen Species (ROS) sebagai Penanda Stres Oksidatif pada Ibu Hamil Dengan dan Tanpa Vaginosis Bakterial Dwicky Limbersia Aries; Maisuri T. Chalid; Rina Previana Amiruddin; Rizalinda Sjahril; Efendi Lukas; Susiawaty Mustafa
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6.n2.529

Abstract

Tujuan: Menganalisis perbandingan antara kadar reactive oxygen species pada ibu hamil dengan dan tanpa vaginosis bakterial.Metode: Penelitian cross sectional dilakukan pada ibu hamil yang datang berobat ke Poliklinik RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Rumah Sakit jejaring serta Puskesmas di Makassar, Indonesia, pada Juli 2021 sampai Juli 2022. Pengambilan sampel dilakukan dengan consecutive sampling. Subjek penelitian dengan dan tanpa vaginosis bakterial dikelompokkan berdasarkan hasil dari kriteria Amsel kemudian  kadar reactive oxygen species diukur dengan ROS ELISA Kit. Data dianalisis dengan uji chi-square, uji Mann-Whitney dan uji Kruskal Wallis.Hasil: Diperoleh 85 subyek penelitian yang terdiri dari 41 ibu hamil dengan vaginosis bakterial positif dan 44 ibu hamil dengan vaginosis bakterial negatif. Ibu hamil dengan vaginosis bakterial positif mempunyai kadar reactive oxygen species lebih rendah dibandingkan ibu hamil dengan vaginosis bakterial negatif (p=0.001*). Faktor lain yang berhubungan signifikan dengan kadar reactive oxygen species adalah lama keputihan >1 bulan. Umur, paritas, status gizi, diet fast food dan usia kehamilan tidak berhubungan signifikan dengan kadar reactive oxygen species (p>0,05).Kesimpulan: Kadar reactive oxygen species pada ibu hamil dengan vaginosis bakterial lebih rendah dari pada ibu hamil tanpa vaginosis bakterial. Diperlukan studi lanjut dengan skala penelitian yang lebih besar dengan lebih mengendalikan faktor-faktor yang dapat memengaruhi bias penelitian serta penelitian lebih lanjut mengenai kadar ROS dengan pendekatan sampel cairan vaginaComparison of Reactive Oxygen Species (ROS) Levels as Marker Of Oxidative Stress in Pregnant Women With and Without Bacterial VaginosisAbstractObjective: To analyze the comparison between levels of reactive oxygen species in pregnant women with and without bacterial vaginosis. Method: This study used a cross-sectional method that was conducted on pregnant women who came for treatment at Dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital Polyclinic, a network hospital and public health center in Makassar, Indonesia, in July 2021-July 2022. Sampling was carried out using consecutive sampling. Research subjects with and without bacterial vaginosis were grouped based on the results of Amsel criteria and then ROS levels were measured by ROS ELISA kit. Data were analyzed by chi-square test, Mann-Whitney test, and Kruskal Wallis test. Results: There were 85 research subjects consisting of 41 pregnant women with positive bacterial vaginosis and 44 pregnant women with negative bacterial vaginosis. Pregnant women with positive bacterial vaginosis had lower levels of reactive oxygen species than pregnant women with negative bacterial vaginosis (p=0.001*). Another factor significantly related to reactive oxygen species levels  is vaginal discharge for > 1 month. Age, parity, nutritional status, fast food diet, and gestational age were not significantly related to levels of reactive oxygen species (p>0.05).Conclusion: The level of reactive oxygen species in pregnant women with bacterial vaginosis is lower than in pregnant women without bacterial vaginosis. Further studies are needed with a larger research scale with better control over factors that can influence research bias and further research on ROS levels with a vaginal fluid sample approach.Key words: bacterial vaginosis, pregnant women, reactive oxygen species
The Correlation Between CYP19 Levels, VAS of Dysmenorrhea, and the Grading Score ASRM of Endometriosis Fatimah Usman; Muhammad Komarul Hakim; Heriyadi Manan; Mgs. Irsan Saleh
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6.n2.503

Abstract

Objective: We aim to assess the correlation between the CYP19 level, the visual analogue scale (VAS) pain and endometriosis American Society for Reproductive Medicine (ASRM)  grading scale.Method: An observational analytic study with a cross–sectional design was conducted at the Obstetrics/Gynecology Department, RSUP Dr. Moh Hoesin Palembang, Laboratory of Biomedical and Biomolecular of the Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya from July–December 2022. Subjects who were diagnosed with endometriosis and met the inclusion and exclusion criteria underwent a histopathological examination to measure the degree of disease according to ASRM. Using the same sample, the CYP19 levels were assessed by enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Univariate and bivariate statistical analyses were performed to see the correlation.Results: This study involved 37 subjects aged 20–48 (Mean: 32 years). We found there was a significant correlation between the degree of VAS score and ASRM grading (p<0.001). In addition, although CYP19 expression was found in ectopic endometrial tissue, there was no significant correlation between the level of CYP19 expression in the tissue and the VAS score dysmenorrhea (p= 0,618) and ASRM grading (p=0.604).Conclusion: There is no significant correlation between CYP19 levels and the degree of pain in VAS or ASRM grading in patients.Hubungan Kadar CYP19, Visual Analogue Score (VAS) Dismenorea, dan Grading Score American Society for Reproductive Medicine (ASRM) Endometriosis Abstrak    Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan kadar CYP19, skala nyeri visual analogue scale (VAS) dan grading berdasarkan American Society for Reproductive Medicine (ASRM) pada pasien endometriosis.Metode: Sebuah studi analitik observasional dengan rancangan cross–sectional dilakukan di Bagian/KSM Obstetri Ginekologi, RSUP Dr. Moh Hoesin Palembang dan Laboratorium Biomedis dan Biomolekuler Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, pada periode Juli–Desember 2022. Subjek penelitian yang terdiagnosis endometriosis dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dilanjutkan pemeriksaan histopatologis untuk mengukur derajat penyakit sesuai rASRM. Dengan menggunakan sampel yang sama dilakukan penilaian kadar CYP19 melalui pemeriksaan enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Analisis statistik univariat dan bivariat dilakukan untuk melihat hubungan tersebut. Hasil: Penelitian ini melibatkan 37 subjek dengan rentang usia 20–48 (Median: 32 tahun). Pada penelitian, terdapat hubungan yang bermakna antara derajat nyeri VAS endometriosis terhadap derajat endometriosis (p<0,001). Selain itu, walaupun ditemukan adanya ekspresi CYP19 pada jaringan endometrium ektopik, namun tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kadar CYP19 pada jaringan dengan derajat VAS score dismenorea (p=0,618) dan derajat ASRM endometriosis (p=0,604).Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar CYP19 dengan derajat nyeri VAS maupun derajat ASRM endometriosis pada pasien.Kata kunci: ASRM, Kadar CYP19, Endometriosis
CA-125 sebagai Prediktor Sitoreduksi pada Pasien Kanker Ovarium Tipe Epitel Bagja Dumas Darwizar; Gatot Nyarumenteng Adipurnawan Winarno; Jusuf Sulaeman Effendi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6.n2.266

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah CA-125 dapat menjadi prediktor yang baik untuk sitoreduksi pada kanker ovarium tipe epitel.Metode: Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan pemeriksaan pasien yang diduga memiliki tumor ganas ovarium, pemeriksaan kadar CA-125 pre operasi dan jenis sitoreduksi pasca operasi. Sitoreduksi optimal dipertimbangkan jika sisa tumor terbesar berdiameter <1 cm. Nilai p numerik diuji dengan uji T tidak berpasangan jika data berdistribusi normal dengan uji alternatif Mann Whitney jika data tidak berdistribusi normal. Data kategorik nilai p dihitung berdasarkan uji Chi-Square dengan alternatif Kolmogorov Smirnov dan uji Exact Fisher jika persyaratan Chi-Square tidak terpenuhi. Nilai diagnostik CA-125 dievaluasi dan nilai cut-off optimal ditentukan. Analisis ROC digunakan untuk menentukan nilai cut-off CA-125 yang optimal. Data yang diperoleh direkam dalam bentuk khusus kemudian diolah dengan SPSS versi 25.0 for windows. Pasien yang dikumpulkan sesuai dengan kriteria selama masa penelitian adalah 109 pasien.Hasil: Ditemukan bahwa nilai rata-rata CA-125 untuk kelompok sitoreduksi suboptimal lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok sitoreduksi optimal (1157,63±2105,196 vs 237,53±319,432), yang signifikan secara statistik, p=0,0001 (nilai p<0,05). Cut off point CA-125 dalam penelitian ini adalah 248,55 dengan nilai sensitivitas 73,2%, nilai spesifisitas 73,6%, nilai prediksi positif 74,5%, nilai prediksi negatif 72,2%, dan akurasi 73,3%. Kesimpulan: Data kami menunjukkan bahwa CA-125 pre-operasi adalah prediktor sedang untuk sitoreduksi yang optimal.CA-125 as A Cyoreduction Predictor in Patient with Epithelial Ovarian CarcinomaAbstract Objective: This study aims to determine whether CA-125 can be a good predictor of cytoreduction in epithelial ovarian carcinoma.Method: Cross sectional study by examining patients suspected of ovarian malignancy, checking for their preoperative CA-125 levels and post operative type of cytoreduction. Optimal cytoreduction was considered if the largest residual tumor was <1 cm in diameter. Numerical p value is tested by unpaired T test if the data is normally distributed with the alternative Mann Whitney test if the data is not normally distributed. The p value categorical data is calculated based on the Chi-Square test with the alternative Kolmogorov Smirnov and Exact Fisher tests if the requirements of the Chi-Square are not met. The diagnostic value of the CA-125 is evaluated and the optimal cut-off value is determined. The ROC analysis was plotted to determine the optimal cut-off of CA-125. The data obtained is recorded in a special form and then processed with SPSS version 25.0 for windows. Patients collected during the study period were 109 patients. Results: It was found that mean value of CA-125 for suboptimal cytoreduction group was higher than optimal cytoreduction (1157.63±2105.196 vs 237.53±319.432), which is statistically significant, p = 0.0001 (p value <0.05). CA-125 cut off point in this research was 248.55 with sensitivity value of 73.2%, specificity value of 73.6%, the positive predictive value 74.5%, the negative predictive value 72.2% and its accuracy 73.3%. Conclusion: Our data indicate that preoperative CA-125 is moderate predictor for optimal cytoreduction.Key words: CA-125, cytoreduction, Epithelial Ovarian Carcinoma, Predictor