cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Optimal Maternal-Fetal Interface Environment Affects Neonatal Viability in Preterm Preeclampsia and IUGR Pregnancy Novi Resistantie; Semuel Semuel; Cindy Fawwaz Roviqoh; Taufik Ramdani
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 1 Maret 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6n1.407

Abstract

Objective: to report rare case of fetal viability on preterm pregnancy with preeclampsia and IUGRMethods: case reportCase: A 29-year-old woman (G1P0A0) at 29 weeks of gestation, came to the Obstetrics and Gynecology Outpatient Clinic of Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto Police Hospital Jakarta with complaints of left-sided headache since 25 weeks of gestation. After examination, the patient was diagnosed with preeclampsia with IUGR. The caesaria section was performed at 28 weeks and a baby was born with BW: 850 grams, BL: 31 cm, and an APGAR score of 5/6. No inflammatory cells were found in chorionic villi. The baby continues to live after being treated in the NICU for 30 days.Conclusion: Optimal maternal fetal interface environment secures neonatal viability.Lingkungan Antarmuka Maternal-Fetal yang Optimal Mempengaruhi Kelangsungan Hidup Neonatal pada Kehamilan Prematur dengan Preeklamsia dan IUGRAbstrak Tujuan: untuk melaporkan kasus jarang viabilitas fetus pada kehamilan preterm dengan preeklampsia dan IUGRMetode: laporan kasusKasus: Seorang perempuan berusia 29 tahun (G1P0A0) dengan usia kehamilan 29 minggu, datang ke Poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto Jakarta mengalami pusing pada kepala sebelah kiri sejak usia kehamilan 25 minggu. Setelah pemeriksaan, pasien didiagnosa mengalami preeklamsia dengan perburukan IUGR. Operasi Seksio sesarea dilakukan pada usia kehamilan 28 minggu dan lahir seorang bayi dengan BB: 850 gram, PB: 31 cm, dan skor APGAR 5/6. Tidak ditemukan sel yang mengalami inflamasi pada vili chorionic. Bayi tetap hidup setelah dirawat di NICU selama 30 hari.Kesimpulan: Interaksi maternal fetal yang optimal menjamin viabilitas fetus.Kata kunci: Inflamasi, IUGR, Preeklamsia, Viabilitas Fetus, Preeklamsia.
Pengaruh Sindrom Metabolik terhadap Penurunan Kekuatan Otot Dasar Panggul dan Risiko Terjadinya Prolaps Organ Panggul serta Disfungsi Seksual pada Wanita Pralansia Efriyan Imantika; Rodiani Rodiani; Dian Isti Angraini; Zahara Ayu Destrianti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 1 Maret 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6n1.439

Abstract

Tujuan: Menganalisis pengaruh sindrom metabolik terhadap kekuatan otot dasar panggul dan risiko terjadinya prolaps organ panggul dan disfungsi seksual pada wanita pralansia sehingga dapat dipergunakan sebagai acuan dalam menghadapi masa menopause Metode: Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian potong lintang terhadap 33 orang wanita kelompok usia reproduktif dan 33 orang wanita pralansia anggota PERSIT KODIM 0410 Kota Bandarlampung pada bulan Maret–Mei 2022 yang meneliti tentang efek sindrom metabolik terhadap fungsi reproduksi dan fungsi seksual wanita pralansia.Hasil: Hasil analisis bivariat dengan uji Fisher menunjukkan terdapat hubungan antara terjadinya sindrom metabolik terhadap kekuatan otot dasar panggul yang dinilai dengan skala Brink (nilai p=0,001 dengan nilai r/ interval kepercayaan 1,28 (0,58-2,57)) dan hasil pemeriksaan POP-Q dengan nilai p=0,001 dengan nilai r/ interval kepercayaan 1,16 (0,6-2,2) pada kelompok usia pralansia dibandingkan usia reproduktif dan risiko terjadinya disfungsi seksual yang dinilai dari hasil pengisian kuisioner FSFI dengan (nilai p=0,001 dengan nilai r/ interval kepercayaan 2,6 (0,5-12,7)) pada kelompok usia pralansia dibandingkan usia reproduktif. Kesimpulan: Sindrom metabolik berpengaruh terhadap penurunan kekuatan otot dasar panggul dan meningkatkan risiko disfungsi seksual pada kelompok usia pralansia dibandingkan kelompok usia reproduktif.The Impact of Metabolic Syndrome on Pelvic Floor Muscle Strength Reduction and The Risk of Pelvic Organ Prolaps And Sexual Dysfunction in Premenopausal WomenAbstractObjective: Analyzing the impact of metabolic syndrome on pelvic floor muscle strength and the risk of pelvic organ prolapse and sexual dysfunction in premenopausal women that can be used as a reference in dealing with menopause stageMethods: This is a part of research on impact of metabolic syndrome on reproduction and sexual function. A cross sectional research using 33 women of reproductive and 33 premenopausal women in PERSIT KODIM 0410 Bandarlampung in March–May 2022. Result: The results using Fisher test showed that there was significant association between metabolic syndrome and pelvic floor muscle strength as assessed by the Brink scale (p value = 0.001 r value / confidence interval 1.28 (0.58-2.57)) and the results of the POPQ examination with p=0.001 (1.16 (0.6-2.2)). The risk of sexual dysfunction as assessed from FSFI questionnaire has p value=0.001 (2.2 (0.5-9.02)) in the premenopausal compared to reproductive age grup. Conclusion: Metabolic syndrome affects the decrease of pelvic floor muscle strength and increases the risk of sexual dysfunction in the pre-elderly age group compared to the reproductive age group Keyword: Metabolic syndrome, pelvic floor muscle strength, sexual disfunction
The Role of Zinc-Rich Food Consumption on Zinc Level and the Incident of Preeclampsia Harvey Alvin Hartono; Efendi Lukas; Nasrudin Andi Mappaware; Maisuri Tadjuddin Chalid; Andi Mardiah Tahir; Isharyah Sunarno
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 1 Maret 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6n1.474

Abstract

Objective: Investigate the correlation between dietary intake of zinc, preeclampsia and blood zinc levels. Methods: This study, which compared pregnant women in the third trimester at the Wahidin Sudirohusodo Hospital and the educational network hospital with and without preeclampsia, used a Cross Sectional methodology. Zinc level testing was carried out at Prodia using ICP-MS method. Mann Whitney, Kruskal Wallis, and chi square tests were used to examine the data.Results: Preeclampsia group (n=38) and control group (n=40) were two groups made up of a total of 78 pregnant women. Zn level of severe preeclampsia (47.73 ± 11.23 ng/mL) was lower than preeclampsia (50.50 ± 13.59 ng/mL) and non-preeclampsia (50.58 ± 10.12ng/mL), but not significantly. Lower zinc rich-food consumption was a significant effect on zinc deficiency (p< 0.05), and was no significant effect on preeclampsia (p > 0.05).Conclusion: Low intake of zinc-rich foods and occasionally exposure to cigarette smoke are the causes of zinc insufficiency in third trimester pregnancy, but has little impact on the occurrence of preeclampsia.Peranan Konsumsi Makanan Kaya Zink terhadap Kadar Zink dan Insiden PreeklamsiaAbstrak Tujuan: Mengetahui korelasi antara asupan zink, preeklamsia dan tingkat zink serum.Metode: Penelitian ini membandingkan ibu hamil trimester III di RS Wahidin Sudirohusodo dan RS jejaring pendidikan dengan dan tanpa preeklampsia menggunakan metodologi Cross Sectional. Pengujian kadar zink dilakukan di Prodia dengan menggunakan metode ICP-MS. Uji Mann Whitney, Kruskal Wallis dan Chi Square digunakan untuk menganalisis data. Hasil: Kelompok preeklamsia (n=38) dan kelompok kontrol (n=40) adalah dua kelompok yang terdiri dari total 78 ibu hamil. Kadar Zn preeklamsia berat (47.73 ± 11.23 ng/mL) lebih rendah dibandingkan preeklamsia (50.50 ± 13.59 ng/mL) dan non preeklamsia (50.58 ± 10.12ng/mL), tetapi tidak bermakna. Rendahnya konsumsi makanan kaya zink berpengaruh signifikan terhadap defisiensi zink (p<0.05), namun tidak signifikan terhadap kejadian preeklamsia (p>0.05). Kesimpulan: Diet rendah zink dan paparan asap rokok adalah penyebab defisiensi zink pada kehamilan trimester III, tetapi memiliki dampak kecil terhadap insiden preeklamsia.Kata kunci: preeklamsia, kehamilan, zink
Pengaruh Masa Pandemi Covid-19 terhadap Operasi Elektif Obstetri dan Ginekologi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Tahun 2020-2021 Febia Erfiandi; Ali Budi Harsono; Siti Salima; Jessica Kireina
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 1 Maret 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6n1.445

Abstract

Tujuan: Pandemi COVID-19 memengaruhi semua bidang termasuk operasi karena sekitar 19% kematian akibat COVID-19 berhubungan dengan operasi elektif. Studi ini bertujuan untuk melihat pengaruh pandemi COVID-19 terhadap operasi elektif obstetri dan ginekologi (Obgin) di RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Indonesia.Metode: Studi ini menyajikan data retrospektif operasi elektif Obgin di RSHS selama dua tahun (Januari 2020 - Desember 2021) kemudian dilakukan analisis. Hasil: Angka pembatalan operasi tahun 2020 adalah 20 (3,6%) dari 561 jadwal operasi: 7 (1,3%) akibat COVID-19 dan 13 (2,3%) penyebab lainnya. Pembatalan operasi tahun 2021 sebanyak 48 (6,5%) dari 737 jadwal operasi: 35 (4,8%) akibat COVID-19 dan 13 (1,7%) penyebab lainnya. Penggunaan ruang rawat intensif (ICU) tahun 2020 (14/541) memiliki angka lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2021 (7/689). Tidak ada penjadwalan operasi pada bulan April tahun 2020. Jumlah pembatalan operasi terbanyak terjadi pada periode Mei-Agustus 2021. Pasien yang terdiagnosis COVID-19 dengan komorbid cenderung memiliki nilai CT (cycle threshold) value lebih rendah dan penjadwalan ulang operasi lebih lama. Mortalitas terjadi pada pasien komorbid.Kesimpulan: Jumlah operasi elektif Obgin di RSHS tahun 2021 lebih banyak dibandingkan tahun 2020 meskipun lebih banyak jumlah pembatalan operasi akibat COVID-19. Penggunaan ruang intensif pasca operasi menurun pada tahun 2021. Rekomendasi prioritas operasi dibagi menjadi empat kelompok utama. Edukasi dan konseling mengenai risiko penundaan operasi dibandingkan risiko peningkatan mortalitas dan morbiditas perioperatif akibat COVID-19 perlu disampaikan. Impact Of Covid-19 Pandemic on the Implementation of Elective Obstetrics And Gynecologic Surgery at Dr. Hasan Sadikin Hospital in 2020-2021AbstractObjective: The COVID-19 pandemic affects all fields, including surgery, as 19% of COVID-19 deaths correlate with elective surgery. This study aims to examine the effect of  COVID-19 pandemic on obstetrics and gynecology elective surgery at Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung, Indonesia.Methods: This study presented retrospective data on obstetrics and gynecologic surgery at Dr. Hasan Sadikin Hospital for two years (January 2020 - December 2021).Result: The number of surgery cancellations in 2020 was 20 (3.6%) out of 561 scheduled surgeries: 7 (1.3%) due to Covid-19 and 13 (2.3%) other causes. The surgery cancellations in 2021 was 48 (6.5%) of the 737 scheduled surgeries: 35 (4.8%) due to COVID-19 and 13 (1.7%) other causes. Use of intensive care rooms (ICU) in 2020 (14/541) was lower compared to 2021 (7/689). There was no surgery scheduled for April 2020. The highest number of surgery cancellations occurred in the period of May-August 2021. Patients diagnosed with COVID-19 and comorbidities tend to have lower CT (cycle threshold) values and longer surgery rescheduling. Mortality occurs in patients with comorbidities.Conclusion: The number of obstetrics and gynecologic surgery at Dr. Hasan Sadikin Hospital in 2021 was higher than in 2020, although the number of surgery cancellations due to COVID-19 was higher. Use of ICU after elective surgery decreased in 2021. Recommendations for elective surgeries priority during the COVID-19 pandemic were divided into four groups. Education and counseling regarding the risk of surgery delays compared to the risk of increased perioperative mortality and morbidity due to COVID-19 needed to be delivered.Key words: COVID-19, elective surgery, obstetrics, gynecology
Gambaran Disfungsi Seksual Wanita pada Tenaga Medis di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Ivan Ghozali; Andi Rinaldi; Hadi Susiarno
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 1 Maret 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6n1.342

Abstract

Tujuan: mengetahui gambaran disfungsi seksual wanita pada tenaga medis usia reproduksi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS)Metode: penelitian ini adalah studi deskriptif observasional dengan pendekatan potong silang menggunakan data primer kuisioner Female Sexual Function Index (FSFI) berbahasa Indonesia dengan responden tenaga medis (perawat dan bidan). Karakteristik subjek meliputi usia, pendidikan, tempat tinggal, usia pasangan, paritas, lama menikah, pasca melahirkan dalam 6 bulan, riwayat trauma perineum, dan diabetes melitus. Apabila hasil FSFI ≤26,5, disimpulkan adanya disfungsi seksual. Dilakukan analisis menggunakan uji chi-square, Exact Fisher, dan Uji Kolmogorov smirnov. Nilai P <0,05 dianggap bermakna secara statistik.Hasil: dari total 239 responden, terdapat 100 orang mengalami disfungsi seksual (41,8%) Karakteristik dominan dari tiap-tiap kategori sebagai berikut: berusia 25-30 tahun (33,1 %), Pendidikan terakhir D3 (59%), profesi perawat (80,8%), unit kerja ruangan (64,4%), tinggal di rumah milik sendiri (74,9%), usia pasangan 35-40 tahun (25,1%), jumlah anak 2 atau lebih (63,2%), lama menikah <10 tahun (51,9%). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna dari masing-masing karakteristik terhadap angka kejadian disfungsi seksual wanita. (P>0,05).Kesimpulan: prevalensi disfungsi seksual wanita pada tenaga medis usia reproduktif di RSHS cukup tinggi mencapai 41,8%. Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna baik dari berbagai sisi demografik pasien terhadap angka kejadian disfungsi seksual.Female Sexual Dysfunction among Reproductive Health Practitioners at Dr. Hasan Sadikin General HospitalAbstractObjective: to investigate female sexual dysfunction among reproductive-aged health practitioners at Dr. Hasan Sadikin General Hospital. Method: This was a descriptive cross-sectional study using primary data gained from validated Indonesian version of Female Sexual Function Index (FSFI) questionnaire, and filled by nurses and midwives. Subject characteristics include age, educational background, address, partner’s age, parity, marriage duration, having given birth in last 6 months, perineal trauma history and diabetes mellitus. If the FSFI score was ≤26,5, sexual dysfunction was present. An analysis involving each characteristic was performed using chi-squared test, Fisher’s Exact test and Kolmogorov-Smirnov test. P<0.05 was statistically significant. Results: Of 239 respondents, 100/239 had sexual dysfunction (41.8%). The dominant characteristics were the following: aged 25-30 y.o (33.1%); having a diploma (59%); being a nurse (80.8%), working in the wards (64.4%); living in one’s own house (74.9%), partner’s age of 35-40 years old (25.1%), having at least 2 children (63.2%), having been married <10 years (51.9%). There was no significant difference between each characteritic (p>0.05). Conclusion: There was a high prevalence of female sexual dysfunction among health practitioners at Dr. Hasan Sadikin Hospital amounting to 41.8%. There was no statistically significant difference between various demographic aspects and female sexual dysfunction. Key words: Sexual Dysfunction, Health Practitioners, FSFI
Clinical Profile of Menopause Women in Batam, Makassar, and Surabaya Nadira Zahra Maulidya Permana; Pudji Lestari; Muhammad Ilham Aldika Akbar; Indra Yuliati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 1 Maret 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6n1.450

Abstract

Objective:This study aimed to find out the clinical profile of menopause women aged 45-65 years old in Batam, Makassar, and Surabaya.Methods: This study was an observational descriptive study using total sampling. This research was obtained from primary data, which obtained from women aged 45-65 years using an instrument in the form of a questionnaire. During the data collection period from February to July 2022 with a total of 75 menopause sample. The clinical changes data collected was menopause symptoms which assessed using Menopause Rating Scale (MRS). The data analyzed using Microsoft® Excel 2021 and presented in a form of table and diagram.Result: The most prevalent symptoms experienced by the sample of menopause women in Batam, Makassar, and Surabaya were physical and mental exhaustion as much as 63 samples (84%), followed by joint and muscular discomfort as much as 61 samples (81,33%), and sexual problems with a total of 52 samples (69,33%).Conclusions: The starting age of menopause of most of the sample were 45-55 years old. Most of the sample experienced physical and mental exhaustion and they experienced mild symptoms due to sociodemographic factors. Based on this research, it was found that education plays an important role to increase the awareness of menopause women regarding the symptoms and how to cope with it.Profil Klinis Wanita Menopause di Batam, Makassar, dan SurabayaAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil klinis dari wanita perimenopause dan menopause berumur 45-65 tahun di Batam, Makassar, dan Surabaya.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan menggunakan total sampling. Penelitian ini diperoleh dari data primer yang diperoleh dari wanita usia 45-65 tahun dengan menggunakan kuesioner. Selama periode pengumpulan data dari Februari sampai Juli 2022, terdapat 75 sampel menopause. Data perubahan klinis yang digunakan adalah gejala menopause yang dinilai menggunakan Menopause Rating Scale (MRS). Data dianalisis menggunakan Microsoft® Excel 2021 dan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram.Hasil: Gejala yang paling banyak dialami sampel wanita menopause di Batam, Makassar, dan Surabaya adalah kelelahan fisik dan mental sebanyak 63 sampel (84%), diikuti ketidaknyamanan sendi dan otot sebanyak 61 sampel (81,33%), dan masalah seksual sebanyak 52 (69,33%) sampel. Kesimpulan: Usia dimulainya menopause pada sebagian besar sampel adalah 45-55 tahun. Sebagian besar sampel mengalami gejala kelelahan fisik dan mental dan gejala yang dialami ringan karena faktor sosiodemografi. Berdasarkan penelitian ini ditemukan bahwa pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kesadaran wanita menopause terkait gejala yang muncul dan cara mengatasinya.Kata kunci: Menopause, Kualitas hidup menopause, Skala Penilaian Menopause, Gejala menopause, Perimenopause
Hubungan antara Resistensi Insulin dan Kadar Hepsidin (Regulator Zat Besi) Terhadap Fenotipe Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) Brilian Segala Putra; Nusratuddin Abdullah; Fatmawaty Madya; St. Nur Asni; Andi Mardiah Tahir; Lenny Lisal
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 1 Maret 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6n1.472

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Resistensi Insulin dan kadar hepsidin serum terhadap fenotipe Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK). Resistensi insulin dan hiperinsulinisme yang terjadi pada SOPK dapat meningkatkan eritropoiesis, yang dapat menyebabkan penurunan regulasi ekspresi hepsidinMetode: Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dan dilakukan di beberapa rumah sakit pendidikan di Makassar, Indonesia. Kami memasukkan pasien yang didiagnosis dengan sindrom ovarium polikistik (SOPK) berusia 18-40 tahun. Resistensi Insulin diperiksa mengunakan metode HOMA-IR dan kadar hepsidin diperiksa menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) pada semua subjek yang memenuhi syarat. Hasil yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara statistik.Hasil: Sebanyak 52 pasien SOPK dilibatkan dalam penelitian ini, 40 pasien dengan resistensi insulin dan 12 pasien tanpa resistensi insulin. Setelah memeriksa kadar hepsidin serum, kami tidak menemukan perbedaan resistensi insulin diantara keempat fenotipe SOPK (p>0,05), namun terdapat perbedaan kadar hepsidin SOPK fenotipe A dengan fenotipe C (p<0,05). Kami juga menemukan korelasi negatif sedang antara kadar hepsidin serum dengan homeostatic model assessment for insulin resistance (HOMA-IR) (r=-0,419; p<0,05).Kesimpulan : Terdapat hubungan yaitu semakin tinggi resistensi insulin, semakin rendah kadar hepsidin serum. Dan tidak terdapat perbedaan resistensi insulin pada SOPK diantara keempat fenotipe namun terdapat perbedaan kadar hepsidin serum yang lebih tinggi pada SOPK fenotipe A dibanding SOPK fenotipe CCorrelation between Insulin Resistance and Hepcidin Levels (Iron Regulator) and Polycystic Ovarian Syndrome PhenotypeAbstractObjective: The goal of this study was to know the relationship between Insulin Resistance and serum hepcidin levels on Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) phenotype. Insulin Resistance and hyperinsulinism in PCOS promote erythropoiesis which can result in downregulation of hepcidin expressionMethods: This study uses a cross sectional and was conducted at several educational hospitals in Makassar, Indonesia. We included patients diagnosed with polycystic ovarian syndrome (PCOS) aged 18-40 years. Insulin resistance was checked using the HOMA-IR method and hepcidin levels were checked using the enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method on all subjects meeting the requirement. The results obtained will then be analyzed statistically.Results: 52 PCOS patients are included in this study, 40 patients with insulin resistance and 12 ones without insulin resistance. After examining the serum hepcidin level, we did not find a difference in insulin resistance among the four PCOS phenotypes (p>0.05), however there is PCOS level difference of phenotype A and phenotype C (p<0.05). We observed as well medium negative correlation between serum hepcidin level and the homeostatic model assessment for insulin resistance (HOMA-IR) (r=-0.419; p<0.05).Conclusions: Correlation is found where the higher the insulin resistance, the lower the hepcidin serum level. Also no difference is observed in insulin resistance of PCOS among the four phenotypes, however serum hepcidin level difference is indicated higher on PCOS phenotype A compared to that of PCOS phenotype C.Key words: polycystic ovarian syndrome, hepcidin, insulin resistance
Perbandingan Respon Terapi dan Toksisitas Regimen Kemoterapi Kombinasi antara Paclitaxel, Carboplatin, dan Ifosfamide (TIP) dengan Paclitaxel dan Carboplatin (TP) pada Kanker Serviks Stadium IIb Nagusman Danil; Sharvianty Arifuddin; Eddy Hartono; Nur Rakhmah; Ajardiana Ajardiana; Syahrul Rauf; Andi Alfian Zainuddin
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 1 Maret 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6n1.451

Abstract

Tujuan: Mengetahui perbandingan respon terapi dan toksisitas regimen kemoterapi kombinasi Paclitaxel Carboplatin Ifosfamide dengan Paclitaxel Carboplatin pada kanker serviks stadium IIB.Metode: Sebanyak 30 pasien yang baru terdiagnosis kanker serviks stadium IIB dibagi menjadi dua kelompok terapi kombinasi yaitu kelompok Paclitaxel-Carboplatin-Ifosfamide (TIP) dan Paclitaxel-Carboplatin (TP). Volume tumor dan respon terapi diukur sebelum dan sesudah tiga siklus kemoterapi.Hasil:Tingkat penurunan rata-rata volume tumor pada kelompok Paclitaxel-Carboplatin-Ifosfamide dan Paclitaxel-Carboplatin sebesar (23,66% vs 39,08%). Tidak ada perbedaan secara bermakna angka respon parsial, angka respon progresif dan tidak ada respon antara kelompok dengan Paclitaxel-Carboplatin-Ifosfamide dengan kelompok Paclitaxel-Carboplatin dengan p > 0,05. Hasil antara Paclitaxel-Carboplatin-Ifosfamide dan Paclitaxel-Carboplatin pada respon parsial (46,7 % vs 73,3%), respon progresif (13,3% vs 13.3%), dan tidak ada respon (40,0 % vs 1,3%) dan toksisitas kelas 2 lebih dominan pada kelompok Paclitaxel-Carboplatin-Ifosfamide yaitu mual, kerontokan (53,3%) dan fatique, muntah (46,7%).Kesimpulan: Regimen kemoterapi kombinasi Paclitaxel-Carboplatin lebih efektif dalam menurunkan ukuran tumor kanker serviks stadium IIB dengan efek samping yang lebih minimal dibandingkan kombinasi Paclitaxel-Carboplatin-Ifosfamide.Comparison of Therapy Response and Toxicity of Combination Chemotherapy Regimens Between Paclitaxel, Carboplatin And Ifosfamide (PCI) with Paclitaxel and Carboplatin (PC) in Stadium IIB Cervical CancerAbstractObjective: To compare the therapeutic response and toxicity of a combination chemotherapy regimen of Paclitaxel Carboplatin Ifosfamide with Paclitaxel Carboplatin in stage IIB cervical cancer. Methods: A total of 30 patients newly diagnosed with stage IIB cervical cancer were divided into two combination therapy groups, namely the Paclitaxel-Carboplatin-Ifosfamide (PCI) and Paclitaxel-Carboplatin (PC) groups. Tumor volume and clinical response were measured before and after three cycles. Result: The average reduction rate of tumor volume in the Paclitaxel-Carboplatin-Ifosfamide and Paclitaxel-Carboplatin groups was (23.66% vs 39.08%). There was no significant difference in the partial response rate, progressive response rate and no response between the Paclitaxel-Carboplatin-Ifosfamide group and the Paclitaxel-Carboplatin group with p > 0.05. Results between Paclitaxel-Carboplatin-Ifosfamide and Paclitaxel-Carboplatin on partial response (46.7% vs 73.3%), progressive response (13.3% vs 13.3%), and no response (40.0% vs 1, 3%) and class 2 toxicity was more dominant in the Paclitaxel-Carboplatin-Ifosfamide group namely nausea, hair loss (53.3%) and fatigue, vomiting (46.7%). Conclusion: The Paclitaxel-Carboplatin combination chemotherapy regimen is more effective in reducing the tumor size of stage IIB cervical cancer with lower side effects than the Paclitaxel-Carboplatin-Ifosfamide combination.Key words: cervical cancer, chemotherapy, side effects
Preeklamsi dari Masa ke Masa Adhi Pribadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 1 Maret 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6n1.475

Abstract

Preeklamsi merupakan kumpulan gejala atau  sindrom meliputi  hipertensi  disertai dengan gangguan  organ multisistem, yang terjadi hanya pada kehamilan dengan etiologi pasti sampai saat ini masih belum diketahui. Keadaan patologi  tersebut sampai saat ini masih merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu dalam obstetri. Pada pergantian abad ke-19 ke abad ke-20, teori preeklamsi yang populer merupakan kontaminasi racun atau toksin selama kehamilan dan dianut oleh para ilmuwan secara luas sehingga muncul istilah toxemia gravidarum. Pada saat ini teori yang diterima secara luas adalah preeklamsi berhubungan dengan implantasi abnormal trofoblas, yang diyakini menyebabkan iskemik pada plasenta dan berdampak sistemik. Meskipun tatalaksana telah dikembangkan sesuai dengan kedokteran berbasis bukti, tetapi masih terdapat keterbatasan dalam terapi, yaitu menangani gejala dan persalinan merupakan obat terbaik untuk preeklamsi. Hipotesis dan kontribusi ilmiah sebelumnya telah memengaruhi pemahaman patofisiologi preeklamsi saat ini dan telah menyimpulkan suatu strategi untuk tatalaksana dan kriteria klasifikasinya. Memahami teori masa lalu dan mengenal etiologi serta patofisiologi preeklamsi akan berkontribusi pada tatalaksana yang lebih baik di masa depan yang lebih mengedepankan promotif dan preventif.
Maternal Characteristics, Maternal Outcomes, and Perinatal Outcomes on COVID-19 Maternal Patients Amillia Siddiq; Zulvayanti Zulvayanti; Andhika Yudi Hartono
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 1 Maret 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v6n1.436

Abstract

Objective: To determine maternal and perinatal outcomes on COVID-19 pregnancy at the Central General Hospital (RSUP) dr. Hasan Sadikin Bandung. Methods: This is a descriptive study with a cross-sectional approach using secondary data from the medical records between January-June 2021. The research subjects were all maternal patients diagnosed with COVID-19 and grouped based on their sociodemographic and clinical characteristics. Result: Around 205 subjects were recruited. The results showed that there was a 2.1-fold increase in cases from May to June. The majority of the patients were asymptomatic (78.91%) with chest X-ray results showing no signs of pneumonia (87.75%). Most patients had preterm delivery (31.29%) with live birth (77.55%). After COVID-19 treatment, patients who were declared to be able to self-isolate were around 65.31%, but around 6.12% passed away.Conclusion: The majority of COVID-19 obstetric patients are pregnant women aged 20-35 years with primiparity, term gestational age, high school educated, housewives and having asymptomatic COVID-19 cases without comorbidities. Maternal clinical characteristics of COVID-19 cases mostly showed no signs of pneumonia on chest X-ray, had term babies, mostly were live births, and most can safely self-isolate.Karakteristik dan Luaran Maternal, serta Luaran Perinatal Ibu Hamil dengan Covid-19AbstrakTujuan: Mengetahui luaran maternal dan perinatal kehamilan dengan COVID-19 di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Hasan Sadikin Bandung. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang ini menggunakan data sekunder dari rekam medis subjek penelitian selama pengamatan pada Januari-Juni 2021. Subjek penelitian adalah seluruh pasien maternal yang terdiagnosis COVID-19 dan dikelompokkan berdasarkan karakteristik klinis.Hasil: Selama periode pengamatan didapatkan 205 subjek penelitian. Hasil pengamatan menunjukkan terjadi kenaikan kasus pada bulan Mei ke Juni sebanyak 2,1 kali. Karakteristik klinis pasien menunjukkan mayoritas asimtomatik (78,91%) dengan gambaran klinis rontgen thoraks menunjukkan gambaran tanpa pneumonia (87,75%). Subjek penelitian selama perawatan paling banyak mengalami persalinan prematurus (31,29%) dengan luaran perinatal lahir hidup (77,55%). Setelah perawatan COVID-19, subjek yang dinyatakan dapat isolasi mandiri sebanyak 65,31%, namun 6,12% pasien meninggal dunia.Kesimpulan: Pasien obstetrik pada penelitian ini mayoritas adalah wanita hamil usia 20-35 tahun dan memiliki derajat COVID-19 asimtomatik tanpa komorbid. Mayoritas subjek memiliki gambaran rontgen thoraks tanpa pneumonia, menjalani proses persalinan prematurus, memiliki luaran perinatal lahir hidup, dan mayoritas menjalani isolasi mandiri.Kata kunci: COVID-19, karakteristik, maternal