cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
ISSN : 25988573     EISSN : 25991388     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 130 Documents
Pengaruh Demonstrasi Terhadap Keterampilan Perawatan Payudara Pada Ibu Hamil Trimester Ketiga Di Wilayah Kerja Puskesmas Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh Ulfa Farrah Lisa; Mutia Putri
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.922 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i1.868

Abstract

Abstrak Demontrasi perawatan payudara akan membuat keterampilan ibu hamil semakin meningkat dan demonstrasi akan berpengaruhterhadap keterampilan perawatan payudara pada ibu hamil. Perawatan payudara bertujuan untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya aliran susu sehingga mempelancar pengeluaran ASI. Target pemberian ASI ekslusif adalah sebesar 80% sedangkan pencapaian di Kota Banda Aceh masih rendah yaitu 55,17%. Dari survei data awal yang dilakukan di Puskesmas Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh didapatkan bahwa jumlah ibu hamil sebanyak 31 orang dari lima desa dan mayoritas tidak bisa melakukan perawatan payudara. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh demonstrasi terhadap keterampilan perawatan payudara pada ibu hamil trimester ketiga diwilayah kerja Puskesmas Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh. Penelitian ini bersifat eksperimen semu (quasi experiment) dengan pre-test post-test desain. Dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh, pada tanggal 25 Juni sampai dengan 2 Juli 2018. Jumlah sampel dalam penelitian inisebanyak 31 orang dengan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan lembaran observasi dan uji statistic menggunakan uji wilcoxon dengan taraf signifikasi α=0,05 (C1=95%). Hasil analisis menunjukkan dari 31 responden sebelum diberikan demonstrasi(pre-test) keterampilan responden mayoritas perlu perbaikan sebanyak 28 orang (90,3%) dan responden yang mampu sebanyak 3 orang (9,7%), sedangkan setelah diberikan demonstrasi (post-test) keterampilan responden mayoritas mampu sebanyak 16 orang (51,6%), mahir sebanyak 9 orang (29,1%) dan perlu perbaikan sebanyak 6 orang (19,3 %). Setelah dilakukan uji statistik, didapat nilai p-value 0,000. Kata Kunci : Demonstrasi, Perawatan Payudara, Keterampilan Abstract Demonstration of breast care will make the skills of pregnant women is increasing and the demonstration will affect the skill of breast care in pregnant women. Breast care aims to improve blood circulation and prevent blockage of milk flow so that it smoothes out breast milk. The target of the exclusive breastfeeding is 80% while the achievement in Banda Aceh is still low (55.17%).From the initial survey data conducted at the Community Health Center of Jeulingke, Syiah Kuala Banda Aceh, and the number of pregnant women is 31 people from five villages and the majority cannot breast care. This article aims to know the effect of demonstration on breast care skill in third trimester pregnant woman in work area at Community Health Center (Puskesmas) of Jeulingke, Syiah Kuala Banda Aceh. This research has aQuasi Experiment with pre-test post-test design. This research was Conducted in the work area at Puskesmas Jeulingke, District Syiah Kuala Banda Aceh, from 25 June to 2 July 2018. The samples in this research there were 31 people with total sampling technique. And the Data collection is used observation sheet and statistic by wilcoxon testwith a significance level α=0,05 (C1=95%). The results of the analysis show from 31 respondents before being given a demonstration (pre-test) the majority of respondents' skills were categorized as needing improvement as many as 28 people (90.3%) and respondents who were in the category of capable were 3 people (9.7%), while after being given a demonstration ( post-test) the skills of the majority of respondents are in the category of capable as many as 16 people (51.6%), proficient categories as many as 9 people (29.1%) and categories need improvement as much as 6 people (19.3%). After a statistical test, the p-value is 0,000. Keywords: Demonstration, Breast Care, Skills.
Gambaran Tingkat Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan FNAB di Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda Tahun 2018 Simanjuntak Mayro; Eko Nugroho; Oswald L Simatupang
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.474 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i3.1075

Abstract

Abstrak Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperoleh setelah pasien membandingkan dengan apa yang diharapkannya, sehingga kepuasan pasien bergantung pada kualitas pelayanan yang diterimanya. Untuk menilai kualitas pelayanan terdapat 5 dimensi yang dapat diukur, yaitu keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (empathy), dan keberwujudan (tangible). Makin baik kualitas pelayanan yang diberikan, maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan pasien. Tujuannya untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan di laboratorium patologi anatomi RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Penelitian deskriptif dilakukan dengan teknik purposive sampling pada pasien yang datang ke Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda, yang memenuhi kriteria. Data yang peroleh berasal dari data primer dengan menggunakan kuesioner yang dikerjakan secara terbimbing. Terdapat kesenjangan (gap) harapan sebesar -0,6 untuk dimensi keandalan, -0,2 untuk dimensi daya tanggap, -0,2 untuk dimensi jaminan, -0,1 dimensi empati, dan -0,9 untuk dimensi keberwujudan. Tingkat kepuasan pasien adalah 96% responden puas dan 4% responden tidak puas. Kata kunci: kepuasan pasien, pelayanan kesehatan, keandalan, daya tanggap, jaminan Abstract Patient satisfaction is a level of patient's feelings rising from the performance of health services that are obtained after the patient compares it with what he expected, so that patient satisfaction depends on the quality of service received. To assess service quality there are 5 dimensions that can be measured, namely reliability, responsiveness, assurance, empathy, and tangible. The better quality of service provided, the higher the level of patient satisfaction. To determine the level of patient satisfaction with services in the anatomical pathology laboratory of the Abdul Wahab Sjahranie Hospital, Samarinda. Descriptive study was conducted by purposive sampling technique carried out on 50 patients who came to the Anatomical Pathology Laboratory of Abdul Wahab Sjahranie Hospital, in Samarinda that met the criteria. The data obtained comes from primary data using a questionnaire that is done in a guided manner. There was an expectation gap of -0.6 for reliability dimensions, -0.2 for responsiveness dimensions, -0,2 for assurance dimensions, -0.1 empathy dimensions and -0,9 for tangible dimensions. The level of patient satisfaction was 96% of respondents were satisfied and 4% of respondents were dissatisfied. Keywords: patient satisfaction, health services, reliability, responsiveness, assurance
Penanganan Balita Gizi Buruk di Puskesmas Provinsi Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur Astuti Lamid; Nova Sri Hartati; Fitriana Fitriana; Srilaning Driyah
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.052 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i3.1129

Abstract

Abstrak Masalah balita gizi buruk cenderung menurun pada tahun 2018, namun di beberapa daerah kasus gizi buruk meningkat menjadi KLB. Salah satu penanganannya melalui pemulihan di puskesmas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana penanganan gizi buruk dilakukan oleh tenaga kesehatan puskesmas dan kader posyandu. Desain penelitian menggunakan pendekatan mix methods, berlokasi di Kalimantan Barat, Banten, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur. Dua kabupaten dipilih dari masing-masing provinsi, selanjutnya dari tiap kabupaten diambil satu puskesmas yang banyak kasus gizi buruk. Informan penelitian adalah Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas dan kader posyandu. Data yang dikumpulkan meliputi pelayanan gizi dan kesehatan, makanan terapi, dan penyuluhan serta peranan kader. Cara pengumpulan data dengan wawancara, in-depth interview dan diskusi kelompok terarah. Analisis data kuantitatif disajikan secara deskriptif dan kualitatif dengan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar puskesmas di daerah penelitian menangani gizi buruk dengan cara rawat jalan. Belum semua TPG puskesmas mendapat pelatihan gizi buruk, hanya sebagian puskesmas menggunakan makanan terapi sedangkan lainnya menggunakan makanan tambahan yang tidak sesuai dengan pedoman. Dukungan sebagian kader dalam penanganan gizi buruk di puskesmas berupa penemuan kasus gizi buruk dan merujuknya, membagikan PMT ke rumah balita. Penanganan balita gizi buruk di puskesmas belum optimal karena tidak didukung dengan ketersediaan input berupa makanan terapi dan belum semua TPG mendapat pelatihan gizi buruk. Pelatihan gizi buruk untuk tenaga puskesmas perlu ditingkatkan dan sistem pengadaan makanan terapi di daerah perlu diperbaiki, agar kualitas pelayanan gizi buruk menjadi lebih baik. Kata kunci: gizi buruk, TPG, PMT, sistem pengadaan, pelayanan kesehatan Abstract The problem of severe malnutrition children under five years old tends to decline in 2018. One of the treatment measures was through recovery at the health center. The purpose of this study was to evaluate the extent to which severe malnutrition children was handled by health center nutrition officer and posyandu cadre. Mix methods approach was used as research design and the study was located in West Kalimantan, Banten, West Java and East Nusa Tenggara Provinces. Two districts were chosen, then one health center from each district was selected based on the highest severe malnutrition cases. The informants were nutrition officer of health center and posyandu cadres. The data collected were nutrition and health services, therapeutic food, counseling, and the role of cadres. Data was collected through interview, in-depth interview, and focus group discussion. Quantitative data analysis was presented descriptively and qualitative data was presented with content analysis.The majority of health centers handled severe malnutrition children in outpatient treatment setting. Not all nutrition officer of health centre have received training in handling severe malnutrition. Only some health centers used therapeutic food while others used supplementary foods that was not recommended. The support of cadre was seen in the form of finding cases of malnutrition and distributing supplementary food to the malnourished children’s homes. The handling of malnourished children in health centers was not optimal, because it was not supported by the availability of therapeutic food and not all nutrition officer have been trained. For recommendations, nutrition training for health center staff needs to be increased and the system for provision therapeutic food in the regions needs to be improved in order to improve the quality of nutrition services. Keywords: severe malnutrition, health center nutrition officer, mix methods, indepth interview, content analysis
Merokok dan Karies Gigi di Indonesia: Analisis Lanjut Riskesdas 2013 Indirawati Tjahja
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.626 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i3.1133

Abstract

Abstrak Merokok merupakan hal yang biasa ditemui di dunia khususnya di Indonesia. Kebiasaan merokok ini banyak dijumpai pada orang yang berpendidikan tinggi, rendah, berbagai umur, muda maupun umur lanjut, laki-laki, perempuan, bekerja, tidak bekerja, miskin maupun tidak miskin, meskipun merokok diketahui mengganggu kesehatan. Karies gigi merupakan masalah yang utama pada kesehatan gigi–mulut. Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, dan merokok dengan karies gigi. Metode dengan menggunakan desain penelitian potong lintang (Cross Sectional). Sampel penelitian adalah semua anggota rumah tangga yang berusia 15 tahun ke atas. Sampel karies gigi berjumlah 173.828 orang. Tidak terdapat hubungan antara merokok dengan karies gigi dengan nilai p:0,664. Namun terdapat hubungan yang bermakna antara variabel umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, sosial ekonomi dengan karies gigi dengan nilai p: 0,000. Bagi perokok maupun bukan perokok yang mempunyai masalah dengan karies gigi sebaiknya ke dokter gigi untuk dilakukan perawatan gigi berupa penambalan gigi atau perawatan saluran akar gigi. Kata kunci: merokok, karies gigi, riskesdas Abstract Smoking is a common behaviur in the world, especially in Indonesia. We meet this smoking habit in people who are highly or low educated, in various ages, include men, women although smoking is known to be dangerous interfere with they are health. Dental caries is a major problem in oral health. Objective whether there is a relationship between smoking and dental caries, is there a relationship between age, sex, education, occupation and socio-economic. The purpose of this study is there a relationship between smoking behavior and dental caries. Method by using the a Cross Sectional research design. The sample of study was all household members aged 15 years and over. The dental caries samples numbered 173,828 people. There was no relationship between smoking behavior and dental caries, with p value of 0.664. But there is a meaningful relationship between the variables of age, gender, socio-economic, education, occupation, with dental caries with p value: 0,000. For smokers and non smokers who have problems with dental caries should go to the dentist and having the dental care in the form of dental fillings or root canal treatment. Keywords: smoking, dental caries, riskesdas
Faktor Terkait Inisiasi Menyusu Dini pada Ibu Postpartum di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon Mulia Lestari
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.062 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i1.1228

Abstract

Abstrak Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan kesempatan bayi yang dilahirkan dalam 24 bulan terakhir dapat menyusu secara alami dengan meletakkannya di perut ibunya selama satu jam setelah kelahiran. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan bayi, mempertahankan suhu bayi tetap hangat, merangsang kontraksi otot rahim sehingga mengurangi risiko perdarahan sesudah melahirkan dan memperbesar peluang ibu untuk memantapkan dan melanjutkan kegiatan menyusui selama masa bayi (6 bulan-2 tahun). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan dan faktor terkait IMD di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Cilegon. Jenis penelitian bersifat deskriptif dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Wawancara mendalam dilakukan terhadap 14 informan dan metode observasi pelaksanaan persalinan spontan di ruang bersalin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan IMD di RSUD Kota Cilegon ditinjau dari struktur, proses dan output terlaksana cukup baik pada persalinan spontan dan belum terlaksana pada persalinan post-sectio caesaria. Penyebab pelaksanaan IMD belum optimal karena prosedur operasional baku IMD yang dimiliki rumah sakit belum diterapkan pada semua jenis metode persalinan. IMD hanya dilaksanakan pada proses persalinan pervaginam. Selain itu, pelatihan tenaga kesehatan belum diberikan secara menyeluruh. Saran yang dapat dilakukan adalah perbaikan prosedur operasional baku IMD dan inhouse training di rumah sakit tentang IMD. Kata kunci: Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ibu postpartum, rumah sakit Abstract Early initiation of breastfeeding (EIB) is opportunity of babies born in the past 24 months to be able to suckle naturally by placing the baby in the mother's stomach within an hour of birth. This activity aims to improve the affection of mothers and babies, keep the temperature of the baby warm, stimulate uterine muscle contraction, thereby reducing the risk of postpartum bleeding and increase the chances of the mother to establish and continue breastfeeding during infancy (6 months-2 years). The purpose of this study was to find out the implementation of EIB at the Cilegon Hospital and their factors related. This type of research is descriptive by using qualitative research methods. In-depth interviews were carried out on 14 informants and methods of observing the implementation of spontaneous labor in the delivery room. The results showed that the implementation of EIB at the Hospital of Cilegon in terms of structure, process and output was carried out quite well at spontaneous labor and had not been carried out in the post sectio caesaria delivery. The causes of the implementation of EIB have not been optimal because the Standard Operational Procedures (SOP) for EIB owned by hospitals have not been for all types of labor methods, EIB is carried out only in the vaginal delivery process. In addition, the training of health workers has not been given as a whole. Suggestions that can be made is to improve the SOP for EIB and inhouse training at the hospital about EIB. Keywords: Early Initiation of Breastfeeding (EIB), postpartum mother, hospital
Hubungan antara Perilaku Sikat Gigi, Merokok, dan Diabetes Melitus dengan Status Karies Gigi di Indonesia: Analisis Data Riskesdas 2013 Tince Arniati Jovina; Made Ayu Lely Suratri
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.033 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i1.1571

Abstract

Abstrak Masalah status kesehatan gigi dan mulut merupakan masalah kesehatan di Indonesia yang belum mendapat prioritas tinggi. Hasil Riskesdas menunjukkan peningkatan dari 46.7% (2007) menjadi 52.65% (2013). Analisis terhadap faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian karies dapat membantu merumuskan kebijakan dan program kesehatan gigi dan mulut. Tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui hubungan antara perilaku sikat gigi, merokok, dan diabetes dengan status karies gigi. Analisis Univariat, Bivariat dan Multivariat (regressi) data Riskesdas 2013 dengan jumlah responden 37.077 orang. Indeks DMFT digunakan untuk mengukur tingkat keparahan karies gigi. Kejadian karies gigi yang berat cenderung lebih tinggi pada responden yang pernah merokok dan yang merokok aktif dibandingkan pada mereka yang tidak pernah merokok. Responden yang sering mengkonsumsi makanan manis, mempunyai tingkat keparahan karies gigi yang lebih tinggi dibandingkan responden yang jarang atau tidak pernah mengkonsumsi makanan manis. Responden dengan kadar gula darah >200mg/dl mengalami kejadian karies gigi lebih tinggi. Analisis regressi logistik menunjukan variabel umur merupakan prediktor terkuat kejadian karies. Variabel lainnya yaitu jenis kelamin, pendidikan, perilaku merokok dan konsumsi makanan manis, mempunyai hubungan yang lemah terhadap kejadian karies gigi. Sedangkan variabel lainnya yaitu status kawin, tempat tinggal (desa atau kota), kadar gula darah sewaktu, pendidikan, pekerjaan, perilaku sikat gigi, status ekonomi tidak berhubungan dengan kejadian karies. Kejadian karies gigi dapat dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin, serta diperberat dengan perilaku sering makan makanan yang manis dan merokok. Perlu ditingkatkan perilaku hidup sehat agar masyarakat menjaga kesehatan giginya sejak dini dengan mengurangi makan makanan yang manis dan lengket, juga tidak merokok, serta rutin kontrol ke dokter gigi. Kata kunci: Perilaku Sikat Gigi, Merokok, Diabetes Melitus, Status Karies Gigi Abstract Dental and oral health status is one of health problems in Indonesia that has not being prioritized. Riskesdas data shows an increase in caries prevalence from 46.7% (2007) to 52.65% (2013). Analysis of the factors associated with caries incidence will support to develop e dental and oral health policies and programs. The objective of this analysis is to determine the relationship between toothbrush behavior, smoking, diabetes mellitus and dental caries status. Univariate, Bivariate and Multivariate Analysis was perform using 2013 Riskesdas data with 37,077 respondents. The DMFT index is used to measure the severity of dental caries. The incidence of severe dental caries tends to be higher in respondents who had smoked and who smoked actively than in those who never smoked. Respondents who frequently consume sweet foods, have a higher dental caries severity compared to respondents who rarely or never consume sweet foods. Respondents with random blood sugar levels >200mg/dl have higher dental caries. Logistic regression analysis showed that age was the strongest predictor of caries incidence. Gender, education, smoking behavior and consumption of sweet foods, have a weak relationship with the incidence of dental caries. While other variables were marital status, residence (village or urban), blood sugar levels, education, employment, toothbrush behavior, and economic status are not related to caries incidence. The incidence of dental caries can be influenced by age and sex, and will be aggravated by the frequent behavior of eating sugary foods and smoking. A healthy lifestyle needs to be improved so that people maintain their teeth health early on by not consume foods that are sweet and sticky, also not smoking, and has routine control to the dentist. Keywords: Toothbrushing Behavior, Smoking, Diabetes Mellitus, Dental & Oral Health Status
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Karies Dentis pada Ibu Hamil di Posyandu Baiturrahman Kota Banda Aceh Munifah Abdat; Dewi Ismail
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.202 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i1.1695

Abstract

Abstrak Masa kehamilan merupakan masa perubahan fisiologis dan fisik tubuh termasuk rongga mulut, sementara pengetahuan ibu hamil terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut masih relatif rendah. Perubahan rongga mulut pada ibu hamil antara lain meningkatnya resiko karies gigi, gingivitis dan penyakit periodontal, masih kurang diperhatikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut serta karies dentis pada ibu hamil di Posyandu. Pengambilan subyek penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yaitu ibu hamil tanpa adanya riwayat penyakit sistemik dan berada di posyandu wilayah Baiturrahman kota Banda Aceh ketika dilakukan pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pembagian kuisioner disertai pemeriksaan kondisi gigi menggunakan indeks DMF-T pada subyek penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya kesehatan gigi dan mulut masih kurang, hasil pemeriksaan DMF-T menunjukkan skor 6,9 (kategori sangat tinggi) dengan ditemukan karies gigi (decay) pada seluruh ibu hamil. Sejumlah 65% subyek penelitian mengaku tidak mendapat edukasi dari dokter kandungannya tentang kesehatan rongga mulut dan hubungannya dengan kehamilan. Berdasarkan uji korelasi menggunakan Pearson test disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan negatif (p=0,001) antara tingkat pengetahuan dan status karies pada ibu hamil, makin rendah pengetahuan ibu hamil maka makin tinggi status karies pada ibu hamil. Kata kunci: ibu hamil, pengetahuan, karies dentis Abstract Pregnancy is a period of physiological and physical changes in the body including oral cavity, while knowledge of pregnant women about maintaining dental and oral health is still relatively low. Changes in the oral cavity in pregnant women include increases risk of dental caries, gingivitis and periodontal diseases that are less noticed. Purpose of study was to determine level of knowledge about oral health and dental caries of pregnant women at integrated Service Post. Subject of research was taken by purposive sampling technique that met the inclusion and exclusion criteria, namely pregnant women without a history of systemic disease and was in the posyandu in the Baiturrahman area of Banda Aceh city when data collection was carried out. Data collection techniques were carried out by distributing questionnaires along with examination of dental conditions using index DMF-T in the subjects. Results of this study indicate level of knowledge of pregnant women about the importance of dental and oral health is still lacking, results of DMF-T examination which is 6.9 (very high category) found dental caries (decay) in all subjects. 65% of subjects said that they did not get education from their obstetricians about the health of the oral cavity and its relationship to pregnancy. Based on the correlation test using Pearson test concluded there was a significant negative relationship (p = 0.001) between knowledge levels and caries status in pregnant women, the lower knowledge of pregnant women had low knowledge, in fact their caries status was high. Keywords: pregnant women, knowledge, dental caries
Pengetahuan Masyarakat dan Pelaksanaan Wawancara Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) di Beberapa Puskesmas di Indonesia Made Ayu Lely Suratri; Tince Arniati Jovina; Eva Sulistyowati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.187 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i1.1867

Abstract

Abstrak Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) merupakan kegiatan kunjungan rumah yang bertujuan untuk meningkatkan akses keluarga terhadap pelayanan kesehatan yang komprehensif, mendukung tercapainya Standar Pelayanan Minimal (SPM), dan JKN dalam rangka mewujudkan Indonesia sehat. Program ini dilaksanakan di seluruh puskesmas di Indonesia secara bertahap sejak tahun 2016. Puskesmas sesuai dengan mandatory dari Permenkes No. 75 tahun 2014 melaksanakan kunjungan rumah dalam rangka meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan akses pelayanan kesehatan. Kegiatan kunjungan dilakukan dengan mengintegrasikan kegiatan UKP dan UKM secara berkesinambungan berdasarkan data pada profil keluarga. Tujuan penelitian untuk memperoleh gambaran pengetahuan dan pelaksanaan kunjungan rumah PIS-PK di beberapa puskesmas di Indonesia. Metode penelitian adalah riset operasional dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR), merupakan bagian Riset Implementasi PIS-PK yang dilaksanakan oleh Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan tahun 2018. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2018 di beberapa puskesmas di empat provinsi terpilih yaitu Lampung, Jawa Tengah, NTT, dan Kalimantan Selatan. Populasi penelitian adalah 10 rumah tangga terpilih di wilayah puskesmas yang telah dikunjungi oleh petugas puskesmas. Total rumah tangga yang dijadikan sampel penelitian sebanyak 80 rumah tangga. Wawancara dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner validasi dan Prokesga yang digunakan oleh petugas puskesmas. Hasil validasi data menunjukkan bahwa belum semua puskesmas melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pelaksanaan kunjungan rumah dalam rangka PIS-PK. Petugas yang melakukan kunjungan rumah tidak menanyakan keseluruhan pertanyaan Prokesga dan pengukuran tekanan darah. Senada dengan hal tersebut, hampir sebagian besar responden belum mengetahui atau mendengar tentang PIS-PK. Sebagian besar puskesmas belum melakukan kunjungan ulang bila anggota rumah tangga (ART) tidak ada dirumah. Kata kunci: validasi data, PIS-PK, Puskesmas Abstract The Healthy Indonesia Program with a Family Approach (PIS-PK) is a home visit activity that aims to increase family access to comprehensive health services, support the achievement of Minimum Service Standards (SPM), and JKN in order to realize a healthy Indonesia. The program was implemented in all health centers in Indonesia, gradually starting in 2016. The the Primary of Health Care in accordance with the mandatory of Permenkes No. 75 of 2014 carried out home visits in order to increase the reach of targets and bring access to health services closer. Visiting activities are carried out by integrating UKP and UKM activities on an ongoing basis based on data on family profiles. The purpose of this study was to obtain an overview of the knowledge and implementation of PIS-PK home visits in several health centers in Indonesia. The method of this research is operational research using the Participatory Action Resarch (PAR) approach, which is part of the PIS-PK Implementation Research carried out by the Research and Development Center for Resources and Health Services in 2018. This research was conducted in 2018 in several Primary of Health Care in four selected provinces, that is Lampung, Central Java, NTT, and South Kalimantan. The study population was 10 selected households in the Primary of Health Care area that had been visited by the Primary of Health Care officers. The total number of households used as research samples was 80 households. Interviews using the instrument were in the form of validation questionnaires and health programs that were used by the Primary of Health Care officers. The results of data validation show that not all the Primary of Health Care have provided information to the public about the implementation of home visits within the framework of the PIS-PK. The staff who made a home visit did not ask about the overall health questions and blood pressure measurements. In line with this, almost the majority of respondents did not know or hear about PIS-PK. Most public health centers haven't been re-visited if there weren't its members. Keywords: Data Validation, PIS-PK, Primary of Health Care
Prevalensi Psikosis di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018 Sri Idaiani; Indri Yunita; Dwi Hapsari Tjandrarini; Lely Indrawati; Ika Darmayanti; Nunik Kusumawardani; Rofingatul Mubasyiroh
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.837 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i1.1882

Abstract

Abstrak Psikosis adalah gangguan jiwa yang memiliki prevalensi kecil dibandingkan gangguan jiwa lainnya tetapi mempunyai beban penyakit yang cukup tinggi. Tujuan analisis ini adalah untuk memperoleh prevalensi psikosis pada penduduk Indonesia secara nasional, per provinsi dan melihat sebaran psikosis antara perkotaan, perdesaan berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Analisis ini merupakan analisis lanjut Riskesdas dilaksanakan di 34 provinsi, 514 kabupaten/kota pada bulan Juli 2018. Jumlah blok sensus 29.824 dengan respon rate 99,41%, jumlah rumah tangga dikunjungi dan diwawancara 282.654 dengan respon rate 95,58%. Enumerator bertanya kepada kepala keluarga atau yang mewakilinya mengenai adakah anggota rumah tangga (ART) di rumah tersebut yang pernah atau sedang mengalami gangguan jiwa psikosis dan berapa banyak jumlahnya. Analisis dilakukan dengan perangkat statistik SPSS versi 22 dengan metode complex sample. Berdasarkan Riskesdas 2018, didapatkan estimasi prevalensi orang yang pernah menderita psikosis di Indonesia sebesar 1,8 per 1000 penduduk. Prevalensi antar provinsi berkisar 0.9 sampai 3.5 per 1000 penduduk. Prevalensi psikosis lebih tinggi di perdesaan dibandingkan di perkotaan (p=0,099). Kata kunci: Riskesdas 2018, psikosis, prevalensi Abstract Psychosis is a mental disorder that has a small prevalence compared to other mental disorders but it has a fairly high burden of disease. The purpose of this analysis is to obtain the national, provincial prevalence of psychosis and to compare the prevalence between urban and rural regions in Indonesia based on Basic Health Research (Riskesdas) 2018. This is an advance analysis. Riskesdas was implemented in July 2018 in 34 provinces and 514 regencies/cities. A total of 29,824 census blocks with a response rate of 99.41%, as many as 282.654 households visited and interviewed with a response rate of 95.58%. The enumerator interviewed the head of the family or his representative regarding the existence of household members (ART) in the house who had or were experiencing psychosis and how many of them. The analysis was carried out with SPSS version 22 using the complex sample method. Based on Riskesdas 2018, an estimated prevalence of people who have suffered psychosis in Indonesia is 1.8 per 1000 population. The prevalence between provinces ranges from 0.9 to 3.5 per 1000 population. The prevalence is higher in rural than urban area (p=0.099). Keywords: Riskesdas 2018, psychosis, prevalence
Gambaran Ketersediaan Sumber Daya Manusia dan Prasarana Puskesmas dalam Pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK): Analisis Data Risnakes 2017 Sugiharti Sugiharti; Mujiati Mujiati; Siti Masitoh; Eva Laelasari
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.082 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i1.1883

Abstract

Abstrak Program Indonesia Sehat merupakan program utama Pembangunan Kesehatan yang direncanakan pencapaiannya melalui Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) menjadi salah satu cara puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan/meningkatkan akses pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya dengan mendatangi keluarga. Untuk mendukung pelaksanaan pendekatan keluarga tersebut perlu adanya penguatan puskesmas sebagai salah satu ujung tombaknya. Penguatan tersebut antara lain dilakukan melalui pemenuhan sumber daya puskesmas, yakni sumber daya manusia (SDM), prasarana dan sarana/alat. Tujuan dari analisis ini adalah mengetahui ketersediaan SDM dan prasarana-sarana puskesmas dalam menjalankan PIS-PK. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa tenaga pendukung kegiatan pengumpulan data PIS-PK di puskesmas seluruh Indonesia yang mengikuti pelatihan PIS-PK paling banyak adalah tenaga bidan (29,8%), sedangkan petugas yang paling banyak melakukan pengumpulan data keluarga sehat adalah petugas puskesmas (94,5%). Prasarana yang mendukung kegiatan PIS-PK di puskesmas menunjukkan bahwa hampir semua puskesmas dalam melakukan pendataan menggunakan formulir Prokesga sebanyak 97,8 persen. Keberadaan sinyal telepon selular di puskesmas sebanyak 85,5 persen dan keberadaan sinyal internet sebanyak 73,2 persen. Baru separuh puskesmas memiliki Pinkesga sebanyak 58,5 persen, stetoskop dan alat ukur tekanan darah air raksa, hampir semua puskesmas memiliki alat tersebut. Alat ukur tekanan darah digital hanya 71,4 persen. Kata kunci: PIS-PK, Keluarga Sehat, Puskesmas Abstract The Healthy Indonesia Program (Program Indonesia Sehat) is the main health development program planned to achieve through the Ministry of Health's Strategic Plan for 2015-2019. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) is one of the ways the primary health care (PHC) can increase the reach of targets and bring closer / increase access to health services in their working areas by visiting families. To support the implementation of the family approach it is necessary to strengthen the PHC’s as one of the spearheads. Such reinforcement, among others, is done through the fulfillment of PHC’s resources, including human resources, infrastructure and tools. The purpose of this study is to find out about the readiness of Human Resources and Infrastructure Facilities of PHC in running PIS-PK. The results of this study indicate that for workers who support the PIS-PK data collection activities in health centers throughout Indonesia, the highest number of midwives is 29.8 percent who attend the PIS-PK training and the most 94.5 percent. Whereas for infrastructure that supports PIS-PK activities at the PHC, it shows that almost all PHC in carrying out the data collection used the Prokesga form as much as 97.8 percent. The presence of mobile cellular signals in PHC is 85.5 percent and the presence of internet signals is 73.2 percent. Whereas for the availability of Pinkesga, only half of the PHC have Pinkesga as much as 58.5 percent, while for stethoscopes and mercury blood pressure measuring devices, almost all PHC have these devices, for digital blood pressure measuring devices only 71.4 percent Keywords: PIS-PK, Health Family, primary health care (PHC)

Page 7 of 13 | Total Record : 130