cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
ISSN : 25988573     EISSN : 25991388     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 130 Documents
Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) Esensial di Puskesmas Terpencil dan Sangat Terpencil Sefrina Werni; Iin Nurlinawati; Rosita Rosita
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.661 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i1.427

Abstract

Abstrak Setiap puskesmas harus menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) esensial tanpa melihatkriteria puskesmas. UKM esensial meliputi 5 jenis pelayanan, yaitu promosi kesehatan; kesehatan lingkungan; kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana; pelayanan gizi; dan pencegahan dan pengendalian penyakit. Tujuan dari penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran pelaksanaan UKM esensialdi puskesmas terpencil dan sangat terpencil di wilayah Indonesia. Data diperoleh dari hasil survei lokasi calon penempatan tim Nusantara Sehat Tahun 2016 sebanyak 131 unit puskesmas terdiri dari 74 puskesmas terpencil dan 57 puskesmas sangat terpencil. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 87,0 persenpuskesmas melaksanakan 5 jenis pelayanan esensial dan masih terdapat puskesmas yang hanya melaksanakan 3 jenis pelayanan yaitu sebesar 1,5 persen. Pelayanan kesehatan lingkungan merupakan jenisUKM esensial yang paling banyak tidak dapat diselenggarakan oleh puskesmas. Belum semua jenis tenaga kesehatan ada di puskesmas terpencil dan sangat terpencil. Terkait dengan pelaksanaan UKM esensialjenis tenaga yang masih kurang di daerah terpencil dan sangat terpencil yaitu dokter, tenaga kesling, tenaga pelaksana gizi dan tenaga kesehatan masyarakat. Peningkatkan kemampuan Puskesmas untuk menyelenggarakan UKM esensial secara menyeluruh baik di puskesmas terpencil maupun puskesmas sangatterpencil, perlu didukung dengan tenaga yang memiliki kompetensi sesuai dengan jenis UKM esensial.Kata Kunci: Puskesmas, Upaya Kesehatan Esensial, Nusantara Sehat Abstract Every health center must organized an essential public health effort (essential UKM’s), without looking at thehealth center’s criteria. Essential UKM’s are consist of five programs, namely health promotion; environmentalhealth; health of maternal, child, and family planning; nutrition services; and prevention and control of diseases. The purpose of this study is to get an overview of the implementation of the essential UKM’s in remote areas and very remote health centers. Data obtained from the survey of Healthy Archipelago team based placement in 2016, as many as 131 units of health centers, consisting of 74 remote area health centers and 57 very remote area health centers. Result of this study showed that 87,0 percent health centers organize a complete 5 programs of essential UKM’s, but there are 1,5 percent of health center that only organize threeprograms of essential UKM’s. Environmental health was an essential program that most would be un-organized by health center. Not all types of health workers are in remote and very remote health clinics. Associated with the implementation of essential UKM’s, personnels that are still lacking in remote and very remote areas is doctor, environmental health, nutritionist and public health. To improve the ability of the health center organized a complete essential UKM’s throughly both health center in remote areas and very remote areas, need to be supported by of human resources for health who have appropriate competence with essential UKM’s.Keywords: Health center, essential public health, Nusantara Sehat
Determinan Kepatuhan Berobat Pasien Hipertensi Pada Fasilitas Kesehatan Tingkat I Iche Andriyani Liberty; Pariyana Pariyana; Eddy Roflin; Lukman Waris
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.833 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i1.428

Abstract

Abstrak Puskesmas merupakan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama yang berfungsi menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan secara paripurna. Hingga saat ini penyakit tidak menular yang masih merupakan tantangan besar di Puskesmas dalam menurunkan angka morbiditas hipertensi adalah adalah tatalaksana hipertensi salah satunya adalah tingkat kepatuhan mengkonsumsi obat antihipertensi bagi penderita masih sangat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan kepatuhan pasien menjalani pengobatan hipertensi dan pengaruhnya terhadap kendali tekanan darah pasien hipertensi. Metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di kota Palembang pada bulan Agustus sampai Oktober 2017. Sampel adalah pasien yang berobat ke Puskesmas Karyajaya, Kenten, Plaju, Sei Baung, dan Kampus. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 90 pasien. Analisis data dengan analisis univariat dan bivariat dengan Chi Square Test. Determinan yang berpengaruh terhadap kepatuhan pasien hipertensi dalam mengkonsumsi obat adalah lama menderita hipertensi: POR: 0,11, nilai p =0,04 (CI 95% 0,02-0,52).Determinan jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, Indeks Massa Tubuh, keikutansertaan BPJS, dan riwayat hipertensi dalam keluarga tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan berobat pasien hipertensi. Kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan hipertensi juga merupakan determinan yang berpengaruh terhadap kendali tekanan darah responden. Keberhasilan terapi hipertensi di tingkat pelayanan pertama bisa meningkat, maka disarankan bagi tenaga kesehatan memperhatikan lama atau riwayat menderita hipertensi pasien dalam memberikan pelayanan. Abstract Puskesmas is a First Level Health Facility Until now, the management of non-communicable diseases which is still a big challenge in Puskesmas is hypertension. One effort that can be done to reduce the morbidity rate of hypertension is the consumption of antihypertensive, but still few patients who adhere to this treatment.This study aims to analyze the determinants of adherence in patients undergoing treatment of hypertension and how it affects blood pressure control of hypertensive patients. This research is an observational analytic research with cross sectional approach. This research was conducted in Palembang city from August to October 2017. The samples were patients who went to Puskesmas Karyajaya, Kenten, Plaju, Sei Baung, and Campus which fulfilled the inclusion criteria with a total sample of 90 patients. Data analysis in this research was univariate and bivariate analysis with Chi Square Test. Determinant which influence to adherence in this research was duration of hypertension with POR 0,11 with CI 95% 0,02-0,52 (p value = 0,04). While other determinants of gender, age, education level, occupation, Body Mass Index, BPJS participation, and family history of hypertension have no significant effect on hypertension patient’s treatment compliance. Compliance of patients in undergoing treatment of hypertension is also a determinant that affects the control of blood pressure of respondents. The determinants that affect the adherence in this study are duration of hypertension, thus health workers at first-level facility is very necessary attention to a history of hypertension patients in order to improve therapeutic efficacy.
Pengembangan Kesehatan Tradisional Indonesia: Konsep, Strategi dan Tantangan Siswanto Siswanto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1664.521 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i1.429

Abstract

Abstrak Berdasarkan dokumen dan artefak kuno, Pengobatan Tradisional Indonesia sudah berkembang dan dipakai oleh bangsa Indonesia baik untuk menjaga kesehatan, pengobatan maupun pencegahan penyakit. Dari analisis SWOT tentang situasi Kesehatan Tradisional Indonesia maka dapat disimpulkan bahwa Indonesia mempunyai potensi dan peluang besar untuk mengembangkan Pengobatan Tradisional Indonesia. Strategi yang tepat untuk pengembangan Pengobatan Tradisional Indonesia adalah melalui pendekatan “3P” (product, practice, dan provider) yang dikerjakan secara simultan. Pengembangan produk adalah menyangkut elaborasi manfaat, keamanaan, dan kualitas poduk (modalitas). Pengembangan praktik adalah menyangkut pengembangan body of knowledge (pohon keilmuan) yang dapat dipergunakan untuk pengajaran pendidikan formal (Strata 1) di perguruan tinggi, untuk menghasilkan profesi tersendiri terpisah dari kedokteran konvensional. Komisi Saintifikasi Jamu Nasional telah mengembangkan pohon keilmuan Kesehatan Tradisional Indonesia (Kestrindo). Pohon Keilmuan Kestrindo memiliki ilmu penopang biomedis, berfilosofi Indonesia, bermekanisme kerja fisiogenesis, dan bermodalitas holistik (jamu, pijat, doa, diet, hipnoterapi). Metodologi penelitian Kestrindo harus menggunakan pendekatan holistik, sehingga pengukuran outcome klinik merupakan kombinasi obyektif (etik) dan subyektif (emik). Kedepan perlu disusun konsep yang matang untuk pengembangan Kesehatan Tradisional Indonesia untuk menghadapi tantangan dan persaingan global yang semakin ketat dan sekaligus mengangkat jati diri bangsa. Abstract Referred to ancient artifact and manuscript, Indonesian Traditional Medicine has been established and used by Indonesian people for maintaining health, treatment, and disease prevention. SWOT analysis has shown that Indonesia has the potencies and opportunities to develop Indonesian Traditional Medicine. The appropriate strategy to develop Indonesian Traditional Medicine is by conducting a 3P approach i.e. product, practice, and provider in a simultaneous way. The development of product is dealing with efficacy, safety and quality of product (modalities). The development of practice is dealing with the elaboration of the body of knowledge of Indonesian Traditional Medicine (Kestrindo) that can be used for formal education (Strata 1) in universities, to generate Kestrindo professionals, separated from conventional medicine. During the last three years, National Committee of Jamu Scientification has involved to elaborate and to establish the body of knowledge of Kestrindo. Kestrindo body of knowledge has the following building blocks, i.e. supporting pillars of biomedical science, philosophy of Indonesian origin, mechanism of action: physiogenesis (holistic), modalities of Indonesian origin (jamu, diet, massage, hypnotherapy, praying). As the philosophy of Kestrindo is holistic .i.e. paying attention a patient as holistic human being (body-mind-spirit), mixed methodology should be used. In this method, clinical outcome to be concerned is not only objective parameters (etic) but also subjective parameters (emic). In the future, it needs to finalize the concept of Kestrindo development for anticipation of global competitions and challenges and also to raise Indonesian nation integrity.
Arah Riset Sumberdaya dan Pelayanan Kesehatan Nana Mulyana; Nagiot Cansalony Tambunan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.742 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i1.430

Abstract

Abstrak Rancangan kebijakan publik harus mampu menjadi input pada sisi konsumen, dapat dibaca, dipahami dan diolah menjadi produk kebijakan pemerintah. Pelaksana program/aktivitas pembangunan di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, sampai dengan di desa dibutuhkan peraturan perundang-undangan yang tegas, tidak tumpang tindih, substansial, dan sesuai konteks. Kebutuhan ini dapat dipenuhi oleh produk riset yang sudah mengarah pada penyediaan rancangan peraturan perundang-undangan, yang dalam penyusunan/ formulasinya sudah melibatkan pihak pelaksana utama dari tingkat pusat/provinsi/kabupaten/kota. Sudah saatnya, hasil riset berkontribusi langsung pada program/aktivitas pembangunan melalui rancangan peraturan, dan tidak lagi hanya berhenti pada naskah akademik atau naskah urgensi sebagai data dukung dalam merancang peraturan perundang-undangan. Abstract Public policy design should be able to be input on the consumer side, readable, understood and processed into a product of government policy.Stakeholders at the central, provincial, district / municipality, up to village levels require strong, non-overlapping, substantial, and context-based laws. These needs can be met by research products that have led to the provision of the draft of laws and regulations, which in their formulation already involve major stakeholders from the central / provincial / district / municipality levels.It is time, the research results contribute directly to development programs / activities through the provision of the draft of laws and regulations, and no longer stop at academic texts which is limited only as data support in drafting legislation.
Pelatihan Soft Skills Caring Meningkatkan Kualitas Pelayanan Keperawatan dan Kepuasan Pasien di Rumah Sakit Kota Bandung Eny Kusmiran
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.732 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i2.440

Abstract

Abstrak Kualitas perawat ditentukan oleh kompetensi hard skills dan soft skills. Caring sebagai bagian dari soft skills adalah esensi mendasar pada profesi perawat. Penilaian pasien mengenai soft skills caring perawat adalah indikator dari kualitas pelayanan keperawatan. Tujuan penelitian untuk mengembangkan model pelatihan soft skills caring dan mengidentifikasi model tersebut terhadap kualitas keperawatan dan kepuasan pasien. Desain pra-eksperimental dengan pretest-posttest tanpa kontrol dengan melibatkan 53 perawat dan 53 pasien pada dua rumah sakit swasta di Kota Bandung. Instrumen penelitian diadaptasi dari Caring Nurse Patient Interactions Scale (CNPI) dan kepuasan pasien diadaptasi dari patient satisfaction with nursing care. Intervensi terdiri dari pemberian materi selama 3 hari, post pelatihan 2, 4 dan 6 minggu. Analisis data dilakukan untuk melihat perubahan penilaian soft skills caring perawat serta kepuasan pasien sebelum dan sesudah intervensi-pelatihan menggunakan uji paired t-test. Analisis General Linier Model Repeated Measure (GLM-RM) dipergunakan untuk analisis follow-up 4 dan 6 minggu. Hasil penelitian menunjukkan model pelatihan soft skills caring terbukti efektif meningkatkan penilaian perawat dan kepuasan pasien, serta dapat dimanfaatkan bagi perawat di rumah sakit. Kata kunci: soft skills caring, perawat, kualitas pelayanan keperawatan Abstract The quality of nursing care was determined by they hard and soft skills competence. Soft skill of caring was the basic competence of nurses, it was affecting patient satisfaction. This study aimed to: a) develop the model of training soft skills caring, b)identify the training model for increasing the quality of nursing care and patient satisfaction. The study was pretest-posttest pre-experimental design without control. The sampples including 53 nurses and 53 patients at two private hospitals in Bandung, West Java Province, Indonesia. The instrument was adapted from Caring Nurse Patient Interactions Scale (CNPI) while patient satisfaction assesment was adapted from patient satisfaction with nursing care. The interventions was soft skills training for 3 days, while the soft skill were assesed at in 2, 4 and 6 weeks post intervention. The pre and 2 weeks post intervention were analysed using paired t-test, while the 4 and 6 weeks follow-up soft skill post itervention was analyzed by GLM-RM. The results show that soft skill training are effective for improving nurse’s competence and increasing patient satisfaction. Futher training can be implemented to increase quality of nursing care and patients satisfaction. Keywords: soft skills, training, quality of nursing, patient satisfaction
Implementasi Perawat dalam Pemenuhan Kebutuhan Aktivitas Sehari-hari Pasien Stroke di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan RS PKU Muhammadiyah Gamping Lia Nurul Latifah; Erfin Firmawati; Nur Chayati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.207 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i2.493

Abstract

Abstrak Penderita stroke di Indonesia meningkat setiap tahun. Salah satu dampak stroke adalah terjadinya gangguan fungsi motorik yang mengakibatkan pasien stroke memerlukan bantuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari serta waktu perawatan yang cukup lama. Perawat berperan penting untuk meningkatkan kemandirian pasien, seperti mengkaji, membantu, dan mengajarkan aktivitas sehari-hari kepada keluarga dan pasien stroke sehingga pasien mampu memenuhi kebutuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi perawat dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari pasien stroke di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping. Desain penelitian adalah penelitian potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan besar sampel 42 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner bentuk-bentuk implementasi perawat dengan skala Likert. Analisis data dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan implementasi perawat dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari pasien stroke, semua termasuk dalam kategori kurang, baik dalam mengkaji aktivitas sehari-hari (59,52%), membantu aktivitas sehari-hari (83,33%), maupun mengajarkan aktivitas sehari-hari pada keluarga dan pasien stroke (90,48%). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi perawat dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari pasien stroke adalah kurang baik, baik dalam proses pengkajian maupun implementasi tindakan terhadap keluarga dan pasien stroke. Saran pada peneliti selanjutnya agar melakukan observasi tindakan perawat serta mengambil data dari pasien dan perawat untuk lebih menjamin keabsahan data. Kata kunci: pemenuhan ADL, perawat, stroke Abstract The number of stroke patients in Indonesia is increasing gradually. One of the effects of stroke was impaired of motor function that cause stroke patients required assistance in daily activity and long term care. The important role of nurses is to improve stroke patients independence, such as assessed, assisted, and taught stroke patient and their families so they could fulfill their own requirement This study aimed to describe of nursing implementation in stroke patients activity daily living (ADL) fulfillment at PKU Muhammadiyah Yogyakarta and PKU Muhammadiyah Gamping Hospital. This research was a quantitative descriptive study. Fourty two subjects were recruited by accidental sampling method. The research instrument was a questionnaire with Likert Scale. Data were analyzed using descriptive statistics. As results, nursing implementation in ADL fulfillment showed poor category with details in assessing ADL (59,52%), assisting ADL (66,67%), and teaching ADL for stroke patient and their families (90,48%). This study concluded that nursing implementation in stroke patients ADL fulfillment was not good, either on assessing or doing intervention for stroke patient and their families. Future studies were suggested to observe nursing activity and get the data both from patients and nurses. Keywords: Activities of Daily Living fulfillment, nurse, stroke
Implementasi Pelayanan Neonatal Emergensi Komprehensif di Rumah Sakit PONEK di Indonesia Harimat Hendarwan; Lukman Waris; Tri Siswati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.453 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i2.502

Abstract

Abstrak Angka kematian neonatal dan angka kematian balita di Indonesia masih tinggi. Kasus kegawatdaruratan merupakan penyebab tingginya angka kematian tersebut. Rumah sakit Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 jam merupakan rumah sakit rujukan dengan visi mempercepat penurunan angka kematian neonatus dan angka kematian balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pelayanan neonatal emergensi pada rumah sakit PONEK 24 jam di Indonesia. Penelitian didesain dengan pendekatan mix method yaitu pembauran antara studi kuantitatif dan kualitatif. Studi kuantitatif adalah cross sectional dan studi kualitatif adalah Rapid Assesment Procedure yang dilakukan pada tahun 2014. Penelitian dilakukan di rumah sakit di Indonesia dengan kriteria rumah sakit PONEK 24 jam, telah menerima sosialisasi tentang PONEK, dipilih secara random di 7 provinsi di Indonesia masing-masing 2 rumah sakit tiap provinsi. Berdasarkan kriteria tersebut sebanyak 14 rumah sakit diobservasi dalam penelitian ini. Data kuantitatif yang dikumpulkan meliputi pelayanan klinis, manajemen, sarana dan prasarana, ketenagaan dan pendanaan. Data dikumpulkan dengan cara observasi, telaah dokumen dan wawancara. Data kualitatif yang dikumpulkan meliputi proses, hambatan, dan keberhasilan PONEK dengan cara indepth interview dengan informan kunci direktur rumah sakit, ketua komite medik dan dokter spesialis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar rumah sakit telah melaksanakan pelayanan neonatal emergensi 24 jam, KMC dan aksesibilitas darah yang memadai. Pelayanan neonatal emergensi telah didukung dengan jenis tenaga profesional, komitmen direktur rumah sakit yang tinggi, MoU dengan IDI, kerjasama dengan NGO serta ruangan, sarana dan prasarana yang memadai. Keberhasilan rumah sakit PONEK 24 jam didukung oleh kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan layanan rumahsakit. Namun di beberapa rumah sakit kurangnya tenaga terlatih, jumlah tenaga, tidak ada tim, sarana dan prasarana serta ruangan menjadi alasan rumah sakit tidak melaksanakan PONEK. Kesimpulan: beberapa rumah sakit telah melaksanakan pelayanan neonatal emergensi komprehensif 24 jam, namun masih perlu mendapat perhatian dalam hal pelatihan dan jumlah tenaga, biaya, sarana dan prasarana serta ruangan yang memadai. Kata kunci: neonatal, emergensi, rumah sakit, rujukan Abstract Neonatal under-five mortality rate in Indonesia was still high, while the emergency cases were the most of its causes. Emergency neonatal care (EmNC) hospital was a referral provider to accelerate decline in neonatal and under-five mortality. This research aimed to observe the implementation of emergency neonatal services at referal hospitals in Indonesia. This study was a cross sectional study with quantitative and qualitative design. The study was conducted in all of referal hospital in Indonesia with criterian socialized emergency neonatal care. Based on these criteria as many as 14 hospitals in 7 provinces were observed in this study. The quantitative data collected includes clinical services, management, facilities and infrastructure, manpower and funding. Data were collected by observation, document review and interview. The qualitative were collected including the process, constraints, and attainment of emergencies services by indepth interviews to directors, medical committee heads, and specialists as informants. The results show that most hospitals provided 24-hour emergency neonatal services, KMC and adequate blood accessibility. Emergency neonatal care has been supported by professionals (i.e doctor, obsgyn, anaesthetician, etc), commitment of hospital director, MoU with IDI and NGOs. The attainment of emergency neonatal care was supported by public awareness to utilize hospital services. Skilled physician, room, essensial supplies and equipment for performing certain emergency neonatal care functions were not available in several surveyed hospital. Some hospitals have implemented comprehensive emergency neonatal care, but still need number of skilled pshycisian, budget facilities, supplies and equipment. Keywords: neonatal, emergency, hospital, referal system
Penganggaran dan Penerimaan Dana Kapitasi Program JKN di Daerah Terpencil Kabupaten Kepulauan Mentawai Desi Fitria Neti; Lukman Waris; Anni Yulianti
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.143 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i2.503

Abstract

Abstrak Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dilaksanakan atas hak setiap warga negara memperoleh layanan kesehatan, baik yang bertempat tinggal di perkotaan maupun di perdesaan termasuk di daerah terpencil perbatasan kepulauan. Pelaksana program JKN dilaksanakan oleh unit pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan kesehatan di puskesmas sampai dengan pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit dengan pembayaran yang dilakukan oleh Badan Pelaksana Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) kepada unit pelaksana pelayanan kesehatan dengan mekanisme transfer berdasarkan sistem dana kapitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan penganggaran dan penerimaan dana kapitasi tenaga kesehatan program jaminan kesehatan nasional di daerah terpencil Puskesmas Mapaddegat Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan mengunakan metode kualitatif. Pengumpulan informasi melalui observasi wawancara mendalam terhadap informan dan informan kunci dan Dokumentasi. Penelitian dilaksanakan bulan januari s/d juni 2017. Hasil penelitian menggambarkan bahwa pelaksanaan penganggaran dan penerima dana kapitasi tenaga kesehatan pada tahun 2014-2015 belum berjalan sesuai ketentuan pembayaran, tahun 2016 masih ditemukan permasalahan pembayaran norma kapitasi oleh BPJS Kesehatan sudah normatif namun belum sesuai dengan jumlah peserta yang terdaftar. Tahun 2017 penerimaan dana kapitasi sudah berjalan lebih baik dibuktikan dengan telah teradministrasi dan terdokumentasi semua bentuk pemanfaatan dan realisasi belanja pencairan dana kapitasi untuk seluruh petugas di puskesmas dan jaringannya. Kata kunci: Tenaga kesehatan, penganggaran, penerimaan dana kapitasi dan program JKN. Abstract The National Health Insurance Program (JKN) is implemented on the right of every citizen to receive health services in both urban and rural areas, including in remote border areas of the island. Implementing the JKN program is implemented by health care unit starting from health service at puskesmas to referral health service in hospital with payment made by BPJS to health service implementation unit with transfer mechanism based on capitation fund system. This study aims to describe and analyze the implementation of budgeting and receiving capitation funds health workers national health insurance program in remote areas Mapaddegat Puskesmas Mentawai Islands by using qualitative methods. Information gathering through in-depth interview observation of key informants and informants and Documentation. The study was conducted from January to June 2017. The results of this study illustrate that the implementation of budgeting and recipients of capitation funds of health personnel in 2014-2015 has not run according to payment terms, in 2016 still found the problem of payment of capitation norms by BPJS Health has been normative but not in accordance with number of registered participants according to the provisions. In 2017, the capitation of the capitation funds has been better implemented as proven by the administration and documentation of all forms of utilization and realization of capitation fund disbursement expenditure for all officers at the puskesmas and its network. Keywords: Health Manpower, policy, budgeting, admission of capitation funds and Health Insurance Program.
Penetapan Kadar Nikotin dan Karakteristik Ekstrak Daun Tembakau (Nicotiana tabacum L.) Sukmayati Alegantina
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.411 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i2.509

Abstract

Abstrak Nikotin merupakan senyawa utama yang terdapat dalam tembakau, dimana nikotin termasuk salah satu zat berbahaya yang ada dalam rokok. Nikotin diabsorpsi dengan cepat dari paru-paru ke dalam darah. Bahaya dari nikotin yang terberat antara lain dapat merangsang pembentukan kanker. Selain itu nikotin mempunyai aktifitas yang menguntungkan yaitu sebagai antimikroba. Adanya himbauan dari Kementerian Pertanian dalam buku Pestisida Nabati, diharapkan pada suatu saat nanti Indonesia mampu berswasembada pestisida (Pesticides Self Sufficiency) sehingga tidak bergantung lagi kepada negara-negara besar penghasil pestisida kimia sintetis. Penelitian dilakukan dengan pengujian pendahuluan secara eksperimen laboratorium yang dilakukan tahun 2016 untuk menentukan kadar nikotin secara GC MS dan karakteristik ekstrak yang nantinya sebagai acuan untuk menentukan mutu ekstrak daun tembakau. Karakteristik ekstrak yang diuji adalah kadar air, berat jenis, cemaran mikroba yaitu angka kapang khamir (AKK), angka lempeng total (ALT) dan most probable number (MPN) Coliform. Hasil pengujian ekstrak daun tembakau diperoleh kadar nikotin: 3,14%, kadar air: 42,41%, berat jenis (BJ): 1,19 g/ml, AKK: 9,0x101, ALT: 8,0x101 dan MPN Coliform: < 2. Ekstrak daun tembakau yang diuji memenuhi persyaratan cemaran mikroba terhadap AKK, ALT, dan MPN Coliform Kata kunci: nikotin, karakteristik, ekstrak, daun tembakau Abstract Nicotine is the main compound in tobacco, where it is one of dangerous substances in cigarettes. It is absorbed fast from lungs to blood. Another danger of nicotine is it can stimulate the forming of cancer cells. However, nicotine has beneficial activity by acting as an antimicrobial. An urge from Ministry of Agriculture in Pestisida Nabati book, expects that Indonesia can be self-supporting in producing pesticide so Indonesia can no longer dependent with big countries that produce synthetic chemical pesticides. Therefore, a preliminary experimental laboratory testing conducted in 2016 to determine nicotine content by GC MS and extract characteristics which later as a reference to determine the quality extract. Characteristics of extract test are water content, specific gravity, microbial contamination, yeast figures, total plate number and MPN Coliform. From the tobacco leaf extract testing, nicotine content obtained was: 3.14%, moisture content: 42.41%, specific gravity: 1.19 g/ml, total mold and yeast count: 9.0x101, total plate count: 8.0x101 and MPN Coliform: <2. Tobacco leaf extract meets the requirements for microbial contamination of yeast figures, total plate number, and MPN Coliform. Keywords: nicotine, characteristics, extract, tobacco leaf
Evaluasi Penyelenggaraan Pendidikan DIII Kebidanan di 5 Provinsi Wilayah Binaan GAVI Rosita Rosita; Harimat Hendarwan; Mieska Despitasari
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.419 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i2.510

Abstract

Abstrak Kualitas pendidikan tenaga kesehatan yang belum merata salah satu masalah sumber daya manusia kesehatan di Indonesia. Bidan adalah tenaga kesehatan yang menempuh pendidikan kebidanan di institusi DIII kebidanan. Institusi kebidanan dituntut mampu menghasilkan bidan yang berkualitas dan kompeten sebagai pemberi layanan kesehatan ibu dan anak. Global Alliance Vaccines and Immunization (GAVI) sebagai organisasi internasional mendorong dilakukannya penelitian pendidikan DIII kebidanan di Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan gambaran penyelenggaraan pendidikan DIII kebidanan melalui pendekatan sistem input, proses, dan output. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan pendekatan kuantitatif yang dilaksanakan di 18 institusi pendidikan DIII kebidanan di 5 provinsi, yaitu Jawa Barat, Banten, Sulawesi Selatan, Papua Barat, dan Papua pada tahun 2013. Analisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menggambarkan adanya perbedaan baik pada input, proses, maupun output antar institusi pendidikan menurut wilayah maupun kepemilikan institusi. Terdapat perbedaan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa menurut wilayah dan provinsi (p<0,05). Terdapat perbedaan pengetahuan mahasiswa di institusi pendidikan DIII kebidanan berdasarkan kepemilikan institusi. Tidak terdapat perbedaan keterampilan mahasiswa di institusi pendidikan DIII kebidanan milik pemerintah dan swasta (p=0,062). Perlu peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan DIII kebidanan agar menghasilkan lulusan yang kompeten berbasis wilayah dan kepemilikan institusi pendidikan DIII kebidanan. Kata kunci: pendidikan vokasi, kebidanan, GAVI Abstract The unequality in health workers education quality is one of human resources for health’s problems in Indonesia. Ones who want to become a midwife should attend midwifery education. Diploma III (vocational) midwifery education institution as an education provider of midwifery must produce qualified and competent midwives that will perform their function as maternal and child health (MCH) care provider. The Global Alliance Vaccines and Immunization (GAVI) as an international organization that focuses on the MCH programs in Indonesia, encourages research aiming to describe implementation of Diploma III midwifery education through a system approach (input, process and output). This is a cross-sectional study with quantitative approach that was held in 18 Diploma III midwifery education institution which were spread in 5 provinces: West Java, Banten, South Sulawesi, West Papua and Papua in 2013. The analysis used were chi-square test. The results described differences either on input, process, and output among educational institutions by region and institutional ownership. There was a difference of students’ knowledge and skill by region and province (p <0,05). There was also a difference of the students’ knowledge in midwifery education institution based on institutional ownership. There were no differences in student skills between public and private educational institution (p = 0,062). It is necessary to improve the quality of DIII midwifery education in order to produce competent graduates based on the region and the ownership. Keywords : vocational education, midwifery, GAVI

Page 5 of 13 | Total Record : 130