cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
ISSN : 25988573     EISSN : 25991388     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 130 Documents
Kajian Distribusi, Keamanan Dan Pengembangan Kebijakan Obat Bebas Dan Bebas Terbatas Ajeng Illastria Rosalina
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i1.5272

Abstract

Abstrak Obat bebas dan bebas terbatas adalah salah satu bagian penting dari swamedikasi yang seharusnya mudah diakses masyarakat dan terjangkau. Peraturan perundang-undangan yang ada saat ini membatasi pelayanan obat bebas dan bebas terbatas hanya dapat dilakukan di sarana dengan izin dan dengan penanggung jawab tenaga kefarmasian. Namun karena jumlah pasien dan fasilitas yang ada tidak sebanding sehingga menyebabkan terjadinya penjualan obat di sarana tanpa kewenangan. Tujuan kajian ini adalah untuk memberikan rekomendasi kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan dan BPOM untuk melakukan deregulasi obat bebas dan obat bebas terbatas untuk dapat dijual di sarana non farmasi dengan beberapa pembatasan. Kajian dilakukan dengan melakukan pengumpulan data hasil pengawasan oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM di Jakarta) serta peninjauan pustaka terkait distribusi dan pelayanan obat bebas dan bebas terbatas juga terkait penerapan peraturan terkait di beberapa negara. Hasil kajian menunjukkan bahwa jumlah dan sebaran fasilitas yang ada di Provinsi DKI Jakarta tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat yang menyebabkan berbagai pelanggaran di sepanjang jalur distribusi obat hingga pelayanan kefarmasian. Untuk menangani permasalahan tersebut di atas hendaknya dibuat peraturan yang melegalkan penjualan obat bebas dan bebas terbatas di sarana retail non farmasi seperti yang telah diterapkan di beberapa negara. Kata kunci : Obat, bebas, terbatas, farmasi, swamedikasi, deregulasi Abstract Self-medication with over-the-counter (OTC) drugs is an economical choice of treatment for common self-limiting illnesses. It should be accessible and affordable. Indonesian regulation sets OTC drug that must be sold in a pharmacy stores under a pharmacist supervision. However, lack of pharmacy store lead to any violation at drug distribution. We identified all findings in OTC drug surveillance by BPOM Provincial Office in Jakarta and discussed the potential scientific source related to OTC drug distribution and its regulation in some countries. Current review objective is to give recommendations to the Indonesian FDA and Indonesia Ministry of Health to deregulate OTC drugs to improve public pharmaceutical services and also decrease drug diversion along drug distribution chains. Our study results showed that the number of legal pharmacies and its distribution are not enough to fulfill the people’s needs, which leads to some drug diversion cases along drug distribution chains. In order to solve this problem, the regulators should deregulate OTC drugs so they can be legally sold on non-pharmacy outlets without pharmacist supervision as applied in some countries. Keywords: drug, deregulation, self-medication, OTC
Status Vaksinasi BCG (Bacille Calmette-Guérin) dan Angka Kejadian Tuberkulosis Paru pada Anak di Indonesia Isti Anindya; Tia Wida Ekaputri
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i2.5288

Abstract

Abstrak Tuberkulosis (TB) adalah salah satu penyakit menular yang merupakan satu dari sepuluh penyebab kematian di dunia. TB yang paling banyak diderita di dunia adalah TB paru. Anak-anak masuk ke dalam sub-populasi yang terdampak dari infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis ini. Salah satu pencegahan TB yang dapat dilakukan sejak anak usia 0 adalah vaksin BCG (Bacille Calmette-Guérin) yang diberikan saat anak berusia 0-2 bulan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status vaksinasi BCG dengan angka kejadian TB Paru pada anak di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur yang melibatkan pencarian sistematik yang dilakukan pada April 2022. Kriteria sampel yang dipilih pada penelitan ini, yaitu anak berusia 0-17 tahun yang terbagi menjadi kelompok TB paru dan non-TB paru serta diketahui status vaksinasinya, yaitu telah vaksin atau tidak vaksin. Seleksi artikel studi dilakukan berdasarkan PRISMA statement. Sebanyak 10 artikel studi dari daerah yang berbeda-beda dengan jumlah sampel paling sedikit 30 dan yang terbanyak 143 dinilai secara kritis. Desain penelitian analitik observasional case-control dan uji bivariat chi-square adalah yang paling banyak digunakan. Dengan menggunakan uji bivariat, terdapat 7 artikel yang menyatakan adanya hubungan yang signifikan antara pemberian vaksin BCG dengan kejadian TB paru anak, sedangkan 3 artikel lainnya bertolak belakang dengan hasil tersebut. Berdasarkan hasil literature review yang dilakukan, maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian vaksin BCG dengan kejadian TB paru anak di Indonesia. Kata Kunci: Tuberkulosis, Anak, Vaksinasi, BCG. Abstract Tuberculosis (TB) is an infectious disease that is one of the world’s top ten causes of death. The most common TB in the world is pulmonary TB. Children fall into the sub-population affected by this Mycobacterium tuberculosis bacterial infection. One of the TB prevention measures that can be done for children aged 0 is the BCG (Bacille Calmette-Guérin) vaccine which is given when children are 0-2 months old. This study aimed to determine the relationship between BCG vaccination status and the incidence of pulmonary TB in children in Indonesia. This study uses a literature study method that involves a systematic search conducted in April 2022. The criteria for the sample selected in this research were children aged 0-17 years who were divided into pulmonary TB and non-pulmonary TB groups, and their vaccination status was known, namely whether they had been vaccinated or not vaccinated. The selection of study articles was carried out based on the PRISMA statement. A total of 11 study articles from different regions with a minimum sample size of 30 and a maximum of 400 were critically assessed. The case-control observational analytical research design and the bivariate chi-square test were the most widely used. Eight articles stated a significant relationship between the administration of the BCG vaccine and the incidence of pulmonary TB in children, while the other three articles contradicted these results after being tested for bivariate statistics. Based on the results of the literature review, it was concluded that there was a significant relationship between the administration of the BCG vaccine and the incidence of pulmonary TB in children in Indonesia. Keywords: Tuberculosis, Children, Vaccination, BCG.
Risk-Factor for COVID-19 Patients with Ventilator Status at Sanglah Hospital: Cross-Sectional Study Putu Sudarmika; I Nengah Wardana; I Ketut Surya Negara; Ni Luh Putu Nurhaeni; Ni Made Aries Minarti; I Wayan Santyasa
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i1.5626

Abstract

Abstract Corona Virus Disease 19 is a contagious infectious disease that has a major impact on all aspects of life. This study explores the factors associated with the need for ventilators use in COVID-19 patients. This cross-sectional study uses secondary data from medical records, taken by total sampling technique, of patients treated at Sanglah Hospital from March 2020 to August 2020. Only complete and clear medical record of patients diagnosed with COVID-19 were analyzed using chi-square and stepwise logistic regression with SPSS for windows 25 software. This study had received ethical approval from the Udayana University independent ethics commission with the number 1839/UN 14.2.2.VII/LT/2020. Patients with aged ≥ 50 years (OR 2.8; 95% CI 1.45—5.54)), BMI > 25 kg/m2 (OR 4.5; 95% CI 1.57—13.03), alcohol consumption history (OR 3.8; 95% CI 1.35—10.81), hemoglobin level <10 g/dl (OR 3.8; 95% CI 1.74—9.15), or WBC ≥ 12.000 (OR 2.3; 95% CI 1.05—5.12), were at higher risk to use ventilator. Gender, smoking history, employment history, length of stay, having comorbidity had no significant difference in the need for a ventilator. The most dominant risk factor causing worsening outcomes of COVID-19 was BMI > 25 kg/m2. Keywords: risk factor, ventilator status, COVID-19, body mass index Abstrak Corona Virus Disease 19 merupakan penyakit menular yang berdampak besar pada semua aspek kehidupan. Studi ini mengeksplorasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kebutuhan penggunaan ventilator pada pasien COVID-19. Penelitian ini merupakan studi potong lintang menggunakan data sekunder dari rekam medis. Pengumpulan data menggunakan teknik total sampling dengan melakukan eksplorasi rekam medis pasien yang dirawat mulai bulan Maret 2020 sampai Agustus 2020 di RSUP Sanglah. Kriteria rekam medis yang digunakan dalam penelitian adalah rekam medis yang lengkap dan jelas dari pasien terdiagnosis COVID-19. Analisis dilakukan secara deskriptif dan analitik menggunakan uji chi-square, dan regresi logistik bertahap dengan software SPSS dari windows versi 25. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari komisi etik independen Universitas Udayana nomor 1839/UN 14.2.2.VII/LT/2020. Total sebanyak 331 rekam medis yang dianalisis. Pasien berumur ≥ 50 tahun (OR 2,8; 95%CI 1.45-5.54), indeks massa tubuh > 25 kg/m2 (OR 4.5; 95% CI 1.57—13.03), riwayat konsumsi alkohol (OR 3.8; 95% CI 1.35—10.81), kadar hemoglobin <10 g/dl (OR 3.8; 95% CI 1.74—9.15), jumlah lekosit ≥ 12.000 (OR 2.3; 95% CI 1.05—5.12), mempunyai risiko lebih besar untuk menggunakan ventilator selama perawatan. Jenis kelamin, riwayat merokok, riwayat pekerja migran, lama perawatan di rumah sakit, dan komorbiditas tidak berhubungan bermakna dengan penggunaan ventilator. Indeks massa tubuh >25 kg/m2 merupakan faktor risiko paling dominan terhadap perburukan pasien COVID-19 yang dinilai dari penggunaan ventilator selama dirawat di rumah sakit Kata kunci: indeks massa tubuh, penggunaan ventilator, faktor risiko, COVID-19
Gambaran Status Kesehatan Gigi dan Mulut pada Masyarakat di Provinsi DI Yogyakarta Made Ayu Lely Suratri; Telly Purnamasari Agus; Tince Arniati Jovina
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i2.5676

Abstract

Abstrak Status Kesehatan Gigi dan mulut merupakan masalah kesehatan di Indonesia yang belum mendapat prioritas tinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan prevalensi karies gigi mencapai 88,80% dan prevalensi periodontitis 74,10%. Provinsi DIY termasuk provinsi yang mempunyai proporsi yang bermasalah dengan gigi dan mulut nya di atas angka Nasional (65,60%) dan yang mendapatkan perawatan oleh tenaga medis gigi 16,40%. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui gambaran status kesehatan gigi dan mulut di Provinsi DIY. Metode penelitian non intervensi dengan desain potong lintang (cross-sectional). Pengumpulan data kesehatan gigi dan mulut dilakukan di 5 kabupaten kota Provinsi DIY melalui Riskesdas 2018, dengan sampel penelitian adalah semua anggota rumah tangga di rumah tangga terpilih berusia ≥ 3 tahun ke atas. Pelaksanaan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner, dan pemeriksaan gigi dan mulut dengan menggunakan formulir dan alat sesuai dengan standar WHO. Hasil penelitian diketahui jumlah responden usia ≥ 3 tahun, sebanyak 10.897 orang terdiri dari responden laki laki 49,34 % dan perempuan 50,66%. Kabupaten Gunung Kidul yang bermasalah paling tinggi dengan gigi rusak/berlubang/sakit, dan yang bermasalah paling tinggi dengan kesehatan mulut dengan gusi bengkak dan/atau keluar bisul (abses) yaitu Kota Yogyakarta. Mengatasi masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling banyak dengan cara pengobatan/minum obat (35,43%), kemudian diikuti dengan konseling perawatan kebersihan dan kesehatan gigi & mulut (14,00%), pencabutan gigi (8,63%), dan penumpatan/penambalan gigi (6,41%). Proporsi responden yang menyikat gigi setiap hari sebesar 65,59% dan waktu menyikat gigi yang benar sebesar 16,41%. Kesimpulan, proporsi tertinggi responden yang bermasalah dengan gigi rusak, berlubang ataupun sakit adalah kelompok usia 5-9 tahun, sedangkan proporsi terendah kelompok usia 3-4 tahun. Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi kesehatan gigi dan mulut dengan pengobatan/minum obat yang tertinggi di Kota Yogyakarta. Kabupaten Gunung Kidul yang bermasalah dengan gigi dan mulut tertinggi, sedangkan Kabupaten Bantul yang menerima perawatan paling tinggi oleh tenaga medis gigi. Kata kunci: gambaran, status kesehatan gigi dan mulut, provinsi DIY
Hubungan Antara TG/HDL-C dengan Kontrol Glikemik pada Pasien Diabetes di Puskesmas Lebdosari Kota Semarang Cynthia Tjitradinata; Perigrinus Hermin Sebong
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i2.5333

Abstract

Abstrak Prevalensi diabetes melitus meningkat setiap tahun di seluruh dunia. Kontrol glikemik merupakan hal penting dalam pengelolaan pasien Diabetes Mellitus (DM) karena mengurangi risiko komplikasi. Pemeriksaan Glycated Haemoglobin (HbA1C) sebagai gold standard kontrol glikemik dengan target pencapaian HbA1C <7%. Petanda lain faktor risiko terhadap penyakit kardiovaskuler pada pasien DM tipe 2 adalah dislipidemia. Rasio trigliserid terhadap high-density lipoprotein cholesterol (TG/HDL-C) diketahui sebagai indeks atherogenic plasma, yang merupakan faktor risiko utama pada penyakit kardiovaskuler dan sindrom metabolik. Tujuan penelitian ingin mengetahui hubungan antara TG/HDL-C dengan kontrol glikemik pada pasien DM. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross sectional yang dilakukan selama 3 bulan (September – November 2020). Subjek penelitian diklasifikasikan berdasarkan kadar HbA1c menjadi 2 grup: 40 pasien DM tipe 2 HbA1c <7% dan 40 pasien DM tipe 2 HbA1c ≥7 %. Analisis statistik menggunakan Mann Whitney dengan signifikansi p ≤ 0,05. Terdapat perbedaan signifikan rasio TG/HDL-C pada kelompok Hb1c < 7% dan kelompok HbA1 c≥ 7% (p=<0,011). Rasio TG/HDL-C pasien DM tipe 2 HbA1c ≥ 7% lebih rendah signifikan dibandingkan DM tipe 2 HbA1c<7 % membuktikan bahwa rasio TG/HDL-C dapat digunakan sebagai alternatif pemeriksaan status pengendalian glukosa darah pada pasien DM tipe 2. Kata kunci: diabetes melitus, glycated hemoglobin, high density lipoprotein cholesterol, high-performance liquid chromatograph. Abstract The prevalence of diabetes is increasing every year all over the world. Glycemic control is important to managing patients with Diabetes Mellitus (DM) because it could decrease complication risk. Glycated Haemoglobin (HbA1C) examination is a gold standard for studying glycemic control with its target of less than 7%. the other risk factor sign of cardiovascular disease in a patient with type 2 DM is dyslipidemia. Trygliserida/high-density lipoprotein cholesterol ratio is known as atherogenic plasma index and is a primary risk factor in cardiovascular disease and metabolic syndrome. An analytic observational study with a cross-sectional approach was conducted in 3 months (September – November 2020). The sample size in this study was 80 patients. They were divided into 2 groups, involving 40 patients with type 2 DM HbA1c <7% and 40 patients with type 2 DM HbA1c ≥7% at Diabetic Clinic, Semarang. TG and HDL-C levels between groups were analyzed using Mann Whitney, p<0.05 were considered significant. There are significant differences in levels of TG/HDL-C ratio between the 2 groups (p =0.001). TG/HDL-C ratio levels were higher in group hbA1c > 7% compared to group HbA1c < 7% can be used as glycemic control in type 2 DM. Keyword: diabetes melitus, glycated hemoglobin, high density lipoprotein cholesterol, high-performance liquid chromatograph.
Remote Nursing Assessment for Peritoneal Dialysis Users During Covid-19 Pandemic: An Systematic Review Syaifoel Hardy; Ridha Afzal; Isak Jurun Hans Tukayo
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i1.5351

Abstract

Abstract Chronic Kidney Disease nursing has become one of the centers of attention because of professional concerns about all the possibilities that occur in the handling of Peritoneal Dialysis (PD) users in health care centers in the era of Covid-19 pandemic. To maximize the achievement of the quality goals of nursing services, an updated nursing assessment system of PD users is needed during the pandemic. To identify changes in nursing assessment that occurred during the Covid-19 pandemic for PD users and offer a solution by creating a remote nursing assessment system. The study used an article review and PRISMA analysis. The initial 842 documents were drawn from the search engine of which 169 records extracted from Google Scholar, ResearchGate, SagePub, and Semantic Scholar. The search keywords were nursing assessment, PD users, and Covid-19. The indicators include respondents (PD users), research methods (quantitative, document review), years of publication (2020-2021), results (focus on nursing assessment during the Covid-19 pandemic), and languages (English and Indonesia). The document search used the PICOT (Population, Intervention, Comparison, Outcome, and Time). The PRISMA analysis finds remote nursing assessment during pandemic in handling PD users can be done in various health care services that have CAPD units. Yet it requires training and orientation programs. The challenges are the need for funds, time, and the readiness of human resources in which they were not mentioned in the previous researchers’ findings. Tele-PD-nursing, home delivery service, PD nursing triage, and a PD nursing dashboard are the combination of remote PD nursing management as an alternative solutions in PD users assessment during the Covid-19 pandemic era. Keywords: Remote Nursing Assessment, PD Users, Covid-19 Abstrak Keperawatan Penyakit Ginjal Kronik menjadi salah satu pusat perhatian karena kepedulian profesional terhadap segala kemungkinan yang terjadi dalam penanganan pengguna Peritoneal Dialysis (PD) di Puskesmas di era pandemi Covid-19. Untuk memaksimalkan pencapaian sasaran mutu pelayanan keperawatan, diperlukan sistem pengkajian keperawatan pengguna PD yang terupdate di masa pandemi. Untuk mengidentifikasi perubahan asesmen keperawatan yang terjadi selama pandemi Covid-19 bagi pengguna PD dan menawarkan solusi dengan membuat sistem asesmen keperawatan jarak jauh. Penelitian ini menggunakan tinjauan artikel dengan analisis PRISMA. 842 dokumen awal diambil dari mesin pencari yang 169 catatannya diambil dari Google Scholar, ResearchGate, SagePub, dan Semantic Scholar. Kata kunci pencarian adalah penilaian keperawatan, pengguna PD, dan Covid-19. Kriteria inklusi adalah pengguna PD selama pandemi, sedangkan kriteria eksklusi adalah pasien CKD tetapi bukan pengguna PD dan pengguna PD sebelum pandemi), metode penelitian (kuantitatif, tinjauan dokumen), tahun publikasi (2020-2021), hasil (fokus pengkajian keperawatan selama pandemi Covid-19), dan bahasa (Inggris). Pencarian dokumen menggunakan PICOT (Population, Intervention, Comparison, Outcome, dan Time). Analisis PRISMA menemukan bahwa pengkajian keperawatan selama masa pandemic dalam penanganan pasien pengguna PD dapat dilakukan di berbagai pusat pelayanan kesehatan yang memiliki unit CAPD. Namun dibutuhkan program pelatihan dan orientasi. Tantangannya berupa dana, waktu serta kesiapan SDM yang tidak disebutkan pada penelitian-penelitian terdahulu. Tele-PD-nursing, home delivery service, PD Nursing Triage, dan PD Nursing Dashboard merupakan kombinasi manajemen keperawatan PD jarak jauh sebagai solusi alternatif penilaian pengguna PD di masa pandemi Covid-19. Kata Kunci: Asesmen Keperawatan Jarak Jauh, PD User, Covid-19
Factors that Influence Mother’s Behavior in Fulfilling Toddler Nutrition at the Age of 12-36 Months Rifzul Maulina; Mochammad Bagus Qomaruddin; Ardhiles Wahyu Kurniawan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i1.5461

Abstract

Abstract Improper feeding practices are the initial cause of the occurrence of nutritional problems in infants and toddlers, if this condition occurs over time, long enough, and continuously it will have an impact on the child’s growth. This study aims to the factors that influence the mother's behavior in fulfilling toddler nutrition. The design of this research is a cross-sectional approach. The sample number in this study was 238 mothers of respondents who have children aged 1-3 years. The research location is in the work area of the Tajinan Health Center. Malang Regency, East Java. The independent variables in this study were perceived susceptibility, perceived severity, perceived usefulness, perceived barrier, cues to action, and self-efficacy. The dependent variable of the study is the behavior of mothers in providing nutrition. Samples were taken using random cluster sampling. Data was collected using a questionnaire. The data were analyzed by using the chi-square test with a significance level of <0.05. The results showed that perceived vulnerability (p = 0.297), perceived seriousness (p = 0.201), perceived benefits (p = 0.197), cues to act (p = 0.068) and self-efficacy (p = 0.205) there was no relationship between behavior mother. Only perceived barriers (p=0.028) had a relationship with the mother’s behavior. Health workers at the public health center can provide audio-visual interventions to improve the behavior of mothers in providing the nutritional needs of their children. Keywords: mother’s behavior, nutritional toddlers, theory of health belief model Abstrak Praktik pemberian makan yang tidak benar merupakan penyebab awal terjadinya masalah nutrisi pada bayi dan baduta yang apabila kondisi ini terjadi dalam waktu yang cukup lama dan terus menerus maka akan berdampak pada pertumbuhan anak. Tujuan penelitian ini adalah faktor yang mempengaruhi Ibu dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak usia balita. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 238 ibu responden yang memiliki anak usia 1-3 tahun. Lokasi penelitian di wilayah kerja Puskesmas Tajinan. Kabupaten Malang, Jawa Timur. Variabel independen dalam penelitian ini kerentanan yang dirasakan, keparahan yang dirasakan, manfaat yang dirasakan, persepsi penghalang, isyarat untuk bertindak dan efikasi diri. Variabel dependen penelitian adalah perilaku ibu dalam memberikan nutrisi. Sampel diambil dengan cara Cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner terstruktur dengan kuesioner. Analisa data dengan uji chi square, level signifikan P value < 0,05. Hasil menunjukkan bahwa variabel-variabel : kerentanan yang dirasakan (p=0,297), keparahan yang dirasakan (p=0,201), manfaat yang dirasakan (p=0,197), isyarat untuk bertindak (p=0,068) dan efikasi diri (p=0,205) tidak ada hubungan antara perilaku ibu. Hanya hambatan yang dirasakan (p=0,028) berhubungan dengan perilaku ibu. Petugas kesehatan di Puskesmas harus memberikan intervensi secara audio visual untuk meningkatkan perilaku Ibu dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi anaknya. Kata kunci: perilaku ibu, nutrisi balita, teori health belief model
Evaluasi Faktor-faktor Pengelolaan Vaksin di Puskesmas dan Praktek Mandiri Bidan di Kabupaten Lampung Timur Noviani - Noviani; Dian Purwantini; Yuyun Yuniar
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i2.5643

Abstract

Abstrak Fasilitas pelayanan kesehatan dasar pemerintah dan swasta memiliki peran penting dalam menjaga mutu vaksin sebelum diberikan kepada sasaran imunisasi. Vaksin yang berkualitas menentukan keberhasilan program imunisasi. Dalam penelitian ini evaluasi dilakukan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas vaksin di Puskesmas dan Praktik Mandiri Bidan (PMB) di Kabupaten Lampung Timur. Desain penelitian adalah potong lintang dengan populasi berupa instansi atau fasilitas pengelola vaksin imunisasi dasar, sedangkan sampel meliputi 10 Puskesmas dan 30 PMB yang dipilih secara purposif. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner mandiri, wawancara mendalam dan observasi. Wawancara mendalam dilakukan terhadap 16 orang pengelola vaksin puskesmas dan PMB yang dipilih secara purposif berdasarkan kesediaan mereka menjadi informan. Analisis data kuantitatif dilakukan secara deskriptif sedangkan data kualitatif diolah dengan metode konten analisis. Kegiatan diakhiri dengan focus group discussion (FGD) terhadap 20 orang informan secara purposif. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus sampai Desember 2020 di 10 kecamatan di Kabupaten Lampung Timur. Berdasarkan hasil observasi, seluruh vaksin memiliki mutu yang baik di 10 puskesmas dan 20 Praktik Mandiri Bidan (PMB). Akan tetapi tingkat pengetahuan, sarana prasarana penyimpanan dan distribusi vaksin, SOP, proses pelatihan, sosialisasi, supervisi dan bimbingan teknis belum optimal khususnya di PMB. Secara umum kualitas vaksin masih memenuhi syarat namun pengetahuan pengelola vaksin, penyediaan dan kepatuhan SOP perlu ditingkatkan baik di puskesmas maupun di PMB. Selain itu, perlu peningkatan ketersediaan sarana parasarana penyimpanan dan distribusi vaksin terutama di PMB. Peningkatan kapasitas pengelolaan vaksin perlu dilakukan melalui proses pelatihan, supervisi dan bimbingan teknis bekerjasama dengan organisasi profesi. Kata Kunci: Mutu Vaksin, Puskesmas, PMB, Lampung Timur Abstract Both public and private basic health care facilities play an important role in maintaining the quality of vaccines which determines the success of the immunization program. In this study, an evaluation was carried out on the factors influencing the quality of vaccines at the community health center (CHC) and the Independent Midwife Practice (IMP) in the East Lampung Regency. The research design was cross-sectional using the population of institutions or facilities managing basic immunization vaccines and purposively selected samples of 10 Puskesmas and 30 IMPs. Data were collected through self-administered questionnaires, in-depth interviews, and observations. Depth, interviews were conducted with 16 vaccine managers at the Puskesmas and IMPs who were also selected purposively. Quantitative data was processed descriptively while qualitative data were analyzed using the content analysis method and finalized by a focus group discussion (FGD) for 20 purposively chosen informants. The study was conducted from August to December 2020 in 10 sub-districts in East Lampung Regency. Based on the observations, all vaccines had good quality in 10 Puskesmas and 20 IMPs. However, the level of knowledge, facilities for storing and distributing vaccines, SOPs, training processes, socialization, supervision, and technical guidance have not been optimal, especially in IMPs. The quality of vaccines is generally still as the requirements, yet the knowledge of vaccine managers as well as the provision and compliance with SOPs needs to be improved in both CHCs and IMPs. The availability of vaccine storage and distribution facilities at PMB and strengthening SOPs related to vaccine management are necessary. Capacity building needs to be done through training, supervision, and technical guidance in collaboration with professional organizations. Keywords: vaccine quality, Community Health Center, Independent Midwife Practice, East Lampung Regency
Faktor Risiko COVID-19 sebagai Dasar Pencegahan dan Pengendalian Infeksi fitriana fitriana; Widianto Pancaharjono
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i2.5738

Abstract

Abstrak Melihat situasi di Indonesia saat ini, dimana kasus konfirmasi COVID-19 dan kematian terus bertambah maka menjadi penting menambah pengetahuan mengenai faktor risiko COVID-19 sebagai upaya pencegahan dan pengendalian infeksi agar tidak semakin bertambah dan meluas. Ada tiga faktor risiko utama yang harus diketahui dapat dinilai yaitu faktor virus itu sendiri, faktor host, dan faktor lingkungan. faktor virus terutama mengetahui bagaimana cara penularan dan pencegahannya. Untuk faktor host apa yang dapat mempengaruhi keparahan penyakit. Dan faktor lingkungan bagaimana yang membuat virus semakin menyebar luas dan hidup lebih lama. Diharapkan dengan bertambahnya pengetahuan dan pemahaman mengenai faktor risiko dari virus SARS CoV-2 maka angka kasus konfirmasi dan kematian dapat dikendalikan. Untuk memutus mata rantai penularan penyakit infeksi hanya melalui tindakkan pencegahan. Hal ini dapat dilakukan jika mengetahui ilmu yang mendasarinya. Untuk itu, tujuan tulisan ini untuk menambah wawasan faktor resiko COVID-19 sebagai dasar untuk pencegahan dan pengendalian infeksi. Kata kunci: Faktor resiko; COVID-19; Pencegahan infeksi; Pengendalian infeksi Abstract Seeing the current situation in Indonesia, where confirmed cases of COVID-19 and deaths continue to increase, it is important to increase knowledge about the risk factors for COVID-19 to prevent and control infection so that it does not increase and spread. We must know three main risk factors to assess: the virus itself, host factors, and environmental factors. First, viral factors, especially knowing how to transmit and prevent it. For what host factors can influence disease severity. And what environmental factors make the virus more widespread and live longer. It is hoped that increased knowledge and understanding of the risk factors of the SARS CoV-2 virus, can control the number of confirmed cases and deaths. Furthermore, to break the chain of transmission of infectious diseases only through preventive measures. Furthermore, can do this if you know the underlying science. The purpose of this paper is to add insight into the risk factors for COVID-19 as a basis for infection prevention and control. Keywords: risk factors; COVID-19; infection prevention; infection control
Kepuasan Orangtua Pasien Terhadap Pelayanan di Bangsal Anak Sebagai Salah Satu Indikator Keberhasilan Pelayanan RSUP Sanglah di Denpasar Leni Lukman; I Wayan Gustawan; I Wayan Dharma Artana; Ketut Ariawati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i2.5844

Abstract

Abstrak Peningkatan permintaan pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia menuntut rumah sakit pemerintah berbenah untuk mampu memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat termasuk di RSUP Sanglah Denpasar, Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan orangtua pasien BPJS terhadap pelayanan di bangsal anak RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pengambilan data dilakukan dengan cara menyebar kuesioner dengan metode SERVQUAL. Model SERVQUAL yang digunakan terdiri dari lima dimensi yaitu: 1) Tangibles, 2) Reliability, 3) Responsiveness, 4) Assurance, dan 5) Empathy. Kuesioner telah melewati uji reliabilitas dan vailiditas. Penelitian ini mengambil sampel secara consecutive sampling yaitu salah satu orangtua dari seluruh pasien anak yang dirawat di Ruang Cempaka 3 pada bulan April sampai September 2020. Analisis gap dan kuadran menggunakan analisis Importance Performance Analysis dengan diagram Cartesian. Dari 151 sampel yang terkumpul, didapatkan perbandingan lelaki banding perempuan 1,25:1. Rata-rata usia pasien adalah 5,75 tahun dengan rata-rata lama perawatan 8,8 hari. Berdasarkan analisis Importance Performance, tidak ada satupun atribut dengan nilai kenyataan lebih tinggi daripada harapan. Dimensi SERVQUAL dengan jumlah gap tertinggi adalah Reliability/keandalan. Pada analisis kuadran didapatkan bahwa seluruh dimensi kecuali dimensi tangibles (nyata) perlu meningkatkan performa. Secara umum, orangtua pasien belum puas terhadap pelayanan di RSUP Sanglah Denpasar khususnya di bangsal Cempaka 3. Kata kunci: kepuasan pasien, pelayanan rumah sakit, pediatri, SERVQUAL Abstract Increasing demand of health care in Indonesia require government hospital to compete in giving the best care. The objective of this study is to determine satisfaction level of BPJS patient parents in Sanglah General Hospital Denpasar. This is an analytical descriptive study using valid and reliable SERVQUAL questionnaire to collect samples. SERVQUAL model consists of 5 dimensions: 1) tangibles, 2) reliability, 3) responsiveness, 4) assurance, and 5) empathy. The questionnaire passed reliability and validity test. Samples were parents of all children admitted to Cempaka 3 Ward from April to September 2020 and were taken consecutively. Gap and quadrant analysis using Importance Performance Analysis and Cartesian Diagram were done. From 151 collected samples, the ratio of boys and girls were 1.25:1. Mean age of samples was 5.75 years old and mean hospital stay was 8.8 days. Based on Importance Performance Analysis, all of the reality value fell below expectation value. SERVQUAL dimension with the highest gap was reliability. In quadrant analysis, all of the dimensions except tangible need improvement. In general, parents of patients was not satisfied with health care in Cempaka 3 ward, Sanglah General Hospital Denpasar. Keywords: patient satisfaction, hospital care, paediatrics, SERVQUAL

Page 13 of 13 | Total Record : 130