cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
ISSN : 25988573     EISSN : 25991388     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 130 Documents
Hubungan antara Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pencegahan HIV/AIDS pada Siswa SMPN 251 Jakarta Maria Angela; Sondang Ratnauli Sianturi; Sudibyo Supardi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.339 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i2.1943

Abstract

Abstrak HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang memiliki angka kejadian tinggi di dunia. Hal ini disebabkan masih rendahnya pengetahuan, informasi dan kesadaran masyarakat tentang penyakit HIV/AIDS, masih adanya stigma sosial dan diskriminasi, keterbatasan tenaga konselor atau psikolog, dan keterbatasan sosialisasi di daerah terpencil. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap dan perilaku pencegahan HIV/AIDS pada siswa/siswi SMPN 251 Jakarta. Penelitian ini menggunakan rancangan kuantitatif potong lintang. Sampel penelitian mencakup semua siswa-siswi kelas VIII berjumlah 139 sampel dengan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan persentase terbesar siswa-siswi memiliki pengetahuan HIV/AIDS yang baik (95,3%), sikap positif (95%) dan perilaku pencegahan baik (95%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan perilaku pencegahan HIV/AIDS, tetapi terdapat hubungan yang bermakna antara sikap dan perilaku pencegahan HIV/AIDS pada siswa/siswi SMPN 251 Jakarta. Kata kunci: HIV/AIDS, pengetahuan, sikap dan perilaku pencegahan, siswa SMP Abstract HIV/AIDS is a communicable disease that has a high incidence in the world. This is due to the low level of knowledge, information and public awareness about HIV/ AIDS, social stigma and discrimination, limited counselors or psychologists, and limited socialization in remote areas. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge, attitudes, and behaviors of HIV/AIDS prevention among students of SMPN 251 (State Junior High School) Jakarta. This study used a cross-sectional quantitative design. The study sample included all students of class VIII totaling 139 samples with a total sampling technique. The results showed the largest percentage of students had good knowledge of HIV/AIDS (95.3%), positive attitude (95%) and good prevention behavior (95%). There was no significant relationship between HIV/AIDS prevention knowledge and behavior, but there was a significant relationship between HIV/AIDS prevention attitudes and behavior in students of SMPN 251 Jakarta. Keywords: knowledge, attitudes, prevention behavior, HIV/ AIDS, junior high school
Determinan Manajemen Perawatan Diri Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan Abdullah Syafei; Sobar Darmaja
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.693 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i2.1958

Abstract

Abstrak Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis akibat gangguan produksi dan/atau resistensi insulin yang menyebabkan tingginya kadar glukosa darah, yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan dengan risiko kesakitan dan kematian tinggi. Manajemen perawatan diri merupakan salah satu faktor yang menentukan status kesehatan dan kualitas hidup pasien DM tipe 2. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung serta besaran pengaruh dari dukungan sosial, edukasi pasien, nutrition literacy dan efikasi diri terhadap manajemen perawatan diri pasien DM tipe 2. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif yang menggunakan metode potong-lintang. Sampel yang digunakan sebanyak 75 pasien DM di Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan. Metode analisis yang digunakan adalah Structural Equation Model (SEM) mengunakan SmartPLS 2.0 dan SPSS 20. Temuan penelitian menunjukkan bahwa manajemen perawatan diri pasien DM tipe 2 dipengaruhi oleh faktor dukungan sosial sebesar 24,9%, faktor edukasi pasien sebesar 13,3%, faktor literasi gizi sebesar 7,9%, dan faktor efikasi diri sebesar 8,2%. Model struktural penelitian ini menjelaskan variabel manajemen perawatan diri sebesar 54,7%. Pihak puskesmas, khususnya penanggung jawab program penyakit tidak menular (PTM), lebih meningkatkan keterlibatan keluarga dalam kegiatan edukasi terkait perawatan diri pasien DM, agar kualitas perilaku manajemen perawatan diri menjadi lebih baik. Kata kunci: diabetes melitus, edukasi pasien, literasi gizi, efikasi diri, manajemen perawatan diri Abstract Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease caused by disturbances of insulin production and or insulin resistance which causes high blood glucose levels that may lead to health problems with a high risk of illness and death. Self-care management is one of the factors that determine the health status and quality of life of type 2 diabetes mellitus patients. The purpose of this study was to investigate the direct and indirect effects and magnitude of the effect of social support, patient education, nutrition literacy and self-efficacy to self-care management for type 2 DM patients. This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. The participants were 75 DM patients in Ciputat Subdistrict, South Tangerang. Statistical analysis was conducted with Structural Equation Model (SEM) using SmartPLS 2.0 and SPSS 20. The research findings showed that self-care management of DM type 2 patients is influenced by social support factors (24.9%), patient education factor (13,3%), nutrition literacy factor (7.9%), and self-efficacy factor (8.2%). The structural model of this study described self-care management variables of 54.7%. The public health center, especially the non-communicable diseases (NCD) programs, should further increase the involvement of the family in educational activities related to DM patients self-care to improve the quality of self-care management. Keywords: Diabetes Mellitus, Patient Education, Nutrition literacy, Self-Efficacy, and Self-Care Management
Peran Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam Menghadapi Tantangan Rabies di Indonesia Risqa Novita
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.418 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i2.2005

Abstract

Abstrak Rabies di Indonesia telah berada sejak abad 18, namun hingga saat ini Indonesia belum bebas dari rabies. Hanya 8 provinsi di Indonesia yang bebas dari rabies yaitu DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Papua, dan Papua Barat, padahal Indonesia ditargetkan bebas rabies pada tahun 2030. Rabies tidak dapat diobati karena disebabkan oleh virus Lyssa, hanya dapat dicegah melalui pendekatan One Health yaitu kesehatan manusia, kesehatan hewan, satwa liar dan kesehatan lingkungan. Upaya pencegahan itu adalah dengan pemberian vaksinasi rabies ke Hewan Pembawa Rabies (HPR) dan pemberian Post Exposure Prophylaxys (PEP) pada manusia yang tergigit oleh HPR. Pemberian PEP hanya dapat dilakukan di Rabies center atau fasilitas pelayanan kesehatan primer yang ditunjuk oleh pemerintah. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui peranan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengendalikan rabies yang sudah tersebar di 26 provinsi. Metode berupa review literatur yang dicari menggunakan kata kunci Pelayanan Kesehatan Primer, Post Exposure Prophylaxis dan Rabies di Indonesia. Hasil yang didapatkan adalah peran fasilitas pelayanan kesehatan dalam mengendalikan rabies pada manusia sangat penting, dalam hal tatalaksana pertama kali terhadap korban penyediaan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan promosi kesehatan. Rabies dapat dicegah dengan perilaku hidup sehat, sehingga peran fasilitas pelayanan kesehatan yang ditunjuk sebagai Rabies center dapat mengoptimalkan promosi kesehatan melalui pemberian leaflet, edukasi rabies di sekolah-sekolah dasar, pemasangan spanduk rabies dan pemutaran video rabies di puskesmas atau rumah sakit di ruang tunggu pasien sehingga pasien dapat melihat dan mengetahui mengenai rabies dan pencegahannya. Kata kunci: pelayanan kesehatan, post exposure prophylaxis, dan rabies center Abstract Rabies has been in Indonesia since the 18th century, but until now Indonesia has not been free from rabies yet. Only 8 provinces in Indonesia are free from rabies, namely DKI Jakarta, Central of Java, East of Java, Jogyakarta, Bangka Belitung, The Riau Islands, Papua, and West Papua. Rabies could not be treated because it caused by the virus (named Lyssavirus), which only prevented by the approach of one health in human health, animal health and wildlife animals, and environmental health. Lyssa could be prevented by a rabies vaccine program to rabid animals and post-exposure prophylaxis (PPE) in humans who bitten by rabid animals. The provision of the PPE can only be done in Rabies center or primary health service facilities designated by the government. This writing aims to know the role of health service facilities in primary or public health centers to tackle rabies which has been spread in 26 provinces. A method of review literature that sought to use the keywords was Health services in primary, Post-exposure prophylaxis, and Rabies in Indonesia. Results were the role of health service facilities in the control of rabies in humans is very important, in terms of managing the provision of VAR and the promotion of health service. Rabies can be prevented with healthy patterns of living so that the role of health service facilities which was appointed for rabies center can optimize the promotion of health through the provision of leaflets, education in primary schools, setting banners rabies and screening of rabies in video health center or hospital patients in the waiting room so that the patient can see and know what rabies and it prevents. Keywords: health services, post-exposure prophylaxis, and rabies center
Pengaruh Hidroterapi dan Relaksasi Benson (Hidroson) terhadap Penurunan Tekanan Darah dan Nadi Riska Putri Meiyana; Cornelia Dede Yoshima Nekada; Adi Sucipto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.83 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i2.2119

Abstract

Abstrak Terapi komplementer merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah kesehatan. Hidroterapi dan relaksasi Benson merupakan terapi komplementer yang efektif terhadap tekanan darah dan nadi, namun masih jarang masyarakat yang memanfaatkannya. Diketahui ada pengaruh kombinasi hidroterapi dan relaksasi Benson (disebut hidroson) terhadap tekanan darah dan nadi. Metode penelitian pra-eksperimen, pre- and post- design dengan teknik purposive sampel pada 32 responden usia 26-65 tahun. Penelitian dilakukan dari tanggal 1-18 Maret 2019 di RT 19 dan 20, Sungapan V Desa Wahyuharjo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo dengan tiap responden diberikan intervensi selama 3 hari berturut-turut. Instrumen yang digunakan adalah sphygmomanometer digital untuk mengukur tekanan darah dan nadi 5 menit sebelum dan sesudah pemberian terapi. Tekanan darah dianalisis dengan wilcoxon test dan paired t-test untuk nadi. Hasil analisis menunjukkan tekanan darah sistolik sebelum terapi sebesar 118,25 mmHg dan setelah terapi sebesar 111,00 mmHg, sehingga disimpulkan terjadi penurunan sebesar 7,25 mmHg dengan ρ Value 0,0001. Tekanan darah diastolik sebelum terapi sebesar 81,25 mmHg dan setelah terapi sebesar 78,75 mmHg, sehingga disimpulkan terjadi penurunan sebesar 2,50 mmHg dengan ρ value 0,002. Nadi sebelum terapi sebesar 82,30 x/menit dan setelah terapi sebesar 80,64 x/menit, sehingga disimpulkan terjadi penurunan sebesar 1,66 x/menit dengan ρ value 0,003. Ada pengaruh yang signifikan terhadap pemberian kombinasi hidroterapi dan relaksasi Benson (hidroson) terhadap penurunan tekanan darah dan nadi di RT 19 dan 20, Sungapan V. Kata kunci: hidroterapi, Relaksasi Benson, tekanan darah, nadi Abstract Complementary therapy is one alternative to solving health problems. Hydrotherapy and Benson's relaxation are effective complementary therapies for blood pressure and pulse, but still few patients utilize it. There is a known effect of hydrotherapy and Benson relaxation combination (called hydrosol) on blood pressure and pulse. The study method was pre-experimental with pre and post design with a purposive sampling technique on 32 respondents aged 26-65 years. The study was conducted from 1-18 March 2019 in neighborhood 19 and 20, Sungapan V, Wahyuharjo Village, Lendah District, Kulon Progo. Regency Each respondent was given intervention with hydrosol therapy for 3 consecutive days. The instrument used was a digital sphygmomanometer to measure blood pressure and pulse 5 minutes before and after the administration of therapy. Blood pressure was analyzed by the Wilcoxon test while pulsing by paired t-test. The analysis showed that systolic blood pressure before therapy was 118.25 mmHg and after therapy became 111,00 mmHg, so there was a decrease of 7,25 mmHg with a p-value of 0,0001. The diastolic blood pressure before treatment was 81,25 mmHg and after therapy became 78,75 mmHg, so there was a decrease of 2,50 mmHg with a p-value of 0,002 mm. The pulse before therapy was 82,30 x / min and after therapy became 80,64 x / min, so there was a decrease of 1,66 x / min with ρ-value 0,003. There is a significant effect of giving a combination of hydrotherapy and Benson relaxation (hydrosol) on reducing blood pressure and pulse among 32 subjects in neighborhood 19 and 20, Sungapan V. Keywords: hydrotherapy, Benson Relaxation, blood pressure, pulse
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) di Puskesmas Cibinong Tahun 2019 Reffi Jordania Pebrina; Margaretha Kusmiyanti; Fulgensius Surianto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.884 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i2.2153

Abstract

Abstrak Kanker serviks merupakan peringkat enam penyebab utama kematian wanita dan peringkat dua kematian pada wanita berusia 15-44 tahun. Di Asia deteksi dini penyakit kanker serviks dilakukan melalui pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemeriksaan inspeksi visual asam asetat (IVA) di Puskesmas Cibinong Tahun 2019. Rancangan penelitian menggunakan desain cross-sectional pada 44 responden pasien KIA di Puskesmas Cibinong. Pengumpulan data di lakukan pada bulan April 2019 dengan menggunakan kuesioner dengan variabel umur, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan yang telah di uji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan uji chi square dan kendall’s tau b. Hasil menunjukkan bahwa umur (p-value 0,008) dan dukungan petugas kesehatan (p-value 0,015) berhubungan bermakna dengan pemeriksaan IVA dan faktor yang tidak berhubungan dengan pemeriksaan IVA ialah pendidikan, pekerjaan, pengetahuan dan dukungan keluarga. Hal tersebut menunjukkan perlunya peningkatan program promosi kesehatan, sosialisasi dan konseling kepada para ibu yang berkunjung ke Puskesmas Cibinong. Kata kunci: wanita, kanker serviks, Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) Abstract Cases of cervical cancer, as ranked 6th leading cause of female death and rank 2nd death in women aged 15-44 years. In Asia cervical cancer early screening or detection programs is through Visual Inspection with Acetic Acid (VIA). The study aims to analyze factors related to the examination of Visual Inspection with Acetic Acid (VIA) in Cibinong Health Center’s in 2019. This is a cross-sectional study with a sample of 44 respondents patient KIA in Cibinong Health Center’s. Data collection was taken through filling a set of questionnaires in April 2019 which have been tested for validity and reliability. Analysis performed by chi-square and Kendall’s tau b. The analysis shows age (p-value 0,008) and health practitioner’s support (p-value 0,015) are significantly related to examination of VIA and factor is not related to examination of VIA is education, job, knowledge and family support. It evidence to improve health promotion programs socialization and counseling for mothers who visit the Cibinong Health Center. Keywords: women, cervical cancer, Visual Inspection Acetic Acid (VIA)
Pengaruh Sistem Pengingat Melalui Pengiriman Pesan Singkat (Text-Messaging Reminder System) untuk Meningkatkan Kepatuhan Pasien dalam Pengobatan Tuberkulosis: Tinjauan Kasus Berbasis Bukti Skolastika Mitzy Benedicta; Pradana Soewondo; Dhanasari Vidiawati Sanyoto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.741 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i2.2331

Abstract

Abstrak Indonesia merupakan negara kedua di dunia dengan insidensi Tuberkulosis (TB) terbanyak setelah India, sehingga Indonesia termasuk high-burden country dalam penyakit TB. Angka keberhasilan pengobatan TB di Indonesia baru mencapai 84% pada tahun 2016 sehingga perlu ditingkatkan. Inovasi yang banyak dikembangkan untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam pengobatan TB adalah metode pengingat dengan menggunakan media elektronik, salah satunya melalui SMS mengingat pengguna aktif telepon genggam di Indonesia cukup banyak, yaitu mencapai 70,2 juta untuk smartphone pada tahun 2017 dan terus meningkat. Tujuannya untuk mengetahui pengaruh sistem pengingat melalui pesan singkat (text-messaging reminder system) dalam kepatuhan pasien terhadap pengobatan TB. Pencarian literatur dilakukan pada beberapa pangkalan data jurnal ilmiah kedokteran besar seperti Pubmed, Cochrane, EBSCOhost, dan Science Direct. Artikel disaring sesuai desain yang dibutuhkan untuk tinjauan intervensi, kriteria inklusi, dan kriteria eksklusi. Telaah kritis menggunakan metode intervensi sesuai Oxford Center for Evidence Based Medicine 2011. Telaah kritis dilakukan pada dua artikel terpilih dengan metode RCT dan telaah sistematis. Pada studi RCT terhadap 2207 pasien di Pakistan, diperoleh penggunaan sistem pengingat SMS tidak berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan TB. Pada telaah sistematis yang meninjau empat artikel, diperoleh kesimpulan bahwa sistem SMS mampu meningkatkan kepatuhan pengobatan TB. Namun, signifikansinya masih diragukan karena studi yang diinklusi merupakan studi dengan tingkatan bukti rendah berdasarkan kategori GRADE. Pengaruh metode pengingat berupa SMS terhadap kepatuhan pengobatan TB masih inkonklusif. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan populasi besar serta desain penelitian yang sesuai (RCT). Kata kunci: Tuberkulosis, SMS, Sistem Pengingat, Kepatuhan, Pengobatan Abstract Indonesia ranked second in the world for its Tuberculosis (TB) incidence. Therefore, Indonesia is included in the list of high burden countries for TB. TB treatment success rate in Indonesia for 2016 is 84%, but this number still needs to be increased. Many innovations using electronic devices such as handphones are developed to increase patient’s adherence to TB treatment. One of the easiest applicable methods is through SMS. Indonesia is also a developing country with developing technology usage, with 70.2 million active smartphone users in 2017. To determine whether a text messaging reminder system can increase adherence in patients with Tuberculosis treatment. Literature searching was conducted in large medical journal databases such as Pubmed, Cochrane, EBSCOhost, and Science Direct. The articles are selected by considering the study designs that correlate with the intervention appraisal method, inclusions, and exclusions criteria. Intervention type appraisal was conducted using the guideline of the Oxford Center for Evidence-Based Medicine 2011. Appraisals were made for two chosen articles: one with the RCT method, and the other with a systematic review method. RCT study conducted in Pakistan showed that text messaging reminder system does not affect adherence in patients with TB treatment. The other study that reviews four articles concludes that a text messaging reminder system may increase adherence in TB patients undergoing treatment. But, the significance is still doubted as the studies included in this review are of low evidence level based on the GRADE category. The impact of the text messaging reminder system in increasing treatment adherence of TB patients is still inconclusive. Further research with a large population, better design and methodology are still needed. Keywords: Tuberculosis, SMS, Text Messaging, Reminder System, Adherence, Treatment
Analisis Pengaruh Fasilitas Kesehatan terhadap Kematian Bayi di Jawa Timur Menggunakan Pendekatan Geographically Weighted Regression Harun Al Azies
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (888.932 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i2.2431

Abstract

Abstrak Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan tingkat kematian bayi yang tinggi. Analisis pengaruh fasilitas kesehatan terhadap kejadian kematian bayi di Jawa Timur dapat membantu merumuskan kebijakan dan program kesehatan ibu dan anak. Tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui hubungan antara ketersediaan posyandu, klinik Keluarga Berencana (KB), Pos Pelayanan Keluarga Berencana Desa (PPKBD), rumah sakit bersalin, puskesmas pembantu, dan apotek dengan kejadian kematian bayi. Terdapat kemungkinan bahwa wilayah sekitar daerah dengan kematian bayi yang tinggi akan memiliki beban kematian bayi yang tinggi pula. Oleh karena itu diperlukan suatu metode pemodelan statistik dengan memperhitungkan aspek lokasi yaitu metode Geographically Weighted Regression (GWR). Analisis dan pembahasan menggunakan metode GWR mendapatkan bahwa faktor ketersediaan Posyandu Strata Pratama dan Madya serta Puskesmas Pembantu memengaruhi kejadian kematian bayi di wilayah Pacitan, Ponorogo, Pasuruan, Kediri (kota), Malang (kota), Pasuruan (kota), Banyuwangi, dan Probolinggo. Sementara itu, di wilayah Kabupaten Bondowoso, Bangkalan, Batu (Kota), Blitar, Sidoarjo, dan Sumenep kejadian kematian bayi dipengaruhi oleh faktor ketersediaan Posyandu Strata Pratama dan Madya. Faktor ketersediaan Posyandu Strata Purnama dan Mandiri memengaruhi kejadian kematian bayi di wilayah Lamongan, Madiun (Kota), Kediri, dan Malang sedangkan di wilayah Kabupaten Lumajang, Jombang, Magetan, Bojonegoro, dan Jember dipengaruhi oleh ketersediaan Posyandu Strata Purnama, dan Kabupaten Gresik oleh ketersediaan Posyandu Strata Pratama. Ketersediaan fasilitas kesehatan penunjang yang terjamin, adanya kesadaran ibu untuk menjaga kesehatan diri dan asupan nutrisi untuk bayi, serta rutin mengecek kesehatan merupakan upaya untuk menekan tingkat kematian bayi di Jawa Timur. Kata kunci: fasilitas kesehatan, Geographically Weighted Regression, kematian bayi, spasial analisis Abstract East Java is one of the provinces with high infant mortality rates. Analysis of the influence of health facilities on infant mortality in East Java can help to formulate maternal and child health policies and programs. The purpose of this analysis is to determine the relationship between the availability of Integrated Healthcare Center (Posyandu), family planning clinics, village family planning services (PPKBD), maternity hospitals, supporting health centers, and pharmacies with the incidence of infant mortality. There is a possibility that the surrounding area of an area with high infant mortality will have the same burden. Therefore we need a statistical modeling method that takes into account the location aspects, such as the Geographically Weighted Regression (GWR) method. Analysis and discussion using GWR analysis showed that the availability of Posyandu Strata Pratama and Madya, as well as the supporting health centers, affected infant mortality incidence in Pacitan, Ponorogo, Pasuruan, Kediri (city), Malang (city), Pasuruan (city), Banyuwangi, and Probolinggo. While in Bondowoso Regency, Bangkalan, Batu (city), Blitar, Sidoarjo, and Sumenep, it was affected by the availability of Posyandu Strata Pratama and Madya. The availability of Posyandu Strata Purnama and Mandiri affected the incidence of infant mortality in Lamongan, Madiun (City), Kediri, and Malang areas. The availability of Posyandu Strata Purnama influenced the incidence of infant mortality in Lumajang, Jombang, Magetan, Bojonegoro, and Jember districts while Gresik Regency is affected by the availability of Posyandu Strata Pratama. The availability of supporting health facilities, the awareness of mothers to maintain personal health and nutritional intake for infants, and routine health check-up are efforts to reduce infant mortality in East Java. Keywords: health facility, Geographically Weighted Regression, infant mortality, spatial analysis
Gambaran Kesadaran Masyarakat terhadap Kawasan Tanpa Rokok di Indonesia Ingan Ukur Tarigan; Anni Yulianti
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.132 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v3i2.2655

Abstract

Abstrak Merokok merupakan salah satu faktor risiko terhadap penyakit yang membahayakan, seperti jantung, stroke, kanker, dan lain sebagainya. Perilaku masyarakat khususnya perokok aktif yang merokok di sembarangan tempat masih cukup memprihatinkan. Perokok membebankan risiko merokok bukan hanya pada diri sendiri tetapi juga kepada orang lain yang ada di sekitarnya. Analisis dilakukan dengan menggunakan data GATS (Global Adult Tobacco Survey) 2011, dimana desain penelitian adalah cross sectional. Pemilihan sampel menggunakan teknik sampling proportional probabilitas to size (PPS). Hasil dari analisis antara lain: masyarakat yang terpapar rokok di dalam rumah lebih banyak pada kelompok laki-laki dibandingkan perempuan, yang terbanyak pada kelompok umur 45-64 tahun dengan pendidikan tidak tamat SD, tempat tinggal di pedesaan, dan pekerjaan wiraswasta. Kebijakan keluarga yang mengizinkan merokok dalam rumah sebesar 46,9%, dan seseorang yang merokok dalam rumah setiap hari mencapai 62,5%. Masyarakat yang terpapar rokok di ruang kerja sebesar 51,4%, dan kantor yang mengizinkan merokok dalam ruang kerja sebesar 38,4% dan yang tidak ada kebijakan sebesar 19,8%. Terpapar rokok di kantor pemerintahan 66,4%, di universitas 55,3%, di sekolah atau fasilitas pendidikan lainnya 40,3%, di fasilitas keagamaan 17,9%, di fasilitas kesehatan 18,4%, di bar atau klub 91,8%, dan transportasi umum 70,8%. Hasil ini dapat menjadi data dasar untuk mengembangkan intervensi program pengendalian tembakau yang efektif, termasuk menyediakan layanan berhenti merokok, terutama di fasilitas kesehatan. Pemerintah pusat dan daerah perlu meningkatkan sosialisasi tentang bahaya merokok di tempat-tempat umum dan dampaknya terhadap masyarakat khususnya yang bukan perokok; yaitu dengan membuat peraturan yang jelas dan tegas tentang pelarangan merokok di tempat-tempat umum dan memberikan sangsi yang tegas terhadap yang melanggar peraturan tersebut. Upaya layanan berhenti merokok dapat dilaksanakan dengan meningkatkan kegiatan promosi oleh tenaga kesehatan, sosialisasi ‘Quitline’ Kementerian Kesehatan, skrining CO2, bantuan konseling dan mengembangkan metode terapi berhenti merokok bagi para perokok aktif di berbagai fasilitas kesehatan yang tersedia. Kata kunci: rokok, perokok pasif, pengendalian tembakau Abstract Smoking is one of the risk factors for severe diseases, such as heart disease, stroke, cancer, and so on. The behavior of active smokers who smoke arbitrarily at many public places is still quite alarming. Smokers impose the risk of smoking not only on themselves but also to others around them. The analysis was performed using GATS (Global Adult Tobacco Survey) 2011 data, where the research design was cross-sectional. The sample selection uses a proportional probability to size (PPS) sampling technique. The results of the analysis show people who are exposed to cigarettes in the house are mostly males than females with the characteristics were at age groups 45-64 years old, educational level was not completed elementary school, living in rural areas, and self-employee. Family policies that allow smoking in the home were 46.9%, and someone who smokes in the house every day reaches 62.5%. People who are exposed to cigarettes in the workspace were 51.4% and offices that allow smoking in the workspace were 38.4% and those without any ‘free smoking area’ policy were 19.8%. Exposure to cigarettes was 66.4% in government offices, 55.3% in universities, 40.3% in schools or other educational facilities, 17.9% in religious facilities, 18.4% in health facilities, 91.8% in bars or clubs, and 70.8% in public transportation. These results could be a reference or base evidence in developing an effective tobacco control program, including providing smoking cessation services. Central and local governments need to increase awareness about the risk of smoking in public places and their impact on public health, especially for non-smokers, by issuing a strict regulation on free smoking areas in public places and enforce punishment to people who violate these regulations. The efforts to stop smoking services can be implemented by increasing promotion activities by health workers, socialization of the Ministry of Health 'Quitline', CO2 screening, counseling assistance and developing methods of smoking cessation therapy for active smokers in existing health facilities. Keywords: cigarette exposure, passive smokers, tobacco control
Front Matter Vol. 2 No. 3 Desember 2018 Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Back Matter Vol. 2 No. 3 Desember 2018 Pelayanan Kesehatan, Jurnal Penelitian dan Pengembangan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 8 of 13 | Total Record : 130