cover
Contact Name
Dian Arrisujaya
Contact Email
arrisujaya@unb.ac.id
Phone
+622517592051
Journal Mail Official
jsainsnatural.unb@gmail.com
Editorial Address
Universitas Nusa Bangsa Kampus Universitas Nusa Bangsa Jl. KH. Sholeh Iskandar Km. 4, Cimanggu, Tanah Sareal Bogor 16166
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Sains Natural: Journal of Biology and Chemistry
ISSN : 20863446     EISSN : 2621508X     DOI : https://doi.org/10.31938/jsn
Jurnal Sains Natural is a peer-reviewed, open access journal that publishes original research articles, review articles, as well as short communication with the objectives to explore the knowledge about natural sciences. This journal incorporates not only all branches of chemistry and biology, but also sub-disciplines like Biochemistry, Polymer, Agricultural chemistry, Environmental chemistry, etc.
Articles 252 Documents
ISOLASI DAN KARAKTERISASI KITIN DARI LIMBAH UDANG Mahyudin A. R; Rahmat Yuliandri; Amry Syawaalz
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 1 No. 2 (2011): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.286 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v1i2.26

Abstract

Isolation and Characterization of Chitin From Shrimp Waste           Chitin is a natural biopolymer that is widespread in nature and the second abundance only to cellulose organic compounds are available in the earth. In general, in nature chitin are not included in the free state, but binds to the protein, mineral and pigment in various animal skeletons group of arthropoda, annelida, mollusk, coelenterata, nematodes, insects, and some classes of fungi and the  organic constituent part is very important. Average shrimp shell contains 25-40% protein, 40-50% CaCO3 and 15-20% chitin, but the magnitude of the component content is still dependent on species and habitats. Although chitin is widespread in nature, but the main source that can be utilized as a source of chitin is the use of shrimp waste. This is because the shrimp waste easily obtained in large quantities that can be produced commercially. The purpose of this study was to determine how the isolation of chitin from shrimp waste by chemical processes and their characterization and compare in detail the content of chitin found in the head, body and tail skin of the shrimp. In addition, to determine the effect of insulating phases of chitin to chitin produced. This study is an experimental research by isolation of chitin in the head, body and tail skin of the shrimp. In the early stages of shrimp waste preparation where the head and skin of the body and tail of each shrimp was separated, cleaned, dried, and milled. Chitin isolation process is done by two ways in which the first stage on the way deproteination done first and subsequent demineralization stages. While in the second stage of demineralization way done first, followed deproteination stage. In phase deproteinasi  NaOH  1N solution with a ratio of 1: 10 (by weight of shrimp sample: NaOH 1N). This process was carried out at a temperature of 65oC for three hours. While in the process of demineralization using HCl 2N solution and soaked for 2 hours with a comparison between the  shells samples with HCl used are 1: 15. After that just do the bleaching process. Each repetition of the way done twice. Research results show that the insulating phase difference of chitin used apparently affect the yield and ash content obtained, where the first way yield of chitin and ash content  obtained was higher yield compared to the results obtained of the latter, while the drying process was done would affect water levels  obtained. In the solubility test, partially chitin produced solved in LiCl or dimethylacetamide. Overall chitin obtained meet the requirements of the specification of commercial chitin. In addition, from the head, the skin of the body and the tail of shrimp the higest chitin content ever found was on the skin of the bodyKey words : Isolation, Characterization, Chitin, and Shrimp Waste ABSTRAK           Kitin adalah biopolimer alami yang tersebar luas di alam dan merupakan senyawa organik kedua setelah selulosa yang sangat melimpah di bumi. Pada umumnya kitin di alam tidak terdapat dalam keadaan bebas, akan tetapi berikatan dengan protein, mineral dan berbagai macam pigmen pada kerangka hewan golongan Arthropoda, Annelida, Molusca, Coelenterata, Nematoda, beberapa kelas serangga serta jamur dan merupakan bagian konstituen organik yang sangat penting. Rata-rata kulit udang mengandung 25-40% protein, 40-50% CaCO3 dan 15-20% kitin, tetapi besarnya kandungan komponen tersebut juga masih tergantung kepada spesies dan habitat. Walaupun kitin tersebar luas di alam, akan tetapi sumber utama yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber kitin adalah penggunaan limbah udang. Hal ini dikarenakan limbah udang mudah diperoleh dalam jumlah banyak sehingga dapat diproduksi secara komersial.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui cara isolasi kitin dari limbah udang dengan proses kimia beserta karakterisasinya dan membandingkan secara terperinci kandungan kitin yang terdapat pada bagian kepala, kulit bagian badan dan ekor udang. Selain itu juga untuk mengetahui pengaruh dari tahapan isolasi kitin terhadap kitin yang dihasilkan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan melakukan isolasi kitin pada bagian kepala, kulit bagian badan dan ekor udang. Pada tahap awal dilakukan preparasi limbah udang dimana bagian kepala, kulit bagian badan dan ekor udang masing-masing dipisahkan dan dibersihkan, lalu dikeringkan dan digiling. Proses isolasi kitin dilakukan dengan dengan dua cara dimana pada cara pertama tahap deproteinasi dilakukan terlebih dahulu dan berikutnya tahap demineralisasi. Sementara pada cara kedua tahap demineralisasi dilakukan terlebih dahulu, lalu diikuti tahap deproteinasi. Pada tahap deproteinasi menggunakan larutan NaOH 1N dengan perbandingan 1 : 10 (berat sampel kulit udang : NaOH 1N). Proses ini dilakukan pada suhu 65oC selama tiga jam. Sementara pada proses demineralisasi menggunakan larutan HCl 2N dan direndam selama 2 jam dengan perbandingan antara sampel kulit udang dengan HCl yang digunakan adalah 1 : 15. Setelah itu baru dilakukan proses pemutihan. Masing-masing cara dilakukan pengulangan sebanyak dua kali. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perbedaan tahap isolasi kitin yang digunakan ternyata berpengaruh terhadap rendemen hasil dan kadar abu yang didapatkan, dimana pada cara pertama rendemen hasil kitin dan kadar abu yang didapatkan lebih tinggi dibandingkan dengan rendemen hasil yang didapatkan pada cara kedua, sedangkan proses pengeringan yang dilakukan akan berpengaruh terhadap kadar air yang didapatkan. Pada uji kelarutan, kitin yang dihasilkan larut sebagian dengan  LiCl atau dimetilasetamida. Secara keseluruhan kitin yang diperoleh memenuhi persyaratan dari spesifikasi kitin niaga. Selain itu dari bagian kepala, kulit bagian badan dan ekor udang kandungan kitin terbanyak terdapat pada kulit bagian badanKata kunci : Isolasi, karakterisasi, kitin, dan limbah udang
POLIEUGENOL SEBAGAI SENYAWA PEMBAWA UNTUK TRANSPOR FENOL MENGGUNAKAN METODE POLYMER INCLUSION MEMBRANE (PIM) Agung Abadi Kiswandono; Dwi Siswanta; Eni Kartika Sari
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 3 No. 1 (2013): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1328.177 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v3i1.50

Abstract

Polieugenol
OPTIMASI PERLAKUAN POLYETHYLENE GLIKOL (PEG) 6000 TERHADAP ISOLASI AGAROSA RUMPUT LAUT Glacilaria sp. Siti Martinah; RTM Sutamihardja; Lilis Sugiarti
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 4 No. 2 (2014): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.252 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v4i2.83

Abstract

Optimation of Polyethylene Glycol (PEG) 6000 Treatment on Isolation of Agarose Seaweeds of Glacilaria sp         Isolation of agarose from seaweeds (Glacilaria sp) had been done in acid, base, and neutral condition by using polyethylene glycol (PEG) method. Glacilaria sp, Seaweeds that used in this research was cultured by farmer in Muara Gembong, Bekasi. It used PEG with concentration 10%, 15%, 20%, 25%, & 30%. The scope of this research ware determination of seaweeds, seaweeds water content, isolation of agarose from seaweeds, and quality test of agarose. Parameter test of agarose quality include  the strength of gel, the content of sulfat, measurement of galactose content and its proksimat. The high yield was 61,27% r  in PEG 30%. The best quality of agarose was resulted in PEG 20% because of the highest strength of gel was 379,04 g/cm2.The lowest sulfat concentration was 1,33% and galactose was 17,39%.Key words: polyethylene glycol, PEG 6000, agarose, seaweeds, glacilaria sp ABSTRAK         Isolasi agarosa dari rumput laut Glacilaria sp telah dilakukan dalam suasana asam, basa dan netral dengan metode polyethylene glikol (PEG). Rumput lauat yang digunakan adalah Gracilaria sp yang dibudidayakan oleh petani di Muara Gembong, Bekasi dengan perlakuan konsentrasi PEG 10%, 15%, 20%, 25% dan 30%. Ruang lingkup penelitian ini meliputi uji determinasi rumput laut, penetapan kadar air rumput laut, isolasi agarosa dari rumput laut, serta uji kualitas agarosa. Parameter pengujian kualitas agarosa terdiri dari kekuatan gel, kandungan sulfat, dan pengukuran kandungan galaktosa serta proksimatnya. Isolasi agarosa perlakuan konsentrasi polyethylene Glikol (PEG) 6000 pada rumput laut Glacilaria sp diperoleh rendemen paling tinggi terdapat pada perlakuan PEG 30% yaitu sebesar 61,27%. Akan tetapi untuk kualitas agarosa yang paling baik terdapat pada perlakuan konsentrasi PEG 20% karena diperoleh kekuatan gel paling tinggi sebesar 379,04 g/cm2. Kadar sulfat yang paling rendah sebesar 1,33% dan kadar galaktosa sebesar 17,39%.Kata Kunci: polyethylene glikol, PEG 6000, agarosa, rumput laut, glacilaria sp
OPTIMASI PENAMBAHAN MADU SEBAGAI ZAT ANTI BAKTERI Staphylococcus aureus, PADA PRODUK SABUN MANDI CAIR Alvera Raisa; Srikandi Srikandi; Ricson P. Hutagaol
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 6 No. 2 (2016): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.148 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v6i2.160

Abstract

Optimization of the Addition of Honey as an agent of an Anti bacterial Agent Staphylococcus aureus in Production of Shower liquid soapThe study was begun with making the basic shower liquid soap, then aditing the honey with a variety of different concentrations. In this study, the addition of honey were 0%; 2,5%; 5%; 7,5%; 10%; 12,5% and 15%. After that tested the effectiveness of antibacterial agent microbiology. Then analyzing physical and chemical properties of liquid soap in accordance with SNI 06-4085-1996. The parameters tested were pH, viscosity, and density, test quantity foam, and test preferences. Optimal concentration of the addition of honey in a liquid bath soap to be able to inhibit the growth of Staphylococcus aureus are at the level of 10%. When compared with Triclosan soap, shower liquid soap with the addition of honey 5% could compete with antibacterial properties of triclosan soap using a concentration of 0.3%. The addition of honey with various concentrations of honey affect the physical and chemical properties of liquid soap such as pH, viscosity, density, and the amount of foam.Keywords: Liquid Soap, Honey and bacteria Staphylococcus aureus   ABSTRAKPenelitian dimulai dengan melakukan pembuatan dasar sabun mandi cair, kemudian dilakukan penambahan madu dengan berbagai konsentrasi berbeda. Dalam penelitian ini dilakukan penambahan madu sampai lebih dari 5% yaitu 0%; 2,5%; 5%; 7,5%; 10%; 12,5% dan 15%. Setelah itu dilakukan uji efektifitas dari zat antibakteri secara mikrobiologi. Kemudian dilakukan analisis terhadap sifat fisika dan kimia sabun mandi cair sesuai dengan SNI 06-4085-1996.  Parameter yang diuji adalah pH, viskositas, dan berat jenis, uji banyak busa, dan uji kesukaan. Konsentrasi optimal penambahan madu pada sabun mandi cair untuk bisa menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus adalah pada taraf 10%. Bila dibandingkan dengan sabun Triclosan, sabun mandi cair dengan penambahan madu 5% dapat menyaingi sifat antibakteri dari sabun yang menggunakan Triclosan dengan konsentrasi 0,3%. Penambahan madu dengan berbagai konsentrasi berpengaruh kepada sifat fisika dan kimia dari sabun mandi cair seperti pH, viskositas, berat jenis, serta jumlah busa.Kata kunci :  Sabun Mandi Cair, Madu dan Bakteri Staphylococcus aureus
PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN PADA PENDEDERAN KE DUA IKAN LELE DUMBO YANG DIPELIHARA DI KOLAM TANAH Sri Sundari; Estu Nugroho; Jojo Subagja
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 1 No. 1 (2011): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.881 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v1i1.5

Abstract

Effect of Feed Frequency on Second Rearing Larvae of Catfish Culture in Earthen Pond.           Breeding is an important part in business scale of catfish. The critical time of catfish culture is in second rearing of larvae (from 2-3 cm to 8-10 cm) due to their canibalism. The successibility of seed rearing is depend on continuesly feed reservation, including feed management. The objective of this research was to get information about feed frequency given to seed reared in earthen pond. Research was conducted using farmer’s earthen pond in Pabuaran, Kemang Bogor district. Cat fish seed originated from farmer located in Bogor, with size of 2-3 cm per each and stocking density of 100 fish/m2.  Treatments were feed frequency i.e. 2x; 4x and 6x in a day or night. Observed parameter were survival  and growth rate, including water quality. Block Randomized Design of Experiment were used with two replications. Samping was conducted every 7 days. Result showed that there was statistically significant differences (P<0.05) among treatment in survival rate, while no statistically differences in growth rate of seeds length and weight. Feed frequency 2x at night gived the best result of survival rate and percentage of ”filter selection” was up to 80% and 37.76% respectivelly.Keywords : Feed frequency, second rearing, catfish ABSTRAK          Salah satu skala bisnis ikan lele yang penting adalah pembenihan. Pada pembenihan lele, masa kritis salah satunya ditemui pada tahapan pendederan kedua (dari ukuran 2-3 cm ke 8-10 cm). Keberhasilan pendederan ini  sangat tergantung pada kesediaan pakan yang kontinu, sehingga dapat menekan kanibalisme yang ada. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendapatkan informasi frekuensi pakan yang diberikan dengan tepat pada  pendederan ikan lele yang dipelihara di kolam tanah. Penelitian ini dilaksanakan di kolam tanah di daerah pabuaran, Kemang, Bogor. Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan lele ukuran ± 2-3 cm/ekor, dengan kepadatan 100 ekor/m2. Perlakuan yang diamati adalah frekuensi pemberian pakan, yaitu i) 2x, ii) 4x dan iii) 6x, baik dilakukan pada siang maupun malam hari. Secara garis besar  parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi pertumbuhan, dan kelangsungan hidup serta sifat fisika dan kimia air. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak blok yaitu berupa waktu siang dan malam  dengan 2 ulangan waktu. Sampling dilakukan 7 hari sekali. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P<0,05) dari perlakuan terhadap sintasan benih, namun tidak berbeda nyata pada laju pertumbuhan harian berat dan panjang benih. Pemberian pakan dengan frekuensi 2x pada malam hari memberikan pengaruh yang terbaik dengan sintasan mencapai 80%, dengan persentase lolos saring mencapai 37.76%.Kata kunci : frekuensi pakan, pendederan 2, ikan lele
KARAKTERISTIK KOPI BUBUK ARABIKA (Coffea arabica L) TERFERMENTASI Saccharomyces cerevisiae Mia Azizah; RTM Sutamihardja; Nova Wijaya
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 9 No. 1 (2019): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.032 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v9i1.173

Abstract

Characteristics  Of Arabica Ground Coffee (Coffea arabica L) Fermented by Saccharomyces cerevisiae Coffee is one of the plantation commodities that have higher economic value among other plantation crops. Arabica coffee has superior quality and taste compared to others. Coffee has been widely processed into grounded coffee products. The quality of ground coffee is influenced by many factors; one of them is processing. In the processing of coffee fruit into coffee beans the process that is certain to occur is fermentation. Fermentation affects ground coffee quality products. This study focused on observing the quality of arabica ground coffee fermented by Saccharomyces cerevisiae. The quality parameters of the ground coffee observed include water content, coffee extract and caffeine content. Other qualities supporting parameters are pH of ground coffee and phytochemical test. In addition, the fermentation pH was also observed in the fermentation process, reducing sugar content and qualitative testing of ethanol. Saccharomyces cerevisiae concentration was varied 0% (K0), 1% (K1), 2% (K2), 3% (K3) and 4% (K4) with duration of fermentation is  for 24 hours. The quality of arabica ground coffee products is in accordance with SNI Ground Coffee 01-3542-2004 with the following values: Water content 2,3-1,6% b/b. Coffee extract 30,7-30,3% b/b. Caffeine content 1,18-1,01% b/b. The pH of brewed ground coffee is 6,5-5,1. Alkaloids, saponins and tannins were detected in all different treatments of ground coffee samples. Flavonoids were only detected in the treatment of K0 ground coffee samples. The fermentation pH at the initial state was 5,61 and after fermentation was 4,91-3,89. Reducing sugar content at the initial state was 32,35% b/b and after fermentation 21,2-4,3% b/b. Ethanol was detected in all samples before and after fermentation.Keywords: Coffea Arabica L, Ground Coffee Quality, Fermentation, Saccharomyces cerevisiae ABSTRAK Kopi merupakan salah satu komoditi perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi diantara tanaman perkebunan lainnya. Kopi Arabika memiliki karakteristik dan cita rasa superior dibanding yang lainnya. Kopi banyak diolah menjadi produk kopi bubuk. Karakteristik kopi bubuk dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah berdasarkan cara pengolahan. Pada pengolahan dari buah kopi sampai menjadi biji kopi suatu proses yang pasti dilalui, yaitu fermentasi. Fermentasi berpengaruh terhadap karakteristik kopi bubuk yang dihasilkan. Penelitian ini difokuskan mengamati karakteristik kopi bubuk Arabika hasil fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae. Parameter karakteristik kopi bubuk yang diamati meliputi kadar air, sari kopi dan kadar kafein. Parameter penunjang karakteristik lainnya, yaitu pH seduhan kopi bubuk dan uji fitokimia. Selain itu, pada proses fermentasi juga diamati pH fermentasi, kadar gula pereduksi dan uji kualitatif etanol. Konsentrasi Saccharomyces cerevisiae divariasikan 0% (K0), 1% (K1), 2% (K2), 3% (K3) dan 4% (K4) dengan durasi waktu fermentasi selama 24 jam. Karakteristik kopi bubuk Arabika yang dihasilkan sesuai dengan SNI Kopi Bubuk 01-3542-2004 dengan nilai sebagai berikut: kadar air 2,33–1,6% b/b, sari kopi 30,7 – 30,3% b/b, kadar kafein 1,18–1,01% b/b dan pH seduhan kopi bubuk 6,5–5,1. Alkaloid, saponin dan tanin terdeteksi pada semua perlakuan sampel kopi bubuk. Flavonoid hanya terdeteksi pada perlakuan sampel kopi bubuk K0. pH fermentasi pada keadaan awal 5,61 dan setelah fermentasi 4,91–3,89. Kadar gula pereduksi pada keadaan awal 32,35% b/b dan setelah fermentasi 21,2–4,3% b/b. Etanol terdeteksi pada semua sampel sebelum dan setelah fermentasi.Kata kunci: Coffea Arabica L, mutu kopi bubuk, Fermentasi, Saccharomyces cerevisiae
BENTONIT TERAKTIVASI ASAM SULFAT SEBAGAI ADSORBEN DALAM PEMURNIAN PELUMAS BEKAS Tiva Lathifah; Nia Yuliani; Gladys Ayu Paramita Kusumah Wardhani
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 9 No. 1 (2019): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.537 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v9i1.170

Abstract

Activated Bentonits of Sulfatic Acid as Adsorben in Purchase of Used Lubricants Recycling of used lubricating oil is one of the alternatives in the framework of efficiency, saving oil consumption, and reducing pollution. One effort to purify used lubricating oil is to separate impurities through the adsorption method. The adsorbent that can be used is bentonite. Activation of bentonite using acid will produce adsorbent with an active side and greater surface acidity so that the adsorption ability is higher than before activated. Characteristics of lubricating oil produced are: kinematic viscosity 40 °C and 100 °C at 109.94 cSt and 14.57 cSt recently; viscosity index is 136; specific gravity 15 °C is 0.8872; and the resulting color is L5.0. Activated sulfonic bentonite can be an optimum adsorbent in purifying used lubricating oil, with optimum bentonite concentration is 30% and optimum adsorption temperature is 70 °C resulting in a 49% increase in viscosity efficiency of 40 °C and 30.79% for temperatures of 100 °C.Keywords: Bentonite, Lubricants, Adsorption  ABSTRAK Daur ulang minyak pelumas bekas merupakan salah satu alternatif dalam rangka efisiensi, penghematan konsumsi minyak bumi, serta mengurangi pencemaran. Salah satu upaya menjernihkan minyak pelumas bekas adalah dengan memisahkan zat-zat pengotor melalui metode adsorpsi. Adsorben yang dapat digunakan adalah bentonit. Aktivasi bentonit menggunakan asam akan menghasilkan adsorben dengan sisi aktif dan keasaman permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan adsorpsinya lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum  diaktivasi. Karakteristik minyak pelumas yang dihasilkan yaitu: viskositas kinematik 40 °C  dan 100 °C  sebesar 109,94 cSt dan 14,57 cSt secara berturut-turut; indeks viskositas sebesar 136; specific gravity 15 °C  sebesar 0,8872; serta warna yang dihasilkan adalah L5,0. Bentonit teraktivasi asam sulfat mampu menjadi adsorben yang optimum dalam pemurnian minyak pelumas bekas, dengan  konsentrasi bentonit optimum adalah 30% dan suhu adsorpsi optimum adalah 70 °C menghasilkan % efisiensi kenaikan viskositas  sebesar 49,15% untuk suhu 40 °C dan 30,79% untuk suhu 100 °C.Kata kunci : adsorpsi, bentonit, pelumas
POTENSI SENYAWAAN NITROGEN DAN FOSFAT PADA PENCEMARAN SUNGAI CILIWUNG HULU KOTA BOGOR Indri Suswanti; RTM Sutamihardja; Dian Arrisujaya
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 9 No. 1 (2019): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.422 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v9i1.186

Abstract

Potential Of Phosphate and Nitrogen Compounds in Pollution of The Upper Ciliwung River in Bogor River is a habitat for various types of aquatic organisms that can provide an overview of the state of the river, such as the quality and quantity of ecological relationships that occur within it. Ciliwung is one of the rivers that flow to Jakarta via Puncak, Bogor Regency, Bogor City, Depok City and empties into the Bay of Jakarta. In 2015, the quality status of the upstream Ciliwung river had moderate polluted status. One parameter for reviewing water quality is nutrient content (phosphate and nitrogen). The presence of high nutrients can stimulate the growth of algae in waters that can harm the aquatic ecosystem. This study shows that there is a relations and positive relations with a correlation coefficient of 0.508 on the nitrogen and phosphate compounds in the upstream Ciliwung river water pollution. The concentration of nitrogen compounds is higher than that of phosphate.Keywords: Ciliwung, Nitrogen, Phosphates, River, Relations. ABSTRAK Sungai merupakan suatu habitat bagi berbagai jenis organisme akuatik yang dapat memberikan gambaran mengenai keadaan sungai, seperti kualitas dan kuantitas dari hubungan ekologis yang terjadi didalamnya. Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai yang mengalir kearah Jakarta melalui Puncak, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok dan bermuara ke Teluk Jakarta. Pada tahun 2015, status mutu sungai Ciliwung bagian hulu memiliki status tercemar sedang. Salah satu parameter peninjauan kualitas air adalah kandungan zat hara (fosfat dan nitrogen). Keberadaan zat hara yang tinggi dapat menstimulasi ledakkan pertumbuhan algae di perairan yang dapat merugikan ekosistem perairan. Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang sedang dan positif dengan koefisien korelasi sebesar 0,508 terhadap senyawaan nitrogen dan fosfat pada pencemaran air sungai Ciliwung bagian hulu. Konsentrasi senyawaan nitrogen lebih tinggi dibandingkan dengan fosfat.Kata kunci: Ciliwung, Nitrogen, Fosfat, Hubungan, Sungai.
TINGKAT KEMATANGAN BIJI KOPI ARABICA (Coffea arabica L.) DALAM MENGHASILKAN KADAR KAFEIN Srikandi Srikandi; Aprilia Widia Kristanti; RTM Sutamihardja
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 9 No. 1 (2019): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.362 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v9i1.189

Abstract

Levels of Arabica (Coffea Arabica L.) Coffee Materials in Producing Caffein Coffee is a plantation crop that has long been cultivated in Indonesia. One type of coffee grown in Indonesia, namely arabica coffee. Arabica coffee is coffee that has superior quality compared to other types of coffee. Testing of caffeine content in Sukamakmur village arabica coffee is differentiated into three types of coffee berries based on the maturity level of the coffee fruit. The level of maturity of coffee fruit is marked by the color of coffee fruit skin. The collection of young coffee fruit is characterized by green fruit rind, half-aged coffee, orange rind and old coffee, dark red rind. Arabica coffee fruit is processed from drying, drying, and roasting and grinding into arabica ground coffee. Powder coffee samples are used for water content testing, phytochemical identification, and caffeine level testing. Caffeine content testing using UV-Vis spectrophotometry. The results of water content testing showed that the highest water content was found in coffee with a maturity level of half old, the lowest moisture content found in old coffee. Phytochemical identification testing performed showed powdered coffee samples containing active compounds of saponins, flavonoids, and alkaloids, as well as tannins. The highest caffeine content is found in ground coffee with the maturity level of coffee half old at 1.56% and the lowest caffeine level in ground coffee with a young coffee level of 0.93%.Keywords : Coffea arabica L., Level of maturity, Level of caffeine. ABSTRAKKopi adalah tanaman perkebunan yang sudah lama dibudidayakan di Indonesia. Salah satu jenis kopi yang ditanam di Indonesia, yaitu kopi arabika. Kopi arabika merupakan kopi yang memiliki kualitas superior dibanding jenis kopi lainnya. Pengujian kadar kafein pada kopi arabika desa Sukamakmur dibedakan menjadi tiga jenis pengambilan buah kopi berdasarkan tingkat kematangan buah kopi. Tingkat kematangan buah kopi ditandai dengan warna kulit buah kopi. Pengambilan buah kopi muda ditandai dengan kulit buah berwarna hijau, kopi setengah tua, kulit buah berwarna jingga dan kopi tua, kulit buah berwarna merah tua. Buah kopi arabika diolah dari penjemuran, pengeringan, dan penyangraian serta penggilingan menjadi kopi bubuk arabika. Sampel kopi bubuk digunakan untuk bahan pengujian kadar air, identifikasi fitokimia dan pengujian kadar kafein. Pengujian kadar kafein menggunakan metode spektrofometri UV-Vis. Hasil pegujian kadar air menunjukkan bahwa kadar air tertinggi terdapat pada kopi dengan tingkat kematangan setengah tua, kadar air terendah terdapat pada kopi tua. Pengujian identifikasi fitokimia yang dilakukan menunjukan sampel kopi bubuk mengandung senyawa aktif saponin, flavonoid, dan alkaloid, serta tanin. Kadar kafein tertinggi terdapat pada kopi bubuk dengan tingkat kematangan kopi setengah tua sebesar 1,56% dan kadar kafein terendah pada kopi bubuk dengan tingkat kopi muda sebesar 0,93%.Kata kunci: Coffea arabica L., Tingkat kematangan, Kadar kafein.
KONSERVASI EX-SITU HARIMAU SUMATERA (Panthera tigris sumatrae) DI TMR JAKARTA Yultisman Yultisman; Mia Azizah; Supriono Eko Wardoyo
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 9 No. 1 (2019): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.007 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v9i1.190

Abstract

Ex-situ conservation of Sumatran tigers (Panthera tigris sumatrae) in Ragunan wildlife park, Jakarta                 Sumatran tiger (Panthera tigris sumatrae) is one of the endemic species of Indonesia, which until now still live on the island of Sumatra. According to the International Conservation Agency, the existence of the animal is approaching extinction. Taman Marga Satwa Ragunan is one of Sumatran tiger conservation institution. The purpose of the research was to know the breeding of Sumatran tiger in Ragunan Wildlife Park conservation area, to know the proper conservation strategy for Sumatran tiger and to know Sumatran tiger activity ex-situ. The research was conducted at the Sumatran Tiger in Taman Marga Satwa Ragunan. Data were analyzed by descriptive analysis. Taman Marga Satwa Ragunan has made a proper effort in tiger conservation, this is marked by an increase in the Sumatran Tiger population.Keywords: Sumatran Tiger, Conservation, Ragunan Wildlife Park ABSTRAK Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan salah satu satwa endemik Indonesia, yang hingga saat ini masih hidup di pulau Sumatera. Menurut lembaga konservasi Internasional keberadaan satwa ini sudah mendekati kepunahan.Taman Marga Satwa Ragunan adalah salah satu lembaga konservasi Harimau Sumatera.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perkembangbiakan harimau sumatera dikawasan konservasi TMR, mengetahui strategi konservasi yang tepat untuk harimau sumatera dan mengetahui aktivitas harimau sumatera secara ex-situ.Penelitian ini di lakukan di kandang Harimau Sumatera di Taman Marga Satwa Ragunan, hasil dianalisis dengan analisis deskriptif.Taman Margasatawa Ragunan merupakan tempat konservasi yang cocok bagi Harimau Sumatera, ini ditandai dengan adanya peningkatan populasi dari awal tahun pendirian TMR (Tahun 1980) sampai dengan saat sekarang iniKata Kunci : Harimau Sumatera, Konservasi, TMR