cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 743 Documents
Biodiversitas Krustasea (Decapoda, Brachyura, Macrura) dari Ekspedisi Perairan Kendari 2011 (Biodiversity of Crustacean (Decapoda, Brachyura, Macrura) from Kendari Waters Expedition 2011) Rianta Pratiwi; Oce Astuti
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.727 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.1.8-14

Abstract

 Walaupun wilayah laut dan pesisir sangat penting untuk kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia, secara nyata perairan Kendari belum digarap secara optimal, terutama kondisi dan potensi perikanan, khususnya kepadatan dan keanekaragaman krustasea. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dan mengidentifikasi potensi sumber daya laut di pulau-pulau kecil disekitar perairan Kendari. Penelitian dilakukan dengan cara koleksi bebas menyusuri mangrove. Data yang diambil dari penelitian ini adalah data krustacea non ekomomis dan ekonomis serta data pendukung  lingkungan (suhu, pH dan salinitas). Hasil penelitian menunjukkan parameter lingkungan di beberapa lokasi masih relatif baik untuk kehidupan krustasea di daerah mangrove. Diperoleh 377 individu, 15  jenis, 12 famili dan 1 ordo individu krustasea. Kepadatan krustasea di setiap lokasi berbeda-beda. Indeks keanekaragaman (1,121-3,744) dan indeks keseragaman (0.360-0.610) termasuk sedang, yang menggambarkan bahwa penyebaran individu relatif sama serta indeks dominansi pada penelitian ini termasuk tinggi (0,190-0,620). Dengan diperolehnya data keanekaragaman krustasea di perairan Kendari sudah sepatutnya harus lebih dicermati lagi kondisi lingkungan dan keberadaan krustasea secara periodik karena krustasea merupakan salah satu rantai makanan yang juga penting di dalam ekosistem pesisir. Kata kunci: Krustasea, keanekaragaman, mangrove, perairan KendariAlthough the marine and coastal areas are very important for the life of the people and nation of Indonesia, Kendari waters significantly have not worked optimally, especially the condition and potential of fisheries, particularly the density and diversity of crustaceans. This study aims to reveal and identify the potential of marine resources in small islands around the waters of Kendari. Research carried out by way of free collection along the mangrove. Data from this study are from non economical, economical crustaceans and environmental data (temperature, pH and salinity) as well as to supporting the environmental. The results shows several areas of environmental parameters is still relatively good for the life of crustaceans in mangrove areas. Provided 377 individuals, 15 species, 12 families and 1 order of individual krustaseans. Krustasean densities at each location is different. Diversity index (1.121-3.744) and Similarity index (0,360-0,610) catagories in medium grade, which illustrates that the spread of crustacea is relatively the same. Index of dominance in this study was high (0.190-0.620). By obtaining data of  diversity crustaceans in the waters of Kendari, should be more rutiny and  should have been more better protecting the environmental conditions and also the presence of crustaceans periodically because crustaceans are one of the food chain are also important in the coastal ecosystem.Key words: Crustaceans, diversity, mangrove forests, waters Kendari
Respon Larva Tiram Mutiara Pinctada maxima (Jameson) Terhadap Berbagai Tingkaf Intensitas Cahaya Tjahjo Winanto; Dedy Soedharma; Ridwan Affandi; Harpasis S. Sanusi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.45 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.4.197-202

Abstract

Intensitas cahaya berpengaruh terhadap fungsi fisiologis dan struktur larva bivalvla. Penelitiaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh intensitas cahaya terhadap distribusi, pertumbuhan dan sintasan larva tiram mutiara Pinctada maxima. Rancangan acak lengkap dengan empatperlakuan intensitas cahayayaitu 0 (ditutup rapat), 200, 500, dan 800 lux, masing-masing dengan tiga ulangan diterapkan pada penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi larva dipengaruhi oleh intensitas cahaya, sedangkan intensitas cahaya optimum untuk sintasan dan pertumbuhan larva adalah 0-200 lux.Kata kunci : Larva, Pinctada maxima, respon, intensitas cahaya, distribusi, sintasan, pertumbuhan
Hydrodynamics of Bontang Seawaters: Its Effects on the Distribution of Water Quality Parameters Ulung Jantama Wisha; Semeidi Husrin; Gegar Sapta Prasetyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2018.297 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.21.3.123-134

Abstract

Bontang is a crowded with residential and industrial activities which produce heat waste into surrounding waters. This condition may cause environmental problems, and changes in water condition. Knowledge about dynamics of physic and chemical waters condition in Bontang city is very important as an effort to address environmental issues as part of coastal zone management and protection. The aim of this research is to understand hydrodynamic characteristics (tide and current) and the influence to distribution of physics and chemical in Bontang waters base on primary data (current and tide during one month, physics and chemicals waters data taken by in situ) and secondary data (bathymetry and tide forecasting). Hydrodynamic simulation is based on MIKE 21 and supported by CD-Oceanography and WR plot. The results show that the current is dominant move toward the Southwest and Northeast with current speed ranged from 0-0,22 m.s-1. The results of hydrodynamic simulation in the surface water show that the current move base on tide movement with current speed ranged from 0-0,24 m.s-1. The results of physic and chemical concentration is analysed by ArcGIS 10 to know spatial distribution of all parameters. Surface temperature ranged from 29-31,8oC, surface density ranged from 20-20,6 ppm, salinity ranged from 33,1-33,5 ppm, dissolve oxygen concentration ranged from 0,078-0,11 ppm. Distribution of all physic and chemical parameters is influenced by current and tide movement. Keywords: current, numerical model, water quality, Bontang waters
Marine Fisheries Management Plan in Indonesia a Case Study of the Bali Strait Fishery Abdul Ghofar
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.943 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.4.177-184

Abstract

Pengelolaan perikanan laut di Selat Bali mencakup wilayah berairan seluas 2,500km2 Selat Bali terutama dipengaruhi oleh perairan dari Samodera Hindia, dan hampir tidak ada pengaruh dari laut Flores dan laut Bali. Perikanan di Selat Bali bersifat perikanan tunggal (purse seine) dan mempunyai target yang jelas (ikan lemuru) serta menerapkan teknologi yang relatif telah maju. Meskipun begitu, secara alamiah perikanan Selat Bali melibatkan 2 propinsi Bali dan Jawa Timur, dan meliputi 4 kabupaten, sehingga administrasi maupun pendekatan-pendekatan yang dilakukan cukup kompleks. Perencanaan dan pengelolaan perikanan di Selat Bali sampai dewasa ini lebih menitikberatkan pada usaha-bersama para pemangku kepentingan. Sementara hal itu secara formal dapat diterima, perkembangan dalam perikanan terakhir membuktikan perlunya keterlibatan secara riil masyarakat pesisir/nelayan dalam proses perencanaan dan pengelolaan sejak awal. Selain itu diperlukan pengkajian sumberdaya perikanan secara partisipatif, dimana metode standard pengkajian ilmiah dimudahkan sedemikian sehingga masyarakat nelayan dapat menganalisis dan mempraktekkan sendiri pada sumberdaya,ekosistem dan kehidupan mereka. Hanya dengan cara demikian dapat diharapkan timbulnya rasa kepemilikan mereka atas sumberdaya dan ekosistem pendukungnya. Hal ini akan memacu kesadaran akan keberlanjutan sumberdaya, yang pada gilirannya akan menentukan nasib usaha perikanan, pendapatan dan kehidupan mereka.Kata kunci: Rencana Pengelolaan Perikanan, proses partisipatif, kepemilikan, berkelanjutan, perikananbertanggungjawabThe marine fisheries management of the Bali Strait covers an area of about 2,500km2. The Bali Strait is primarily influenced by the relatively deeper Indian Ocean - than the Flores and Bali seas. The Bali Strait fishery is mono-typed (purse seine), clearly targeted (lemuru, Oil Sardine), and technologically advanced. However, the nature of the presence of two provinces for the Bali Strait (and including 4 districts) brings about a rather complicated administration procedures and approach. It can be remarked that the present management putmore weight on the collaborative effort among all stakeholders. While it is formally acceptable, recent development in the fishery clearly suggests an increasing need of the involvement of fishing communities inplanning and management processes, at its earliest stage. This is particularly vital to be applied in the Bali Strait. In addition there is an urgent need to apply participatory research in the fishery, so that standardscientific fisheries research methodology should be lowered-down one level in order that the fishers can understand and perform simple analysis of their own natural resources, ecosystem and livelihood. Only withthese two actions can the fishers be expected to have the ownership and to “help themselves” toward sustainability of marine resources and securing their fishery, improving their welfare and livelihood.Key words: Fisheries Management Plan, participatory process, ownership, sustainability, responsible fisheries
Epibion Makrofit Pantai Berpasir di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Epibiont Macrophyte on Sandy Beach, in the Regency of Jepara, Central Java) Irwani Irwani; Norma Afiati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.175 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.1.30-38

Abstract

Epibion merupakan organisme yang hidup melekat pada berbagai jenis substrat alamiah di dasar perairan dan berperan penting sebagai pemakan sisa. Bandengan dan Pulau Panjang adalah dua lokasi pantai berpasir yang terletak berdekatan di Kabupaten Jepara Jawa Tengah. Studi ini menginvestigasi epibion pada makrofit, yaitu makroalgae dan lamun di kedua lokasi, dengan metode survei. Epibion utama kedua jenis makrofit tersebut adalah mikroalgae dan mikrozoobentos, dengan jumlah dan keanekaragaman yang relatif tidak berbeda. Secara lebih detil, epibion utama makroalgae umumnya adalah mikroalgae planktonik dan mikrozoobentos, sedangkan epibion utama lamun adalah mikroalgae planktonik yang bersifat epifit. Struktur komunitas bentik yang mengandung Polychaeta dalam jumlah jenis dan jumlah individu terbanyak dibandingkan Crustacea dan Mollusca, dan tidak dijumpainya genera lamun pionir Halophila dan Halodule di kedua lokasi, mengindikasikan masih cukup baiknya kualitas hayati kedua pantai wisata tersebut. Kata kunci: epibion, lamun, makroalga,  pantai berpasir, Jepara Epibiont ​​is known as living organisms attached to various natural benthic substrates and plays an important role as scavenger. Bandengan and Pulau Panjang are two sandy beaches close to each other located at Jepara, Central Java. This study investigates epibionts on macrophytes, which are macroalgae and seagrasses in both locations, by means of survey method. In general, major constituent of epibionts in those two macrophytes are microalgae and microzoobenthos, with relatively similar individual number and diversity. In more details, epibionts in macroalgae is planktonic microalgae and microzoobenthos, whereas, for seagrass it is of epiphytic microalgae. Benthic community structure which have more abundant and more diverse Polychaeta compared to that of Crustacea and Mollusca, combined with no existence of pioneer seagrass, i.e., Halophila and Halodule indicating that both beaches have still retained relatively good quality ecosystem for tourism. Keywords: epibiont, seagrass, macroalgae, sandy beach, Jepara
Respon Fisiologi Benih Ikan Kerapu Macan Epinephelus fuscoguttatus Terhadap Penggunaan Minyak Sereh dalam Transportasi Tertutup dengan Kepadatan Tinggi Eddy Supriyono; Budiyanti Budiyanti; Tatag Budiardi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1509.777 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.2.103-112

Abstract

Ikan Kerapu Macan merupakan salah satu komoditas ikan air laut yang cukup digemari oleh masyarakat dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Masalah yang sering dihadapi oleh petani adalah sulitnya mendapatkan benih ikan kerapu yang cukup baik karena jarak antara tempat pembesaran dan tempat pembenihan relatif jauh. Oleh karena itu dibutuhkan teknologi yang tepat yang dapat mengangkut ikan dalam waktu yang lama, tingkat kelangsungan hidup yang tinggi serta kondisi fisiologi ikan pasca pengangkutan yang tetap baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak penggunaan minyak sereh terhadap respon fisiologi berupa gambaran darah, histologi jaringan dan pertumbuhan serta kelangsungan hidup  benih ikan kerapu macan dengan ukuran panjang rata-rata 7 cm dan berat rata-rata 4,02 gram yang diangkut di dalam sistem tranportasi tertutup dengan kepadatan tinggi selama 56 jam. Rancangan acak lengkap digunakan dengan 4 perlakuan, yaitu tanpa minyak sereh (Kontrol) minyak sereh 10, 20 dan 30 mg/L dengan 2 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan minyak sereh 10 mg/L lebih baik dibandingkan perlakuan yang lain, baik dilihat dari kualitas air dengan nilai Total Ammonia Nitrogen (TAN) terendah  6,459±1,290 mg/L, CO2 32,561±6,498 mg/L, maupun dari kondisi fisiologi berupa kadar glukosa 50,375±28,390 mg/dl, nilai gambaran darah berupa sel darah merah 1,28x106 sel/mm3, sel darah putih 2,60x104 sel/mm3, N:L (Netrofil:Limfosit) rasio 0,41% yang mendekati nilai kondisi ikan normal,  kondisi histologi berupa  tingkat kerusakan insang yang paling rendah  dan nilai SR tertinggi 97,5% serta laju pertumbuhan 1,33%. Kata kunci: kerapu macan, minyak sereh, respon fisiologi, transportasi tertutup, kepadatan tinggi Tiger Grouper is one of marine fish commodities well-loved by the community and have high economic value. The problem often faced by grouper farmers is the difficulty to obtain the good seed because the distance between the place where the hatchery rearing and relatively remote. Therefore, it needs a proper technology to transport the fish for a long time, the survival rate is high and the condition of post-transport physiology of fish that remain good. This study was aimed to evaluate the impact of the use of citronella oil on the physiological responses of the juvenile tiger grouper with emphasized on the evaluation of blood characteristics, histophatological change, growth and survival rate of the fish.  The fish with an average length of 7 cm and an average of 4,02 grams in weight which are transported in high density of sealed transportation system for 56 hours. Completely randomized design (CRD) was applied with 4 treatments (Without citronella oil (K/Control), 10, 20, 30 mg/L of citronella oil respectively and 2 replications. The results showed that application of 10 mg/L of citronella oil was better than the other concentration, in terms of water quality with low Total Ammonia Nitrogen (TAN) value 6.459 ± 1.290 mg/L, CO2 32.561 ± 6.498 mg/L, and the physiological conditions  such as glucose level was  50,375 ± 2.390 mg/dL , red blood  cell  value was 1,28x106 mm3, leucocyte  value was 2,60x104 mm3, N: L ratio was 0.41%, the lowest gill damage and the highest survival rate and growth rate ; those conditions were  close to the normal fish. Key words:    juvenile tiger grouper, citronela oil, physiological responses, sealed transporatation system, high density
ENSO Effects on The Alas Strait Squid Resource and Fishery Abdul Ghofar
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.619 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.2.106-114

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan perikanan cumi-cumi di Selat Alas, khususnya berkaitan dengan fluktuasi tangkapan yang terjadi karena pengaruh aktivitas penangkapan dan variabilitas iklim. Cumi-cumi ditangkap dengan jalaoras (sejenis payang dengan lampu sebagai alat bantu mengumpulkan  cumi-cumi); tangkapan dan alat tangkap inilah yang dipakai dalam analisis. 90% tangkapan cephalopoda berupa cumi-cumi yang terdiri dari 5 spesies.Indeks osilasi selatan (SOI) dipakai sebagai parameter yang mewakili variabilitas iklim. Satu set data 44 tahun (1960-2003), mengenai SOI, upaya penangkapan dan tangkapan cumi-cumi dianalisis. Diperoleh korelasi yang sangat kuat (p>0.001) antara ketiga komponen. Dengan memasukkan ketiga komponen tersebut, suatu model perikanan cumi-cumi untuk Selat Alas dikembangkan. Untuk mengkonstruksi model tersebut dipergunakan nilairata-rata tahunan untuk SOI dan upaya penangkapan. Model yang dihasilkan dapat dipergunakan untuk memprediksi tangkapan cumi-cumi. Meskipun demikian penggunaannya untuk peramalan dan pengelolaan perikanan haruslah hati-hati. Penggunaan model secara efektif mensyaratkan dilakukannya monitoring terhadapketiga komponen diatas setiap bulan. Disarankan cara-cara meningkatkan pengelolaan perikanan cumi-cumi, khususnya sehubungan dengan riset, perencanaan dan pengelolaan, semuanya secara partisipatif, sebagai upaya untuk meningkatkan rasa-memiliki masyarakat terhadap sumberdaya perikanan cumi-cumi.Kata kunci: cumi-cumi, variabilitas iklim, ENSO, indeks osilasi selatan The Alas Strait squid fishery is described, with emphasis on its fluctuating catches due to the combined effects of fishing and climate variability. The fishery almost exclusively employs ‘jala oras’ (light-lured payangtype fishing gears), which was used in catch and fishing effort analysis. Five squid species constitute 95% of the cumulative annual cephalopod catches. The southern oscillation index (SOI) was used to represent the climate variability component. A 44-year data set, starting from 1960 to 2003, comprising the SOI, fishing effort and squid catches was used in the analysis. There is a very strong correlation (p>0.001) between the three components. A model for the Alas Strait squid fishery was therefore developed by means of incorporating these three components. Average annual values of SOI and fishing effort were used to construct the model.The model can be a useful tool for predicting the squid catches. However, it should be carefully used forforecasting and managing the fishery. In order to effectively used the model, monitoring the catch, fishing effort and the SOI should be carried out, preferably monthly. A suggestion for improving the fishery management is outlined, involving participatory fishery research, planning and management,. in an attempt to enhance the ownership of the fishery.Key words: squid, climate variability, ENSO, southern oscillation index
Fitoremidiasi Logam Berat dengan Menggunakan Mangrove (Phytoremiditation of Heavy Metals Using Mangroves) Faisal Hamzah; Yuli Pancawati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.568 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.4.203-212

Abstract

Mangrove mampu mengakumulasi dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap logam berat sehingga bisa dijadikan tumbuhan untuk tujuan fitoremidiasi (fitostabilisasi). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi fitoremidiasi berdasarkan akumulasi dan translokasi logam berat pada mangrove di daerah pesisir. Sebanyak 10 pohon mangrove (4 spesies) pada 4 stasiun di HLAK dan SMMA diambil untuk dianalisa. Logam berat yang dianalisa dibagi menjadi dua yaitu esensial (Cu dan Zn) dan non esensial (Pb). Hasil analisa fisikokimia perairan dan sedimen menunjukan bahwa mangrove tumbuh pada kondisi normal untuk daerah estuari (pH 7,10-7,46; suhu 28,5-30 0C; salinitas 2-6 ‰; oksigen terlarut 0,71-1,42 mg.L-1 dan kelembaban sedimen 10-30 %). Konsentrasi Zn pada sedimen lebih tinggi dibandingkan Cu dan Pb, namun pada akar dan daun, konsentrasi Pb lebih tinggi dibandingkan Zn dan Cu. Nilai biological accumulation coefficient (BAC=ratio kandungan logam pada daun dengan sedimen), biological transfer coefficient (BTC=ratio kandungan logam pada daun dengan akar) dan bioconcentration factor (BCF=ratio kandungan logam pada akar dengan sedimen) logam non esensial lebih tinggi dibandingkan logam esensial. BAC, BTC, dan BCF Pb adalah 0,84-1,10, 0,84-1,15 dan 0,91-1,09. Nilai BAC, BTC, dan BCF logam Cu dan Zn berturut adalah 0,02-0,13 & 0,12-0,25, 0,17-082 & 0,56-1,11 dan 0,09-0,17 & 0,13-0,25. Untuk tujuan fitoremidiasi, mangrove bisa diterapkan di daerah pesisir sebagai fitostabilisasi. Hasil perhitungan FTD menunjukan spesies Sonneratia caseolaris 3 bisa dijadikan sebagai kriteria mangrove untuk fitoremediasi. Kata kunci: mangrove, fitoremidiasi, logam berat, pesisir Abstract Mangroves are able to accumulate and have a high tolerance to heavy metals so that those trees can be used as phytoremidiation purpose (phytostabilization). This study was conducted to determine metal phytoremidiation potential of mangroves based on accumulation and translocation of heavy metals in coastal areas. A total of 10 of mangrove trees (4 species) at 4 stasions in HLAK and SMMA were taken and analyzed. Heavy metal divided into two such as essential (Cu and Zn) and non essential (Pb). Based on phycochemical analysis both of water and sediment,our result showed that mangroves grow on normal condition for estuarine ecosystem (pH 7.10-7.46; temperature 28.5-30 0C; salinity 2-6‰; dissolved oxygen 0.71-1.42 mg.L-1 dan humidity of sediment 10-30%). Concentration of Zn  in sediment was higher than Cu and Pb, but in roots and leaves Pb was higher than Zn and Cu. Biological accumulation coefficient (BAC=ratio of leaf metal to sediment metal concentration), biological transfer coefficient (BTC= ratio of leaf metal to root concentration) and bioconcentration factor (BCF= ratio of root metal to sediment metal concentration) for non essential is higher than essential. BAC, BTC and  BCF Pb metal were 0.84-1.10, 0.84-1.15 and 0.91-1.09, respectively. While value of  BAC, BTC  and BCF  for Cu and Zn were adalah 0.02-0.13 & 0.12-0.25, 0.17-082 & 0.56-1.11 and 0.09-0.17 & 0.13-0.25, respectively. For phytoremidiation purposes, mangroves are perhaps best employed as phytostabilisers. Result of calculating FTD showed that species of Sonneratia caseolaris 3 can be used  as mangrove criterion for those purpose. Keywords: mangrove, phytoremidiation, heavy metals, coastal
Pengaruh Kejut Salinitas Terhadap Pemijahan Tiram (Crassostrea cucullata Born) Priyo Santoso
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.489 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.3.159-162

Abstract

Teknik rangsang pemijahan tiram (Crassostrea cucullata Born) di lingkungan buatan merupakan aspek penting dalam pengembangan teknologi pembenihan tiram.  Oleh karena itu, telah dilaksanakan penelitian tentang rangsang pemijahan tiram dengan menggunakan kejut salinitas mulai dari bulan Agustus sampai Oktober 2010. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kejut salinitas terhadap pemijahan tiram.  Rancangan acak lengkap diterapkan pada penelitian ini dengan empat perlakuan yaitu peningkatan salinitas secara mendadak 2‰dan 4‰ dari salinitas awal (30‰) dan penurunan salinitas secara mendadak 2‰ dan 4‰dari salinitas awal (30‰), dan tiga ulangan.  Tiram yang digunakan sebagai hewan uji dikoleksi dari perairan Desa Oebelo, Kabupaten Kupang.  Hasil uji nonparametrik Kruskal Wallis menunjukkan bahwa perlakuan kejut salinitas berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pemijahan tiram.  Perlakuan kejut salinitas dengan penurunan salinitas secara mendadak memberikan respon pemijahan tiram yang lebih tinggi bila dibandingkan perlakuan kejut salinitas dengan peningkatan salinitas secara mendadak.  Pemijahan tiram tertinggi terjadi pada perlakuan kejut salinitas dengan penurunan salinitas secara mendadak 4‰dari salinitas awal (30‰).Kata kunci: Kejut salinitas, pemijahan buatan, tiram, Crassostrea cucullata The technique of oysters (Crassostrea cucullata Born) spawning stimulation in artificial environment was important aspect on development of its hatchery technology.  Consequently, research about spawning stimulation of oysters using shock of salinity has been conducted from August to October 2010.  The aim of this research was to find out the effect of salinity shock on oysters spawning.  Randomized design was applied in this research with four treatments, i.e. sudden increase of salinity 2‰ and 4‰ from initial salinity (30‰) and sudden decrease of salinity 2‰ and 4‰ from initial salinity (30‰), with three replications.  Oysters used in this experiment were collected from intertidal of Oebelo Village, Kupang regency.  Result of Kruskal Wallis test showed that salinity shock was significantly affected (P<0.05) on oysters spawning.  The treatment of salinity shock with sudden decrease in salinity was trigger spawning oyster higher than the treatment of salinity shock with decrease of salinity suddenly.  The highest number of oysters spawning occurred at shock of salinity treatment with decrease of salinity suddenly 4‰ from initial salinity (30‰). Keywords: Salinity Shock, spawning, oyster
Effects of Different Microalgae on the Survivorship of Giant Clams Larvae (Tridacna squamosa) Ambariyanto Ambariyanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.813 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.1.51-58

Abstract

Salah satu kendala yang dihadapi dalam usaha memproduksi Kima (giant clams, Bivalvia: Tridacnidae) adalah tingkat kelangsungan hidup larva yang rendah. Terdapat dua sumber energi utama bagi kima yang mempengaruhi kelangsunganhidup dan pertumbuhannya, yakni translokasi hasil fotosintesa dari zooxanthellae dan melalui proses fiIter feeding. Dalam penelitian ini larva kima diproduksi melalui teknik induce spawning dengan mengkombinasikan metoda kenaikan suhu dan penyuntikan serotonin pada gonad induk. Selanjutnya larva kima yang berumur 2 hari dan 9 hari diberi pakan beberapa jenis mikroalgae. Pengamatan terhadap jumlah larva dilakukan selama masing-masing 5 hari. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata dari mikroalgae yang berbeda terhadap kelangsunganhidup larva kima. Namun terdapat kecenderungan bahwa larva yang diberi pakan mikroalgae dari genus Chaetaceros mempunyai laju kelangsunganhidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan larva yang diberi pakan mikrolagae jenis lain maupun kontrol. Disamping itu, tidak seperti yang dilaporkan oleh peneliti lain, ternyata larva kima mampu mencapai metamorfosis walaupun tanpa pemberian pakan alami. Diduga hal ini disebabkan larva tersebut mampu memanfaatkan sumber energi lain dari lingkungan air laut disekitarnya .Kata kunci: kima, pakan alami, mikroalgae, kelangsunganhidup One of the major problems in giant clams (Bivalvia: Tridacnidae) production is low level of survival rate, especially within larvae development. There are two different important sources of energy required. which influence the survivorship of the clams, i.e. through zooxanthellae translocation and filter feeding processes. The best microalgae that can be fed to clams larvae, however has not known yet. The present study aimed to investigate the influence of various microalgae on the survival rate of giant clams larvae. The larvae produced by inducing adult giant clams using the combination of temperature increment and serotonin injection. Two different stages of larvae were used in this study i.e. 2 and 9 days old larvae. The number of larvae were monitored daily for 5 days. Statistical analysis showed that there was no significant effects of different microalgae on the survivorship of the larvae. However. larvae which were fed by Chaetoceros had higher survival rate than other treatments and control. Furthermore, unlike other reports, this study shows that larvae which were not fed by microalgae have reached metamorphoses. It is believed that these larvae are capable of utilizing other energy sources from their sorrounding environment.Keywords: giant clams larvae, natural feed, microalgae, survival rate

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 30, No 3 (2025): Ilmu Kelautan Vol 30, No 2 (2025): Ilmu Kelautan Vol 30, No 1 (2025): Ilmu Kelautan Vol 29, No 4 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 3 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 2 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 1 (2024): Ilmu Kelautan Vol 28, No 4 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 3 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 2 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 1 (2023): Ilmu Kelautan Vol 27, No 4 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 3 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 2 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue