cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 743 Documents
Transmission of White Spot Syndrome Virus and Possible Use of Physical Barrier as Preventive Measure (Transmisi White Spot Syndrome Virus dan Penggunaan Barier Fisik Sebagai Upaya Pencegahan) Arief Taslihan; Bambang Sumiarto; Kamiso H Nitimulyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.074 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.3.119-126

Abstract

Penyakit bercak putih viral hingga saat ini masih menjadi masalah dalam budidaya udang. Munculnya penyakit tersebut diikuti kematian massal, sehingga menimbulkan kerugian besar. Penyakit yang disebabkan white spots syndrome virus (WSSV) menular cepat dari satu petakan tambak ke petakan lain. Penelitian bertujuan melakukan uji kuantitas WSSV pada transmisi virus baik melalui air dan kohabitasi. Metode penelitian adalah bioassay dilakukan skala laboratorium. Penularan melalui air disimulasi pada akuarium disekat dengan 3 jenis kasa berukuran pori berbeda, yaitu 300μ, 700μ dan 2 mm. Kohabitasi dilakukan dengan memelihara udang terinfeksi WSSV secara buatan dengan udang dan moluska sehat. Hasil penelitian didapatkan bahwa WSSV menimbulkan infeksi pada udang sehat yang ditempatkan terpisah dari udang sakit menggunakan sekat kasa. Virus bercak putih juga menular secara kohabitasi udang sakit dengan udang sehat baik dari udang windu ke udang windu (sejenis) maupun udang windu ke udang vannamei (berlainan jenis). Hasi penelitian menunjukkan bahwa trisipan bukan karier WSSV, karena tidak menularkan. Analisis LT-50 (lethal time 50%) didapatkan bahwa udang yang diuji tantang WSSV melalui inkubasi dengan air mengandung ekstrak WSSV didapatkan konsentrasi 2,75x102 WSSV copy.mL-1 menyebabkan kematian 50% dalam waktu 108 jam atau hampir lima hari. Penggunaan kasa putih meskipun tidak sepenuhnya menahan, dapat menghambat sebagian transmisi WSSV. Hasil kajian memberikan gambaran tentang kecepatan penyebaran WSSV di lingkungan budidaya udang serta memberikan panduan bagaimana mengendalikan WSSV. Kata kunci: penyakit, transmisi WSSV, udang, kohabitasi, trisipan White spot viral disease has devastated shrimp industry in Indonesia. The emergence of this disease is always followed by massive death causing huge losses. Disease is caused by a virus namely White spots syndrome virus (WSSV) is rapidly transmitted from one pond to other ponds. This study aims to quantify WSSV upon transmission process at different route of transmission either through water, the cohabitation ant to cerithidae. A model has developed to fascilitate transmission through water. Aquarium capacity of 60 liter use in this research, each made into two compartment with separation by 3 different screen with pore sizes, 300μ, 700μ and 2 mm. Healthy tiger shrimp Penaeus monodon, reared in one compartment and artifitially diseased shrimp in another compartment. Cohabitation was done by rearing healthy shrimp of tiger shrimp and vannamei shrimp together with artifially infected shrimp with WSSV. For transmission through snails, snail fed with infected shrimp and reared together with infected live shrimp. Transmission also done through bathing healthy shrimp into water contained WSSV extract. The result showed that WSSV is able to cause infection in healthy shrimp eventhough are spaced apart from diseased shrimp using different mesh size screen. White spot virus can also be transmitted by cohabitation from diseased tiger shrimp either to tiger shrimp (same species) or to vannamei shrimp (different species). The result showed that snail is not a career for WSSV. LT-50 of challenge of shrimp with WSSV through incubation with water contained of WSSV extract found that innocula at concentration 2,75 x 105 WSSV copy.μl-1 causing mortality at 50% within 108 hours. White screen, eventhough not fully efective, but still can retarded WSSV transmission. Result of study provide a greater understanding of how the virus be transmitted in the shrimp farm, and as guidance strategy in controlling in shrimp aquaculture. Keywords: disease, transmission of WSSV, cohabitation, shrimp, snail
Kandungan Logam Berat Hg dan Cd dalam Air, Sedimen dan Kerang Darah (Anadara granossa) dengan Menggunakan Metode Analisis Pengaktifan Neutron (APN) Sri Yulina Wulandari; Bambang Yulianto; Gunawan Widi Santosa; Ken Suwartimah
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.103 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.3.170-175

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan dan tingkat pencemaran logam berat Hg dan Cd dalam air, sedimen dan kerang darah (Anadara granossa) di perairan Morodemak, Banjir Kanal Timur dan Mangkang Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2004-Januari 2005 dengan metode penelitian yang digunakan adalah Analisis Pengaktifan Neutron (APN). Hasil penelitian kandungan logam berat Hg dan Cd pada ketiga lokasi menunjukkan pola akumulasi yang cenderung sama di stasiun muara dan laut, baik pengamatan dalam sedimen maupun air. Kandungan logam berat Hg dan Cd pada kerang Anadara granosa menunjukkan nilai yang bervariasi, namun cenderung dipengaruhi sedimen dan air pada dua media tersebut, terkait dengan sifatnya yang filter feeder dan sessil. Meskipun demikian variasi faktor lingkungan seperti suhu, salinitas, pH, kecepatan arus dan jenis sedimen juga memberikan kontribusi yang cukup penting. Kandungan logam berat Hg dan Cd dalam kolom air di Morodemak, Banjir Kanal Timur dan Mangkang telah melampaui batas yang diperbolehkan, demikian pula kandungan berat Hg pada kerang darah  sudah melampaui baku mutu yang ditetapkan. Kata kunci : Hg, Cd, Air, Sedimen, Anadara granossa,metode APN  The aims of the research is to analyze the heavy metals concentrations and the pollution level of Hg and Cd in water, sediment and blood mussels (Anadara granossa) at Morodemak, Banjir Kanal Timur and Mangkang Rivers. This research was conducted from August 2004 to January 2005 using The Neutron Activation Analysis Method. The results showed that the heavy metals concentrations of Hg and Cd  in water and sediment tend to show similar accumulation patern both on estuary and the sea. While the heavy metals concentrations of Hg and Cd in blood mussels (Anadara granossa) show a variated value, which was influenced by the environmental conditions, due to the their behaviour as filter feeder and sesille. The environmental factors such as temperature, salinity, pH, current dan sediment type also play an important role and contributed significantly to the heavy metals accumulation. The concentrations of Hg and Cd in water at the  Morodemak, Banjir Kanal Timur dan Mangkang was higher than standard quality, so does  the Hg concentration in blood mussels. Key words : Hg, Cd, water, sediment, Anadara granossa, NAA method.
Review on Dissolved Organic Carbon and Particulate Organic Carbon in Marine Environment Radha Karuna Kumari; P. M. Mohan
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.493 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.23.1.25-36

Abstract

Quantification the Dissolved and Particulate organic carbon in marine waters is an essential step towards ecosystem modeling and understanding carbon sequestration processes. A detailed view of estimated and recorded carbon concentration from Arctic to Antarctic is the prime goal of this review. This review compiles some of the important research work carried out in quantifying the organic carbon available in off shore and open waters and in coral reef environment. The cited literatures were collected, grouped and carefully analyzed to give a comprehensive view on current status of marine environment with regard to distribution of dissolved and particulate organic carbon. Keywords: DOC, POC, continental shelf waters, open sea waters, coral reef environment.
Variasi Musiman Oksigen Terlarut Di Perairan Teluk Banten : 1. Pola Sebaran Oksigen Terlarut Simanjuntak Marojahan
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1277.69 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.3.125-132

Abstract

Pengamatan kadar oksigen terlarut di perairan Teluk Banten telah dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali yaitu pada bulan April mewakili musim peralihan I, Agustus mewakili musim timur dan Oktober 2001 mewakili musim peralihan II. Contoh air laut diambil dengan menggunakan botol Nansen dari 20 stasiun pada permukaan (0 meter), 10 meter dan 25 meter untuk mengetahui distribusi oksigen terlarut serta faktor-faktor yang mempengaruhinya di perairan Teluk Banten.  Hasil pengamatan menunjukkan rata-rata kadar oksigen terlarut tertinggi di lapisan permukaan diperoleh pada bulan April (5,70 – 6,27 ml/l; 6,18 ± 0,11 ml/l). Pada bulan Agustus ditemukan kisaran kadar oksigen terlarut di lapisan permukaan (5,60 – 6,27 ml/l; 5,86 ± 0,09 ml/l) dan terendah (4,71 – 5,97 ml/l; 5,79 ± 0,22 ml/l) diperoleh pada bulan Oktober. Kadar oksigen terlarut yang rendah diperoleh dekat muara Sungai Pontang dan yang tinggi diperoleh di lepas pantai. Variasi musim terhadap kadar oksigen terlarut tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok dan masih dalam batas ambang kehidupan biota laut. Kata kunci : Oksigen Terlarut, Pola sebaran, Teluk Banten   Observation of dissolved oxygen concentration in Banten Bay was carried out in April, August and October 2001. Water sample taken by using Nansen bottle from 20 stations at surface (0 meter), 10 meter and 25 meter to know dissolved oxygen distribution and also factors influencing in the Banten Bay Waters. The results at surface layer showed that the highest concentrations of dissolved oxygen (5,70 – 6,27 mg/l; 6,18 ± 0,16 mg/l) were found on April. On August were ranged 5,60 – 6,27 mg/l; 5,86 ± 0,13 mg/l and lowest concentrations were found in October (4,71 – 5,97 mg/l; 5,79 ± 0,31 mg/l). The lowest concentration was found close to mouth of Pontang River, while the highest concentrations were found at offshore area. The effect of the monsoon did not show a significant difference and still in the suitable condition for marine life. Key words: Dissolved oxygen, distribution pattern, Banten Bay Waters
Carbon Stocks in Mangrove Ecosystems of Musi and Banyuasin Estuarine, South Sumatra Province (Stok Karbon Ekosistem Mangrove di Estuarin Musi dan Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan) Melki Melki; Isnaini Isnaini
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.201 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.3.131-138

Abstract

Hutan mangrove di daerah estuari mampu menghasilkan stok karbon yang sangat besar sebagai daerah perlindungan dan pemulihan yang efektif sebagai strategi mitigasi perubahan iklim yang efektif. Pemilihan ekosistem pesisir dalam strategi mitigasi memerlukan kuantifikasi stok karbon untuk menghitung emisi atau penyerapan berdasarkan waktu. Penelitian ini menghitung stok karbon pada ekosistem Musi Estuari Waters (MEW) dan Banyuasin Estuari Water (BEW), Provinsi Sumatera Selatan pada tipe vegetasi yang berbeda dan hubungan variabel lingkungan dengan stok karbon. Di tujuh lokasi dalam MEW dan BEW sampel vegetasi dan tanah. Hasil yang didapatkan adalah nilai yang lebih tinggi dari stok karbon di vegetasi dari lokasi III/MEW (7.600,92 mg.ha-1), stok karbon dalam tanah dari lokasi II/MEW (61.081,87 mg.ha-1) dan stok karbon di ekosistem dari lokasi II (64.548,54 mg.ha-1). Mangrove A. marina merupakan yang paling baik menyimpan stok carbon termasuk antara vegetasi dan tanah karena toleransi salinitas yang rendah. Kata kunci: mangrove, karbon, estuari, Musi, Banyuasin Mangrove forests in estuarines can have exceptionally large carbon stocks and their protection and restoration would constitute an effective mitigation strategy to climate change. Inclusion of coastal ecosystems in mitigation strategies require quantification of carbon stocks in order to calculate emissions or sequestration through time. This study quantified the ecosystem carbon stocks of the Musi Estuarine Waters (MEW) and Banyuasin Estuarine Water (BEW), Province of South Sumatra into different vegetation types and examined relationships of environmental variables with carbon stocks. At seven sites within MEW and BEW of vegetation and soil samples. The results that the higher value of carbon stock in vegetation from Site III/MEW (7.600,92 mg.ha-1), the carbon stock in soil from Site II/MEW (61.081,87 mg.ha-1) and carbon stock in ecosystem from Site II (64.548,54 mg.ha-1). Mangrove of A. marina the best to explain carbon stocks included both vegetation and soil because they can tolerate lower salinity. Keywords: mangrove, carbon, estuarine, Musi, Banyuasin
Analisis Aspek Ekologi Penatakelolaan Minawisata Bahari di Kepulauan Spermonde Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan Muhammad Kasnir
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.079 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.2.61-69

Abstract

Pemanfaatan berbagai kegiatan di perairan Kepulauan  Spermonde menyebabkan   kerusakan ekosistem terumbu karang dan padang lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek ekologi penatakelolaan pengembangan minawisata bahari. Penelitian dilaksanakan Maret-Agustus 2010 di Kepulauan Spermonde, yaitu pada Pulau Sapuli, P. Satando, P. Saugi, P. Cambang-cambang, P. Salemo, P. Sakoala, P. Sabangko, P.   Sagara, P. Sabutung, dan Gusung Torajae.  Penentuan stasiun didasarkan atas hasil citra satelit, jenis data yaitu;  kualitas air terdiri dari Suhu, salinitas, pH, kecerahan, kedalaman, kecepatan arus, dan substrat, DO, Fosfat dan nitrat. Kondisi penutupan karang menggunakan metode line intercept transect.  Hubungan antara karakteristik lingkungan perairan dengan ekosistem menggunakan Correspondence Analysis. Hasil diperoleh bahwa kondisi tutupan karang hidup dalam kategori rusak buruk hingga baik, kondisi kualitas air masih memungkinkan dilakukan untuk berbagai pemanfaatan, sedangkan hubungan karakteristik lingkungan peraira dengan kondisi terumbu karang ditemukan dua ciri kelompok, Luasan  peruntukan minawisata bahari diperoleh luasan yaitu wisata pantai 29,39 ha, wisata bahari 742,47 ha, karamba jaring apung 2.438,27 ha, budidaya rumput 136,98 ha dan perikanan karang di bagian luar perairan P. Sapuli, dan Gusung Torajae. Kata kunci: Ekologi, penatakelolaan dan minawisata bahari Diverse activities in Spermonde Islands cause serious damage on coral reef and seagrass ecosystems.  This research was aimed to study several aspects of marine ecology Marine fishery tourism development. The research was conducted from March to August 2010 at Spermonde Islands i.e. Sapuli, Satando, Saugi, Cambang-cambang, Salemo, Sakoala, Sabangko, Sagara, Sabutung and Gusung Torajae. The research stations were determined based on results of satellite images.  Data types were namely the quality of water temperature, salinity, pH, brightness, depth, flow velocity, and substrate, DO, phosphate and nitrate. The condition of coral            cover was determined by using line intercept transect. The relationship between characteristic ecosystems of aquatic environment was studied by using Correspondence Analysis. Results showed that the condition of live coral cover in the category of damaged bad to good, condition of water quality is still possible to do for various uses, while the relationship of environmental characteristics with the condition of coral reefs  found two features of the group, acquired the marine area of allocation Marine fishery tourism, tourist beach area of 29.39 ha, 742.47 ha of marine tourism, floating nets 2438.27 ha, 136.98 ha of grass cultivation and fisheries on the outer reef waters P. Sapuli, and Gusung Torajae Key words: Ecology, governance, marine fishery tourism
Persitensi Pestisida Organoklorin pada Sedimen dan air Laut dalam Kaitannya dengan Kelimpahan Komunitas Benthik di Perairan Pantai Mlonggo Jepara Chrisna Adhi Suryono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.848 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.173-179

Abstract

Senyawa pestisida merupakan senyawa persisten yang sangat sulit diuraikan dan akan terakumulasi dalam lemak suatu organisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan senyawa pestisida dan keterkaitannya dengan keanekaragaman makrozoobenthos di perairan Mlonggo Jepara. Metoda survey digunakan dlaam penelitian ini dengan mengambil 3 lokasi titik sampling dan ulangan sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan daerah muara sungai (stasiun II) menunjukkan kandungan pestisida yang lebih tinggi dan keanekaragaman hewan makrozoobenthos yang rendah bila dibandingkan dengan stasiun I (perairan sungai) dan stasiun III (perairan laut).Kata kunci: Pestisida; akumulasi; makrozoobentbos  The pesticide compound has characteristic difficult to degrade in the nature and accumulate in fat tissue of organism. The purpose of the research was to investigate the existance of pesticide compound of Mlonggo waters ,and their correlation to macrozoobenthic diversity. Sampling survey method was applied in this research which take place on 3 stations with 4 replicates. The results show, that the location on the mouth of river (station II) has the highest concentration of pesticide compound and lowest of macrozoobenthic diversity compared with stations I and III which located on the river and sea.Keywords: Pesticide; accumulation; macrozoobenthic
Kajian Perubahan Garis Pantai Semarang dengan Foto Udara Pankromatik Hitam Putih Sadiyatmo Sardiyatmo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.202 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.3.160-168

Abstract

Untuk mengetahui perubahan garis pantai Kota Semarang dilakukan dengan teknik penginderaan jauh, yaitu Identifikasi Foto Udara tahun 1942 dan Foto Udara tahun 1992. Identifikasi ini dilakukan dengan cara mengenali kenampakan karakteristik mengenai bentuk lahan, kemiringan lereng, penggunaan lahan, tingkat erosi dan deposisi pantai. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa daerah pantai Semarang yang mengalami perubahan dapat di identifikasi pada foto udara atau peta topografi I rupabumi dan secara keseluruhan dalam kurun waktu tahun 1942 - 1992 perubahan pantai seluas 11 3,75 Ha.Kata kunci : penggunaan lahan, erosi dan deposisi pantai.Investigation on the changes of Semarang coastal line was done by using remote sensing technique approach. The map use in this investigations were identify the arieal photograph of 1942 year and the arieal photograph in 1992. The identification is dane by knowing the characteristic of landform, slope gradient, land use, lever of erotions and deposition of shore. The researah resulte obtained that the Semarang shoreline was changed could be identified in the aerial photographs or tophography earthface map and in a totality since 1942 until 1992 the shoreline change of 113,75 hectares.Key words : land use, lever of erotions and deposition of shore.
Komposisi dan Kelimpahan Krustasea di Kawasan Mangrove Muara Sungai Bengawan Solo, Ujung Pangkah - Gresik Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih; Yudho Prasetyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.989 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.1.49-56

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis yang sangat penting dan krustasea adalah salah satu kelompok biota yang dominan hidup di habitat ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi, kelimpahan Crustasea di kawasan mangrove Muara Sungai Bengawan Solo Ujung Pangkah Gresik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-September 2004. Hasil penelitian menunjukan adanya 18 spesies krustasea dari 9 famili (total 1869 individu), yaitu Alpheus sp 1, Alpheus sp 2 (Alpheidae), Paradeistostoma (Camtandridae), Coenobitidae sp (Coenobitidae), Ozius sp (Eriphiidae), Metaplax sp, Perisesarma sp, Metopograpsus sp (Grapsidae), Lysioquillina sp (Lysioquillidae), llyoplax sp, Uca sp 1, Uca sp 2, Macrophthalmus sp (Ocypodidae), Clibanarus sp (Paguridae), Scylla sp 1, Scylla sp 2, Thalamita sp, dan Portunus sp (Portunidae). Spesies yang dominan adalah Metaplax sp dari famili Grapsidae. Nilai rata-rata kelimpahan 10-277 ind/m2. Rata-rata Krustasea di lokasi penelitian memiliki pola sebaran mengelompok (clumped) Kata kunci: crustasea, komposisi, kelimpahan, mangrove
Carrying Capacity and Site Suitability of Labuhan Terata Waters of Sumbawa During Transition Season (Karakteristik Fisika-KimiDaya Dukung dan Kesesuaian Lahan Perairan Labuhan Terata, Sumbawa untuk Pengembangan Budidaya Rumput Laut ) Neri Kautsari; Yudi Ahdiansyah
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.226 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.4.233-238

Abstract

Perairan Labuhan Terata, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat merupakan perairan yang sangat penting keberadaannya bagi masyarakat Labuhan Terata karena peran pentingnya sebagai daerah perikanan terutama dalam budidaya rumput laut, namun kajian daya dukung dan kesesuaian lahan perairan bagi pengembangan budidaya rumput laut masih belum banyak diketahui. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui daya dukung dan kesesuaian lahan perairan untuk pengembangan budidaya rumput laut. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2015. Data Arus, suhu, pH, kecerahan, oksigen terlarut, salinitas, nitrat dan fosfat diambil dari permukaan perairan pada lima stasiun pengamatan. Suhu perairan diukur dengan thermometer Hg, oksigen terlarut dengan menggunakan DO meter, pH perairan dengan pH meter, nitrat dan fosfat dianalisis dengan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kesesuaian lahan ke–lima stasiun berada dalam kategori sesuai bersyarat. Kata kunci: daya dukung, kesesuaian lahan, rumput laut, perairan Labuhan Terata, Sumbawa Labuhan Terata Waters, Sumbawa, West Nusa Tenggara is one of the waters are very important for Labuhan Terata peoples because function for fisheryes especially seaweed cultivation, but asses carrying capacity and site suitability of waters is minus. The research objective was to assess carrying capacity and site suistability in the Labuhan Terata waters at transititions season. This research have been carried out in Mey to June 2015. Current, brightness, temperature, dissolved oxygen (O2), acidity (pH), salinity, phosphate and nitrate parameters was measured directly from a layer surface at five research stations. The degree of temperature was measured thermometer Hg, acidity (pH) was measured with pH meter, dissolved okxygen was measured dissolved oxygen meter (DO meters), measurement of nutriens (phosphate & nitrate) concentration used spectrophotometri method. The result of the analysis showed that the value of site suitability of the five stations are in the category conditional suitable. Key words: carrying capacity, Site Suitablity, seaweed culture Labuhan Terata Waters, Sumbawa

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 30, No 3 (2025): Ilmu Kelautan Vol 30, No 2 (2025): Ilmu Kelautan Vol 30, No 1 (2025): Ilmu Kelautan Vol 29, No 4 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 3 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 2 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 1 (2024): Ilmu Kelautan Vol 28, No 4 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 3 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 2 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 1 (2023): Ilmu Kelautan Vol 27, No 4 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 3 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 2 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue