cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
DHARMA EKONOMI
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Economy,
Arjuna Subject : -
Articles 135 Documents
Dampak perubahan lingkungan bisnis terhadap perusahaan, organisasi , manajemen strategi dan akuntansi manajemen. Hedy Kuswanto
DHARMA EKONOMI Vol 20, No 37 (2013)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.739 KB)

Abstract

Dalam memasuki abad 21 telah terjadi perubahan besar yang bersamaan dalam lingkungan bisnis yaitu era globalisasi dalam bisnis, pasar, teknologi dan informasi serta manajemen mutu yang  berdampak pada munculnya perusahaan digital yang menguasai dunia sehingga organisasi dan manajemen perusahaan banyak mengalami perubahan karena masing-masing berebut dalam keunggulan bersaing. Untuk itu tehnik-tehnik baru dalam akuntansi manajemen bermunculan untuk menemukan cost paling rendah dan hasil produk dan jasa yang berkualitas.                                Kata Kunci: Lingkungan bisnis, keunggulan bersaing,akuntansi manajemen.
PROBLEMATIKA BURUH DALAM MENGHADAPI SISTEM KERJA KONTRAK DAN OUTSOURCING Wachid Fuady Rahmat
DHARMA EKONOMI Vol 17, No 31 (2010)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (38.356 KB)

Abstract

Lahirnya UU NO 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, mengatur dan melegalkan tentang system kerja kontrak dan outsourcing. Dalam pasal 59 diatur tentang system kenja kontrak, sedangkan pasal 64-66 mengatur tentang outsourcing. Pasal 64 menyebutkan ahwa perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyedia jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis. Batalan kerja kontrak ( pekerjaan waktu tertentu ) hanya diizinkan untuk pekerjaan pendukung, tetapi dalam prakteknya banyak penyimpangan yang bahkan merambah luas kesemua ranah pekerjaan, hal ini dikarenakan tidak adanya sanksi hokum yang tegas dan lemahnya pengawasan dari pemerintah. Kondisi tersebut tentu saja banyak mendatangkan penderitaan dan perlawanan dari kaum uruh. Sikap solutif dalam hubungan Industrial harus memandang perusahaan sebagai mitra dan buruh tidak dianggap sebagi alat produksi semata, sehingga terjadi proses memanusiakan manusia.  kata kunci : kerja kontrak, outsourcing, buruh, huungan Industrial
KEKUATAN MEREK MENJADI ALTERNATIF STRATEGI BERSAING PADA ERA PEMASARAN KONTEMPORER sb handayani
DHARMA EKONOMI Vol 17, No 31 (2010)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.575 KB)

Abstract

Sejak dibentuknya ACFTA (ASEAN – China Free Trade Agrement) pada tahun 2001,pertumbuhan ekonomi Cina tidak boleh dipandang sebelah mata, hal ini menjadi suatu kenyataan yang harus kita  hadapi  .  Perkembangan ekonomi  Cina sungguh sangat merisaukan  industri nasional ,hal ini di karenakan  hampir semua anggota ACTFA memiliki produk sejenis dan  harus bersaing dalam  mencari daerah sasaran bagi pasarnya.Sebagaimana kita tahu bahwa produk-produk Cina  telah  membanjiri pasar domestik maupun pasar internasional kita, kondisi tersebut   tentu saja sungguh tidak menguntungkan bagi industri kita,  karena serbuan produk-produk  Cina    mempengaruhi kehidupan    industri nasional  maupun industri internasional dimana   mereka akan  kehilangan pasar ekspornya.          Berdasarkan data dari departemen perdagangan, kontribusi ekspor Indonesia dibeberapa Negara cenderung menurun dari tahun 1996 sampai dengan 2003. Sementara   Cina   terus agresif meningkatkan pangsa pasarnya di pasar ekpor dunia. Bahkan Cina justru   mampu mencapai peningkatan ekspor yang sangat signifikan yaitu sebesar 33,78 persen pada sektor industri tekstil dan produk tekstil, melebihi India (13,6%) dan Vietnam (1,8 %)  .  Untuk Industri mebel, produk Indonesia bersaing ketat dengan produk Cina di pasar ekspor Amerika. Namun Cina berhasil merebut pasar ekspor Amerika dari Indonesia , ironisnya, sebagian besar bahan baku industri Cina berasal dari Indonesia.  Kasus pengakuan negara tetangga kita (Malaysia) atas produk Batik Indonesia menambah persoalan persoalan yang sedang dihadapi industri nasional  di era yang semakin terbuka ini.     Melihat kenyataan di atas bisa kita gambarkan bahwa industri nasional harus bangkit untuk menghadapi perusahaan-perusahaan global di pasar internasional, karena saat ini banyak sekali perusahaan nasional yang telah didominasi oleh perusahaan global , dari  perusahaan tekstil, elektronik,makanan, sampai munculnya bisnis telekomunikasi  & perbankan global . Dalam kebanyakan industri jelas bahwa perusahaan yang ingin bertahan hidup  di era seperti saat  ini adalah perusahaan yang berorientasi secara global, yang mampu melakukan perubahan-perubahan  (dinamis) untuk  menghadapi tantangan dan mendapatkan kesempatan memasuki pasar internasional (pasar global) (Warren J. Keegan,1996)Dunia saat ini berada di era  keterbukaan  yang  telah mengubah secara drastis pola produksi  yang semula berupaya memenuhi semua kebutuhan kini lebih ditekankan pada spesialisasi , ditambah perlu menggunakan   merek  (brand) atau tidak untuk produk tersebut. Setiap perusahaan yang akan memasuki pasar internasional perlu memutuskan apakah harus menggunakan merek sendiri( manufacturer’s brand) atau merek perantara (Private brand). (Fandi Tjiptono,1997).Sebagaimana di ungkapkan oleh  Michael Porter, 1980,        mengemukakan  3 strategi generik yaitu : Diferensiasi, Keunggulan biaya menyeluruh  dan Fokus. Bagaimana  menciptakan keunggulan (keunikan)   produk dilihat dari kacamata pelanggan  adalah senjata persaingan  ( competitieve advantage ).Produk  yang sudah unggul secara otomatis mendorong terbangunnya  persepsi (  brand image ) di benak konsumen . Harga, bisa menjadi keunggulan saat produk kita mampu menguasai sebagaian besar luas pasar  dengan strategi harga murah , seperti yang dilakukan  Cina menggempur produk-produk pesaingnya , sebaliknya ada juga keunggulan lain seperti unggul dalam  kualitas barang, kekuatan merek (brand)   termasuk citra  perusahaannya, keanekaragaman produk pun juga bisa menjadi keungulan karena memberikan banyak pilihana kepada calon konsumennya. Biasanya    produk-produk berkwalitas   berbiaya produksi  lebih   tinggi  , dan rentetannya   harga pun menjadi tinggi pula.Nah yang menjadi persoalan pemasaran  saat ini bagaimana  produk produk nasional bisa diakui secara global  pada era kontemporer seperti sekarang ini  ? Bagaimana dengan produk-produk yang memberi ciri khas budaya bangsa Indonesia seperti hasil industri batik yang beberapa pekan lalu sempat di akui oleh negara tetangga kita (Malaysia ) ? Apakah batik juga mampu menciptakan kekuatan merek diera pemasaran yang mengglobal ?
KAJIAN MODAL SOSIAL DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN Sunyoto, Yonatan
DHARMA EKONOMI Vol 17, No 32 (2010)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.249 KB)

Abstract

Aliran  New Intstitutional Economiss (NIE) dimulai tahun-tahun 1930-an dari Cabang-cabang NIE yaitu sejarah ekonomi baru, pilihan publik & ekonomi politik, ekonomi sosial baru, ekonomi biaya transaksi, theori tindakan kolektif dan ekonomi & hukum yang nantinya menghasilkan cabang-cabang modal sosial , teori hak dan ekonomi informasi. Modal sosial yang merupakan cabang ilmu dari NIE menekankan pentingnya transformasi dari hubungan sosial sesaat dan rapuh, seperti pertetanggaan, pertemanan, atau kekeluargaan; menjadi hubungan bersifat jangka panjang yang diwarnai munculnya kewajiban terhadap orang lain. Pertanian identik dengan kemiskinan, oleh karena pemerintah perlu memprioritaskan peningkatan ekonomi rakyat khususnya dibidang pertanian, mendorong produktivitas pertanian yang dapat bersaing dengan produk pertanian lua negeri, sehingga tidak terjadi impor beras, gula, kedelai dll.. Pemberdayaan masyarakat perlu dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan.Kata kunci: NIE, modal sosial, pemberdayaan masyarakat.
PEER REVIEW KANTOR AKUNTAN PUBLIK HS, Endah Winarti; susilo, heru -
DHARMA EKONOMI Vol 17, No 32 (2010)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.544 KB)

Abstract

Akuntan sebagai industri jasa pemeriksa selalu dituntut mengedepankan mutu pekerjaan. Salah satu upaya dalam mencapai hal tersebut dapat ditempuh dengan telaah/review oleh rekan sejawat. Namun demikian tidak semulus yang dibayangkan dalam pelaksanaan, karena menyangkut independensi, loyalitas profesi dan subjektifitas yang tendensius dan pihak-pihak yang berkepentingan. Hasil review dapat berdampak pada citra kantor akuntan publik semakin melambung maupun jatuh, atas dasar hal ini, maka peer review juga merupakan mekanisme kendali dan pembelajaran bagi mutu pekerjaan akuntan, jika hal ini dipublikasikan dan mempunyai sanksi yang tegas, namun jika sebaliknya, maka akan tidak ada artinya. ( Kata kunci: peer review, mutu pekerjaan, kantor akuntan publik ) 
PENGARUH KEBIJAKAN UTANG, KEBIJAKAN DIVIDEN, RISIKO INVESTASI DAN PROFITABILITAS PERUSAHAN TERHADAP SET KESEMPATAN INVESTASI -, subchan; -, sudarman -
DHARMA EKONOMI Vol 18, No 33 (2011)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.333 KB)

Abstract

Dalam melakukan initial public offering (IPO) perusahaan bisanya menggunakan hutang dalam memenuhi kebutuhan dananya. Hal ini dilakukan dengan penerbitan obligasi maupun hutang kepada kreditur.  Dampak keputusan pendanaan tersebut sangat penting bagi operasional perusahaan, namun kontroversi mengenai keputusan pendanaan jangka panjang hingga saat ini masih terjadi. Menurut Husnan (2002) pendanaan jangka panjang dan struktur modal perusahaan merupakan dua variabel yang tidak dapat dipisahkan dari perspektif manajemen keuangan.Hubungan kebijakan utang, kebijakan dividen, risiko dan profitabilitas dengan set kesempatan investasi menarik beberapa peneliti.  Set kesempatan Investasi merupakan keputusan investasi dalam bentuk kombinasi aktiva yang dimiliki (asset-in place) dan pilihan pertumbuhan (growth option) pada masa yang akan datang (Kusuma, 2000). Menurut Kusuma, (2000) set kesempatan investasi merupakan nilai perusahan yang besarnya tergantung pada pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen dimasa yang akan datang, yang pada saat ini merupakan pilihan-pilihan investasi yang diharapkan akan menghasilkan return yang lebih besar. Komponen dari nilai perusahaan merupakan hasil dari pilihan–pilihan untuk membuat investasi dimasa yang akan datang adalah merupakan set kesempatan investasi.Set Kesempatan investasi dipengaruhi oleh seberapa besar hutang yang digunakan dalam struktur modal. Karena penggunaan modal saham atau hutang memiliki konsekuensi masing-masing. Penggunaan saham yang terlalu banyak dengan mengabaikan pemanfaatan hutang berdampak pada tingginya kewajiban bagi perusahaan untuk membayarkan dividen. Hal ini menyebabkan hilangnya kesempatan bagi perusahaan untuk memanfaatkan laba untuk kepentingan pertumbuhan apabila pemegang saham tidak menghendaki, Fijrijanti dan Hartono (2004). Demikian juga sebaliknya, apabila perusahaan 100% menggunakan hutang, maka perusahaan akan menanggung beban kewajiban kepada kreditur yang tinggi.Menurut Jaggi dan Gul (1999) dalam Lestari menunjukan hubungan yang positif antara aliran kas bebas dan kebijakan utang perusahaan untuk perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi yang rendah dan hubungan yang positif antara kebijakan utang,aliran kas bebas yang tinggi untuk perusahaan yang memiliki kesempatan investasi  yang rendah ,lebih jelas pada perusahaan yang size-nya besar.  Menurut Fijriyanti dan Hartono (2004) kebijakan pendanaan berimplikasi pada set kesempatan investasi dan sebaliknya. Tindakan perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi besar relatif lebih fleksibel untuk bertindak oportunistik dan sulit dideteksi, karena real option (tidak sebagaimana real asset) sulit diobservasi tanpa informasi dari pihak internal perusahaan. Pengaruh kebijakan hutang terhadap set kesempatan investasi juga dikemukakan oleh Fama et.al (2000) yang menyatakan bahwa keseimbangan financing cost (biaya pendanaan) mendorong perusahaan yang memunyai investasi besar cenderung mempunyai hutang yang tinggi. Semakin besar kesempatan investasi, maka semakin besar perusahaan menggunakan dana eksternal khususnya hutang, apabila retained earning dan internal equity, tidak mencukupi dan sebaliknya semakin tinggi menurut tradeoff theory penggunaan hutang yang tinggi akan memberikan manfaat bagi perusahaan, karena manfaat bersih dari penggunaan hutang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang ditimbulkan.Menurut Jones dan Sharma (2001) dalam Lestari (2004) hubungan antara set kesempatan investasi  dan debt equity  ratio dan dividend yield adalah negatif yang berarti perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi  yang tinggi akan memiliki debt equity ratio dan devidend yield yang rendah. Menurut Husnan (2002) bagi perusahaan kebijakan dividen adalah sebuah kebijakan yang sulit ditebak (puzzle). Untuk meningkatkan nilai perusahaan, maka disamping membuat kebijakan dividen maka perusahaan dituntut untuk tumbuh. Pertumbuhan dapat diwujudkan dengan menggunakan kesempatan investasi sebaik-baiknya. Investasi berhubungan dengan pendanaan dan apabila investasi sebagian besar didanai internal equity maka akan mempengaruhi dividen yang dibagikan. Semakin besar investasi semakin berkurang dividen yang dibagikan. Apabila dana internal equity kurang mencukupi dari dana yang dibutuhkan untuk investasi maka bisa dipenuhinya dari eksternal khususnya dari hutang. Perusahaan yang cenderung menggunakan sumber dana eksternal untuk mendanai tambahan investasi akan membagikan dividen yang lebih besar.Lestari (2004), Fijriyanti dan Hartono (2000), Subekti dan Kusuma (2000) membuktikan perusahaan yang tumbuh memberikan deviden yang lebih kecil dari perusahaan yang tidak tumbuh. Karena, laba yang ditahan yang dihasilkan perusahaan sebagian perusahaan di alokasikan untuk melakukan ekspansi. Menurut Copeland (2010) salah satu bentuk kebijakan dividen adalah kebijakan dividen optimal yaitu kebijakan yang menciptakan keseimbangan antara dividen saat ini dan pertumbuhan di masa yang akan datang (kesempatan investasi). Pendapat lain mengenai hubungan antara kebijakan dividen dan set kesempatan investasi Fijrijanti dan Hartono (2004) yang menyatakan bahwa perusahaan yang membayar dividen tinggi diasumsikan memiliki kesempatan pertumbuhan yang tinggi, karena pembayaran dividen merupakan sinyal dari perusahaan mengenai potensi pertumbuhan di masa yang akan datang.Selain kebijakan dividen dan kebijakan hutang, risiko merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi Set Kesempatan Investasi.  Dalam dunia usaha, hampir semua investasi mengandung unsur ketidak pastian atau resiko. Investor tidak tahu secara pasti berapa dan apa yang akan diperolehnya dari investasi yang dilakukannya. Dalam keadaan seperti ini dapat dikatakan bahwa investor menghadapi resiko dalam investasi yang dilakukannya. Karena investor menghadapi kesempatan investasi yang beresiko, pilihan investasi tidak dapat hanya mengandalkan pada tingkat keuntungan yang diharapkan saja, sehingga Set Kesempatan Investasi harus dipertimbangkan terhadap faktor risiko, Lestari (2004).Resiko disinonimkan dengan ketidakpastian, karena resiko mengacu pada adanya variasi nilai antara yang diperkirakan dengan nilai-nilai observasi. Dengan demikian resiko dapat diartikan sebagai adanya ketidakpastian tentang nilai-nilai yang akan terjadi. D’ Saouza dan Saxena (1999) dalam Lestari menunjukan terdapat hubungan yang negatif  antara resiko investasi  dengan set kesempatan investasi. Menurut Van Horn dan Wachowicz, JR (1997; 94) mendifinisikan resiko sistematis dan resiko tidak sistematis sebagai resiko sistematis (Systematic risk) dan Resiko tidak sistematis (unsystematic risk). Lestari (2004) yang menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi tidak menyukai pembiayaan yang akan meningkatkan leverage. Hal ini berkaitan dengan leverage akan meningkatkan risiko bagi perusahaan untuk dinyatakan bangkrut oleh debtholder, jika tidak bisa mebayar hutang. Pendapat lain mengenai hubungan risiko dengan set kesempatan investasi dinyatakan oleh Al Najjar dan Belkaoui (1999) dalam Lestari (2004) yang menyatakan bahwa hubungan antara pertumbuhan dengan risiko bisa positif atau negatif tergantung pada nilai relatif parameter penelitian. Hasil penelitian Lestari (2004) membuktikan bahwa risiko sistematik berkaitan dengan set kesempatan tumbuh yang dimiliki perusahaan.Sedangkan profitabilitas berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan aktiva yang dipercayakan kepada manajemen. Semakin tinggi profitabilitas, maka semakin tinggi kas yang tersedia di perusahaan untuk mendanai investasi, dan sebaliknya semakin kecil profitabilitas, maka semakin rendah kemampuan perusahaan dalam melakukan pendanaan internal.Menurut Alhajjar dan Riahi Belkaoui (2001) dalam Lestari menyatakan hubungan antara profitabilitas dengan set kesempatan investasi adalah positif. Hubungan antara profitabilitas dengan set kesempatan investasi dinyatakan oleh Prasetyo (2000) yang menyatakan bahwa nilai perusahaan sebagai kombinasi income generating asset-in-place dan growth ooportunities. Profitabilitas yang tinggi memberikan sinyal mengenai pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, karena sebagian besar profitabilitas akan ditanamkan kembali dalam bentuk investasi untuk meningkatkan nilai perusahaan. Hasil penelitian Chandra (2006) juga menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi cenderung memiliki set kesempatan investasi yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan dengan profitabilitas rendah. Hasil tersebut mendukung Hasil penelitian Lestari (2004) yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap set kesempatan investasi.Penelitian ini akan terfokus pada Apparel and Other Textile Products yang saat ini kepemilikannya identik dengan penanam modal asing. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, maka penelitian ini diberi judul “Pengaruh Kebijakan Utang, Kebijakan Dividen, Risiko Investasi dan Profitabilitas Perusahaan Terhadap Set Kesempatan Investasi”.   
PENINGKATAN LOYALITAS PELANGGAN DALAM KONTEKS BIAYA BERPINDAH Ken Sudarti
DHARMA EKONOMI Vol 20, No 37 (2013)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.658 KB)

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang peran biaya berpindah dalam memoderasi variabel kualitas pelayanan, persepsi nilai dan citra corporat terhadap loyalitas pelanggan. Kualitas pelayanan, persepsi nilai dan citra corporat tidak selalu berhubungan positif dengan loyalitas, ada variabel biaya berpindah yang memediasi variabel-variabel tersebut. Jika biaya berpindah dipersepsikan tinggi, maka konsumen cenderung lebih bersedia untuk tetap menjalin hubungan dengan perusahaan tanpa memperhatikan persepsi nilai,kualitas pelayanan dan citra. Kebalikanya, jika biaya berpindah rendah, maka persepsi nilai yang rendah, kualitas pelayanan yang buruk dan citra yang tidak baik dapat menyebabkan konsumen berpindah ke perusahaan lain. Keyword: kualitas pelayanan, persepsi nilai, biaya berpindah, loyalitas
DAMPAK MODEL IKLAN DENGAN ENDORSER SELEBRITIS DAN NON SELEBRITIS TERHADAP IMAGE KONSUMEN Fasochah -
DHARMA EKONOMI Vol 17, No 32 (2010)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.27 KB)

Abstract

Salah satu cara untuk mengenal konsumen adalah mengetahui sikap konsumen, karena sikap akan berdampak padaperilaku. Dengan diketahuinya sikap maka produsen dapat mengetahui prospek produknya.Konsumen sasaran atau audience memiliki keterbatasan memori untuk mengingat keseluruhan dari penayangan iklan pada saat audience menyaksikan acara di televisi, piluhan iklan ikut ditampilkandi sela-sela acara, namun hanya beberapa produk atau merek yang terekam oleh audience, sehingga seorang pembuat iklan dituntut untuk memodifikasi ide kreatif dan untuk menampilkan karakter dan image produk yang terdeferensiasi yang dapat diingat oleh konsumen sasaran.Kesukaan audience pada sebuah iklan tidak lepas dari pendukung iklan itu sendiri yaitu model (endoser). Dua teknik yang digunakan pembuat iklan (advertising agency) yaitu menggunakan selebritis dan non-selebritis sebagai endoser.Hal yang menarik dari dua strategi komunikasu yang dilakukan yaitu menggunakan dan tidak menggunakan endoser dari kalangan selebritis adalah keduanya memiliki kekhasan dalam membawa image produk atau perusahaan.Namun tidak menjadi jaminan dari ketertarikan sehingga iklan yang menggunakan endorser selebritis kan efektif tergantung pula apabila pesan iklan yang disampaiakan sebagai pembahasan terhadap public.Kata kunci : Iklan (advertising), Model (Endorser), sikap merek (brand attitude), minat beli (purchase intention)
RELEVANSI POSTMODERNISME DALAM PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DI ERA GLOBAL Endah Winarti HS; heru - susilo
DHARMA EKONOMI Vol 17, No 32 (2010)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.899 KB)

Abstract

Federic Jameson mengartikan postmodernisme adalah logika cultural yang membawa transformasi dalam suasana kebudayaan umumnya. Ia mengaitkan tahapan-tahapan modernisme dengan kapitalis monopoli, sedang postmodernisme dengan kapitalisme pasca perang dunia kedua. Menurutnya, postmodernisme muncul berdasarkan dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan global kapitalisme multinasional kini. Dengan demikian, istilah postmodernisme dipahami sebagai segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.Peran utama MSDM di perusahaan multinasional tipikal adalah untuk mendukung aktivitas-aktivitas perusahaan (dan fungsi SDM lokal) di setiap pasar domestik di mana perusahaan induk berada. Fungsi MSDM mungkin lebih baik didesentralisasi. Ketika perusahaan terlibat dalam industri global dan melaksanakan strategi bisnis mendunia, kebutuhan koordinasi dan sentralisasi untuk konsistensi kebijaksanaan dan praktik SDM mendunia akan menjadi lebih penting.(Kata Kunci: Postmodernisme, Sumber Daya Manusia)Federic Jameson mengartikan postmodernisme adalah logika cultural yang membawa transformasi dalam suasana kebudayaan umumnya. Ia mengaitkan tahapan-tahapan modernisme dengan kapitalis monopoli, sedang postmodernisme dengan kapitalisme pasca perang dunia kedua. Menurutnya, postmodernisme muncul berdasarkan dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan global kapitalisme multinasional kini. Dengan demikian, istilah postmodernisme dipahami sebagai segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.Peran utama MSDM di perusahaan multinasional tipikal adalah untuk mendukung aktivitas-aktivitas perusahaan (dan fungsi SDM lokal) di setiap pasar domestik di mana perusahaan induk berada. Fungsi MSDM mungkin lebih baik didesentralisasi. Ketika perusahaan terlibat dalam industri global dan melaksanakan strategi bisnis mendunia, kebutuhan koordinasi dan sentralisasi untuk konsistensi kebijaksanaan dan praktik SDM mendunia akan menjadi lebih penting.(Kata Kunci: Postmodernisme, Sumber Daya Manusia)Federic Jameson mengartikan postmodernisme adalah logika cultural yang membawa transformasi dalam suasana kebudayaan umumnya. Ia mengaitkan tahapan-tahapan modernisme dengan kapitalis monopoli, sedang postmodernisme dengan kapitalisme pasca perang dunia kedua. Menurutnya, postmodernisme muncul berdasarkan dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan global kapitalisme multinasional kini. Dengan demikian, istilah postmodernisme dipahami sebagai segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.Peran utama MSDM di perusahaan multinasional tipikal adalah untuk mendukung aktivitas-aktivitas perusahaan (dan fungsi SDM lokal) di setiap pasar domestik di mana perusahaan induk berada. Fungsi MSDM mungkin lebih baik didesentralisasi. Ketika perusahaan terlibat dalam industri global dan melaksanakan strategi bisnis mendunia, kebutuhan koordinasi dan sentralisasi untuk konsistensi kebijaksanaan dan praktik SDM mendunia akan menjadi lebih penting.(Kata Kunci: Postmodernisme, Sumber Daya Manusia)Federic Jameson mengartikan postmodernisme adalah logika cultural yang membawa transformasi dalam suasana kebudayaan umumnya. Ia mengaitkan tahapan-tahapan modernisme dengan kapitalis monopoli, sedang postmodernisme dengan kapitalisme pasca perang dunia kedua. Menurutnya, postmodernisme muncul berdasarkan dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan global kapitalisme multinasional kini. Dengan demikian, istilah postmodernisme dipahami sebagai segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.Peran utama MSDM di perusahaan multinasional tipikal adalah untuk mendukung aktivitas-aktivitas perusahaan (dan fungsi SDM lokal) di setiap pasar domestik di mana perusahaan induk berada. Fungsi MSDM mungkin lebih baik didesentralisasi. Ketika perusahaan terlibat dalam industri global dan melaksanakan strategi bisnis mendunia, kebutuhan koordinasi dan sentralisasi untuk konsistensi kebijaksanaan dan praktik SDM mendunia akan menjadi lebih penting.(Kata Kunci: Postmodernisme, Sumber Daya Manusia)Federic Jameson mengartikan postmodernisme adalah logika cultural yang membawa transformasi dalam suasana kebudayaan umumnya. Ia mengaitkan tahapan-tahapan modernisme dengan kapitalis monopoli, sedang postmodernisme dengan kapitalisme pasca perang dunia kedua. Menurutnya, postmodernisme muncul berdasarkan dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan global kapitalisme multinasional kini. Dengan demikian, istilah postmodernisme dipahami sebagai segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.Peran utama MSDM di perusahaan multinasional tipikal adalah untuk mendukung aktivitas-aktivitas perusahaan (dan fungsi SDM lokal) di setiap pasar domestik di mana perusahaan induk berada. Fungsi MSDM mungkin lebih baik didesentralisasi. Ketika perusahaan terlibat dalam industri global dan melaksanakan strategi bisnis mendunia, kebutuhan koordinasi dan sentralisasi untuk konsistensi kebijaksanaan dan praktik SDM mendunia akan menjadi lebih penting.(Kata Kunci: Postmodernisme, Sumber Daya Manusia)Federic Jameson mengartikan postmodernisme adalah logika cultural yang membawa transformasi dalam suasana kebudayaan umumnya. Ia mengaitkan tahapan-tahapan modernisme dengan kapitalis monopoli, sedang postmodernisme dengan kapitalisme pasca perang dunia kedua. Menurutnya, postmodernisme muncul berdasarkan dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan global kapitalisme multinasional kini. Dengan demikian, istilah postmodernisme dipahami sebagai segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.Peran utama MSDM di perusahaan multinasional tipikal adalah untuk mendukung aktivitas-aktivitas perusahaan (dan fungsi SDM lokal) di setiap pasar domestik di mana perusahaan induk berada. Fungsi MSDM mungkin lebih baik didesentralisasi. Ketika perusahaan terlibat dalam industri global dan melaksanakan strategi bisnis mendunia, kebutuhan koordinasi dan sentralisasi untuk konsistensi kebijaksanaan dan praktik SDM mendunia akan menjadi lebih penting.(Kata Kunci: Postmodernisme, Sumber Daya Manusia)Federic Jameson mengartikan postmodernisme adalah logika cultural yang membawa transformasi dalam suasana kebudayaan umumnya. Ia mengaitkan tahapan-tahapan modernisme dengan kapitalis monopoli, sedang postmodernisme dengan kapitalisme pasca perang dunia kedua. Menurutnya, postmodernisme muncul berdasarkan dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan global kapitalisme multinasional kini. Dengan demikian, istilah postmodernisme dipahami sebagai segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.Peran utama MSDM di perusahaan multinasional tipikal adalah untuk mendukung aktivitas-aktivitas perusahaan (dan fungsi SDM lokal) di setiap pasar domestik di mana perusahaan induk berada. Fungsi MSDM mungkin lebih baik didesentralisasi. Ketika perusahaan terlibat dalam industri global dan melaksanakan strategi bisnis mendunia, kebutuhan koordinasi dan sentralisasi untuk konsistensi kebijaksanaan dan praktik SDM mendunia akan menjadi lebih penting.(Kata Kunci: Postmodernisme, Sumber Daya Manusia)Federic Jameson mengartikan postmodernisme adalah logika cultural yang membawa transformasi dalam suasana kebudayaan umumnya. Ia mengaitkan tahapan-tahapan modernisme dengan kapitalis monopoli, sedang postmodernisme dengan kapitalisme pasca perang dunia kedua. Menurutnya, postmodernisme muncul berdasarkan dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan global kapitalisme multinasional kini. Dengan demikian, istilah postmodernisme dipahami sebagai segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.Peran utama MSDM di perusahaan multinasional tipikal adalah untuk mendukung aktivitas-aktivitas perusahaan (dan fungsi SDM lokal) di setiap pasar domestik di mana perusahaan induk berada. Fungsi MSDM mungkin lebih baik didesentralisasi. Ketika perusahaan terlibat dalam industri global dan melaksanakan strategi bisnis mendunia, kebutuhan koordinasi dan sentralisasi untuk konsistensi kebijaksanaan dan praktik SDM mendunia akan menjadi lebih penting.(Kata Kunci: Postmodernisme, Sumber Daya Manusia)
PENGAMPUNAN PAJAK (TAX AMNESTY) DAN SANKSI PAJAK TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK (TAX COVERAGE) DI INDONESIA CRITICAL REVIEW sutono -; Bagus Kusuma Ardi
DHARMA EKONOMI Vol 26, No 50 (2019)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.493 KB)

Abstract

ABSTRACT Taxes are the largest source of state revenue for Indonesia. This is because Indonesia's state revenue still depends on the tax revenue sector, so that the level of compliance of taxpayers (Tax Covarage) plays an important role in the success of the government in determining the amount of state revenue from the tax sector. One factor that can affect the level of tax compliance in Indonesia is tax amnesty. The Tax Amnesty Program is a form of giving tax relief to taxpayers in an effort to increase tax compliance. With the Tax Amnesty program, it is expected that taxpayers will be more tax-compliant due to getting tax breaks for unpaid taxes. In addition to tax amnesty, tax sanctions can also affect the level of tax compliance in Indonesia. Tax sanction is an action in the form of punishment given to taxpayers who violate taxation rules or laws. These tax regulations or laws are guidelines for taxpayers to do something related to taxation. If taxpayers violate regulations, both regulations relating to general provisions and tax procedures, then taxpayers will be given sanctions, in the form of tax sanctions. With this tax sanction, it is expected that taxpayers can fulfill all tax obligations and implement their tax rights.  Keywords: Tax Amnesty, Tax Sanctions, Taxpayer Compliance AbstrakPajak adalah sumber penerimaan negara Indonesia yang terbesar. Hal ini dikarenakan pendapatan negara Indonesia masih bergantung pada sektor penerimaan pajak, sehingga dengan demikian tingkat kepatuhan Wajib Pajak (Tax Covarage) memegang peranan penting terhadap keberhasilan pemerintah dalam menentukan besarnya penerimaan negara dari sektor pajak. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak di Indonesia adalah pengampunan pajak (Tax Amnesty). Program Tax Amnesty ini merupakan salah satu bentuk pemberian keringanan pajak yang ditujukan kepada Wajib Pajak sebagai upaya untuk peningkatan kepatuhan pajak. Dengan program Tax Amnesty diharapkan Wajib Pajak lebih patuh pajak dikarenakan mendapatkan keringanan pajak untuk pajak yang belum terbayarkan. Selain pengampunan pajak, sanksi pajak juga dapat mempengaruhi terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak di Indonesia. Sanksi pajak merupakan suatu tindakan berupa hukuman yang diberikan kepada Wajib Pajak yang melanggar peraturan atau undang-undang perpajakan. Peraturan atau undang-undang perpajakan ini merupakan rambu-rambu bagi Wajib Pajak dalam melakukan sesuatu yang berkaitan dengan perpajakan. Apabila Wajib Pajak melanggar peraturan, baik peraturan yang berkaitan dengan ketentuan umum maupun tata cara perpajakan, maka Wajib Pajak akan diberikan sanksi, yang berupa sanksi pajak. Dengan pemberian sanksi pajak ini diharapkan Wajib Pajak dapat memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya. Kata kunci: Pengampunan Pajak, Sanksi Pajak, Kepatuhan Wajib Pajak        

Page 8 of 14 | Total Record : 135