TEKNIK
Journal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah dari berbagai disiplin ilmu rekayasa/keteknikan. Artikel-artikel yang dipublikasikan di Jurnal TEKNIK meliputi hasil-hasil penelitian ilmiah asli (prioritas utama), artikel ulasan ilmiah yang bersifat baru (tidak prioritas), atau komentar atau kritik terhadap tulisan ilmiah yang dipublikasikan oleh Jurnal TEKNIK.
Articles
531 Documents
Analisis Pengaruh Perubahan Kekakuan Pondasi Kapal Ikan Tradisional terhadap Amplitudo Getaran
Lekatompessy, Debby Raynold
TEKNIK In Press
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/teknik.v42i1.30978
The ship with the outboard engine is intended to make it easier for fishers to operate and maintain. However, the magnitude of the vibration due to the excitation of the engine during operation adversely affects the surrounding structures. It is evidenced by measuring the vibration amplitude of more than 0.02 mm at several points around the ship engine foundation. This study aims to reduce these vibrations by changing the canal's dimensions as a foundation and using damping rubber as the simplest solution. The analysis was carried out by calculating the vibration parameters of 2 types of machines, SR1110 and S1100. The numerical method is used to calculate the vibration's amplitude by varying the value of channel stiffness and rubber damping on the machine foundation. Supporting data is obtained by measuring the vibration amplitude at several points around the foundation. The magnitude of the previous vibration amplitude is 0.078 mm for the SR1110 type and 0.069 mm for the S1100 type, which exceeds the limit still. The amplitude is reduced by changing the foundation's dimensions and using a rubber damper (c). With the new foundation dimensions, the amplitude for the diesel engine type SR1110 becomes 0.0245 mm and type S1100 becomes 0.0238 mm. Increased stiffness and the addition of rubber succeeded in reducing the vibration amplitude by a significant value. The amplitude was reduced by 69% for the SR1110 engine type and 65% for the S1100 engine type within the allowable limit of less than 0.02 mm to 0.03 mm based on Barkan's observation results.
Analisis Efektivitas Pengendalian Risiko Kecelakaan Kerja Pada Pekerja Proyek Konstruksi Menggunakan Metode Fine dan Fault Tree Analysis
Nopita Sari br Ginting;
Retna Kristiana
TEKNIK Vol 41, No 2 (2020)
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/teknik.v39i3.20265
Semua proyek konstruksi pasti memiliki risiko. Salah satunya adalah risiko terjadinya kecelakaan. Masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada sektor konstruksi masih belum menjadi perhatian utama. Hal itu dapat dilihat dari angka kecelakaan kerja di sektor konstruksi adalah yang paling tinggi di antara bidang kerja lainnya. Berdasarkan Laporan Insiden HSE Project, terdapat tujuh insiden pada proyek Office Tower J-Box Jakarta Pusat, sehingga prinsip zero accident pada proyek tersebut tidak tercapai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pekerjaan yang berisiko menimbulkan bahaya pada pekerja proyek, menilai tingkat risiko, menilai efektivitas pengendalian risiko, dan menentukan pengendalian risiko yang tepat pada proyek tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer berupa kuesioner pada responden dan data sekunder berupa Laporan Mingguan K3, Laporan Bulanan K3, dan Laporan Data insiden. Penelitian ini menggunakan kombinasi metode Fine dan Fault Tree Analysis. SPSS V22 digunakan untuk menguji validitas data primer. Metode Fine digunakan untuk menghitung nilai risiko kecelakaan kerja. Metode Fault Tree Analysis dipakai untuk menganalisis nilai risiko sehingga diketahui penyebab dasar dari suatu kejadian yang berpotensi bahaya dan merekomendasikan tindakan spesifik yang dapat dilakukan kontraktor dalam meminimalisir bahaya tersebut. Analisis hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai efektivitas risk control pada pekerja proyek konstruksi pembangunan Office Tower J-Box Jakarta berada pada tingkat risiko <20 atau acceptable. Tindakan spesifik yang dapat dilakukan oleh kontraktor untuk meminamilisir potensi bahaya yang ada adalah membuat metode kerja yang aman untuk setiap pekerjaan, melakukan tool box meeting sebelum memulai suatu pekerjaan, mengajukan ijin kerja K3 sebelum melakukan pekerjaan, menggunakan APD yang sesuai untuk setiap pekerjaan, pemasangan rambu-rambu K3 pada area pekerjaan dan pengawasan oleh tim HSE.
Analisis Kuat Arus terhadap Sifat Mekanik dan Struktur Mikro Material A53 Gr B dengan Proses Gas Tungsten Arc Welding
Tarmizi, Tarmizi;
Nugraha, Yudha Bakti;
Irfan, Irfan
TEKNIK In Press
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/teknik.v42i1.33209
The welding use correct process parameters will produce joint with optimum in mechanical properties. The current is a very important process parameter in welding. Gas Tungsten Arc Welding process carbon steel A53 Gr B uses current variations can be an option to get the best quality joints. The purpose of this research is to get optimum mechanical properties and microstructure by varying the current. The experimental method uses GTAW process by varying current in welding A 53 Gr B using a single V butt joint and a 5G welding position, the Argon protective gas flow rate of 15 liters per minute with filler rod ER 70 S-6. This process also uses 11-13 Volt voltage with DCEN polarity and current 70, 90, and 110A. Based on ASME Section IX, the test results show that the specimen with a current of 90A gives optimum results with a tensile strength of 480 MPa and a hardness value of 190 HV, whereas specimens with welding current of 70A bring incomplete penetration defects in the weld area. The use of welding current 90A in this research provides welding results with better mechanical properties and microstructure compared to the use of currents of 70 and 110A
Verifikasi Deep-V Planing Hull Menggunakan Finite Volume Method Pada Kondisi Air Tenang
Samuel Samuel;
Sarjito Jokosisworo;
Muhammad Iqbal;
Parlindungan Manik;
Good Rindo
TEKNIK Vol 41, No 2 (2020)
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/teknik.v0i0.29391
Pengujian eksperimen menggunakan towing tank adalah salah satu cara yang digunakan untuk memprediksi hambatan kapal. Metode alternatif lain yang dapat digunakan adalah metode Computational Fluid Dynamics (CFD). Metode ini menjadi trend di industri maritime karena biaya pengujian eksperimen pada towing tank semakin mahal dan diikuti dengan perkembangan ilmu dan teknologi tentang mekanika fluida menggunakan metode Computational Fluid Dynamics (CFD) yang sangat pesat. Penelitian ini bertujuan untuk untuk memverifikasi performa kapal cepat menggunakan metode komputasi. Metode CFD yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan mekanika fluida ini adalah dengan menggunakan persamaan Reynolds-Averaged Navier-Stokes untuk menggambarkan model turbulensi dengan k-ε, dengan menggunakan aliran multiphase Euler yang diasumsikan air dan udara. Dynamic Fluid Body Interaction (DBFI) adalah modul yang mensimulasikan gerakan benda sebagai respon terhadap gaya yang diterapkan oleh kontinum fisika. DBFI heave dan pitch pada penelitian ini diasumsikan bergerak bebas untuk dapat menghitung gerakan kapal. Hasi penelitian ini menunjukkan bahwa CFD dapat membantu dalam mempredisksi hambatan, trim dan kenaikan titik gravitasi.
Kajian terhadap Tingkat Kerusakan Pahat pada Pembubutan dengan Metode Minimum Quantity Lubrication (MQL)
Rika Dwi Hidayatul Qoryah;
Allen Luviandy;
Mahros Darsin
TEKNIK Vol 41, No 3 (2020)
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/teknik.v41i3.27348
This study aims to observe the tool deterioration following application of minimum quantity lubrication method (MQL). The designed MQL system is completed with an Arduino controller system which was able to be either manually-controlled or automatically-controlled. The tool used in this study is DCMT 11 insert type. The Taguchi method using the Orthogonal Array L9 design was used to compile the design of experiments with variations in depth of cut, coolant composition, and cooling fluid application methods. Each variable consists of three levels. Tool deterioration evaluated by observing it under an optic microscope from three sides of the tool. There are four levels of tool deterioration. The value of tool deterioration of each tool is the accumulation of each side view. ANOVA analysis found that depth of cut, cutting tool composition and method of applying coolant influence tool deterioration in percentage by 32.69%, 17.30 % and 12.82% respectively. Moreover, the minimum tool deterioration would be achieved when using the parameter combination of depth of cut of 1.6 mm; mixture composition of 3:7; and using the temperature-controlled MQL.
Pengaruh Ketebalan Cap dan Tekanan Internal terhadap Tegangan Von Mises Silinder Berdinding Tebal untuk Tabung Motor Roket
Lasinta Ari Nendra Wibawa;
Kuncoro Diharjo;
Wijang Wisnu Raharjo;
Bagus H. Jihad
TEKNIK Vol 41, No 2 (2020)
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/teknik.v0i0.25837
Makalah ini meneliti tegangan von Mises yang terjadi dalam silinder berdinding tebal untuk tabung motor roket karena pengaruh ketebalan cap dan tekanan internal. Dimensi panjang silinder adalah 300 mm dan memiliki diameter luar 122 mm dan ketebalan dinding 8 mm. Ketebalan cap divariasikan 10, 15, 20, dan 25 mm dengan tekanan internal 4, 6, 8, 10, dan 12 MPa. Analisis tegangan menggunakan metode elemen hingga dengan perangkat lunak ANSYS untuk pemilihan tabung motor roket. Perbandingan nilai tegangan hoop dan longitudinal antara perhitungan analitik dan simulasi digunakan untuk proses validasi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa ketika ketebalan cap meningkat, tegangan Von Mises berkurang. Aluminium 6061 dan CFRP memiliki faktor keamanan lebih tinggi dari 1,25 untuk semua ketebalan cap dan variasi tekanan internal. GFRP memiliki faktor keamanan lebih tinggi dari 1,25 untuk semua variasi tekanan internal ketika ketebalan cap 20 dan 25 mm.
Potensi Kawat Baja Sebagai Pengikat Tiang Dengan Pelat dalam Menahan Beban
Deardo Samuel Saragih;
Novdin Manoktong Sianturi;
Virgo Erlando Purba;
Dermina Roni Santika Damanik
TEKNIK Vol 41, No 3 (2020)
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/teknik.v41i3.29936
Konstruksi jalan dan jembatan perlu didukung dengan sistem yang kuat, baik dari segi material maupun sambungan antar elemen strukturnya. Sistem sambungan perkuatan tiang dengan pelat pendukung konstruksi di atasnya perlu diperhatikan agar dapat bekerja secara bersama-sama dalam memikul beban. Oleh karena itu penelitian dibutuhkan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kawat baja sebagai pengikat tiang dengan pelat dalam menahan beban terbagi rata di atasnya. Penelitian ini dilakukan dengan uji model di laboratorium pada media uji yang diperkuat dengan sistem tiang dengan pelat. Sambungan tiang dibedakan terikat dan tidak terikat dengan sempurna. Analisis reduksi penurunan dilakukan pada perbedaan penurunan untuk tiang yang terikat dan tidak terikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja sistem tiang yang terikat dengan kawat baja pada pelat lebih baik dalam menahan beban. Hal ini diketahui dari reduksi penurunan pada tiang yang terikat dengan yang tidak terikat didapatkan sebesar 11,43% untuk tahapan waktu dan 11,51% untuk tahapan beban. Sistem dapat bekerja secara bersama-sama, sehingga kestabilan konstruksi lebih terjaga dan lebih tahan lama.
Aplikasi Metode Geolistrik Konfigurasi Dipole-Dipole untuk Identifikasi Daerah Rawan Longsor (Studi Kasus di Desa Poka, Ambon)
Rian Amukti;
Cahya Damayanti;
Abdul Kadir Yamko;
Johanis Dominggus Lekalette
TEKNIK Vol 42, No 1 (2021)
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/teknik.v42i1.29035
Bencana longsor merupakan salah satu jenis bencana yang sering terjadi di Indonesia yang menyebabkan banyak korban jiwa dan kehilangan harta benda. Kota Ambon merupakan daerah potensi longsor yang tinggi. Hal ini karena Kota Ambon merupakan daerah dengan kemiringan lereng yang curam, dan curah hujan yang tinggi sehingga dibutuhkan kajian untuk menanggulangi hal tersebut sebagai upaya mitigasi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bidang gelincir longsoran dan arah longsoran sebagai dasar untuk identifikasi daerah rawan longsor dengan menggunakan metode geolistrik konfigurasi dipole-dipole. Penelitian ini telah dilakukan di Desa Poka, Kota Ambon, Propinsi Maluku. Pengukuran geolistrik menggunakan alat AGI Ministing dengan pengambilan data sebanyak 5 lintasan. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa lapisan tanah yang didominasi dengan lempung dan gamping. Hasil rekonstruksi menunjukkan bahwa topografi daerah tersebut merupakan lereng dengan kemiringan 45o-80o, dan bidang gelincir terdapat setiap lintasan dengan kontras resistivitas ±25-60 Ωm pada kedalaman 5-15 meter, sedangkan arah longsoran mengarah pada arah tenggara.
Analisis Perilaku Deformasi Bendungan Bajulmati Dengan Metode Penilaian Berdasarkan Database Sejarah Bendungan
Muhammad Santang Istiaji;
Sriyana Sriyana;
Kresno Wikan Sadono
TEKNIK Vol 42, No 2 (2021)
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/teknik.v42i2.39629
Bendungan akan mengalami tekanan dari beban sendiri sampai dengan efek loading air waduk. Akibat gaya tekanan tersebut maka tubuh bendungan akan mengalami deformasi. Perilaku deformasi bendungan perlu dipantau, untuk mengetahui deformasi vertikal dan horisontal yang terjadi. Makalah ini membahas tentang perilaku deformasi pada Bendungan Bajulmati dari tahap konstruksi, pengisian awal, dan pasca konstruksi. Tujuan dari analisis ini adalah untuk menentukan perilaku deformasi "normal" sehingga studi kasus yang menunjukkan deformasi "abnormal" dapat diidentifikasi sejak dini dan kemudian dapat dianalisis lebih lanjut. Perilaku deformasi Bendungan Bajulmati hasil evaluasi berdasarkan kriteria penerimaan dari database sejarah bendungan yang serupa, sebagian besar instrumen memenuhi kriteria peenerimaan deformasi sehingga dianggap normal. Sedangkan sebagian kecil tidak memenuhi kriteria penerimaan karena nilainya diluar dari persyaratan. Hasil tersebut dapat menjadi perhatian dan rekomendasi awal untuk analisis lebih lanjut menganai perilaku deformasi abnormal yang terjadi.
Analisis Konsumsi Embodied Energy dan Embodied Carbon pada Material Bangunan Rumah Sederhana Tipe 36
Subrata Aditama K.A. Uda
TEKNIK Vol 42, No 2 (2021)
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/teknik.v42i2.34268
Sektor perumahan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap orang. Setiap negara berupaya untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi warganya, salah satunya di Indonesia yang memprogramkan satu juta rumah bagi masyarakat miskin. Dampak negatif dari program ini berupa exploitasi lahan yang besar serta kerusakan lingkungan akibat pelaksanaan konstruksi. Material bangunan merupakan unsur utama dalam kegiatan konstruksi, dimana proses produksi material banyak mengkonsumsi energi dan menghasilkan karbon dioksida (CO2). Pemilihan material yang ramah lingkungan akan menurunkan jumlah embodied energy dan embodied carbon selama siklus hidup bangunan. Penelitian ini menghitung jumlah embodied energy dan embodied carbon terhadap material bangunan yang digunakan pada bangunan rumah sederhana tipe 36 yang banyak di minati masyarakat Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan material batu bata, atap seng, semen dan kayu merupakan material dominan yang mengkonsumsi embodied energy lebih dari 70% serta menghasilkan embodied carbon sekitar 80% dari total energi. Total embodied energy pada material bangunan sebesar 127.714,66 MJ dengan karbon sebanyak 10.257,48 KgCO2. Berdasarkan luas bangunan diperoleh embodied energy sebesar 3.547,63 MJ/m2 dan karbon sebanyak 284,93 KgCO2/m2. Besarnya jumlah energi dan karbon yang dihasilkan oleh bangunan akan berdampak pada tingginya pencemaran lingkungan yang akan berkontribusi terhadap pemanasan global.